Ustaz Felix Siauw dan Eks Jubir HTI Bicara soal War on Radicalism

Ustaz Felix Siauw menjadi pembicara dalam diskusi di Gedung Joang 45, Jakarta Pusat. Dalam diskusi itu, Ustaz Felix bicara soal peralihan war on terrorism menjadi war on radicalism.

Dalam diskusi bertajuk 'Penghadangan Masif, Rezim Makin Represif?' di Gedung Joang 45, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (13/9/2018), itu dihadiri sejumlah pembicara, di antaranya juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto, petinggi FPI Munarman, dan Ketua PA 212 Slamet Ma'arif.

Menurut Ustaz Felix, terjadi peralihan metode penjajahan di dunia. Peralihan tersebut terjadi sejak Obama menjadi Presiden Amerika Serikat (AS).

"Penjajahan dengan cara apa yang sekarang sedang dikembangkan? Lewat satu slogan, war on terrorism. Nah, war on terrorism ini jadi legitimasi penjajahan di seluruh dunia. Jadi, semenjak Barack Obama (eks Presiden AS), maka di-switch dari war on terrorism menjadi war on radicalism," kata Ustaz Felix.

Ustaz Felix menyebut penjajahan saat ini dilakukan bisa karena sebuah pemikiran, baik pemikiran suatu kelompok maupun perorangan. Anggapan seperti itu sudah masuk ke Indonesia sejak 2018.

"Maka pemikiran bisa dihukumi, bisa dikasih benar atas salah. Gara-gara berpikir, orang bisa salah. Ini yang dibawa ke Indonesia tahun 2012," ujarnya.

Felix kemudian mencontohkan bagaimana anggapan 'penjajahan karena pemikiran' terjadi di Tanah Air. Contoh yang dia maksudkan adalah pembubaran HTI.

"Dibuat war on radicalism. Contoh, Anda koruptor, bunuh orang, pezina, nggak apa-apa, asal Anda jangan HTI, karena sudah masuk ke ranah radicalism," jelas Ustaz Felix.

Felix menganggap masyarakat sedang diasupi anggapan yang intinya mengajak orang berpikir organisasi seperti HTI adalah organisasi radikal. Satu penyebab utamanya adalah dinilai ingin mengganti dasar negara.

"Artinya bahwa ada justifikasi, ada simbol yang harus diambil, supaya penjajahan ini bisa dilanjutkan. Dari segi apa pun, bahaya sudah di depan mata. Tapi semuanya bisa dijustifikasi, selama pelakunya bukan HTI. Karena yang dianggap yang paling berbahaya itu orang yang ingin mengganti dasar negara," tutur Ustaz Felix.

Jubir HTI Ismail Yusanto memiliki pandangan serupa dengan Ustaz Felix. Ismail menuturkan saat ini sedang digaungkan bahwa war on radicalism itu tidak hanya menyerang suatu organisasi, tapi sudah menyerang personal.

"Bahwa benar sekarang ini war on terrorism jadi war on radicalism. Maka, semua lawan atau yang dianggap berpotensi jadi lawan itu bisa masuk satu keranjang. Setiap kali kita bicara narasi politik, propaganda, pasti harus ada pikiran, badan, orang," ucap Ismail.

"Nah, dalam war on radicalism itu ditemukan di sini, idenya adalah syariah khilafah, tubuhnya HTI. Kemudian mereka memang belum masuk ke orangnya, tapi mungkin sekarang ini mulai masuk, setelah video ganti presiden, ganti sistem," sambungnya.

Ismail menuturkan pergantian sistem merupakan suatu keniscayaan. Namun, sayangnya, ketika bicara mengenai pergantian sistem, pasti ada asumsi yang salah.

"Jadi, kita ini sebenarnya sudah berulang kali ganti sistem. Kenapa pula saat saya bilang begitu (ganti sistem), ada orang masuk angin? Harus ada ide yang dipersalahkan, kemudian harus ada orang jadi aktor," kata Ismail.

"Saya kira itu yang sekarang ini sedang dibangun. Maka kemudian ada usaha untuk melakukan, politik. Ini satu hal yang sangat bahaya, jika diteruskan orang Islam akan terbelah jadi tiga," tutupnya. 

sumber : detikcom

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.