Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.

Dakwah Jateng-, Viral video terkait pembakaran Bendera Rasulullah bertuliskan kalimat Tauhid, hal ini direspon oleh banyak kalangan diantaranya Lembaga Bantuan Hukum(LBH) Pelita Umat

PERNYATAAN HUKUM
LBH PELITA UMAT
NOMOR: 14 /LBH-PU/X/2018
TENTANG
KECAMAN KERAS ATAS TINDAKAN BIADAB BERUPA PEMBAKARAN BENDERA RASULULLAH BERTULISKAN LAFADZ TAUHID YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA BANSER DI GARUT
Tepat pada saat pelaksanaan peringatan hari Santri Nasional, Senin 22 Oktober 2018, kaum muslimin dikejutkan oleh adanya kabar belasan anggota Banser NU Garut yang membakar bendera Rasulullah berwarna hitam bertuliskan Lafadz tauhid. Tindakan biadab ini dilakukan secara terbuka ditempat umum, menggunakan seragam dan atribut resmi Banser, dengan penuh kebanggaan membakar ditengah kerumunan massa, memperlakukan bendera Rasul secara keji dan penuh kebencian.
Pimpinan Banser yang mengetahui hal ini, sama sekali tidak mengecam tindakan keji anak buahnya. Tidak menyampaikan permintaan maaf, bahkan secara terbuka mengunggah berbagai dalih untuk membenarkan tindakan keji anak buahnya.
Tindakan pembakaran bendera Rasulullah ini, telah memenuhi unsur delik penistaan agama sebagaimana diatur dalam ketentuan pasal 156a KUHP. Tindakan Pembiaran, bahkan persetujuan dari pimpinan Banser atas pembakaran bendera tauhid dapat dijerat dengan delik 'penyertaan tindak pidana' sebagaimana diatur dalam pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Berkaitan dengan hal itu, LBH PELITA UMAT menyatakan :
Pertama, bahwa bendera yang dibakar anggota Banser Garut dengan warna dasar hitam bertuliskan Lafadz tauhid berwarna putih, adalah bendera Rasulullah, simbol kemuliaan Islam dan kaum muslimin.
Kedua, bahwa bendera Rasulullah adalah milik kaum muslimin. Bukan milik Ormas tertentu, bukan milik organisasi tertentu, tidak pernah diklaim sebagai simbol atau atribut organisasi tertentu baik secara terbuka atau melalui AD ART organisasinya, tidak pernah didaftarkan dan/atau telah terdaftar pada Ditjen HAKI Kemenkumham atas nama institusi atau organisasi tertentu. Bendera Rasulullah adalah bendera yang terkategori domain publik, milik seluruh kaum muslimin, sehingga tidak dapat diklaim sebagai miliki institusi atau organisasi tertentu.
Ketiga, bahwa tindakan membakar bendera Rasulullah adalah tindakan haram, merupakan pelanggaran syara' yang berat dimana pelakunya dalam syariat Islam dijatuhi sanksi hukuman mati.
Keempat, bahwa LBH PELITA UMAT mengutuk dan mengecam keras tindakan biadab anggota Banser Garut yang membakar bendera Rasulullah, serta menyeru kepada seluruh kaum muslimin untuk membela bendera Rasulullah yang berlafadz tauhid dari tindakan biadab para penista agama.
Kelima, LBH PELITA UMAT menuntut aparat dan negara untuk hadir membela akidah umat, segera menyeret pelaku penista agama dan yang turut serta atau menyuruh dan memberi persetujuan melakukannya, untuk diminta pertanggungjawaban dimuka hukum, dan tidak boleh lagi berdalih dengan berbagai alasan sebagaimana terjadi pada kasus penistaan agama oleh Ahok di Jakarta.
Hasbunallah Wani'mal Wakil, Ni'mal Maula Wa Ni'man Nashier
Jakarta, 23 Oktober 2018
LBH PELITA UMAT
Ahmad Khozinudin, S.H.
Ketua Umum
Chandra Purna Irawan, S.H. M.H.
Sekretaris Jenderal

sumber : https://www.facebook.com/ahmad.khozinudin/posts/2223597054579452

Post a Comment

advertisement

loading...
Powered by Blogger.