Secara umum tak beda dengan desa lainnya jika kita memasuki wilayahnya. Namun ada hal manarik jika dicermati, hampir di setiap rumah penduduknya terpasang bedera tauhid.
Desa Sugihwaras begitulah orang menyebutnya. Wilayah tersebut masuk dalam Kelurahan Wonorejo Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.
Jika kita menyusuri desa tersebut tampak bendera tauhid di kanan-kiri jalan berkibar-kibar. Baik yang berwarna hitam ataupun putih.
Adalah Wiranto yang menjadi inisiator dalam pemasangan bendera tauhid tersebut. Alasan dari pemasangan tersebut tak lain adalah adanya rasa kecewa saat melihat bendera tauhid dibakar beberapa waktu yang silam.
“Bendera tauhid harusnya dimuliakan mengapa harus dibakar? jujur saya sedih dan kecewa mendengar kabar terebut.” tuturnya.
Bersama warga setempat kemudian ia mulai membuat bendera-bendera kecil yang dan mencari bambu sebagai tiangnya. Dari satu bendera ke satu rumah hingga saat ini mencapai 100 bendera.
Dari pemasangan tersebut sampai saat ini tidak ada penolakan dari warga. Malah banyak diantaranya yang memberikan dukungan.
Terkait dana pembuatan bendera dan bambu Wiranto menyebut bahwa hasil sumbangan dari beberapa warga.
“Kami gotong royong dalam pemasangan bendera tersebut begitupula masalah pembiayaan.” Ujarnya, Rabu, (15/11).
Ia beharap dengan pemasangan ini semoga masyarakat semakin mencintai kalimat tauhid dan paham bahwa Islam adalah agama rahmat bagi alam semesta. []
Sumber ; Panjimas

Hasil gambar untuk ahmad khozinudin
[Catatan Hukum Kasus Pembakaran Bendera Tauhid]
Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Ketua LBH PELITA UMAT
Jum'at (09/11) Kemenkopolhukam melakukan pertemuan dengan segenap elemen umat Islam untuk menindaklanjuti penyelesaian pembakaran bendera tauhid. Pada audiensi dengan perwakilan unjuk rasa aksi bela tauhid 211, perwakilan unjuk rasa mengajukan 5 (lima) poin tuntutan kepada Pemerintah. Dua poin tuntutan utama adalah permintaan pengakuan negara terkait eksistensi bendera tauhid sebagai bendera milik umat dan tuntutan proses hukum kepada pelaku dan aktor intelektual pembakar bendera tauhid di Garut.
Dalam pertemuan yang baik itu, sedianya Pemerintah dapat segera mengakhiri potensi konflik dan konfrontasi sosial dengan segera membuat komitmen untuk menuntaskan kasus. Pemerintah, segera mengumumkan bendera yang dibakar adalah bendera tauhid dan berjanji memproses hukum seluruh pihak yang terlibat pembakaran.
Namun, Wiranto selaku Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan justru menggunakan forum yang penting itu untuk menebar fitnah dengan menuding aksi bela tauhid ditunggangi oleh organisasi HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Dia menyebut demonstrasi yang dilakukan dua kali untuk membela bendera tauhid itu ditunggangi kelompok-kelompok yang memanfaatkan untuk kepentingan politik, dimanfaatkan untuk HTI agar tetap eksis.
Padahal, umat Islam khususnya peserta aksi sepenuhnya memahami bahwa aksi bela tauhid yang dilakukan bukanlah karena motivasi atau atas arahan HTI. Aksi bela tauhid adalah aksi yang didorong oleh semangat tauhid, didasari oleh akidah Islam dan bertujuan untuk membela kemuliaan kalimat tauhid.
Bukankah sangat menyakitkan, jika aksi yang didasari keyakinan tauhid ini dituding sebagai ditunggangi HTI ? Bukankah sebuah fitnah yang amat keji, jika perjuangan dan pengorbanan umat Islam khususnya para peserta aksi bela tauhid kemudian dilabeli sebagai 'aksi yang dimanfaatkan HTI' ?
Padahal, sepanjang aksi agitasi dan seruan para orator tidak ada satupun yang menyebut aksi bela tauhid sebagai aksi bela HTI, aksi untuk solideritas HTI, aksi untuk membela bendera HTI. Aksi tegas dimaksudkan untuk membela kesucian, kehormatan dan kemuliaan kalimat tauhid yang secara keji dan hina dibakar anggota Banser di Garut.
Wiranto perlu tahu, perjuangan dan pengorbanan para peserta bendera tauhid. Mereka mengorbankan waktu, pikiran, tenaga dan uang agar bisa memenuhi seruan aksi bela tauhid. Ada yang dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, bahkan aksi bela tauhid kedua dihadiri peserta dari berbagai kota di Indonesia.
Mereka semua berjuang dan berkorban demi Islam, demi kalimat tauhid. Karena itulah mereka bergerak, bukan sebab yang selainnya. Motivasi Islam itulah, yang menyebabkan peserta aksi ridlo dan ikhlas tanpa dibayar, terlibat dalam aksi unjuk rasa membela bendera tauhid.
Selanjutnya, Wiranto juga masih menganggap remeh urusan pembakaran bendera tauhid. Dia menyebut tragedi pembakaran bendera tauhid di Garut persoalan yang tidak besar, terjadi di kecamatan kecil, Limbangan, Garut. Pelakunya disebut hanya tiga orang, namun Wiranto menyayangkan perkembangannya eskalasinya menasional dan sampai pada level negara. Ia bahkan, menyayangkan dan menyebutnya sebagai tidak adil.
Rupanya hingga pertemuan besar yang melibatkan semua pejabat negara dan berbagai kementrian dan lembaga, melibatkan banyak ormas dan para tokoh, Wiranto masih gagal paham atas persoalan pembakaran bendera tauhid. Pembakaran bendera tauhid itu bukan persoalan kecil, meskipun dilakukan di kecamatan kecil. Pembakaran bendera tauhid adalah perkara besar yang melukai hati seluruh kaum muslimin.
Itulah sebabnya, terjadi banyak saksi di berbagai kota di seluruh Indonesia. Itulah sebab, kenapa di Jakarta terjadi aksi hingga dua kali, karena memandang Persoalan ini adalah persoalan besar. Namun apa maksud Wiranto menyebut kasus ini sebagai tidak adil ? Apakah persoalan kecil yang akhirnya membuat repot negara itu yang menjadi sebab Wiranto menyebutnya sebagai tidak adil ?
Jika bicara keadilan, umat Islam yang paling merasa diperlakukan secara tidak adil. Pembakar bendera tauhid, awalnya hendak dilepaskan dengan dalih tidak ada niat jahat. Setelah tuntutan masif, barulah polisi menetapkan tersangka itupun dengan pasal yang tidak relevan. Membakar bendera tauhid, menista agama Islam, tetapi hanya dipersoalkan dengan pasal bikin gaduh. Itupun dibatasi hanya pada dua orang pelaku pembakar, padahal didalam video terlihat belasan orang yang terlibat langsung dalam aksi pembakaran.
Sampai saat ini, umat Islam masih merasa diperlakukan tidak adil. Bagaimana mungkin membakar bendera tauhid hanya di vonis 10 hari penjara ? Bagaimana mungkin membakar bendera tauhid hanya di vonis membayar 2000 rupiah ? Lantas, sebenarnya ungkapan tidak adil itu untuk siapa ?
Soal tuntutan pengakuan eksistensi bendera tauhid, Wiranto juga masih mengambang. Soal kalimat tauhid pada bendera tauhid hanya dipersilahkan untuk dibicarakan lebih luas lagi, karena menurutnya itu bukan domain Pemerintah.
Memang benar, Pemerintah dalam pertemuan itu tidak mampu mematahkan argumen Habib Hanif yang menjelaskan ihwal bendera tauhid. Pemerintah hanya mempertegas yang dilarang Pemerintah bukanlah bendera tauhid, tetapi bendera HTI (bendera berlogo HTI).
Meskipun Pemerintah tidak lagi menyebut HTI sebagai ormas terlarang, karena memang putusan PTUN hanya menolak gugatan HTI dan dengan demikian menguatkan SK pencabutan BHP HTI. Putusan PTUN Jakarta yang mengadili sengketa TUN antara HTI vs Kemenkumham dalam amarnya tidak pernah menetapkan HTI sebagai ormas terlarang.
Karena itu, jika HTI tidak pernah dinyatakan secara hukum sebagai ormas terlarang, lantas bagaimana mungkin ada pelarangan bendera atau simbol HTI ? Bukankah jika organisasinya saja tidak terlarang, bagaimana mungkin ada pelarangan simbol atau atribut HTI ? Apa dasar hukumnya pelarangan simbol atau bendera HTI ?
Terlebih lagi, pelarangan bendera HTI hanyalah kamuflase untuk tetap memframing bendera tauhid sebagai bendera HTI. Sebab, HTI tidak memiliki bendera. Didalam AD dan ART HTI tidak pernah mengatur ihwal bendera HTI. Pasal 26 AD HTI hanya mengatur ihwal Lambang HTI yang menyebut HTI memiliki lambang/logo berbentuk bendera hitam dan putih dengan tulisan Lafadz tauhid dan dibawahnya tertulis HIZBUT TAHRIR INDONESIA. Jadi tidak ada pengaturan mengenai ihwal bendera dalam AD ART HTI.
Karena itu, penggiringan opini bendera HTI tidak memiliki dasar hukum dan justru berpotensi mengaburkan hakekat dan realitas bendera tauhid sebagai bendera milik kaum muslimin. Alhasil, pertemuan tidak menyimpulkan kesepakatan ihwal bendera tauhid juga tidak pernah memberi komitmen menghukum pembakar bendera tauhid berdasarkan ketentuan pasal 156a KUHP.
Pertemuan substansinya hanyalah mengabarkan kepada umat bahwa Pemerintah telah menindak pembuat onar dengan pasal 174 KUHP, Pemerintah menyerahkan kepada publik diskursus bendera tauhid dan Pemerintah meminta publik menghentikan perdebatan mengenai pembakaran bendera tauhid. Padahal, yang dipersoalkan kaum muslimin itu pembakaran bendera tauhid bukan tindakan bikin onar yang membikin gaduh dan mengganggu rapat umum yang tidak terlarang.
Sungguh menyedihkan nasib umat ini. Selain dipaksa menerima proses hukum asal-asalan dan ikhlas dengan pidana lucu-lucuan berupa 10 hari penjara dan denda dua ribu perak, kaum muslimin juga terus disuguhi berbagai pernyataan fitnah dan tudingan-tudingan keji. Penguasa, belum sepenuhnya ikhlas menerima realitas umat yang merindukan kembali pada kalimat tauhid. Penguasa, juga terus berusaha mengkanalisasi setiap geliat dan gelora kebangkitan Islam. [].

asia bibi penghina nabi
Pemerintah Imran Khan berharap akan memuaskan opini publik Barat, dengan merilis bahwa pengadilan tetah membebaskan Asia Noreen, namun media Barat justru meresponnya dengan kemarahan setelah melihat reaksi kaum Muslim di Pakistan atas pembebasannya.
Menurut New York Times, setelah menghabiskan delapan tahun menunggu hukuman mati, Mahkamah Agung Pakistan pekan ini membebaskan Asia Bibi—yang juga dikenal sebagai Asia Noreen—, seorang wanita Kristen. Bagi banyak orang di sini, ini tampaknya menjadi hal yang baik, di mana pengadilan tertinggi negara itu akhirnya mewujudkan keadilan, dan membebaskan seorang wanita yang pondasi hidupnya telah dihancurkan akibat bertahun-tahun penahanan individu. Keputusan pengadilan tersebut berisi teks-teks Islam, beberapa hadis tentang Nabi Muhammad, serta sejumlah kutipan dari Shakespeare, adalah kesalahan besar yang telah diperbaiki.
Karena alasan ini, maka hak agama baru Pakistan, yang dipromosikannya sebagai penjaga kehormatan Nabi saw, mengancam akan menghancurkan negara.
Publikasi dan poster yang berisi fatwa untuk melawan hakim yang telah membuat keputusan atas pembebasan Bibi. Para pengawal hakim-hakim itu diserukan untuk membunuhnya sebelum malam, dan siapa pun yang melakukannya akan mendapat pahala yang besar di akhirat. Kaum konservatif Pakistan setelah memenangkan pemilihan umum musim panas ini, berani menyerukan kepada para jenderal untuk memberontak melawan panglima tinggi militer, yang mereka tuduh sebagai orang Ahmadiyah, kelompok keagamaan yang dilarang. Bahkan mereka menyebut Perdana Menteri Imran Khan sebagai “anak Yahudi”.
Khan—dalam pidatonya yang terlihat dadakan, serta nada dan kesan yang tampak terkejut—mengatakan bahwa pemerintahnya telah memberikan lebih dari yang lain untuk Islam, dan memperingatkan para pengunjuk rasa untuk tidak melanggar aturan negara. Tetapi massa tidak akan pernah puas dengan apa pun selain menggantung Bibi.
Hingga beberapa dekade yang lalu, di antara ideologi negara memasukkan undang-undang anti-pencemaran nama baik, dan banyak negara non-Muslim masih memasukkan undang-undang tersebut. Pekan ini, sebuah pengadilan Eropa mendukung undang-undang Austria anti-pencemaran nama baik. Bahkan Irlandia yang memilih untuk menghapus referensi anti-pencemaran nama baik , hingga sekarang undang-undang itu masih ada dalam konstitusinya. Menurut kantor berita Deutsche Welle (DW): Pengadilan Eropa di Strasbourg memutuskan bahwa pengadilan Austria menimbang dengan hati-hati antara “hak kandidat untuk mengungkapkan pendapatnya dengan hak orang lain guna melindungi perasaan keagamaannya, dan mewujudkan tujuan akhir dengan menjaga perdamaian agama di Austria”.
Putusan Pengadilan Eropa itu sendiri diserang di Barat. Sehingga amat disayangkan, konsep kebebasan Barat terkadang berarti sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang bebar-benar diterima. Dengan demikian, hanya Islam satu-satunya yang benar-benar melaksanakan penerimaan terhadap orang lain, berdasarkan ketentuan toleransi melalui undang-undang khusus bagi non-Muslim yang menjamin terealisasikan cara hidup mereka sendiri namun mereka tetap menjadi bagian dari masyarakat Muslim. Salah satu elemen terpenting dari multikulturalisme adalah tidak menghina kepercayaan orang lain. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (TQS Al-An’am [] : 108).
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 07/11/2018.

An exhausted Rohingya helps an elderly family member and a child as they arrive at Kutupalong refugee camp after crossing from Myanmmar to the Bangladesh side of the border, in Ukhia, Tuesday, Sept. 5, 2017. The man said he lost several family members in Myanmar. Tens of thousands of Rohingya Muslims, fleeing the latest round of violence to engulf their homes in Myanmar, have been walking for days or handing over their meager savings to Burmese and Bangladeshi smugglers to escape what they describe as certain death. (AP Photo/Bernat Armangue)
Tidak puas dengan memenjarakan satu juta Muslim di provinsi Xinjiang, China juga berusaha untuk mengirimkan bencana atas Muslim Rohingya. Menurut Reuters:
Isu Rohingya tidak boleh dibuat rumit, diperluas atau “diinternasionalisasi”, kata seorang diplomat senior China, ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa bersiap untuk membentuk badan untuk mempersiapkan bukti pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar. Dewan Hak Asasi Manusia PBB membentuk badan itu – September 2018 yang lalu, yang juga akan mencari kemungkinan genosida di negara bagian Rakhine barat Myanmar.
Namun Cina, Filipina, dan Burundi menentang langkah itu, yang pendukungnya mengatakan didukung oleh lebih dari 100 negara.
Selama setahun terakhir, lebih dari 700.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri dari negara mayoritas Budha ke negara tetangga Bangladesh menyusul aksi militer terhadap serangan terhadap pos keamanan oleh gerilyawan Rohingya. PBB telah menyebut tindakan Myanmar sebagai “pembersihan etnis”, tuduhan yang ditolak oleh Myanmar, menyalahkan “teroris” Rohingya untuk sebagian besar tuduhan kekejaman.
Cina memiliki hubungan dekat dengan Myanmar, dan Cina mendukung apa yang disebut oleh pejabat Myanmar sebagai operasi counter-insurgency (kontra-pemberontakan) yang sah di Rakhine. Beijing telah membantu untuk memblokir resolusi tentang krisis tersebut di Dewan Keamanan PBB.
Sudah menjadi hal yang biasa di antara beberapa kalangan Muslim untuk memandang Cina sebagai alternatif yang penuh kebajikan terhadap imperialisme Amerika, sama seperti generasi sebelumnya yang terbiasa melihat Uni Soviet sebagai alternatif. Tetapi Allah (swt) justru berfirman tentang mereka, orang-orang kafir:
(وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ)
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain…” [QS. Al-Anfal: 73]
Umat Islam tidak akan pernah lolos dari musibah yang dihadapi hingga umat Islam bergantung pada Allah (swt) sendiri, taat kepada-Nya, dan menerapkan sepenuhnya Din yang diwahyukan oleh-Nya melalui junjungan kita Muhammad (saw). Umat tidak memiliki kemampuan, tanah dan sumber daya apa pun; semua yang dibutuhkan adalah penyatuannya, yang hanya dapat dicapai atas dasar Aqidah Islam, setelah umat menolak Aqidah sekuler, pemikiran, dan sistem Barat yang telah membuat kita terpecah-pecah dan masih tunduk pada dominasi Barat bahkan setelah berakhirnya kolonialisme formal.
Sumber : Kantor Berita HT

Hasil gambar untuk suriah
Saat ini banyak fitnah, tuduhan dan upaya mengkriminalisasi secara tersistematis kepada HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) secara keji dan tidak berprikemanusiaan dengan beragam cara.
“Di antaranya bendera tauhid diopinikan sebagai bendera HTI padahal sudah banyak bantahan terkait hal itu, kemudian di beberapa daerah diduga disita oleh penegak hukum dan pengibarnya di Garut divonis bersalah. Lalu muncul tuduhan ada upaya makar di balik bendera tauhid,” ujar Sekjen LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan, dalam rilisnya Rabu (8/11/2018).
Kemudian sekarang muncul lagi opini keji terhadap HTI di antaranya, “Jangan Suriahkan Indonesia, bahaya HTI terhadap Pancasila”. Slogan ini terus disebarkan melalui medsos, seminar dan lainnya dengan tujuan agar masyarakat menolak dan menjauhi Dakwah HTI.
Menurut Chandra, mantra ini terus disebarkan agar muncul ketakutan yang luas, meneror setiap jiwa-jiwa, dihantui ketakutan hingga akhirnya menghilangkan nalar dan logika berpikir. Jika muncul ketakutan dan hilang logika berpikir, maka dikhawatirkan akan muncul  tindakan kekerasan terhadap anggota HTI di mana-dimana.
“Jika itu terjadi maka para penebar mantra ini telah melakukan pidana Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Pidana yaitu menyebarkan kebohongan yang mengakibatkan kegaduhan di tengah tengah rakyat,” tegasnya.
Padahal selama HTI dakwah tidak pernah menggunakan kekerasan, HTI hanya mendakwahkan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Terkait khilafah yang didakwahkan HTI, memang betul ajaran Islam. Artinya itu telah menjadi perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.
“Jika tidak setuju dengan ajaran Islam yaitu khilafah, maka berdiskusilah, mengajilah. Jangan malah mengkriminalisasi, menebar tuduhan keji terhadap ajaran Islam. Bertaubatlah, khawatir Allah SWT murka terhadap diri dan keluarga,” tegasnya.
Terkait pertanyaan ‘kalau benar HTI mendakwahkan ajaran Islam kenapa di beberapa negara dilarang?’, Chandra pun menegaskan, jangan kan HTI, Rasulullah SAW saja di tempat kelahirannya saja dilarang oleh penguasa/pemerintah Qurays, dimusuhi, diopinikan sebagai pemecah belah bangsa Arab, pengikutnya disiksa, kemudian diboikot selama dua tahun, diusir dan diperangi. Tetapi dakwah terus dilaksanakan karena itu adalah perintah dari Pemilik jagat raya ini.
“Mari kita bersatu, bela Islam, bela Ulama, bela Ormas Islam dan bela negara. Stop menyebar kebohongan, menebar teror dan ketakutan,” pungkasnya.[]
sumber : mediaumat.news

Banser-Bakar-Bendera tauhid
Pembakar bendera tauhid hanya divonis 10 hari penjara, dengan delik membuat gaduh —bukan delik penodaan agama—, dinilai hanya untuk meredam gejolak masyarakat saja.
“Diduga penetapan tersangka menggunakan pasal 174 KUHP, penegak hukum telah melakukan ‘Rechtspolitiek’ yaitu kebijakan hukum hanya untuk meredam gejolak yang terjadi di masyarakat jika pelaku tidak ditetapkan sebagai tersangka,” kritik Sekjen LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan dalam pers rilisnya  Senin (5/11/2018) di Jakarta.
Menurut Chandra, Pasal 174 KUHP merupakan tindak pidana ringan. Pasal ini menitik beratkan pada “dengan sengaja mengganggu rapat umum, dengan mengadakan huru-hara, atau membuat gaduh”. Jika dilihat dari locus dan tempus delicti (waktu dan tempat kejadiannya), pembakaran itu diduga dilakukan setelah upacara atau rapat peringatan hari santri.
“Sehingga pembakaran tersebut tidak menggangu rapat umum atau peringatan hari santri dan juga tidak terjadi huru hara pada saat itu,” ujarnya.
Jika yang dimaksud huru-hara adalah respon dari masyarakat setelah kejadian itu tersebar, maka menurut LBH Pelita Umat kurang tepat menjerat tersangka menggunakan pasal 174 KUHP. “Penegak hukum harus melihat dengan teliti bahwa respon masyarakat tersebut karena menilai telah terjadi pelecehan terhadap simbol agama Islam,” beber Chandra.
Chandra menyebutkan bendera yang berwarna hitam dan putih bertuliskan lafadz tauhid sebagaimana keterangan dari hadits, Sirah Nabawiyah, ijma sahabat dan ulama menegaskan bahwa itu adalah bendera Rasulullah SAW dan umat Islam yang sangat diagungkan dan dimuliakan, maka sepatutnya pelaku pembakaran tersebut dikenakan pasal 156a KUHP tentang tindak pidana penistaan agama.
Berdasarkan Pasal 156a KUHP, barangsiapa yang melakukan di muka umum menampakkan perasaan dan perbuatan yang pada pokoknya menistakan atau melecehkan simbol agama Islam maka sama saja telah melecehkan agama tersebut.
“Terlebih lagi perbuatan tersebut dilakukan tampak tanpa rasa bersalah dengan diiringi lagu-lagu. Saya mendorong pelaku ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama,” pungkasnya.[]
sumber ; Mediaumat.news,

eritrea dan etiopia

Soal:
Perjanjian rekonsiliasi antara Eritrea dan Ethiopia telah ditandatangani di Asmara pada Juli 2018. Juru bicara resmi kementerian luar negeri Ethiopia, Meles menegaskan bahwa perjanjian Asmara yang ditandatangani belakangan dengan Eritrea terjadi dengan keinginan kedua negara tanpa mediasi dari pihak ketiga.  Sejauh mana kebenaran ucapan ini? Apakah perjanjian itu kosong dari pengaruh internasional dan regional? Lalu, perjanjian Asmara menunjuk kepada perjanjian Aljazair pada 18/6/2000 dan seolah-olah menjadi pelengkapnya, lalu kenapa harus menunggu hampir 18 tahun untuk menegaskan perjanjian ini? Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik kepada Anda.

Jawab:
Pernyataan juru bicara resmi kementerian luar negeri Ethiopia, Meles bahwa perjanjian Asmara terjadi dengan keinginan sendiri dari kedua negara itu adalah dari sisi penipuan dan penyesatan! Monitoring terhadap berlangsungnya apa yang terjadi dan tindakannya, dari situ menjadi jelas bahwa Amerika adalah pihak yang ada di belakang apa yang telah dan sedang terjadi untuk merealisasi kepentingan-kepentingannya dan memfokuskan pengaruhnya di hadapan pergerakan Eropa dan China di Afrika. Penjelasan hal itu sebagai berikut:

Pertama: proses perjanjian Asmara. Perjanjian itu ditandatangani pada 9/7/2018 lalu Ethiopia dan Eritrea mengumumkan penghentian kondisi perang diantara keduanya. Hal itu pada sore hari pertemuan yang disebut historis antara Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed dan Presiden Eritrea Isaias Afwerki di Asmara… Menteri Informasi Eritrea, Yamani Jabr Miskil mengumumkan melalui Twitter, “pernyataan perdamaian dan pertemanan bersama ditandatangani di antara kedua pihak. Dan situasi perang yang terjadi di antara kedua negara telah berakhir. Era baru perdamaian dan pertemanan telah bermula. Kedua negara akan bekerja bersama untuk mendorong kerjasama erat dalam bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan keamanan”….  (AFP, 9/7/2018). Supaya jelas apa yang ada di belakang perjanjian tersebut kami sebutkan peristiwa-peristiwa yang menyolok sebelum dan sesudahnya:
1- Apa yang terjadi sebelum penandatanganan perjanjian:
a- Asisten Menteri Luar Negeri Amerika untuk urusan Afrika Donald Yamamoto tiba di Addis Ababa pada Kamis 26/4/2018. (… dalam sebuah kunjungan resmi selama 3 hari. Dia bertemu dengan Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed Ali dan Menteri Luar  Negeri. Kunjungan itu adalah bagian dari tur yang dimulai oleh Yamamoto pada tanggal 22 bulan ini mencakup Eritrea dan Jibouti dan ditutup dengan Ethiopia … (https://www.aa.com.tr/ar, 27/4/2018).
b- Abiy Ahmed melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Saudi pada 17/5/2018 atas undangan resmi raja Salman bin Abdul Aziz.
c- Di antara yang pertama mengunjungi Abiy Ahmed adalah Putera Mahkota Saudi, Muhammad Ibnu Salman pada 7/6/2018. Kantor berita Ethiopia melansir dengan mengutip dari Kantor Perdana Menteri bahwa Abiy Ahmed “memuji perkembangan hubungan dengan Saudi. Dia mengatakan bahwa berkat Muhammad bin Salman perkembangan hubungan bilateral antara kedua negara menjadi makin kuat dan lebih dekat dari sebelumnya. Dan bahwa Putera Mahkota Saudi berjanji membantu upaya yang dikerahkan oleh Addis Ababa dalam mempercepat pertumbuhan dan mendorong para investor Saudi untuk berinvestasi di Athiopia…”.
d- Kementerian Luar Negeri Amerika dalam pernyataan yang dikeluarkan pada 21/6/2018 menyatakan, “Amerika Serikat merasa optimis dengan kemajuan yang dicapai pada situasi mutakhir Ethiopia dan Eritrea di jalan penyelesaian konflik di antara keduanya yang telah terjadi sejak waktu yang panjang. Isaias Afwerki dan Abiy Ahmed menampakkan kepemimpinan berani dengan mengambil langkah ke arah perdamaian ini. Amerika Serikat mengharapkan normalisasi hubungan dan pencapaian ambisi bersama kita untuk kedua negara agar hidup dengan damai dan pertumbuhan” (Reuters, 21/6/2018).
e- Dalam sebuah wawancara dengan Addis Standard, Duta Besar AS untuk Ethiopia, Michael Raynor mengatakan: “baik, telah kami katakan kepada kedua pihak, dan secara terbuka, dan terus kami katakan, bahwa kami siap untuk memainkan peran, dengan kembali ke hari kesepakatan Aljazair, dahulu Amerika Serikat menjadi penjamin resmi. Kami memiliki peran struktural yang dibentuk dalam point yang disepakati. Kami mendorong hasil ini pada waktu tertentu terhadap kedua pemerintahan. Oleh karena itu kami katakan, “jika secara kolaboratif Anda merasa adanya peran Amerika Serikat secara konstruktif maka kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk mendukung hal itu … Saya yakin bahwa kami memainkan peran konstruktif, seperti yang saya katakan. Kami telah membina hubungan dengan kedua negara sejak beberapa bulan untuk mendorong hasil ini” … (http://addisstandard.com, 2/7/2018).
Semua itu menjelaskan bahwa ditandatanganinya perjanjian tersebut adalah dengan pendahuluan dari Amerika dan kelompoknya, para penguasa Saudi. Hal itu jelas dari monitoring peristiwa menjelang penandatanganan perjanjian itu.

2- Apa yang terjadi setelah perjanjian:
a- Amerika Serikat mengumumkan dukungannya kepada perjanjian damai antara Ethiopia dan Eritrea setelah konflik bertahun-tahun.  Hal itu ada dalam pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo pada Selasa. Pompeo mengatakan, “Amerika Serikat menyambut baik komitmen perdamaian dan keamanan yang ditandatangani, Senin kemarin, antara Ethiopia dan Eritrea, yang mengakhiri secara riil 20 tahun konflik”. Pompeo menekankan bahwa “normalisasi hubungan dan pengadopsian pernyataan bersama untuk perdamaian dan pertemanan antara Ethiopia dan Eritrea akan memberikan kepada kedua bangsa itu kesempatan untuk fokus kepada harapan-harapan bersama demi memperkuat ikatan-ikatan politik, ekonomi dan sosial… (ar.haberler.com, 10/7/2018).
b- Isaias Afwerki berkunjung ke Saudi pada 23/7/2018 setelah perjanjian Asmara pada 9/7/2018. Afwerki dan Raja Salman membahas “peristiwa terbaru di kawasan regional…”. Menlu Arab Saudi, Adel al-Jubair dengan sejawatnya Menteri Luar Negeri Eritrea, dalam pertemuan keduanya juga membahas “hubungan bilateral antara kedua negara dan topik-topik yang menjadi perhatian bersama” … (Middle East, 24/7/2018).
c- Setelah lebih dari sebulan dari pengumuman Asmara “dengan disponsori oleh Raja Salman, Presiden Eritrea Isaias Afwerki dan Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali pada Ahad, 16/9/2018 menandatangani perjanjian Jeddah untuk perdamaian di antara kedua negara dan penandatanganan itu dihadiri oleh Putera Mahkota Saudi… (Sky News Arabic, 16/9/2018).
Jadi, dari rangkaian peristiwa di atas, jelas bahwa Amerika dan antek-anteknya lah yang menggerakkan peristiwa menjelang perjanjian Asmara dengan menyiapkan atmosfer untuknya dan juga dengan dukungan yang jelas untuk itu setelah ditandatangani.

Kedua, fakta pemerintahan di Ethiopia dan Eritrea:
1- Tentang Ethiopia:
Abyssinia dahulu diduduki oleh Italia pada tahun 1935. Kaesarnya Haile Selassie Mariam melarikan diri melalui Kenya ke Mesir yang keduanya (Kenya dan Mesir) kala itu ada di bawah penjajahan Inggris. Kemudian dia pergi ke Inggris dan berdiam di sana sampai Inggris mengembalikannya pada tahun 1941 setelah Italia diusir dari Abyssinia oleh sekutu dalam Perang Dunia II. Inggris kembali menobatkan Haile Selassie sebagai Kaesar. Dengan begitu Abyssinia menjadi berada di bawah pengaruh Inggris…  Pada waktu itu Inggris juga menduduki Eritrea yang bertetangga dengan Abyssinia yang sebelumnya juga berada di bawah pendudukan Italia  sejak abad ke-19.  Pada tahun 1950 Eritrea digabungkan ke Ethiopia di bawah pemerintahan Haile Selassie. Pengaruh Inggris terus berlanjut di Ethiopia termasuk, di dalamnya Eritrea, hingga tahun 1974 ketika terjadi kudeta militer terhadap Kaisar oleh para perwira kiri. Di antara para perwira itu tampil menonjol Mengistu Haile Mariam yang bisa mendominasi pemerintahan dari tahun 1977 setelah terjadi konflik di antara para perwira itu. Dia terus berada di pemerintahan hingga 1991. Mayoritas gerakan kudeta pada masa itu mengambil slogan revolusi, pembebasan, sosialisme dan lainnya… Begitulah, slogan-slogan kudeta Mariam, padahal Amerika lah yang ada di belakangnya untuk memukul pengaruh imperialis Inggris… Di antara aktifitas luar negerinya yang dilakukan demi kepetingan Amerika adalah mendukung gerakan pemberontakan di Sudan Selatan dipimpin oleh John Garang yang terkait dengan Amerika.  Dukungan Ethiopia terhadap gerakan ini terus berlanjut sampai selatan Sudan dipisahkan dari Sudan melalui kolusi al-Bashier di Sudan…
b- Akan tetapi Mengistu Haile Mariam dikenal berlumuran darah. Amerika khawatir, masyarakat akan memberontak dan Inggris bisa kembali lagi. Maka Amerika menjatuhkannya dan mendatangkan Meles Zenawi yang berafiliasi ke Frot Pembebasan Rakyat Tigray (Tigray People’s Liberation Front) dari suku Tigray Nashrani yang meliputi 5% dari jumlah penduduk Ethiopia. Front ini bersekutu dengan front lainnya termasuk Front Pembebasan Oromo (the Oromo Liberation Front).  Di antara aktifitas terpenting Zenawi demi kepentingan Amerika adalah intervensinya di Somalia pada tahun 2006. Amerika menginstruksikannya untuk memerangi gerakan-gerakan Islami dan menjatuhkan pemerintahan al-Mahakim al-Islamiyah (the Islamic Courts) di Somalia. Pasukan Ethiopia masih terus ada di Somalia untuk menjamin kestabilan pengaruh Amerika.
c- Setelah kematian Zenawi pada tahun 2012, dia digantikan oleh Hailemariam Desalegn dari suku yang sama.  Namun kekacauan terjadi dan ditetapkan kondisi darurat pada tahun berikutnya, di mana meletus insiden pada Oktober 2015 pasca keputusan pemerintah memperluas ibu kota Addis Ababa dan karenanya menggusur tanah-tanah pertanian yang ada di sekitarnya dan tanah-tanah itu masuk dalam kepemilikan suku Oromo yang mewakili 40% dari penduduk Ethiopia dan berikutnya suku Amharic 20%. Setelah tahun 2016, Pemerintah bersegera mengumumkan kondisi darurat. Terjadi penangkapan lebih dari 29 ribu dan lebih dari 500 orang terbunuh selama bulan-bulan protes. Maka kekhawatiran Amerika kembali terjadi. Amerika lalu memerintahkan Hailemariam Desalegn untuk mengundurkan diri sebab dia tidak mampu menenangkan situasi. Dan kondisi itu mengganggu kestabilan di seluruh Tanduk Afrika…
d- Begitulah, Hailemariam Desalegn mengundurkan diri pada 15/2/2018. Amerika mendatangkan pemerintahan untuk Ethiopia dari suku terbesar pemberontak dan mayoritasnya adalah muslim yaitu suku Oromo. Amerika mendatangkan Abiy Ahmed yang berafiliasi ke suku ini -tetapi ibunya adalah seorang Nashrani dari suku Amharic, demikian juga isterinya- untuk meraih dukungan dua suku terbesar di Ethiopia.  Sebelumnya dia meniti karier di institusi tentara lalu di institusi intelijen, lalu ke jabatan-jabatan politik… Dia menjabat Perdana Menteri pada 2/4/2018. Abiy Ahmed mengalami upaya percobaan pembunuhan terhadap dirinya pada 23/6/2018. (Ketika seseorang menyerangnya dengan senapan dalam perkumpulan massa di ibu kota Addis Ababa pasca dia memberikan pidato di depan puluhan ribu orang.  Pasca ledakan, dia mengatakan, “itu upaya gagal dari kekuatan yang tidak ingin melihat Ethiopia bersatu”. Kedutaan besar Amerika di Addis Ababa mengecam serangan itu dan mengatakan, “kekerasan tidak memiliki tempat di Ethiopia”… (Al-Hurra, 23/6/2018). Tidak menutup kemungkinan, hal itu ada kaitannya dengan perubahan di internal militer dan keamanan yang dilakukannya dengan mencopot panglima angkatan bersenjata dan kepala intelijen umum di Ethiopia pada 8/6/2018, di mana kedua institusi ini dituduh membunuh ratusan pemrotes dan menangkap puluhan ribu dari pemrotes dalam protes-protes yang terjadi sejak 2015.
Begitulah, Amerika mengendalikan sendi-sendi pemerintahan di Ethiopia, khususnya setelah Abiy Ahmed memegang pemerintahan di mana dia melakukan rencana-rencana dan arahan-arahan Amerika untuk menghilangkan ketegangan di antara antek Amerika di kawasan agar mereka menjadi kekuatan yang memiliki bobot dalam menghadapi penetrasi politis Eropa dan perluasan ekonomi China.
2- Terkait Pemerintahan di Eritrea:
Seperti yang telah kami katakan, setelah kudeta oleh perwira terhadap Haile Selassie dan penghentian pengaruh Inggris di Ethiopia termasuk di dalamnya Eritrea, Mengistu Mariam memegang kontrol pemerintahan. Dia bertindak represif dan berdarah. Maka Amerika khawatir, masyarakat melakukan revolusi dan Inggris memanfaatkan situasi dan bisa kembali lagi, dan Inggris memiliki pengalaman panjang dalam perkara ini. Maka Amerika melengserkan Mengistu Mariam dan mendatangkan Zenawi pada 1991… Pada waktu yang sama, muncul pergerakan-pergerakan dan protes di Eritrea untuk menuntut kemerdekaan. Amerika berpandangan untuk memenuhi tuntutan mereka guna menenangkan situasi. Maka kemerdekaan Eritrea dimumkan pada 1993 dan Afwerki dinobatkan sebagai presiden. Tetapi dalam pengumuman kemerdekaan itu belum ditentukan batas-batas baru negara. Afwerki pun khawatir, Ethiopia akan kembali menggabungkan Eritrea. Lalu Afwerki pada 12/5/1998 melakukan aksi militer untuk menentukan batas-batas itu. Dalam hal ini dia menyalahi pandangan Amerika yang telah menobatkannya sebagai penguasa. Dia terus berlanjut dalam hal itu, menolak rencana Amerika untuk negosiasi yang disodorkan oleh Suzan Rice pada 30/5/1998. Dan dia hampir berhasil menentukan batas-batas seadainya Amerika tidak memandang dalam hal itu adanya pembangkangan terhadap Amerika. Maka Amerika memilih untuk memberi pelajaran kepada Afwerki, bahkan sengaja untuk menghinakannya. Amerika pun menyuruh Zenawi melancarkan perag brutal pada 4/2/1999 terhadap Eritrea dan terus menaik eskalasinya makin berdarah pada 12/5/2000 sampai semua batas-batas yang telah dirumuskan pun dihapus dan pasukan Ethiopia masuk jauh ke Eritrea dalam bentuk yang menghinakan Afwerki. Maka Afwerki menyetujui perjanjian Alzajair pada 18/6/2000 dan semua syarat yang dituntut. Meski demikian, masalah batas-batas tetap belum terselesaikan!
Kami telah mengeluarkan Komentar Politik pada waktu itu tertanggal 20/3/1421 H atau 22 Februari 2000 M. Di situ dinyatakan: (Pada Ahad 18/6/2000 kementerian luar negeri Eritrea dan Ethiopia menandatangani gencatan senjata di antara kedua negara. Hal itu terjadi di Alzajair dengan dihadiri oleh penguasa Alzajair sebagai ketua periode sekarang untuk Organisasi Uni Afrika (Africa Union). Dan juga dihadiri oleh utusan dari Amerika Serikat, Uni Eropa dan PBB. Perjanjian itu menyatakan lima belas poit, dua yang terpenting adalah: penentuan batas-batas bersama di antara kedua negara dirumuskan melalui para ahli interasional dari PBB.  Ini disamping penundaan pemulangan pasukan Ethiopia yang membangun kemah di Badmey dan wilayah perbatasan lainnya sampai dua minggu setelah kedatangan pasukan internasional, dan Eritrea harus mengosongkan wilayah sejauh 25 kilometer dari perbatasan dengan Ethiopia sebagai buffer zone di bawah kontrol pasukan internasional sampai batas-batas berhasil dirumuskan dan konflik diselesaikan… Clinton mengomentari penandatanganan itu: “ini kemajuan besar dari tentu saja mengakhiri konflik tragis di Tanduk Afrika”.  Dia juga mengatakan, “Ethiopia dan Eritrea merupakan teman Amerika. Jika mereka siap untuk mengambil langkah-langkah berikutnya maka kami dan partner kami dari komunitas internasional akan berjalan bersama mereka”. Anthony Lake, utusan kepresidenan, mengomentari, “ini adalah waktu yang penting dan mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama dua tahun”. Meski perjanjian itu menyatakan perumusan batas-batas namun masalah itu terus menggantung! Ethiopia tidak pernah peduli dengan perumusan batas-batas ini. Bahkan Ethiopia menganggap Eritrea sebagai bagian dari wilayah dan salah satu provinsinya. Para Kaesar Abyssinia dan setelah mereka Mengistu Mariam berusaha menggabungkannya dengan jalan dan cara apapun. Hal itu mengingat kebutuhan mendesak mereka kepada pelabuhan di Eritrea…  Karena itu, Afwerki berusaha merumuskan perbatasan secara militer. Dia hampir-hampir berhasil seandainya tidak ada serangan Ethiopia pada 12/5/2000 dengan dorongan Amerika sebagai pelajaran kepada Afwerki seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya. Maka Afwerki terpaksa menerima semua yang diminta Ethiopia dan terpaksa mengumumkan secara gamblang menerima perjanjian yang dikeluarkan dengan kover Organisasi Uni Afrika dan ditandatangani di Alzajair pada Ahad 18/6/2000 M.
Juga kami sebutkan di dalam Komentar Politik itu, “Ethiopia dan Eritrea merupakan dua negara yang dalam politiknya mengikuti Amerika. Penguasanya antek Amerika. Amerika lah yang memungkinkan Meles Zenawi pemimpin Front Pembebasan Rakyat Tigray (the Tigray People’s Liberation Front) menerima tampuk kekuasaan di Addis Ababa ketika Amerika ingin mengganti anteknya Mengistu Mariam pada tahun 1991 M. Dan Amerika lah yang memungkinkan Isaias Afwerki memimpin Front Pembebasan Rakyat Eritrea (the Eritrean People’s Liberation Front – EPLF) untuk meraih kemerdekaan dari Ethiopia pada tahun 1993 M. Jadi perselisihan di antara Ethiopia dan Eritrea merupakan perselisihan antar antek atau (teman) sebagaimana sebutan yang suka digunakan oleh Clinton dan ahli-ahli politik di Gedung Putih atau Barat. Amerika telah berusaha menyelesaikan perselisihan keduanya melalui negosiasi.  Untuk merealisasi hal itu, Amerika mengerahkan upaya ahlinya yang paling menonjol Anthony Lake yang dalam hal itu memakan waktu lebih dari satu tahun tanpa bisa menyelesaikan perselisihan. Sebab Afwerki tidak rela dengan usulan-usulan Amerika dan berpandangan bahwa Amerika berpihak demi kemenangan Ethiopia… Ketika Afwerki membandel  dengan potret seperti itu, Amerika memilih untuk memberinya pelajaran bahkan memilih menggunakan kekuatan militer untuk menghinakannya, satu kebiasaan Amerika dalam memeprlakukan antek-antekya jika mereka berpikir untuk membangkangnya. Amerika lah yang mendorong Zenawi untuk melancarkan perang paling akhir terhadap Eritrea. Duta Amerika di PBB Holbrooke lah yang memberikan lampu hijau untuk dilancarkannya perang itu… Pada Rabu 10/5/1998 sebelum meninggalkan Asmara dan setelah pertemuannya dengan presiden Eritrea, Holbrooke mengatakan, “kita dekat sekali dari berlanjutnya perang dan meletusnya putaran baru perang yang jika terjadi akan menjadi perang terbesar di benua Afrika”. Ini adalah pernyataan panas yang dilontarkan Holbrooke sebelum dia meninggalkan Asmara dan memperingatkan bahaya besar bagi siapa saja yang mendengarnya. Holbrooke ini menjadi pembawa berita kesedihan bagi negara-negara yang dikunjunginya di dunia.  Dan dia menyusuri jejak buruk pendahulunya Kisinger dalam menyalakan perang dan mendatangkan bencana dan memandang murah tertumpahnya darah bangsa-bangsa dalam rangka menjaga kepentingan-kepentingan Amerika” (Kamis, 20 Rabiul Awwal 1421 H-22 Juni 2000 M), selesai.  Jelas dari apa yang disebutkan sebelumnya bahwa Eritrea mencadangkan usulan-usulan Amerika, tidak berarti Eritrea tidak tunduk kepada Amerika. Tetapi maknanya Eritrea ingin meyakinkan Amerika agar membantunya merumuskan batas-batas di antara Eritrea dengan Ethiopia secara final sehingga Eritrea tidak terus berada dalam kondisi “semi merdeka”. Sebab tidak ditentukannya batas-batas dengan Eritrea oleh Ethiopia menyisakan keraguan pada diri orang-orang Eritrea tentang niyat Ethiopia.
Begitulah, menjadi jelas bahwa Afwerki dan Abiy Ahmed, keduanya adalah antek Amerika. Tidak mudah bagi keduanya menandatangani perjanjian Asmara dengan point-point yang disebutkan di dalamnya tanpa sepengetahuan dan perencanaan serta perintah dari Amerika kepada keduanya untuk menjalankannya.

Ketiga, adapun kenapa Amerika menunggu 18 tahun antara Perjanjian Alzajair tahun 2000 dan Perjanjian Asmara 2018, maka itu kembali kepada kepentingan Amerika sendiri:
Setelah perjanjian Alzajair yang disponsori oleh Amerika, maka simpul paling keras adalah perumusan batas-batas. Ethiopia ingin menunda-nunda dalam hal itu. Sebaliknya Eritrea mendesaknya.  Meski demikian, Amerika tidak memandang penting untuk melakukan tekanan guna menyelesaikan persoalan. Kepentingan Amerika tetap terjaga baik persoalan itu terselesaikan ataupun tidak. Keduanya adalah antek Amerika. Pertikaian di antara keduanya tidak akan berpengaruh pada kepentingan Amerika seperti pandangan Amerika kala itu. Tetapi perkara-perkara baru muncul di tahun-tahun terakhir membuat Amerika meninjau kembali politik Afrikanya, khususnya di Tanduk Afrika:
1- Banyak pergantian pemerintahan di Ethiopia. Dan ini tentu saja melemahkan pemerintahan dan berikutnya menjauhkan stabilitasnya yang membuatnya mudah dipenetrasi… Begitulah ambisi negara-negara imperialis khususnya Inggris dari sisi pengaruh politik, dan China dari aspek pengaruh ekonomi. Maka semua itu menuntut Amerika untuk kembali memandang penting masalah itu dan akhirnya dipuncaki dengan rekonsiliasi antara Ethiopia dan Eritrea dan banyak dimensi rekonsiliasi itu yang menguntungkan Amerika.
2- “Berbagai laporan menyatakan bahwa Ethiopia memiliki cadangan besar minyak di sejumlah wilayah dan mulai dilakukan aktifitas dalam mengeksplorasinya di sejumlah besar wilayah… (Ethiopia.net, 1/4/2013).  “Diprediksi produksi sumur-sumur minyak di kawasan tersebut bisa mencapai 40 miliar galon minyak, dan akan masuk pasar tahun 2018… (Mogadishu Center, 25/12/2016).  Begitulah, minyak menjadi faktor baru yang menggerakkan politik Amerika untuk meningkatkan perhatian terhadap Tanduk Afrika khususnya bahwa korporasi-korporasi China memiliki peran memimpin dan mendahului secara ekonomis dalam produksi dan eksplorasi minyak Ethiopia. Bukan rahasia bagi Amerika adanya fenomena kuat dan terus meningkat invasi ekonomi China ke benua Afrika, khususnya di Ethiopia. China berinvestasi secara masif, mengingat besarnya pasar Ethiopia. “China bekerja memperkuat investasinya di Afrika, khususnya di Ethiopia yang selama tahun-tahun terakhir berubah menjadi kawasan industri China. Otoritas Ethiopia dari pihaknya bekerja memfasilitasi investasi asing dan menegaskan bahwa Ethiopia yang mendapat manfaat dari awal hingga akhir dari eksistensi China di wilayahnya” (France 24, 5/6/2018). Oleh karena itu, Amerika membuat kemajuan signifikan ke arah Ethiopia untuk mempersempit pengaruh ekonomi China.
3- Upaya ekstensif dari pengaruh Inggris untuk melakukan penetrasi ke Tanduk Afrika. Ada perkembangan cepat untuk hubungan antara Emirat dan Ethiopia. Sebelumnya hubungan keduanya terabaikan sampai pada tingkat Emirat telah mendirikan kedutaan besarnya di Addis Ababa baru tahun 2010! Kerjasama keduanya setelah itu mengalami akselerasi. Terjadi penandatanganan perjanjian yang mencakup sejumlah bidang.  Misalnya, perjanjian kerjasama teknis untuk bantuan-bantuan cukai; pembukaan kantor perwakilan kamar dagang dan industri Dubai di Addis Ababa pada tahun 2013; pesawat sipil tahun 2014; pendidikan tinggi, pemuda dan olahraga tahun 2015; dan dibentuk Komite Bersama Ethiopia Emirat yang menyelenggarakan pertemuannya pada tingkat kementerian luar negeri…  Selama kunjungan resmi yag dilakukan mantan Perdana Menteri Ethiopia, Hailemariam Desalegn pada tahun 2016 ke Uni Emirat Arab terlihat lompatan kualitatif hubungan-hubungan bilateral antara kedua negara dalam semua bidang. Hal itu hasil dari rangkaian pembahasan yang dilakukan oleh Desalegn dengan para pemimpin politik di Uni Emirat Arab.
Dalam kerangka kunjungan resmi yang dilakukannya ke Abu Dhabi, ketika itu menteri Kantor Urusan Komunikasi Getachew Reda mengatakan, “kunjungan Desalegn membahas sejumlah isu bersama yang penting bagi kerjasama kedua negara demi kepentingan bersama khususnya bidang ekonomi, investasi, isu-isu regional dan internasional… Menteri Negara untuk Kerjasama Internasional Uni Emirat Arab, Reem Al-Hashemi dalam program yang diorgansir oleh kedutaan besar Emirat di Addis Ababa mengatakan bahwa Ethiopia adalah bagian dari mitra strategis Uni Emirat Arab di Afrika dan bahwa kedua negara diikat oleh faktor-faktor bersama”… (Al-‘Ain Al-Akhbariya, 7/3/2018).
Inggris melalui pintu Emirat melakukan upaya mengikat Ethiopia dengan porosnya dan politiknya dengan harapan memasukkan pengaruh di Ethiopia dan Eritrea. Untuk itu dilakukan berbagai kunjungan secara menyolok. “Sheikh Muhammad bin Zayed Al Nahyan telah menggelar pertemuan pembicaraan resmi dengan Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed di Addis Ababa pada 15 Juni lalu. Pembicaraan itu mencakup penguatan hubungan pertemanan, kerjasama dan kemitraan strategis di antara kedua negara. Pada Selasa 3 Juli lalu Putera Mahkota Abu Dhabi menerima presiden Eritrea Isaias Afwerki, mengungkapkan harapannya agar kunjungan ini berkontribusi dalam mendukung hubungan kerjasama di antara Uni Emirat Arab dan Eritrea dalam periode ke depan yang mendatangkan kebaikan untuk kedua negara dan kedua rakyatnya yang berteman” (http://www.alkhaleej.ae, 22/7/2018).
Peristiwa-peristwa baru dan perkembangan ini membuat Amerika memberikan perhatian besar terhadap Afrika khususnya Tanduk Afrika dan beraktifitas di sana. Oleh karena itu Amerika pada September 2017 menunjuk Donald Yukio Yamamoto sebagai asisten menteri luar negeri untuk urusan Afrika, jabatan yang paling banyak berpengaruh dalam aktifitas pembentukan politik Amerika terhadap benua Afrika. Pemilihan Yamamoto untuk jabatan ini bukan hal kosong. Dia termasuk diplomat Amerika yang paling banyak pengalaman tentang file Afrika khususnya di kawasan Tanduk Afrika, sebab sebelumnya dia mewakili negaranya secara diplomasi di negara-negara Tanduk Afrika… Dia memiliki kontribusi aktif dalam persiapan untuk Perjanjian Asmara antara Ethiopia dan Eritrea untuk menghilangkan ketegangan di antara kedua negara dan membuat baik hubungan keduanya. Begitulah, Perjajian Asmara ditandatangani sebagai penegasan dan penyempurnaan bagi Perjanjian Alzajair untuk menyelesaikan masalah antara Ethiopia dan Eritrea, bahkan antara antek-antek Amerika di kawasan. Diperkirakan hal itu juga akan meredakan ketegangan antara Ethiopia dan Mesir tentang bendungan. Abiy Ahmed mengunjungi Mesir dan bertemu dengan al-Sisi pada 10/7/2018, yakni satu hari pasca penandatanganan Perjanjian Asmara. Abiy Ahmed bersama al-Sisi menandatagani pengadopsian pandangan bersama di antara kedua negara yang dibangun di atas penghormatan hak masing-masing dalam merealisasi pertumbuhan tanpa merugikan kepentingan pihak lain… Dan tentu saja semua ini terjadi dengan persetujuan Amerika. Demikian juga dengan Sudan. Amerika pada bulan April lalu mengirim delegasi teknis dan diplomasi sebagai inisiatif dan mediasi untuk mendekatkan pandangan di antara tiga negara untuk memperbaiki antek-antek Amerika di hadapan penetrasi China secara ekonomi dan penetrasi Inggris secara politik.

Keempat, dan sebagai penutup, sungguh menyakitkan, negara-negara kafir imperialis terutama Amerika mengendalikan negara-negara di kawasan tersebut… Sebagian orang tidak mengetahui bahwa kaum Muslim di Ethiopia dan Eritrea hampir separo jumlah peduduk, bahkan ada yang mengestimasi jumlah kaum Muslim di sana lebih dari itu, artinya melebihi 50 juta jiwa… Boleh jadi sebagian orang tidak tahu bahwa kapal kaum Muslim pertama yang berhijrah dari Mekah ke Habsyah berlabuh di pelabuhan kota Musawwa yang terkenal di Eritrea …  Meski demikian, kedua negara merupakan obyek perhatian Amerika, China dan Eropa. Hampir-hampir tidak tampak perhatian kaum Muslim terhadap kedua negara itu… Di atas semua itu, perkara ini bukanlah hal aneh dan mengherankan. Selama kaum Muslim tanpa negara yang memelihara urusan mereka maka keadaan mereka akan terus seperti anak yatim di sarang penyamun… Perkara mereka tidak akan baik dan lurus kecuali dengan al-Khilafah yang menghimpun mereka di atas Kitabullah SWT dan sunnah Rasul-Nya saw.
﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
Dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang” (TQS ar-Rum [30]: 4-5).

6 Shafar al-Khayr 1440 H
15 Oktober 2018 M

http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/55559.html

presiden usa trump

Soal:
Pada 2 Oktober 2018 dalam kampanye pemilu paruh waktu (midterm election) di negara bagian Mississipi Trump mengancam Arab Saudi. Trump menampakkan kepada para pendukungnya bahwa dia menangani masalah kenaikan harga minyak. Dia mengatakan, “dan apa (yang kita peroleh) dari kesepakatan militer kita di mana kita melindungi negara-negara kaya tanpa kita memperoleh dari negara-negara kaya itu kompensasi finansial. Apa dari berbagai sumberdaya itu “yakni minyak”? Ini juga mengubah kondisi masyarakat. Kita melindungi kerajaan Arab Saudi, apakah akan Anda katakan bahwa Saudi kaya? Dan saya menyukai raja… raja Salman. Tetapi saya katakan “wahai Raja, kami melindungi Anda. Boleh jadi Anda tidak bisa berada di sana selama dua minggu tanpa kami. Anda harus membayar untuk pasukan Anda” (al-Khaleej online, 3/10/2018).
Saya tidak ingin menanyakan, kenapa para penguasa Saudi diam atas penghinaan bahwa mereka tetap saja patuh kepada Amerika. Hal itu karena mereka menghinakan diri mereka sendiri, dan siapa yang hina memudahkan penghinaan terhadapnya…. Tetapi saya bertanya, apa yang membuat Trump menuntut keras Saudi untuk meningkatkan produksi dan menurunkan harga padahal Amerika adalah pemilik produksi terbesar dan memungkinkannya mengontrol sendirian dalam penurunan harga? Kenapa ada penigkatan desakan itu sekarang? Terakhir, kenapa meski semua tekanan Amerika itu, harga minyak tidak juga turun? Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik kepada Anda.

Jawab:
Benar, Anda telah mengatakan hal yang benar. Sungguh benar, siapa yang hina maka memudahkan penghinaan terhadapnya. Ucapan Trump tentang para penguasa Saudi itu cukup untuk meledakkan hubungan dengan Amerika jika bukan malah lebih dari itu. Tetapi ini seandainya mereka merasa malu kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukmin. Namun mereka tidak merasa malu. Benarlah Rasulullah saw, beliau bersabda:
«إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ» أخرجه البخاري
“Sesungguhnya di antara apa yang dipahami orang dari ucapan kenabian, jika kamu tidak malu maka perbuatlah apa saja sesukamu” (HR al-Bukhari).

Adapun jawaban pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan Anda maka sebagai berikut:
1- Ketika Donald Trump naik ke tampuk kepresidenan pada Januari 2017, harga minyak sekira 57 Dollar per barel. Di akhir 2017, harga minyak turun menjadi 45 Dollar per barel. Tetapi sejak itu harga minyak mulai naik. Dan sekarang harga minyak mencapai 86 Dollar per barel atas minyak mentah Brent. Sebagian analis memprediksi harga minyak bisa mencapai 100 Dollar per barel!
Pada Juli 2018, Trump mentweet di Twitter: “para produsen OPEC harus ingat bahwa harga bensin tinggi dan bahwa mereka tidak melakukan apa-apa untuk membantu. Jika ada sesuatu di sana maka mereka mendorong harga ke lebih tinggi di mana Amerika Serikat membela sejumlah anggotanya (yakni anggota OPEC) dengan imbalan jumlah sangat kecil Dollar. Ini, (penanganan) ini harus ada di dua pihak”. Artinya, kami dukung Anda dengan kompensasi harga minyak yang rendah”… “turunkan harga”. Sebelum itu pada 3 Juni 2018, Trump mengatakan di dalam tweetnya, “saya baru saja berbicara dengan Raja Salman, raja Kerajaan Arab Saudi, saya jelaskan kepadanya bahwa disebabkan gejolak dan kekacauan di Iran dan Venezuela, saya minta Saudi untuk meningkatkan produksi minyak, mungkin kenaikannya mencapai 2 juta barel untuk mengkompensasi selisih… Harga (seperti yang dia katakan) tinggi! Dia setuju…! (al-Hurra, 30/6/2018). Dan pada 25/9/2018 presiden Amerika dalam pidatonya di depan Sidang Umum PBB menyerang organisasi OPEC dengan mengatakan, “organisasi OPEC dan negara-negara besar merampok dunia, dan terus menaikkan harga. Ini tidak mengherankan saya dan tidak seorang pun harus merasa heran”. “Kami membela banyak dari negara-negara itu tanpa kompensasi, tetapi negara-negara itu terus menaikkan harga. Kami ingin dari mereka untuk mulai menurunkan harga… Dari sekarang dan seterusnya kita tidak bisa menanggung harga mengerikan ini” (Sputnik, 25/9/2018). Pada 27/9/2018 Trump menulis di Twitter, “kami melindungi negara-negara Timur Tengah. Tanpa kami, mereka tidak akan aman. Meski demikian, mereka terus mendorong harga minyak untuk naik! Kami akan mengingat hal itu. OPEC yang memonopoli pasar harus mendorong harga agar turun sekarang”.
Kemudian terjadi apa yang ada di pertanyaan pada 2 Oktober 2018 dalam kampanye pemilu paruh waktu (midterm election) di negara bagian Mississipi. Trump mengancam kerajaan Arab Saudi dan menampakkan kepada para pendukungnya bahwa dia menangani kenaikan harga minyak dengan mengatakan, “dan apa dari berbagai kesepakatan militer kita, di mana kita melindungi negara-negara kaya tanpa kita memperoleh dari mereka kompensasi finansial. Apa dari berbagai sumberdaya itu “yakni minyak”? Ini juga mengubah kondisi masyarakat. Kami melindungi kerajaan Arab Saudi, apakah akan Anda katakan bahwa Saudi kaya? Dan saya menyukai raja… Raja Salman. Tetapi saya katakan, “wahai Raja, kami melindungi Anda. Boleh jadi Anda tidak akan bisa ada di sana untuk jangka waktu dua minggu tanpa kami. Anda harus membayar untuk pasukan Anda” (al-Khaleej online, 3/10/2018 M).
Semua ini berarti bahwa Trump memperhatikan situasi saat ini dengan peningkatan produksi tetapi dari OPEC dan khususnya Saudi.
2- Benar, bahwa Amerika paling banyak produksinya. Sesuai laporan Administrasi Informasi Energi Amerika – EIA, institusi Amerika yang mengumpulkan statistik tentang energi, lembaga ini pada akhir 2017 telah mempublish data produksi minyak global, yang ketika itu mencapai 95 juta barel per hari. Sesuai data itu, tujuh negara produsen terbesar adalah sebagai berikut:
Amerika Serikat 14,46 juta barel per hari dari total produksi global, Saudi 12,08 juta barel per hari, Russia 11,18 juta barel per hari, Kanada 4,87 juta barel per hari, Iran 4,67 juta barel per hari dan China 4,45 juta barel per hari.
Jadi Amerika tetap menjadi produsen minyak terbesar di dunia, kemudian Saudi dan Russia…
3- Juga benar bahwa Amerika bisa meningkatkan produksi sesukanya khususnya ketika Amerika memiliki deposit besar minyak serpih. Tetapi ada hal yang membuat Amerika tidak merujuk kepada hal itu:
a- Menjaga deposit dan cadangan miliknya…
b- Ada dari kalangan ruwaibidhah yang mau menjalankan perintah Amerika dalam hal itu hingga seandainya di dalam masalah ini ada penghinaan terhadapnya. Bahkan dia tetap menjalankannya padahal hal itu membahayakannya seperti yang terjadi pada para penguasa Saudi!! Amerika meminta dari Saudi agar menurunkan harga minyak agar Amerika bisa menyediakan minyak untuk rakyatnya dengan harga lebih murah setelah harga minyak mentah skala global jenis Brent mencapai batas 80 Dollar per barel pada bulan September tahun ini. “Pada 14 September 2018, harga minyak mentah skala global jenis Brent naik hingga menyentuh 78,21 Dollar per barel. Ini merupakan kenaikan tertinggi sejak 22/5/2018” (Reuters, 14/9/2018). Perlu diketahui bahwa “produksi negara-negara OPEC naik hingga mencapai 32,79 juta barel per hari. Saudi yang telah berjanji menaikkan produksi secara terkontrol mengatakan bahwa keputusan akan diterjemahkan dalam kenaikan produksi sekitar satu juta barel per hari” (Reuters, 31/8/2018). Sumber tersebut menyebutkan bahwa “ketika minyak mentah Brent bergerak ke arah 80 Dollar per barel, Saudi memberitahu pasar tentang kenaikan produksinya bulan lalu pada waktu lebih dini dari tanggal biasanya informasi seperti itu diperoleh…”.
Rejim Saudi saat ini adalah antek Amerika yang kuat dalam melayani Amerika. Selama ini kerajaan Saudi Arabia memainkan peran sentral untuk menstabilkan pasar minyak… Terkait Saudi, dia memerlukan harga minyak yang tinggi, pada waktu di mana perekonomiannya mengalami tekanan ekonomi yang keras sejak runtuhnya harga minyak pada tahun 2014, khususnya bahwa minyak menjadi tulang punggung dalam APBN Saudi. Sudah diketahui bersama bahwa biasanya di negara yang pendapatan minyak porsinya lebih dari separo pendapatannya maka negara itu perlu harga minyak lebih dari 80 Dollar per barel untuk menciptakan keseimbangan dalam neracanya. Artinya pendapatan minyak tidak cukup untuk menutupi belanja dalam APBN. Lalu bagaimana dengan neraca APBN Saudi yang sebagian besarnya tegak di atas pendapatan minyak? Harga yang pas adalah di atas 80 Dollar, bahkan sekitar 100 Dollar untuk menyeimbangkan neraca APBN-nya dan pertumbuhan ekonominya. Di mana Saudi sekarang sedang dalam gejolak. Meski demikian, penguasa Saudi setuju menaikkan produksi untuk menurunkan harga. Padahal dalam hal itu ada bahaya yang akan menimpa Saudi untuk menyenangkan Trump yang melecehkan penguasa Saudi secara terbuka bahwa seadainya tidak karena Amerika niscaya singgasananya runtuh!! Mereka pura-pura melupakan hal itu dan Putera Mahkota mereka mengatakan bahwa Saudi siap mengkompensasi kekurangan Iran! Blomberg Amerika pada 6/10/2018 mengutip pernyataan Putera Mahkota Saudi Ibnu Salman kepada Blomberg di mana “dia bersikeras bahwa Kerajaan Arab Saudi memenuhi komitmennya untuk mengkompensasi suplay minyak mentah Iran yang hilang”. Dia mengatakan, “Saudi sekarang memompakan 10,7 juta barel per hari dan kami bisa menambah 1,3 juta barel per hari sebagai tambahan jika pasar memerlukan hal itu”.
Selama di sana ada antek-antek yang siap membahayakan dirinya sendiri untuk merealiasi keinginan Trump dalam menaikkan produksi, lalu kenapa Amerika harus mengurangi depositnya?!
4- Adapun kenapa desakan dari Trump terhadap OPEC khususnya Saudi untuk menaikkan produksi dan menurunkan harga? Hal itu karena ada dua perkara yang menjadi dilema bagi Trump jika tidak diselesaikan dengan cepat dan tidak boleh ditunda. Seandainya tidak ada dua perkara itu niscaya naiknya harga minyak tidak membahayakan Trump … Amerika dapat menyerap kenaikan dengan mencetak Dollar baru seperti yang dilakukan ketika harga minyak naik sebelumnya sampai sekitar 150 Dollar per barel. Kami telah mengeluarkan Jawab Soal pada 16/5/2009. Di situ dinyatakan: “Amerika mampu mencetak uang kertas dengan persetujuan IMF atau secara rahasia “dan hingga secara terbuka” tanpa persetujuan IMF. Amerika memiliki pengaruh riil di IMF dan memungkinkannya menampakkan sebab-sebab palsu dan menyembunyikan hakikat perkara dan IMF mendukungnya dalam hal itu! Tetapi pencetakan uang kertas dengan jalan ini menyebabkan turunnya nilai Dollar dan berikutnya terjadi inflasi, yakni kenaikan harga-harga. Oleh karena itu, Amerika tidak melakukannya kecuali jika Amerika memiliki kemaslahatan yang lebih kuat. Misalnya, berbagai berita melaporkan bahwa Amerika mencetak antara 2 – 4 triliun Dollar selama spekulasi minyak yang menyebabkan kenaikan harga minyak mendekati 150 Dollar per barel, “padahal Amerika tidak jauh dari spekulasi itu”. Amerika mencetak uang kertas itu agar bisa membeli sebanyak mungkin minyak secara langsung atau tidak langsung untuk ditambahkan ke cadangannya. Dalam hal itu, Amerika memandang kemaslahatannya melampaui naiknya harga dan turunnya Dollar…”. Tetapi karena masalah itu memerlukan waktu untuk mengatur aktifitas exit! Dan karena ada dua masalah yang memerlukan solusi cepat dan jika tidak maka Trump berada dalam dilema seperti yang telah kami sebutkan barusan, maka Trump menumpahkan kemarahan kepada OPEC khususnya Saudi… Adapun dua masalah itu adalah:
Pertama, masalah sanksi terhadap Iran:
Iran merupakan produsen ketiga terbesar di dalam OPEC setelah Saudi dan Irak. Produksiya pada batas 4 juta barel per hari minyak mentah. Sanksi akan menyebabkan penuruan ekspor minyak Iran khususnya pada Nopember di mana sanksi meningkat hingga mencakup Iran. Demikian juga negara-negara yang mengimpor miyak dari Iran. Sebab Amerika pertama-tama meminta korporasi-korporasi menurunkan impor minyak Iran dan berikutnya langsung menghapus kontraknya dengan Iran pada Nopember depan. Sesuatu yang bisa menyebabkan hilangnya ekspor Iran. Tetapi Saudi bisa menambah produksi minyak jika kebutuhan mengharuskan hal itu. Artinya, Saudi siap untuk mengkompensasi kekurangan penawaran Iran. Putera Mahkota Saudi Pangeran Muhamad bin Salman mengatakan, “kami mengekspor hingga dua barel minyak untuk setiap barel minyak yang tidak bisa diekspor Iran pada belakangan ini disebabkan sanksi-sanksi Amerika. Kami memenuhi komitmen kami dan lebih dari itu”. Pangeran Saudi mengatakan bahwa Kerajaan sekarang memompakan sekitar 10,7 juta barel minyak per hari dan itu merupakan angka rekor, dan kami bisa menambah 1,3 juta barel jika pasar membutuhkan itu …” (https://www.akhbarak.net, 8/10/2018).
Amerika pada 4/11/2018 bertekad meningkatkan sanksi terhadap Iran dengan menyasar ekspor minyak dan menekan pemerintahan dan korporasi di seluruh dunia untuk patuh dan menurunkan pembelian minyak dari Iran. Makna hal itu bahwa penawaran minyak akan menurun di pasar global. Sebagaimana telah dijelaskan pernyataan tujuh negara produsen terbesar minyak yang telah disebutkan, Iran memproduksi lebih dari 4 juta barel minyak per hari. “Dan mungkin sekarang menurun” dan ekspornya menjadi hanya setengah dari yang diproduksi. Sementara dua juta barel lainnya pergi ke China, India dan Turki. Trump memprediksi penarikan saksi dengan langkah dua juta barel ini. Amerika ingin mengkompensasi kekurangan itu melalui Saudi dan negara-negara OPEC lainnya untuk mengkompensasi kekurangan yang mungkin terjadi, sehingga Amerika bisa menyelesaikan masalah Iran dengan jauh dari Eropa, Russia dan China setelah Amerika mengumumkan penarikan diri pada 8/5/2018 dari Perjanjian Nuklir yang ditandatangani tiga tahun lalu dengan negara-negara ini. Amerika menawarkan untuk mengikat perjanjian dengan Iran sendirian. Presiden Amerika mengumumkan kesiapannya untuk mengikat semisal perjanjian ini, tetapi harus disiapkan situasi di dalam negeri Iran dan ini boleh jadi membutuhkan waktu… Trump ingin, selama waktu itu, untuk mengkompensasi kekurangan itu sampai bisa mengatur perjanjian antara Amerika dan Iran tanpa keikutsertaan Eropa. Jika kekurangan terus ada tanpa dikompensasi dan berikutnya harga minyak naik maka ini akan memasukkan Trump dalam dilema sebab dia membangun sanksi-sanksi di atas anggapan bahwa kekurangan minyak Iran akibat sanksi akan dikompensasi melalui ancaman-ancamannya kepada OPEC khususnya Saudi… Dengan ungkapan lain, Amerika ingin menyelesaikan masalah kekurangan dalam suplay minyak dan menjamin tidak adanya kenaikan harga sampai Amerika menyelesaikan persoalan-persoalan dengan Iran, sebab hal itu boleh jadi tidak selesai dengan cepat.
Atas dasar itu, Trump mendesak OPEC dan pada tingkat pertama Saudi, untuk mengkompensasi kekurangan Iran yang akan tampak jelas pada 4/11/2018. Ini ditambah kekurangan yang terjadi akibat sanksi-sanksi pada 21/05/2018 yang dijatuhkan Trump terhadap Venezuela hingga jika meskipun itu memiliki pengaruh lebih kecil sebab produksi Venezuela saat ini memompakan 1,5 juta barel per hari minyak mentah.
Kedua, pemilu Amerika:
Naiknya harga minyak menciptakan masalah bagi Donald Trump yang akan mengarungi pemilu paruh waktu (midterm election) pada Nopember depan. Kenaikan harga minyak akan berpegaruh pada kelangsungan para pendukungnya di jabatan mereka, khususnya bahwa sebagian besar survey menampakkan bahwa orang-orang demokrat akan mendominasi DPR. Agar Trump menampakkan kepada para pemilih Amerika pada posisi pertama maka dia menyalahkan dan menekan Saudi dan anggota OPEC untuk meningkatkan produksi. Pada waktu yang sama, pemerintahan Trump memaksa China, India dan Turki untuk memutus hubungan dengan Iran dan mencari minyak mentah dari tempat lain. Sebagaimana bahwa kenaikan harga minyak akan berpengaruh pada jumlah yang dibayarkan oleh konsumen Amerika untuk bensin. Seiring dengan pemilu paruh waktu (midterm election) Amerika maka perkara ini tidak akan menjadi faktor kemenangan dalam pemilihan. Rakyat Amerika melihat dengan sensitif kanaikan harga bahan bakar. Rakyat Amerika tidak mungkin menerima pemerintahnya berjalan ke arah kenaikan harga minyak. Oleh karena itu, presiden Trump mengembalikan kenaikan harga itu kepada negara-negara OPEC dan menyerang mereka untuk menampakkan di depan rakyat Amerika bahwa ia membela kepentingan rakyat Amerika dan mampu menekan Saudi dan OPEC untuk menurunkan harga. Dan Trump konsern dengan penurunan harga, khususnya dalam jangka waktu pemilu Amerika. Ini penting hari ini karena perlunya presiden Amerika dan partainya, Partai Republik, kepada suara pemilih Amerika dalam pemilu untuk memperbarui separo periode ke depan yang akan digelar pada 6 Nopember 2018, khususnya bahwa survey memberikan keunggulan untuk orang-orang demokrat.
5- Adapun kenapa harga minyak terus saja naik meski ada ancaman Trump dan tekanannya dan jawaban Saudi dengan meningkatkan produksi? Maka sebabnya bahwa ada pihak-pihak lain di OPEC yang mengikuti Eropa dan mengimbangi Amerika. Juga ada Russia. Pihak-pihak ini khususnya yang pro Eropa tidak mudah memenuhi permintaan Amerika kecuali dengan kadar yang tidak merealisasi ambisi-ambisi Trump dengan cepat seperti yang diinginkan Trump. Saudi adalah alat Amerika yang utama di dalam OPEC. Namun di sana ada pihak lain di dalam OPEC dan mereka memiliki kepentingan tertentu, di antaranya ada yang pro kepada negara-negara besar Eropa. Boleh jadi mereka tidak mau patuh kepada Amerika dengan mudah. Demikian juga ada negara-negara partner OPEC seperti Russia yang juga memiliki kepentingan tertentu. Amerika tidak mampu memaksakan keinginannya secara penuh.
Dalam upaya untuk menurunkan harga, presiden Amerika meminta peningkatan produksi. Meski demikian, organisasi OPEC dan sekutunya para produsen minyak, dalam pertemuan mereka di Alzajair pada 23/9/2018 tidak mencapai kesepakatan untuk peningkatan tambahan dalam produksi minyak, berbeda dari seruan Trump.
Adapun Russia, Amerika selama tahun 2017 hingga hari ini bisa memanfaatkan Saudi untuk menekan Russia dan menyulitkannya serta membuat Russia memenuhi permintaan dalam meningkatkan produksi dan berikutnya menurunkan harga… Untuk pertama kalinya, Raja Saudi melakukan kunjungan ke Russia untuk menghadiri pertemuan antara OPEC dan anggota di luar OPEC khususnya Russia. Raja Salman pada Oktober 2017 melakukan kunjungan ke Russia dan menghadiri pertemuan OPEC. Berikutnya harga minyak pada saat itu mulai stabil di atas 60 Dollar per barel sebelum mulai naik lagi sejak pertengahan tahun ini seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Meski demikian, baik kerajaan Arab Saudi maupun Russia berjuang untuk mencapai permintaan dua juta barel per hari yang diminta Trump. Pada faktanya, para analis independen demikian juga Badan Energi Internasioanl (the International Energy Asociation – IEA) meragukan bahwa kerajaan Arab Saudi dan Russia bisa menambah dua juta barel per hari. Badan Energi Internasional, organisasi yang berpusat di Paris dan merepresentasikan negara-negara konsumen, belakangan mengestimasi apa yang disebutnya “ suplay permintaan yang kurang” dari Timur Tengah termasuk di dalamnya Kerajaan Arab Saudi sekitar 1,14 juta barel per hari, dan Russia bisa menambah sampai 400 ribu barel per hari, sebagaimana yang dikatakan oleh para analis. Pada akhirnya, dan di bawah tekanan terus menerus dari Amerika Serikat, Kerajaan Arab Saudi mencapai kesepakatan rahasia dengan Russia pada September untuk memperkuat produksi minyak. Reuters menyebutkan, “perjanjian tersebut menegaskan bahwa Russia dan Kerajaan Arab Saudi semakin menentukan kebijakan produksi minyak sebelum berkonsultasi dengan anggota OPEC lainnya. Berbagai sumber mengatakan bahwa Menteri Energi Saudi Khaled al-Falih dan sejawatnya dari Russia Alexander Novak sepakat dalam rangkaian pertemuan mereka untuk menaikkan produksi dari September sampai Desember, seiring dengan naiknya harga minyak mentah menjadi sekitar 80 Dollar per barel. Salah satu sumber mengatakan, “Russia dan Saudi sepakat atas tambahan pasokan minyak ke pasar dengan tenang, sampai tidak kelihatan bahwa mereka bertindak berdasarkan perintah Trump dengan menambah pasokan minyak”. Sumber yang lain mengatakan, “menteri Saudi dan Menteri Energi Amerika, Rick Perry memberitahukan bahwa Saudi akan menaikkan produksi jika konsumen meminta minyak lebih banyak” (www.reuters.com).
Tetapi, mungkin salah seorang dari mereka bertanya-tanya, kenapa Russia bergabung dengan Amerika untuk membatasi kenaikan harga minyak, padahal naiknya harga minyak menguntungkan Russia? Untuk menjawab pertanyaan ini maka pendalaman pada hakikat ini menunjukkan bahwa Russia mendukung harga minyak hingga sekitar 65 Dollar per barel. Sebab itulah harga keseimbangan untuk industri minyak Russia. Dan kenaikan harga yang besar akan membuat sejumlah negara importer tidak mampu menanggung pembelian minyak yang pada akhirnya menyebabkan runtuhnya sisi permintaan yang akan membahayakan industri minyak Russia.
Di atas semua itu, Russia tidak menjadi bahaya besar dalam persamaan ini. Tetapi yang benar-benar berpengaruh adalah anggota OPEC yang pro Eropa. Tidak mudah mereka menjalankan apa yang diminta oleh Trump kecuali dengan adanya tekanan yang lebih besar… Meski demikian, yang lebih rajih bahwa harga tidak akan naik sampai 100 Dollar per barel, apalagi harga setinggi itu tidak sanggup ditanggung oleh negara-negara importer sehingga permintaan akan menurun dan berikutnya kenaikan pun berhenti dan menurun lagi… Perlu diketahui bahwa Trump konsern untuk menurunkan harga selama masa pemilu dan ikutannya. Yakni bersama dengan akhir tahun ini di mana tidak mustahil ketika itu masalah perjanjian nuklir telah mulai bergerak ke arah perjanjian baru bersifat bilateral antara Amerika dan Iran tanpa peran serta Eropa, dan berikutnya tekanan Amerika seputar peningkatan produksi ini berakhir sehingga harga berkisar sekitar 80 Dollar per barel…
Yang menyakitkan adalah kekuatan asing memanfaatkan sumber daya dunia islam untuk memainkan inisiatif menentang satu sama lain. Pada waktu yang sama, para penguasa ruwaibidhah kita mengikuti politik ini secara buta dan tanpa penghormatan untuk kemuliaan umat. Ini dan perlu diketahui bahwa mayoritas deposit minyak global tersimpan di wilayah islami, baik apakah hal itu di negeri arab atau di Iran atau di Afrika seperti Nigeria ataukah di Asia Tengah semisal Kazakhstan dan Turkmenistan atau Kaukasus seperti Azerbaijan. Tetapi pendapatan minyak di negara-negara ini tidak kembali kepada warganya yang sebagian besar mereka menderita karena kemiskinan dan kemelaratan. Para penguasa dan keluarga mereka serta kroni mereka lebih mengutamakan diri mereka dan membawa lari harta-harta itu ke luar negeri. Ketika Amerika meminta dari Saudi pada tahun lalu selama kunjungan Trump ke Saudi pada 21/5/2017 dana sebesar 460 miliar Dollar, Alu Saud bersiap untuk memenuhi permintaan tersebut dan membayar jumlah itu. Karena itu, tidak ada yang bisa membebaskan kaum Muslim dari kondisi bencana ini kecuali Khalifah Rasyid (yang mendapat petunjuk) seperti al-Faruq Umar bin al-Khathab ra yang mendistribusikan harta kepada masyarakat secara adil, sehingga beliau memulai dari orang yang paling fakir dan berakhir dengan khalifah sebagai orang terakhir yang mengambil dan makan. Benarlah Rasulullah saw yang bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ» [رواه البخاري]
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggungjawab atas rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Dan siapa yang menipu rakyatnya maka azabnya sangat pedih seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw dalam hadits yang dikeluarkan oleh ath-Thabarani di Mu’jam al-Kabîr:
«مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ غَاشّاً لِرَعِيَّتِهِ إِلا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»
“Tidak ada seorang hamba pun yang Allah percaya mengurus rakyat, dia mati pada hari kematiannya dia menipu rakyatnya kecuali Allah haramkan baginya surga”.

Begitulah, mereka adalah penguasa ruwaibidhah seandainya mereka memahami atau berpikir!

11 Shafar 1440 H
20 Oktober 2018 M
http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/55670.html
Powered by Blogger.