Di Xinjiang, kamera pengintai ditempatkan dimana-mana. Ada juga kendaraan lapis baja dan tank-tank di jalanan. Tidak ada batasan apa yang bisa dilakukan oleh aparat keamanan.
Di Xinjiang rasanya seperti berada di wilayah perang. Di pasar-pasar Urumqi, ibukota Xinjiang, kemananan sangat ketat. Kendaraan lapis baja di jalan-jalan, kantor polisi di setiap sudut dan ribuan kamera pengintai.
Pemerintah China telah menerapkan keamanan yang paling ketat di dunia. Di sini, China
bereksperimen dengan teknologi pengintai   teknologi futuristik.
Selama bertahun-tahun, China telah mencoba untuk menekan gerakan separatis yang terdiri dari para pemimpin wilayah, juga para pemimpin lokal. Mereka mengatakan bahwa kelompok  separatis adalah teroris Islam sehingga setiap gerakan penduduknya diawasi.
Jika berada di Xinjiang berarti Anda akan digeledah beberapa kali sehari bahkan smartphone Anda diperiksa.
Ketika pergi ke pasar, ketika mengendarai mobil,  ketika naik kereta, juga smartphone anda diperiksa.
Bahkan sebagai wartawan, kami dihentikan puluhan kali oleh polisi hanya dalam beberapa hari. Wawancara dihentikan, kami ditahan, dan dikejar hingga ke luar kota.
Kehidupan sehari-hari sangat melelahkan, bahkan jika anda setuju dengan keamanan.
Seorang penjual minuman wine pun mengatakan dia tidak ingin melakukan apapun, bahkan dia tidak ingin lagi berbelanja karena polisi mengecek KTP-nya berkali-kali.
Polisi menutup dagangan dari penjual muslim yang menjual minuman non-alkohol. Polisi memukulinya, mulut dan kepalanya.
KTP-nya telah masuk daftar hitam, maka jika men-scan KTP-nya di tempat lain, polisi akan segera mengepungnya dan membawanya. Dia bahkan mengatakan kepada polisi itu:” Tembak saja saya. Saya tidak bisa hidup seperti ini.”
Pemerintah lokal tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar. Penguasa China telah mencoba untuk mengendalikan Xinjiang selama kurang lebih 2.000 tahun.
Wilayah itu memiliki posisi strategis untuk mengkontrol rute perdagangan antara Eropa dan Asia. Xinjiang kaya akan minyak bumi, batu bara dan gas alam.
Tahun 1949, Mao Zedong mengirimkan tentaranya ke Xinjiang dan memasukannya ke dalam wilayah RRC. Banyak pemimpinnya yang menganggap ini sebagai penjajahan sehingga kerusuhan seringkali muncul. Serangan dengan kekerasanpun terjadi di dalam maupun di luar Xinjiang.
Tahun 2016, Beijing mengangkat orang kuat baru untuk wilayah itu, Chen Quanguo, yang terkenal berhasil memadamkan kerusuhan di wilayah Tibet yang bergejolak.
Di Xinjiang, Chen menerapkan metode kontrol massa ke tingkat baru dengan mengubah wilayah itu menjadi laboratorium untuk teknologi pengawasan yang canggih.
KTP berisi dengan rincian pribadi yang digunakan untuk melacak pergerakan pemiliknya. Kebebasan untuk penduduknya dibagi berdasarkan atas etnis dan praktek keagamaan.
Barang-barang yang dianggap berbahaya diawasi dengan ketat. Contohnya, jika membeli sebuah pisau, penjualnya akan mencatat KTP anda. Pisaunya pun dicetak QR code dengan pencetak laser yang berisi data nomor seri pisau, wajah pemiliknya, etnik dan alamatnya.
Sistem keamanan juga melacak wajah Anda, banyak kamera memiliki kemampuan face recognition (pengenal wajah).
Sistem pengenalan khusus juga digunakan untuk mencocokkan orang-orang dengan kartu ID mereka di mana-mana dari mulai pusat perbelanjaan hingga pompa bensin otoritas kemanan menggunakan kecerdasan buatan dan jika seseorang berjalan terlalu cepat atau diparkir di tempat yang salah .
Pemerintah juga secara besar-besaran meningkatkan pengawasan terhadap penduduk berkali-kali lebih banyak. Rekrutmen terhadap polisi tahun ini 6 kali lebih banyak daripada di tahun 2015.
Kantor polisi dibangun di hampir setiap 100 meter di wilayah perumahan.
Seorang warga Uighur yang hidupa di pengasingan, Tahir Hamut, mengatakan bahwa tidak ada rezim yang menekan penduduk Uighur begitu kerasnya.
Dia mengatakan polisi mengumpulkan data terperinci mengenai penduduk Xinjiang dan kehidupan mereka. Selembar kertas yang berisi banyak pertanyaan dikirim ke setiap orang di Urumqi (ibukota Xinjiang) yang harus mereka isi.
Pertanyaan itu menanyakan seperti, apakah Anda orang Uighur, apakah punya pekerjaan, punya passport, apakah anda sholat.
Semua jawabannya akan dimasukan ke dalam sebuah sistim penilaian. Kemudia mereka akan mengkategorikan orang-orang berdasarkan tingkat keamanannya: aman, biasa, tidak aman (unsafe).
Orang-orang yang dikategorikan tidak aman akan dikirimkan ke “pusat pembelajaran” untuk mendapatkan pendidikan politik.
Pusat pendidikan itu mirip kamp tahanan, dengan menara pengawas dan kawat berduri.
Lebih banyak orang yang ditahan saat ini dibandingkan di masa lalu. Orang-orang yang ditahan tidak tahu dimana mereka ditahan, kemana mereka akan pergi dan kapan akan dibebaskan.
Di Xinjiang, tindakan pemerintah bukan hanya tentang memerangi terorisme tapi juga tentang ambisi Xi Jin Ping.
Dia memiliki rencana membangun rute perdagangan ke seluruh Asia dan Xinjiang dianggap sebagai kunci kesuksesan itu.
Di sisi lain, para pemimpin Barat enggan untuk menentang secara terbuka tindakan Xi Jin Ping yang melanggar HAM. Itu artinya pengawasan negara terhadap warga Xinjian akan terus meluas. (riz)

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.