Oleh. Titin Kartini

Dunia pendidikan digemparkan oleh dua berita yang selama dua pekan terakhir ini menyita publik untuk ikut memberikan pandangan mereka tehadap dua masalah yang dialami dunia pendidikan di negeri ini.
.
Masalah pertama dialami oleh seorang mahasiswa berprestasi bernama Hikma Sanggala sampai banyaknya pembelaan terhadap sang mahasiswa dengan adanya hastag #SaveHikmaSanggala wara wiri di dunia maya.
.
Berawal dari sang mahasiswa yang mendapatkan ketidakadilan dari kampus tempatnya menuntut ilmu seperti diberitakan oleh kiblat.net
Seorang mahasiswa di Kampus IAIN Kendari, Hikma Sanggala dikeluarkan dari Kampus karena tuduhan tidak jelas. Pengacara Hikma dari LBH Pelita Umat, Chandra Purna Irawan mengatakan bahwa Kliennya dikeluarkan karena dituding berafiliasi dengan aliran sesat dan paham radikal.
.
Menurutnya, pada tanggal 27 Agustus 2019 lalu Kliennya menerima 2 surat sekaligus yaitu surat dari Dewan Kehormatan Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa nomor : 003/DK/VIII/2019 tentang Usulan Penjatuhan Terhadap Pelanggaran Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa IAIN Kendari Nomor 0653 Tahun 2019 Tentang Pemberhentian Dengan Tidak Hormat Sebagai Mahasiswa Institut Agama Islam Kendari.
Berita yang kedua adalah adanya seorang yang bergelar Doktor dengan disertasinya yang menghalalkan zina yang bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari para dosennya dengan nilai yang sangat memuaskan seperti diberitakan oleh Tempo.co.
.
Abdul Aziz, Doktor lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjelaskan tentang akad atau perjanjian hubungan intim diluar nikah yang dinilainya tidak melanggar hukum Islam. "Gambarannya persis seperti hidup bersama tanpa ikatan pernikahan (samen leven)", kata Abdul Aziz.
.
Dia menyampaikan disertasi bertema hubungan intim tanpa nikah dengan konsep Milk Al-Yamin dari Muhammad Syahrur. Aziz pun lulus dengan nilai yang memuaskan.
https://nasional.tempo.co/…/disertasi-hubungan-intim-tanpa-…
.
Miris rasanya menatap kondisi dunia pendidikan di negeri ini, yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. Indonesia meski mayoritas penduduknya beragama Islam, karena memiliki sistem negara sekular, jadilah sistem pendidikan dirancang untuk mengokohkan sistem sekularisme. Agama boleh ada tapi harus dipisahkan dari kehidupan.
.
Agama hanya sekadar mengatur moralitas dan ibadah ritual saja. Agama tidak boleh mengatur aspek publik seperti politik, ekonomi, atau pendidikan. Seperti halnya kasus yang dialami oleh Hikma Sanggala, Hikma hanya ingin memberikan solusi hakiki atas permasalahan yang menimpa negeri ini berdasarkan pandangan agama Islam. Tapi apa yang didapat? beliau malah dikeluarkan dari kampusnya atas nama mencegah paham radikal.
.
Musuh-musuh Islam tidak akan tinggal diam, mereka akan berusaha mencegah Islam politik tampil ke permukaan sebagai jati diri Islam yang sebenarnya. Mereka tidak ingin Islam terwujud di Indonesia secara kaffah, dan inilah yang ditakuti oleh mereka sehingga segala cara diupayakan oleh musuh-musuh Islam agar Islam tidak bangkit.
.
Sebaliknya, Doktor UIN Abdul Azis yang jelas-jelas sudah menistakan ajaran Islam yaitu menghalalkan zina malah diapresiasi. Kaum muslim harus menyadari ini adalah upaya barat untuk menyebarkan nilai-nilai liberal di negeri yang mayoritas muslim ini melalui kaki tangannya. berbagai upaya dilakukan agar Islam bisa menerima penafsiran baru yang datang dari luar Islam. Mereka menggiring umat Islam agar tercerabut dari akar pemahaman Islam yang sebenarnya. Dan inilah yang di inginkan oleh musuh-musuh Islam.
.
Segudang masalah di dunia pendidikan hakikatnya berakar pada sistem pendidikan sekular-liberal yang diterapkan di negeri ini. Sistem ini telah menjauhkan kaum muslim dari predikatnya sebagai umat terbaik. Sudah saatnya umat mencampakan sistem pendidikan sekular dan menegakkan sistem Islam. Agar lahir generasi yang berkualitas tinggi, yang mampu mengembalikan kemuliaan Islam dan kemuliaan kaum muslim.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.



Oleh : Siti Rima Sarinah SPdi

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di Kalimantan dan Sumatera. Kejadian saat musim kemarau 2019 tersebut sebagai pemicu bencana asap di banyak daerah. Laporan bencana asap pun bermunculan dari Riau, Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar) pada bulan ini. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai 16 September 2019, pukul 16.00 WIB , titik panas ditemukan di Riau sebanyak 58, Jambi 62, Sumatera Selatan 115, Kalbar 384, Kalteng 513 dan Kalimantan Selatan (Kalsel) 178. Sementara luas karhutla di Indonesia selama 2019, sesuai data Kementerian Lingkungan HUdup dan Kehutanan (KLHK), sudah mencapai 328.722 ha. Dari data itu, kebakaran di Kalteng tercatat seluas 44,769 ha, Kalbar 25.900 ha, Kalsel19,490 ha, Sumsel 11.826 ha, Jambi 11, 022 ha dan Riau 42.266 ha (tirto.id 17/9/2019).
.
Data hingga Senin pukul 15.00 WIB, menunjukkan kualitas udara di Pekanbaru (Riau), Pontianak (Kalbar), masuk dalam kategori tidak sehat, dengan angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) masing-masing 192 dan 160. Dampak kondisi di level ini umumnya penurunan jarak pandang dan penyebaran luas debu. ISPU pada kategori tidak sehat juga terjadi di kota Jambi, yakni mencapai angka 129.
.
Dampak asap karhutla menyasar penduduk setempat, sebagian masyarakat pun mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Yang mengakibatkan rata-rata warga mengeluhkan sesak napas, demam, batuk hingga muntah-muntah. Warga yang dievakuasi ada anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan orang tua yang terpapar kabut asap untuk mengungsi ke posko pengungsian dan posko kesehatan. Dinas Kesehatan RIau menghimbau kepada masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan selalu mengenakan masker pelindung apabila beraktivitas diluar. Sementara di Sumatra Selatan karhutla memakan korban, bayi 4 bulan bernama elsa pitaloka di kabarkan meninggal setelah tujuh jam dirawat karena sesak napas.
.
Akibat dari karhutla ini juga mengganggu aktivitas penerbangan. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta kepada seluruh stakeholder penerbangan untuk tetap mengutamakan keselamatan bagi penggun jasa transportasi udara. Beberapa layanan bandara Sumatera dan Kalimantan ditutup sehingga maskapai mengalami penundaan penerbangan bahkan dibatalkan. Terdapat tiga bandara yang mengalami dampak terburuk dari insiden kabut asap ini, semua berada di daerah Kalbar (Liputan6.com 17/9/2019).
.
Kasus karhutla terus berulang, semua ekosistem makhluk hidup merasakan dampaknya. Benarkah penyebab karhutla adalah karena faktor kemarau panjang sebagai pemicu karhutla, atau ada faktor yang lainnya?. Disadur dari Detik.com Senin 16 September 2019, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa kebakaran hutan diduga melibatkan sejumlah perusahaan. Hal ini senada dengan penyataan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, ada lima perusahaan asing asal Singapura dan Malaysia disegel karena penyebab karhutla. Sebanyak empat perusahaan berlokasi di Kalbar, sementara satu perusahaan di Riau.
Yang jadi pertanyaan siapa yang memberi ijin kepada kelima perusahaan asing untuk melakukan pembakaran hutan?.
.
Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah memberi ijin karhutla kepada lima perusahaan asing tanpa memperdulikan dampak karhutla bagi masyrakat dan ekosistem makhluk hidup lainnya. Ini sesuatu yang wajar karena pemerintah menjadi kapitalis sebagai ruh dalam menjalankan berbagai kebijakannya. Menjadikan rakyat sebagai korban dari berbagai kebijakannya adalah sesuatu yang biasa. Karena dalam sistem kapitalis rakyat bukan untuk di urus tapi untuk di manfaatkan dan dijadikan korban terus menerus.
.
Hutan berfungsi dalam membantu manusia dan makhluk hidup di bumi untuk bernafas. Hutan juga sebagai penyerapan air dan sumber cadangan air serta untuk mencegah erosi dan tanah longsor. Begitu besar manfaat hutan bagi kehidupan, sehingga perlu mekanisme yang baik dalam mengelola hutan. Dalam pandangan syariah Islam hutan termasuk kepemilikan umum bukan kepemilikan individu atau negara. Rasulullah bersabda “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, udara, padang rumput dan api” (HR Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah). Hutan menjadi kepemilikan umum karena merupakan hajat hidup orang banyak, sehingga pengelolaan hutan hanya dilakukan oleh Negara saja bukan pihak swasta/asing yang hasilnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu pengelolaan hutan sesuai syariah hanya bisa dilakukan oleh negara (Khilafah ). Karena khilafah akan melakukan pengawasan terhadap hutan dan pengelolaannya melalui qadhi hisbah. Kasus pencurian hutan atau pembakaran dan pengrusakan hutan, pelakunya di jatuhkan vonis dilapangan.Dengan mekanisme tersebut diatas< Islam mampu menjaga kelestarian hutan dari tangan-tangan kerakusan para kapitalis. Wallahu a’lam.



Oleh. Amila Shaliha

Radikal. Radikalisme. Kata satu ini beberapa waktu terakhir sering sekali kita dengar. Dimaknakan negatif sebagai bentuk pemahaman yang akan mengantarkan pada tindakan terorisme, pemecah belah antar ummat beragama, sampai mengancam stabilitas negara. Dilekatkan pada kelompok tertentu, ajaran tertentu, tujuannya agar masyarakat waspada hingga menjauhi pihak-pihak yang disematkan predikat radikal ini. Banyak cara dilakukan oleh pemerintah sebagai bentuk deradikalisasi. Saat ini pemerintah mencanangkan untuk menghapus materi tentang perang dalam pelajaran agama.
.
Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menyatakan, tidak ada lagi materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah. Hal itu diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2020. "Kita akan hapuskan materi tentang perang-perang di pelajaran SKI tahun depan. Berlaku untuk semua jenjang, mulai dari MI (madrasah ibtidaiyah) sampai MA (madrasah aliyah)," kata Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Ahmad Umar, di Jakarta, Jumat, (13/9). https://m.republika.co.id/…/kemenag-akan-hapus-materi-peran…
.
Alasan pemerintah melakukan hal ini, katanya, agar Islam tidak terus menerus dikaitkan dengan perang. Supaya terasa damai dan tumbuh toleransi antar umat agama lain. Mengapa pemerintah berpikir demikian, sementara dalam Islam sudah jelas syariatnya?
.
Perang yang juga masuk ke dalam pembahasan jihad, menjadi satu dari sekian banyak syariat yang sudah ditetapkan oleh Allah. Termaktub jelas dalam Al Qur'an dan dicontohkan pula oleh Rasulullah serta para sahabat.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah suatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al Baqarah: 216)
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ * الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلاَّ أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللهُ
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah" (QS:Al-Hajj: 39-40)
.
Syariat jihad, yang notabene adalah berperang, dalam Islam turun ketika Rasul sudah hijrah ke Madinah dan sudah cukup kekuatan yang terhimpun. Perang dimaksudkan untuk menegakkan Islam, melenyapkan halangan-halangan fisik dalam pengembanan dakwah, dan juga mempertahankan wilayah kaum muslimin. Perang dalam Islam pun tidak serta merta menyerang dan membunuh orang-orang kafir. Tapi perang yang memiliki adab dan ketentuan tertentu dalam pelaksanaannya.
.
Banyak sekali contoh peristiwa di masa lalu mengenai bagaimana Rasulullah dan kaum muslimin saat itu menjalani peperangan. Kita ambil contoh perang Khandaq. Kaum Yahudi Bani Nadhir-Quraisy dan Ghathafan bersekongkol untuk menyerang Madinah dan kaum Muslimin. Rasulullah membangun strategi dengan membuat parit mengelilingi kota Madinah. Di akhir peperangan, kaum muslimin dimenangkan oleh Allah SWT.
.
“Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan dia tidak pernah ikut berperang dan dia juga tidak pernah berniat untuk berperang, maka dia meninggal dunia dalam keadaan jahiliyah” (HR. Bukhori dan Muslim)
.
Terdapat dalam Al-Qur'an secara jelas juga dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat, mengapa harus kita abaikan dengan cara penghapusan materi perang karena dinilai keras? Sementara kita sebagai muslim sudah seharusnya masuk ke dalam Islam secara kaffah dengan tidak mengabaikan syariat berdasarkan hawa nafsu. Tidak bisa kita bersikap seakan tidak ada syariat tertentu hanya karena terasa buruk bagi kita manusia. Kita harus mewaspadai hal ini sebagai bentuk pengaburan syariat Islam dengan dalih menangkal radikalisme. Jangan sampai Allah tidak ridha kepada kita karena kita mengabaikan syariatNya. Na'udzubillahi min dzalik.

Image result for bpjs naik

Oleh: Lina Revolt

Lagi-lagi rakyat diberi kado pahit dengan kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Pemerintah beralasan BPJS Kesehatan mengalami defisit. Tak tanggung-tanggung, kenaikan iuran mencapai 100% untuk kelas I dan II. Yaitu Rp.160.000 untuk kelas I dan Rp.110.000 untuk kelas II, sedangkan kelas III mengalami kenaikan 65% yaitu menjadi Rp. 42000/ bulan.
Tentu saja kenaikan ini semakin membebani rakyat, ditengah beratnya beban ekonomi dengan kenaikan berbagai kebutuhan pokok, listrik , LPG dan berbagai pajak yang memberatkan.
Parahnya, seluruh rakyat kini dipaksa mendaftar BPJS Kesehatan. Jika tidak, rakyat akan dipersulit mengurus kebutuhan publik lainnya. Seperti KTP, SIM, hingga mendaftar sekolah dan CPNS. Parahnya lagi, masyarakat tidak bisa mengundurkan diri. Keanggotaan BPJS Kesehatan bisa dinonaktifkan, jika meninggalkan dunia ini. Artinya, rakyat tidak diberi pilihan selain membayar premi sepanjang hidupnya, meski ia belum tentu membutuhkannya. Bahkan, bagi yang menunggak akan diutus ketua RT dan RW untuk menagihnya. Negara berubah menjadi rentenir dan aparatur negara menjadi debkeletornya.
Itulah buah penerapan sistem kapitalisme. Penguasa hanyalah regulator, sementara rakyat menjadi pembeli pelayanan yang disediakan pemerintah. BPJS Kesehatan sedari awal telah mengamputasi peran negara dalam mengurus rakyatnya.
Berbeda dengan sistem Islam. Islam memandang, bahwa kesehatan adalah kebutuhan dasar setiap individu. Maka, negara bertanggungjawab memenuhinya, karena pemimpin adalah pelayan rakyat. Rasulullah Saw bersabda :
" Imam(Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya. (HR. Al- Bukhari).
Oleh sebab itu, haram hukumnya pemimpin menjadi regulator atau fasilitator dan menjual pelayanan publik kepada rakyatnya.
Dalam Islam, negara wajib mengelola sumber pendapatan negara dengan baik. Sehingga negara memiliki kekuatan finansial yang memadai untuk mengurus segala kebutuhan rakyatnya, termasuk kesehatan. Fakta historis, kebijakan di bidang kesehatan yang pernah dijalankan oleh pemerintahan Islam sejak masa Rasul Saw hingga penerus beliau adalah pelayanan kesehatan gratis yang diberikan oleh negara (Khilafah) yang dibiayai dari kas Baitul Mal.
Raja Mesir, Muqauqis, pernah menghadiahkan seorang dokter kepada Nabi saw. Beliau menjadikan dokter itu untuk melayani seluruh kaum muslim secara gratis. Khalifah Umar bin al-Khaththab, menetapkan pembiayaan bagi para penderita lepra di Syam dari Baitul Mal. Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah membangun rumah sakit bagi pengobatan para penderita leprosia dan lepra serta kebutaan. Para dokter dan perawat yang merawat mereka digaji dari Baitul Mal.
Semua rakyat dilayani dengan sepenuh hati, bahkan yang berpura-pura sakit sekalipun. Begitulah sejarah mencatat begaimana Islam mampu mewujudkan kesehatan yang gratis dan berkualitas. Wallahu 'alam Bisshawab.



Dakwah Jateng-, Semarang Ahad, (15/09/2019)  puluhan tokoh masyarakat,  Ulama dan advokat menghadiri kegiatan Islamic Lawyer Forum Semarang edisi ke Empat dengan mengangkat tema diskusi “ Demokrasi dan Korporasi “

Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Suteki, SH., M. Hum selaku Guru Besar Fakultas Hukum UNDIP, Drs. M Yulianto M.Si. Sebagai Pakar Politik FISIP UNDIP), Ahmad Khozinudin, S.H. Sebagai Ketua LBH Pelita Umat Wahyudi al Maroki (Direktur Pamong Institute), KH Nasrudin (Pengasuh Ma’had Al Mabda’ Al Islamiy)

Pada acara ini ditegaskan, tidak adanya perubahan rezim ekonomi di Indonesia, tetapi sekaligus ada perubahan dalam rezim politiknya (dengan munculnya sistem demokrasi), merupakan keberhasilan besar kapitalisme di Indonesia.

Di Indonesia , sejak zaman orde baru sampai sekarang sama sekali tidak ada perubahan dalam rezim ekonomi. Semuanya adalah orang-orang ekonom liberal dari Mafia Berkeley. Semuanya mengandalkan swasta dan utang sebagai solusi ekonomi. Semuanya satu mazhab. Murid dan guru. Semuanya mengundang korporasi internasional untuk mencengkeram ekonomi Indonesia.

Dengan demokrasi semua penguasa tak lagi menjadi sekutu kapitalisme. Tapi bahkan implementator kapitalisme. Karena dengan demokrasi maka korporasi leluasa mensponsori pihak-pihak yang pro mereka memegang kendali legislatif. Dan selanjutnya pihak eksekutif dipilih dengan kriteria program pro rezim ekonomi liberal pro korporasi/kapitalis, serta untuk menjalani program-program itu.

Belum lagi penyelenggaraan pemilu yang menggunakan dana-dana lembaga internasional pro kapitalis. Program pemulihan, kandidat, serta program pemerintah terpilih, juga partai-partai politik, semua pinjam bank atau lembaga keuangan internasional. Dan ujungnya rakyatlah yang harus menanggung dengan banyaknya pungutan pemerintah.



Terkait hal di atas, para pembicara mengulas sisi hubungan demokrasi dan korporasi dengan berbagai sudut pandang.

KH. Nasruddin, pengasuh sebuah ponpes di Semarang, menceritakan nasehat bijak Saad bin Amr Al Jumahi kepada Khalifah Umar bin Khaththab, "Jika Anda mengurus umat, takutlah Allah. Jika Anda melaksanakan urusan Allah, jangan takut umat." Hanya saja di zaman sekarang hal itu sulit dilaksanakan. Karena sistem sekuler dan dikuasai oleh korporasi dengan kapitalisme nya. Beda dengan sistem Islam, atau sistem khilafah. Yang berbasis ketaqwaan. Orang seperti Saad bin Amr bisa berbuat.

Prof. Suteki, MHum, menyampaikan, idealisme demokrasi pada dasarnya seperti kata Presiden Abraham Lincoln, "From the people, by the people, for the people". Kemudian dari prinsip itu dipakai mengejar berbagai kebebasan.

Hanya saja, semua itu tidak gratis. Pelakunya, yaitu partai-partai politik, mengandalkan dana dari korporasi. Sehingga korporasi begitu berkuasa.

Ahmad Khozinuddin, SH, menekankan bahwa korporasi adalah pemegang saham mayoritas dalam demokrasi. Sedangkan rakyat pemegang saham minoritas. Itupun rakyat dalam kendali korporasi dengan medianya. Sudah begitu, namanya tetaplah "kedaulatan di tangan rakyat".

Bukti kekuasaan korporasi adalah kasus Freeport. Di mana Freeport tidak membagi dividen saat jumlah saham pemerintah dinaikkan, sementara pemerintah berkewajiban membelikan smelter.

Pembicara keempat, seorang dosen politik, M. Yulianto, menegaskan hambatan umat Islam untuk bebas dari sistem yang dikuasai korporasi kadang datang dari umat Islam sendiri. Karenanya kesatuan umat sangat dibutuhkan. Dan harus tahan banting sebagaimana Partai Refah di Turki dulu.

Pembicara terakhir, Wahyudi Al Maroky dari Pamong Institut, menegaskan kata-kata presiden AS pasca Lincoln, yaitu Rutherford B. Hayes, bahwa demokrasi "From company, by company, for company" yang di Indonesia memang terasa serba maunya kompeni (mengingat pemaksaan yang ada).

Perubahan untuk bebas dari korporasi tak mesti harus dari dalam. Dalam sistem sekuler yang menjadikan korporasi begitu berkuasa dan tak peduli halal haram, umat Islam harus membuat langkah baru.

"Tak harus masuk lapangan untuk ikut pertandingan bola antar klub. Bikin saja pengajian. Tak mesti orang memilih menonton bola."

Pada akhirnya umat Islam harus berjuang untuk bebas dari sistem kedaulatan korporasi ini. Yaitu dengan menegakkan syariat Islam secara kaaffah. Kejelasan aturan seperti riba tak bisa diutak-atik korporasi, parpol, maupun parlemen, sebanyak apapun orangnya. Umat akan terjaga dengan syariat.[]HM/AA







Semarang, Selasa, 10/09/2019 Mahasiswa Yang Tergabung Dalam Persaudaraan Alumni (PA) 212 Divisi Pemuda dan Mahasiswa Jawa Tengah serta Ulama dan Advokat LBH Pelita Umat Semarang mendatangi DPRD Jawa Tengah dalam rangka Audiensi dan pembelaan mahasiswa Kendari Hikma Sanggala yang telah diberikan surat Drop Out ( DO ) dari kampusnya.

Rombongan yang dipimpin oleh Irsyad Fadholi kemudian diterima dengan baik oleh perwakilan DPRD Jawa Tengah Komisi A dari Fraksi Gerindra, Bapak Sriyanto Saputro dan juga dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bapak Agung Budi Margono.



Di forum audiensi tersebut Irsyad menyampaikan bahwa kedatangan rombongan dengan maksud untuk Solidaritas terhadap Hikma Sanggala dan agar kejadian semacam ini tidak terjadi di lingkungan Jawa Tengah dimana dengan fitnah dan tudingan tergabung dalam aliran sesat serta organisasi radikal kemudian rektor melakukan DO terhadap mahasiswanya.

Hendro perwakilan dari LBH Pelita Umat Semarang menyampaikan Hikma Sanggala adalah mahasiswa berprestasi dan bahkan pernah mendapatkan Piagam Sertipikat Penghargaan Sebagai Mahasiswa Dengan IPK Terbaik se-fakultas. Dan saat ini sedang menyusun skripsi tetapi kemudian malah mendapat surat Keputusan Rektor IAIN Kendari Tentang Pemberhentian Dengan Tidak Hormat Sebagai Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Kendari.

"Bagaimana hal ini bisa diterima jika hanya dari asumsi dan dugaan kemudian mahasiswa itu mendapat sanksi. Kecuali apa yang disampaikan oleh rektor itu ketetapan dari pengadilan bahwa yang bersangkutan ikut aliran sesat berdasarkan keputusan oleh MUI misalnya ya. Kita bisa terima kalau semacam itu. Tapi ini tidak ada landasan apa-apa dan kami ingin menegaskan bahwa yang dimagsud dengan berafiliasi aliran sesat itu seperti apa? Tidak boleh dengan hanya asumsi semacam ini kemudian mahasiswa di DO termasuk ya hari ini kita sering didengungkan istilah radikalisme nah saudara hikma sanggala ini juga korban dari istilah ini." Ungkapnya.

Tuduhan sesat dan terafiliasi radikal itu harus dibuktikan oleh rektor IAIN Kendari jadi bukan hanya asumsi asumsi saja. Dan apabila rektor IAIN Kendari tidak dapat membuktikan tuduhan dan fitnahnya, maka kami memandang rektor tersebut dapat dipidana berdasarkan pasal 310 Jo. 311 KUHP." Tambah Hendro.

Bapak Sriyanto dan Bapak Agung Budi Margono  mengapresiasi sikap pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam PA 212 Bidang Kepemudaan dan Kemahasiswaan. Mereka juga berkomitmen akan meneruskan aspirasi yang telah disampaikan ke DPRD Jawa Tengah ke tingkat Nasional, kemudian acara diakhiri dengan Penyerahan pernyataan sikap oleh Koordinator PA 212 Bidang Kepemudaan dan Kemahasiswaan Wilayah Jawa Tengah dan berfoto bersama.



Keputusan pemberhentian dengan tidak hormat atau drop out (DO) terhadap Hikma Sanggala sebagai mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari diduga sudah lama direncanakan.
Hal tersebut diungkapkan Kuasa Hukum Hikma Sanggala dari LBH Pelita Umat, Chandra Purna Irawan, saat memberikan tanggapannya terhadap press release yang dikeluarkan oleh Rektor IAIN Kendari, Faizah Binti Awad, tentang pemberhentian Hikma Sanggala sebagai mahasiswa IAIN Kendari, Senin (9/9/2019).
Menurutnya, berkaitan dengan press release IAIN tersebut, pihaknya selaku kuasa hukum berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor 025/LBH/PU/SULTRA/VIII/2019, perlu untuk memberikan jawaban dan tanggapannya.
Dimana, kata dia, patut diduga bahwa kliennya sudah dibidik sejak lama dikarenakan Hikma Sanggala aktif melakukan dakwah di kampus, hal mana dapat dilihat dari Bab V pasal 15 pada panduan umum IAIN yang terkait aliran sesat, radikalisme dan ormas terlarang yang baru ditetapkan pada tanggal 12 Juli 2019 lalu. Rektor IAIN Kendari menetapkan Peraturan Revisi yaitu Peraturan Rektor IAIN Kendari Nomor: 0169.1 Tahun 2019 Tentang Revisi Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa IAIN Kendari.
Ia mengakui, bahwa memang kliennya pernah mendapatkan skorsing satu semester pada tahun 2017 lalu, tetapi bukan dikarenakan melakukan provokasi dan tindakan mencemarkan nama baik IAIN Kendari. Sehingga, pihaknya menilai press realease yang menyebut bahwa skorsing yang diterima Hikma Sanggala karena mencemarkan nama baik kampus adalah bentuk kebohongan nyata.
Hal ini berdasarkan Berita Acara Hasil Rapat Senat tertanggal 3 Oktober 2017 lalu, dengan agenda acara pada pokoknya bahwa Hikma Sanggala diberikan sanksi dikarenakan terlibat aktivitas ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
“Kami mempertanyakan apabila memang klien kami berafiliasi atau mengikuti kajian di HTI apakah itu bentuk kesalahan, kejahatan atau pelanggaran. Padahal, tidak ada satupun keputusan pemerintah, putusan pengadilan, dan norma peraturan perundang-undangan lainnya yang menyatakan organisasi dakwah HTI sebagai ormas terlarang,” katanya.
Tetapi, tambah dia, organisasi dakwah HTI hanyalah dicabut status Badan Hukum Perkumpulannya (BHP) saja, dan HTI adalah organisasi dakwah yang menyampaikan risalah langit yaitu Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW disampaikan secara damai dan tanpa kekerasan.
Tidak seperti Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memiliki dasar hukum sebagai organisasi terlarang di Indonesia berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) Nomor XXV/1966 tentang Pembubaran PKI dan diperkuat dengan TAP MPR Nomor V/MPRS/1973.
“Organisasi  yang nyata dan memiliki dasar hukum sebagai organisasi terlarang di Indonesia hanya satu yaitu PKI. Maka, berdasarkan keterangan klien kami dan bukit-bukti yang ada, klien kami bukan pengurus, anggota atau simpatisan PKI,” tambahnya.
Selain itu, Ia juga mempertanyakan tafsir pancasila siapa yang dimaksud yang menyebut bahwa kliennya menyebarkan paham yang bertentangan dengan pancasila. Karena jangan sampai pancasila dijadikan sebagai alat legitimasi untuk memukul pihak-pihak yang tidak disukai rektor dan/atau dijadikan alat legitimasi untuk memberikan sanksi sedang hingga menerapkan sanksi DO terhadap mahasiswanya.
“Di dalam press release itu juga yang menyatakan bahwa Hikma Sanggala tidak sepenuhnya berprestasi. Maka pertanyaannya, atas dasar apa pernyataan rektor tersebut keluar. Karena nyatanya berdasarkan berkas-berkas bahwa klien kami adalah mahasiswa berprestasi dengan nilai IP 3.60, 3.91, 3.74, 3.74, 3.70, 3.67, 3.67, 3.68 dan bahkan pernah mendapatkan piagam sertifikat penghargaan sebagai mahasiswa dengan IPK terbaik se-fakultas,” jelasnya.
Bahkan nilai KKN Hikma Sanggala pun mendapatkan predikat A. Sehingga, perlu juga dipertanyakan terkait akun yang diduga akun resmi IAIN Kendari yang beberapa hari lalu mengeluarkan pernyataan bahwa Hikma Sanggala menolak program penyuluhan saat KKN, sementara nilai KKN Hikma Sanggala adalah nilai A.

Image result for hikma sanggala

Hikma Sanggala buka suara soal tuduhan dari IAIN Kendari bahwa dirinya berafiliasi dengan aliran sesat dan berpaham radikal. Ia menegaskan bahwa tuduhan tersebut merupakan fitnah yang sampai sekarang tidak bisa dibuktikan.

“Saya dikeluarkan karena dituding berafiliasi dengan aliran sesat dan radikalisme dan nilai yang bertentangan dengan kebangsaan serta pancasila. Itu semua tuduhan bagi saya, karena itu tidak disertakan dengan bukti,” katanya pada Selasa (10/09/2019).

“Tidak benar saya melakukan itu. Kalau dikatakan berafiliasi dengan aliran sesat, aliran sesat apa yang saya ikuti,” sambungnya.

Ia menjelaskan bahwa sudah mencoba untuk klarifikasi kepada pihak rektorat 2 hari setelah surat tersebut keluar. Saya, kata dia, coba ke Wakil Rektor 3 bidang Kerjasama Mahasisawa untuk menanyakan apa yang menjadi dasar saya dikeluarkan.
“Namun baru saya sampaikan satu pertanyaan, saya sudah dipanggilkan security tiga. Saya diusir dengan alasan kalau saya bukan lagi mahasiswa,” tuturnya.

Hikma menyayangkan bahwa dirinya tidak diberikan peluang untuk klarifikasi, padahal ia selalu diarahkan agar menempuh jalur hukum kalau tidak terima. Ia juga sudah melayangkan surat keberatan tapi tidak dibalas.

“Maka, saya masih berharap suapaya pihak rektorat mencabut SK itu,” pungkasnya.

kiblat




Disintegrasi Indonesia bukan lagi sebuah wacana dan isapan jempol belaka. Ini sebuah kenyataan yang harus disikapi dan diantisipasi. Aceh dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)-nya pernah melancarkan gerakan bersenjata selama bertahun-tahun untuk tujuan tersebut. Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) boleh jadi terus bergerak untuk mewujudkan tujuannya. Bahkan Timor Timur, melalui referendum, berhasil lepas dari Indonesia sejak tahun 1999. Kini, Papua kembali bergolak. Sebagian warganya menginginkan kemerdekaan. Belakangan mereka melancarkan aksi unjuk rasa di berbagai kesempatan menuntut referendum demi memisahkan diri dari Indonesia.

Alhasil, benih-benih distintegrasi di negeri ini seperti 'bara dalam sekam'. Sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kilatan api yang tidak dapat dipadamkan.

Disintegrasi Haram

Kaum kafir penjajah akan terus berusaha menghancurkan kesatuan suatu negara. Salah satunya adalah melalui upaya pecah-belah (disintegrasi).

Sebelum disintegrasi terjadi, kaum kafir penjajah biasanya senantiasa menanamkan pemahaman baru dalam rangka brain washing (cuci otak) terhadap nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat. Pemikiran-pemikiran yang menonjol dalam hal ini adalah nasionalisme, patriotisme, kedaerahan, dan kesukuan. Penanaman pemikiran itu, misalnya kepada masyarakat Papua, dikatakan akan lebih baik berdiri sendiri karena secara fisik dan sejarah sangat berbeda dengan saudara-saudaranya di wilayah lain di Indonesia. Kepada rakyat Timor Timur dulu ditanamkan semangat membebaskan diri dan pemahaman bahwa integrasi Timtim dengan Indonesia merupakan rekayasa Indonesia. Lalu kepada rakyat Indonesia ditanamkan pemikiran yang menekankan pentingnya Timtim dilepas dari Indonesia karena hanya menjadi 'duri dalam daging' dan terus membebani Indonesia karena Timtim propinsi yang miskin.

Proses serupa pernah dilakukan Barat ketika ingin memecah-belah Daulah Khilafah Ustmaniyah yang berpusat di Turki. Akhir abad 19 Barat penjajah mengagitasi pemuda Turki dengan mempropagandakan bahwa Turki memikul beban berat bangsa-bangsa yang bukan bangsa Turki. Turki harus membebaskan diri dari bangsa-bangsa yang bukan Turki. Sebaliknya, slogan-slogan nasionalisme Arab juga disebarkan ke kalangan pemuda Arab, seperti: "Turki adalah negara penjajah", "Kinilah saatnya bagi bangsa Arab untuk membebaskan diri dari penjajahan Turki", dll. Untuk tujuan itu kemudian orang-orang Arab membuat partai politik sendiri. Pemecahbelahan pun terjadi. Daulah Khilafah Islamiyah akhirnya hancur berkeping-keping. Terpecah-menjadi puluhan negara hingga kini.

Selanjutnya, secara politik Barat akan langsung melakukan intervensi. Saat Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus melancarkan berbagai serangan kendati secara sporadis, upaya menumpas pemberontakan tersebut terus disorot oleh Barat dan dianggap melanggar HAM. Akhirnya, konflik tak kunjung usai. Bahkan beberapa tahun lalu, dua anggota Kongres AS, Eni Fa'aua'a Hunkin Faleomavaega asal Samoa dan Donald Milford Payne asal Newark, New Jersey, berhasil menggolkan RUU mengenai Papua Barat yang isinya mempertanyakan keabsahan proses masuknya Papua ke Indonesia. Ini membuktikan bahwa pihak asing seperti AS memiliki kepentingan dengan Papua.

Adanya indikasi campur tangan asing untuk membantu kelompok separatisme Papua sudah tampak paling tidak sejak kehadiran Sekretaris I Kedubes Amerika pada Kongres Papua serta kehadiran utusan Australia, Inggris dan negara-negara asing lainnya yang menghadiri kongres itu. Kongres Rakyat Papua pernah berlangsung tanggal 29 Mei-4 Juni 2000. Kongres menggugat penyatuan Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dilakukan Pemerintah Belanda, Indonesia dan PBB pada masa Presiden Soekarno. Menurut Kongres, bangsa Papua telah berdaulat sebagai sebuah bangsa dan negara sejak 1 Desember 1961. Selanjutnya Kongres meminta dukungan internasional untuk kemerdekaan Papua (Kompas, 05/06/2000).

Keberhasilan kafir penjajah memecah-belah Indonesia yang paling nyata adalah lepasnya Timtim. Begitu Timor Timur merdeka, wilayah itu langsung jatuh ke tangan Australia, satelit AS di kawasan Asia Pasifik. Hal yang sama bisa terjadi atas Papua.

Karena itu jelas, disintegrasi adalah salah satu jalan yang memungkinkan kafir penjajah untuk menguasai kita. Hal ini haram berdasarkan firman Allah SWT:

وَلَنْ يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً
Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada kaum kafir untuk memusnahkan kaum Mukmin (QS an-Nisa [4]: 141).

Disintegrasi Berbahaya

Salah satu upaya untuk melemahkan dan menguasai Indonesia adalah dengan strategi  pecah-belah dan disintegrasi. Dulu umat Islam bersatu dalam satu negara besar dan kuat, yakni Daulah Khilafah Islam. Namun, sejak Barat berhasil meruntuhkan Khilafah pada tahun 1924, wilayahnya kemudian dipecah-belah. Sejak itu hingga kini Dunia Islam terpecah menjadi lebih dari 50 negara. Bahkan negara yang kecil-kecil itu dipecah-belah juga dengan disintegrasi.  Indonesia pun kini sedang diarahkan menuju proses disintegrasi tersebut. Tujuannya agar negeri Muslim terbesar ini semakin remuk dan hancur berkeping-keping. Jelas ini adalah kondisi yang amat berbahaya bagi negeri ini.

Belakangan ini bendera Bintang Kejora sering dikibarkan di Papua. Sejak awal, pengibaran Bintang Kejora ini telah dilarang oleh Pemerintah Indonesia. Larangan itu mengakibatkan meletusnya pemberontakan bersenjata pertama di Manokwari (26 Juli 1965) yang dimotori oleh Mandatjan dan Awom bersaudara dengan dukungan politikus senior John Ariks. Penyerangan terhadap kompleks TNI di Manokwari yang dilanjutkan dengan menjalarnya pemberontakan bersenjata ke seluruh wilayah Kepala Burung itulah yang dinyatakan sebagai hari lahirnya Organisasi Perjuangan Menuju Kemerdekaan Papua Barat. Organisasi ini oleh Pemerintah Indonesia dan Aparat Keamanan sering disebut sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM). Demikianlah sampai hari ini pengibaran Bintang Kejora masih terjadi di berbagai tempat di Papua.

Kini tuntutan untuk melepaskan Papua dari Indonesia mencuat kembali.  Peristiwa ini tampak tidak dapat dilepaskan dari upaya pihak asing, khususnya AS, yang membantu separatisme dan disintegrasi jika menguntungkan mereka.

Selalu Waspada

Karena itu seluruh komponen bangsa, khususnya umat Islam di negeri ini, harus selalu waspada terhadap makar pihak asing yang ingin memecah-belah negeri kita. Hendaknya kita bersatu menghadapi makar mereka sekaligus berjuang mempertahankan kesatuan negeri kita. Kita harus sadar, disintegrasi hanya akan semakin memperlemah negeri Muslim terbesar ini. Kelemahan itulah yang diinginkan oleh kafir penjajah.

Karena itu pula para elit politik, khususnya kepada para jenderal dan prajurit Muslim serta para polisi Muslim, hendaknya bangkit dengan kekuatan yang ada untuk tak ragu menjaga setiap jengkal negeri kita agar tidak lepas dari tangan kekuasaan kita. Janganlah negeri ini diserahkan kepada musuh-musuh kita, yakni konspirasi kafir internasional dan antek-anteknya yang telah nyata-nyata akan memisahkan sebagian negeri kita dari kesatuan wilayah negeri kita. Alih-alih memecah-belah, sejatinya negeri-negeri Muslim disatukan.  Karena itu hendaklah kita selalu berupaya sekuat tenaga menjaga perbatasan negeri kita dengan niatan yang ikhlas karena Allah, niscaya kita akan jaya, sebagaimana Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung (TQS Ali Imran [3]: 200).

Hendaklah semua komponen kaum Muslim, baik sipil maupun militer, tidak memberikan kesempatan kepada penguasa seperti dulu mereka telah melepaskan Timor Timur dari negeri kita. Ingatlah, segala keputusan dan sikap perbuatan kita hari ini akan berdampak di masa depan, di dunia maupun di akhirat kelak. Telah tampak di mata kita, tangan-tangan asing dan keterpecahbelahan umat. Semua itu akibat kita tidak berpegang teguh pada tali Allah SWT yang kokoh, yaitu Islam.

Janganlah kita membiarkan diri kita semakin tercabik-cabik. Jagalah keutuhan kita. Pertahankan kesatuan yang masih ada. Berjuanglah terus untuk menyatukan seluruh negeri-negeri kaum Muslim!  Allahu akbar! []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah atas kalian saat dulu kalian saling bermusuhan, lalu Allah menyatukan kalbu-kalbu  kalian. Dengan nikmat itu kalian menjadi bersaudara. (Ingat pula) saat kalian ada di tepi jurang neraka. Lalu Allah menyelamatkan kalian. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya agar kalian mendapatkan petunjuk.
(TQS Ali Imran [3]: 103).





Dakwah Jateng-, Gombong – Jawa Tengah. Tahun Baru Islam adalah momen yang senantiasa diperingati oleh umat Islam, dengan segala harapan dan semangat baru menjadi dorongan diadakannya pagelaran itu. Tidak terkecuali umat Islam yang ada di sekitar Kebumen, Purworejo, Magelang, Temanggung & Wonosobo.

Bertempat di Markaz Front Thoriqul Jihad (FTJ) Pesantren Al Daldiri - Kebumen menggelar acara Tabligh Akbar Menyambut Tahun Baru 1441 H Dipanegaran Kulon, pada Sabtu (31/09). Tema yang diangkat adalah: “Hijrah Menuju Islam Kaffah”

Acara dipandu Ust. Yahya Husein dari Gombong, dibuka dengan pengantar mengapa momen hijrah ini penting untuk diperingati. Karena Hijrah inilah umat Islam mendeklarasikan kemenangan sejati, menandingi peradaban yang sudah mapan saat itu. Namun penuh dengan penghambaan serta penyembahan kepada manusia. Sedangkan Islam dengan peradaban khas mampu menghadapi peradaban Romawi Barat dan Persia Timur, inilah tonggak kebangkitan.



Pada sambutan selamat datangnya Shahibul Fadhilah KH Saefuddin Khozaki Daldiri memanaskan suasana dengan mengingatkan, bahwa kewajiban umat ini sebagaimana tercantum dalam Surah Yasin adalah membumikan al Quran sepenuhnya sesuai dengan manhaj Rasulullah SAW. “Demi al Quran yang mejadi hakim, sungguh engkau Muhammad dari utusan Kami. Maka menjadikan al Quran sebagia hakim yang adil adalah dengan mengikuti Rasulullah SAW. Karenanya manusia harus Hijrah! Sistem khilafah ditegakkan negara makmur, kriminalitas diberantas!"

Sambutan kedua diberikan oleh Ustadz Ibnu Zaeroji, beliau menekankan pentingnya momentum tahun baru Hijriyah. “Hijrah Rasulullah & Ummat Islam menandai perubahan baru. Perubahan sistem kehidupan baru, dari yang jahiliyah menuju pada kegemilangan peradaban Islam. Inilah momentumpenting itu”

Kalimah minal ulama pertama disampaikan oleh KH Mukhlas Pengasuh Majlis Taqarrub Purwarejo. Sembari mengibarkan Liwa kecil beliau berpesan agar umat Islam senantiasa menjunjung tinggi dan memperjuangkan kalimat Tauhid. “Jangan sampai kita membaca doa kamilin tapi tidak diakui oleh Baginda Nabi Saw saat menuju Khaudz Beliau pada hari kiamat, kenapa? Karena kita benci Kalimat Tauhid, karena kita tidak berjuang menegakkan kalimat Tauhid ini, dengan tegaknya Syariah & Khilafah!”



KH Ibnu Mundzir, Pengasuh Majlis Ikhwanul Mukminin – Wonosobo. Beliau menyitir Surat Ibrahim Ayat 28. “Mereka para pemimpin telah menukar nikmat & hukum Allah, mereka telah menjerumuskan umatnya pada jurang kehancuran” Pesan beliau pada kondisi kekinian hendaknya membuat kita sadar pada arah perjuangan yang hakiki, pada hijrah yang sebenarnya.

KH. Rofiq Nur Hidayat Pengasuh Madrasah Daurut Tauhid Grabag - Purworejo, “Harapan di penghujung tahun, senantiasa bahagia dunia akhirat. Umat Islam akan menjumpai kebahagiaan hanya pada saat melaksanakan semua aturan-aturan Islam. Kita harus perjuangkan agar syariah dilaksanakan secara kaffah!”

Kalimah minal ulama selanjutnya dalam Tabigh Akbar ini disampaikan oleh Ustadz Munarsis, Pengasuh Majlis Tafsir Ibnu Katsir Gombong. Tidak kalah dengan pemaparan sebelumnya beliau menyampaikan bahwa pilar demokrasi di Indonesia sudah menuju keruntuhan. “Saat ini para ulama sudah mulai ‘turun gunung’ untuk mengawal pemahaman umat Islam menuju kebangkitan. Demikian juga emak-emak ideologis sudah mulai menyuarkan kebangkita Islam kaffah. Justru di saat mahasiswa telah loyo, mereka (Ulama & Emak-emak) menjadi pejuang yang sesungguhnya”

Dengan intonasi yang tenang dan bersahaja, KH Nashiruddin Pengasuh Majlis Bait al Quran Magelang menyampaikan makna yang terkandung dalam Surat al Isra 80. “Kenapa Rasulullah meminta Sulthonan nashiro? Karena sesungguhnya Allah SWT akan mencabut sesuatu yang tidak bisa dicabut (dihilangkan) kecuali dengan kekuasaan” Beliau berdoa semoga kita bisa hijrah menuju kebaikan dengan mendapatkan shultonan nashira.

Di tengah acara tampil aksi tiga orang pemuda dengan Liwa dan Raya, di antara mereka membacakan sebuah puisi yang bercerita tentang hijrah dan ukhuwah. Pembacaan  dengan penuh penjiwaan, diiringi suara latar yang menyentuh berhasil memukau hadirin. Di akhir pembacaan puisi serentak hadirin menyambut dengan kibaran Liwa & Raya serta lengkingan takbir susul menyusul.

Pada akhir acara Kyai Mustaqim dari Kebumen kembali menghanyutkan suasana hati hadirin dengan pembacaan doa dan permohonan yang khusyuk. Bermohon agar momentum hijrah kali ini menjadi sejarah tegaknya Islam kaffah, tegaknya khilafah dan yang hadir dicatat sebagai pejuang yang dengan tangan mereka khilafah diperjuangkan. Amin.. amin.. ya Rabbal ‘alamin

Acara yang dimulai sejak pukul 09:15 WIB berakhir pada 11:45  WIB ditutup dengan sesi foto bersama, tampak tokoh yang hadir antusias foto bersama ulama di atas panggung. Tidak kurang 450 peserta hadir dalam acara ini. Semoga nama Dipanegaran Kulon tercatat dalam lembaran sejarah sebagai basis perjuangan Islam Kaffah. Allahu akbar! [jim]





Semarang, Sabtu 31 agustus 2019 Dewan Masjid Digital Indonesia(DMDI) mengadakan Tabligh Akbar memperingati datangnya bulan muharram 1441 H.

Ratusan jamaah memadati masjid mulai subuh hari dengan harap penuh berkah berniat menyambut datangnya bulan muharram.




Tabligh Akbar mengambil tema “ Hijrah menuju Syariah dan Khilafah”

Acara diawali dengan membaca ummul kitab kemudian sambutan dari ketua takmir masjid dan dilanjutkan acara inti penyampaian materi dan tausiah yang disampaikan oleh beberapa pembicara diantaranya Ust Abdullah Ibnu Abdurrahman sebagai Pembina (DMDI) Semarang,  kemudian ada diantaranya K.H Syamsudin dari pengasuh ponpes the holi qur’an mangkang dan K.H Nasrudin dari ponpes almabda’ al islami semarang.

Ustadz Abdullah Ibnu Abdurrahman menyampaikan bahwa setiap pergantian waktu. Yaitu ketika kita memasuki awal muharram. Kita diingatkan dengan satu peristiwa besar pada diri Rasulullah SAW yaitu hijrahnya beliau dari makkah ke madinah. Para sahabat dahulu memulai perhitungan bulan dimulai dari hijrahnya rasulullah dari makkah menuju madinah bukan dari lahirnya Rasulullah. Mengapa demikian. Sebab dimulainya Rasulullah hijrah adalah sebagai pertanda dimulainya peradaban baru yang dibangun oleh Rasulullah.

Jika maulid Nabi Muhammad SAW adalah pertanda kelahiran beliau maka hijrahnya beliau ke madinah adalah pertanda kelahiran peradaban yang di bangun oleh Rasulullah yang dimulai dari tegaknya daulah di madinah.

Ditengah acara Tabligh Akbar dilaksanakan Digital movement untuk menyemarakkan acara di jagad maya agar acara bisa sampai ke penjuru Indonesia bahkan dunia.






Dakwah Jateng,- Semarang, Ahad (1/9/2019), Kumpulan Ormas dan komunitas Kota Semarang mengadakan Parade Ukhuwah Muharram 1441 H yang dihadiri ratusan orang. Titik kumpul acara bertempat di depan balaikota Semarang. Para peserta telah memadati area Depan balaikota sejak pukul 07.00 WIB mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. 

Terlihat juga massa dari Forum Umat Islam Semarang (FUIS), Forum Silaturahmi Umat Islam(FSUI),  Jamaah Ansyarru Syariah(MM), Hidayatullah, Masyarakat Tanpa Riba Kota semarang, BARSAMA,  LBH Pelita Umat Semarang dan masih banyak organisasi dan komunitas yang hadir di pawai muharram ini.




Ketua panitia Solihul Hadi mengatakan, selain memuliakan tahun baru Islam, kegiatan ini sebagai syiar Islam Kaffah (menyeluruh).

“Menyeru kepada umat untuk Hijrah menuju Islam Kaffah,” katanya

Pawai akbar yang mengambil tema napak tilas Walisongo tersebut dimulai dengan langsung jalannya parade dari balaikota Semarang  menuju Masjid baiturrahman simpanglima.

Sampai di depan masjid baiturrahman kemudian dilanjutkan dengan orasi dari perwakilan masing masing ormas.

Danang Setyadi salah seorang orator menyebut, umat Islam harus menjauhi sifat munafik yang notabene dilarang oleh agama. Termasuk, kata dia, masalah bendera tauhid.

“Ini bukan bendera ormas, tapi ini adalah bendera Rasulullah, dimana wahai kalian yang melihat bendera bintang Kejora berkibar di Istana (Presiden)?,” tegas Amir Jamaah Ansharusy Syariah Semarang ini.
Walaupun Cuaca mulai panas terik tak mengalahkan semangat para peserta pawai. Apalagi ratusan Panji Rasulullah yang berkibar makin menambah nuansa yang kita rindukan yaitu kehidupan dalam naungan Islam.
Acara diakhiri dengan pembacaan doa oleh K.H Nasrudin dan hingga tepat pukul 9.15 WIB, Alhamdulillah acara bisa berlangsung dengan tertib dan aman[]



Jelang tahun baru Islam 1 Muharram 1441 H jagad maya dikejutkan dengan kemunculan 3 hastag bertema hijrah, syariah dan khilafah yang bertengger menjadi trending topik dunia (world wide trends). 

Pantauan dari tim Dakwahjateng.net menginformasikan bahwa hastag #HijrahMenujuSyariahKaffah  #HijrahSelamatkanIndonesia #WeAreTheWorldKHILAFAH mulai menaiki tangga trending topik dunia (world wide trends) sekitar pukul 09.00 WIB hingga menjelang pukul 11.30 WIB pada hari Sabtu (31/08/2019).

Fenomena trending topik dari 3 hastag di atas yang mengangkat tema dan tujuan yang sama menujukkan bahwa pembicaraan tentang hijrah, syariah dan khilafah ternyata menarik engagement yang tinggi begitupun impact dan reachnya  yang luar biasa.

Rizki Awal seorang praktisi sosmed mengungkapkan hal tersebut dalam akun facebooknya, "Pagi ini, saya dikagetkan dengan tiga hashtag trending sekaligus. Bukan saja di Indonesia tetapi masuk dalam Trending Worldwide. Artinya seluruh dunia." tulisnya.

"Yang paling menarik hashtag hashtag itu punya tema dan tujuan yang sama. Ini menandakan, pembicaraan tentang Islam kaffah dan Khilafah menarik engagement yang tinggi. Impact dan reach yang besar ini juga luar biasa" lanjut Rizki Awal.

Untuk mengecek masifnya hastag di atas bisa dicek pada link berikut https://www.trendsmap.com/v2/jI3r/w 



Oleh Yogie W. Abarri


Ibarat gelindingan bola salju yang sudah tak mungkin lagi dihentikan dan bahkan akan menggilas apapun or siapapun yg nekat menghadang lajunya... seperti itulah pula perkembangan opini Khilafah saat ini.
Telah melewati titik yang disebut... point of no return.

Tak bosan rasanya mengatakan... Sungguh beruntunglah negeri yang dikuasai oleh rezim "juaranya ruwaibidhah".

Juaranya ruwaibidhah?
Juara dalam hal apanya?

Sebelumnya, mari kita cermati kembali penjelasan yang keluar dari lisan RasuluLLah SAW sendiri, ketika Beliau ditanya oleh para sahabat tentang apa itu ruwaibidhah.

Yaitu, ruwaibidhah itu adalah "ar-rajul at-täfih fï amril-'ämmah".

Ar-rajul at-täfih itu artinya orang bodoh/pandir/tolol.
Fï amril-'ämmah itu gambarannya berarti orang itu terlibat dalam (pengurusan) urusan publik (amrul-'ämmah).

Jadi, ruwaibidhah itu punya dua faktor.
1. Dia bodoh/pandir/tolol.
2. Dia terlibat dalam (pengurusan) urusan publik.

Nah, sekarang barulah kita kembali ke pertanyaan di atas.

Juara dalam hal apanya?
Faktor apanya kah yang membuat rezim menjadi juaranya ruwaibidhah?

Apakah juara dalam pengurusan urusan publik?
Sepertinya tidak.
Karena dalam banyak kasus, rezim malah seolah seperti tak terlihat keberadaannya.
Tak terlihat kepeduliannya.

Bahkan kalimat "Itu bukan urusan saya" or yg senada dengan itu, sering terdengar dari mulut pejabat² rezim.

Kalau bukan faktor itu, lalu faktor apa yang membuat rezim menjadi juaranya ruwaibidhah?

Faktor apalagi kalau bukan karena faktor kebodohannya? Kebodohan yang sungguh luar biasa.
Kalau kata Rocky Gerung... dungu yang tiada bertepi.

Tapi uniknya, IQ-nya justru malah bertepi. Yaitu IQ penghuni seisi kolam, bila dijumlah, totalnya selalu 200.
Bahkan meski beberapa profesor sudah ikut nyemplung ke kolam sekalipun, jumlah IQ totalnya tetap tak beranjak dari angka 200.

Kedunguan yang tiada bertepi itu, membuat rezim menjadi sering mengambil kebijakan² yang berujung blunder.


Bendera HTI

Akan menjadi semakin panjang coretan ini bila kita membahas blunder² rezim yang sangat banyak itu.
So, kita fokus aja pada salah satunya, yaitu penyebutan Bendera Tauhid sebagai Bendera HTI.

Semakin kesini semakin terlihat bahwa narasi Bendera Tauhid sebagai Bendera HTI itu adalah blunder yang luar biasa fatal yang dilakukan oleh rezim.

Kita tahu, para penguasa di negeri² kaum muslim saat ini adalah boneka.
Mereka dengan sukarela menjadi kaki tangan para imperialis/penjajah kafir, baik Barat maupun Timur.

Jelas mereka sangat membenci Islam. Karena, Islam yang notabene adalah juga sebuah ideologi, adalah musuh bagi ideologi yang tengah mereka terapkan dan mereka jaga mati²an, yaitu ideologi Kapitalisme/Liberalisme/Sekularisme.

Mereka berusaha membonsai Islam agar hanya tinggal ibadah ritualnya saja yang dipahami oleh Ummat.
Dan juga hanya sebatas simbol² saja.
Agar Ummat tidak paham, bahwa ideologi yang mereka punya (ideologi Islam) tidak diterapkan, dan yang diterapkan adalah ideologi yang lain (ideologi Kapitalisme).

Mereka semua seperti itu.
Perbedaan antara antek di negeri satu dengan antek di negeri lainnya, hanyalah soal ke-käffah-annya saja dalam menerapkan ideologi Kapitalisme nya.

Kerinduan Ummat Islam terhadap Islam, mereka belokkan ke arah yang hanya simbol saja.
Sehingga, kebangkitan Islam di negeri mereka berhasil dibuat hanya bangkit dalam simbol²nya saja. Kosong dari ideologi.

Dakwah Islam yang berusaha menyadarkan Ummat agar kembali pada ideologi Islam, di banyak negara menjadi seolah seperti jalan di tempat.
Jalan sih, tapi karena kemajuannya pelan sehingga seolah seperti jalan di tempat.

Kesulitannya adalah karena berhadapan dengan Ummat yang menyangka Islam sudah diterapkan. Karena penguasanya berbusana muslim, tampak relijius, dll.

Di Arab Saudi, tak tanggung² bahkan simbol Islam berupa Bendera Tauhid pun bahkan dijadikan bendera negara. Hanya dimodif warnanya, dan ditambahi gambar pedang.

Termasuk di Indonesia, Ummat dikelabui dengan hanya sebatas simbol. Bukan hanya yang awam, bahkan sebagian pemuka agamanya pun sampai terkelabui juga dan jadi malah ikut meyakinkan Ummat bahwa Indonesia ini sudah Islami, jadi gak usah neko² (banyak tingkah).

Tapi semua itu berubah sejak rezim juaranya ruwaibidhah berkuasa.
Hal yang itu dianggap tabu oleh rezim ruwaibidhah di negeri lain, oleh rezim juaranya ruwaibidhah justru dilanggar.

Blunder tingkat dewa YANG PERTAMA adalah, rezim malah memusuhi simbol Islam, SECARA TERANG²AN.
Secara telanjang mata, rezim memusuhi simbol Islam yang berupa Bendera Tauhid.

Merampas Bendera Tauhid, menurunkannya ketika sedang dikibarkan, membakarnya, dll dll.
Baik yang dilakukan oleh aparat, maupun yang dilakukan oleh keparat (pihak ketiga yang dimanfaatkan oleh aparat, dan bertingkah lagaknya aparat).

Akibatnya apa?

Mudah ditebak. Tentu saja Ummat Islam menjadi bangkit.
Bukannya dibuat agar tetap tidur, malah dibangunkan.

Memang sih, awalnya tak banyak Ummat yang tahu bahwa yang rezim kriminalisasi itu adalah Bendera Tauhid yang bernama ar-Rayah dan al-Liwa.
Tapi itu hanya soal waktu. Dan di era medsos seperti ini, waktu yang dibutuhkan bisa menjadi sangat singkat.

Pendek kata, pemahaman Ummat Islam bahwa itu adalah Bendera Tauhid pun akhirnya menggelinding dan membesar dengan cepat, bagaikan gelinding bola salju.

Dan gelindingan bola salju itu kini telah melewati point of no return.
Sudah tak mungkin lagi dicegah.
Secara opini umum, Ummat sudah terlanjur paham bahwa yang dikriminalisasi rezim itu adalah ar-Rayah dan al-Liwa.

Blunder tingkat dewa YANG KEDUA adalah, rezim malah mengeluarkan narasi yang membranding Bendera Tauhid tersebut sebagai Bendera HTI.

Berhasilkah?

Tentu saja tidak. Karena Ummat akhirnya paham bahwa HTI tak punya bendera, dan bendera yang rezim kriminalisasi itu sah adalah Bendera Tauhid.

Tapi meski begitu, gara² narasi gegabah itu, Ummat jadi bertanya² dong... Mengapa kok Bendera Tauhid ini disebut² sebagai Bendera HTI?
HTI itu apaan sih?

Well well well... tanpa disadari, rezim ruwaibidhah telah mengantarkan Ummat menjadi kenal dengan HTI.
Video² lama acara² HTI yang bertebaran di youtube, menjadi diakses Ummat.

Oh, ternyata karena dahulu pada awalnya HTI-lah ormas yang hobi bawa² ar-Rayah dan al-Liwa ini.
Kurang lebih seperti itulah mungkin apa yang Ummat simpulkan.

Bahkan hingga saat ini pun Ummat masih bisa melihat dan menilai...
Ketika ormas lain ada yang kini juga turut membawa ar-Rayah dan al-Liwa, mereka masih membawa juga bendera yang lain.
Dan hanya HTI sajalah yang ketika membawa ar-Rayah dan al-Liwa, mereka tak membawa bendera yang lain.

Bendera yang selalu dibawa HTI adalah hanya ar-Rayah dan al-Liwa saja.

Lalu dimana letak salahnya rezim?


Terpapar Paham Radikal

Secara bendera, HTI memang hanya membawa ar-Rayah dan al-Liwa saja (sehingga wajar bila dulu jadi sempat identik dengan HTI).

Tapi bukan cuma itu. Ada hal lain yang mungkin alpa diperhitungkan oleh rezim.
Yaitu, HTI juga identik dengan... Khilafah.

Khilafah,
Khilafah lagi,
dan selalu Khilafah.

Bahkan banyak tokoh yang sampai protes (dengan maksud yang baik) sambil pasang tampang jengkel...
Diskusi sama orang HTI itu payah.
Mbahas apapun selalu UUK.
Ujung-ujungnya Khilafah.

Bukankah begitu?
Adakah ormas lain yang segila itu (gila dalam arti yang positif) bicaranya tentang Khilafah?
Terapkan syariah dan tegakkan Khilafah.
Ujung²nya selalu seperti itu.

Anda (yang belum paham dengan HTI) mungkin awalnya akan stress, karena bahkan bicara soal bumbu dapur pun, bila berbicaranya itu dengan orang HTI, dijamin Anda akan terkejut karena pembicaraan tersebut entah kapan berpindahnya tiba² sudah beralih jadi bicara tentang Khilafah.

Hahaha... ada di antara pembaca yang tertawa ya?
Kenapa? Pengalaman pribadi?
Apa? Pernah diskusi tentang poligami pun lalu tiba² terdampar ke mbahas Khilafah?
Ampun dah.
Itu pasti diskusinya dengan saya ya?
Hehehe...

Sssttt... kembali ke laptop.

Nah, sekarang coba bayangkan.
Pemahaman Ummat terhadap ar-Rayah dan al-Liwa bahwa itu adalah Bendera Tauhid, bendera milik Ummat Islam... kini telah kembali, tanpa bisa dihentikan lagi.

Kecintaan Ummat pada ar-Rayah dan al-Liwa telah tumbuh menjadi pohon yang rindang dan kokoh.

Sementara sampai detik ini, pasukan nasi bungkus peliharaan rezim, di medsos masih terus saja non-stop berusaha mengatakan bendera tersebut sebagai Bendera HTI.
Yang aktif memantau medsos pasti tahu itu.

Lihatlah. Betapa bodohnya mereka.
Bukan rajanya ruwaibidhah namanya bila rezim mampu menyadari kesalahannya.
Dan faktanya memang tak mampu.
Karena sampai detik ini, narasi Bendera HTI itu nyatanya masih terus berusaha mereka paksakan.

Efeknya, Ummat yang makin mencintai ar-Rayah dan al-Liwa pun otomatis jadi makin terpapar dengan HTI. Makin mengenal HTI.
Dan otomatis juga jadi makin terpapar pula dengan ide besar yang dibawa oleh HTI.
Yaitu... KHILAFAH.

Jadi jangan heran, bila tiba² kini kita saksikan semua orang jadi bicara Khilafah, Khilafah, dan Khilafah.
Kata Ust. Budi Ashari, Lc... wis wayahe. Memang sudah jamannya.


Bila Pertolongan Allah Tiba

Tiba² semua orang kini bicara Khilafah. Terpapar opini Khilafah.
Dan yang unik, rezim juga punya andil besar dalam membuat Ummat menjadi terpapar pada isu Khilafah tersebut.
Juara banget dah pokoknya, ruwaibidhahnya.

Tegaknya Khilafah murni adalah semata² pertolongan Allah SWT.
Tugas kita hanyalah menjalankan apa yang Allah wajibkan dan telah RasuluLLah contohkan.
Yaitu mendidik Ummat agar rindu kepada syariah käffah, dan agar sadar bahwa tegaknya Khilafah adalah satu²nya cara untuk menerapkan syariah tersebut secara käffah.

Al-Hamdu liLLah, perbincangan tentang Khilafah, kini telah melampaui point of no return.
Gelindingan bola saljunya sudah tak mungkin dihentikan lagi.

Maka bersyukurlah kita semua Ummat Islam yang ada di negeri ini.
Mengapa?

Tegaknya Khilafah itu adalah pasti. Sebab itu adalah janji Allah SWT.
Yang belum pasti adalah titik awal dimanakah ia akan tegak untuk pertama kalinya.

Dan bila kecepatan gelindingan bola salju itu adalah secepat sekarang ini, sangat besar kemungkinannya tegaknya itu justru adalah di negeri yang kita cintai ini.

Tapi Ummat Islam di negeri yang lain tentu tak akan mau kalah.
Fastabiqul-khairat.
Menjadi negeri dimana awal mula Khilafah akan (kembali) tegak, itu adalah kemuliaan yang sangat besar.

Dan selama perlombaan belum selesai, potensi munculnya kuda hitam yang akan menyalip secara tiba² adalah tetap ada.

Oleh sebab itu, jangan terlena.
Jangan angkat kaki Anda dari pedal gasnya.
Injak terus. Gaspol. Jangan kasih kendor
loading...
Powered by Blogger.