Dakwah jateng -, Semarang, Ahad (29/12/19) Forum Silaturahmi Umat Islam Semarang Menggelar Diskusi Publik dengan tema “Refleksi Akhir tahun 2019”

Ratusan orang dari berbagai latar belakang dan organisasi antusias menghadiri acara tersebut
Acara yang dimulai pukul 08.30 WIB ini menghadirkan pembicara- pembicara Nasional diantaranya Prof Fahmi Amhar, Prof Suteki, K.H M Ainul Yaqin dan Wahyudi Almaroki.



Berbagai Bahasan dibawakan oleh pembicara untuk merefleksikan apa yang terjadi di Indonesia mulai dari isu politik, ekonomi, pemerintahan dan lain sebagainya. Salah satunya apa yang diungkapkan prof suteki. Suteki menyoroti kasus penangkapan ustadz-ustadz  yang ada di Indonesia. Dari segi hukum banyak ketidak adilan yang terjadi di Indonesia.

Dari pembicara lain wahyudi almaroki mengungkapkan dari segi politik bahwa rezim di 2019 anti terhadap islam dan kedepan akan menjadi semakin anti terhadap islam.

Para peserta terlihat antusias mengikuti acara diskusi publik ini hingga berakhir []aa








Semarang - Jumat 20 Desember 2019 Forum Masyarakat Semarang mengadakan aksi mengutuk keras penyiksaan terhadap Muslim Uighur.

Aksi yang dihadiri 500 an masa dari lintas ormas ini dilaksanakan mulai pukul 13.00 di depan Kantor Gubernur provinsi Jawa Tengah dengan membawa tuntutan besar mendesak pemerintah agar segera bersikap terhadap penyiksaan yang dilakukan rezim komunis China.

Aksi ini menyerukan kepada kaum Muslimin agar bersatu dan jangan berpecah belah menghadapi isu ini.

"Kalau Ada ormas Islam yang justru melegitimasi penyiksaan yang dilakukan rezim komunis China terhadap Muslim Uighur maka ia munafik. Munafik" tutur Amuryuda, salah satu orator dari FUIS.

Para peserta aksi membentangkan spanduk bertuliskan pembelaan terhadap Muslim Uighur sepanjang jalan Pahlawan. Terlihat pula kibaran bendera tauhid Alliwa dan Arrayah yang dibawa para peserta aksi sebagai identitas persatuan kaum muslimin. [] AQ




Dakwah Jateng – Semarang (14/12/19) Massa yang terdiri dari Forrum Umat Islam Semarang (FUIS) menggelar aksi bela Rasulullah.

Dengan Membawa bendera liwa dan rayah yang merupakan bendera Rasulullah para peserta aksi berjalan beriringan dengan tertib mulai dari masjid baiturrahman simpang lima sampai depan kantor polisi Jawa Tengah.



Para Peserta aksi bela Rasullah kemudian mendengar tausiah dan orasi yang disampaikan para ustadz.

Dalam Press Release nya FUIS Mengecam keras pernyataan Saudara Muwafiq dan ibu sukmawati dan menuntut kepada yang bersangkutan untuk bertaubat secara tulus dan tidak kembali mengulanginya.



Selain itu FUIS juga mengajak kepada kaum muslim untuk berhati hati terhadap Ulama Suu’ ( Ulama Jahat) yang semakin banyak bermunculan dizaman seperti saat ini.




 Siapa Yang Dibuat Marah Namun Tidak Marah, Maka Dia Adalah…
Ditulis Oleh: dr. M. Amin (direktur Poverty Care)
Imam as Syafi’i berkata:
مَنِ اسْـتُغْضِبَ وَ لَمْ يَغْضَبْ فَهُوَ حِمَارٌ
Siapa yang dibuat marah, tapi tidak marah maka dia adalah (seperti) keledai (Hilyatul Awliya’, 9/143)
Sungguh aneh dengan sikap sebagian umat ketika Rasulullah bersikap diam dan sok ‘bijak’, yang menganjurkan agar jangan marah saat agama dinistakan.
Al-Qadhi ‘Iyadh dalam Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al Musthafa menegaskan, bahwa tidak ada perbedaan di kalangan ulama kaum Muslim tentang halalnya darah orang yang menghina Nabi saw. Meski sebagian ada yang memvonis pelakunya sebagai orang murtad, kebanyakan ulama menyatakan pelakunya kafir, bisa langsung dibunuh, dan tidak perlu diminta bertobat serta tidak perlu diberi tenggat waktu tiga hari untuk kembali ke pangkuan Islam. Ini merupakan pendapat al-Qadhi Abu Fadhal, Abu Hanifah, ats-Tsauri, al-Auza’i, Malik bin Anas, Abu Mus’ab dan Ibn Uwais, Ashba’ dan ‘Abdullah bin al-Hakam. Bahkan al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan, ini merupakan kesepakatan para ulama (Al-Qadhi ‘Iyadh, Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa, hlm. 428-430).
Ada beberapa hadis yang terkait dengan masalah ini. Di antaranya riwayat Abu Dawud dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra, yang menyatakan, “Ada seorang wanita Yahudi yang sering mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. (oleh karena perbuatannya itu), maka perempuan itu telah dicekik sampai mati oleh seorang laki-laki. Ternyata Rasulullah saw. menghalalkan darahnya.” (HR Abu Dawud). Sanad hadis ini dinyatakan jayyid (baik) oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah, dan termasuk sejumlah hadis yang dijadikan hujjah oleh Imam Ahmad (Ash-Sharim al-Maslul ‘ala Syatimi ar-Rasul, III/59).
Hadis ini juga memiliki syahid, yakni hadis riwayat Ibn Abbas yang menyatakan bahwa ada seorang laki-laki buta yang istrinya senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. Lelaki itu berusaha melarang dan memperingatkan agar istrinya tidak melakukannya. Pada suatu malam istrinya mulai lagi mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. Merasa tidak tahan lagi lelaki itu lalu mengambil kapak kemudian dia tebaskan ke perut istrinya dan dia hunjamkan dalam-dalam sampai istrinya itu mati. Keesokan harinya, turun pemberitahuan dari Allah SWT kepada Rasulullah saw. yang menjelaskan kejadian tersebut. Pada hari itu juga Nabi saw. mengumpulkan kaum Muslim dan bersabda,” Dengan menyebut asma Allah, aku meminta orang yang melakukannya, yang sesungguhnya tindakan itu adalah hakku, berdirilah!” Kemudian (kulihat) lelaki buta itu berdiri dan berjalan dengan meraba-raba sampai dia berada di hadapan Rasulullah saw. Kemudian ia duduk seraya berka-ta, “Akulah suami yang melakukan hal tersebut ya Rasulullah saw. Kulakukan hal tersebut karena ia senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan dirimu. Aku telah berusaha melarang dan selalu mengingatkannya, tetapi ia tetap melakukannya. Dari wanita itu, aku mendapatkan dua orang anak (yang cantik) seperti mutiara. Istriku itu sayang kepadaku. Namun, kemarin ketika ia (kembali) mencela dan menjelek-jelekkan dirimu, lantas aku mengambil kapak, kemudian kutebaskannya ke perut istriku dan kuhunjamkan kuat-kuat ke perut istriku sampai ia mati.” Tindakan lelaki ini dibenarkan oleh Nabi saw.
Inilah ketentuan yang berlaku terhadap seorang Muslim yang menghina Nabi saw. Namun, jika pelakunya kafir dzimmi, maka perjanjian dengan mereka otomatis batal, pelakunya diberlakukan hukuman mati; kecuali, menurut sebagian fuqaha, jika mereka masuk Islam. Keputusan ada di tangan Khalifah, apakah keislamannya bisa diterima atau tetap diberlakukan hukuman mati sebagai pelajaran bagi orang-orang kafir yang lain.
Adapun terhadap kafir harbi, maka hukum asal perlakuan terhadap mereka adalah perang (qital). Siapapun yang melakukan pelecehan terhadap Rasulullah saw. akan diperangi. Inilah ketentuan yang seharusnya dilakukan negara atau penguasa kaum Muslim hari ini menghadapi penghinaan kepada Nabi saw. yang dilakukan oleh orang kafir, warga AS maupun yang lain itu. Dengan begitu, segala bentuk penistaan terhadap Nabi saw. akan bisa dihentikan.
Hanya saja, hal ini tidak dilakukan. Nyatalah bahwa umat kini membutuhkan seorang khalifah yang memiliki ketegasan, keberanian, serta taat kepada Allah SWT. Karena Khalifahlah yang secara nyata akan menghentikan semua penghinaan itu, serta melindungi kehormatan Islam dan umatnya, sebagaimana yang pernah ditunjukkan oleh Khalifah Abdul Hamid II terhadap Prancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire, yang menghina Nabi Muhammad saw. Ia mengancam akan mengerahkan tentara jihad jikalau drama itu tidak dibatalkan. Ancaman ini berhasil menghentikan rencana pementasan drama yang menghina Nabi saw. tersebut.[]

 Menjalankan Sistem Khilafah: Menghidupkan Sunnah Nabi (Tanggapan atas Logika Keliru Mahfud MD)
Oleh: Yuana Ryan Tresna
Baru-baru ini, sebagaimana diberitakan di beberapa media masa, Menkopolhukam Mahfud MD membuat pernyataan kontroversial. Diantara statemen Mahfud MD adalah, “Ada yang mengatakan ‘Pak, bapak bilang tidak ada khilafah, tapi kan Nabi Muhammad itu mendirikan khilafah?’ Iya, tetapi khilafah itu bukan ajaran baku karena yang didirikan Nabi Muhammad itu tidak boleh diikuti” (https://kumparan.com/kumparannews/mahfud-md-negara-khilafah-nabi-muhammad-tidak-boleh-diikuti-1sMsypgnb3b).
Ungkapan bahwa sistem kenegaraan Nabi tidak boleh diikuti adalah bentuk penghinaan pada ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Minimal merupakan bentuk merendahkan martabat ajaran Nabi Muhammad. Itu tidak boleh keluar dari lisan seorang muslim. Pernyataan ini menambah daftar panjang penolakan beliau pada sistem khilafah. Pernyataan tersebut juga melengkapi maraknya penistaan dan penghinaan pada baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mahfud tidak merendahkan diri Rasulullah, namun ia menyepelekan ajarannya (warisannya), dengan mengatakan tidak boleh diikuti.
Kekeliruan Pertama: Tidak Ada Bentuk Baku Khilafah 
Ungkapan bahwa tidak ada bentuk baku khilafah yang oleh karenanya harus ditolak adalah bentuk kesesatan berpikir. Setiap ajaran Islam memiliki wilayah yang muttafaq ‘alaihi (disepakati oleh para ulama), dan ada wilayah yang mukhtalaf fihi (diperselisihkan oleh para ulama, wilayah ijtihad). Adanya perbedaan dalam beberapa hal dalam suatu ajaran Islam bukan berarti ajaran tersebut tidak punya model baku.
Istilah “Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah” itu sendiri dari Nabi (HR. Ahmad). Makna, “Ala Minhaj Nubuwwah” itu artinya khilafah yang dijalankan para shahabat adalah mengikuti secara persis dari Nabi, bukan rekayasa shahabat. Shahabat tinggal melanjutkan negara dan sistem yang dibangun Nabi. Nabi menjalankan negara, sebagai kepala Negara Islam pertama, dengan ibu kotanya Madinah, selama 10 tahun. Selain ada kepala negara, ada wazir (pembantu kepala negara), yaitu Abu Bakar dan ‘Umar (HR. Hakim).
Secara lebih rinci diantara kekeliruan Mahfud MD terkait dengan ketidak-bakuan khilafah adalah sebagai berikut:
Pertama, mari kita sepakati bahwa dalil syariah itu adalah al-Quran, al-Sunnah, Ijmak Shahabat dan Qiyas. Sayangnya, hadits tidak banyak dieksplorasi, padahal banyak menjelaskan sistem khilafah dan khalifahnya. Ijmak juga demikian, hampir tdk disentuh. Mahfud MD masih sibuk cari teks dalam al-Quran.
Ijmak Shahabat dengan sangat terang menunjukkan bagaimana mareka menjalankan pemerintahan pasca wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini tidak boleh diingkari. Kalau cara pandangnya seperti Mahfud MD, maka betapa banyak hukum Islam yang kaifiyahnya tidak dijelaskan dalam Qur’an dan Sunnah.
Dengan cara pandangnya, maka berarti sistem khilafah yang dijalankan oleh empat orang shahabat adalah tidak baku. Sebab, sistem khilafah yang mereka terapkan itu tidak disebutkan dalam al-Quran dan Hadits. Bahkan, berdasarkan cara pandang tadi, sistem Khilafah dengan manhaj Nubuwwah pun tidak baku di semua aspeknya.
Padahal para shahabat Nabi menerima perkara yang amat prinsip yakni adanya khalifah yang menjalankan syariah dan mengemban dakwah. Semua shahabat menerimanya, sehingga terjadilah Ijmak di kalangan mereka. Ijmak pengangkatan Abu Bakar pasca wafatnya Rasul bukti hal itu (al-Shawa’iq al-Mukhriqah,1/25).
Kedua, mari kita bedah dari sisi apa yang paling mendasar dalam penyelenggaraan sebuah negara. Esensi yang  membedakan pemerintahan yang satu dengan yang lain adalah Kedaulatan dan Kekuasaan.
Prinsip kedaulatan dan kekuasaan dalam sistem khilafah itu bersifat baku (tidak ada perbedaan pendapat). Hal itu bisa dibedah menjadi empat penjelasan:
(1) Kedaulatan/al-siyadah (otoritas tertinggi dalam membuat hukum) di tangan syara’. Tidak boleh ada di dalamnya hukum yang dibuat oleh manusia. Semuanya harus didasarkan kepada syariat atau merujuk kepada nash syara’ melalui proses istinbath (penggalian hukum) dan ijtihad syar’i;
(2) Kekuasaan/al-sulthan (otoritas dalam memilih khalifah) di tangan umat (bukan rakyat). Karenanya orang kafir tidak punya hak pilih apalagi dipilih. Hanya saja mereka boleh hidup di bawah naungannya dengan akad dzimmah (membayar jizyah  dan tunduk terhadap syariat Islam);
(3) Kesatuan khalifah. Wajib ada satu khalifah untuk seluruh kaum muslim di dunia. Tidak boleh lebih dari satu dan ini sudah merupakan ijmak. Ia digelari al-Imam al-A’zham (pemimpin teragung) karena tidak ada lagi pemimpin umat Islam di atasnya. Kewajiban satu khalifah ini dalilnya adalah hadits shahih;
(4) Khalifah memiliki hak mengadopsi hukum (bukan membuat hukum), yakni mengadopsi hukum syariat tertentu yang dibutuhkan demi pengurusan kemaslahatan umat Islam khususnya, dan seluruh warga khilafah umumnya. Khalifah bisa berijtihad sendiri atau mengadopsi ijtihad ulama.
Semua yang dijelaskan di atas sifatnya baku. Dalilnya jelas. Adapun yang dikritik Mahfud MD sebagai bukti ketidak-bakuan adalah bukan perkara utama atau yang disepakati ulama (muttafaq). Melainkan perkara mukhtalaf (tidak baku).
Jadi seharusnya Mahfud MD bisa memetakan mana perkara baku (muttafaq) dan mana yang memang tidak baku (mukhtalaf). Semua cabang fiqih juga ada sisi baku dan tidak bakunya jika dilihat dari aspek ini. Lebih prinsip lagi, perkara baku yang umat wajib meyakininya adalah 2 hal sbb:
(1) Wajib adanya imamah (khilafah) dengan imam (khalifah) yang terikat dengan hukum syara’, untuk menegakkan hukum Islam, mengatur masyarakat, dan mengemban dakwah Islam;
(2) Wajib mengusahakan kesatuan umat dalam satu imamah (khilafah), karena umat di dunia dalam satu waktu tidak boleh memiliki dua imam (khalifah) atau lebih.
Adapun ragam ijtihad dalam hal yang rinci, bukanlah bentuk inkonsistensi. Berbicara ijtihad, maka itu terjadi pada perkara yang secara tekstual tidak disebutkan dalam nash, baik al-Quran maupun al-Sunnah. Dengan ijtihad ini, khazanah Islam makin berkembang. Tantangan zaman dapat dihadapi. Ijtihad adalah hukum syara’ bagi mujtahid dan yang mengikutinya. Para ulama telah membahas khilafah ini. Khilafah bukan ciptaan ulama. Para ulama menjelaskan hukum. Secara obyektif, jika kita membaca kitab-kitab para ulama, maka kita akan dengan mudah mendapati pembahasan tentang Khilafah.
Para ulama juga telah mengulas masalah ini secara global. Istilah khilafah, diungkapkan pula oleh para ulama dengan istilah imamah, yakni al-imamah al-’uzhma, keduanya bentuk sinonim (mutaradif) karena esensinya sama, yakni topik kepemimpinan dalam Islam.
Imam al-Mawardi al-Syafi’i mengatakan,
الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا به
“Imamah itu menduduki posisi untuk khilafah nubuwwah dalam menjaga agama serta pengaturan urusan dunia.” (al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyyah, hlm. 5)
Imam al-Haramain al-Juwaini al-Syafi’i menyebutkan,
الإمامة رياسة تامة، وزعامة تتعلق بالخاصة والعامة في مهمات الدين والدنيا
“Imamah itu adalah kepemimpinan yang sifatnya utuh, dan kepemimpinan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat umum dan khusus dalam urusan-urusan agama maupun dunia.” (al-Haramain, Ghiyats al-Umam fil Tiyatsi al-Zhulam, hlm. 15)
Adapun Imam al-Nawawi al-Syafi’i berpendapat,
الفصل الثاني في وجوب الإمامة وبيان طرقها لا بد للأمة من إمام يُقيم الدين وينصُر السنة وينتصف للمظلومين ويَستوفي الحقوق ويضَعها مواضعَها. قلت تولي الإمامة فرض كفاية …
“…Pasal kedua tentang wajibnya imamah serta penjelasan mengenai metode (jalan untuk mewujudkannya). Adalah suatu keharusan bagi umat adanya seorang imam yang bertugas menegakkan agama, menolong sunnah, membela orang yang didzalimi, menunaikan hak, dan menempatkan hak pada tempatnya. Saya nyatakan bahwa mengurusi urusan imamah itu adalah fardhu kifayah.” (al-Nawawi, Raudhah al-Thalibin wa Umdah al-Muftin, juz III, hlm. 433.)
Adapun Imam Abu Hamid al-Ghazali al-Syafi’i –begitu pula para ulama lainnya- pun mengumpamakan din dan kekuasaan (kepemimpinan), sebagai saudara kembar, lalu Al-Ghazali menegaskan,
الدّين أس وَالسُّلْطَان حارس فَمَا لا أس لَهُ فمهدوم وَمَا لا حارس لَهُ فضائع
”Al-dîn itu asas dan penguasa itu penjaganya, maka apa-apa yang tidak ada asasnya maka ia akan roboh dan apa-apa yang tidak ada penjaganya maka ia akan hilang.” (al-Ghazali, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, hlm. 128)
Kekeliruan Kedua: Negara yang Didirikan Nabi tidak Boleh Diikuti 
Penyataan bahwa negara yang didirikan Nabi tidak boleh diikuti adalah bentuk merendahkan martabat ajaran Islam, dan gagal memahami ketundukan pada syariah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Salah satu ajaran Islam yang diwasiatkan dan diwariskan Rasulullah kepada para shahabat dan umatnya adalah al-imamah (khilafah), sebagaimana sabdanya dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi Muhammad bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ
“Adalah bani Israil, urusan mereka diatur oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain, sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada para Khalifah yang banyak.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Telah jelas bahwa sistem pemerintahan warisan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Khilafah. Nabi bersabda,
أُوصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ فَتَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Aku mewasiatkan kepada kalian, hendaklah kalian selalu bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati (pemimpin) sekalipun ia seorang budak Habsyi, karena sesungguhnya siapapun dari kalian yang berumur panjang sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak.  Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada jalan/jejak langkahku dan jalan/jejak langkah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah padanya dan gigitlah itu erat-erat dengan gigi geraham. Jauhilah perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, al-Tirmidzi dan Ibn Majah). 
Imam Ahmad meriwayatkan hadits ini berturut-turut dari Walid bin Muslim, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma‘dan, dari Abdurrahman bin Amr as-Sulami dan Hujr bin Hujr. Keduanya berkata: Kami pernah mendatangi al-‘Irbadhi bin Sariyah. Lalu al-‘Irbadhi berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat subuh. Beliau kemudian menghadap kepada kami dan menasihati kami dengan satu nasihat mendalam yang menyebabkan air mata bercucuran dan hati bergetar. Lalu seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini seakan merupakan nasihat perpisahan. Lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami?’ Beliau bersabda, “Aku mewasiatkan kepada kalian…”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur yang lain, Ibn Majah, Imam al-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Hibban dalam Shahih Ibn Hibban, al-Hakim dalam al-Mustadrak ‘ala Shahihain dan ia berkomentar, “Hadits ini shahih, dan oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Baihaqi al-Kubra.
Maknanya, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, “Aku mewasiatkan kepada kalian, hendaklah selalu bertakwa kepada Allah.” Ini menunjukkan wajibnya takwa secara mutlak, dalam hal apa saja, dimana saja dan kapan saja.
Kemudian Beliau bersabda, “Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnah (jalan/jejak langkah)-ku dan sunnah (jalan/jejak langkah) Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah padanya dan gigitlah itu erat-erat dengan gigi geraham.” Sunnah dalam hadits ini menggunakan makna bahasanya, yaitu thariqah (jalan/jejak langkah). Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kita untuk mengambil dan berpegang teguh dengan jejak langkah Beliau dan Khulafa’ur Rasyidin. Perintah ini mencakup masalah sistem kepemimpinan, karena konteks pembicaraan hadits ini adalah masalah kepemimpinan. Artinya,  hadits ini merupakan perintah agar kita mengikuti corak dan sistem kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, yaitu sistem Khilafah. Beliau sangat menekankan perintah ini dengan melukiskan (dengan bahasa kiasan) agar kita menggigitnya dengan gigi geraham.
Hal itu dibuktikan dengan apa yang dilakukan oleh para shahabat radhiyallahu ’anhum. Mereka semua mengikuti contoh Nabi Muhammad dalam hal pemerintahan. Itulah bukti cinta kepada Nabi, yakni menghidupkan sunnah-nya,
مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Thabarani)
Penutup
Mengatakan bahwa khilafah adalah ajaran Islam namun tidak memiliki konsep baku, tidak boleh diikuti, dan bukan sebuah sistem tatanegara, adalah kesalahan yang amat fatal. Khilafah memiliki konsep baku yang amat jelas. Khilafah juga merupakan warisan Rasulullah yang wajib diikuti. Disamping itu, khilafah adalah ajaran Islam yang bermakna sebuah sistem pemerintahan dalam Islam dan meniscayakan sebagai konsep tatanegara sebagaimana yang dipahami dewasa ini. Hal itu didukung fakta bahwa Islam menetapkan berbagai macam hukum yang mengharuskan peran sebagai sebuah negara. Wallahu a’lam.[]



Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.
Ketua LBH Pelita Umat


Politikus PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno menyebut kasus dugaan penistaan Agama oleh Sukmawati yang membandingkan Rasulullah Muhammad SAW dengan Soekarno agar tidak dilanjutkan. Hendrawan meminta perkara itu tidak perlu diperpanjang, karena dia percaya kalau Sukmawati tidak bermaksud untuk menistakan agama. (17/11/2019).

Sukmawati sendiri menyebut dirinya tidak sedang membandingkan, dan tidak pula menyebut kata jasa. Sukmawati menjelaskan video itu merekam momen ketika ia sedang berbicara di forum anak muda yang mengusung tema membangkitkan nasionalisme, menangkal radikalisme, dan memberantas terorisme.

Dalam ceramah itu, Sukmawati membahas soal perekrutan teroris. Sukmawati mengatakan berdasarkan informasi yang ia terima, ada kelompok teroris melempar sejumlah pertanyaan saat proses perekrutan. Kemudian, Sukmawati mengajukan pertanyaan kepada mereka adalah mana lebih bagus antara Alquran atau Pancasila.

Selanjutnya, Sukmawati mengaku bertanya sejarah perjuangan mengingat forum tersebut memang digelar masih dalam rangka Hari Pahlawan. Dia lantas bertanya, siapa yang berjuang untuk kemerdekaan. Nabi yang mulia Muhammad atau Sukarno. Sukmawati berdalih hanya ingin tahu, apakah anak muda zaman sekarang itu tahu sejarah bangsanya atau tidak. Atau hanya tahu sejarah Nabi yang mulia Muhammad saja.

Dalam diskursus hukum pidana, pertanggungjawaban pidana memang hanya diberikan kepada orang apabila seseorang yang melakukan perbuatan pidana itu melakukan kesalahan dan tidak ada alasan pembenar maupun pemaaf. Mengenai ada tidaknya kesalahan ini, dikenal adagium "Geen Starft Zonder Schuld", yakni "tiada pidana tanpa kesalahan".

Adapun niat, hanyalah salah satu unsur saja untuk menentukan ada tidaknya  kesalahan. Kesalahan kasus Busukma dikembalikan pada pasal yang menjadi dasar sangkaan.

Kasus Sukmawati dilaporkan kepada Pihak kepolisian bernomor LP/7393/XI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum pada 15 November 2019 atas nama pelapor Ratih Puspa Nusanti, dimana Pasal yang dilaporkan yakni tentang tindak pidana penistaan agama Pasal 156a KUHP.

Pasal 156a KUHP berbunyi :

"Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalah-gunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia".

Unsur "barang siapa yang dengan sengaja" maksudnya adalah perbuatan seseorang yang dilakukan dengan niat untuk melakukan atau agar terjadinya suatu perbuatan. Perbuatan dimaksud adalah perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalah-gunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Untuk meneliti apakah seseorang ada 'niat' dengan sengaja melakukan perbuatan, KUHP kita menganut perspektif objektif bukan subjektif. Maksudnya, ada tidaknya niat bukan dikembalikan kepada pernyataan pelaku atau pembuat perbuatan akan tetapi dikembalikan pada objek perbuatan.

Dalam hal seseorang melakukan sesuatu dengan sengaja (ada niat) dapat dibedakan ke dalam 3 (tiga) bentuk sikap batin, yang menunjukkan tingkatan dari kesengajaan sebagai berikut:

1. Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (dolus directus). Dalam hal ini pembuat bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang.

2. Kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn atau noodzakkelijkheidbewustzijn). Dalam hal ini perbuatan berakibat yang dituju namun akibatnya yang tidak diinginkan tetapi suatu keharusan mencapai tujuan, contoh Kasus Thomas van Bremenhaven.

3. Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voorwaardelijk-opzet).

Dalam hal ini, Sukmawati patut menginsyafi tindakannya yang membandingkan Rasulullah Muhammad SAW dengan Soekarno dalam konteks perjuangan kemerdekaan di awal abad ke 20 meskipun diklaim tidak ada niat melecehkan Nabi, namun akibat yang tidak diinginkan pasti terjadi. Yakni, adanya perasaan keagamaan umat Islam yang tercederai oleh tindakan Sukmawati.

Sebagai orang yang dewasa, tidak gila, cakap hukum dan dapat dikenai pertanggungjawaban pidana maka Sukmawati memiliki kesadaran akan adanya kemungkinan tercederainya agama Islam atas tindakannya yang membandingkan Rasulullah Muhammad SAW dengan Soekarno. Baik dengan teori sadar kepastian maupun sadar memungkinkan, Sukmawati memiliki niat (sengaja) untuk melakukan perbuatan yang menistakan agama Islam melalui pernyataannya yang membandingkan Rasulullah Muhammad SAW dengan Soekarno.

Terlebih lagi, ini bukan pertama kalinya Sukmawati bermasalah dalam mengeluarkan statement yang menyerang kesucian agama Islam. Pada kasus pertama, Sukmawati merendahkan syariah, kewajiban jilbab dan seruan azan. Pengulangan ini, mengkonfirmasi sikap batin Sukmawati yang memiliki niat jahat (kebencian) terhadap agama Islam.

Alasan ingin mengetahui apakah audien tahu sejarah perjuangan bangsa, juga bisa dilakukan dengan redaksi lain. Jika harus dengan methode perbandingan, Sukmawati bisa mengajukan perbandingan yang lain. Tak harus menyandingkan Rasulullah SAW dengan Soekarno.

Misalnya, Sukmawati mempertanyakan apakah SBY atau Soekarno yang berjuang pada awal abad ke-20 dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Model perbandingan seperti ini lebih etis, dan tidak mencederai Marwah dan wibawa agama Islam.

Adapun tentang unsur ada tidaknya penodaan agama, secara objektif juga bukan dikembalikan pada pelaku yakni perbuatan Sukmawati akan tetapi dikembalikan pada fatwa keagamaan. Dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah institusi yang memiliki otoritas penuh untuk menentukan ada tidaknya 'unsur menista agama' bukan dikembalikan pada pengakuan atau pernyataan Sukmawati.

Penistaaan agama adalah kasus serius, karenanya aparat penegak hukum wajib sigap untuk segera mengambil tindakan. Disamping itu MUI juga wajib segera bersidang untuk mengeluarkan fatwa keagamaan, sebagai dasar tindakan lebih lanjut untuk memproses secara hukum Sukmawati.

Negara kita adalah negara hukum, karena itu kasus ini harus segera dibawa ke pengadilan. Biarlah hakim yang memutus perkara. Jika kasus ini diamputasi tidak sampai ke persidangan, dikhawatirkan akan timbul kemarahan umat dan bisa saja umat mengambil tindakan diluar hukum, hak ini tentu tidak kita harapkan. [].


Bulan Rabiul Awal menjadi bulan yang spesial bagi umat Islam. Di bulan itu lahir manusia yang agung bernama Muhammad Saw. Banyak orang dan kelompok yang merayakan Maulid Nabi Saw. Tak terkecuali Komunitas Niru Nabi juga ikut memeriahkan bulan Maulid ini.
Hari Ahad tanggal 17 November 2019, komunitas ini menyelenggarakan kegiatan Maulid Nabi dengan tema "Cinta Nabi Cinta Syariah". Momen ini sangat penting bagi umat Islam untuk kembali meneladani Rasulullah Saw sebagai suri tauladan sepanjang masa.
Kegiatan yang diselenggarakan di Wonosobo ini mengundang Ust. Ismail Yusanto sebagai pembicaranya. Setelah diawali dengan pembukaan, Pembacaan Ayat suci Al-Quran, dan sambutan beliau memberikan tausiyah kepada ratusan jamaah yang hadir dari berbagai daerah mulai Purworejo, Magelang, Kebumen dan Wonosobo.


Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan tentang hakikat cinta. Bahwa cinta tidak hanya cukup sekedar di dalam hati saja, tetapi perlu dibuktikan dalam perbuatan. Cinta itu ada dalam hati, tapi pembuktian cinta dilihat dari perbuatan. "Kalau kita cinta pada Nabi tidak cukup hanya dihati, tetapi juga dibuktikan dengan patuh tunduk terhadap semua risalah yang dibawa beliau." Tegas Ust. Ismail.
Beliau juga mengingatkan kepada kita untuk senantiasa bershalawat kepada Rasulullah Saw. Karena itu adalah salah satu bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad Saw. Namun lebih dari itu, beliau mengungkapkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah juga harus kita buktikan dengan juga mencintai risalah yang dibawa oleh Rasulullah yaitu syariah Islam.



Mencintai Nabi Saw. berarti juga mencintai semua yang berasal dari beliau. Termasuk syariah yang dibawa oleh Rasulullah. Kita juga tidak boleh pilih-pilih dalam menjalankan syariah Islam. Karena semuanya adalah ajaran Islam. "Jangan sampai kita merasa mencintai Rasulullah tetapi kita menolak syariah yang dibawa oleh beliau." Tukas Ust. Ismail.
Acara yang berlangsung sampai jam 11.30 WIB tersebut berlangsung dengan suasana yang menyenangkan dan penuh ilmu. Ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ust. Ahmad Zain, acara tersebut berjalan dengan lancar dan khidmat. Alhamdulillah.[] Masdhik



DakwahJateng-, Jum’at (15/11/2019) Masyarakat Semarang yang tergabung dalam komunitas Cinta Nabi Cinta Syariah mengadakan Tabligh Akbar memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Acara diawali dengan pembacaan Sholawat Oleh KH. Nasrudin kemudian dilanjutkan dengan tausiah inti dari Almukarom KH. Irkham Fahmi dari Cirebon. Lebih dari 250 Masyarakat Semarang menghadiri acara tersebut.



Orang yang cinta Nabi maka harus siap dengan apa yang diputuskan olehnya, orang yang cinta Rosul maka harus patuh terhadap apa yang ditetapkan olehnya karena pada hakikatnya mengikuti Nabi bukan hanya sekedar mengikuti Nabi akan tetapi mengikuti Nabi sama dengan mengikuti Allah SWT.” Tutur KH. Irkham Fahmi.

Beliau juga menyampaikan kisah tentang paman nabi yaitu Abu lahab yang senang dengan kelahiran nabi Muhammad SAW. Namun ketika Rasul diutus menyampaikan risalah dari Allah SWT justru Abu lahab yang paling terdepan menentang apa yang dibawa oleh Rasul.

“Jangan Sampai Kita Sebagaimana Abu Lahab. Abu lahab pun gembira saat nabiyullah Muhammad terlahir dialam dunia. Dia panggil saudara sanak familinya, kemudian potong beberapa kambing kemudian dibagikan kepada tetangga dan saudaranya. Dia pun menyampaikan bahwa dirinya sedang bersukacita karena aku mendapat keponakan baru dialah Muhammad. Dia senang luar biasa ketika lahirnya nabiyullah Muhammad SAW. Namun ketika usia 40 tahun ditetapkanlah Muhammad SAW. Sebagai rosulullah, sebagai utusan Allah dan kemudian menyampaikan hukum-hukum Allah, menyampaikan syariat Syariat Allah. Ternyata abulahablah yang menjadi penentang terdepan apa yang disampaikan Rasulullah SAW. Abu lahab gembira akan kelahiran nabi namun abu lahab menentang syariat syariat yang disampaikan nabi.”Jelas KH. Irkham Fahmi.



Para jamaah Tabligh Akbar diajak untuk bersama sama mencintai nabi dan juga mencintai syariah yang dibawa oleh nabi, selain itu juga bersama sama memperjuangkan apa yang dibawa oleh Nabi yaitu syariah Allah SWT.

Acara yang bermula pukul 19.30 ini berlangsung khidmat. Setelah taushiyah dan doa, acara ditutup dengan doa bersama.

Image result for radikalisme
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman
Jika melihat masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia hari ini, seperti kata Mantan Wapres Jusuf Kalla, adalah masalah ketidakadilan. Bukan Radikalisme. Masalah ketidakadilan di hadapan hukum, ekonomi, politik, dan sebagainya. Dalam bahasa Rocky Gerung, Kabinet Maju ini jelas memenuhi kepentingan Oligarki.
Maka, alih-alih menyelesaikan masalah yang ada, justru membuat banyak masalah. Apa yang dinyatakan oleh Mantan Wapres memang benar, bahwa masalah Indonesia saat ini bukanlah Radikalisme. Tetapi, ketidakadilan. Mestinya inilah yang harus diselesaikan.
Umat Islam, sebagai mayoritas penduduk di negeri ini, justru terus dipinggirkan. Bahkan, dipojokkan, dituduh, dan sebagiannya telah dikriminalisasi. Bukan hanya umatnya, ajaran agamanya juga terus diserang. Setelah Khilafah, Bendera Tauhid, jihad, kini cadar, celana cingkrang, hingga pemisahan antara anak laki dan perempuan yang bukan mahram pun dipersoalkan. Ini adalah bukti, bahwa Islam dan umatnya sebagai pemegang saham terbesar di negeri ini diperlakukan tidak adil.
Bahkan, JK yang sudah berpengalaman menyelesaikan berbagai konflik di negeri ini, mulai dari Poso, Ambon, hingga Aceh, dengan tegas mengatakan, bahwa akar masalah dari semuanya itu adalah ketidakadilan. Pertanyaannya, jika masalahnya ketidakadilan, mengapa justru ini tidak diselesaikan? Lalu, ada apa di balik “genderang perang” melawan Radikalisme ini? Apakah ini yang disebut oleh Rocky Gerung, sebagai kepentingan Oligarki?
Pasca Reformasi 1998
Diakui atau tidak, umat Islam telah mengalami penindasan yang luar biasa, sejak Orde Lama hingga Orde Baru. Setelah Orde Baru tumbang, tahun 1998, umat Islam seolah mendapatkan udara segar. Sejak saat itu, tuntutan penerapan syariat Islam menggema di seantero negeri yang mayoritas Muslim ini. Bahkan, berbagai survey membuktikan terjadinya kenaikan yang luar biasa. Puncaknya, 2007, ketika umat Islam mengadakan perhelatan Konferensi Khilafah Internasional di GBK, Jakarta.
KKI 2007 ini menggetarkan singgasana penguasa, baik Muslim maupun non-Muslim di seluruh dunia. Tak lama, berselang, pernyataan dari berbagai pemimpin dunia muncul. Setelah itu, NIC mengeluarkan Prediksi akan kembalinya Khilafah tahun 2020. Pendek kata, ancaman Khilafah, sejak saat itu dianggap sebagai ancaman serius.
Arab Spring yang terjadi sejak 2011, yang menjalar di beberapa wilayah Timur Tengah, diikuti dengan Revolusi di Suriah, berhasil dimanfaatkan oleh Barat untuk menciptakan ISIS. Dimulai dari Irak, kemudian bermutasi di Suriah, ISIS yang sebenarnya fabricated itu dipakai untuk menciptakan monster tentang Khilafah. Terbukti, ISIS sudah tidak ada, tetapi hantu “Khilafah ISIS” terus digunakan untuk menakut-nakuti kaum Muslim tentang Khilafah. Padahal, hampir semua umat Islam tahu, bahwa ISIS bukan Khilafah, dan Khilafah bukan ISIS.
Khilafah sebenarnya sudah menjadi bagian dari Islam, dan sejarah umat Islam. Sejak Khilafah runtuh, 3 Maret 1924, memang umat Islam nyaris melupakannya. Karena Barat telah berhasil mensihir umat Islam dengan mantra “Nation State”, “Negara Demokrasi”, dan sebagainya. Sebaliknya, Khilafah distempel dengan stempel negatif, “The Sick Man”, dan sebagainya.
Tetapi, setelah berbagai krisis yang menimpa dunia Islam, dan dakwah Khilafah yang dilakukan siang malam, akhirnya Allah menyampaikan urusan-Nya, sampai pada tahapan seperti saat ini. Ketika semua orang, mulai dari pejabat hingga rakyat jelata, fasih bicara Khilafah, baik dengan konotasi positif maupun negatif. Para pengembannya pun tak hanya dari satu kelompok, sebut saja, Hizbut Tahrir, tetapi nyaris semua kelompok.
Meminjam istilah Ustadz Budi Azhari, “Ini memang sudah zamannya.” Siapa yang menyampaikan urusan ini sampai pada tahapan seperti ini? Bukan Hizbut Tahrir, tetapi Allah. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Sesungguhnya Allah Maha Menyampaikan urusan-Nya. Sungguh Allah telah menjadikan setiap sesuatu memiliki kadar ukurannya.” [Q.s. at-Thalaq: 03]
Ketika Khilafah telah menjadi opini umum di tengah umat, diikuti dengan kesadaran umum, yang ditandai dengan kesadaran akan kembalinya Fase Kelima, “Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah”, setelah Fase Keempat, “Mulkan Jabariyyan”, yang telah tumbuh di tengah umat Islam, khususnya di kalangan terdidik, dan perkotaan, sebagai pusat perubahan, maka inilah yang menciptakan ketakutan luar biasa.
Bukti kesadaran itu diikuti dengan maraknya semangat keberislaman, dan hijrah, yang diikuti dengan perubahan gaya hidup, seperti gerakan anti riba, anti pacaran, dan sebagainya. Semuanya ini jelas telah mengancam kepentingan kaum Kapitalis dan Komunis. Bahkan, ancaman itu semakin nyata, ketika umat Islam berhasil melakukan konsolidasi dalam acara 212, yang diikuti dengan Reuni 212, baik Reuni 1 maupun 2.
Dari sini, kita paham, siapa yang sesungguhnya terancam? Jelas Oligarki, atau negara penjajah, baik asing maupun aseng, yang ada di balik kekuasaan. Bagi Oligarki, Islam dan umatnya jelas merupakan “batu karang”, yang bisa menghancurkan kapal kekuasaan mereka. Karena itu, umat Islam harus dijadikan “tempe”, agar tidak mengancam kepentingan mereka.
Proyek Radikalisme dan Pertempean
Jelas ke mana arah Proyek Radikalisme ini. Proyek ini merupakan “Proyek Pertempean” umat Islam. Dengan kata lain, dengan Proyek Radikalisme ini, umat Islam yang menjadi batu karang ini hendak dijadikan tempe, agar tidak bisa menjadi penghalang yang akan mengancam kepentingan mereka untuk menguasai negeri ini. Tetapi, pertanyaannya, apakah mereka akan berhasil?
Sejarah membuktikan, bahwa serangan sedahsyat apapun tak akan bisa mengalahkan umat Islam, yang mempunyai akidah Islam yang luar biasa dahsyat. Bagaimana penduduk Syam, seperti Suriah, yang dibantai dari berbagai penjuru, hingga kini masih bisa bertahan. Penduduk Palestina, juga sama, bahkan selama puluhan tahun hidup di bawah pendudukan Yahudi, tetap tak bisa ditundukkan. Sejarah Indonesia, yang dijajah Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang hingga 350 tahun tetap tidak bisa ditundukkan.
Semua ini karena umat Islam mempunyai akidah Islam. Andai bukan umat Islam, pasti mereka sudah punah. Sejarah ini bukan sekali dua kali. Lihat, bagaimana pembantaian kaum Kristen Spanyol terhadap umat Islam di sana, begitu juga kejahatan rezim Komunis Uni Soviet terhadap umat Islam di wilayahnya. Semuanya tak bisa membumihanguskan Islam dan umatnya. Lihatlah, ketika Tatar membantai 1,5 juta jiwa di Baghdad, karena pengkhianatan Wazir al-Qumi, penganut Syiah fanatik, dan 35 tahun mereka menguasai umat Islam, nyatanya tak mampu mengalahkan umat Nabi Muhammad. Justru Tatarlah yang kemudian berbondong-bondong masuk Islam.
Itulah sejarah Islam dan umatnya. Karena itu, proyek-proyek seperti ini tidak akan pernah bisa mengalahkan Islam dan umatnya. Paling-paling hanya bisa memengulur-ulur waktu, memberikan nafas kepada mereka, yang sudah kehabisan nafas, untuk bisa mengulur waktu. Sementara Islam dan umatnya tetap tak terkalahkan. Begitu juga pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan oleh segelintir umat Islam tidak akan pernah bisa mengalahkan Islam dan umatnya. Begitulah sejarah Islam dan umatnya ini terjadi di masa lalu, kini dan yang akan datang.
Semuanya itu, karena Islam dijaga oleh Allah. Allah menjaga Islam dengan melahirkan generasi khaira ummah, generasi kesatria, yang luar biasa. Generasi ini selalu ada dalam sepanjang sejarah. Meski kelahirannya tidak dengan sendirinya, tetapi harus dilahirkan. Tetapi, mereka selalu ada dalam setiap sejarah kebangkitan, kemenangan dan kejayaan Islam.
Jika generasi Shalahuddin al-Ayyubi lahir dari Madrasah Nidzamiyah yang dibangun oleh Hujatu al-Islam al-Imam al-Ghazali, kemudian diteruskan oleh Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani, maka begitu juga generasi Muhammad al-Fatih lahir dari Madrasah ‘Aq Syamsudin dan Ahmad al-Qurani.
Dari sini kita paham, mengapa Proyek Deradikalisasi, yang tak lain adalah Proyek Sekularisasi Radikal, atau Proyek Pertempean, itu diikuti dengan Kriminalisasi Ulama’? Karena, ulama’ adalah mesin yang akan menggerakkan, dan mencetak generasi-generasi Shalahuddin al-Ayyubi dan Muhammad al-Fatih berikutnya.
Mereka bukan ulama’ biasa, tetapi ulama’ Rabbani. Ulama’ yang mempunyai kesadaran politik, karena tanggungjawabnya kepada Allah, Rasul dan kaum Mukmin.
Ya Rabb, lindungilah agama-Mu!
Ya Rabb, jaga dan lindungilah para ulama’ pewaris Nabi-Mu!
Ya Rabb, selamatkanlah umat Nabi-Mu!
Hanya Engkau yang Kami Punya!
Hanya kepada-Mu, tempat kami berserah diri!

Related image

Oleh: Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Teguran berakhir tragis. Seorang guru di Manado ditikam muridnya lantaran si murid tak terima ditegur merokok oleh sang guru. Alexander Warupangkey (54), guru SMK Ichtus tersebut, akhirnya tewas di tangan murid sendiri. Peristiwa yang kembali mencoreng wajah pendidikan.
.
Di tahun 2018, kejadian serupa juga terjadi pada seorang guru SMA Sampang. Ahmad Budi Cahyono meninggal setelah dianiaya muridnya. Berawal dari teguran sang guru karena si murid tak menghiraukan pelajaran sepanjang kelas berlangsung. Terjadilah perdebatan antarkeduanya, hingga sang guru mengalami penganiayaan dan berujung pada kematian.
.
Kasus semacam ini bukanlah hal baru. Potret buram pendidikan dengan berbagai macam kasusnya menoreh duka panjang dunia pendidikan. Generasi tak lagi berkarakter mulia. Moralnya rusak dan bejat.
.
Bagaimana nasib bangsa bila generasi masa depan sudah luluh lantak diterjang pola pikir dan pola sikap yang jauh dari agama?
Revolusi mental yang digagas pemerintah faktanya tak mampu membendung kerusakan yang sudah mengakar. Inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi seorang Nadiem Makarim selaku Mendikbud.
Dalam menjawab tantangan itu, ia mengungkap program-program prioritas miliknya selama menjabat sebagai menteri. Pertama, melakukan penyisiran anggaran dan aktivitas mulai dari sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi (PT). Kedua, memeriksa struktur kelembagaan untuk mendukung pembelajaran siswa. Ketiga, menggerakkan program revolusi mental milik Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui suatu konten pembelajaran. Keempat, pengembangan teknologi.
Mengenai anggaran pendidikan, meski terbesar di APBN 2019 yakni 20% dari belanja APBN, pendidikan layak belum merata ke semua rakyat. Masih saja ada kondisi miris terkait bangunan sekolah rusak, gaji guru honorer yang minim, serta fasilitas pendidikan yang sangat terbatas.
Dari sisi sarana dan prasarana, pemerintah belum menyamaratakan pemberian itu ke semua sekolah. Tak heran bila sistem zonasi yang diterapkan menuai banyak polemik di masyarakat.
Adapun tentang revolusi mental, efektivitasnya dalam membangun generasi berkarakter dan berakhlak mulia masih diragukan. Revolusi mental yang digagas Jokowi belum mampu menyelamatkan generasi dari seks bebas, narkoba, kekerasan, tawuran, aborsi, perundungan, hingga nilai kejujuran. Revolusi mental tak ubahnya jargon kosong yang tak bermakna.
.
Jika memang mau merevolusi mental generasi, harusnya diketahui sumber masalah kerusakan generasi. Setelah mengkaji dan mengetahui sumber masalahnya, barulah memberi solusi yang mampu mengobati dan menyelamatkan mereka dari virus yang merusak akal dan jiwanya.
.
Terkait pengembangan teknologi, tak dipungkiri generasi hari ini sedang tumbuh di masa teknologi canggih. “Ajarilah anakmu sesuai dengan zamannya,” begitu sabda Nabi.
Mengenalkan dan mengajarkan anak-anak tentang sains dan teknologi itu penting. Agar mereka semakin bertambah wawasan dan ilmunya. Sehingga mereka bisa berlaku bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.
Diharapkan teknologi yang ada tepat sasaran dan penggunaannya. Yaitu bermanfaat demi kemaslahatan manusia. Bukan malah sebaliknya di mana tak jarang kita jumpai teknologi banyak disalahgunakan. Bahkan, menimbulkan kecanduan semisal game online, konten YouTube unfaedah, hingga akses video porno.
// Pendidikan Sekuler Mengancam Generasi //
Harus diakui bahwa problem pendidikan yang terus saja bermunculan tak lepas dari akar masalah yang melingkupinya. Masalah karakter dan moral masih menjadi PR besar. Sistem sekuler menafikan peran Tuhan dalam kehidupan. Generasi semakin jauh dari nilai Islam.
Mereka justru lebih dekat dengan nilai liberal dan kental dengan nilai-nilai Barat. Buah dari kehidupan sekuler liberal yang dijalankan. Generasi kehilangan jati diri hakikinya sebagai hamba. Mereka tak lagi memiliki visi misi mulia di dunia. Kesenangan dunia seolah menjadi prioritas kehidupan.
Sistem pendidikan berbasis sekularisme hanya memproduksi manusia-manusia bebas nilai dan manusia sekuler tanpa fondasi. Sistem ini juga hanya mengajarkan arti kebahagiaan sebatas nilai materi. Alhasil, lahirlah generasi tanpa iman dan krisis moral.
Sekolah hanya untuk mengejar ijazah, kedudukan, dan materi berlimpah. Generasi dididik hanya untuk mengejar target pasar. Hal ini sesuai titah Jokowi kepada Mendikbud, yakni menyiapkan SDM siap kerja tanpa berfokus pada perbaikan karakter generasi.
// Pendidikan Mau Dibawa ke Mana? //
Meluruskan mindset pendidikan sangatlah penting, sebab dari sanalah kerangka berpikir itu lahir. Ketika mindset ini salah, maka berakibat pada kesalahan merencanakan program pendidikan. Begitu pula dengan tujuan pendidikan. Merumuskan tujuan pendidikan akan menjadi peta jalan apa dan mau dibawa ke mana pendidikan kita.
Tatkala mindset pendidikan kita berpijak pada kapitalisme, maka kerangka yang lahir dari mindset ini adalah bagaimana menjadikan pendidikan sebagai komoditas yang menguntungkan dan memiliki nilai manfaat lebih.
Saat rumusan tujuan pendidikan menyandarkannya pada basis sekularisme, maka kurikulum yang dibuat juga akan mengacu pada akidah sekuler. Dalam sekularisme, agama tak diberi ruang untuk terlibat jauh dalam kehidupan manusia, tak terkecuali bidang pendidikan.
Kalaupun ruang itu diberi, hanya sebagai pelengkap saja. Agama hanya diajarkan sebatas ibadah mahdhoh saja. Tidak lebih dari itu. Itu pun juga tidak banyak berpengaruh pada revolusi mental yang dibangga-banggakan rezim Jokowi.
Oleh karena itu, bila ingin memermak total wajah pendidikan hari ini, maka itu bergantung pada perubahan mindset dan tujuan pendidikan itu sendiri.
Jika mindset pendidikan dilandasi pemikiran kapitalis, maka pendidikan tak ubahnya ladang bisnis untuk mengejar profit. Jika tujuan pendidikan hanya berkutat pada mencetak SDM siap kerja, maka kita tidak sedang menyiapkan generasi pembangun peradaban, tapi hanya generasi ‘buruh’ yang siap bekerja memenuhi pasar industri ala kapitalis.
Maka dari itu, perlu ada revolusi pendidikan secara sistemis. Bukan sekadar permak atau perbaikan masalah yang sifatnya cabang.
// Revolusi Pendidikan dengan Islam //
M. Ismail Yusanto dalam bukunya berjudul Menggagas Sistem Pendidikan Islam menuliskan bahwa pendidikan Islam terlahir dari sebuah paradigma Islam berupa pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan dunia; sebelum dunia dan kehidupan setelahnya; serta kaitan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya. Paradigma pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari paradigma Islam.
Pendidikan dalam Islam merupakan upaya sadar dan terstruktur serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullahdan khalifah Allah di muka bumi. Itulah tujuan pendidikan Islam. Asasnya akidah Islam.
Asas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan, dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan.
Menjamurnya lembaga pendidikan Islam di tengah arus sekuler liberal, mengindikasikan bahwa pendidikan berasas sekuler tak mampu memberi penyelesaian atas persoalan pendidikan. Generasi makin merosot moralnya dan makin terkikis karakternya, bahkan hilang jati dirinya sebagai hamba.
Di masa Khilafah Islam telah banyak lahir generasi cemerlang yang unggul. Tak hanya unggul dalam ilmu saintek, mereka pun sukses menjadi ulama yang faqih fiddin. Keseimbangan ilmu ini terjadi karena Islam dijadikan asas dan sistem yang mengatur dunia pendidikan.
Dalam lintas sejarah Islam, pendidikan Islam mengalami kejayaan dan kegemilangan yang diakui dunia internasional. Lembaga pendidikan tumbuh subur, majelis-majelis ilmu di selasar masjid yang membahas berbagai ilmu pengetahuan pun bertaburan.
Masjid saat itu menjadi pusat keilmuan dan kegiatan belajar mengajar. Bermunculan para ulama sekaligus ilmuwan yang terintegrasi ilmu eksak dan agama.
.
Sebutlah Imam Syafi’i. Tak hanya ahli ushul fikih, beliau juga fakih dalam ilmu astronomi. Ada pula Ibnu Khaldun, bapak pendiri historiografi, sosiologi, dan ekonomi. Beliau pun hafal Alquran sejak usia dini. Tak hanya ekonomi, beliau juga ahli dalam ilmu politik. Lalu ada Ibnu Sina, sang bapak kedokteran sekaligus ahli filsafat, Jabir Ibnu Hayyan ahli kimia, Ibnu al-Nafis bapak fisiologi peredaran darah, dan masih banyak lainnya.
Ilmuwan-ilmuwan itu tak hanya cakap dalam sains namun juga berperan sebagai ulama besar. Ilmu dunia dan akhirat berpadu demi kemaslahatan hidup manusia. Begitulah kecemerlangan Islam saat diterapkan.
Maka dari itu, bila ingin mengembalikan generasi emas kejayaan Islam di masa lalu, maka mau tidak mau harus mengadopsi sistem yang diterapkan kala itu. Sistem pendidikan Islam telah membuktikan generasi unggul tidak lahir dari sekularisme. Generasi unggul hanya lahir dari sistem yang berlandaskan akidah Islam.
Fakta membuktikan bahwa pendidikan di bawah asuhan kapitalisme dan sekularisme hanya memproduksi manusia-manusia minus nurani. Revolusi mental hanya akan terwujud nyata tatkala Islam menjadi aturan berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Paket lengkap itu hanya bisa diterapkan dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam. []

Image result for fakta khilafah

Oleh: Arief B. Iskandar

Tidak dipungkiri (kecuali oleh mereka yang percaya ilusi), saat wafat, salah satu ‘harta ber-harga’ yang diwariskan Baginda Rasulullah saw. kepada umat ini adalah Daulah Islam (Negara Islam)., yang kemudian dikenal dengan Khilafah Islam. Dalam Negara Islamlah, penerapan Islam betul-betul nyata, dan Islam berkembang pesat sekaligus menguasai seluruh jazirah Arab. Negara semacam inilah yang kemudian diwarisi Khalifah Abu Bakar ra., sesaat setelah Baginda Nabi saw. wafat. Pada masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar ra, Islam semakin menyebar ke luar jazirah Arab.
Setelah Abu Bakar ra. wafat, Umar bin al-Khaththab ra. diangkat menjadi khalifah. Pada masanya, Kota Damaskus (Syria) berhasil dikuasai. Pasukan Muslim berhasil menembus benteng Aleppo. Kaisar Herak-lius terpaksa mundur ke Konstantinopel meninggalkan seluruh wilayah Syria yang telah lima abad dikuasai Romawi.
Penguasa Yerusalem juga menyerah. Khalifah Umar ra. lalu berangkat ke Yerusalem. Kaum Gereja Syria dan Gereja Koptik-Mesir bahkan begitu mengharapkan kedatangan Islam. Sebab, semasa kekuasaan Romawi mereka sangat tertindas.
Islam segera menyebar dengan cepat ke arah Memphis (Kairo), Iskandariah hingga Tripoli. Ke wilayah Timur, pasukan Muslim juga merebut Ctesiphon, pusat Ke-rajaan Persia pada 637 Masehi. Dari Persia, Islam menyebar ke wilayah Asia Tengah; mulai Turkmenistan, Azerbaijan bahkan ke timur ke wilayah Afganistan sekarang.
Tibalah Utsman bin Affan ra. diangkat sebagai khalifah berikutnya setelah Umar ra. wafat. Untuk pertama kalinya, Islam mempunyai armada laut yang tangguh. Muawiyah bin Abu Sufyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal dipakainya untuk mengem-bangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur. Konstantinopel pun sempat dikepung.
Berikutnya, penerus Khalifah Utsman ra., adalah Khilafah Ali bin Abi Thalib ra. Pada masanya, meski sempat dilanda ‘krisis politik’, Islam dan kekuasaannya semakin mantap.
*Kekhilafahan Umayah (661-750 M)*
Pada masa Muawiyah, kekuasaan melebar ke Barat hingga Tunisia yang berada di seberang Italia. Di Timur, wilayah kekuasaan telah menjangkau seluruh tanah Afganistan sekarang. Wilayah Asia Tengah seperti Bukhara, Khawarizm, Ferghana hingga Samarkand mereka kuasai. Pasukan Umayah bahkan menjangkau wilayah Sind dan Punyab di India dan Pakistan.
Dengan rentang wilayah kekuasaan yang sangat luas pada abad ke-8 M tersebut, saat itu Kekhilafahan Islam merupakan kekuasaan yang paling besar di dunia, mengalahkan kekuasaan besar lainnya, yakni Dinasti Tang di wilayah Cina dan Kerajaan Romawi yang berpusat di Kons-tantinopel.
Pada masa ini pula, Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720) berhasil mensejahterakan seluruh rakyatnya tanpa kecuali. Saat itu, tidak ada seorang pun yang mau menerima pembagian harta zakat.
*Daulah Abbasiyah (750-1258 M)*
Pada masa ini, Baghdad dibangun sebagai pusat peradaban. Sains dan teknologi berkembang pesat. Kemak-muran masyarakat terwujud pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-785). Program irigasi berhasil meningkatkan produksi pertanian berlipat kali. Jalur perdagangan dari Asia Tengah dan Timur hingga Eropa melalui wilayah Kekhalifahan Abbasiyah berjalan pesat. Pertambangan emas, perak, besi dan tembaga berjalan dengan baik. Basrah di Teluk Persia tumbuh menjadi satu pelabuhan terpenting di dunia.
Puncak peradaban Islam terjadi pada masa Harun ar-Rasyid (786-809 M). Bukan hanya kemakmuran masyarakat yang di-capai, namun juga pendidikan, kebu-dayaan, sastra dan lain-lain.
Masa keemasan ini dilanjutkan oleh Al-Ma’mun (813-833). Dia mendirikan ba-nyak sekolah. Ia mendirikan pula “Bait Al-Hikmah”, perpustakaan sekaligus pergu-ruan tinggi. Hingga Khalifah al-Mutawakkil (847-861).
Pada awal masa Bani Buwaih (945-1055), kemakmuran kembali berkembang di wilayah Kekhalifahan Abbasiyah. Banyak intelektual bermunculan, sebagian besar-nya bahkan menjadi rujukan di Barat sampai Abad 19.
Pada tahun 1065 dibangun Universitas Nizhamiyah di Baghdad. Inilah yang disebut model pertama universitas yang kini dikenal dunia. Di berbagai kota di Irak dan Khurasan didirikan cabang universitas ini. Pengetahuan berkembang sangat pesat. Banyak intelektual lahir pada masa ini.
Secuil kisah sukses Negara Islam atau Khilafah Islam itu benar-benar nyata, bukan ilusi, kecuali bagi mereka yang buta sejarah, atau mungkin buta mata hatinya.
WalLâhu a’lam bi ash-Shawâb. []

Hasil gambar untuk tol laut jokowi"

Dalam rapat terbatas yang bertopik Penyampaian Program dan Kegiatan di Bidang Kemaritiman dan Investasi, Rabu (30/10/2019), Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengklaim program tol laut diapresiasi banyak pihak. Namun, Jokowi juga terlihat kesal karena pengiriman barang dan rute program tol laut justru dikuasai perusahaan swasta.
“Tapi akhir-akhir ini, rute-rute yang ada itu, barang-barangnya dikuasai swasta tertentu. Saya belum dapat ini swastanya siapa. Sehingga, harga barang ini ditentukan oleh perusahaan ini,” kata Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta, dilansir cnnindonesia.com (30/10/2019).
Jokowi mengaku telah mendengarkan aspirasi dari masyarakat dan kepala daerah yang meminta agar rute dan frekuensi kedatangan kapal-kapal ke setiap pulau bisa ditambah. Mereka juga mengeluh soal harga barang yang tak turun setelah ada program tersebut.
“Ini tolong dikejar dan diselesaikan, saya enggak tahu apakah perlu intervensi dari menteri BUMN untuk melakukan ini. Tetapi, paling tidak harus diberikan kompetisi, paling tidak ada kompetitornya,” ujarnya.
Jokowi mengingatkan tol laut bertujuan untuk menurunkan biaya pengiriman barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya dan menginginkan agar program yang diluncurkan pada periode pertamanya tersebut menguntungkan masyarakat.
“Tapi kalau dikuasai oleh satu perusahaan, ya munculnya beda lagi. Kami beri fasilitas kepada dia. Ini yang tidak kami kehendaki,” tuturnya.
Menanggapi kekesalan Jokowi tersebut, pemerhati kebijakan transportasi, Nurul ‘Ailah mengaku heran. Hal ini menurut Nurul karena konsep tol laut tersebut memang didesain untuk korporasi.
“Loh, kok kesal? Konsepnya, kan, memang didesain untuk korporasi. Begitulah konsekuensi negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalisme neoliberal,” ujar Nurul kepada MNews, Kamis (31/10/2019).
Nurul kemudian menjelaskan bahwa dalam sistem ekonomi kapitalisme neoliberal, negara hanya sebatas regulator, pelayan, dan pemberi fasilitas bagi korporasi atau swasta. Sedangkan korporasi bertindak sebagai operator di lapangan.
“Korporasilah yang jadi operator di lapangan yang akan meraup semua keuntungan,” jelas Nurul.
Negara dengan sistem ini, lanjut Nurul, memang tidak diperkenankan menjadi pelayan masyarakat secara langsung, sehingga mustahil menguntungkan masyarakat.
Nurul merekomendasikan agar mencontoh keberhasilan sistem pemerintahan Islam (Khilafah) yang terbukti berabad-abad lamanya menyejahterakan masyarakatnya.
“Kalau ingin masyarakatnya untung, berkiblatlah pada kegemilangan dan kejayaan Khilafah Islamiyah dalam kesuksesannya mengelola transportasi laut hingga menguasai perdagangan global selama berabad-abad yang menyejahterakan masyarakatnya,” pungkas Nurul. []

Hasil gambar untuk demokrasi biang korupsi"

Oleh: Afni, S.Pdi
Penangkapan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin serta jajarannya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menambah catatan buruk bagi sistem Demokrasi. Hampir seluruh kepala daerah terjaring OTT KPK. Praktek korupsi yang menggurita sejatinya dimunculkan dari sistem rusak yang bernama demokrasi, sebab demokrasi lah yang menyebabkan mahalnya biaya untuk menjadi pejabat publik, biaya kampanye dan sebagainya. Inilah yang menyebabkan para pejabat berfikir pendek untuk mengembalikan biaya yang mereka keluarkan ketika mencalonkan diri menjadi pejabat publik.
Belum lagi banyaknya pejabat publik yang melakukan praktek korupsi karena lemahnya sistem hukum yang menjerat mereka. Demokrasi membuka peluang yang sangat besar bagi pejabat publik untuk melakukan praktek korupsi karena demokrasilah biang korupsi nya.
Dalam Islam korupsi adalah perbuatan maksiat yang terlarang, Allah berfirman : "Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) hartamu itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188).
Sehingga untuk mencegah praktek korupsi ini Islam memiliki sistem yang mampu menutup serapat-rapatnya praktek korupsi, berbeda dengan sistem demokrasi yang menjadi biang praktek korupsi. Menjadi pejabat publik dalam Islam tidak memerlukan biaya yang mahal sebagaimana sistem demokrasi. Sehingga para pemimpin di dalam Islam tidak perlu berfikir bagaimana mengembalikan biaya ketika menjabat. Sebab di dalam Islam pemimpin adalah pelayan umat, yang mengurusi urusan umat, bukan mementingkan materi semata.
Sistem Islam menciptakan individu-individu yang bertaqwa, sehingga dengan ketakwaannya tersebut akan membuat pejabat publik memiliki rasa takut untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah. Bukan hanya ketaqwaan individu tetapi adanya kontrol dari masyarakat yang membuat setiap pejabat publik akan terus merasa diawasi setiap kali terbuka peluang untuk melakukan kemaksiatan. Berbeda dengan demokrasi, bukan malah menjadikan masyarakat sebagai pengontrol namun malah ikut dalam praktek korupsi sebagaimana ajudan wali kota yang seharusnya mengingatkan atasannya malah tergiur untuk mencicipi uang haram hasil korupsi.
Selanjutnya adanya sanksi yang sangat tegas yang diberikan oleh para pelaku korupsi di dalam Islam bisa sampai hukuman penjara bertahun-tahun bahkan sampai hukuman mati untuk menciptakan efek jera bagi para pelaku korupsi. Ketiga pilar ini lahir dari sistem Islam yang mampu menjamin tertutupnya pintu korupsi yang saat ini merajalela. Sudah saat nya kita mencampakkan sistem demokrasi, karena demokrasi lah biang korupsi, dan menggantinya dengan sistem Islam.
Powered by Blogger.