Kamis, [7/2/19] ribuan ummat islam solo yang tergabung dalam Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) dan sejumlah elemen umat Islam Karesidenan Surakarta menggelar aksi damai di Mapolresta Surakarta mulai pagi pukul 10.00 wib. Aksi tersebut digelar untuk mengawal penyidikan Ust. Slamet Ma'arif (Ketua PA 212) yang diduga melakukan pelanggaran UU nomor 7 tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum yaitu pasal 276 ayat 2, dimana Ust. Slamet Ma'arif diduga melakukan pelanggaran yaitu melakukan kegiatan kampanye diluar jadwal yang telah ditetapkan KPU.
Terkait dengan hal itu Ust. Slamet sendiri telah melakukan klarifikasi bahwasanya laporan tersebut didasarkan pada kehadiran beliau pada acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh PA 212 Solo 13 Januari silam, dimana orasi beliau dianggap sebagai kampanye.
Padahal menurut Ust. Slamet, beliau sama sekali tidak menyebut nama Paslon tertentu, bahkan nomor urutpun tidak. Karena itu menurut beliau, laporan tersebut tidak berdasar. Meski begitu beliau tetap bersikap kooperatif dengan tetap menghadiri undangan dari Polres Surakarta guna menjalani penyidikan.
Dalam aksi damai tersebut hadir pula Bondan Seto, Bendahara Umum PA 212. Dalam orasinya Bondan menuturkan bahwa kasus tersebut bukanlah soal hukum, tetapi soal politik. Pasalnya ada dugaan ketidakadilan hukum. Beliau mencontohkan kasus lain dimana dengan jelas Grace Natalie selaku Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) diduga melakukan pelanggaran kampanye tetapi tidak ada tindakan lebih lanjut mengenai hal ini. Ini menimbulkan dugaan pemberlakuan hukum yang berat sebelah.
Ust. Slamet Ma’arif terlihat didampingi sejumlah tokoh, seperti Haikal Hasan, Amien Rais, Mahendradatta, Ketua Gerakan nasional Pengawal fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Martak, dan Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Ustadz Muinuddinillah Basri.
Penyidikan kasus Ust. Slamet Ma'arif ini memperkuat dugaan kriminalisasi ulama dan tokoh umat islam, yang cenderung oposisi terhadap Rezim Penguasa. Maka para peserta aksi juga menyuarakan agar rezim berhenti melakukan kriminalisasi ulama dan tokoh umat. Aksi bubar setelah pemeriksaan berakhir sekitar pukul 16.30 WIB. [aj]

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.