Image result for AS China

Aji Salam
(Praktisi Ekonomi)

"Tidak ada yang bisa menerka cepat lambat. Yang bisa tahu cuma satu orang, Trump aja yang bisa. Hari ini mau twitter apa, karena ini semua Trump yang membuat ini kacau balau keadaan Cina," ujar JK saat menjadi narasumber Kadin Talk di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (31/1), republika.co.id.

Diketahui, AS berencana untuk kembali menaikkan tarif atas barang-barang impor dari China bulan depan jika tidak terjadi kesepakatan antara kedua negara. Menurut studi UNCTAD, selain akan memicu kemerosotan ekonomi, hal itu juga akan menyebabkan sekitar USD200 miliar ekspor China diambil alih oleh negara-negara lain.

United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD), organisasi yang menangani isu perdagangan dan pembangunan di bawah PBB, memperingatkan bahwa jika berlanjut, perang dagang AS-China akan berdampak sangat negatif. AS diketahui telah memungut bea tambahan antara 10% dan 25% atas barang-barang China senilai USD250 miliar tahun lalu dengan alasan China melakukan praktik perdagangan yang tidak adil. Tarif 10% tersebut rencananya akan naik menjadi 25% kecuali ada kemajuan signifikan pada kesepakatan dagang sebelum 1 Maret mendatang.

Ini berpotensi terjadi ada perang mata uang dan devaluasi, stagflasi yang mengarah pada kehilangan pekerjaan dan pengangguran yang lebih tinggi dan yang lebih penting, kemungkinan efek penularan, atau apa yang kita sebut efek reaksioner, yang mengarah ke riam langkah distorsi perdagangan lainnya.

Dalam perang dagang ini siapakah yang menang? Diketahui Amerika memiliki utang sangat besar. Majalah Amerika, Washington Examiner pada 1-10-2018 menyebutkan, “utang pemerintah Amerika meningkat lebih dari 1,2 tiliun Dollar selama satu tahun fiskal yang berakhir pada 30 September 2018. Hal itu menurut website pemerintah yang memonitor utang. Utang nasional Amerika pada akhir tahun fiskal 2017 telah mencapai 20,25 triliun Dollar dan pada akhir tahun fiskal 2018 mencapai 21,52 triliun Dollar…”.

Akumulasi utang Amerika selama sepuluh tahun ini telah membawa negeri ke dalam kesulitan finansial. Dikarenakan cepatnya akumulasi utang pemerintah Amerika setelah krisis 2008, total utang pemerintah Amerika melompat dari 8 triliun Dollar menjadi 21 triliun Dollar sekarang ini maka kesulitan finansial Amerika menjadi akut. Itulah yang disebut oleh Bolton sebagai bahaya terhadap keamanan nasional dan perlu penyelesaian cepat, yakni dalam jangka pendek dan menengah, bukan jangka panjang
Berhadapan dengan realita ini maka ruang yang masih tersisa di depan. Amerika untuk mengelola pendanaannya adalah dengan makin menyuntikkan likuiditas (mencetak Dollar). Penyuntikan likuiditas dengan kuantitas yang memenuhi pendanaan negara apalagi pembayaran utangnya akan menyebabkan runtuhnya Dollar, atau yang disebut oleh menteri keuangan Amerika “Dollar lemah – a weak Dollar -”. Itu artinya, negara-negara di dunia yang bertransaksi menggunakan Dollar dalam perdagangannya, dan cadangan mata uangnya, serta obligasi Amerika yang dimilikinya, akan kehilangan kekayaannya dengan kadar yang sama dengan melemahnya Dollar. Artinya akan terjadi pukulan kuat terhadap negara-negara itu.

Terlepas dari Demokrat atau Republik yang mengendalikan Kongres, kenyataan bahwa ekonomi AS dalam keadaan yang mengerikan, dengan 22 triliun dollar utang tumbuh setiap hari, AS tidak memiliki uang untuk membiayai ekonomi mereka. AS dan China sendiri terseok dengan perang dagang keduanya dan lainnya.

Di AS, Trump punya kebijakan untuk menghentikan warga non-Amerika untuk bekerja di AS, penarikan bantuan dan pasukan dari Suriah dan Afghanistan, yang biayanya tinggi untuk bertahan, jelas bahwa AS menderita akibat situasi ekonomi saat ini.

Apa yang lebih penting untuk membuktikan bahwa sistem kapitalis runtuh tidak hanya di AS sebagai negara kapitalis terbesar tetapi di semua tempat di dunia, termasuk China. Pemerintah AS harus mengambil cara apa pun untuk menyelamatkan hal itu agar tidak terjadi. AS dan dunia hidup dalam keadaan delusi, gagal atau mengabaikan kenyataan bahwa sistem kapitalis lemah tidak akan dapat membantu mereka untuk bertahan hidup, terus hidup untuk menambal sistem untuk membuatnya bekerja.

Shutdown ekonomi di AS memang menunjukkan bahwa sistem kapitalis hanya melindungi kepentingan politisi minoritas yang kaya, sementara itu kehidupan kritis mayoritas orang yang melayani negara terus menderita. yang terburuk adalah ketika sistem demokrasi memungkinkan manusia untuk memilih UU dan membuat hukum, yang sebagian besar dipengaruhi oleh emosi, dimanipulasi untuk kepentingan pribadi, tidak bertanggung jawab dan bias kepentingan, sangat berbeda 180 derajat dibandingkan dengan aturan Allah SWT yang menciptakan manusia, yang terbukti tercipta keadilan dan bertahan lebih dari 1300 tahun.

Post a Comment

Powered by Blogger.