Image result for kafir

Oleh: Chandra Purna Irawan.,S.H.,M.H. - Ketua Eksekutif Nasional BHP KSHUMI dan Sekjend LBH PELITA UMAT

Terkait kata KAFIR yang sedang ramai diperbincangkan, setelah salah satu ormas dari hasil pertemuan mereka menyatakan bahwa terhadap orang yang beragama selain Islam jangan disebut KAFIR tetapi sebut 'warga negara'. Penyebutan KAFIR dinilai memiliki muatan kekerasan teologis.

Saya menilai dari aspek hukum akan kemungkinan yang akan terjadi dibalik opini tersebut, yaitu saya menduga kuat bahwa kata KAFIR atau apabila ada yang menyatakan Kafir kepada non muslim, berpotensi besar dapat dijerat tindak pidana SARA atau ujaran kebencian SARA.

Misalnya pada tahun 2016 organisasi dakwah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pernah mendakwahkan tentang HARAM PEMIMPIN KAFIR, yang mengakibatkan gubernur petahana kalah dalam Pilgub. Seingat saya waktu aksi tersebut menggunakan kalimat HARAM PEMIMPIN KAFIR cukup berat karena permintaan aparat agar spanduk yang menggunakan kalimat tersebut diturunkan atau disimpan

Pernyataan HARAM PEMIMPIN KAFIR pasca opini yang berkembang pada saat ini yaitu menjadikan kata KAFIR sebagai kekerasan teologis apabila dinyatakan kepada non muslim, maka pernyataan HARAM PEMIMPIN KAFIR berpotensi kuat dapat dipidana.

Padahal pernyataan HARAM PEMIMPIN KAFIR adalah berasal dari agama Islam, diantaranya  Teks al-Qur’an Surat  An-Nisaa' ayat 144, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?".

Apabila ada ustadz yang menyampaikan dalam dakwahnya "Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman" (Surah Al-anfal ayat 55).

"Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk" (Surah Al-Bayyinah ayat 6). Kemudian ada orang Kafir yang tersinggung, maka ustadz tersebut berpotensi dapat dipidana ujaran kebencian terhadap SARA.

Apabila itu terjadi yaitu menjadikan kata KAFIR sebagai tindak pidana SARA, maka telah menyempitkan gerak untuk beribadah dan menyakini apapun yang berasal dari agama. Sebagaimana telah dinyatakan pada pasal 28E ayat (1) UUD 1945 ” setiap orang bebas memeluk dan beribadat menurut agamanya..."

Apabila kata “KAFIR” dimasukkan sebagai delik pidana SARA, tentu ini sangat menyakiti kaum muslimin. Sama saja menuduh bahwa Allah SWT sebagai pembuatan kejahatan dan muslim sebagai penebar kejahatan, kebencian atau terror. Tentu ini sangat berbahaya, berpotensi menyebabkan kemarahan rakyat secara semesta. Penguasa dan Penegak hukum jangan “menepuk air didulang terpercik muka sendiri”.

Apabila kalimatnya seperti ini , “USIR ORANG KAFIR DARI KAMPUNG”,  Kalimat "USIR DARI KAMPUNG" mengandung delik pidana provokasi,  pidananya bukan pada kata/frasa 'KAFIR', kata KAFIR hanya frasa penyertaan. Kalimat "USIR DARI KAMPUNG" dapat berdiri sendiri artinya tanpa kata KAFIR tetap dapat dipidana.

Oleh karena itu saya berpendapat bahwa kata Kafir atau menyatakan Kafir kepada non muslim adalah BUKAN PERBUATAN PIDANA. Kecuali telah terjadi perselingkuhan hukum dan politik, apabila itu terjadi akan berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial yang mengakibatkan gejolak sosial berkepanjangan.

Wallahualam bishawab.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.