One Belt, One Road, Chinese strategic investment in the 21st century map.
Oleh: Fajar Kurniawan (analis senior PKAD)
Dikabarkan pemerintah Jokowi akan menyetujui proyek OBOR atau one belt one road yang diinisiasi oleh Cina. Diperkirakan tahap awal proyek raksasa OBOR Cina akan ditandatangani pada bulan ini, April 2019.
Proyek ini bagi Cina untuk mempermudah koneksi dagang antar-negara di Eropa dan Asia melalui jalur sutra maritim. dan sebelumnya dalam pertemuan Global Maritime Fulcrum Belt And Road Initiatives (GMF –BRI), Cina sudah menawarkan rancangan Framework Agreement untuk bekerja sama di Kuala Tanjung, Sumatra Utara (Sumut) sebagai proyek tahap pertama. Dilanjutkan proyek di Kawasan Industri Sei Mangkei dan kerja sama strategis pada Bandara Internasional Kualanamu, pengembangan energi bersih di kawasan Sungai Kayan, Kalimantan Utara, pengembangan kawasan ekonomi eksklusif di Bitung, Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Kura-Kura Island di Bali.
Proyek OBOR Cina diyakini bamyak kalangan dapat memberikan kerugian bagi Indonesia. dari 28 kerja sama antara Indonesia dan Cina dalam kerangka tersebut, nilainya mencapai US$91 miliar, atau lebih dari Rp 1.288 triliun.
Setelah melakukan transformasi dari ekonomi sosialisme ke ekonomi kapitalisme, saat ini yang terlihat secara fisik adalah kebangkitan Cina yang memungkinkan Cina membangun ekonomi raksasa yang memuat kemungkinan riil untuk mengancam keunilateralan ekonomi AS di dunia.
William A. Callahan dari London School of Economics menjelaskan, ambisi Cina dengan slogan “Asia for the Asian” adalah retorika baru yang jauh melampaui sekedar kerjasama ekonomi antara negara di kawasan.
Cina berambisi membangun berbagai infrastruktur baik darat, maupun pelabuhan laut maupun bandara udara di penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dalam perspektif politik dan motif ekonomi, karena Indonesia termasuk lintasan Sealane of Communications (SLOCs) yakni jalur perdagangan dunia yang tak pernah sepi yang terletak di antara dua benua dan dua samudera, juga kemungkinan besar akan digunakan sebagai fasilitas militer jika kelak meletus friksi terbuka dengan Amerika sesuai prediksi Huntington.
Sejak Xi Jinping memimpin tahun 2013, Beijing juga menerapkan kebijakan luar negeri baru, terutama di bidang ekonomi dan investasi. Strategi pengelolaan dana investasi ke luar negeri, Cina mengumumkan pembentukan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan apa yang disebut prakarsa “One Belt, One Road (OBOR)”.
Tujuan OBOR – yang juga dikenal dengan sebutan Prakarsa Jalan Sutra Baru – adalah membangun infrastruktur lintas benua. Beijing ingin memperluas jaringan dagang menuju Eropa, Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara, baik melalui darat maupun laut. Pada tahun 2014, Xi Jinping menjelaskan bahwa prakarsa baru Cina ini bukan melulu soal ekonomi dan uang, namun berlandaskan pada “nilai-nilai bersama”.
Total cadangan devisa tersebut menjadi modal yang cukup besar untuk membangun kekuatan politik dan ekonomi negara itu. Salah satu strategi yang dilakukan oleh negeri Panda itu adalah melakukan ekspansi investasi di berbagai negara. Tujuannya antara lain agar pasokan bahan baku dan energi negara itu tetap terjamin dalam jangka panjang dan pasar ekspornya terus berkembang.
Oleh karena itu, Cina secara aktif melakukan investasi dan memberikan pinjaman terutama di negara-negara berkembang yang kaya sumberdaya alam seperti di Afrika, Amerika Latin dan Asia.
Salah satu strategi yang ditempuh Cina untuk memperluas sayap bisnisnya adalah mencontek strategi negara-negara maju seperti AS dan Jepang yang memberikan bantuan hibah dan utang secara bilateral dan melalui lembaga-lembaga multilateral yang mereka kuasai, seperti World Bank dan Asia Development Bank.
Dan strategi One Belt One Road (OBOR) bermuara dari strategi String of Pearls, yaitu strategi China guna mengamankan jalur ekspor-impornya terutama suplai energi (energy security) dari negara atau kawasan asal hingga ke kawasan tujuan.
Xi Jinping melahirkan OBOR sebagai penyempurnaan String of Pearls. Dan tak boleh disangkal, bahwa salah satu cabang OBOR-nya Xi adalah melintas di selat-selat dan perairan Indonesia. Kenapa? Bila Selat Malaka diblokade oleh Amerika kelak, maka alternatif jalur paling singkat menuju Samudera Hindia, Laut Arab, dan lain-lain guna mengamankan jalur suplai energi sesuai rute String of Pearls dulu adalah Selat Sunda, atau Selat Lombok dan lainnya.
Tak ada makan siang yang gratis. Cina tidak memiliki kompetensi dalam birokrasi internasional sektor bantuan asing, yang bertujuan menyebarkan dominadi ekonomi dan politik secara halus. Beijing memperlakukan proyek-proyek infrastruktur di bawah kebijakan Belt and Road itu sebagai utang dalam bentuk konsesi jangka panjang, dimana satu perusahaan China mengoperasikan fasilitas itu dengan konsesi 20-30 tahun dan membagi keuntungannya dengan mitra lokal atau pemerintah negara setempat.
Fakta menunjukkan utang luar negeri cukup membahayakan negeri ini.
Risiko terbesarnya adalah gagal bayar utang. Zimbabwe menjadi contoh cerita yang mengenaskan. Gagal membayar utang sebesar US$40 juta kepeda Cina. Sejak 1 Januari 2016, mata uangnya harus diganti menjadi Yuan, sebagai imbalan penghapusan utang. Berikutnya Nigeria. Model pembiayaan infrastruktur melalui utang yang disertai perjanjian merugikan dalam jangka panjang. Cina mensyaratkan penggunaan bahan baku dan buruh kasar asal negara mereka untuk pembangunan infrastruktur. Begitu juga Sri Lanka. Setelah tidak mampu membayar utang, akhirnya Pemerintah Sri Langka melepas Pelabuhan Hambatota sebesar US$1,1 triliun. Tak ketinggalan Pakistan. Pembangunan Gwadar Port bersama Cina dengan nilai investasi sebesar US$46 miliar harus rela dilepas. Risiko seperti itu tidak mustahil. Bila melihat pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang dilakukan secara massif, polanya mirip dengan apa yang dilakukan oleh negara-negara yang gagal membayar utang (Rmol.co, 12/09/2018)
Utang LN membuat negara pengutang tetap miskin karena terus-menerus terjerat utang yang makin menumpuk dari waktu ke waktu. Utang luar negeri pada dasarnya merupakan senjata politik negara-negara kapitalis kafir Barat terhadap negara-negara lain, yang kebanyakan merupakan negeri-negeri Muslim.
Walhasil, proyek OBOR wajib ditolak. Indonesia harus menjadi negara mandiri. Kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dapat diwujudkan, syaratnya, penguasa negeri ini, dengan dukungan semua komponen umat, harus berani menerapkan syariah Islam untuk mengatur semua aspek kehidupan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan ekonomi. Penerapan syariah Islam secara total dalam semua aspek kehidupan.
Inilah jalan baru untuk Indonesia yang lebih baik, bukan terus-menerus mempertahankan kapitalisme-sekularisme, tergantung kepada OBOR Cina, Kerjasama berbsgsi bidang dengan AS, IMF, Bank Dunia, ABD, dan sejenisnya yang ternyata menjadi alat penjajahan.[]

muslim denmark protes
Anak-anak dari komunitas Muslim Denmark, Jum’at 19/4/2019, melakukan long march sebagai protes atas penghinaan terhadap al-Qur’an oleh seorang politisi ekstremis Denmark, dalam sebuah insiden yang kedua kalinya terjadi di negara ini. Koresponden kantor berita Anatolia melaporkan bahwa long march bergerak dari “Blaagards Plads Square”ke alun-alun Kotamadya Kopenhagen di pusat ibukota Denmark. Mereka berjalan sambil membawa al-Qur’an di tangannya, dan terus-menerus meneriakkan slogan-slogan yang menyerukan untuk menghormati al-Qur’an dan kitab-kitab yang disucikan.
Perlu diketahui bahwa aksi long march ini diselenggarakan oleh 24 organisasi masyarakat sipil, terutama Waqf al-Diniyah al-Turky (Wakaf Keagamaan Turki) Denmark, dan Masyarakat Muslim Denmark. Dengan demikian, kaum Muslim hari ini membuktikan tanpa keraguan bahwa agama mereka adalah hal yang paling berharga di dalam hidup mereka, dan bahwa mereka siap untuk mempertahankannya dengan cara apa pun.
Pada saat di mana beberapa orang Barat menunjukkan arus deras kebencian yang membabi buta terhadap Islam dan al-Qur’an. Sementara kaum Muslim menunjukkan keteguhan yang lebih besar dalam mempertahankan agama mereka meskipun orang-orang kafir tidak percaya dan membuat tipu daya 
(hizb-ut-tahrir.info, 23/4/20190).

polisi inggris
Warga Inggris yang melakukan perjalanan ke hotspot (titik panas) asing terancam hukuman 10 tahun penjara, di bawah undang-undang baru yang kontroversial. Undang-Undang Anti-Terorisme dan Keamanan Perbatasan 2019 mulai berlaku pada 19 April 2019. Undang-Undang ini menetapkan sebagai sebuah tindak pidana, yaitu memasuki atau tinggal di “zona khusus” di luar negeri. Para menteri meluncurkan langkah itu tahun lalu sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat kemampuan pihak berwenang dalam melawan ancaman pejuang asing. Undang-Undang ini membolehkan Menteri Dalam Negeri untuk menetapkan suatu daerah sebagai “zona khusus”, namun tetap tunduk pada persetujuan parlemen.
Undang-Undang tersebut juga memberikan kepada penjaga perbatasan kekuasaan untuk menangkap dan meninterogasi orang-orang tanpa kecurigaan, hanya atas dasar berurusan dengan aktivitas “negara musuh”, dan juga mengkriminalkan kegiatan menonton materi terkait (para teroris) secara online. Sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh sembilan organisasi, termasuk manual sensor dan Reporters Without Borders (Wartawan Tanpa Batas) tahun lalu, memperingatkan bahwa kriminalisasi “negara misterius” yang tercermin pada “aktivitas bermusuhan” akan memberi penjaga perbatasan kekuasaan yang luas untuk menangkap, menginterogasi dan menahan.
Para penandatangan mengatakan bahwa seorang jurnalis yang sedang dalam perjalanan dalam negeri dapat ditangkap tanpa ada kecurigaan melakukan penyimpangan apapun, dan itu akan bertentangan dengan hak jurnalis, yaitu untuk tidak menjawab pertanyaan atau menyerahkan materi tanpa perlindungan sumber-sumber rahasia.
Tampaknya banyak di Barat yang telah berubah menjadi kondisi perburuan dan pengintaian, di mana begitu banyak di antara orang ditahan, pasti anda akan menemukan seorang teroris. Meski tingkat keberhasilannya kurang dari 10%, namun penyimpangan ini akan muncul ketika terkait urusan keamanan, sehingga nilai-nilai Barat dapat ditinggalkan dalam beberapa saat (hizb-ut-tahrir.info, 22/04/2019).

china vs USA
Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China telah berkobar. Duta Besar China untuk Chili menyebut Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo sebagai “munafik” setelah Dubes China tersebut berusaha untuk membujuk negara Amerika Selatan agar bekerjasama dengan Beijing, di mana AS dan China tetap terkunci dalam perang dagang.
Utusan Beijing untuk Chili, Xu Bo mengatakan bahwa “Pompeo benar-benar telah kehilangan akal sehatnya dan tersesat jauh.” Ia menggambarkan serangan terhadap kegiatan ekonomi China di wilayah AS sebagai “kejahatan” dan “kekonyolan”.
Sementara Mike Pompeo menggambarkan investasi China di Amerika Selatan sebagai “perjanjian perangkap utang”, di mana hal itu ia sampaikan selama kunjungan ke Santiago. “Beijing sering menyuntikkan modal penghisap ke dalam aliran darah perekonomian, yang membawa kehidupan pada korupsi, dan melemahkan pemerintahan yang baik,” katanya.
AS dan China tengah memasuki perang dagang sejak Presiden Donald Trump memberlakukan tarif bea cukai pada barang-barang China. Sementara Beijing meresponnya dengan melakukan hal yang sama terhadap sejumlah produk buatan Amerika.
Hubungan antara kedua negara ini semakin bertambah tegang, terutama setelah para pejabat senior AS menuduh Beijing menggunakan perusahaan raksasa telekomunikasi, Huawei, untuk memata-matai negara-negara Barat dan warga negara biasa. Mike Pompeo berusaha untuk mencegah semua sekutu AS di Eropa dari menggunakan perangkat Huawei, ia memperingatkan bahwa ketergantungan pada teknologi China akan menghambat kerja sama mereka dengan Washington. Dengan demikian, pertempuran abad ke-21 baru saja dimulai (hizb-ut-tahrir.info, 22/04/2019)

unjuk-rasa-gema
Oleh: Eko Susanto (Barisan Advokasi Rakyat)
Indonesia harus lepas dari intervensi non militer yang berupa politik dan ekonomi. Imperialisme seperti inilah yang diterapkan AS dan sekutunya serta Cina di negeri-negeri target lainnya termasuk Indonesia.
Alat utama yang digunakan negara-negara kapitalis raksasa untuk memuluskan imperialismenya tersebut adalah globalisasi. Sehingga bagi negara-negara Dunia Ketiga yang notabene adalah negeri-negeri Muslim, globalisasi tidak lain adalah imperialisme baru yang menjadi mesin raksasa produsen kemiskinan yang bengis dan tak kenal ampun.
Jerry Mander, Debi Barker, dan David Korten tanpa ragu menegaskan, ” Kebijakan globalisasi ekonomi, sebagaimana dijalankan oleh Bank Dunia, IMF, dan WTO, sesungguhnya jauh lebih banyak menciptakan kemiskinan ketimbang memberikan jalan keluar.” (The International Forum on Globalization, 2004: 8).
Pada dasarnya, globalisasi yang dimotori AS merupakan proses menjadikan sistem ekonomi kapitalis ala Amerika Serikat sebagai sistem dominan di dunia, dengan mengintegrasikan perekonomian lokal ke dalam tatanan perekonomian global melalui privatisasi, pasar bebas, dan mekanisme pasar pada semua perekomian negara-negara di dunia.
Ini berarti penghapusan semua batasan dan hambatan terhadap arus perpindahan barang, modal, dan jasa yang bersandar pada kekuatan pengaruh Amerika Serikat. WTO, Bank Dunia, dan IMF tiada lain hanyalah alat untuk memaksakan kekuatan Amerika Serikat itu.
Atas nama pasar bebas (WTO, AFTA, APEC, Bank Dunia, IMF), negeri-negeri Muslim dipaksa membuka keran privatisasi yang luar biasa, termasuk dengan menjual asset-asset publik mereka kepada swasta asing, baik dengan alasan untuk membayar utang, maupun agar kompatibel dengan aturan-aturan internasional.
di Indonesia, lembaga-lembaga kreditor internasional tersebut melalui berbagai skema pinjaman luar negeri memainkan peran penting mendorong agenda privatisasi, melalui keluarnya berbagai produk regulasi seperti UU Sumber Daya Air, UU Migas, UU Penanaman Modal hingga privatisasi BUMN.
Hasilnya, saat ini investasi sektor minyak dan gas bumi misalnya, sebanyak 85,4 persen dari 137 konsesi pengelolaan lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia dimiliki oleh perusahaan asing.
Ini merupakan fakta bahwa penjajahan atau imperialisme merupakan metode baku ( thariqah ) negara kapitalis untuk menguasai negara lain, yang berbeda hanya terbatas pada bentuk dan pola penjajahannya.
Karena itu pula, umat Islam di negeri ini harus benar-benar menyadari bahaya tersembunyi di balik ketiga isu tersebut. Pertama , Allah dengan tegas mengingatkan kita, agar tidak pernah memberikan jalan kepada kaum kafir penjajah untuk menguasai negeri dan wilayah kita, sehingga orang-orang Mukmin di negeri ini benar-benar dikuasai dan dijajah oleh mereka:
ﻭَﻟَﻦْ ﻳَﺠْﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺳَﺒِﻴﻼً
Sekali-kali Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin. ( QS an-Nisa’ [4]: 141 ).
Kedua , Rasulullah saw. juga mengingatkan, bahwa tidak layak orang Mukmin dipatuk ular pada lubang yang sama, lebih dari sekali. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Nabi saw. bersabda:
« ﻻَ ﻳُﻠْﺪَﻍُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﻣِﻦْ ﺟُﺤْﺮٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻣَﺮَّﺗَﻴْﻦِ »
Tidak layak seorang Mukmin dipatuk oleh ular dari lubang yang sama dua kali. (HR al-Bukhari dan Muslim).[]


Amerika Serikat memuji perintah pemimpin militer baru Sudan untuk membebaskan tahanan politik dan mengakhiri jam malam. Seorang utusan akan dikirim ke Khartum untuk mendorong transisi menuju demokrasi.

“Makila James, wakil asisten menteri luar negeri yang bertanggung jawab atas Afrika timur, akan menuju ke Khartum akhir pekan ini,” kata seorang pejabat.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Morgan Ortagus mengatakan bahwa kebijakan Amerika Serikat akan disesuaikan dengan peristiwa yang terjadi. Dia menambahkan, AS menangguhkan untuk mencabut status Sudan sebagai negara sponsor terorisme.
“Kami didorong oleh keputusan untuk membebaskan tahanan politik dan membatalkan jam malam di Khartoum,” kata Ortagus dalam sebuah pernyataan.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri mengatakan kepada Reuters bahwa James, utusan baru AS, berencana untuk mengadakan pembicaraan di Khartum pada akhir pekan dengan melihat situasi di lapangan.

Pejabat itu, menggambarkan situasi di Sudan “sangat tidak pasti”. Ia mengatakan, penting untuk menghindari “musyawarah tanpa akhir” tentang siapa yang harus memimpin otoritas sipil sementara.

Demonstran mengatakan mereka tidak akan berhenti sampai dewan militer transisi mengalihkan kekuasaan kepada pemerintah yang dipimpin sipil dan pemilihan umum diadakan.

Al-Bashir, yang menghadapi surat perintah penangkapan oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas tuduhan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di wilayah Darfur Sudan, dipindahkan dari kediaman presiden ke sebuah penjara dengan keamanan tinggi di Khartum minggu ini.

“Pada hari Rabu, dia dibawa ke penjara Kobar yang sangat aman di Khartum dari kediaman presiden,” kata sumber keluarga, ketika para penguasa militer mengumumkan langkah-langkah untuk memberantas korupsi.

Lebih dari tiga dekade pemerintahan Al-Bashir, puluhan ribu aktivis ditahan, dipukuli, disiksa dan dibunuh di Kobar oleh pejabat Partai Kongres Nasional dan sistem keamanannya.

Ortagus mengatakan Sudan tetap dilabeli oleh AS sebagai sponsor negara terorisme. Kebijakan Washington terhadap negara itu akan didasarkan pada “penilaian atas peristiwa di lapangan dan tindakan pemerintah transisi”. Pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan tidak ada anggota dewan militer Sudan yang mendapat sanksi AS.
Sudan ditunjuk sebagai sponsor negara terorisme pada tahun 1993 ketika AS dipimpin Bill Clinton. Ekonomi negara itu diblokade sehingga mengalami krisis.

Letnan Jenderalera Abdel Fattah al-Burhan, yang telah terlibat dalam dialog dadakan dengan pengunjuk rasa di jalan-jalan ibukota, menjadi pemimpin dewan transisi militer. Dia berjanji untuk mengadakan pemilihan dalam waktu dua tahun.

Peta Muslim negara-negara di Eropa

Berdasarkan Laporan Kebebasan Beragama Amerika Serikat pada 2006, terdapat sekitar 2.000 warga Afrika Utara yang tinggal di Andorra. Komunitas ini menjadi komunitas Muslim terbesar di negara yang ibu kotanya berada di Andorra la Vella.

Andorra memiliki populasi sekitar 85 ribu orang. Lebih dari 90 persen penduduk Andorra menganut Katolik Roma. Walaupun bukan menjadi agama resmi, konstitusi negara mengakui memiliki hubungan khusus dengan gereja Katolik Roma sehingga penganutnya juga memiliki sejumlah keistimewaan. Ada juga kelompok kecil penganut Hindu.

Andorra merupakan salah satu negara kecil di Benua Eropa. Tepatnya, Andorra berada di ketinggian Pegunungan Pyrenees di tengah-tengah perbatasan antara Prancis dan Spanyol.

Negara seluas 467 kilometer persegi ini merupakan monumen sejarah penting perkembangan Islam di Eropa. Sebelum abad ke-19, kaum Muslim yang dikenal sebagai bangsa Moor berhasil mencapai kawasan utara Spanyol dan mulai memasuki wilayah Prancis. Dalam hal ini, bangsa Moor juga berhasil menjangkau Andorra.

Mereka sempat membangun peradaban Islam di wilayah terpencil ini. Namun, pasukan Charlemagne berhasil mendorong keluar Muslim dari Andorra pada permulaan abad kesembilan.

Pada sekitar 700 M, pasukan Muslim menaklukkan daerah kekuasaan bangsa Visigoths melalui lembah Segre. Pasukan Muslim sebenarnya tidak menetap di Andorra. Mereka justru menggunakan Andorra sebagai jalan pintas ke Toulouse, Narbonne, Carcassonne, dan Nimes.

Perang Poitiers dan Perang Roncesvalles menandai berakhirnya ekspedisi ke wilayah lain Pyrenees. Menurut Antoni Filter i Rossell dalam buku sejarahnya, Manual Digest (1748 M), pada 788 M sebanyak 5.000 penduduk Andorra di bawah kepemimpinan Marc Almugaver datang ke Charlemagne untuk berperang melawan Muslim. Setelah perang, Charlemagne melindungi Andorra dan mendeklarasikan penduduk Andorra sebagai warga yang berdaulat.

Andorra termasuk negeri yang banyak menerbitkan perangko bagi penggemar filateli. Pada umumnya, perangko Andorra banyak menampilkan gambar-gambar panorama alam, bangunan bersejarah, tokoh terkemuka di bidang pemerintahan atau keagamaan, serta berbagai flora dan fauna.

Komunitas Muslim di sini memiliki Pusat Kebudayaan Islam yang mengajar bahasa Arab bagi sekitar 50 murid. Pemerintah Andorra dan komunitas Muslim belum bersepakat mengenai sistem yang memungkinkan sekolah memberi pelajaran bahasa Arab.

Sayangnya, belum ada pembangunan masjid di Andorra. Pemerintah menolak mengalokasikan lahan untuk membangun masjid. Pemerintah beralasan tidak ada cukup lahan yang berharga murah.

Pada 2003, seorang ulama lokal, Mohamed Ragui, meminta izin kepada pendeta Joan Marti Alanis agar menyediakan lahan dari gereja untuk membangun masjid atau ruangan di dalam gereja untuk digunakan sebagai masjid.

Ini bukan pertama kalinya gereja diubah fungsinya menjadi masjid atau umat Islam melaksanakan ibadah di dalam gereja. Hal seperti ini sebelumnya juga pernah dialami Muslim di Paris. Muslim di Andorra saat ini terpaksa melaksanakan shalat dan kegiatan lain di ruangan yang sangat sempit. Umat Muslim yang berkunjung ke Andorra harus waspada karena makanan halal cukup sulit ditemukan.

Takwa (ilustrasi).

Kisah ini bermula ketika Aswad al-Ansi, seperti dinukilkan dari Mereka adalah Para Tabi'in karya Dr Abdurrahman Ra'at Basya, kembali kekufuran pascameninggalnya Rasulullah SAW. Ia mengaku kepada kaumnya sebagai nabi yang diutus oleh Allah SWT.

Al-Ansi memang agak beruntung mendapat karunia fisik yang kuat dan kecerdasan otak. Tetapi, anugerah itu ia salah gunakan untuk menentang Sang Khalik. Ia akrab dengan dunia sihir.

Propaganda dan ajakan al-Ansi mendapat respons luar biasa dari para pengikutnya di pelosok Yaman. Ia mendapat sokongan dari Bani Madhaj, kelompok terbesar di Yaman dari segi jumlah dan kekuasaannya. Masih pula didukung oleh kemampuan untuk merekayasa cerita dusta, kepalsuan, serta memperalat para pengikutnya yang pandai untuk menguatkan siasatnya.

Dalam waktu singkat namanya menjadi besar, kehebatannya kian tersohor, pengikutnya makin banyak. Shan'a kini berada di bawah kendalinya. Dari sini terus menyebar ke tempat lain sampai meliputi Yaman, antara Hadramaut, Tha'if, Bahrain, serta Aden. Ia menjadi tiran yang tak segan melemahkan tiap lawannya dengan berbagai cara dan hingga berujung apa pun, termasuk kematian.
Tetapi, bagi para ulama yang masih berpegang teguh pada tuntunan Rasulullah, ajakan sesat tersebut tak berpengaruh, mereka berani melawan. Satu di antara ulama itu adalah Abdullah bin Tsuwab atau yang dikenal dengan julukan Abu Muslim al-Khaulani.

Ia adalah sosok imam yang pantang berkompromi dengan kebatilan. Ia senantiasa menyerukan kebenaran. Ia mengikhlaskan hidupnya untuk Allah SWT. Dia menjual murah kenikmatan sementara di dunia, untuk ditukar dengan kenikmatan abadi. Tak heran jika orang-orang memandangnya sebagai orang yang suci jiwanya. Serta mustajab doanya di sisi Rabb-nya.

Aswad al-Ansi sudah gatal untuk menangkap Abu Muslim lalu menghukumnya sekeras mungkin. Agar orang lain yang akan menentangnya gentar dan dapat ditundukkan.
Maka, dia perintahkan prajuritnya mengumpulkan kayu bakar di lapangan Shan'a, lalu disulut dengan api. Orang-orang dipanggil untuk menyaksikan bagaimana seorang ahli fikih di Yaman dan ahli ibadahnya, Abu Muslim al-Khaulani, hendak "bertaubat" kepada Aswad dan mengimani kenabiannya.

Sampailah waktu yang telah direncanakan, Aswad al-Ansi memasuki lapangan yang telah dipadati manusia. Dia berjalan dengan kawalan ketat, kemudian duduk di atas kursi kebesaran di depan api yang menyala-nyala.

Sejurus kemudian, Abu Muslim al-Khaulani diseret ke tengah arena. Pendusta yang kejam itu memandang Abu Muslim dengan congkak, lalu berpaling ke arah api yang berkobar dan menjilat-jilat.

Aswad bertanya, "Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?" Abu Muslim menjawab, "Benar, aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dialah sayyidul mursalin dan penutup para Nabi."
Dahi Aswad al-Ansi menggerutu. Kedua alisnya bertaut pertanda marah. Ia kembali bertanya, "Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah rasul Allah?" Abu Muslim menjawab, "Telingaku tersumbat, tak bisa mendengar kata-katamu."

Aswad yang marah lalu mengatakan, akan mencampakkan Abu Muslim ke dalam api yang telah berkobar. "Bila engkau membakar aku dengan api dari kayu, engkau akan dibalas dengan api yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, di bawah penjagaan malaikat-malaikat yang perkasa, yang tidak menentang Allah SWT dan senantiasa mematuhi perintah yang diberikan kepada mereka," ujar Abu Muslim kepada Aswad.

Aswad kembali mengatakan, ia akan memberikan kesempatan sekali lagi kepada Abu Muslim. Ia meminta Abu Muslim untuk menggunakan otaknya dalam menjawab. "Apakah engkau tetap mengakui bahwa Muhammad adalah rasul Allah?"

Abu Muslim kembali menjawab, "Benar. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa agama dan petunjuk yang benar. Allah menutup seluruh risalah-Nya dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad.

Aswad al-Ansi meninggikan nada suaranya, "Kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?" Abu Muslim mempunyai jawaban yang sama, "Sudah aku katakan kepadamu, bahwa telingaku tersumbat sehingga tak bisa mendengar kata-katamu itu."

Aswad al-Ansi semakin naik pitam mendengar ketegasan jawaban, ketenangan, serta ketegaran Abu Muslim. Dia hendak memerintahkan agar Abu Muslim al-Khaulani dicampakkan ke dalam api, tapi tangan kanannya berusaha mencegahnya seraya berbisik di telinganya, "Kau tahu bahwa orang ini berjiwa suci, doanya mustajab, sementara Allah tak pernah membiarkan hamba-Nya yang beriman di saat-saat kritis.

“Bila kau lemparkan dia ke dalam api lalu ternyata Allah menyelamatkannya, maka semua yang kau bina dengan susah payah ini akan hancur dalam sekejap. Karena orang-orang akan mengingkari kenabianmu saat itu juga. Bila engkau membakarnya dan dia mati, orang-orang akan mengaguminya, bahkan menyanjungnya sebagai syuhada. Oleh karena itu, lebih baik kau lepaskan dia, asingkan saja dia dari negeri ini. Hindarilah dia, engkau akan menjadi lebih tenang."

Nabi palsu ini akhirnya membebaskan Abu Muslim lalu mengusirnya keluar dari Yaman. Berangkatlah Abu Muslim al-Khaulani menuju Madinah. Setibanya di Madinah, beliau langsung menuju Masjid Nabawi. Ia mendekati salah satu tiang masjid lalu shalat di sana.

Usai shalat, Umar bin Khathab menghampiri Abu Muslim seraya bertanya, "Dari manakah asal Anda?" Abu Muslim menjawab, "Saya dari Yaman." Umar lalu menanyakan, bagaimana kabar saudara Muslim yang hendak dibakar hidup-hidup oleh musuh Allah SWT? Karena Allah menyelamatkannya?

Abu Muslim berkata, "Alhamdulillah, dia dalam keadaan baik." 

"Demi Allah, bukankah Anda orangnya?" Tanya Umar lagi. 

Abu Muslim menjawab, "Benar." 

Maka Umar bin Al Khathab mencium antara kedua mata Abu Muslim. Ia lalu menceritakan bahwa Allah telah membunuh al-Ansi melalui tangan orang-orang beriman. Orang-orang beriman itu mengakhiri kekuasaan Aswad al-Ansi. Lalu mengembalikan para pengikutnya ke jalan Allah SWT.

 selalu berlindunglah kepada Allah SWT hasutan orang-orang pendengki,ilustrasi

Mushthafa al-Adawi dalam karyanya yang berjudul, Fiqh al-Hasad memaparkan beberapa solusi dan cara sederhana guna mengikis kedengkian dalam diri seseorang. Ingat, bertawakallah selalu.
Karena, ungkap Ibnu al-Qayyim, hanya dengan bertawakallah seorang hamba dapat menampik tindakan lalim atau kebencian akan seseorang. Jika memosisikan Allah sebagai satu-satunya pelindung, sejauh itu pula penjagaan akan selalu ada.

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS at-Thalaq [65]: 3).
Sebagai langkah antisipasi, jangan sesekali menceritakan apalagi sengaja memanas-manasi 'si pendengki' dengan kisah-kisah tentang nikmat dan anugerah yang Anda peroleh.

Memang, ada anjuran untuk menceritakan nikmat, tetapi tak selamanya niat baik itu tepat sasaran. Inilah mengapa Nabi Ya'qub AS melarang putranya, Yusuf AS, mengisahkan mimpi yang dialami putra kesayangannya tersebut kepada segenap saudaranya. (QS Yusuf [12]: 5).
Larangan ini juga seperti ditegaskan dalam hadis Abu Qatadah riwayat Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW melarang menceritakan mimpi baik, kecuali kepada orang yang ia percayai.

Resep membendung rasa dengki selanjutnya, menukil dari pernyataan Ibn al-Qayyim, bersikap cuek dan berusaha membersihkan pikiran dari tingkah laku pendengki. Biarkan seperti angin lalu saja. Bahkan, akan sangat baik bila Anda membalas perlakuan buruk itu dengan tindakan baik. Memadamkan api kedengkian itu dengan balasan berupa perbuatan terpuji. “Tetapi, ini sangat sulit,” kata Ibn al-Qayyim.

Dan terakhir, selalu berlindunglah kepada Allah SWT hasutan orang-orang pendengki, entah mereka yang berada jauh dari Anda, ataupun yang dekat dengan Anda sekalipun. “Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki." (QS al-Falaq [113]: 2)

Image result for orang orang curang

Cukuplah Alquran menjadi pemberi peringatan yang paling besar. Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ini merupakan petunjuk bagi umat manusia hingga akhir zaman.

Alquran mengecam pelbagai tabiat buruk, antara lain, kecurangan. Salah satu surah di dalamnya bernama al-Muthaffifin. Secara kebahasaan, surah Makkiyah itu berarti "Orang-orang yang curang."

Surah yang terdiri atas 36 ayat ini dibuka ayat pertama. Isinya peringatan keras dari Allah SWT. Artinya, "Celakalah bagi orang-orang yang curang."

Mengutip buku Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an, tafsir tentang ayat itu dijelaskan Imam an-Nasai dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih. Mereka meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata sebagai berikut.

"Ketika Nabi shalallahu 'alaihi wasallam baru saja tiba di Madinah (dalam rangka hijrah dari Makkah), orang-orang di sana masih sangat terbiasa mengurang-ngurangi timbangan (dalam jual-beli). Allah lantas menurunkan ayat 'Celakalah bagi orang-orang yang curang.' Maka setelah turunnya ayat ini, mereka khususnya orang-orang Muslimin di Madinah selalu menepati takaran dan timbangan.

Demikianlah. Masyarakat Yastrib--nama sebelum Madinah--awalnya terbiasa dengan praktik-praktik kecurangan. Dengan kedatangan Rasulullah SAW yang membawa risalah Alquran, maka tak ada lagi yang berani mempermainkan takaran. Para pedagang di Madinah berubah menjadi pebisnis yang paling jujur seantero Arab.

Kecurangan yang disinggung dalam firman Allah SWT itu tak sekadar dalam praktik jual-beli, melainkan lebih luas lagi. Muthafifin juga dapat merujuk pada mereka yang gemar mengurangi hak orang lain. Mereka itulah yang diancam dengan suatu kecelakaan besar. Allah mengancam akan memasukkan mereka ke dalam neraka wail, lembah di neraka jahanam yang sangat dahsyat siksanya.

Kecurangan yang diancam dengan siksa neraka itu, sekali lagi, tak sebatas perkara niaga. Itu juga berkenaan dengan kehidupan orang di tengah keluarga, masyarakat, dan negara. Siapakah yang patut disebut sebagai pelaku kecurangan? Yakni seseorang atau sekelompok orang yang meminta keistimewaan, penghargaan, atau pelayanan bagi diri sendiri atau golongannya saja.

Terhadap orang lain atau golongan luarnya, mereka bersikap masa bodoh. Mereka bersikap partisan, bahkan ketika kewajibannya untuk bersikap seadil-adilnya dan setransparan mungkin.

Pada masa pemilihan umum (pemilu) seperti saat ini, ratusan juta rakyat Indonesia telah menggunakan hak pilihnya. Mereka telah mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) dengan harapan, suara mereka dapat ditampung dan dihitung secara cermat dan adil.

Mereka tentu saja tidak menginginkan adanya pengurangan ataupun penggelembungan suara yang tidak semestinya, baik itu kepada kandidat pilihannya apalagi yang bukan pilihan.

Dalam konteks ini, surah al-Muthaffifiin, khususnya ayat 10-18, menjadi relevan. Terjemahannya sebagai berikut.

"Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa. Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): 'Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan."

media-umat-sistem-peradilan
Dalam Islam, kekuasaan tentu amat penting. Untuk apa? Tidak lain untuk menegakkan, memelihara dan mengemban agama ini.
Pentingnya kekuasaan sejak awal disadari oleh Rasulullah saw. Inilah yang diisyaratkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya:
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا
Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar serta berikanlah kepada diriku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (TQS al-Isra’ [17]: 80).
Imam Ibnu Katsir, saat menjelaskan frasa “waj’alli min ladunka sulthân[an] nashîrâ” dalam ayat di atas, dengan mengutip Qatadah, menyatakan, “Dalam ayat ini jelas Rasulullah saw. menyadari bahwa tidak ada kemampuan bagi beliau untuk menegakkan agama ini kecuali dengan kekuasaan. Karena itulah beliau memohon kepada Allah kekuasaan yang bisa menolong, yakni untuk menerapkan Kitabullah, memberlakukan hudûd Allah, melaksanakan ragam kewajiban dari Allah dan menegakkan agama Allah…” (Tafsîr Ibn Katsîr, 5/111).
Karena itu tepat ungkapan para ulama saat menjelaskan pentingnya agama berdampingan dengan kekuasaan:
اَلدِّيْنُ وَ السُّلْطَانُ تَوْأَمَانِ وَ قِيْلَ الدِّيْنُ أُسٌّ وَ السُّلْطَانُ حَارِسٌ فَمَا لاَ أُسَّ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَ مَا لاَ حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ
Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah fondasi, sementara kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak berpondasi bakal hancur. Apa saja yang tidak memiliki penjaga akan lenyap (Abu Abdillah al-Qal’i, Tadrîb ar-Riyâsah wa Tartîb as-Siyâsah, 1/81).
Imam al-Ghazali juga menjelaskan:
اَلدِّيْنُ وَ الْمُلْكُ تَوْأَمَانِ مِثْلُ أَخَوَيْنِ وُلِدَا مِنْ بَطْنٍ وَاحِدٍ
Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar, seperti dua saudara yang lahir dari satu perut yang sama (Al-Ghazali, At-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulk, 1/19).
Apa yang dinyatakan oleh Imam al-Ghazali setidaknya menegaskan apa yang pernah dinyatakan sebelumnya oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz di dalam surat yang beliau tujukan kepada salah seorang amil-nya. Di dalam surat tersebut antara lain beliau mengungkapkan:
وَ الدِّيْنُ وَ الْمُلْكُ تَوْأَمَانِ فَلاَ يَسْتَغْنِي أَحَدُهُمَا عَنِ اْلآخَرِ
Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar. Tidak cukup salah satunya tanpa didukung oleh yang lain (Abdul Hayyi al-Kattani, Tarâtib al-Idâriyah [Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah], 1/395).
Berdasarkan makna firman Allah SWT dan penegasan para ulama di atas bisa disimpulkan:
Pertama, sejak awal Islam dan kekuasaan tak bisa dipisahkan. Keduanya saling berdampingan dan saling menguatkan.
Kedua, sejak awal pula kekuasaan diorientasikan untuk menegakkan dan menjaga agama (Islam). Karena itu sepanjang sejarah politik Islam, sejak zaman Rasulullah saw. yang berhasil menegakkan kekuasaan dengan mendirikan pemerintahan Islam (Daulah Islam) di Madinah, yang kemudian diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin dengan sistem Khilafahnya, hingga berlanjut pada masa Khilafah Umayyah, Abasiyyah dan Utsmaniyyah—selama tidak kurang dari 14 abad—kekuasaan selalu diorientasikan untuk menegakkan, memelihara bahkan mengemban Islam.
Alhasil, meraih kekuasaan sangatlah penting. Namun, yang lebih penting, kekuasaan itu harus diorientasikan untuk menegakkan, memelihara dan mengemban Islam. Dengan kata lain, penting dan wajib menjadikan orang Muslim berkuasa, tetapi lebih penting dan lebih wajib lagi menjadikan Islam berkuasa, yakni dengan menjadikan syariah Islam sebagai satu-satunya aturan untuk mengatur negara, bukan yang lain.
Pemimpin yang Amanah
Dalam Islam, pemimpin haruslah amanah. Pemimpin amanah adalah pemimpin yang bukan hanya tidak mengkhianati rakyat yang telah memilih dirinya, tetapi yang lebih penting adalah tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Di dalam al-Quran Allah SWT telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta jangan mengkhianati amanah-amanah kalian, sementara kalian tahu (TQS al-Anfal [8]: 27).
Menurut Ibnu Abbas ra., ayat tersebut bermakna, “Janganlah kalian mengkhianati Allah dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban-Nya dan jangan mengkhianati Rasulullah dengan menanggalkan sunnah-sunnah (ajaran dan tuntunan)-nya…” (Al-Qinuji, Fath al-Bayan fî Maqâshid al-Qur’ân, 1/162).
Adapun yang dimaksud dengan amanah dalam ayat di atas—yang haram dikhianati—adalah apa saja yang telah diamanahkan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya (Lihat: Ash-Shabuni, Shafwah at-Tafâsir, 1/367).
Tentu, kekuasan adalah bagian dari amanah, bahkan salah satu amanah yang amat penting, yang haram untuk dikhianati. Keharaman melakukan pengkhianatan terhadap amanah, selain didasarkan pada ayat di atas, juga antara lain didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ وَ إِنْ صَامَ وَ صَلَّى وَ زَعَمَ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ: إِذَا حَدَثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.
Ada tiga perkara, yang siapapun melakukan tiga perkara tersebut, dia tergolong orang munafik—meski dia shaum, shalat dan mengklaim dirinya Muslim—yaitu: jika berkata, dusta; jika berjanji, ingkar; dan jika diberi amanah, khianat (Ibn Bathah, Al-Ibânah al-Kubrâ, 2/697).
Karena itu siapa pun yang menjadi pemimpin wajib amanah. Haram melakukan pengkhianatan. Apalagi Rasulullah saw. telah bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلاَّ لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Tidak seorang hamba pun yang diserahi oleh Allah untuk mengurusi rakyat, lalu tidak menjalankan urusannya itu dengan penuh loyalitas, kecuali dia tidak akan mencium bau surga (HR al-Bukhari).
Rasulullah saw. juga bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ اِسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ وَ هُوَ لَهَا غَاشٌ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ اْلجَنَّةَ
Tidaklah seorang hamba diserahi oleh Allah urusan rakyat, kemudian dia mati, sedangkan dia menelantarkan urusan tersebut, kecuali  Allah mengharamkan surga untuk dirinya (HR Muslim).
Terkait dengan hadis di atas, Imam an-Nawawi, di dalam Syarh Shahîh Muslim, mengutip pernyataan Fudhail bin Iyadh, “Hadis ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah SWT untuk  mengurus urusan  kaum Muslim, baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan kepada dirinya maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah).  Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka.  Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah mengkhianati umat.”
Pemimpin yang Adil
Selain amanah, seorang pemimpin juga wajib memimpin dengan adil. Sayang, sistem demokrasi sekular saat ini sering melahirkan pemimpin yang tidak adil alias fasik dan zalim. Mengapa? Sebab sistem demokrasi sekular memang tidak mensyaratkan pemimpin atau penguasanya untuk memerintah dengan hukum Allah SWT. Saat penguasa tidak memerintah atau tidak berhukum dengan hukum Allah SWT, jelas dia telah berlaku zalim. Allah SWT sendiri yang menegaskan demikian:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Siapa saja yang tidak memerintah dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah pelaku kezaliman (TQS al-Maidah [5]: 5).
Alhasil, seorang pemimpin baru bisa dan baru layak disebut sebagai pemimpin yang adil saat memerintah berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, bukan dengan yang lain.
Khatimah
Sejak Rasulullah saw. diutus, tidak ada masyarakat yang mampu melahirkan para pemimpin yang amanah dan adil kecuali dalam masyarakat yang menerapkan sistem Islam. Kita mengenal Khulafaur Rasyidin yang terkenal dalam kearifan, keberanian dan ketegasan mereka dalam membela Islam dan kaum Muslim. Mereka adalah negarawan-negarawan ulung yang sangat dicintai oleh rakyatnya dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Mereka juga termasyhur sebagai pemimpin yang memiliki akhlak yang agung dan luhur. Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, misalnya, adalah sosok penguasa yang terkenal sabar dan lembut.  Namun, beliau juga terkenal sebagai pemimpin yang berani dan tegas.  Tatkala sebagian kaum Muslim menolak kewajiban zakat, misalnya, beliau segera memerintahkan kaum Muslim untuk memerangi mereka. Demikian pula saat banyak orng yang murtad dan memberontak. Dengan begitu stabilitas dan kewibawaan Negara Islam bisa dipertahankan meskipun harus mengambil risiko perang. Khalifah Umar bin al-Khaththab sendiri terkenal sebagai penguasa yang tegas dan sangat disiplin. Beliau tidak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang ditengarai berasal dari jalan yang tidak benar (Lihat: Târîkh al-Islâm, II/388; dan Tahdzîb at-Tahdzîb, XII/267).
Begitulah pemimpin saat menerapkan syariah Islam. WalLâhu a’lam. []
Hikmah:
Rasulullah saw. bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَ  هُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Setiap pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw. pun bersabda:
سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka  (HR Abu Nu‘aim).

[Buletin Kaffah No. 087, 14 Sya’ban 1440 H-19 April 2019 M]
loading...
Powered by Blogger.