Related image

Oleh: Ahmad Rizal - Dir. IJM

Kenyang sudah publik dengan suguhan pertarungan dua kubu. Para elit saling klaim kemenangan. Isu kecurangan menyeruak menggegerkan seantero negeri. Pencitraan dengan memunculkan sosok 'bijaksana' dalam menyikapi Quick Count dimainkan. Semua demi ambisi kekuasaan. Berkuasa untuk apa?

Petahana telah membuktikan selama kepemimpinannya menelurkan produk-produk kebijakan yang pro kapitalis. Cenderung memihak kepada para cukong. Bahkan terkesan jelas memusuhi entitas hijau (Islam). Meski banyak upaya mencitrabaikkan diri, namun stigma rezim represif dan anti Islam tak jua mampu dihempaskan yang sudah terlanjur melekat erat di tubuh petahana.

Kegagalan menuntaskan target kenaikan ekonomi sangat jelas terpampang. Proses kriminalisasi terhadap entitas maupun individu yang berseberangan arah politik dilakukannya demi menyelamatkan singgasana. Banyak nama korban yang tak perlu lagi disebut untuk hal ini.

Munculnya parpol ingusan yang berani menentang poligami dan syariah yang menjadi pendukung petahana, juga tertangkapnya elit parpol pengusung di tangan lembaga anti rasuah telah menjadi jawaban seperti apa visi misi pemerintahan ke depan jika ia terpilih kembali. Berlindung di bawah naungan seorang Kyai terkemuka merupakan harapan besar ia mampu menepis segala kezaliman yang ia telah lakukan.

Di sisi lain, penantang memainkan retorika perubahan. Menghembuskan isu kecurangan. Memainkan simpati publik untuk mendorong terjadinya perubahan melalui kekuatan massa. Berbagai data disuguhkan. Dokumentasi berupa foto dan video ditampilkan menjadi sarapan rakyat tiap pagi hari. Memanfaatkan kemuakan rakyat dengan segala kebohongan janji-janji petahana yang tak kunjung menemui realitanya.

Belum juga konflik yang sesungguhnya dimulai, ratusan korban telah berjatuhan demi menghitung suara. Berjibaku dengan segudang kertas penentu siapa yang menjadi 'Tuhan-tuhan' demokrasi berikutnya. Adakah rakyat yang telah merasa muak dengan segala fenomena ini?

Sudah 73 tahun sejak diproklamirkan kemerdekaan negeri ini dari penjajahan fisik asing. Selama itu pula rakyat entah dirasa atau tidak sesungguhnya telah dijajah oleh elit penguasa sendiri. Rakyat masih dalam kesehariannya, mengais rezeki sendiri di sela-sela permainan bandar-bandar kapitalis dan bonekanya. Dibutuhkan saat ingin berkuasa, diacuhkan ketika kekuasaan ada dalam genggaman. Inilah realita demokrasi. Yang herannya hingga saat ini masih diagungkan kesaktiannya. Meski telah banyak tumbal nyawa rakyat dijatuhkan entah melalui kebijakan atau sengketa kekuasaan di kalangan elit. Sadarlah wahai umat! Perubahan itu di tangan kalian, jangan tundukkan kepala! [IJM]

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.