Takwa (ilustrasi).

Kisah ini bermula ketika Aswad al-Ansi, seperti dinukilkan dari Mereka adalah Para Tabi'in karya Dr Abdurrahman Ra'at Basya, kembali kekufuran pascameninggalnya Rasulullah SAW. Ia mengaku kepada kaumnya sebagai nabi yang diutus oleh Allah SWT.

Al-Ansi memang agak beruntung mendapat karunia fisik yang kuat dan kecerdasan otak. Tetapi, anugerah itu ia salah gunakan untuk menentang Sang Khalik. Ia akrab dengan dunia sihir.

Propaganda dan ajakan al-Ansi mendapat respons luar biasa dari para pengikutnya di pelosok Yaman. Ia mendapat sokongan dari Bani Madhaj, kelompok terbesar di Yaman dari segi jumlah dan kekuasaannya. Masih pula didukung oleh kemampuan untuk merekayasa cerita dusta, kepalsuan, serta memperalat para pengikutnya yang pandai untuk menguatkan siasatnya.

Dalam waktu singkat namanya menjadi besar, kehebatannya kian tersohor, pengikutnya makin banyak. Shan'a kini berada di bawah kendalinya. Dari sini terus menyebar ke tempat lain sampai meliputi Yaman, antara Hadramaut, Tha'if, Bahrain, serta Aden. Ia menjadi tiran yang tak segan melemahkan tiap lawannya dengan berbagai cara dan hingga berujung apa pun, termasuk kematian.
Tetapi, bagi para ulama yang masih berpegang teguh pada tuntunan Rasulullah, ajakan sesat tersebut tak berpengaruh, mereka berani melawan. Satu di antara ulama itu adalah Abdullah bin Tsuwab atau yang dikenal dengan julukan Abu Muslim al-Khaulani.

Ia adalah sosok imam yang pantang berkompromi dengan kebatilan. Ia senantiasa menyerukan kebenaran. Ia mengikhlaskan hidupnya untuk Allah SWT. Dia menjual murah kenikmatan sementara di dunia, untuk ditukar dengan kenikmatan abadi. Tak heran jika orang-orang memandangnya sebagai orang yang suci jiwanya. Serta mustajab doanya di sisi Rabb-nya.

Aswad al-Ansi sudah gatal untuk menangkap Abu Muslim lalu menghukumnya sekeras mungkin. Agar orang lain yang akan menentangnya gentar dan dapat ditundukkan.
Maka, dia perintahkan prajuritnya mengumpulkan kayu bakar di lapangan Shan'a, lalu disulut dengan api. Orang-orang dipanggil untuk menyaksikan bagaimana seorang ahli fikih di Yaman dan ahli ibadahnya, Abu Muslim al-Khaulani, hendak "bertaubat" kepada Aswad dan mengimani kenabiannya.

Sampailah waktu yang telah direncanakan, Aswad al-Ansi memasuki lapangan yang telah dipadati manusia. Dia berjalan dengan kawalan ketat, kemudian duduk di atas kursi kebesaran di depan api yang menyala-nyala.

Sejurus kemudian, Abu Muslim al-Khaulani diseret ke tengah arena. Pendusta yang kejam itu memandang Abu Muslim dengan congkak, lalu berpaling ke arah api yang berkobar dan menjilat-jilat.

Aswad bertanya, "Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah?" Abu Muslim menjawab, "Benar, aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dialah sayyidul mursalin dan penutup para Nabi."
Dahi Aswad al-Ansi menggerutu. Kedua alisnya bertaut pertanda marah. Ia kembali bertanya, "Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah rasul Allah?" Abu Muslim menjawab, "Telingaku tersumbat, tak bisa mendengar kata-katamu."

Aswad yang marah lalu mengatakan, akan mencampakkan Abu Muslim ke dalam api yang telah berkobar. "Bila engkau membakar aku dengan api dari kayu, engkau akan dibalas dengan api yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, di bawah penjagaan malaikat-malaikat yang perkasa, yang tidak menentang Allah SWT dan senantiasa mematuhi perintah yang diberikan kepada mereka," ujar Abu Muslim kepada Aswad.

Aswad kembali mengatakan, ia akan memberikan kesempatan sekali lagi kepada Abu Muslim. Ia meminta Abu Muslim untuk menggunakan otaknya dalam menjawab. "Apakah engkau tetap mengakui bahwa Muhammad adalah rasul Allah?"

Abu Muslim kembali menjawab, "Benar. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa agama dan petunjuk yang benar. Allah menutup seluruh risalah-Nya dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad.

Aswad al-Ansi meninggikan nada suaranya, "Kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?" Abu Muslim mempunyai jawaban yang sama, "Sudah aku katakan kepadamu, bahwa telingaku tersumbat sehingga tak bisa mendengar kata-katamu itu."

Aswad al-Ansi semakin naik pitam mendengar ketegasan jawaban, ketenangan, serta ketegaran Abu Muslim. Dia hendak memerintahkan agar Abu Muslim al-Khaulani dicampakkan ke dalam api, tapi tangan kanannya berusaha mencegahnya seraya berbisik di telinganya, "Kau tahu bahwa orang ini berjiwa suci, doanya mustajab, sementara Allah tak pernah membiarkan hamba-Nya yang beriman di saat-saat kritis.

“Bila kau lemparkan dia ke dalam api lalu ternyata Allah menyelamatkannya, maka semua yang kau bina dengan susah payah ini akan hancur dalam sekejap. Karena orang-orang akan mengingkari kenabianmu saat itu juga. Bila engkau membakarnya dan dia mati, orang-orang akan mengaguminya, bahkan menyanjungnya sebagai syuhada. Oleh karena itu, lebih baik kau lepaskan dia, asingkan saja dia dari negeri ini. Hindarilah dia, engkau akan menjadi lebih tenang."

Nabi palsu ini akhirnya membebaskan Abu Muslim lalu mengusirnya keluar dari Yaman. Berangkatlah Abu Muslim al-Khaulani menuju Madinah. Setibanya di Madinah, beliau langsung menuju Masjid Nabawi. Ia mendekati salah satu tiang masjid lalu shalat di sana.

Usai shalat, Umar bin Khathab menghampiri Abu Muslim seraya bertanya, "Dari manakah asal Anda?" Abu Muslim menjawab, "Saya dari Yaman." Umar lalu menanyakan, bagaimana kabar saudara Muslim yang hendak dibakar hidup-hidup oleh musuh Allah SWT? Karena Allah menyelamatkannya?

Abu Muslim berkata, "Alhamdulillah, dia dalam keadaan baik." 

"Demi Allah, bukankah Anda orangnya?" Tanya Umar lagi. 

Abu Muslim menjawab, "Benar." 

Maka Umar bin Al Khathab mencium antara kedua mata Abu Muslim. Ia lalu menceritakan bahwa Allah telah membunuh al-Ansi melalui tangan orang-orang beriman. Orang-orang beriman itu mengakhiri kekuasaan Aswad al-Ansi. Lalu mengembalikan para pengikutnya ke jalan Allah SWT.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.