Muhammad bin Abdul Karim
Surat kabar Saudi al-Syarq al-Ausath, edisi 14/04/2019, mempublikasikan bahwa Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Muhammad bin Abdul Karim al-Issa mengunjungi Tatarstan, yang berada di bawah kendali Rusia, dalam perjalanannya ke Federasi Rusia, di mana ia menyampaikan khotbah Jum’at di Masjid Agung Tatarstan. Dalam pidatonya ia menyebutkan bahwa “identitas nasional, identitas keagamaan dan identitas kebangsaan diintegrasikan ke arah tujuan bersama, sehingga semuanya tidak dapat dipertentangkan atau dibenturkan, kecuali di tengah-tengah ide ekstremisme.” Dalam hal ini ia dengan tegas menyatakan bahwa “ide-ide Islam yang mengharamkan nasionalisme dan patriotisme adalah ide-ide ekstremisme, atau penyusupan melalui ide-ide yang masuk yang targetnya perdamaian, keharmonian dan persatuan nasional.” Dengan demikian, seharusnya ia bersikap ekstrim terhadap ide sekulerisme yang dijajakan Rusia, dan yang sedang diusahakan untuk diadopsi oleh rezim Saudi.
Tampaknya pejabat Saudi ini sedang dalam turnya untuk kepentingan Rusia, yang tengah memerangi Islam. Sedang maksud dari pernyataannya “ide-ide yang masuk” adalah ide-ide Islam yang sebenarnya, yang sedang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir untuk dihidupkannya kembali di tengah-tengah kaum Muslim yang hidup di bawah tirani penguasa Rusia yang menjijikkan. Mengingat Hizbut Tahrir ini aktif di negara-negara yang haus akan Islam, dan menolak penyesatan para penguasa keluarga Saud dan para pengikutnya.
Al-Issa berkata dalam sebuah penyimpangan yang jelas terhadap Islam dan penyesatan yang disengaja, yang akan mengundang murka Allah dan Rasul-Nya: “Bahwa Muslim yang hak (benar) itu adalah jelas dan jujur, yang memenuhi janjinya, menghormati kata universal dan piagam yang mengikat. Oleh karena itu, ia menghormati konstitusi dan hukum negara-negara di mana ia tinggal.” Jadi, bukannya ia menyerukan kepatuhan pada Islam dan penerapan konstitusi Islam dan undang-undangnya di negeri Islam, seperti di Tatarstan, justru ia sibuk menyerukan kepatuhan pada konstitusi dan undang-undang kufur Rusia.
Al-Issa menambahkan dalam kekeliruannya yang lain: “Muslim yang hak (benar) jauh dari terprovokasi oleh cara-cara kebencian dan rasisme apapun … dan tidak ada seorang pun yang bisa diizinkan dengan dalih apa pun, terutama mereka yang mencoba menggunakan isu perbedaan agama dan budaya ini untuk memprovokasi dan menghasut dalam rangka mencapai tujuan mereka.” Pernyataan al-Issa ini dimaksudkan untuk para pengemban dakwah Islam, yang tengah berjuang mengajari kaum Muslim akan hukum-hukum agamanya, dan menjelaskan konsep Islam yang benar pada mereka, setelah bertahun-tahun praktik rezim Rusia yang zalim, dari era Kekaisaran, era Komunis hingga ke era komunisme baru, yang dipimpin oleh Putin, dimana ia sering memprovokasi kebencian untuk melawwan kaum Muslim, serta menuduh setiap orang yang menyerukan kepada Islam sebagai (teroris), lalu menyeretnya ke dalam penjara. Dalam hal ini, al-Issa sama sekali tidak meminta pembebasan mereka, mengkritik rezim Rusia karena memerangi Islam dan melarang beredarnya buku-buku Islam.
Semua tahu bahwa Tatarstan adalah negeri Islam, di mana penduduk Tatarstan semuanya Muslim. Islam telah masuk ke Tatarstan sejak awal abad keempat Hijriyah. Khalifah Abbasiyah al-Muqtadir (290-320 H) mengirim orang yang mengajarkan kepada mereka Islam, dan mereka masuk dalam wadah Islam, sampai Kekaisaran Rusia berhasil menduduki Tatarstan pada tahun 960 H – 1552 M, kemudian mereka mencoba untuk memaksakan konstitusi kafir mereka, juga memaksa agama kafirnya kepada mereka dengan kekerasan, lalu mengubahnya menjadi Kristen, tetapi mereka gagal, dan mereka kaum Muslim melakukan perlawanan dengan keras, serta tetap konsisten berpegang teguh dengan agamanya yang lurus.
Sekali lagi, bahwa semua ini semakin menegaskan hakikat rezim Saudi dan liganya, yang bekerja untuk memerangi kembalinya Islam yang hak, dan untuk menjaga rezim tirani, di mana pun berada, dan semua rezim-rezim kufur di dunia. Bahwasannya sesuatu yang paling ditakuti oleh rezim Saudi dan rezim-rezim lainnya, adalah kembalinya negara Khilafah Rasyidah ala minhājin nubuwah. Jika Khilafah tegak di negeri manapun, dengan izin Allah, maka itu tidak akan berhenti di tempatnya, melainkan akan datang ke Hijaz, dan kami menemukan tumbangnya rezim keluarga Saud yang kriminal, kemudian mengembalikan wilayah ini kepada pemerintahan Islam, di mana kaum Muslim akan pergi berhaji ke Arab Saudi dengan aman, tanpa diribetkan dengan visa dan tidak ada lagi hambatan. (hizb-ut-tahrir.info, 21/04/2019).

Post a Comment

Powered by Blogger.