Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.
Ketua LBH PELITA UMAT
Penulis begitu kaget, marah, sedih sekaligus prihatin. Negara yang telah menjadikan asas ketuhanan yang maha esa sebagai pilar untuk mengelola kebhinekaan, telah tercederai dengan tindakan yang jelas telah menodai agama yang secara resmi diakui dan menjadi mayoritas di negeri ini.
Baru saja melalui jejaring sosial media (YouTube), penulis mendapatkan video diduga seorang wanita yang mengaku beragama Katholik masuk area suci Masjid, yang menurut keterangan dari pengunggah video lokasinya berada Masjid Al-Munawwarah Sentul City. Tak jelas apa yang diperdebatkan si wanita dengan seorang lelaki yang diduga pengurus Masjid, namun terlihat si wanita naik memasuki area suci Masjid tanpa mencopot alas kaki sambil marah-marah.
Celakanya, si wanita selain tetap menggunakan alas kaki juga membawa seekor anjing. Bahkan, anjing itu dilepaskan dan berlarian di area suci Masjid. Padahal, bagi umat Islam saja dilarang mengenakan alas kaki ketika memasukinya.
Tidak cukup sampai disitu, si wanita itu juga marah-marah ketika seorang lelaki berusaha menghalau dan mengingatkan si wanita. Jelas, peristiwa ini sangat menyakiti hati kami umat Islam.
Bagi kami umat Islam, Masjid adalah tempat ibadah, tempat sholat yang suci. Tindakan si wanita yang mengaku beragama katholik, menggunakan alas kaki, bahkan membawa anjing dan melepaskannya di masjid yang dalam pandangan agama Islam anjing najis, jelas telah mengganggu perasaan beragama kami, umat Islam.
Secara hukum, tindakan si wanita dalam video dimaksud jelas telah memenuhi unsur melakukan penodaan terhadap agama Islam, ditinjau dari beberapa aspek :
Pertama, Masjid adalah tempat suci untuk beribadah umat Islam. Jelas, menggunakan alas kaki yang menurut etika dan standar umum tak layak untuk dibawa ke Masjid, apalagi jika memiliki pengetahuan tentang rincian hukum tentang memuliakan masjid dalam pandangan agama Islam.
Sehingga, tindakan menggunakan alas kaki memasuki pada area suci Masjid secara terbuka, apalagi dengan membawa anjing yang dalam pandangan Islam hukumnya najis, jelas telah melecehkan, merendahkan, dan menghina kemuliaan dan martabat Masjid sebagai tempat ibadah yang disucikan oleh umat Islam.
Kedua, dalam pandangan ajaran Islam seorang yang beragama diluar Islam terkategori kafir. Dimana, seorang yang kafir juga terkualifikasi najis sehingga haram memasuki Masjid.
Tindakan si wanita yang tidak mau dihalau untuk keluar dari Masjid, bahkan dengan bangga mengumumkan dirinya beragama katholik (kafir) jelas telah secara sengaja memiliki niat secara sengaja untuk menghina Masjid yang semestinya dijaga kesuciannya.
Ketiga, dalam pandangan hukum wanita tersebut telah memiliki kecakapan hukum sehingga tidak bisa berdalih tidak bisa dipertangungjawabkan hukum jika kelak berdalih tidak mengetahui rincian hukum memuliakan masjid dalam pandangan agama Islam.
Sebab, bagi orang yang dewasa dan cakap hukum, berlaku tidak sopan, sambil menggunakan sepatu di area suci masjid, membawa dan melepaskan anjing di Masjid sekaligus menampakan kemarahan saat diingatkan, jelas menunjukan si wanita memiliki niat dan kesadaran, baik sengaja karena maksud maupun sengaja karena sadar kemungkinan, bahwa tindakannya telah mencederai perasaan umat Islam.
Perbuatan si wanita ini jika benar-benar terjadi, jelas telah memenuhi unsur secara sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap agama Islam.
Karena itu, Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia -tanpa menunggu adanya laporan masyarakat- wajib segera melakukan penyidikan terhadap kasus dimaksud, karena delik penistaan agama adalah delik umum bukan delik aduan. Si wanita tersebut, telah memenuhi unsur pasal penistaan agama sebagaimana dimaksud dalam pasal 156a KUHP :
"Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia"
Penyidik kepolisian Negara Republik Indonesia wajib segera menangkap dan menahan si wanita dalam video ini karena ancaman pidananya lima tahun. Penangkapan ini setidaknya bisa membuat lega dan sedikit mengkompensai rasa keberagamaan umat Islam yang telah terusik.
Selanjutnya proses penyidikan ini harus berujung pada hukuman pidana penjara, agar Kedepan tidak ada lagi seorang atau siapapun yang menyepelekan agama Islam. Jangan sampai umat Islam mendengar kabar, kasus ini lepas hanya karena dalih si wanita mengidap penyakit gila sebagaimana banyaknya kasus penyerangan ulama lepas berdalih pelaku gila.
Sungguh miris dan prihatin menjadi umat Islam di negeri ini, agama mayoritas namun diperlakukan secara tidak adil, aspirasi dan perasaan keberagamaannya tidak diperhatikan. Seingat penulis, keadaan ini tidak pernah terjadi sebelumnya kecuali diera rezim Jokowi. [].




Oleh : Siska Dewi Septiani, S.I.P

Bencana banjir yang menimpa 6 kecamatan di Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra) tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi warganya, namun juga pertanyaan mengenai penyebab terjadinya banjir bandang tersebut. Beberapa pihak berpendapat bahwa penyebabnya adalah kerusakan lingkungan dan adanya aktivitas pertambangan. Misalnya, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Lukman Abunawas, mengatakan bahwa banyaknya pertambangan, buruknya kualitas lingkungan hidup, dan kurangnya drainase mengakibatkan terjadinya banjir (ZONASULTRA.COM, 11/6/2019). 
Direktur Walhi Sultra, Saharuddin, juga mengungkapkan bahwa banjir di Konut terjadi karena kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan dan perkebunan serta intensitas hujan yang sangat tinggi (ZONASULTRA.COM, 10/6/2019). Selain, Wagub dan Direktur Walhi Sultra, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), La Ode Syarif, ikut menanggapi bencana banjir terparah semenjak Konut menjadi daerah otonomi baru (DOB) tersebut. Menurut La Ode Syarif, banjir tersebut tidak akan terjadi jika tidak ada kerusakan lingkungan di hulu dan hilir sungai (kumparan.com, 23/6/2019).
Berbeda dengan pendapat wakil gubernur, Gubernur Sultra, menyatakan bahwa penyebab banjir di Konut bukanlah pertambangan karena tambang berada di wilayah bagian utara sedangkan wilayah yang terdampak banjir berada di bagian timur (ZONASULTRA.COM, 10/6/2019). Senada dengan gubernur, Bupati Konut, Ruksamin, menjelaskan bahwa hulu sungai di Konut berada di sebelah timur sedangkan lokasi tambang berada di sebelah utara dan barat. Ruksamin juga mempersilahkan universitas atau lembaga ilmiah untuk mencari penyebab banjir melalui penelitian ilmiah (kumparan.com, 23/6/2019).
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai apa penyebab banjir di Konut, tidak dipungkiri bahwa administrasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Sultra saat ini bermasalah. Dari 393 IUP hanya 52 IUP yang hampir memenuhi persyaratan sedangkan yang hampir 100 persen hanya 5 IUP dan hanya 2 IUP yang clean and clear (CnC) (ZONASULTRA.COM, 24/6/2019). KPK akhirnya ikut turun tangan dan menemukan banyak perusahaan yang tidak melakukan jaminan reklamasi (jamrek) dan melaporkan kegiatan yang dilakukan (kumparan.com, 24/6/2019). 
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan masih secara leluasa dilaksanakan oleh siapa pun yang memiliki modal. Apalagi Gubernur Sultra sendiri mengakui masalah administrasi IUP tersebut dikhawatirkan berdampak pada investor. Artinya tambang bukan sepenuhnya dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat seluas-luasnya, melainkan hanya menguntungkan segelintir pihak, yaitu para pemilik modal. Cepat atau lambat masyarakatlah yang akan menerima ekses negatif dari penambangan yang hanya berpihak pada kapitalis.
Salah kelola semacam ini bukan semata-mata karena implementasi yang buruk atau kesalahan aktor kebijakan, melainkan karena sedari awal sistem yg diberlakukan sudah salah. Sebab, pengaturan yang berasal manusia yang fitrahnya lemah dan terbatas pasti akan menimbulkan banyak kemudharatan, yaitu kerusakan di muka bumi. Allah berfirman:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar Ruum:41).
Kemaksiatan terbesar yang dilakukan oleh manusia saat ini adalah tidak diterapkannya syariat Islam secara kaffah dalam bingkai negara. Padahal jelas bahwa Allah telah memerintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah.
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS Al Baqarah:208).
Oleh karena itu, seharusnya hanya hukum-hukum Allah yang dijadikan rujukan dalam mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam mengelola sumber daya alam (SDA). SDA, termasuk di dalamnya tambang, wajib dikelola oleh negara.
Dari salah seorang Sahabat radhiyallâhu anhu, ia berkata, Saya berperang bersama Nabi shallallâhu alaihi wasallam, lalu aku mendengar beliau bersabda, Manusia berserikat dalam tiga hal: dalam padang rumput, air, dan api. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Dengan demikian, hasil tambang bukan dinikmati oleh individu-individu tertentu, melainkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh negara juga semaksimal mungkin tidak mendzalimi limgkungan dan masyarakat. Jika kaum muslimin telah menerapkan syariat Islam kemudian Allah menurunkan bencana, maka yang harus dilakukan adalah bersabar dan melakukan muhasabah, baik individu, masyarakat, maupun negara karena bencana yang menimpa kaum muslimin merupakan ujian bagi orang-orang yang beriman atau teguran bagi orang-orang yang bermaksiat. Wallahu alam bishshawwab.


Berjuang menegakkan negara Islam yang akan menerapkan hukum-hukum Allah, hukum asalnya adalah fardhu kifāyah. Namun, mengingat bahwa fardhu kifāyah itu belum juga berhasil diwujudkan dengan upaya mereka yang memperjuangkannya, maka kewajiban ini diperluas hingga mencakup setiap Muslim. Begitulah kedudukan dari setiap fardhu kifāyah.
Dalil atas kewajiban memperjuangkan tegaknya negara Islam adalah dalil yang qath’iy tsubut (sumbernya pasti) dan qath’iy dilalah (maknanya pasti). Sehingga mengingkari kewajiban ini bisa menjadikannya kafir. Sementara orang yang mengakuinya, namun ia abai dan lengah dalam memperjuangkannya, maka ia bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalil dalam hal ini adalah nash-nash yang memerintahkan agar terikat dengan syariah Islamiyah dan berhukum dengannya, serta melarang berhukum pada yang selainnya. Seperti firman Allah SWT:
﴿وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا﴾
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.” (TQS Al-Māidah [5] : 38).
Dan firman-Nya:
﴿الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ﴾
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera.” (TQS An-Nūr [24] : 2).
Dan firman-Nya:
﴿اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ﴾
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (TQS Al-A’rāf [7] : 3).
Dan firman-Nya:
﴿يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ﴾
Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu.” (TQS An-Nisā’ [4] : 60).
Dan firman-Nya:
﴿فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ﴾
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (TQS An-Nisā’ [4] : 65).
Dan masih banyak lagi nash-nash syara’ terkait hal ini. Di mana dengan tidak adanya negara Islam, sebagian besar hukum-hukum (syariah) Islam diabaikan dan disia-siakan. Kita sebagai umat Islam bertanggung jawab dengan semua kezaliman ini.
Adapun berjuang dengan sekuat tenaga sebagai kewajiban setiap Muslim, maka hal ini juga dalilnya  adalah qath’iy tsubut (sumbernya pasti) dan qath’iy dilalah (maknanya pasti), sehingga orang yang mengingkarinya bisa menjadi kafir, sedang orang yang lalai dan lengah terhadap kewajiban ini, maka ia tergolong orang yang bermaksiat kepaada Allah dan Rasul-Nya, seperti firman-Nya:
﴿فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ﴾
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (TQS At-Taghābun [64] : 16).
Dan firman-Nya:
﴿لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا﴾
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (TQS Al-Baqarah [2] : 286).
Ketika Allah SWT berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (TQS Al-Baqarah [2] : 286), maka ini artinya, bahwa beban itu sesuai kesanggupannya. Kesanggupan itu adalah melakukan dengan kekuatan maksimal, bukan kekuatan minimal, atau kekuatan biasa saja.
Begitu juga firman Allah SWT: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (TQS At-Taghābun [64] : 16). Artinya semua kekuatan kalian, bukan separuh, sepertiga atau seperempatnya. Ketika seorang Muslim melihat kemungkaran di sekelilingnya secara umum dan mewabah, maka ia diperintahkan untuk mengubahnya dengan semua kekuatannya, bukan sebagian kekuatannya. Rasulullah SAW bersabda:
«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ»
Siapa saja yang melihat kemunkaran, maka ubahlah kemunkaran itu dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, meski yang terakhir itu menandakan selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).
Pernyataan “jika tidak mampu” dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa ia telah menggunakan semua kekuatannya hingga ia tidak mampu lagi.
Di sini ada sebagian yang salah dalam memahaminya, sehingga rancu antara berjuang menegakkan negara Islam dengan mendirikannya secara langsung. Karenya mereka berkata: “Kami tidak mampu melengserkan rezim yang ada untuk mendirikan negara Khilafah sebagai gantinya. Sebab kami tidak mampu, maka kami tidak dibebani tanggung jawab atas itu, karena “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Pernyataan ini bisa merupakan hasil dari ketidaktahuan, kebencian, atau penyesatan. Untuk menghilangkan kesalahan ini, maka kami katakan: “Jika kelompok yang tengah berjuang menegakkan Khilafah itu mampu menegakkannya dengan segera, maka mereka tidak boleh menundanya. Jika mereka tidak mampu segera, maka mereka mereka wajib berjuang, mempersiapkan dan meningkatkan kekuatannya untuk menyukseskan perjuangannya ini, meski itu akan terwujud setelah beberapa saat. Mereka yang tidak mampu mewujudkan tujuan dengan segera, maka mereka harus memperjuangkannya dengan sekuat tenaga untuk mewujudkannya ketika mereka bisa.
Lalu mengapa berkata: “Kami tidak mampu?” Padahal kewajiban ini tidak dituntut dari saru orang saja, satu partai saja, satu kelompok saja, atau satu negeri saja, melainkan kewajiban ini dituntut oleh syara’ dari dari semua umat Islam, baik Arab dan non-Arab, dan sekarang kewajiban ini telah menjadi fardhu ‘ain bagi setiap Muslim. Apakah umat Islam benar-benar tidak berdaya dan tidak mampu, atau apakah itu buah dari kehinaan, kelengahan dan kemaksiatan akibat dari pengaruh budaya Barat, serta efek dari fatwa para ulama salāthin dari kalangan orang-orang munafik?!
Ketika kami mengatakan bahwa seorang Muslim sekarang diwajibkan dengan fardhu ‘ain untuk berjuang menegakkan negara Islam dengan sekuat tenaga, maka itu artinya bahwa ia harus meninggalkan banyak aktivitas mubah dan perbuatan-perbuatan sunnah jika mereka tengah disibukkan dengan melakukan kewajiban ini. Seorang Muslim harus bekerja untuk mencari nafkah dirinya dan keluarganya, ini adalah fardhu ‘ain baginya, dan mengemban dakwah untuk menegakkan Khilafah (sekarang) fardhu ‘ain baginyalalu, mana dari dua kewajiban ini yang harus didahulukan atas yang lain? Syariah mengharuskan seorang Muslim untuk melakukan semua kewajiban, namun ketika kewajiban-kewajiban ini menumpuk, sehingga jika ia melakukan sebagian darinya, maka ia tidak lagi memiliki waktu untuk melakukan yang lain. Dalam kasus seperti itu, syariah itu sendiri yang memutuskan kewajiban mana yang harus dihulukan dan mana yang harus ditunda. Masalah ini adalah masalah sesuai tidaknya dengan syariah, bukan masalah yang memperturutkan hawa nafsu. Para ulama dan mujtahid mampu memahami mana yang prioritas. Dalam hal yang telah kami sebutkan, bekerja mencari nafkah didahulukan daripada berjuang menegakkan Khilafah ketika terjadi penumpukan kewajiban. Namun mencari nafkah yang dihalukan atas aktivitas mengemban dakwah untuk tegaknya Khilafah adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan primer, bukan kebutuhan sekunder apalagi kebutuhan tersier (kemewahan). Jika seorang Muslim segera dan sudah mendapatkan kebutuhan primernya, maka setelah itu tidak boleh ia melakukan aktivitas tambahan untuk mendapatkan kebutuhan tersier (kemewahan), jika aktivitas ini menyebabkan tertundanya kewajiban mengemban dakwah untuk menegakkan Khilafah.
Seringkali, sejumlah aktivitas tidak menghalangi seorang Muslim dari mengemban dakwah, selama ia beraktivitas di tengah-tengah masyarakat, maka ia dapat mengemban dakwah kepada mereka di sela-sela aktivitasnya.
Bukan termasuk uzur (alasan) syar’iy (yang diterima syariah), ketika seorang Muslim mengatakan: “Saya tidak mampu berjuang menegakkan Khilafah, sebab hal ini akan membuat saya dipecat dari pekerjaan, atau menyebabkan saya dijebloskan ke dalam penjara, karena pekerjaan yang diharapkan itu menyebabkan bermaksiat, maka ia tidak boleh terus bekerja di situ. Begitu juga tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim mencari nafkah yang berhubungan dengan khomer, aktivitas riba, menyuap dan menipu. Jadi, tidak diperbolehkan baginya untuk mencari nafkah dengan mendukung sistem kufur, atau diam saja terhadap sistem kufur.
Adapun berjuang menegakkan Khilafah sesegera mungkin, maka ini dalilnya juga qath’iy tsubut (sumbernya pasti) dan qath’iy dilalah (maknanya pasti).
Karena hukum-hukum syariah yang diwahyukan oleh Allah SWT itu menuntut untuk diterapkannya sejak hukum-hukum itu disampaikannya. Ketika turun hukum tentang perubahan kiblat, dari Baital Maqdis ke Masjidil Haram, maka mereka yang sedang dalam shalat segera merubah posisi ke arah Masjidil Haram setelah perintah itu sampai pada mereka, dan mereka tetap dalam kondisi shalat. Jadi, hukum asal penerapan hukum adalah bersegera, dan bukan longgar (menunda), kecuali jika ada dalil yang menunjukkan ahl itu.
فحين يقول الله: {يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ{ أو يقول: {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ} أو يقول رسول الله -صلى الله عليه وسلم: «من رأي منكم منكراً فليغيره»
Ketika Allah SWT berfirman:
﴿يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ﴾
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu.” (TQS An-Nisā’ [4] : 1).
Dan firman-Nya:
﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (TQS Al-Hujurāt [49] : 11).
Rasulullah SAW bersabda:
«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ»
Siapa saja yang melihat kemunkaran, maka ubahlah kemunkaran itu dengan tangannya.” (HR Muslim).
Semua yang tersebut di atas menuntut dengan segera. Begitu juga nash-nash yang terkait dengan tugas negara, seperti menegakkan hudūd (sanksi atau hukumam yang telah ditetapkan oleh syariah), memutus perkara di antara manusia (rakyat), serta mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad, juga menjaga perbatasan, dan menerapkan hukum-hukum syariah terhadap rakyat, maka semua itu dituntut untuk segera dilakukan. Termasuk bahwa kaum Muslim tidak boleh tinggal lebih dari tiga hari tanpa seorang Khalifah yang menerapkan syariah. Sementara Rasulullah SAW bersabda:
«وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً»
Siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya belum ada baiat, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah (berdosa).” (HR Muslim).
Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi mereka yang mengatakan, misalnya: “Saya akan berjuang menegakkan negara Islam, namun tidak sekarang, tetapi setelah saya lulus dari universitas”, atau mengatakan: “Setelah menyelesaikan proyek yang sedang saya jalankan”, atau yang serupa dengan itu. Karena berjuang ketika mampu itu wajib segera, sedang meninggalkannya adalah kemaksiatan.
Sedangkan aktivitas paling penting dalam perjuangan menegakkan Khilafah adalah menjelaskan konsep Khilafah ini kepada kaum Muslim, dan memahamkan mereka kepadanya, sampai ia menjadi aksioma pengetahuan agama yang lazim. Pada saat menjelasan konsep Khilafah kepada kaum Muslim serta memahamkan mereka kepadanya, maka bersamaan dengan itu juga harus jiwa mereka diisi dengan perasaan Islam yang mendorongnya untuk beramal, sabar, serta rela berkorban untuk terus berjuang demi menegakkannya.
﴿وَقُلْ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ﴾
Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu’.” (TQS At-Taubah [9] : 105).
[Muhammad Bajuri – Majalah Al-Waie )Arab), Edisi. 83, Tahun ke-VII, Syawal 1414 H./Maret 1994 M.]

Tumpukan sampah kertas yang diimpor oleh sebuah pabrik kertas untuk bahan baku kertas di Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (19/6/2019). Sampah plastik impor sebagian masuk bersama sampah kertas yang diimpor oleh pabrik kertas. ANTARA FOTO

Oleh: Maryati al fikru
Fenomena impor di negeri ini tampaknya kian menggila. Penguasa hari ini seolah sengaja membuka "kran" lebar-lebar dalam hal impor. Hal ini dapat dibuktikan dengan masuknya berbagai barang impor ke negeri ini. Mulai dari impor barang komoditas utama, impor tenaga kerja asing (TKA), dan juga impor dosen asing.
Akibatnya anak negeri harus berpikir dan berusaha lebih extra demi menghadapi persaingan yang amat ketat. Namun yang membuat miris, banyak dari anak negeri yang harus tumbang karena tak mampu menghadapi persaingan di karenakan minimnya dukungan dari penguasa.
Belum hilang bayang-bayang suram yang terus bergelayut di pikiran mereka setelah berjibaku dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang tiada memihak kepada rakyat seperti halnya impor.
Dan kini penguasa kembali menorehkan luka dengan maraknya impor sampah yang masuk ke negeri ini yang tentu saja akan menimbulkan problematika baru di dalam negeri.
Dalam beberapa bulan terakhir Indonesia kedapatan banyak kontainer sampah impor yang bermasalah dari negara lain. Pada akhir Maret lalu misalnya, ada lima kontainer sampah impor bermasalah yang dikirim dari Seattle di Amerika Serikat ke Surabaya, Jawa Timur.
Tak cuma di Surabaya, kontainer sampah impor bermasalah ternyata juga ditemukan di Batam, Kepulauan Riau. Dilansir Antara, tim gabungan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, dan Kantor Pelayanan Umum Bea Cukai Batam akan menindaklanjuti 65 kontainer sampah impor bermasalah yang ditemukan di Pelabuhan Bongkar Muat Batu Ampar, Batam.
65 kontainer tersebut merupakan milik dari empat perusahaan yang datang secara bertahap sejak awal Mei lalu. Namun hingga kini puluhan kontainer tersebut belum dikirimkan balik ke negara asalnya.
"Kalau (65 kontainer yang ada di) Batam baru akan diinvestigasi minggu ini. Saya belum bisa kasih penjelasan," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati kepada Antara di Jakarta, Ahad (16/6).
Dampak terhadap masyarakat yakni, mengingat sampah-sampah tersebut diduga mengandung bahan kimia berbahaya seperti limbah B3 dan bahan kimia berbahaya lainnya. Tentunya hal ini akan berakibat buruk bagi kesehatan di karenakan adanya pencemaran lingkungan yang juga berakibat pada kerusakan ekosistem.
Lagi-lagi rakyat hanya mampu mengelus dada menahan imbas yang di deritanya tanpa mampu mengadu akan nasibnya di karenakan abainya penguasa.
MOJOKERTO, iNews.id - Tumpukan sampah kertas yang diimpor oleh sebuah perusahaan pabrik kertas sebagai bahan baku kertas di Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (19/6/2019).
Berdasarkan data Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah Ecoton, masuknya sampah dengan merk dan lokasi jual di luar Indonesia, diduga akibat kebijakan China menghentikan impor sampah plastik dari sejumlah negara di Uni Eropa dan Amerika yang mengakibatkan sampah plastik beralih tujuan ke negara-negara di ASEAN.
Indonesia diperkirakan menerima sedikitnya 300 kontainer yang sebagian besar menuju ke Jawa Timur setiap harinya.
Nyatanya impor yang masuk tidak hanya sampah kertas saja melainkan berbagai macam plastik dan bahan berbahaya seperti limbah B3.

Apa Pemicunya

Maraknya impor sampah ini sebagai bukti betapa lemahnya posisi negeri ini dalam politik dan ekonomi.
Lagi-lagi pemicunya yakni sistem kapitalis demokrasi yang hari ini di emban oleh negeri ini. Dimana aturan yang di gunakan adalah aturan buatan manusia/pesanan dari para pengusaha/para elit politik. Akibatnya semua aturan dan kebijakan-kebijakan tak lagi mempertimbangkan kepentingan rakyatnya.
Inilah bukti bahwa negeri ini berada dalam cengkeraman neo imperialisme dan neo-liberalisme dimana penguasa akan terus tunduk pada tuannya bak kerbau di cocok hidungnya.
Akibat sistem Kapitalis ini pulalah telah tercipta para penguasa serakah.
Karena ulah para penguasa nakal inilah menjadikan para pengusaha lebih leluasa dengan tanpa beban dan tanpa malu terus memasukkan sampah-sampahnya ke negeri ini.
Dalam sistem kapitalis, pemimpin tega membiarkan ummat mengurus urusannya sendiri dalam segala lini dan membiarkan penjajah menguras aset negara. Demokrasi sistem kuffur produk import dari barat.
Indonesia yang kaya akan sumber daya alam nyatanya tak mampu mensejahterakan rakyatnya bahkan angka kemiskinan kian hari terus meningkat.
Ternyata hasil dari diterapkan nya sistem kapitalis liberal inilah menjadikan sumberdaya alam yang melimpah hanya bisa di nikmati oleh segelintir orang saja.

Islam Punya Solusi

Nabi Muhammad Saw bersabda:
« اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْكَلإَِ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ»
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api.“
Padang rumput disini yang dimaksud yaitu hutan.
Anugerah terbesar yang Allah berikan pada negeri ini adalah hutan. Negeri ini dikaruniai dengan salah satu hutan tropis yang paling luas dan memiliki aneka ragam flora dan fauna didunia. Hasil dari hutan tidak bisa dipandang remeh karena dari sini Indonesia bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar seharusnya.
Namun ditengah kekayaan yang melimpah ruah, Indonesia tidak bisa mengelolanya dengan baik, bahkan hingga hari ini masih banyak orang yang tega merusak dan membakar hutan karena keserakahan.
Dengan kekayaan hutan yang begitu melimpah semestinya negara mampu memenuhi kebutuhan hajat hidup rakyatnya tanpa harus mendatangkan impor dari luar. Hal ini akan terwujud ketika negara mengelola dengan baik dan benar akan hasil hutan.
Akan tetapi dalam sistem kapitalis ini rasanya sangat mustahil dan akan menjadi angan belaka.

Saatnya Umat Kembali Pada Aturan Islam

Di dalam Islam seorang pemimpin/khalifah bertanggungjawab penuh terhadap kemaslahatan umat. Ia merupakan perisai bagi umat karena tugasnya mengurus (meri'ayah) urusan umat sesuai hukum syara.
Khalifah hanya akan menerapkan aturan Islam atauran agung yang datang dari Ilahi Robby.
Dalam Islam Sumber Daya Alam seperti air,Padang rumput dan Api adalah untuk kemaslahatan umat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
Dan semua itu akan mampu terwujud manakala negara menerapkan aturan Islam.
Saat Islam memimpin Peradaban Mulia.
Wallahu a'lam bisawwab.

Image result for pengadilan mk pilpres 2019
Oleh : Nasrudin Joha

Anda kembali membaca artikel saya, tepat sesaat setelah putusan MK diumumkan. Anda mengira, saya akan bergembira karena telah tepat membuat prediksi akhir putusan : sejumput kekuasan mengalahkan segudang kepintaran dan ilmu pengetahuan.
Tidak, Anda keliru. Bahkan, saya sangat bersedih, prihatin dan berduka. Saya berharap, prediksi saya keliru. Saya berharap ada keadilan dari ketukan Palu hakim MK. Berharap, ada ketegasan hakim MK mengoreksi Pilpres curang. Berharap, ada air keadilan dari putusan MK yang mampu menyiram dahaga rakyat yang telah lama dirundung kemarau panjang dalam tekanan dan kezaliman.
Namun, itulah kenyataannya. Putusan itu, persis seperti yang saya tulis: Pengokohan kemenangan untuk rezim curang.
Rasanya, dipelupuk mata saya tergambar lagi, saat kita bersama-sama menyadarkan umat tentang rezim zalim yang tak layak memimpin. Entah, sudah berapa ratus artikel agitasi yang saya buat, untuk meyakinkan umat agar jangan pilih Jokowi.
Kita juga pernah berada di puncak keyakinan, manakala opini sosmed dan suasana kampanye, memberi gambaran nyata tentang kekalahan kubu rezim. Saat itu, semua kampanye Jokowi sepi, sementara kampanye Prabowo begitu riuh ramai.
Rasanya, saat itu kita sudah berada pada era berakhirnya kezaliman. Kita, berada di puncak keyakinan akan mengabarkan kepada anak cucu kita, tentang berakhirnya era penindasan dan kezaliman.
Ya, inilah kenyataan yang saya juga sudah pernah ingatkan. Persoalan yang kita hadapi bukan hanya rezim, tapi kapitalisme global baik yang diwakili Amerika maupun China, yang jelas tak mau dominasi Islam mengatur negeri ini.
Saya begitu merasakan 'Ruh Islam' dalam Pilpres kali ini. Tentang kampanye yang diawali sholat tahajud, tentang barisan emak yang menutup aurat, tentang aksi dalam kondisi berpuasa di bulan Ramadhan, terakhir tentang keseluruhan aksi di MK yang tak meninggalkan kewajiban sholat. Bahkan, sholat itu dilakukan secara berjamaah di jalanan. Ruh Islam itu begitu tegas tergambar dalam benak.
Jelas, kapitalisme barat dan timur, baik Amerika maupun China, tidak akan pernah ridlo negeri ini diatur dengan Islam. Mereka bertarung dalam urusan dagang, tapi untuk urusan Islam mereka berkoalisi untuk memerangi kebangkitan Islam. Baru semangat Islam yang hadir saja mereka penggal, apalagi jika syariat Islam yang berdaulat mengatur negeri ?
Sekarang putusan MK apapun itu, telah dibacakan. Apakah kita bisa melawan ? Berontak ? Secara formal tidak bisa. Putusan MK telah didesain sebagai putusan final yang mengikat. Tidak ada opsi pikir-pikir, Banding, Kasasi, atau mengajukan Peninjauan Kembali.
Kembali, kita seolah dipaksa menerima kezaliman yang telah begitu terang benderang dipelupuk mata kita. Tapi kita dibuat tak berdaya, kaki kita seperti terpasung, tangan kita terbelenggu, sementara mulut kita terkunci.
Hanya hati kita yang menjerit, menangis, berderai air mata. Sementara pikiran kita menerawang jauh, memikirkan kerusakan yang tidak lama lagi akan semakin masif terjadi di negeri ini.
Kebijakan yang semakin zalim, utang negara yang semakin menumpuk, aset negara dan BUMN-BUMN dijual, serbuan TKA China akan lebih marak, pengangguran makin parah, PHK meluas, neraca dagang makin defisit, kriminalisasi ajaran dan simbol Islam akan lebih keras, perburuan pada aktivis dengan dalih radikal, dan seabrek problem bangsa lainnya yang akan makin terasa.
Kita pun tertegun, sayup-sayup suara anak cucu bangsa ini mulai meraung raung mendakwa kita. "Wahai kakek-kakek kami, wahai bapak-bapak kami, kenapa kami generasi yang tak berdosa ini diwarisi negara dengan segudang masalah ? Apa salah dan dosa kami ?".
Jelas, ini semua wajib membuat kita, generasi umat ini, generasi Rasulullah SAW ini untuk bermuhasabah. Paling tidak, ada beberapa pertanyaan paling mendasar yang perlu kita jawab.
Akankah kita menyerah ? Berhenti berjuang ? Pasrah dan menerima nasib ? Mengakhiri perlawanan dan menyerahkan leher kepada rezim curang dan zalim ?
Lantas, perlu juga untuk memeriksa ulang niat dan motivasi kita selama ini. Apakah kita melawan dan berjuang karena Allah SWT ? Atau hanya karena partai ? Karena capres ? Karena khawatir didakwa anak cucu kelak ? Atau sekedar untuk lepas dari himpitan hidup ?
Muara dari muhasabah ini akan sampai pada pertanyaan kesimpulan. Darimana kita diciptakan ? Untuk apa kita hidup ? Akan kemana setelah ajal menjemput ?
Bagi kita, umat Rasulullah SAW yang beriman Allah SWT yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan. Kita yakin, visi hidup adalah untuk menghamba kepada Allah. Dan, kita juga yakin hanya kepada Allah SWT lah, tempat kembali setelah ajal menjemput.
Dengan keyakinan itu, kita pasti memiliki kesimpulan.
Pertama, kita berjuang hanya karena Allah dan untuk tujuan Allah SWT semata. Bukan karena capres, bukan karena partai, bukan karena perut yang lapar, atau karena sebab-sebab duniawi lainnya.
Kedua, tujuan perjuangan itu ingin mengantarkan kita pada ridlo Allah SWT dan keluasan hidup. Kemudahan ekonomi, keamanan dan kenyamanan menjalani hidup dan kehidupan, jaminan untuk menjalankan aktivitas beribadah dan berdakwah.
Ketiga, kita tidak akan pernah berhenti berjuang hingga ajal menjemput, karena kita sadar hanya ajal yang layak menjadi sebab berakhirnya perjuangan.
Ketiga keyakinan ini, tentu akan membawa kita untuk mengevaluasi jalan perjuangan kita. Apakah akan tetap menempuh jalan yang ada dan sudah kita buktikan kemustahilannya mencapai tujuan ridlo Allah SWT, yakni jalan sesat demokrasi. Atau kita akan mengupayakan jalan lain ? Jalan yang dahulu ditempuh Rasulullah SAW dan para sahabat ? Jalan, yang mengantarkan Rasulullah mencapai tampuk kekuasaan di Madinah ? Jalan, yang mengantarkan para sahabat setelahnya, mampu menaklukkan dunia dan membawa misi dakwah Islam ke seluruh penjuru alam ?
Jalan, yang sejak niat hingga amalan rincian semua terikat dengan syariat. Jalan, yang tidak akan membuat kita berpaling dari ketentuan Allah SWT oleh sebab godaan remah-remah dunia.
Wahai kaum muslimin yang dimuliakan Allah SWT,
Saya tidak pernah menjauh dari kalian, bahkan saya turut berada di parit-parit perjuangan untuk mencapai apa yang kalian inginkan. Berupa, kekuasan dan perubahan untuk umat ini.
Namun, kalian sudah saksikan betapa demokrasi memang tak pernah memberi jalan kepada umat Islam untuk sekedar mewarnai kekuasaan, apalagi sampai ke tampuk kekuasaan. Ini bukan skenario rezim saja, dibelakang rezim ada kafir penjajah baik Amerika dan China yang jelas tak ingin negeri ini diwarnai dengan syiar Islam.
Bagaimana mungkin kita bisa memenangkan kompetisi dalam demokrasi, Lha mereka yang pegang kendali, mereka wasit sekaligus hakim pemutus ? Mereka yang punya wewenang untuk menentukan siapa yang berhak berkuasa.
Lantas, apakah kita tidak ambil pelajaran dari Partai Reffah Turki, partai FIS Aljazair, partai HAMMAS Palestina, termasuk Mursi yang telah sampai ke tampuk kekuasaan secara demokratis namun akhirnya ditumbangkan ?
Kenapa kita masih bermimpi 'kalau kita menang pemilu, kita akan terapkan syariat Islam'. Bukankah Mursi telah berkuasa? Mursi bukan 'kalau' tapi Mursi telah 'menang pemilu' telah sampai ke tampuk kekuasaan, namun ketika ingin menerapkan Islam, demokrasi langsung memenggalnya. Lantas, bagaimana dengan yang baru bermimpi 'kalau berkuasa ?'.
Coba ingat lagi, siapa yang bertanggung jawab atas sejumlah korban nyawa umat Islam yang menjadi anggota KPPS, lebih 700 orang tewas. Siapa yang dipersalahkan atas tewasnya umat Islam dalam peristiwa 21-22 Mei. Para elit itu, baik yang menang maupun yang dikalahkan tidak akan ada yang mau dipersalahkan, apalagi diminta bertanggung jawab. Semua itu adalah korban demokrasi.
Lantas, apa yang menghalangi kita untuk meniti jalan Nabi SAW ? Meninggalkan demokrasi ? Meninggalkan elit politik pengkhianat ? Meniti jalan dakwah sendiri bersama umat, agar tidak terjebak dalam bingkai pilih-pilihan yang dipenuhi kecurangan. Bergerak atas asas pergerakan massa yang mandiri, sambil mencari dukungan ahlul Quwwah.
Saya, memaparkan ini karena saya mencintai kalian wahai umat Islam. Kita, tetap harus kembali bangkit, bergerak, berjuang dengan visi jelas, untuk menerapkan syariat Islam.
Kita, tidak mungkin menyerahkan urusan ini kepada elit politik yang hanya peduli dengan kekuasan. Mereka melihat umat hanya dijadikan tangga-tangga untuk meraih tampuk kekuasaan. Mereka tidak pernah memikirkan Umat.
Lihat saja, mereka seolah telah melupakan ratusan nyawa yang meninggal. Beberapa hari Kedepan, mereka akan bersorak sorai merayakan kemenangan. Mereka, akan sibuk berbagi konsesi, bagi jatah menteri, bagi-bagi kursi.
Lantas, kenapa kalian masih mengikat loyalitas kepada entitas yang tidak pernah memikirkan kalian ? Kenapa, kalian tetap terus Istiqomah menempuh jalan demokrasi, padahal berulang kali kalian telah dikhianati ?
Ya Allah, selamatkanlah umat ini. Ya Allah, segera turunkan pertolongan-Mu, karena umat ini sudah terlalu sakit dan menderita hidup dalam naungan demokrasi sekuler. Umat ini, sudah sangat rindu tegaknya syariah dalam naungan Daulah khilafah.

Image result for pengadilan akhirat
Saat ini jutaan pandangan mata rakyat negeri ini tertuju pada Mahkamah Konstitusi (MK). Pasalnya, di tangan MK-lah putusan akhir sengketa Pilpres—yang dituding diwarnai oleh banyak kecurangan secara terstruktur, sistematis dan massif—ditetapkan. Ada yang begitu berharap keadilan pada MK. Apalagi saat ada hakim MK yang terang menyatakan hanya takut kepada Allah SWT. Namun, tak sedikit yang pesimis. Bahkan menganggap persidangan sengketa Pilpres tak berguna. Hanya sandiwara. Pasalnya, siapa pemenangnya sudah diduga. Apalagi sebagian—jika tidak sebagian besar—para hakim MK dianggap oleh sebagian orang pro petahana.

Di sisi lain, dalam banyak kasus, dunia peradilan di negeri ini sering mempertontonkan ketidakadilan. Mereka yang sering mengritik rezim, misalnya, begitu mudah dan cepat diadili. Segera dijadikan tersangka. Bahkan terdakwa. Lalu masuk penjara. Sebaliknya, mereka yang pro rezim, meski nyata-nyata melanggar hukum, dibiarkan begitu saja. Bebas. Lepas dari segala tuntutan. Inilah pengadilan di dunia. Sebuah pengadilan yang bertumpu pada hukum-hukum sekular buatan manusia serta ditopang oleh para aparat dan penegak hukum yang kebanyakan jauh dari nilai-nilai agama (Islam).

Pengadilan Akhirat

Dalam sebuah hadis dijelaskan, bahwa pernah seorang wanita ternama dari suku Makhzumi mencuri pada zaman Rasulullah saw. Keluarganya mencoba mendapatkan keringanan hukuman dari Rasul saw. Mereka memohon agar beliau tidak menerapkan hukuman potong tangan atas dirinya. Mendengar dan melihat sikap mereka itu, beliau marah sambil bersabda:

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ النَّاسَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ فَقُطِعَتْ يَدُهَا
“Sungguh orang-orang sebelum kalian hancur karena saat ada orang terpandang mencuri, mereka biarkan, tetapi saat orang lemah (rakyat jelata) mencuri, mereka menerapkan hukuman atas dirinya. Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, bahkan andai Fathimah anak Muhammad mencuri, pasti akan aku potong tangannya.” Rasulullah lalu memerintahkan agar wanita itu dipotong tangannya (HR al-Bukhari dan Muslim).
Secara tersurat, sabda Baginda Rasulullah saw di atas menegaskan, bahwa saat hukum diberlakukan secara tidak adil—hanya berpihak kepada yang kuat dan cenderung menzalimi yang lemah—maka kehancuran masyarakat pasti akan terjadi. 

Kenyataannya, saat ini apa yang disinggung Rasulullah saw di atas benar-benar terjadi. Di alam sekularisme yang menerapkan hukum-hukum buatan manusia, termasuk di negeri ini, keadilan menjadi semacam barang mewah. Musykil bisa dinikmati oleh rakyat kecil dan lemah. Keadilan seolah hanya milik para pejabat dan mereka yang berduit. Di negeri ini rakyat kecil yang mencuri benda senilai beberapa rupiah saja bisa dijerat hukuman beberapa bulan. Sebaliknya, penguasa, para pejabat atau mereka yang berduit bisa bebas melenggang dari jeratan hukuman meski mereka menilep miliaran hingga triliunan uang negara.

Itulah pengadilan di dunia. Sebuah pengadilan semu. Bahkan palsu. Pengadilan yang menjadi alat untuk sekadar menghukum rakyat kecil. Pengadilan yang hukumannya tidak akan mampu menghapus dosa-dosa para kriminal. Pengadilan yang para penegak hukumnya banyak yang bermental bobrok. Tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Mudah dibeli. Gampang tergoda oleh rayuan uang, harta, wanita, jabatan kekuasaan dan kenikmatan dunia lainnya. 

Mereka ini lupa, bahwa para hakim dan para penegak hukum, karena wewenang mereka, mungkin lihai mempermainkan hukum di dunia. Para terdakwa, karena pengaruh mereka atau karena uang yang mereka miliki, mungkin sering lepas dari pengadilan manusia di dunia. Namun, yakinlah, mereka tak akan pernah bisa melepaskan diri dari hukuman di Pengadilan Akhirat. Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لاَ ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dia usahakan. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sungguh Allah amat cepat hisab-Nya (TQS Ghafir [40]: 16 -17).
Mereka lupa, bahwa di dunia boleh saja mereka mempermainkan hukum, atau bisa lepas dari jeratan hukum. Namun, di akhirat mereka mustahil bisa lari dari hukuman dan azab Allah SWT. Tentu karena di Pengadilan Akhirat, dengan Allah sebagai Hakimnya, tidak akan ada sogok-menyogok, beking-membekingi atau kongkalingkong. Semuanya tunduk dan bertekuk lutut di hadapan kekuasaan dan keperkasaan-Nya. Di Pengadilan Akhirat semua ucapan dan perbuatan ditimbang seadil-adilnya. Tak ada yang terlewatkan kendati hanya sebesar biji sawi (TQS al-Zalzalah [99]: 7-8).

Di Pengadilan Akhirat tak satu pun yang dapat menolong. Di sana seluruh harta, anak, jabatan dan apa saja yang dibanggakan di dunia ini tidak akan berguna sama sekali. Hanya hati yang selamat (qalb[un] salîm) yang dapat menolong (TQS asy-Syuara [26]: 88—89).

Siapapun tidak akan bisa lolos dari hukuman. Mereka tidak akan bisa berbohong dan berkelit. Sebab mulut-mulut mereka terkunci, sementara anggota tubuh mereka (tangan, kaki, telinga, mata dan kulit) menjadi saksi (TQS Yasin [36]: 65). 

Allah SWT menegakkan timbangan di Pengadilan Akhirat nanti dengan akurat (QS al-Anbiya [21]: 47). Sungguh beruntung orang-orang yang berat timbangannya dan sungguh merugilah orang-orang yang ringan timbangannya (QS al-Araf [7]: 8-9).

Saat Penyesalan Tak Berguna

Sekarang ini banyak sekali orang tak menyesal sedikit pun saat telah melakukan banyak dosa, bahkan dosa besar. Misalnya: berzina, makan riba, berbohong, sering menebar janji palsu, berlaku curang, zalim terhadap rakyat, tidak adil dalam memutuskan hukum, dsb. Mereka melakukan semua itu tanpa beban. Tanpa merasa berdosa. Bahkan mungkin dengan ketenangan yang luar biasa.

Padahal penyesalan, meski acapkali terlambat, tetaplah berguna. Masih lumayan menyesal di dunia. Masih mungkin untuk menebus rasa sesal. Tentu dengan bertobat. Dengan tawbat[an] nasuha.
Yang repot adalah saat penyesalan benar-benar datang terlambat. Bukan di dunia, tetapi di akhirat. Saat ajal mulai mendekat. Tak lama kemudian tiba sakratul maut. Lalu pada akhirnya jasad membujur kaku di liang lahat. Saat itu tak ada gunanya lagi rasa sesal. Tak ada lagi kesempatan untuk bertobat. Yang ada hanyalah kesiapan menghadapi segala akibat. Pahala atau dosa. Nikmat surga atau azab neraka.

Karena itu Rasulullah saw. mengingatkan bahwa tidak ada orang yang mati melainkan mereka menyesali hidupnya, “Tidaklah seseorang mati melainkan ia akan menyesal.” Orang-orang bertanya, “Ya Rasulullah, apa penyesalannya?” Beliau menjawab, “Jika ia orang baik, ia menyesal mengapa tidak lebih banyak lagi (kebaikannya). Jika ia orang jahat, ia menyesal mengapa tidak segera meninggalkan (kejahatannya).” (HR at-Tirmidzi).

Karena itu pula, bersegeralah mengerjakan amal shalih dan ketaatan kepada Allah SWT. Berusaha melaksanakan dan menegakkan hukum-hukum-Nya di muka bumi. Itulah amalan orang-orang cerdik yang meyakini adanya kehidupan setelah umur di dunia ini berakhir. Mereka mengharapkan balasan terbaik di sisi Allah SWT dengan menjadikan takwa sebagai bekal untuk mendapatkannya. Saat demikian mereka akan terhindar dari penyesalan di akhirat.

Tentu berbeda halnya dengan orang-orang fasik atau kafir. Di dunia mereka mungkin merasakan banyak kesenangan. Hidup Bahagia. Tak pernah merasakan kesulitan. Diliputi banyak kemudahan. Harta berlimpah. Posisi dan jabatan terpandang: presiden, menteri, anggota dewan, kepala daerah, pimpinan partai, pejabat teras, dsb. Namun, semua itu pasti tak ada artinya. Bahkan bisa menjadi sesalan di akhirat. Tentu saat di dunia dia banyak membangkang kepada Allah SWT. Banyak bermaksiat kepada-Nya. Mencampakkan syariah-Nya. Berlaku curang. Tidak adil dalam memutuskan hukum. Berbuat zalim kepada rakyat, dsb. Saat itulah kebenaran firman Allah SWT benar-benar nyata:

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا
Sungguh Kami telah memperingatkan kalian siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku dulu hanyalah tanah.” (QS an-Naba [78]: 40).
Allah SWT pun berfirman:

وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ اْلإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى (23) يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي (24)

Pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi kesadarannya itu tidaklah berguna lagi bagi dirinya. Manusia berkata, “Alangkah baiknya seandainya dulu aku melakukan kebajikan untuk hidupku.” (QS al-Fajr [89]: 23-24).

Alhasil, selayaknya kita segera bertobat sebelum terlambat. Taat sebelum ajal mendekat. Segera meninggalkan maksiat agar tak menyesal di akhirat. []

Hikmah:

Allah SWT berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin? (TQS al-Maidah [5]: 50). []
Teman-teman karib pada hari itu (Hari Kiamat nanti) saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa (QS az-Zukhruf [43]: 67).

Buletin dakwah Kaffah No. 095
[25 Syawal 1440 H | 28 Juni 2019]
Powered by Blogger.