kushner_netanyahu_2019_afp
Berita
Baru-baru ini, Jared Kushner, menantu Donald Trump, mengatakan bahwa Palestina tidak siap untuk memiliki pemerintahan sendiri dan tidak dapat mengharapkan kebebasan dari campur tangan negara Yahudi. Komentar Kushner itu disampaikan hanya beberapa minggu sebelum AS mengungkap apa yang disebut sebagai “kesepakatan abad ini” dari sebuah perjanjian damai di sebuah pertemuan ekonomi di Bahrain. Kushner telah mengisyaratkan sebelumnya bahwa mungkin Palestina tidak dimasukkan dalam opsi negara merdeka, yang telah menjadi tuntutan utama Palestina dan solusi yang telah lama diterima atas krisis yang telah berlangsung puluhan tahun itu. [1]
Komentar
Pernyataan Kushner itu tidak mengejutkan — yang dianggap sebagai arsitek ‘kesepakatan abad ini’ atau ‘Palestina Baru’ telah melakukan kampanye ganas untuk memarginalkan peran Palestina dalam kesepakatan damai apa pun. Di bawah saran Kushner itu, Trump telah mengakui Yerusalem sebagai ibukota entitas Yahudi [2] dan telah memindahkan Kedutaan Besar Amerika dari ‘Tel Aviv’ ke Yerusalem [3]. Trump juga menyatakan bahwa Dataran Tinggi Golan adalah bagian dari entitas Yahudi dan bukan bagian dari Suriah. [4] Tindakan yang dilakukan hingga sekarang yang menyinggung Kushner hingga mengubah keuntungan teritorial yang telah ada yang dibuat oleh entitas Yahudi –  namun diperdebatkan oleh hukum internasional – menjadi keuntungan politik permanen. Rencana yang bocor tentang ‘Palestina Baru’ dibangun berdasarkan tema ini dan secara efektif menghapus negara Palestina dari peta.
Bahkan sebelum langkah-langkah dan kebocoran informasi yang disebutkan di atas, solusi dua negara yang diperjuangkan oleh Amerika hampir tidak dapat dijalankan. Solusi yang sangat bias dalam mendukung menjaga keamanan teritorial entitas Yahudi membuat gagasan terhadap negara Palestinamenjadi bahan ejekan. Trump hanya memperluas logika ini dan akan memberikan rakyat Palestina suatu tanah yang sulit dari kehidupan apalagi sebuah negara. Memang, rencana yang bocor ini menunjukkan bahwa rakyat Palestina pada akhirnya akan didorong untuk masuk ke Sinai dan Yordania.
Di jantung rencana Trump untuk Palestina baru terdapat pengkhianatan Arab. Negara-negara Teluk bersama dengan Mesir dan Suriah melakukan yang terbaik untuk membuat rencana itu berhasil. Dengan menawarkan miliaran dolar, Arab Saudi dan UEA berharap rakyat Palestina akan menyerah pada kenyataan yang baru dan menyetujui kesepakatan tersebut.
Intervensi asing dan pengkhianatan para penguasa Muslim bukanlah hal baru dalam sejarah Al-Sham. Sembilan abad yang lalu tentara salib mendirikan kerajaan-kerajaan dengan benteng seperti Yerusalem, Antiokhia, Tripoli, Edessa di dekat pantai Levant yang didukung oleh tipu daya kaum Ayyubiyah dan kaum Seljuk. Pengkhianatan ini memungkinkan kerajaan para pejuang salib untuk berkembang selama hampir dua ratus tahun hingga kaum Mamluk menghancurkan jaringan pendukung berbahaya itu dan mengalahkan kekuasaan tentara salib selama 600 tahun ke depan.
Pada awal abad kedua puluh, Inggris menerapkan formula tentara salib yang sama untuk mengumumkan Deklarasi Balfour, yang mencapai puncaknya di bawah pengawasan Amerika dengan kelahiran kembali proyek tentara salib baru yang dikenal sebagai negara Yahudi. Hari ini, Amerika pimpinan Trump ingin untuk memperpanjang proyek tentara salib itu selama seratus tahun lagi melalui pengkhianatan para penguasa negara-negara Islam. Produk intervensi Amerika dan pengkhianatan para penguasa setempat akan diumumkan sebagai kesepakatan Trump abad ini.
Masalahnya bukanlah tentang kemampuan Palestina untuk memerintah dirinya sendiri. Sebaliknya, masalah sebenarnya selalu tentang penduduk Syam yang berjanji untuk mendirikan Negara Khilafah Rasyidah yang akan mengakhiri proyek tentara salib untuk selamanya. Negara Khilafah tidak hanya akan membebaskan Palestina tetapi juga akan menghapus dominasi kekuatan kolonial asing dan pengkhianatan agen-agen mereka dari seluruh wilayah Syam. Hal pun yang kurang dari upaya ini akan melanggengkan kekuasaan pasukan salibis dan meningkatkan kesengsaraan rakyat Palestina.
Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir oleh Abdul Majeed Bhatti
Referensi:
[1] The Independent (2019). Palestina tidak siap untuk memerintah diri mereka sendiri, kata Jared Kushner menjelang rencana perdamaian yang telah lama ditunggu-tunggu. [online] Independen.
https://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/palestinians-jared-kushner-israel-peace-plan-gaza-strip-us-trump-netanyahu-a8941651.html [8 Juni 2019].
[2] Vox News (2018). Penjelasan Pembukaan Kedubes AS di Yerusalem yang kontroversial. [online] Vox News.: https://www.vox.com/2018/5/14/17340798/jerusalem-embassy-israel-palestinians-us-trump [30 Mei 2019].
[3] Reuters (2018). Mengapa AS memindahkan Kedubesnya ke Yerusalem? [online] Reuters.
https://www.reuters.com/article/us-usa-israel-diplomacy-jerusalem-explai/why-is-the-us-moving-its-embassy-to-jerusalem-idUSKBN1I811N [30 Mei 2019].

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.