Image result for pengadilan mk pilpres 2019
Oleh : Nasrudin Joha

Anda kembali membaca artikel saya, tepat sesaat setelah putusan MK diumumkan. Anda mengira, saya akan bergembira karena telah tepat membuat prediksi akhir putusan : sejumput kekuasan mengalahkan segudang kepintaran dan ilmu pengetahuan.
Tidak, Anda keliru. Bahkan, saya sangat bersedih, prihatin dan berduka. Saya berharap, prediksi saya keliru. Saya berharap ada keadilan dari ketukan Palu hakim MK. Berharap, ada ketegasan hakim MK mengoreksi Pilpres curang. Berharap, ada air keadilan dari putusan MK yang mampu menyiram dahaga rakyat yang telah lama dirundung kemarau panjang dalam tekanan dan kezaliman.
Namun, itulah kenyataannya. Putusan itu, persis seperti yang saya tulis: Pengokohan kemenangan untuk rezim curang.
Rasanya, dipelupuk mata saya tergambar lagi, saat kita bersama-sama menyadarkan umat tentang rezim zalim yang tak layak memimpin. Entah, sudah berapa ratus artikel agitasi yang saya buat, untuk meyakinkan umat agar jangan pilih Jokowi.
Kita juga pernah berada di puncak keyakinan, manakala opini sosmed dan suasana kampanye, memberi gambaran nyata tentang kekalahan kubu rezim. Saat itu, semua kampanye Jokowi sepi, sementara kampanye Prabowo begitu riuh ramai.
Rasanya, saat itu kita sudah berada pada era berakhirnya kezaliman. Kita, berada di puncak keyakinan akan mengabarkan kepada anak cucu kita, tentang berakhirnya era penindasan dan kezaliman.
Ya, inilah kenyataan yang saya juga sudah pernah ingatkan. Persoalan yang kita hadapi bukan hanya rezim, tapi kapitalisme global baik yang diwakili Amerika maupun China, yang jelas tak mau dominasi Islam mengatur negeri ini.
Saya begitu merasakan 'Ruh Islam' dalam Pilpres kali ini. Tentang kampanye yang diawali sholat tahajud, tentang barisan emak yang menutup aurat, tentang aksi dalam kondisi berpuasa di bulan Ramadhan, terakhir tentang keseluruhan aksi di MK yang tak meninggalkan kewajiban sholat. Bahkan, sholat itu dilakukan secara berjamaah di jalanan. Ruh Islam itu begitu tegas tergambar dalam benak.
Jelas, kapitalisme barat dan timur, baik Amerika maupun China, tidak akan pernah ridlo negeri ini diatur dengan Islam. Mereka bertarung dalam urusan dagang, tapi untuk urusan Islam mereka berkoalisi untuk memerangi kebangkitan Islam. Baru semangat Islam yang hadir saja mereka penggal, apalagi jika syariat Islam yang berdaulat mengatur negeri ?
Sekarang putusan MK apapun itu, telah dibacakan. Apakah kita bisa melawan ? Berontak ? Secara formal tidak bisa. Putusan MK telah didesain sebagai putusan final yang mengikat. Tidak ada opsi pikir-pikir, Banding, Kasasi, atau mengajukan Peninjauan Kembali.
Kembali, kita seolah dipaksa menerima kezaliman yang telah begitu terang benderang dipelupuk mata kita. Tapi kita dibuat tak berdaya, kaki kita seperti terpasung, tangan kita terbelenggu, sementara mulut kita terkunci.
Hanya hati kita yang menjerit, menangis, berderai air mata. Sementara pikiran kita menerawang jauh, memikirkan kerusakan yang tidak lama lagi akan semakin masif terjadi di negeri ini.
Kebijakan yang semakin zalim, utang negara yang semakin menumpuk, aset negara dan BUMN-BUMN dijual, serbuan TKA China akan lebih marak, pengangguran makin parah, PHK meluas, neraca dagang makin defisit, kriminalisasi ajaran dan simbol Islam akan lebih keras, perburuan pada aktivis dengan dalih radikal, dan seabrek problem bangsa lainnya yang akan makin terasa.
Kita pun tertegun, sayup-sayup suara anak cucu bangsa ini mulai meraung raung mendakwa kita. "Wahai kakek-kakek kami, wahai bapak-bapak kami, kenapa kami generasi yang tak berdosa ini diwarisi negara dengan segudang masalah ? Apa salah dan dosa kami ?".
Jelas, ini semua wajib membuat kita, generasi umat ini, generasi Rasulullah SAW ini untuk bermuhasabah. Paling tidak, ada beberapa pertanyaan paling mendasar yang perlu kita jawab.
Akankah kita menyerah ? Berhenti berjuang ? Pasrah dan menerima nasib ? Mengakhiri perlawanan dan menyerahkan leher kepada rezim curang dan zalim ?
Lantas, perlu juga untuk memeriksa ulang niat dan motivasi kita selama ini. Apakah kita melawan dan berjuang karena Allah SWT ? Atau hanya karena partai ? Karena capres ? Karena khawatir didakwa anak cucu kelak ? Atau sekedar untuk lepas dari himpitan hidup ?
Muara dari muhasabah ini akan sampai pada pertanyaan kesimpulan. Darimana kita diciptakan ? Untuk apa kita hidup ? Akan kemana setelah ajal menjemput ?
Bagi kita, umat Rasulullah SAW yang beriman Allah SWT yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan. Kita yakin, visi hidup adalah untuk menghamba kepada Allah. Dan, kita juga yakin hanya kepada Allah SWT lah, tempat kembali setelah ajal menjemput.
Dengan keyakinan itu, kita pasti memiliki kesimpulan.
Pertama, kita berjuang hanya karena Allah dan untuk tujuan Allah SWT semata. Bukan karena capres, bukan karena partai, bukan karena perut yang lapar, atau karena sebab-sebab duniawi lainnya.
Kedua, tujuan perjuangan itu ingin mengantarkan kita pada ridlo Allah SWT dan keluasan hidup. Kemudahan ekonomi, keamanan dan kenyamanan menjalani hidup dan kehidupan, jaminan untuk menjalankan aktivitas beribadah dan berdakwah.
Ketiga, kita tidak akan pernah berhenti berjuang hingga ajal menjemput, karena kita sadar hanya ajal yang layak menjadi sebab berakhirnya perjuangan.
Ketiga keyakinan ini, tentu akan membawa kita untuk mengevaluasi jalan perjuangan kita. Apakah akan tetap menempuh jalan yang ada dan sudah kita buktikan kemustahilannya mencapai tujuan ridlo Allah SWT, yakni jalan sesat demokrasi. Atau kita akan mengupayakan jalan lain ? Jalan yang dahulu ditempuh Rasulullah SAW dan para sahabat ? Jalan, yang mengantarkan Rasulullah mencapai tampuk kekuasaan di Madinah ? Jalan, yang mengantarkan para sahabat setelahnya, mampu menaklukkan dunia dan membawa misi dakwah Islam ke seluruh penjuru alam ?
Jalan, yang sejak niat hingga amalan rincian semua terikat dengan syariat. Jalan, yang tidak akan membuat kita berpaling dari ketentuan Allah SWT oleh sebab godaan remah-remah dunia.
Wahai kaum muslimin yang dimuliakan Allah SWT,
Saya tidak pernah menjauh dari kalian, bahkan saya turut berada di parit-parit perjuangan untuk mencapai apa yang kalian inginkan. Berupa, kekuasan dan perubahan untuk umat ini.
Namun, kalian sudah saksikan betapa demokrasi memang tak pernah memberi jalan kepada umat Islam untuk sekedar mewarnai kekuasaan, apalagi sampai ke tampuk kekuasaan. Ini bukan skenario rezim saja, dibelakang rezim ada kafir penjajah baik Amerika dan China yang jelas tak ingin negeri ini diwarnai dengan syiar Islam.
Bagaimana mungkin kita bisa memenangkan kompetisi dalam demokrasi, Lha mereka yang pegang kendali, mereka wasit sekaligus hakim pemutus ? Mereka yang punya wewenang untuk menentukan siapa yang berhak berkuasa.
Lantas, apakah kita tidak ambil pelajaran dari Partai Reffah Turki, partai FIS Aljazair, partai HAMMAS Palestina, termasuk Mursi yang telah sampai ke tampuk kekuasaan secara demokratis namun akhirnya ditumbangkan ?
Kenapa kita masih bermimpi 'kalau kita menang pemilu, kita akan terapkan syariat Islam'. Bukankah Mursi telah berkuasa? Mursi bukan 'kalau' tapi Mursi telah 'menang pemilu' telah sampai ke tampuk kekuasaan, namun ketika ingin menerapkan Islam, demokrasi langsung memenggalnya. Lantas, bagaimana dengan yang baru bermimpi 'kalau berkuasa ?'.
Coba ingat lagi, siapa yang bertanggung jawab atas sejumlah korban nyawa umat Islam yang menjadi anggota KPPS, lebih 700 orang tewas. Siapa yang dipersalahkan atas tewasnya umat Islam dalam peristiwa 21-22 Mei. Para elit itu, baik yang menang maupun yang dikalahkan tidak akan ada yang mau dipersalahkan, apalagi diminta bertanggung jawab. Semua itu adalah korban demokrasi.
Lantas, apa yang menghalangi kita untuk meniti jalan Nabi SAW ? Meninggalkan demokrasi ? Meninggalkan elit politik pengkhianat ? Meniti jalan dakwah sendiri bersama umat, agar tidak terjebak dalam bingkai pilih-pilihan yang dipenuhi kecurangan. Bergerak atas asas pergerakan massa yang mandiri, sambil mencari dukungan ahlul Quwwah.
Saya, memaparkan ini karena saya mencintai kalian wahai umat Islam. Kita, tetap harus kembali bangkit, bergerak, berjuang dengan visi jelas, untuk menerapkan syariat Islam.
Kita, tidak mungkin menyerahkan urusan ini kepada elit politik yang hanya peduli dengan kekuasan. Mereka melihat umat hanya dijadikan tangga-tangga untuk meraih tampuk kekuasaan. Mereka tidak pernah memikirkan Umat.
Lihat saja, mereka seolah telah melupakan ratusan nyawa yang meninggal. Beberapa hari Kedepan, mereka akan bersorak sorai merayakan kemenangan. Mereka, akan sibuk berbagi konsesi, bagi jatah menteri, bagi-bagi kursi.
Lantas, kenapa kalian masih mengikat loyalitas kepada entitas yang tidak pernah memikirkan kalian ? Kenapa, kalian tetap terus Istiqomah menempuh jalan demokrasi, padahal berulang kali kalian telah dikhianati ?
Ya Allah, selamatkanlah umat ini. Ya Allah, segera turunkan pertolongan-Mu, karena umat ini sudah terlalu sakit dan menderita hidup dalam naungan demokrasi sekuler. Umat ini, sudah sangat rindu tegaknya syariah dalam naungan Daulah khilafah.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.