Dakwah Jateng-, Semarang, 28 Juli 2019 LBH Pelita Umat Korwil Semarang menyelenggarakan Diskusi Publik yang bertemakan "Radikalisme Islam Isu Hukum atau Politik?"

Dihadiri berbagai elemen masyarakat Semarang mulai dari praktisi Pendidikan, Advokat dan perwakilan ormas Islam. 

Narasumber yang hadir adalah KH. Nasrudin  dari Pondok pesantren Al mabda Al islami Semarang, Chandra Purna Irawan S.H., MH Selaku Sekjen LBH Pelita Umat,  Prof. Dr. Suteki, SH., M.Hum dari Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, kemudian Wahyudi al Maroki dari Ketua Dewan Pembina LBH Pelita Umat dan dipandu oleh host Hendro Dahsyat.




KH. Nasrudin yang mendapat kesempatan pertama menyampaikan bahwa dakwah jika mengikuti metode Rasulullah resikonya nanti akan persis seperti Rasulullah. 

Jadi kalau dakwah yang dialami Rasulullah dulu pada titik sakit ya kita anda semua yang mengikuti dakwah Rasulullah akan merasakan sakit yang sama. maka jangan salah jika kita sekarang berdakwah mengingatkan penguasa dan dipandang oleh mereka berseberangan maka akan disebut sebagai radikal oleh mereka" Ungkap KH. Nasrudin.

Kemudian dari Chandra Purna Irawan S.H., MH menyampaikan bahwa isu radikal bagi saya itu mengulang ulang tahun-tahun yang lalu, jadi setelah extrimis nanti ada isu militan, teroris dan sekarang radikal jadi polanya hampir sama. 

Hanya kalau dulu tidak masif seperti sekarang ini. nah dalam konteks hukum setelah kita kaji dan telaah di LBH Pelita Umat terkait radikal ini tidak ada definisi yang Khusus yang sifatnya konkrit dan definitif tidak ada yang disebut dengan radikal."Lanjut Chandra.

Nah apakah isu ini isu politik atau isu hukum. awalnya ini isu politik kemudian dibahas disiapkan undang undangnya, menjadi politik hukum, setelah menjadi undang undang maka menjadi hukum. lalu apa diantaranya?. PERPU Ormas Diantaranya oleh karena itu awalnya isu politik sekarang menjadi isu hukum. terkait dengan definisi radikal didalam undang undang itu tidak ada. jadi saya menduga kedepan hukum itu dijadikan alat untuk melegitimasi tindakan penguasa untuk melakukan tindakan persekusi terhadap siapapun" Tegas Chandra.

Kesempatan selanjutnya diberikan kepada Prof. Dr. Suteki, SH., M.Hum. Ia menyampaikan didalam undang undang dasar 1945 disebutkan bahwa Indonesia adalah negara hukum. jadi intinya jelas kita ini negara hukum bukan negara politik. 

Maka tidak ada delik dan tidak ada hukum kecuali sudah ditentukan oleh perundang undangan. maka radikalisme itu apakah kena delik dan hukum? nanti dulu. Jadi kita tidak bisa melakukan pidana sedangkan belum ada aturannya. Nah bagaimana dengan Radikalisme? dicari dalam undang undang tidak ada." Ucap Suteki.

Kesempatan terakhir diberikan kepada Wahyudi al Maroki Beliau menyampaikan bahwa sebenarnya siapa dalang dibalik munculnya radikalisme dan tentu isu ini liar dan memang dibuat liar. Nah saya membaca begini, baik isu radikali, teroris, extrimis dan isu lainnya. itu ada dipanggung depan. Nah berarti bukan persoalan utamanya. Kalau dalam ajaran islam tidak pernah mengajarkan tentang radikalisme didalam warisan nenek moyang bangsa juga tidak pernah mengajarkan radikalisme. Lalu siapa yang mengajarkan radikalisme ini? 

Dan ini sebenarnya proyek internasional dari terorisme turunannya adalah radikalisme. Terorisme mungkin sekarang sudah tidak laku lagi maka menggunakan isu radikalisme. oleh karena itu kita jangan terbawa oleh isu ini tapi kita perlu menjelaskan bahwa sebenarnya isu radikalisme ini mainan mereka yang ingin menyerang islam dan memnga mereka anti terhadap islam" Jelas Wahyudi.




Setelah pemaparan materi dari para pembicara terjadi tanya jawab yang membuat diskusi semakin menarik   




Acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Nasrudin dan dilanjutkan foto bersama untuk mengabadikan moment kegiatan.[]AA



Sesungguhnya pergolakan antara kebenaran dan kebatilan akan terus berlangsung sampai Hari Kiamat. Pergolakan itu akan terus ada selama pengikut kebatilan masih ada, yakni mereka yang mengikuti bujuk rayu dan jalan Iblis. Iblis telah divonis kafir karena menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam as. Dia lalu diusir dari surga. Iblis kemudian berkata seperti yang dilukiskan dalam firman Allah SWT (yang artinya): Iblis berkata, "Tuhanku, karena Engkau telah memutus aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (TQS al-Hijir [15]: 39).

Sejak saat itu, para pengikut Iblis terus memerangi kebenaran, sebagaimana Iblis, hingga Hari Kiamat.
Allah SWT juga menjadikan untuk tiap-tiap nabi musuh dari para pendosa (QS al-Furqan [25]: 31) dari golongan jin dan manusia. Allah SWT berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ

Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin (TQS al-An’am [6]: 112).

Itu artinya, akan selalu ada orang yang memusuhi risalah yang dibawa oleh setiap nabi. Demikian juga terkait Nabi Muhammad saw. dan risalah yang beliau bawa. Akan terus ada musuh dari golongan jin dan manusia yang memusuhi Islam dan kaum Muslim.

Allah SWT menjelaskan dalam banyak ayat, bahwa mereka yang memusuhi Islam dan kaum Muslim itu berasal dari kalangan kaum kafir. Allah SWT memberitahukan bahwa di antara kaum kafir itu, yang paling keras permusuhannya terhadap kaum Muslim adalah kaum Yahudi dan kaum musyrik (QS al-Maidah [5]: 82). Allah SWT pun memberitahukan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kaum Muslim sampai kaum Muslim mengikuti millah mereka (QS al-Baqarah [2]: 120).

Betul, permusuhan dan kebencian tidak otomatis tampak dari setiap orang kafir baik Ahlul Kitab maupun orang musyrik. Namun, permusuhan dan kebencian pasti tampak dari sebagian kaum kafir melalui lisan-lisan mereka. Yang tampak itu barulah sebagian dari kebencian yang tersembunyi di dalam dada mereka. Allah SWT menegaskan:

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat lagi (TQS al-Imran [3]: 118).

Islamophobia

Berdasarkan hal di atas, sikap membenci Islam (islamophobia) banyak muncul dari kaum kafir. Kebencian dan permusuhan yang tersimpan di dada mereka itu membuat mereka bersikap nyinyir terhadap berbagai ajaran Islam seperti penerapan syariah secara kaffah dan khilafah. Mereka tidak suka dengan berbagai simbol dan syiar Islam. Mereka menyoal dan merendahkan hijab (jilbab). Mereka meradang melihat Panji ar-Rayah dan al-Liwa dikibarkan oleh siswa-siswa setingkat SMA. Mereka gerah menyaksikan geliat semangat hijrah menuju Islam di berbagai kalangan, khususnya di kalangan para selebriti. Pasalnya, pengaruh hijrah para selebriti itu bisa saja memicu semangat yang sama secara lebih luas dan massif di tengah kaum Muslim, khususnya di kalangan para pemuda. Tentu masih banyak lagi sikap-sikap islamophobia yang muncul dari mereka.

Islamophobia itu membuat mereka memusuhi apa saja yang mereka nilai menjadi bagian dari ekspresi keislaman atau manifestasi (perwujudan) Islam. Mereka pun berusaha keras untuk menanamkan islamophobia itu pada orang lain, khususnya kepada kaum Muslim.

Tentu sikap islamophobia itu tidak selayaknya muncul dari seorang Muslim. Pasalnya, sikap islamophobia itu hakikatnya adalah kebencian terhadap Islam berikut ajaran dan syiar-syiarnya. Bagaimana mungkin seorang Muslim menampakkan kebencian terhadap Islam? Bagaimana bisa seorang Muslim menaruh curiga terhadap ekspresi keislaman saudara-saudaranya yang ingin “berhijrah” untuk lebih menghayati dan mengamalkan Islam? Apakah patut seorang Muslim memperlakukan secara buruk Muslim lainnya, termasuk para pemuda Islam, yang mengibarkan panji bertuliskan kalimat tauhid, Panji ar-Rayah dan al-Liwa’, yang notabene Panji Rasulullah saw.?

Ekspresi Ketakwaan

Keimanan yang bersemayam dalam diri seorang Muslim sejatinya melahirkan takwa. Baik secara lahir maupun batin. Secara lahir antara lain tampak dari sikapnya mengagungkan syiar-syiar Islam. Allah SWT berfirman:

ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sungguh itu timbul dari ketakwaan kalbu (TQS al-Hajj [22]: 32).

Imam Fakhruddin ar-Razi di dalam tafsirnya, Mafâtih al-Ghayb, menyatakan bahwa asal sya’âir adalah tanda-tanda yang dengan itu sesuatu dikenali. Imam al-Qurthubi di dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân menyebutkan, sya’âir adalah jamak dari sya’îrah, yaitu apa saja yang di dalamnya Allah memiliki perintah yang Dia beritahukan dan ajarkan. Di antaranya syiar satu kaum dalam perang, yakni alamat mereka yang dengan itu mereka dikenal. Jadi sya’âirulLah adalah tanda-tanda agama-Nya, terutama apa yang berkaitan dengan manasik.

Imam al-Baghawi dalam Tafsîr al-Baghâwi menyebutkan, “Sya’âirulLâh adalah tanda-tanda agama-Nya.”

Imam Abu al-Hasan al-Mawardi di dalam tafsirnya, An-Naktu wa al-‘Uyun (Tafsir al-Mawardi), mengatakan, “Terkait sya’âirulLâh, ada dua pendapat: pertama, berbagai kefardhuan Allah; kedua: ajaran-ajaran agama-Nya.”

Imam an-Nawawi al-Bantani di dalam kitabnya, Syarh Sullam at-Tawfiq, menjelaskan ayat tersebut, bahwa di antara sifat terpuji yang melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syiar-syiar Allah, yakni syiar-syiar agama-Nya.

Imam Abu Manshur al-Maturidi di dalam tafsirnya, Ta’wilâh Ahli as-Sunnah, menjelaskan ayat di atas: “Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah dengan perbuatan lahiriahnya maka pengagungan itu muncul dari ketakwaan hati. Begitulah perkara yang tampak pada manusia. Jika di dalam hatinya ada sesuatu dari ketakwaan atau kebaikan maka yang demikian itu tampak dalam perilaku lahiriahnya. Demikian juga keburukan, jika ada di dalam hati, maka tampak pada perilaku lahiriahnya.”

Begitulah, sikap mengagungkan syiar-syiar Allah, yakni syiar dan ajaran Islam, juga simbol dan berbagai ekspresi keislaman, hanyalah cerminan ketakwaan dan kecintaan pada Islam yang terkandung di dalam hati. Begitulah semestinya sikap seorang Muslim.

Sebaliknya, seorang Muslim harus menjauhi sikap-sikap islamophobia, yakni membenci Islam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kaum kafir. Mereka sejatinya memendam kebencian dan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslim. Sikap mencemooh hijab, mencurigai semangat hijrah yang sedang merebak, alergi terhadap khilafah yang merupakan bagian ajaran Islam, meradang bahkan mengkriminalisasi Panji Rasulullah saw. ar-Rayah dan al-Liwa’ saat dikibarkan, dan sikap-sikap islamophobia lainnya—jika tampak dari seseorang yang mengaku Islam—semua itu justru menampakkan hakikat yang tersembunyi di dalam hati. Pepatah mengatakan, “Kullu inâ`in bimâ fîhi yandhahu (Bejana hanya bisa menumpahkan apa yang ada di dalamnya).”

Seperti pernyataan Imam Abu Manshur al-Maturidi, sikap demikian itu hanyalah penampakan hakikat yang ada di dalam hati. Boleh jadi begitulah Allah SWT berkehendak menyingkap jatidiri kemunafikan yang tersembunyi. Allah SWT berfirman:

وَلَوْ نَشَآءُ لأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ

Kalau Kami menghendaki, niscaya Kami menunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kalian (TQS Muhammad [47]: 30).

Cintai Islam Sepenuh Hati

Sikap yang harus dibangun dan ditunjukkan oleh seluruh umat Islam tidak lain adalah memenuhi perintah Allah SWT dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Ini adalah perintah dari Allah kepada semua orang Mukmin untuk mengambil dan mengamalkan semua ajaran Islam dan syariahnya, termasuk mengagungkan syiar-syiarnya. Ini berarti, setiap Mukmin harus mencintai Islam sepenuhnya sebagai wujud totalitas kecintaan kepada Allah SWT. Kecintaan kepada Allah itu harus dibuktikan dengan mengikuti kekasih-Nya, yakni Rasul saw.:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah, “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (TQS Ali Imran [3]: 31).

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Ayat yang mulia ini menjadi pemutus atas tiap orang yang mengklaim mencintai Allah, sementara dia tidak berada di atas jalan Muhammad maka dia adalah pendusta dalam klaimnya pada perkara yang sama, sampai dia mengikuti syariah Muhammad dan agama kenabian dalam semua ucapan dan keadaannya.”
Hendaknya setiap Muslim menunjukkan kecintaannya pada Islam dengan mengamalkan syariah Rasul Muhammad saw. secara menyeluruh di tengah kehidupan ini.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

—*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

لاَ يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai ucapan buruk yang dinyatakan secara terus-terang, kecuali dari orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Mahatahu. (TQS an-Nisa’ [4]: 148). []

—*—

Sumber:
Buletin Kaffah No. 099 (23 Dzulqa’dah 1440 H-26 Juli 2019 M)

Cak Nun: Khilafah Itu Idenya Allah, Kalau Kamu Anti-Khilafah, Kamu Berhadapan Sama Allah

Yang pasti, Khilafah itu idenya Allah.

      
إِنِّى جَاعِلٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً۬‌ۖ

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi" [QS Al-Baqarah: 30]

Jadi, kalau kamu anti-khilafah gak apa-apa. Nanti berhadapannya dengan Allah. Kalau Gusti Allah mengutus malaikat Jibril (gak apa-apa), kalau mengutus malaikat Izrail (pencabut nyawa)? (bablas)

Kalau kamu gak cocok dengan HTI, masih oke.

Tapi kalau anti-khilafah, itu berarti anti ayat tadi.

Selengkapnya video:


Oleh : march_oete

Bertindak selaku inspektur upacara, Sekretaris Daerah Kabupaten Purbalingga Wahyu Kontardi SH, membacakan sambutan Bupati Purbalingga pada acara upacara dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional Ke XXVI Dan Hari Anak Nasional dirangkai dengan Peringatan Hari Anti Narkotika Nasional Tingkat Kabupaten Purbalingga Tahun 2019, di halaman pendopo Dipokusumo Purbalingga, Kamis (27/6).
Saat ini lanjut Wahyu, Purbalingga sedang berada dalam tahapan bonus demografi yaitu sebuah tahapan dimana komposisi penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun sejumlah : 602.028 orang) lebih besar dari pada yang tidak produktif (usia dibawah 15 tahun dan usia 65 tahun ke atas, yaitu sejumlah 314.399 orang), sehingga rasio ketergantungan menjadi rendah.
Kondisi ini menurutnya akan menciptakan jendela peluang, jika jumlah penduduk produktif yang lebih besar tersebut dapat dioptimalkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan kesejahteraan, sehingga dapat berdampak pada kemajuan Kabupaten Purbalingga di masa depan. Peluang besar pada tahapan bonus demografi hanya terjadi satu kali dalam sejarah suatu penduduk, perubahan komposisi penduduk tersebut tidak terlepas dari adanya intervensi pemerintah pada penurunan angka kelahiran melalui program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga dan berbagai upaya untuk dapat memanfaatkan peluang ini akan terus kita lakukan, diantaranya adalah meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan dan mengoptimalkan penanganan program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga. “Sedangkan di bidang ekonomi, kita akan terus mendorong lahirnya wirausaha muda dan menciptakan iklim usaha yang kondusif,”
Paradigma tersebut, tentunya hanya ada dalam paradigma kapitalis. Pandangan bahwa kesejahteraan hanya dapat dicapai dalam siklus bonus demografi. Di mana, bonus demografi hanya terjadi sekali dalam satu siklus demografi. Artinya, kesempatan meraih kesejahteraan itu sangat terbatas. Dalam pandangan Islam, kesejahteraan adalah salah satu hal yang menjadi tanggung jawab negara untuk mewujudkannya. Apapun keadaannya, dalam kondisi bonus demografi ataupun bukan.
Bagaimana cara islam mewujudkan kesejahteraan?
Islam, adalah agama terakhir yang diturunkan oleh Allah untuk umat manusia, dengan perantara Rasulullah Muhammad saw, guna mengatur segala urusan manusia. Dari urusan pribadi, sampai urusan publik, termasuk masalah kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan ummat, dicapai dengan penerapan aturan Islam secara menyeluruh, tidak parsial. Karena aturan yang satu, akan berkaitan dan saling mendukung dengan aturan yang lain.
Untuk mewujudkan kesejahteraan umat, diperlukan sistem ekonomi yang kuat. Sistem ekonomi islam, meniscayakan pengelolaan sumber daya alam yang mengedepankan kepentingan rakyat. Pengelolaan sumber daya alam tidak akan diserahkan sepenuhnya kepada asing, karena sumber daya alam adalah milik rakyat, sehingga harus digunakan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Kalaupun membutuhkan tenaga asing, karena belum memiliki tenaga ahli yang memadai, maka status tenaga ahli asing tersebut adalah sebagai pekerja, bukan pemilik usaha, sehingga tidak dapat menguasai pengelolaannya.
Selain dari pengelolaan sumber daya alam, Islam juga memiliki pos zakat, yang khusus diperuntukkan untuk 8 golongan, diantaranya untuk faqir miskin. Selain itu, ada juga pemasukan negara dari harta fa'i, kharaj, usyr.
Dari berbagai sumber pemasukan tersebut, yang sangat penting adalah tentang paradigma bahwa kesejahteraan adalah sesuatu yang wajib diupayakan oleh negara. Khalifah dan para pembantunya akan bekerja keras untuk mewujudkannya, karena didasari oleh pemahaman, bahwa kerja mereka senantiasa diawasi oleh Allah SWT, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dengan demikian, in syaa allah, kesejahteraan dapat diupayakan setiap saat, tidak menunggu komposisi penduduk dalam keadaan bonus demografi.
Wallohu A'lam Bishowab



Oleh: Ragil Rahayu, SE

Kementerian Agama (Kenenag) mengajukan pinjaman pada Bank Dunia senilai US$250 juta (Rp3,5triliun). Dinyatakan bahwa dana ini untuk mendukung program peningkatan mutu madrasah dasar dan menengah melalui proyek Realizing Education's Promise. Melalui proyek ini pemerintah akan membangun sistem perencanaan dan penganggaran elektronik berskala nasional untuk mendorong belanja yang lebih efisien.
Saat ini Indonesia memiliki setidaknya 48 ribu madrasah dengan jumlah siswa mencapai 8 juta. Untuk memajukan madrasah, dibutuhkan bantuan dari pemerintah. Namun bantuan yang diperoleh dari pinjaman justru akan mendatangkan bahaya. Berikut bahaya pinjaman untuk madrasah :
1. Utang Indonesia akan makin besar. Saat ini utang luar negeri Indonesia mencapai Rp5.400triliun. Jika ditambah lagi dengan pinjaman Kemenag ke Bank Dunia, utang luar negeri Indonesia akan makin besar. Akibatnya, beban yang ditanggung rakyat untuk membayar utang plus bunganya juga makin berat.
2. Dosa riba. Utang kepada World Bank bisa dipastikan mengandung bunga (riba). Padahal di madrasah, siswa diajarkan untuk taat pada perintah Allah subhanahuwata'ala. Termasuk menjalankan isi Alqur'an surah Al Baqarah ayat 285 tentang keharaman riba. Lalu bagaimana mungkin siswa disuruh taat sementara penguasa justru memberi contoh menggunakan dana ribawi.
3. Jebakan utang. Kwik Kian Gie dalam tulisannya yang berjudul "Para Perusak Ekonomi Negara-negara Mangsa" menyampaikan bahwa John Pilger, Joseph Stiglitz dan masih banyak ekonom AS kenamaan lainnya menyatakan bahwa utanglah yang dijadikan instrumen untuk mencengkeram Indonesia. John Perkins dalam Buku "The Confessions of an Economic Hitman" menyatakan bahwa dirinya sebagai perusak ekonomi Indonesia ditugaskan untuk membangkrutkan negara yang menerima utang agar selamanya tercengkeram oleh krediturnya. Sehingga negara pengutang (Indonesia) menjadi target yang empuk.
4. Adanya persyaratan dalam pemberian utang agar Indonesia menjalankan kemauan World Bank terkait arah pendidikan di madrasah. Jika IMF sudah terbukti meliberalkan ekonomi Indonesia ketika memberi utang di masa krisis moneter 1998, bukan tak mungkin World Bank akan meliberalkan madrasah Indonesia. Padahal anak yang disekolahkan di madrasah ditujukan agar memiliki aqidah nan lurus, bertaqwa dan berakhlaq mulia. Jika diliberalkan maka tujuan pendidikan madrasah tak akan tercapai dan justru bisa muncul generasi Islam nan liberal. Naudzubillahi mindzalik.
Solusi untuk Memajukan Madrasah
Pendidikan adalah hak dasar warga negara. Pemerintah wajib untuk memenuhinya. Sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dulu menjadikan tebusan bagi tawanan perang adalah mengajar penduduk Madinah tentang baca dan tulis. Artinya rakyat Madinah mendapat pendidikan secara gratis, namun berkualitas. Negara harus berfungsi sebagai raa'in (pengurus) dan mas'ul (penanggung jawab) atas pemenuhan kebutuhan pendidikan. Negara tak boleh abai, apalagi menyerahkan urusan pendidikan pada asing. Karena Allah subhanahu wata'ala telah melarang kaum muslim dikuasai oleh orang kafir sebagaimana dalam surah An Nisa' : 41.
Lantas darimana mendapat dana untuk memajukan madrasah? Ada yang mengusulkan dari dana haji. Namun hal ini tidak tepat, karena aqad dana haji adalah untuk keperluan jamaah haji semisal pembangunan hotel atau asrama haji. Ada juga usulan agar diambilkan dari zakat karena potensi zakat di Indonesia sangat besar. Namun Allah subhanahuwata'ala telah membatasi mustahiq zakat hanya delapan golongan saja sebagaimana dalam Alquran surah At Taubah ayat 60 yakni : [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit utang, [7] untuk jalan Allah dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan. Maka dana zakat tidak bisa dipakai untuk program memajukan madrasah.
Satu teladan yang bisa kita ikuti dari ijma' sahabat adalah ketika Umar bin Khatab radhiyallahu anhu menggunakan kharaj sebagai hasil bumi nan subur di Iraq untuk memenuhi kemaslahatan umat, termasuk urusan pendidikan. Indonesia yang subur dan sekaligus kaya akan bahan tambang bisa membiayai madrasah dari hasil pengelolaan alamnya. Syaratnya, berbagai kekayaan alam yang terkategori milik umum harus dikelola negara, tidak diserahkan ke asing.
Sumber pembiayaan lain adalah wakaf, saat ini wakaf identik dengan masjid. Padahal di masa khilafah Abbasiyah wakaf bisa berupa gedung untuk pendidikan, laboratorium, asrama dan lain-lain. Namun wakaf ini harus dikelola negara dan dipastikan tidak ada dana yang bocor karena dikorupsi. Memang sudah seharusnya negara memajukan pendidikan dengan daya kekuatan sendiri, tak boleh bergantung pada asing.
Sebagaimana peribahasa "tak ada makan siang gratis" yang bisa diartikan "tak ada utang tanpa tendensi". Lebih baik bersikap hati-hati dan waspada terhadap utang dari pihak asing, daripada menggadaikan masa depan Indonesia. Wallahu a'lam bishowab.



Bahasan Khilafah itu bahasan syar’iyyah (min al-mabahits al-syar’iyyah), wajib dipahami dengan logika tasyri’iyyah, bukan logika khayaliyyah. Maka salah besar lari dari logika tasyri’iyyah shahihah kepada logika khayaliyyah untuk menegasikan adanya kefardhuan iqamat al-Khilafah.
Harus saya tegaskan: mereka yang menafikan kefardhuan menegakkan Khilafah selama ini, terbukti dalam dunia perdebatan, hanya bertolak dari logika khayaliyyah, tak ada yang berbobot ilmiah. Pendapat mereka tidak layak dilirik, dan wajib diabaikan.
Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H), ahli tafsir dan fikih yang menyusun kitab tafsir otoritatif yang memuat sajian fikih, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân (Keseluruhan dari Hukum-Hukum Al-Qur’an), tatkala menafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)
Beliau menegaskan dalam kitab tafsirya tersebut: “Ayat ini merupakan hukum asal tentang wajibnya mengangkat Khalifah.” Bahkan, beliau kemudian menegaskan:
هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ما روي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه
Ayat ini adalah ashl dari mengangkat Imam dan Khalifah yang didengar (perintahnya) dan dita’ati, untuk menyatukan kalimat, dan menerapkan hukum-hukum kepemimpinan Khalifah dengan keberadaannya. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat Khalifah) ini di kalangan umat dan para imam madzhab, kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham yang tuli tentang syariah, begitu pula siapa saja yang berpendapat dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya.[1]
Padahal, al-Asham al-Mu’tazili dengan pendapat kontroversialnya (syadz) yang dipaparkan al-Qurthubi, tersirat masih mengakui wajibnya formalisasi syari’ah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yakni jika berbagai kewajiban syari’ah telah terlaksana, maka menurutnya tidak wajib mengangkat Khalifah. Dalam hal ini al-Asham tidak menyatakan “haram”, “berbahaya”, “radikal”, “ajaran teroris” dan perkataan-perkataan keji lainnya yang seringkali didengungkan kaum liberal di zaman ini. Artinya, jika al-Asham dengan pendapat syadz (tidak wajib) seperti itu saja divonis tuli terhadap hukum syari’at oleh ulama pakar tafsir dan fikih al-Hafizh al-Qurthubi, lalu bagaimana dengan kaum liberal penolak dan penista kewajiban penegakkan Khilafah? Kaum liberal yang selama ini tak kelu menstigma negatif Khilafah sebagai sesuatu yang berbahaya? Tentunya dengan logika al-Qurthubi, kondisi mereka jauh lebih buruk daripada al-Asham dan para pengikutnya.
Istilah “tuli terhadap syari’ah” dalam bahasa al-Qurthubi, menunjukkan bahwa pembahasan kefardhuan al-imâmah (Khilafah) dalam Islam itu persoalan hukum syari’ah yang sudah diketahui dan disepakati oleh para ulama, sehingga mereka yang menyelisihinya layak dinilai syadz, kontroversial, tidak bernilai dan keluar dari pendapat mu’tabar. Ditegaskan oleh al-Qurthubi dengan menukil dalil kokoh, ijma’ sahabat , yang menjadi sejelas-jelasnya dalil syara’ kewajiban menegakkan Khilafah, mengangkat Khalifah; menunjukkan bahwa kewajiban tersebut didasarkan pada dalil-dalil al-sam’i (bukan ‘aqli). Al-Qurthubi menegaskan:
وأنها ركن من أركان الدين الذي به قوام المسلمين
Al-Imâmah merupakan fondasi dari fondasi-fondasi agama ini, dimana dengannya tegak fondasi kaum Muslim.[2]
Irfan Abu Naveed
Penulis “Konsep Baku Khilafah Islamiyyah” :: Dosen Fikih Siyasah/Manthiq/Bahasa Arab
Marja’:
[1] Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Syamsuddin al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, juz I, hlm. 264.
[2] Ibid., hlm. 265.



Oleh: Syahidatunnisa

Pembukaan UUD 1945

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Makna alinea pertama pada Pembukaan UUD 1945 adalah bahwa bangsa Indonesia teguh membela kemerdekaan melawan segala bentuk penjajahan karena penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. 

Persoalan pendidikan secara umum di wilayah negeri muslim sangat memprihatinkan. Di Indonesia upaya penyelesaian masalah yang dicanangkan pemerintah, tak kunjung menghentikan masalah. Mengganti kurikulum berulang kali, tak juga meningkatkan kualitas anak didik. Sertifikasi guru tak serta merta menyejahterakan mereka dan meningkatkan dedikasi mereka. Justru murid-murid terabaikan karena guru sibuk memenuhi syarat administrasi sertifikasi. 

Berdasarkan catatan bank dunia, sekitar 8 juta anak /15% dari total siswa Sekolah dasar dan Menengah di Indonesia mengenyam pendidikan di sekolah agama di bawah Kementrian Agama (Kemenag). Dalam praktiknya, sekolah-sekolah tersebut mengikuti kurikulum Nasional, dan banyak diikuti anak-anak dari keluarga termiskin dan daerah pedesaan. Bank dunia menyetujui pinjaman senilai US$ 250 juta atau setara Rp. 3,5 T (dengan asumsi kurs Rp.14 ribu per dolar AS) untuk mendukung program peningkatan mutu madrasah dasar dan menengah Indonesia. Pinjaman ini akan digunakan untuk melaksanakan program Realizing Education’s Promise. 

Melalui proyek ini pemerintah akan membangun sistem perencanaan dan penganggaran elektronik berskala Nasional. Program tersebut juga akan digunakan untuk membangun sistem hibah sekolah. Menurut Menteri Agama Lukman, pengembangan madrasah tidak akan optimal jika hanya mengandalkan anggaran negara. Pasalnya keterbatasan dana mengakibatkan pengembnagan madrasah lebih terpusat pada pengembangan bangunan fisik, belum kearah kualitas pendidikan. https://m.cnnindonesia.com/…/bank-dunia-kucurkan-pinjaman-r…


Disisi lain pendidikan Islam di Indonesia saat ini dinilai sebagai lembaga pendidikan yang paling modern di dunia. Melalui pendidikan Islam inilah karakter keberagaman masyarakat Indonesia yang toleran dan moderat dibentuk. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama(PBNU) Maksum Machfoedz menanggapi soal penggunaan dana pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) untuk peningkatan mutu madrasah. Dia mengaku secara umum tidak mempermasalahkan ihwal peminjaman dana dari bank dunia itu. Lanjut Maksum yang menjadi fokus adalah sejauh mana efektivitas penggunaan dana tersebut. Maksum juga menjelaskan, utang adalah modal pembangunan dalam kondisi tertentu yang sedang membutuhkan dana atau kondisi ketika tidak memiliki cukup cadangan dana di tengah keharusan meneruskan pembangunan. https://m.republika.co.id/…/pbnu-komentari-pinjaman-dari-ba…

Kondisi suram pendidikan saat ini di dunia muslim berada pada kutub yang berlawanan dengan keunggulan pendidikan yang pernah dinikmati oleh negeri-negeri muslim di bawah aturan Islam yang diterapkan Khilafah, yang telah memberikan posisi penting dan dukungan terhadap aktivitas mencari dan menyebarkan ilmu, yang mengarahkan negara ini menjadi pusat pembelajaran bagi dunia. Namun, setelah Khilafah dihancur kan dan sistem pendidikan tidak lagi berpijak pada Islam, melainkan pada sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), pendidikan telah menghancurkan bangunan tsaqofah Islam di benak generasi muslim. 

Sekularisasi menerima kepercayaan-kepercayaan non_Islam yang berasal dari liberalisme dan keyakinan lain di bawah kedok ”keragaman budaya”. 

Agar pendidikan kembali berfungsi untuk menjaga tsaqafah di benak kaum muslimin, wajib bagi kita untuk merumuskan kembali kebijakan pendidikan yang tidak keluar sedikitpun dari asas akidah Islam. Tujuan penting dari kebijakan ini adalah membangun sosok pribadi Islami, yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikirnya dan pemahaman hidupnya. Enam konsep penting yang perlu ditangani ketika mendidik pemuda yaitu : 

Pertama membangun pola pikir kritis. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk mengamati dunia di sekitar kita dan melalui pengkajian yang mendalam dan bukti yang jelas membuat penilaian yang benar tentang hal itu. Al Qur-an berulang kali mengarahkan orang yang percaya untuk berpikir secara mendalam tentang isu-isu agar mereka mampu membangun kesimpulan yang benar pada diri mereka. Ini termasuk merenungkan bukti-bukti keberadaan allah SWT dan kebenaran Islam. Allah SWT berfirman yang artinya “Dan [pada] silih bergantinya malam dan siang dan [pada] hujan yang Allah turunkan dari langit, lalu dengan (air hujan) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti”. (QS. Al Jatsiyah:5 ).

Kedua pembentukan dengan keyakinan mutlak pada para pemuda, keberadaan allah dan fakta bahwa al Qur’an adalah firman-Nya, sehingga mereka tidak memiliki bayangan keraguan tentang kebenaran Islam. Sebagaiman firman-Nya yang berbunyi “ Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu...” (Qs. Al Hujurat:15). Dalam sekularisme yang mendominasi dunia sekarang ini, agama telah menjadi bahan ejekan bagi banyak kalangan dan kita harus melindungi anak-anak muslim jatuh dalam tuduhan ini.
 
Ketiga memelihara kerinduan Jannah dalam anak-anak muslim dan memahamkan tentang bagaimana sedikit kesenangan hidup ini dibandingkan dengan kehidupan selanjutnya, serta menciptakan kesadaran akan sifat sementara dari dunia ini. Nabi SAW bersabda, “Apa umpama kehidupan duniawi ini dibandingkan dengan akhirat adalah salah satu dai Kamu mencelupkan jarinya ke dalam laut? Birakan dia melihat apa yang dibawa seterusnya.” 

Keempat membangun pemahaman dalam remaja mengenai Islam sebagai Deen komprehensif dengan prinsip-prinsip, hukum dan solusi untuk masalah modern di setiap bidang kehidupan – spiritual, moral, sosial, politik, hukum, pendidikan, ekonomi, dan seterusnya. Allah berfirman yang artinya “ Tidak ada sesuatupun yang Kami luputkan di dalam Kitab ...” (QS. Al An-aam:38). 

Kelima pembongkaran iming-iming cara liberal sekuler hidup di mata kaum muda kita dan memungkinkan mereka untuk melihat melalui retorika anti Islam. Kita perlu membuat pemuda kitamemahami bahwa masalah yang kita hadapi di dunia adalah bukan hasil dari Islam tetapi hasil dari sistem sekuler kapitalis buatan manusia dan nilai-nilai seperti liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi. 
Keenam membangun rasa tanggung jawab dalam diri pemuda kita untuk Deen mereka, umat mereka, dan untuk manusia. 

Kita harus membuat pemuda muslim benar-benar memahami tenggung jawab yang datang dengan firman Allah yang artinya “ Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah (panggilan) Allah dan Rasul-Nya, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. “ (QS. Al Anfal: 24). 
Agar seluruh konsep tersebut terwujud, tentu perlu adanya negara yang menerapkan hukum dan mengatur semua urusan sesuai dengan ketentuan akidah Islam. Itulah Khilaah Islam

Khilafah Islam akan menjamin pelaksanaan kebijakan pendidikan islam yang menjaga tsaqofah dan identitas umat sekaligus membawa penerapannya ke seluruh dunia. Khilafah Islam akan memprioritaskan pendidikan dan menajalankan tanggungjawabnya. Ini sebagaiman yang telah dilakukan oleh rasul SAW. sebagai kepala Negara Islam di Madinah saat menetapakan tebusan bagi tahanan di perang Badar dengan mengajarkan baca tulis kepada sepuluh orang muslim. 

Sebagai kepala Negara Islam Rasulullah SAW. menggratiskan biaya pendidikan dengan pembiayaan dari Baitul Mal. Khilafah Islam akan menyiapkan anak-anak muslim menjadi ilmuwan, termasuk spesialis di semua bidang kehidupan baik dalam hukum Islam, ilmu fiqh dan peradilan ataupun dalam sains seperti teknik, kimia, fisika, kedokteran dan sebagainya. 

Mereka akan menjadi ulama dan ilmuwan yang mumpuni untuk membawa Khilafah islam mendududki posisi pertama di dunia sekaligusmenjadi pemimpin dan berpengaruh karena ideologinya. Itulah Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah yang akan tegak kembali-dengan izin Allah SWT- untuk kedua kalinya, sebagaimana sabda Rasulullah saw: yang artinya ... kemudian akan datang Khilafah yang berjalan di atas metode kenabian (HR.Ahmad)
.


Sebanyak 37 negara, termasuk Arab Saudi, Qatar, Aljazair, Nigeria, dan Suriah, telah mengirim pesan dukungan kepada Cina atas tindakan yang dilakukannya terhadap kaum Muslim di Provinsi Turkistan Timur (Xinjiang). Negara-negara tersebut mengirimkan surat dukungan yang memberi selamat kepada Cina atas “prestasi yang luar biasa terkait hak asasi manusia.” (Agence France-Presse, 12/7/2019).
Padahal Cina telah menahan jutaan kaum Muslim dalam penjara-penjara di gurun, di mana dengan penuh dusta dan kebohongan, Cina menyebutnya sebagai pusat “rehabilitasi, pendidikan dan pelatihan keahlian”, serta memisahkan anak-anak dari orang tuanya dalam rangka mencuci otaknya dan mengajarinya doktrin kufur, yang menilai Islam agama sebagai bentuk kegilaan.
Sungguh surat negara-negara Islam itu bertentangan dengan surat dari 22 negara Barat yang dikirim sehari sebelumnya, yakni pada 11/07/2019, yang isinya mengecam Cina atas tindakan sewenang-wenangnya terhadap kaum Muslim dan melaporkannya ke Dewan Hak Asasi Manusia.
Kewajiban rezim manapun yang mengklaim mewakili kaum Muslim adalah berpihak kepada kaum Muslim di belahan bumi mana pun yang tengah menghadapi penindasan dan penganiayaan. Negara-negara ini, bukannya memihak dan mendukung kaum Muslim, dan setidaknya mengecam Cina, namun karena para penguasanya tidak lagi punya malu kepada Allah dan manusia, maka mereka justru memberikan dukungan kepada sang penjahat dan pembantai.
Semua tahu bahwa rezim Suriah sama kriminalnya dengan kriminalitas Cina, sebab rezim Suriah mendeklarasikan perang terhadap kaum Muslim Suriah, menghancurkan negara di atas kepala mereka, membantai, dan mengusir jutaan dari mereka.
Sungguh yang luar biasa adalah dukungan Qatar! Padahal Qatar ini adalah yang mengisi bumi dengan channel Al-Jazeera-nya, yang terus menyanyikan hak asasi manusia, dan memperlihatkan seolah-olah mendukung masalah kaum Muslim, bahkan Qatar yang sangat meratapi terbunuhnya seorang jurnalis Saudi yang dibunuh oleh rezim, namun sekarang Qatar berjalan bergandengan tangan dengan rezim Saudi sang pembunuh, serta mendukung pembantaian oleh para penjahat sadis Cina.  (kantor berita HT, 22/07/2019)


Pemerintah Inggris menyebarkan kebohongan ekstremisme hingga mengarang-arang kecurigaan dan kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim.
Dalam sebuah pidato pada hari Jumat, Menteri Dalam Negeri Sajid Javid menuduh kaum Muslim memiliki “pandangan ekstrem” dan menyerukan “integrasi lebih lanjut di masyarakat, agar lebih banyak bantuan diberikan bagi orang-orang untuk belajar bahasa Inggris, memberikan dukungan yang lebih besar bagi masyarakat dan suatu perayaan identitas nasional.” Pidato semacam akan membuat Presiden Cina Xi Jinping merasa bangga. Semua alasan yang sama digunakan olehnya dan Javid untuk membenarkan indoktrinasi secara paksa, “pendidikan ulang”, dan penindasan terhadap umat Islam di negara itu dan di negara ini.
Baik pemerintah Inggris maupun pemerintah Cina tahu bahwa mereka tidak memiliki dasar intelektual atas ideologi sekuler mereka, atau atas kebencian fanatis mereka terhadap Islam dan kaum Muslim. Karena kurangnya keyakinan sendiri, saat ditantang untuk mempertahankan ide-ide mereka, mereka berlari seperti seorang pengecut, sambil meneriakkan tuduhan palsu dan menghasut massa dalam suatu hiruk-pikuk, sementara mereka melarikan diri untuk bersembunyi di balik para preman dan penjahat pemikiran. Seperti itulah yang menjadi norma baru. Orang-orang Cina tidak menemukan sendiri taktik penindasan, tetapi mereka mempelajarinya dari pemerintah Barat yang telah melakukan hal yang sama dalam beberapa dekade di negeri-negeri koloni mereka, dan saat ini membawanya kembali ke tanah air.
Semua pemerintah Barat tidak punya kebijakan untuk menyelesaikan banyak masalah serius yang mempengaruhi kehidupan warga negaranya, sehingga rakyat jelata bangkit untuk menyembunyikan ketidakmampuan ideologi sekuler yang diterapkan dengan keras kepala.
Dengan sederet kegagalan seperti itu yang menyebabkan kesengsaraan bagi dunia, seorang lelaki yang berakal akan berhenti dan melakukan penelitian, untuk mendengarkan nasihat kaum Muslim yang menawarkan nasihat yang tulus kepada semua umat manusia; yang merupakan nasihat dari Nabi Allah yang terakhir sebelum datangnya hari Kiamat.
Kaum elit dunia begitu tertipu oleh ideologi kapitalisme ini, dan mereka yang setia kepada ideologi itu adalah para menteri dan para pegawai pemerintah, sehingga mereka menggunakan taktik yang semakin putus asa untuk menunda kebangkitan yang tidak terelakkan dari umat manusia yang menolak perilaku destruktif. Pesan ini menjadi sangat jelas, bahwa umat Islam berpegang teguh pada Islam akan diburu dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya untuk beralih kepada sesembahan sekuler mereka yang lemah, atau menghadapi kemarahan negara dan gerombolan penggembiranya.
Kami sebelumnya telah menantang Javid, dan terus menantang para pembelanya atas penindasan oleh kaum kapitalis untuk berdebat dan mempertahankan ide-ide dan kebijakan mereka.
Hanya para pengecut yang tahu bahwa dia akan kehilangan pengawasan intelektual dari pandangan yang intoleran dan “ekstrim” dengan menggunakan taktik “menghina lalu kabur” suatu taktik yang dijalankan pemerintah pada hari ini. Dengan menyebut kelompok-kelompok Islam yang menentang dan mengungkap penindasan oleh pemerintahnya di dalam dan di luar negeri, sambil menuduh mereka sebagai kaum “ekstrem”, dia bersembunyi di balik sistem hukum Inggris yang aneh yang melindungi para pembohong yang memfitnah kelompok-kelompok yang menantang pemikiran mereka; karena pengadilan tidak akan mengizinkan kelompok mana pun untuk menentang kebohongan. Karenanya, di Inggris, suara paling keras akan selalu muncul untuk menang.
Dalam menghadapi kebencian dan penipuan yang resmi dilakukan seperti itu, umat Islam dan semua orang yang menginginkan kebenaran dan keadilan harus kembali kepada ajaran Tuhan.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. ”[Terjemahan QS An-Nisa: 135]
Yahya Nisbet, Perwakilan Media Hizbut Tahrir Inggris



Mahfud Abdullah
(Indonesia Change)

Foto yang diunggah oleh pemilik akun @Karolina_bee11 pada Sabtu, 20 Juli 2019, ini menjadi perhatian publik. Pasalnya, dalam foto tersebut tampak sekelompok siswa berpose di halaman madrasah, mengibarkan dua bendera tauhid berwarna hitam bertuliskan kalimat Laa ilaaha illallah, Muhammadun Rasulullah. Ada juga siswa yang membawa bendera Merah Putih. Sementara pada bagian lain, terlihat spanduk dengan tulisan MAN 1 Sukabumi, yang kemudian direspon oleh Menag melalui akun twitternya.

 “Sejak semalam sudah ada tim khusus dari Pusat yg ke lokasi untuk investigasi. Saat ini proses penanganan di lapangan masih sedang berlangsung. Kami serius menangani kasus ini,” Ungkap Menag melalui akun twitternya @lukmansaifuddin, Minggu (21/7/2019) siang.

Kontan reaksi Menag mengusik perasaan umat Islam. Mengapa? Itu adalah bendera Rasulullah SAW, bendera Islam. Suatu yang wajar jika remaja-remaja muslim bangga dengan bendera itu. Ingat, ar-Rayah dan al-Liwa. Padahal keduanya sangat penting, karena sebagai simbol, ia berperan sebagai tanda persamaan pendapat umat dan persatuan hati kaum Muslimin.

Pandangan umat Islam sangat jelas, ini adalah kalimat tayyibah yang sudah ditulis di sehelai kain. Bila kalimat tauhid tersebut ditulis di tulang, di daun, di plastik atau di mana saja ditulis maka itu jadi kalimat tauhid yang wajib dipelihara sebaik-baiknya. Tudingan bahwa bendera itu adalah bendera kriminalis dan teroris, jelas dusta besar. Bagaimana logikanya, lah wong itu adalah ar-Rayah dan al-Liwa.
Banyak hadits shahih atau minimal hasan yang menjelaskan seputar al-Liwa' dan ar-Rayah ini. Di antaranya Rasulullah SAW bersabda: Sungguh aku akan memberikan ar-Rayah ini kepada seseorang yang melalui kedua tangannya diraih kemenangan. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Masyarakat telah meyakini itu adalah bendera tauhid, bendera umat Islam seluruh dunia. Keyakinan masyarakat itu bertambah kuat ketika terjadi kriminalisasi bendera tauhid. Munculnya penistaan terhadap Islam ini tak lepas dari keberadaan rezim sekarang yang anti Islam. Rezim dengan kekuasaannya justru lebih condong memusuhi siapapun yang memperjuangkan Islam. Para ulama dikriminalisasi. Ormas Islam dibubarkan. Simbol Islam dimonsterisasi. dan ide-ide Islam dianggap dan dicap radikal. Sementara yang memusuhi Islam malah dibiarkan dan tidak diproses secara hukum.

Tampaknya masih ada saja orang yang gagal paham terhadap Islam dan panji Islam. Bagaimana tidak, penerapan syariah Islam yang mulia secara kaffah sekarang dianggap sebagai ancaman negara. Mereka sebut Islam mengancam kebhinnekaan, anti-NKRI, memecah belah persatuan, dan sebagainya. Mereka serang Islam dengan ungkapan yang sangat 'brutal' dan 'ngawur'. Maka ketika umat Islam mulai tahu tentang bendera Islam—yang disyiarkan oleh HTI—mereka dengan berani membakarnya. Dalihnya, itu bendera HTI. Tahukah mereka itu panji Rasulullah SAW? Kemungkinan besar mereka tidak tahu, karena kadung didoktrin oleh musuh Islam bahwa itu bukan bendera tauhid.

Di balik itu, ada dugaan ketakutan yang luar biasa terhadap panji Rasulullah SAW ini. Mereka takut umat Islam bersatu di bawahnya. Ini bisa membahayakan status quo mereka dan tuan-tuan penjajah negeri ini. Jangan heran mereka bekerja sama menghadang kebangkitan Islam. Termasuk bekerja sama dengan umat Islam yang menjual dirinya demi uang dan kekuasaan.[]


Langkah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menurunkan tim investigasi ke MAN 1 Sukabumi, Jawa Barat, terkait pengibaran bendera tauhid, dikritik oleh Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI).
Ketua Eksekutif Nasional BHP KSHUMI Chandra Purna Irawan mempertanyakan motif Menag Lukman menginvestigasi viralnya video pelajar MAN yang tengah mengibarkan bendera dengan lafaz "La ilaha illallah Muhammad Rasulullah" di media sosial Twitter.
Dalam pendapat hukumnya, Minggu (21/7), Chandra menyatakan bahwa tidak ada putusan pengadilan, peraturan perundang-undangan atau produk hukum lainnya yang melarang mencetak, mengedarkan dan mengibarkan bendera tauhid berlafadz "la ilaaha illallah Muhammad Rasulullah ".
Kemudian, katanya, tindakan mencetak, mengedarkan dan mengibarkan bendera tauhid bukan perbuatan melanggar hukum dan/atau tidak ada delik pidana atas hal tersebut.
Oleh sebab itu dia mempertanyakan tindakan menag atas dasar apa dan untuk apa melakukan investigasi terhadap siswa yang mengibarkan bendera tauhid.
"Atau patut diduga ada motif dan kepentingan politik tertentu? Hal ini harus diklarifikasi oleh menag agar tindakan menang tidak dinilai oleh masyarakat sebagai anti Islam dan tidak merugikan simbol Islam," ucap Chandra.
KSHUMI memandang bahwa semestinya Menag Lukman melindungi dan menjamin ajaran, dakwah Islam dan simbol-simbol Islam dari upaya potensi dugaan kriminalisasi.
Bagi setiap orang yang berusaha melakukan tindakan perampasan dan penyitaan terhadap bendera tauhid milik orang lain tanpa hak, lanjutnya, maka terancam pidana 9 tahun penjara sebagaimana pasal 368 KUHP dan termasuk tindakan persekusi terhadap orang yang mengibarkan bendera tauhid adalah perbuatan melanggar hukum.
"Bagi masyarakat yang dipanggil dan atau diperiksa terkait pengibaran bendera tauhid, masyarakat tidak perlu takut karena mengibarkan bendera tauhid bukan perbuatan pidana," tandas Chandra.
Sumber : Jawapos



Oleh : Putri Irfani S, S.Pd
(Aktivis Muslimah Dakwah Community)

Pendidikan adalah tolak ukur majunya sebuah peradaban bangsa. Keberhasilan pendidikan disuatu negara dapat dilihat dari kualitas generasi bangsa yang dihasilkan. Namun faktanya kerusakan para birokrasi hingga tatanan masyarakat kecil khususnya keluarga dan korupsi yang semakin tinggi, maka lembaga pendidikan bisa dikatakan telah gagal. Hal ini menyebabkan dunia pendidikan yang semakin kehilangan esensinya. Di tambah lagi pengelolaan pendidikan yang diberikan kepada pihak swasta dan asing sehingga terjadilah kapitalisasi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mewacanakan akan mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenanga pengajar di Indonesia. Menurut Puan, Indonesia sudah bekerjasama dengan beberapa negara, salah satunya dari Jerman. “Kami ajak guru dari luar negeri untuk mengajari ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia,” ujar Puan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas, Di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Kamis 09/05/2019 (tirto.id)

Wacana Puan mengundang guru dari luar negeri membuktikan bahwa sistem pendidikan saat ini gagal mencetak guru berkualitas untuk mewujudkan generasi mandiri, tangguh, problem solver, dan memiliki skill dalam kehidupan.

Kemudian, pada tahun 2017 pemerintah akan menghentikan izin pendirian lembaga-lembaga pendidikan tinggi akademik dan mendorong pengembangan pendidikan tinggi kejuruan (Kompas, 29 Desember 2016). Tujuannya untuk sejalan dengan kepentingan dan meniru penyelenggaraan pendidikan tinggi di negara-negara maju telah menjadi pertimbangan utama.

Ini adalah bukti bahwa desain pendidikan tinggi Indonesia bersifat pragmatis, berorientasi pada peradaban Barat, serta tidak memiliki visi yang cukup untuk menghasilkan sumber daya manusia yang akan membangun negara dan memimpin peradaban. Apalagi Perguruan tinggi sedang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri atau pasar.

Misalnya, Agenda RI 4.0 menjadikan negara-negara Barat sangat berkepentingan terhadap pendidikan tinggi dan riset. Khususnya agenda ekonomi pasar bebas knowledge based economy (KBE), yang pada agenda KBE ini ilmu didudukkan hanya sebatas faktor produksi untuk pertumbuhan ekonomi dan World Class University (WCU) sebagai pilarnya.

Padahal WCU sendiri akan menimbulkan bahaya bagi sistem pendidikan. Yaitu menjauhkan peran intelektual yang selayaknya berkontribusi untuk umat. Namun berubah menjadi komoditas bisnis untuk dikomersialisasikan. Kalau begini, kaum terpelajar bagaikan intelektual robot, di mana aspek intelektualitasnya dieksploitasi demi capaian ilmu pengetahuan sebagai komoditi ekonomi. Ironis, mereka hanya mampu menurut pada pemegang remote control dirinya, yaitu para pemilik dana riset.

Maka, ketika lembaga pendidikan gagal mencetak sumber daya manusia berkualitas, kita perlu memformat ulang sistem pendidikan yang ada agar mampu mencetak manusia yang dapat menjadikan bangsa ini sebagai pemimpin dunia, bukan menjadi bangsa yang terjajah. Sehingga, para kaum terpelajar di negeri muslim terbesar ini bisa mengaktualisasikan posisi mereka sebagai hamba sang khaliq dan konstribusi mereka sebagai penggerak perubahan. Walaupun mereka harus melawan derasnya arus opini neoliberalisasi.



(Oleh: Wulan Eka Sari)

Miris memang. Seringkali pelaku pelecehan seksual mendapat payung hukum. Belum lama ini koraban pelecehan seksual yang justru terjerat pasal karet UU ITE. Kini terpidana kasus pelecehan seksual Neil Bantlmen telah bebas.

Neli dibebaskan karena mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 13/G tahun 2019 tanggal 19 Juni 2019. Kepres tersebut memutuskan berupa pengurangan pidana dari 11 tahun menjadi 5 tahun 1 bulan dan denda pidana senilai Rp 100 juta.
Pemberian grasi kepada para pelaku pedofili bukti Negara lemah menghadapi pelaku criminal terutama warga asing. Hal ini tentu tidak akan memberikan efek jera dan sangat sulit mencegah kekerasan seksual terhadap anak. Sehingga kasus pedofilia makin marak karena tak ada hukum yang tegas kepada pelakunya. Pemberiaan grasi kepada pedofili bukti rezim tak serius menyelamatkan generasi.
Pedofilia adalah gangguan seksual yang berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia 14 tahun. Orang yang mengidap pedofilia disebut pedofil. Pelecehan seksual terhadap anak dapat mengakibatkan dampak negatif jangka pendek dan jangka panjang, termasuk penyakit psikologis di kemudian hari. Korban bisa mengalami depresi, stress, gelisah, mengalami kekacauan kepribadian.
Korban juga dapat mengalami gangguan syaraf, sakit kronis, perubahan perilaku seksual, serta masalah perilaku termasuk penyalahgunaan obat terlarang, perilaku menyakitkan diri sendiri, kriminalitas ketika dewasa bahkan bunuh diri.
Ancaman lebih besar dan mengerikan adalaah terjadinya siklus pedofilia, abused-abuser cycle, yakni korban pelecehan seksual (abused) pada masa kecil, tumbuh dewasa menjadi predator dan pelaku pelecahan seksual (abuser) terhadap anak. Lantas bagaimana kualitas generasi masa depan?
Dalam Islam, sistem uqubat secara tegas benar-benar ditegakkan. Dapat memberikan efek jera dan mencegah orang lain melakukan kejahatan. Hukum Islam memandang, hukuman bagi pelaku pedofilia dalam bentuk sodomi akan dijatuhi hukuman mati. Begitu pula dengan pelaku homoseksual. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw:
Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi) (H.R Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi)
Tentu anak-anak yang menjadi korban tidak dijatuhi hukuman itu karena dipaksa atau diperdaya, apalagi belum baligh. Dalam pandangan Islam, korban tetap mulia dan terhormat. Negara harus melakukan pengobatan, rehabilitasi dan perbaikan fisik dan mentalnya.
Jika kejahatan seksual dilakukan dalam perkosaan, maka pelakunya yang muhshan (pernah menikah) dirajam hingga mati dan yang ghayr muhshan (belum menikah) dicambuk 100 kali. Pelaksanaan itu dilakukan secaraa terbuka dan disaksikan oleh khalayak serta dapat memberi efek jera untuk mencegah kejahatan.
Indahnya hukum Islam ketika diterapkan adalah minimnya kasus-kasus seperti ini terjadi. Hal ini karena Negara mempunyai visi penyelamatan generasi. Negara akan menanamkan akidah Islam dan membentuk ketaqwaan pada diri masyarakat. Menanamkan nilai-nilai, norma, moral budaya, pemikiran dan sistem Islam kepada masyarakat melalui pendidikan formal dan non formal. Sehingga masyarakat akan memiliki kendali internal yang menghalangi mereka dari ragam tindakan criminal, termasuk pedofilia. Perlindungan ini hanya didapat ketika syariat Islam diterapkan secara totalitas dalam naungan Khilafah.



Oleh Ashaima Va
Tak sulit mencari generasi prestatif di negeri ini. Dari yang unggul dalam science dan teknologi sampai yang berkiprah dalam bidang seni dan hiburan. Sayangnya ternyata di antara mereka tak mudah mencari generasi prestatif yang berkarakter. Berprestasi tapi kokoh kepribadiannya. Kepribadian yang dibangun atas dasar akidah Islam akan menjadikan mereka memiliki ketakwaan dan akhlak.
Generasi unggul atau dalam Islam masyhur dengan sebutan generasi Rabbani tak muncul dari anak-anak yang pandai secara keilmuan dan hanya dibekali nilai-nilai moral semata. Generasi Rabbani hanya bisa terwujud dengan menanamkan akidah yang kuat disertai tuntunan untuk mengikatkan diri dengan aturan Allah. Darinya akan lahir generasi yang menjaga Al-Qur'an dan terjaga akhlaknya. Memiliki visi ke depan dengan ilmu yang dimiliki. Tangguh menghadapi berbagai rintangan kehidupan. Bukan generasi pintar secara akademik tapi miskin akhlak. Berani melabrak aturan Allah hanya demi kesenangan duniawi. Kelak di masa depan akan terbayang akan jadi pemimpin seperti apa mereka jika diberi amanah jabatan.
Maka tidak bisa tidak, keberadaan pengajaran beradasarkan Islam adalah suatu keharusan. Akidah dan syari'at diajarkan bukan semata hapalan namun harus berupa pemahaman utuh yang akan mengisi pola berpikir dan berpengaruh pada tingkah laku.
Tidaklah berlebihan jika kita menyatakan pelajaran agama tidak bisa diajarkan hanya dua jam pelajaran. Islam sepatutnya harus mewarnai kurikulum setiap mata pelajaran siswa muslim. Maka cukup menyedihkan jika ada pernyataan dari praktisi pendidikan bahwa pelajaran agama tidak perlu diajarkan pada siswa. Klaim bahwa agama hanya memecah belah dan mendikotomi sehingga berujung pada merebaknya intoleransi adalah tidak berdasar. Justru agama akan memberikan pemahaman bahwa mengahargai dan menghormati pemeluk agama lain adalah kewajiban. Dalam Islam sendiri toleransi sudah dijelaskan dengan batasan yang tegas.
Allah berfirman:
لَكُمْ دِيْنُكُمْ و لِيَ دِيْنِ
"Untukmu agamamu dan untukku agamaku" (TQS. Al-Kafiruun 6)
Dengan agama pula segala nilai-nilai kebaikan bisa diajarkan dengan dorongan ruhiyah. Dalam Islam tidak ada lagi dorongan yang mampu membawa seseorang bahkan generasi pada kebangkitan selain dorongan taqwallah. Maka meninggalkan pelajaran agama dalam pendidikan hanya akan membawa negeri ini pada kehidupan sekuler. Agama hanya boleh mengatur masalah individu, sedang dalam kehidupan bermasyarakat aturan agama harus disingkirkan jauh-jauh. Islam ibarat prasmanan, diambil hanya yang disukai dan yang tidak disukai ditinggalkan. Padahal Allah mencela kaum yang hanya mengambil aturan Allah sebagian-sebagian.
Firman Allah SWT.
ثُمَّ أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسَارَىٰ تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu), dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Dan jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan kamu terus mereka padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab (taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain) maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (TQS. Al-Baqarah 85)
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini mengandung celaan terhadap orang-orang yahudi yang tidak beriman kepada apa yang terkandung di dalam kitab taurat, tidak pula terhadap penukilannya, serta tidak percaya dengan apa yang mereka sembunyikan mengenai sifat Rasulullah saw, ciri khasnya, tempat diutusnya, saat munculnya, dan tempat hijrahnya serta lain-lain yang diberitakan oleh para nabi sebelum nabi muncul. Inilah yang disembunyikan dengan rapi di antara sesama mereka. Sehubungan dengan hal ini Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
"Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia" (TQS. Al Baqarah 85)
Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kaum terdahulu. Perbuatan memilih-milih apa yang ada pada kitabullah sudah Allah kisahkan jauh-jauh hari, maka sepatutnya kita tidak berlaku serupa dengan mereka. Janganlah menunggu balasan Allah berupa kenistaan di dunia. Jangan alergi pada ajaran islam karena hanya islamlah yang terbukti mampu mencetak generasi pemimpin peradaban.
Siapa yang tak kenal Sultan Mehmed II. Pemimpin yang lebih dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih ini adalah jawaban dari bisyarah Rasulullah dalam hadistnya.
Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan. (HR Ahmad bin Hambal Al Musnad)
Dan siapa pula yang tak kenal Thariq bin Ziyad. Dalam sejarah Spanyol, Thariq adalah legenda yang dikenal dengan sebutan Taric el Tuerto. Sang jendral dari dinasti Umayyah tersebut berhasil memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus pada tahun 711 M.
Muhammad Al-Fatih dan Thariq bin Ziyad adalah fakta historis dari produk pendidikan Islam. Jiwa kepemimpinan yang ditempa sedari kecil hingga di masa muda mereka berhasil menorehkan sejarah kegemilangan Islam yang mengagumkan. Sudah saatnya kita kembali pada Diin Islam yang mulia. Menerapkannya secara kaffah dan mengajarkannya pada anak cucu kita. Agama semestinya direngkuh bukan dibuang jauh-jauh.
loading...
Powered by Blogger.