Pemerintah Inggris menyebarkan kebohongan ekstremisme hingga mengarang-arang kecurigaan dan kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim.
Dalam sebuah pidato pada hari Jumat, Menteri Dalam Negeri Sajid Javid menuduh kaum Muslim memiliki “pandangan ekstrem” dan menyerukan “integrasi lebih lanjut di masyarakat, agar lebih banyak bantuan diberikan bagi orang-orang untuk belajar bahasa Inggris, memberikan dukungan yang lebih besar bagi masyarakat dan suatu perayaan identitas nasional.” Pidato semacam akan membuat Presiden Cina Xi Jinping merasa bangga. Semua alasan yang sama digunakan olehnya dan Javid untuk membenarkan indoktrinasi secara paksa, “pendidikan ulang”, dan penindasan terhadap umat Islam di negara itu dan di negara ini.
Baik pemerintah Inggris maupun pemerintah Cina tahu bahwa mereka tidak memiliki dasar intelektual atas ideologi sekuler mereka, atau atas kebencian fanatis mereka terhadap Islam dan kaum Muslim. Karena kurangnya keyakinan sendiri, saat ditantang untuk mempertahankan ide-ide mereka, mereka berlari seperti seorang pengecut, sambil meneriakkan tuduhan palsu dan menghasut massa dalam suatu hiruk-pikuk, sementara mereka melarikan diri untuk bersembunyi di balik para preman dan penjahat pemikiran. Seperti itulah yang menjadi norma baru. Orang-orang Cina tidak menemukan sendiri taktik penindasan, tetapi mereka mempelajarinya dari pemerintah Barat yang telah melakukan hal yang sama dalam beberapa dekade di negeri-negeri koloni mereka, dan saat ini membawanya kembali ke tanah air.
Semua pemerintah Barat tidak punya kebijakan untuk menyelesaikan banyak masalah serius yang mempengaruhi kehidupan warga negaranya, sehingga rakyat jelata bangkit untuk menyembunyikan ketidakmampuan ideologi sekuler yang diterapkan dengan keras kepala.
Dengan sederet kegagalan seperti itu yang menyebabkan kesengsaraan bagi dunia, seorang lelaki yang berakal akan berhenti dan melakukan penelitian, untuk mendengarkan nasihat kaum Muslim yang menawarkan nasihat yang tulus kepada semua umat manusia; yang merupakan nasihat dari Nabi Allah yang terakhir sebelum datangnya hari Kiamat.
Kaum elit dunia begitu tertipu oleh ideologi kapitalisme ini, dan mereka yang setia kepada ideologi itu adalah para menteri dan para pegawai pemerintah, sehingga mereka menggunakan taktik yang semakin putus asa untuk menunda kebangkitan yang tidak terelakkan dari umat manusia yang menolak perilaku destruktif. Pesan ini menjadi sangat jelas, bahwa umat Islam berpegang teguh pada Islam akan diburu dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya untuk beralih kepada sesembahan sekuler mereka yang lemah, atau menghadapi kemarahan negara dan gerombolan penggembiranya.
Kami sebelumnya telah menantang Javid, dan terus menantang para pembelanya atas penindasan oleh kaum kapitalis untuk berdebat dan mempertahankan ide-ide dan kebijakan mereka.
Hanya para pengecut yang tahu bahwa dia akan kehilangan pengawasan intelektual dari pandangan yang intoleran dan “ekstrim” dengan menggunakan taktik “menghina lalu kabur” suatu taktik yang dijalankan pemerintah pada hari ini. Dengan menyebut kelompok-kelompok Islam yang menentang dan mengungkap penindasan oleh pemerintahnya di dalam dan di luar negeri, sambil menuduh mereka sebagai kaum “ekstrem”, dia bersembunyi di balik sistem hukum Inggris yang aneh yang melindungi para pembohong yang memfitnah kelompok-kelompok yang menantang pemikiran mereka; karena pengadilan tidak akan mengizinkan kelompok mana pun untuk menentang kebohongan. Karenanya, di Inggris, suara paling keras akan selalu muncul untuk menang.
Dalam menghadapi kebencian dan penipuan yang resmi dilakukan seperti itu, umat Islam dan semua orang yang menginginkan kebenaran dan keadilan harus kembali kepada ajaran Tuhan.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. ”[Terjemahan QS An-Nisa: 135]
Yahya Nisbet, Perwakilan Media Hizbut Tahrir Inggris



Mahfud Abdullah
(Indonesia Change)

Foto yang diunggah oleh pemilik akun @Karolina_bee11 pada Sabtu, 20 Juli 2019, ini menjadi perhatian publik. Pasalnya, dalam foto tersebut tampak sekelompok siswa berpose di halaman madrasah, mengibarkan dua bendera tauhid berwarna hitam bertuliskan kalimat Laa ilaaha illallah, Muhammadun Rasulullah. Ada juga siswa yang membawa bendera Merah Putih. Sementara pada bagian lain, terlihat spanduk dengan tulisan MAN 1 Sukabumi, yang kemudian direspon oleh Menag melalui akun twitternya.

 “Sejak semalam sudah ada tim khusus dari Pusat yg ke lokasi untuk investigasi. Saat ini proses penanganan di lapangan masih sedang berlangsung. Kami serius menangani kasus ini,” Ungkap Menag melalui akun twitternya @lukmansaifuddin, Minggu (21/7/2019) siang.

Kontan reaksi Menag mengusik perasaan umat Islam. Mengapa? Itu adalah bendera Rasulullah SAW, bendera Islam. Suatu yang wajar jika remaja-remaja muslim bangga dengan bendera itu. Ingat, ar-Rayah dan al-Liwa. Padahal keduanya sangat penting, karena sebagai simbol, ia berperan sebagai tanda persamaan pendapat umat dan persatuan hati kaum Muslimin.

Pandangan umat Islam sangat jelas, ini adalah kalimat tayyibah yang sudah ditulis di sehelai kain. Bila kalimat tauhid tersebut ditulis di tulang, di daun, di plastik atau di mana saja ditulis maka itu jadi kalimat tauhid yang wajib dipelihara sebaik-baiknya. Tudingan bahwa bendera itu adalah bendera kriminalis dan teroris, jelas dusta besar. Bagaimana logikanya, lah wong itu adalah ar-Rayah dan al-Liwa.
Banyak hadits shahih atau minimal hasan yang menjelaskan seputar al-Liwa' dan ar-Rayah ini. Di antaranya Rasulullah SAW bersabda: Sungguh aku akan memberikan ar-Rayah ini kepada seseorang yang melalui kedua tangannya diraih kemenangan. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Masyarakat telah meyakini itu adalah bendera tauhid, bendera umat Islam seluruh dunia. Keyakinan masyarakat itu bertambah kuat ketika terjadi kriminalisasi bendera tauhid. Munculnya penistaan terhadap Islam ini tak lepas dari keberadaan rezim sekarang yang anti Islam. Rezim dengan kekuasaannya justru lebih condong memusuhi siapapun yang memperjuangkan Islam. Para ulama dikriminalisasi. Ormas Islam dibubarkan. Simbol Islam dimonsterisasi. dan ide-ide Islam dianggap dan dicap radikal. Sementara yang memusuhi Islam malah dibiarkan dan tidak diproses secara hukum.

Tampaknya masih ada saja orang yang gagal paham terhadap Islam dan panji Islam. Bagaimana tidak, penerapan syariah Islam yang mulia secara kaffah sekarang dianggap sebagai ancaman negara. Mereka sebut Islam mengancam kebhinnekaan, anti-NKRI, memecah belah persatuan, dan sebagainya. Mereka serang Islam dengan ungkapan yang sangat 'brutal' dan 'ngawur'. Maka ketika umat Islam mulai tahu tentang bendera Islam—yang disyiarkan oleh HTI—mereka dengan berani membakarnya. Dalihnya, itu bendera HTI. Tahukah mereka itu panji Rasulullah SAW? Kemungkinan besar mereka tidak tahu, karena kadung didoktrin oleh musuh Islam bahwa itu bukan bendera tauhid.

Di balik itu, ada dugaan ketakutan yang luar biasa terhadap panji Rasulullah SAW ini. Mereka takut umat Islam bersatu di bawahnya. Ini bisa membahayakan status quo mereka dan tuan-tuan penjajah negeri ini. Jangan heran mereka bekerja sama menghadang kebangkitan Islam. Termasuk bekerja sama dengan umat Islam yang menjual dirinya demi uang dan kekuasaan.[]


Langkah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menurunkan tim investigasi ke MAN 1 Sukabumi, Jawa Barat, terkait pengibaran bendera tauhid, dikritik oleh Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI).
Ketua Eksekutif Nasional BHP KSHUMI Chandra Purna Irawan mempertanyakan motif Menag Lukman menginvestigasi viralnya video pelajar MAN yang tengah mengibarkan bendera dengan lafaz "La ilaha illallah Muhammad Rasulullah" di media sosial Twitter.
Dalam pendapat hukumnya, Minggu (21/7), Chandra menyatakan bahwa tidak ada putusan pengadilan, peraturan perundang-undangan atau produk hukum lainnya yang melarang mencetak, mengedarkan dan mengibarkan bendera tauhid berlafadz "la ilaaha illallah Muhammad Rasulullah ".
Kemudian, katanya, tindakan mencetak, mengedarkan dan mengibarkan bendera tauhid bukan perbuatan melanggar hukum dan/atau tidak ada delik pidana atas hal tersebut.
Oleh sebab itu dia mempertanyakan tindakan menag atas dasar apa dan untuk apa melakukan investigasi terhadap siswa yang mengibarkan bendera tauhid.
"Atau patut diduga ada motif dan kepentingan politik tertentu? Hal ini harus diklarifikasi oleh menag agar tindakan menang tidak dinilai oleh masyarakat sebagai anti Islam dan tidak merugikan simbol Islam," ucap Chandra.
KSHUMI memandang bahwa semestinya Menag Lukman melindungi dan menjamin ajaran, dakwah Islam dan simbol-simbol Islam dari upaya potensi dugaan kriminalisasi.
Bagi setiap orang yang berusaha melakukan tindakan perampasan dan penyitaan terhadap bendera tauhid milik orang lain tanpa hak, lanjutnya, maka terancam pidana 9 tahun penjara sebagaimana pasal 368 KUHP dan termasuk tindakan persekusi terhadap orang yang mengibarkan bendera tauhid adalah perbuatan melanggar hukum.
"Bagi masyarakat yang dipanggil dan atau diperiksa terkait pengibaran bendera tauhid, masyarakat tidak perlu takut karena mengibarkan bendera tauhid bukan perbuatan pidana," tandas Chandra.
Sumber : Jawapos



Oleh : Putri Irfani S, S.Pd
(Aktivis Muslimah Dakwah Community)

Pendidikan adalah tolak ukur majunya sebuah peradaban bangsa. Keberhasilan pendidikan disuatu negara dapat dilihat dari kualitas generasi bangsa yang dihasilkan. Namun faktanya kerusakan para birokrasi hingga tatanan masyarakat kecil khususnya keluarga dan korupsi yang semakin tinggi, maka lembaga pendidikan bisa dikatakan telah gagal. Hal ini menyebabkan dunia pendidikan yang semakin kehilangan esensinya. Di tambah lagi pengelolaan pendidikan yang diberikan kepada pihak swasta dan asing sehingga terjadilah kapitalisasi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mewacanakan akan mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenanga pengajar di Indonesia. Menurut Puan, Indonesia sudah bekerjasama dengan beberapa negara, salah satunya dari Jerman. “Kami ajak guru dari luar negeri untuk mengajari ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia,” ujar Puan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas, Di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Kamis 09/05/2019 (tirto.id)

Wacana Puan mengundang guru dari luar negeri membuktikan bahwa sistem pendidikan saat ini gagal mencetak guru berkualitas untuk mewujudkan generasi mandiri, tangguh, problem solver, dan memiliki skill dalam kehidupan.

Kemudian, pada tahun 2017 pemerintah akan menghentikan izin pendirian lembaga-lembaga pendidikan tinggi akademik dan mendorong pengembangan pendidikan tinggi kejuruan (Kompas, 29 Desember 2016). Tujuannya untuk sejalan dengan kepentingan dan meniru penyelenggaraan pendidikan tinggi di negara-negara maju telah menjadi pertimbangan utama.

Ini adalah bukti bahwa desain pendidikan tinggi Indonesia bersifat pragmatis, berorientasi pada peradaban Barat, serta tidak memiliki visi yang cukup untuk menghasilkan sumber daya manusia yang akan membangun negara dan memimpin peradaban. Apalagi Perguruan tinggi sedang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri atau pasar.

Misalnya, Agenda RI 4.0 menjadikan negara-negara Barat sangat berkepentingan terhadap pendidikan tinggi dan riset. Khususnya agenda ekonomi pasar bebas knowledge based economy (KBE), yang pada agenda KBE ini ilmu didudukkan hanya sebatas faktor produksi untuk pertumbuhan ekonomi dan World Class University (WCU) sebagai pilarnya.

Padahal WCU sendiri akan menimbulkan bahaya bagi sistem pendidikan. Yaitu menjauhkan peran intelektual yang selayaknya berkontribusi untuk umat. Namun berubah menjadi komoditas bisnis untuk dikomersialisasikan. Kalau begini, kaum terpelajar bagaikan intelektual robot, di mana aspek intelektualitasnya dieksploitasi demi capaian ilmu pengetahuan sebagai komoditi ekonomi. Ironis, mereka hanya mampu menurut pada pemegang remote control dirinya, yaitu para pemilik dana riset.

Maka, ketika lembaga pendidikan gagal mencetak sumber daya manusia berkualitas, kita perlu memformat ulang sistem pendidikan yang ada agar mampu mencetak manusia yang dapat menjadikan bangsa ini sebagai pemimpin dunia, bukan menjadi bangsa yang terjajah. Sehingga, para kaum terpelajar di negeri muslim terbesar ini bisa mengaktualisasikan posisi mereka sebagai hamba sang khaliq dan konstribusi mereka sebagai penggerak perubahan. Walaupun mereka harus melawan derasnya arus opini neoliberalisasi.



(Oleh: Wulan Eka Sari)

Miris memang. Seringkali pelaku pelecehan seksual mendapat payung hukum. Belum lama ini koraban pelecehan seksual yang justru terjerat pasal karet UU ITE. Kini terpidana kasus pelecehan seksual Neil Bantlmen telah bebas.

Neli dibebaskan karena mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 13/G tahun 2019 tanggal 19 Juni 2019. Kepres tersebut memutuskan berupa pengurangan pidana dari 11 tahun menjadi 5 tahun 1 bulan dan denda pidana senilai Rp 100 juta.
Pemberian grasi kepada para pelaku pedofili bukti Negara lemah menghadapi pelaku criminal terutama warga asing. Hal ini tentu tidak akan memberikan efek jera dan sangat sulit mencegah kekerasan seksual terhadap anak. Sehingga kasus pedofilia makin marak karena tak ada hukum yang tegas kepada pelakunya. Pemberiaan grasi kepada pedofili bukti rezim tak serius menyelamatkan generasi.
Pedofilia adalah gangguan seksual yang berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia 14 tahun. Orang yang mengidap pedofilia disebut pedofil. Pelecehan seksual terhadap anak dapat mengakibatkan dampak negatif jangka pendek dan jangka panjang, termasuk penyakit psikologis di kemudian hari. Korban bisa mengalami depresi, stress, gelisah, mengalami kekacauan kepribadian.
Korban juga dapat mengalami gangguan syaraf, sakit kronis, perubahan perilaku seksual, serta masalah perilaku termasuk penyalahgunaan obat terlarang, perilaku menyakitkan diri sendiri, kriminalitas ketika dewasa bahkan bunuh diri.
Ancaman lebih besar dan mengerikan adalaah terjadinya siklus pedofilia, abused-abuser cycle, yakni korban pelecehan seksual (abused) pada masa kecil, tumbuh dewasa menjadi predator dan pelaku pelecahan seksual (abuser) terhadap anak. Lantas bagaimana kualitas generasi masa depan?
Dalam Islam, sistem uqubat secara tegas benar-benar ditegakkan. Dapat memberikan efek jera dan mencegah orang lain melakukan kejahatan. Hukum Islam memandang, hukuman bagi pelaku pedofilia dalam bentuk sodomi akan dijatuhi hukuman mati. Begitu pula dengan pelaku homoseksual. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw:
Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi) (H.R Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi)
Tentu anak-anak yang menjadi korban tidak dijatuhi hukuman itu karena dipaksa atau diperdaya, apalagi belum baligh. Dalam pandangan Islam, korban tetap mulia dan terhormat. Negara harus melakukan pengobatan, rehabilitasi dan perbaikan fisik dan mentalnya.
Jika kejahatan seksual dilakukan dalam perkosaan, maka pelakunya yang muhshan (pernah menikah) dirajam hingga mati dan yang ghayr muhshan (belum menikah) dicambuk 100 kali. Pelaksanaan itu dilakukan secaraa terbuka dan disaksikan oleh khalayak serta dapat memberi efek jera untuk mencegah kejahatan.
Indahnya hukum Islam ketika diterapkan adalah minimnya kasus-kasus seperti ini terjadi. Hal ini karena Negara mempunyai visi penyelamatan generasi. Negara akan menanamkan akidah Islam dan membentuk ketaqwaan pada diri masyarakat. Menanamkan nilai-nilai, norma, moral budaya, pemikiran dan sistem Islam kepada masyarakat melalui pendidikan formal dan non formal. Sehingga masyarakat akan memiliki kendali internal yang menghalangi mereka dari ragam tindakan criminal, termasuk pedofilia. Perlindungan ini hanya didapat ketika syariat Islam diterapkan secara totalitas dalam naungan Khilafah.



Oleh Ashaima Va
Tak sulit mencari generasi prestatif di negeri ini. Dari yang unggul dalam science dan teknologi sampai yang berkiprah dalam bidang seni dan hiburan. Sayangnya ternyata di antara mereka tak mudah mencari generasi prestatif yang berkarakter. Berprestasi tapi kokoh kepribadiannya. Kepribadian yang dibangun atas dasar akidah Islam akan menjadikan mereka memiliki ketakwaan dan akhlak.
Generasi unggul atau dalam Islam masyhur dengan sebutan generasi Rabbani tak muncul dari anak-anak yang pandai secara keilmuan dan hanya dibekali nilai-nilai moral semata. Generasi Rabbani hanya bisa terwujud dengan menanamkan akidah yang kuat disertai tuntunan untuk mengikatkan diri dengan aturan Allah. Darinya akan lahir generasi yang menjaga Al-Qur'an dan terjaga akhlaknya. Memiliki visi ke depan dengan ilmu yang dimiliki. Tangguh menghadapi berbagai rintangan kehidupan. Bukan generasi pintar secara akademik tapi miskin akhlak. Berani melabrak aturan Allah hanya demi kesenangan duniawi. Kelak di masa depan akan terbayang akan jadi pemimpin seperti apa mereka jika diberi amanah jabatan.
Maka tidak bisa tidak, keberadaan pengajaran beradasarkan Islam adalah suatu keharusan. Akidah dan syari'at diajarkan bukan semata hapalan namun harus berupa pemahaman utuh yang akan mengisi pola berpikir dan berpengaruh pada tingkah laku.
Tidaklah berlebihan jika kita menyatakan pelajaran agama tidak bisa diajarkan hanya dua jam pelajaran. Islam sepatutnya harus mewarnai kurikulum setiap mata pelajaran siswa muslim. Maka cukup menyedihkan jika ada pernyataan dari praktisi pendidikan bahwa pelajaran agama tidak perlu diajarkan pada siswa. Klaim bahwa agama hanya memecah belah dan mendikotomi sehingga berujung pada merebaknya intoleransi adalah tidak berdasar. Justru agama akan memberikan pemahaman bahwa mengahargai dan menghormati pemeluk agama lain adalah kewajiban. Dalam Islam sendiri toleransi sudah dijelaskan dengan batasan yang tegas.
Allah berfirman:
لَكُمْ دِيْنُكُمْ و لِيَ دِيْنِ
"Untukmu agamamu dan untukku agamaku" (TQS. Al-Kafiruun 6)
Dengan agama pula segala nilai-nilai kebaikan bisa diajarkan dengan dorongan ruhiyah. Dalam Islam tidak ada lagi dorongan yang mampu membawa seseorang bahkan generasi pada kebangkitan selain dorongan taqwallah. Maka meninggalkan pelajaran agama dalam pendidikan hanya akan membawa negeri ini pada kehidupan sekuler. Agama hanya boleh mengatur masalah individu, sedang dalam kehidupan bermasyarakat aturan agama harus disingkirkan jauh-jauh. Islam ibarat prasmanan, diambil hanya yang disukai dan yang tidak disukai ditinggalkan. Padahal Allah mencela kaum yang hanya mengambil aturan Allah sebagian-sebagian.
Firman Allah SWT.
ثُمَّ أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسَارَىٰ تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu), dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Dan jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan kamu terus mereka padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab (taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain) maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (TQS. Al-Baqarah 85)
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini mengandung celaan terhadap orang-orang yahudi yang tidak beriman kepada apa yang terkandung di dalam kitab taurat, tidak pula terhadap penukilannya, serta tidak percaya dengan apa yang mereka sembunyikan mengenai sifat Rasulullah saw, ciri khasnya, tempat diutusnya, saat munculnya, dan tempat hijrahnya serta lain-lain yang diberitakan oleh para nabi sebelum nabi muncul. Inilah yang disembunyikan dengan rapi di antara sesama mereka. Sehubungan dengan hal ini Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
"Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia" (TQS. Al Baqarah 85)
Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kaum terdahulu. Perbuatan memilih-milih apa yang ada pada kitabullah sudah Allah kisahkan jauh-jauh hari, maka sepatutnya kita tidak berlaku serupa dengan mereka. Janganlah menunggu balasan Allah berupa kenistaan di dunia. Jangan alergi pada ajaran islam karena hanya islamlah yang terbukti mampu mencetak generasi pemimpin peradaban.
Siapa yang tak kenal Sultan Mehmed II. Pemimpin yang lebih dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih ini adalah jawaban dari bisyarah Rasulullah dalam hadistnya.
Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan. (HR Ahmad bin Hambal Al Musnad)
Dan siapa pula yang tak kenal Thariq bin Ziyad. Dalam sejarah Spanyol, Thariq adalah legenda yang dikenal dengan sebutan Taric el Tuerto. Sang jendral dari dinasti Umayyah tersebut berhasil memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus pada tahun 711 M.
Muhammad Al-Fatih dan Thariq bin Ziyad adalah fakta historis dari produk pendidikan Islam. Jiwa kepemimpinan yang ditempa sedari kecil hingga di masa muda mereka berhasil menorehkan sejarah kegemilangan Islam yang mengagumkan. Sudah saatnya kita kembali pada Diin Islam yang mulia. Menerapkannya secara kaffah dan mengajarkannya pada anak cucu kita. Agama semestinya direngkuh bukan dibuang jauh-jauh.


Oleh : Zainab Ghazali

Baru-baru ini Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan angka kemiskinan Indonesia mengalami penurunan. Tercatat jumlah penduduk miskin sebanyak 25,14 juta jiwa atau 9,41 persen. Dibandingkan tahun talu, maka jumlah penduduk miskin tahun ini mengalami penurunan sebanyak 530 ribu jiwa. Begitu ucap Kepala BPS, Suhariyanto.
Kepala BPS juga mengatakan bahwa orang yang akan dikategorikan miskin. Jika rata-rata satu rumah tangga di Indonesia memiliki 4 hingga 5 anggota keluarga, maka garis kemiskinan rata-rata secara nasional sebesar Rp 1,99 juta per rumah tangga.
Alamak, pendapatan sebesar Rp 3 juta saja masih sulit mencukupi kebutuhan hidup dalam rumah tangga. Mengingat harga kebutuhan pokok yang terus melonjak naik, biaya pendidikan selangit, biaya Rumah Sakit juga tak terjangkau bagi yang berobat karena sakit. Malah sudah distandarisasi oleh BPS tentang pendapatan yang termasuk dalam garis kemiskinan.
Sementara peneliti Indef, Aviliani mengatakan bahwa laporan yang disampaikan BPS tidak relevan. Bahkan ia mengatakan, kemiskinan kalau dilihat dari angka bisa menurun, tapi masyarakat miskin dan hampir miskin di lapangan harus dilihat karena turunnya belum signifikan.
Hal senada juga dikatakan oleh pengamat Indef, Rusli Abdullah, meskipun BPS menyatakan telah menurunnya angka kemiskinan, namun masih ada sekitar 69 juta orang yang rentan miskin. Penduduk rentan miskin ialah penduduk yang berada di atas garis kemiskinan sebesar 1,5 kali garis kemiskinan. Penduduk rentan miskin ini bisa jatuh miskin apabila terjadi gejolak ekonomi. Gejolak ekonomi yaitu kenaikan harga.
Menjadi sebuah tanya bagi kita, sebenarnya data yang dikeluarkan BPS tersebut, untuk pencitraan bagi rezim agar dianggap telah bekerja menyejahterakan rakyatnya, atau hanya menghibur rakyat yang hampir sekarat?
Kemudian, Bu Sri mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup stabil di atas 5 persen setara jumlah pengangguran menurun hingga mencatat angka paling rendah dalam 20 tahun terakhir. Terakhir kemarin 9.4 persen, ujarnya.
Bu Sri menjelaskan hal tersebut disebabkan satu desain kebijakan menjaga harga dan mengurangi belanja sosial sehingga menciptakan pertumbuhan, terutama pada 40 persen rumah tangga miskin.
Tak ketinggalan ia jelaskan, program sang pimpinan bukan program bagi-bagi uang saja, melainkan bagaimana memotong langsung tali generasi berpotensi miskin. Tapi katanya, hasil program itu baru bisa terlihat 10-15 tahun kedepan.
Pertanyaanya, alat apa yang dipakai untuk memotong tali generasi yang berpotensi miskin? Apakah dengan tarik subsidi dari rakyat, subsidi gas, subsidi listrik, subsidi BBM dll. Lalu generasi yang berpotensi miskin takkan ada alias menuju pada kematian. Sungguh tragis!
Bu Sri masih dengan bangga menyatakan bahwa kartu Indonesia Pintar dapat menjadi solusi bagi anak dari keluarga miskin agar bisa bersekolah. Lalu, kartu Indonesia Sehat dapat digunakan bagi keluarga miskin yang lebih sering sakit tidak tertinggal di belakang. Jangan ditanya hasil program tersebut ya, karena Bu Menteri menyampaikan hasilnya tidak instan, tapi 10-15 tahun ke depan baru didapatkan saat anak-anak masuk ke pasar tenaga kerja.
Oh Kasihan, sungguh kasihan. Rakyat masih terus hidup dalam pusaran janji menghibur diri. Seharusnya bisa hidup bahagia di negeri zamrud khatulistiwa. Karena orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Cukup besar harapan rakyat atas kekayaan negerinya. Namun realitanya, kekayaan justru tak pernah dinikmatinya.
Apa yang salah atas semua ini? Kita kah yang malas mencari penghidupan? Atau memang tak ada lahan pekerjaan yang diberikan? Mungkin juga, kekayaan alam memang bukan untuk kita gunakan, karena sudah “diobral” demi kepentingan segelintir orang.
Bandingkan dengan solusi Islam atasi kemiskinan secara terintegrasi. Kemiskinan tak dinilai dari besar pengeluaran atau pendapatan, tetapi dari pemenuhan kebutuhan pokok secara perorangan. Mencakup sandang, pangan, perumahan ,kesehatan dan pendidikan secara layak.
Orang baru dikatakan kaya atau sejahtera jika memiliki kelebihan harta di atas 50 dirham (2,5 juta). Kelebihan harta 2,5 juta, merupakan sisa dari pemenuhan kebutuhan pokonya, termasuk nafkah untuk anak dan istrinya serta gaji pembantunya.
Kebijakan dalam negaranya tidak saling bertabrakan atau pejabat pemerintahannya tidak saling menyalahkan. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Saw di Madinah. Menyediakan lapangan kerja bagi rakyat serta menjamin kehidupan mereka. Bahkan ahlus-shuffah (para sahabat yang dhuafa) diizinkan tinggal di Masjid Nabawi dengan mendapatkan santunan dari kas negara.
Bagi para pemuda yang kekurangan uang untuk biaya pernikahan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz membuat kebijakan pemberian insentif pada mereka. Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah dibangun rumah sakit lengkap dan canggih dengan cuma- cuma untuk rakyat.
Bukan seperti saat ini, ketika sistem kapitalisme diterapkan. Negara berlepas tangan memenuhi kebutuhan rakyat. Rakyat diwajibkan bayar iuran BPJS setiap bulan. Artinya rakyat sendiri yang menjamin kesehatan mereka, bukan negara. Berbagai jenis kartu dimunculkan guna ‘pencitraan’ tak dibutuhkan dalam Islam. Karena memiliki pemimpin yang amanah mengelolah kekayaan alam.
Sadarlah, kita mengalami kemiskinan yang diciptakan oleh sistem kapitalisme. Sudah begitu banyak bukti dihadapan mata atas kerakusan penguasa, bekerjasama dengan para pengusaha. Maka mustahil kemiskinan bisa dientaskan . Bila negeri masih menerapkan sistem yang bobrok ini. Bahkan Oxfam International menyatakan bahwa sistem kapitalis menerapkan “sistem ekonomi yang gagal !”
Segera campakkan sistem kapitalis, ganti dengan Islam sebagai solusi. Karena negara dalam Islam menjalankan fungsinya dengan amanah. Sebagai peri’ayah (pengurus) dan junnah (pelindung). Bukan sebagai pedagang atau hanya sebagai fasilitator ulung.

TK di xinjiang diawasi kamera cctv dan kawat berduri

Bukti-bukti baru muncul bahwa kampanye yang dilakukan China untuk memusnahkan budaya dan tradisi kaum Muslim Turki, terutama Uighur, di wilayah Xinjiang juga menyasar generasi anak-anak dan remaja.
Saat orang tua mereka dibawa ke kamp-kamp konsentrasi – yang secara halus disebut sebagai “pendidikan kejuruan” oleh otoritas Cina – anak-anak mereka digiring ke sekolah-sekolah asrama dan panti-panti asuhan khusus.
Di sekolah-sekolah tersebut, anak-anak itu dapat masuk tetapi tidak dapat keluar dari tempat itu. Upaya komprehensif untuk menciptakan sistem cuci otak dan pemenjaraan yang terpisah untuk anak-anak memperdalam bukti-bukti bahwa China sedang melakukan genosida budaya.
Hingga 1.5 juta orang dewasa di Xinjiang telah dipaksa masuk ke kamp-kamp konsentrasi, di mana China berusaha untuk mendidik mereka kembali sebagai bagian dari mayoritas Han China, dengan menghapus bahasa, tradisi, dan budaya mereka, yang pada dasarnya membunuh identitas mereka.
China pada awalnya menyangkal hal ini sedang dilakukan, tetapi dalam setahun terakhir ini, bukti-bukti tak terbantahkan yang menumpuk menunjukkan bahwa negara komunis itu sedang mencoba menghapus pola pikir seluruh rakyatnya.
Bukti-bukti itu termasuk para saksi mata dan foto-foto satelit yang mengidentifikasi kamp-kamp baru tersebut.
Pada paruh terakhir tahun 2018, bukti-bukti baru mulai muncul bahwa anak-anak Uighur juga diikutsertakan ke dalam mesin cuci otak.
Pada bulan Juli, Financial Times mengidentifikasi panti-panti asuhan baru, dan pada bulan September, Associated Press berbicara dengan 15 Muslim yang menggambarkan bagaimana China memisahkan anak-anak kecil.
Human Rights Watch meminta perhatian atas praktik-praktik tersebut pada bulan Oktober.
Sekarang BBC dan seorang peneliti Jerman telah menerbitkan rincian baru dari operasi yang mengerikan untuk “mendidik kembali” anak-anak itu.
Adrian Zenz dari Sekolah Kebudayaan dan Teologi Eropa di Korntal, Jerman, menulis dalam Journal of Political Risk bahwa China telah membangun sebuah sistem untuk anak-anak terebut yang “mengambil tempat di fasilitas asrama yang sangat aman dan terpusat” dan “didukung oleh berbagai anggaran bernilai miliaran dolar, dengan tenggat waktu yang ketat, dan sistem berbasis data digital yang canggih.”
Dia menambahkan bahwa kampanye yang belum pernah terjadi ini telah memungkinkan pemerintah Xinjiang untuk mengasimilasi dan mengindoktrinasi anak-anak di lingkungan tertutup dengan memisahkan mereka dari orang tua mereka. “China, kata  Zenz, sedang melakukan “kampanye sistematis rekayasa ulang sosial dan genosida budaya di Xinjiang.”
Sementara durasi dan intensitasnya berbeda di setiap tempat, dia menemukan bahwa, “Dalam beberapa kasus, pengaruh orangtua sangat mungkin hampir sepenuhnya dihilangkan.” Zenz melaporkan bahwa di beberapa wilayah mayoritas Uighur di Xinjiang selatan, pendaftaran prasekolah lebih dari empat kali lipat dalam beberapa tahun terakhir, melebihi tingkat pertumbuhan pendaftaran sekolah nasional rata-rata lebih dari 12 kali.
Mengapa ini terjadi? Karena orang tua, dan dalam beberapa kasus kedua orang tua anak-anak tersebut, telah menghilang ke dalam kamp. Zenz menemukan bahwa pemerintah tingkat bawah telah menyimpan catatan tentang “daftar situasi penahanan yang tepat dari anak-anak dengan satu atau kedua orang tua dalam penahanan atau pekerjaan eksternal, yang dikelompokkan berdasarkan usia, yang ‘membutuhkan perawatan.'” Dia juga mencatat pidato yang disampaikan oleh Partai Komunis China untuk menutupi genosida budaya itu, yang ditutupi dengan kata-kata emosional seperti “peduli,” “cinta” dan “pengasuhan” untuk menggambarkan fasilitas negara untuk mencuci otak anak-anak tersebut.
Berapa lama lagi dunia akan terus tidak peduli atas hal ini?[]
Sumber: www.washingtonpost.com

demokrasi gagal
Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto mengatakan bahwa pasca berakhirnya pemilu 2019 ini menjadi bukti bahwa sistem demokrasi saaat ini memberikan jalan sempit kepada Islam.
“Sudah jelas bahwa sistem demokrasi ini memberikan jalan sempit kepada Islam,” ujarnya saat Diskusi Publik  dengan tema  Masa Depan Umat Pasca Pemilu Kamis (18/72019), di Gedung Joang 45, Jakarta.
Menurutnya, pasca pemilu ini banyak pendapat yang mengatakan bahwa kemenangan presiden kali ini tidak clear dan banyak permasalahan di dalamnya. Diduga banyak terjadi kecurangan TSM (terstruktur sistematis masif) ditambah brutal. Ini menjadi salah satu bukti,  umat Islam berjuang di era demokrasi modern saat ini sangat susah untuk bisa menang.
Ia menilai seharusnya agenda umat saat ini harus benar-benar berjuang seperti Baginda Rasulullah Saw saat mendakwahkan Islam. Peran ulama dalam hal ini sangat penting.
” Proses ini bisa saja terjadi dengan meminta kepada para ulama dan para habaib untuk bersatu dan bisa mendukung agenda umat dan ini berpotensi untuk mempersatukan umat Islam melalui agenda yang sudah jelas yaitu 212,” ujar Ismail Yusanto.
“Dan umat Islam  berpotensi  bisa menjadi kekuatan dan ini harus kita rawat yaitu pada 212. Dan itu bisa menjadi bekal kita untuk bisa menjadikan Islam sebenarnya atau Islam Kaffah,” jelasnya.
Di acara yang sama  wartawan senior,  Asy’ari Usman mengatakan bahwa pemilu 2019 ini menghasilkan gerbong umat Islam yang dia sebut Islam garis lurus.
Menurut mantan jurnalis BBC London, yang dicari itu pada Islam garis lurus ini adalah yaitu keadilan,  contohnya gerakan 212. Dan Islam garis lurus ini akan bisa menjadi kekuatan yang menjadi gerbong yang pantas dipelihara dan dijadikan warna ke depan.
Sebelumnya, dalam acara yang dimoderatori Pemimpin Redaksi Tabloid Media Umat Farid Wadjdi hadir pula sebagai pembicara Ustadz Asep Sarifudin mewakili Gerakan Kedaulatan Rakyat untuk Keadilan Rakyat dan Kemanusiaan (GERAK KEMANUSIAAN) dan Habib Novel Bamukmin dari Persaudaraan Alumni 212 (PA 212).[]
Sumber : MediaUmat.news

bayar utang
Soal:
Assalâmu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.
Semoga Allah melimpahkan berkah kepada Anda ya Syaikhuna dan semoga Allah senantiasa menjaga dan memelihara Anda … Saya punya pertanyaan dalam masalah ini … Sekarang, saya bekerja pada lembaga swasta. Lembaga ini memotong sebagian gaji saya untuk asuransi dan pensiun. Dan saya ingin mengambil sebagian dari jumlah harta yang dipotong dari saya itu, tetapi mereka mengharuskan saya untuk mengambil persentase tertentu dari jumlah yang menjadi hak saya itu… Apakah ini secara syar’iy boleh?
Semoga Allah melimpahkan berkahnya kepada Anda dan semoga Allah memanjangkan usia Anda.
Khalid Abu al-Walid
Jawab:
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa baakatuhu.
Saya pahami dari pertanyaan Anda bahwa Anda ingin menyegerakan sebagian dari pensiun yang menjadi hak Anda sebelum waktunya yang dipersyaratkan dalam akad/kontrak kerja Anda…
Saya memandang, seolah masalah ini ada pada bab penyegeraan pembayaran utang, yakni jika seseorang memiliki piutang pada orang lain dan waktu jatuh tempo piutang itu dua tahun misalnya, baik apakah diangsur sampai dua tahun atau pembayarannya sekaligus setelah dua tahun itu, lalu kreditur berkata kepada debitur: bayar jumlah itu kepada saya dan saya kurangi sejumlah tertentu untukmu dari utang itu … Ini menyerupai masalah Anda. Anda memiliki hak sejumlah uang pada lembaga tempat kerja Anda yang akan mereka berikan kepada Anda ketika usia Anda 60 tahun misalnya, dan Anda sekarang berusia 40 tahun dan Anda ingin mengambil sebagian dari hak Anda itu sekarang, 20 tahun sebelum waktu seharusnya.
Masalah penyegeraan pembayaran utang dengan kompensasi pengurangan sebagian dari utang itu, artinya menunjukkan bahwa debitur mengambil nilai utang (1.000) setelah satu tahun, dia ambil sekarang (900). Masalah ini diperselisihkan … Kami sebelumnya telah menjawabnya dalam Jawab Soal yang kami keluarkan tertanggal 14 Shafar 1434 H/27 Desember 2012. Dan saya ulangi sebagian yang ada di dalam Jawab Soal itu yang memiliki hubungan dengan perkara ini:
(Adapun pertanyaan Anda maka itu menurut para fukaha seperti yang kami katakan ada di bawah bab dha’ wa ta’ajjalyakni gugurkan sebagian dari utang yang dibayar bertempo dengan kompensasi pembayaran utang atau sebagiannya segera … Masalah ini ada perbedaan pendapat tentangnya:
Diantara mereka ada yang tidak memperbolehkannya dan disandarkan kepada dalil-dalil diantaranya:
  1. Al-Baihaqi telah mengeluarkan di Sunan al-Kubrâ dari al-Miqdad bin al-Aswad, ia berkata: aku berutang kepada seseorang seratus dinar, kemudian keluarlah bagianku di suatu ekspedisi peperangan yang diutus Rasul saw, maka aku katakan kepada orang itu: percepat untukku sembilan puluh dinar dan aku ambil sepuluh dinar. Orang itu berkata: baiklah. Lalu hal itu disebutkan kepada Nabi saw maka beliau bersabda:
«أَكَلْتَ رِباً يَا مِقْدَادُ، وَأَطْعَمْتَهُ»
Engkau makan riba ya Miqdad, dan engkau beri makan dia (riba)
(Perlu diketahui imam Ibnu al-Qayim berkata di Ighâtsah al-Lahfân: di dalam sanad hadits al-Baihaqi ini ada (perawi) lemah).
  1. Mereka mengatakan bahwa yang sudah diketahui bahwa riba jahiliyah tidak lain adalah utang yang ditangguhkan dengan tambahan yang disyaratkan. Tambahan itu sebagai kompensasi tambahan tempo. Lalu Allah membatalkannya dan mengharamkannya. Allah berfirman:
﴿وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ
Jika kalian bertaubat maka bagi kalian pokok harta kalian (TQS al-Baqarah [2]: 279 )

Mereka menambahkan bahwa pengurangan sebagian dari utang sebagai kompensasi dari pengurangan tempo demikian juga adalah haram disebabkan kompensasi karena tempo, baik berupa tambahan maupun pengurangan.
Yang berpendapat haramnya masalah ini yakni dha’ wa ta’ajjal adalah jumhur fukaha dari hanafiyah, malikiyah, syafi’iyah dan hanabilah. Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar dan sejumlah tabi’un memakruhkannya.
– Diantara mereka ada yang memperbolehkannya dan disandarkan pada dalil-dalil diantaranya:
  1. Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: ketika Rasulullah saw ingin mengusir Bani Nadhir, mereka berkata: ya Rasulullah, engkau memerintahkan mengusir kami dan kami memiliki piutang yang belum dibayar. Rasul bersabda:
«ضَعُوا وَتَعَجَّلُوا»
Gugurkan sebagian dan segerakan (HR al-Hakim di al-Mustadrak ‘ala ash-Shahîhayn, ia berkata: hadits shahih sanadnya tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya)

(Perlu diketahui ad-Dzahabi berkata di Talkhîsh-nya: az-Zanji dha’if dan Abdul Aziz bukan tsiqah. Ibnu al-Qayim di Ahkâm Ahl adz-Dzimmah berkata: “sanadnya hasan tidak ada di dalamnya kecuali Khalid az-Zanji dan haditsnya tidak turun dari tingkatan hasan.)
  1. Pendapat Abdullah bin Abbas ra.: “melainkan riba itu adalah, akhirkan untukku dan aku tambah” dan bukan “percepat untukku dan aku gugurkan darimu.”
Diriwayatkan bolehnya hal itu dari Ibnu Abbas, an-Nakha’iy, al-Hasan dan Ibnu Sirin dan itu adalah satu riwayat dari imam Ahmad dan satu pandangan menurut Syafi’iyah. Dan itu adalah pilihan syaikh al-Islam Ibnu Taymiyah dan muridnya Ibnu al-Qayim. Ibnu ‘Abidin dari fukaha al-Hanifiyah memperbolehkannya seperti di Hasyiyah ‘ala ad-Durr al-Mukhtâr.
Kami tidak suka untuk mengadopsi suatu pendapat dalam masalah ini. Maka pemilik pertanyaan hendaknya mengikuti fukaha yang ia merasa yakin dengan pendapatnya …) selesai.
Sebagaimana yang Anda lihat, kami tidak suka untuk mengadopsi dalam masalah itu, tetapi Anda silahkan mengikuti pendapat mujtahid yang Anda yakin dengan ketepatan pandangannya … Dan dua pendapat itu jelas. Jadi pendapat pertama memandang bahwa penyegeraan penyerahan utang hak Anda dengan pengurangan sebagian darinya adalah tidak boleh, dan itu adalah satu pendapat … Dan pendapat kedua mengatakan bolehnya disegerakan pengambilan utang atau sebagian darinya dengan digugurkan sebagiannya … dan seperti yang baru saya sebutkan, kami tidak suka untuk mengadopsi satu pendapat dari dua pendapat itu.
Dan pada penutup, saya memohon kepada Allah agar melapangkan dada Anda kepada sesuatu yang merupakan kebaikan.

Saudaramu Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

8 Dzul Qa’dah 1440 H
11 Juli 2019 M

https://www.facebook.com/AmeerhtAtabinKhalil/photos/a.122855544578192/1095851413945262/?type=3&theater&_rdc=1&_rdr

jokowi pidato visi indonesia
Oleh: Chandra Purna Irawan,S.H.,M.H. (Ketua Eksekutif Nasional BHP KSHUMI dan & Sekjend LBH PELITA UMAT)
Kutipan cuplikan pidato Joko Widodo  (“Tidak ada toleransi sedikit pun bagi yang mengganggu Pancasila! Yang mempermasalahkan Pancasila!”.
Sumber ; https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190715111955-32-412158/diksi-keras-pidato-jokowi-dan-potensi-otoriter-jaga-pancasila
Menanggapi hal tersebut di atas, saya akan memberikan pendapat hukum (legal opini) sebagai berikut:
Pertama, bahwa wajib ada definisi dan batasan konkret terkait apa saja yang dapat dinilai sebagai “mengganggu dan mempermasalahkan Pancasila”. Sebagai negara hukum (rechtsstaat) kebijakan dan tindakan Pemerintah harus dibatasi oleh Undang-Undang, apabila tidak maka akan terjerumus ke dalam negara kekuasaan (machstaat) yang berpotensi menjadi diktator. UU yang saya maksud agar membatasi Pemerintah sebagai penafsir tunggal terhadap Pancasila;
Kedua, bahwa saya menyeru Pemerintah untuk tidak melakukan stigmatisasi dan tindakan persekusi terhadap seseorang dan kelompok sebagai ‘anti pancasila, anti kebhinekaan, mengganggu dan mempermasalahkan Pancasila’, apabila hal ini dilakukan maka dikhawatirkan akan terjadi persekusi di akar rumput rakyat. Apabila itu terjadi, maka saya menilai bahwa negara dikhawatirkan mensponsori kebencian terhadap sesama anak bangsa. Sebagai contoh, banyak ulama, aktivis dan para ustadz mengalami persekusi baik di instansi kerja dan/atau masyarakat, padahal mereka hanya melakukan aktivitas dakwah, menyampaikan ajaran Islam dan tidak pernah melakukan tindakan kekerasan;
Ketiga, bahwa dalam memberikan kepastian hukum, sebaiknya Pemerintah menempuh jalur pengadilan agar orang dan kelompok yang dituduh anti Pancasila dapat melakukan pembelaan atas segala tuduhan. Tindakan ini lebih terhormat sesuai asas hukum ‘due process of law’ ketimbang melakukan stigmatisasi dan persekusi;
Keempat, bahwa saya mengingatkan kepada Pemerintah tentang sejarah raja Louis XIV di Perancis dengan semboyan yang terkenal L’etat c’est moi yang berarti ‘negara adalah saya’.  Maksud saya adalah agar Pemerintah tidak membangun narasi dan slogan yang berpotensi sama, misalnya SAYA INDONESIA, SAYA PANCASILA. Saya tidak bermaksud menuduh, hanya mengingatkan. Pernyataan raja Louis XIV bahwa “negara adalah saya” sesungguhnya terlihat begitu memalukan dan arogan.  Bagaimana mungkin negara yang terdiri atas beraneka ragam rakyat, disempitkan menjadi sebatas dirinya saja? Ini sangatlah tidak masuk akal, dan terkesan arogan diktator. Wallahualam bishawab.[]


Beberapa politisi – terutama para penguasa – mencoba untuk memenangkan hati dan memuaskan dua kepentingan yang berlawanan, atau untuk memenuhi tuntutan rakyatnya dan kepentingan musuh-musuhnya pada saat yang sama. Untuk itu, mereka menggabungkan pernyataan dan ungkapan kontradiktif, yang tidak mungkin diwujudkan. Sikap mereka yang sebenarnya pasti cenderung terhadap salah satu pihak, yaitu pihak musuh. Sementara pernyataan verbal mereka yang tampaknya condong ke pihak lain, yaitu pihak rakyat. Karenanya, kami menemukan mereka membuat pernyataan tentang topik tertentu yang ditujukan kepada rakyat mereka untuk konsumsi domestik, kemudian kami menemukan pernyataan lain tentang topik yang sama, namun berbeda dari pernyataan sebelumnya, di waktu yang lain, hingga menyingkap sikap mereka yang sebenarnya.
Faktanya, bahwa seseorang tidak dapat mengeluarkan dua sikap yang saling bertentangan pada saat yang sama. Jika ia melakukan hal itu, maka ia seperti mengumpulkan Islam dan kekufuran, atau antara kebenaran dan kebatilan, atau antara petunjuk dan kesesatan. Jika ia benar-benar melakukan penggabungan dua sikap yang saling bertentangan, maka itu merupakan penggabungan (kompromi) dan imajinasi, di mana yang satu penyesatan dan penipuan, sedang satunya lagi yang sebenarnya dan yang sesungguhnya.
Presiden Turki, Erdogan adalah contoh yang pas untuk ini, dari kalangan politisi. Empat bulan yang lalu ia menggambarkan keadaan yang begitu menyedihkan menimpa kaum Muslim Uighur di Cina, bahwa kondisi itu sebagai aib besar bagi kemanusiaan, tetapi ia tidak melakukan apa pun untuk membantu dan menolongnya. Kemudian, pada kunjungannya baru-baru ini ke Cina, ia mengubah pernyataannya seratus delapan puluh derajat, di mana ia menggambarkan bahwa mereka sebagai etnis minoritas yang hidup bahagia di wilayah Xinjiang bersamaan dengan pembangunan dan kemakmuran yang menyebar di Cina! Dalam pernyataan pertama, ia menggambarkan etnis Uighur sebagai kaum Muslim yang tertindas di Cina. Sementara dalam pernyataan kedua, ia menggambarkan mereka sebagai etnis minoritas yang hidup bahagia di Xinjiang. Lalu, manakah dari dua pernyataan kontradiktif ini yang akan kita percayai, pertama atau kedua?
Ketika kita melihat dengan cermat dua pernyataan tersebut, maka kita menemukan bahwa yang pertama hanya berbicara dengan konsumsi domestik, karena tidak disertai dengan tindakan. Sedangkan yang kedua disertai dengan bukti praktis yang menegaskan sikap sebenarnya dan sesungguhnya dari tokoh politisi ini, berikut ini bukti-buktinya:
  1. Pernyataannya: “Bahwa memelihara momentum pembangunan terkait hubungan Turki-Cina adalah faktor penting untuk kesejahteraan kedua bangsa dan stabilitas global. Sehingga harus memperkuat kerja sama bilateral strategis yang dibangun pada 2010.”
Dalam pernyataan ini, ada dua indikasi yang menunjukkan sikap Erdogan yang sebenarnya terhadap Cina dan kaum Muslim Uighur, yaitu: momentum pembangunan terkait hubungan antara kedua negara, dan penguatan kerja sama bilateral strategis.
  1. Pernyataannya: “Harus tetap berpegang pada hubungan bilateral dalam kerangka Inisiatif Satu Sabuk dan Satu Jalan (OBOR).”
Dalam pernyataannya ini ada indikasi lain dari sikapnya yang mendukung Cina sebagai sikapnya yang melawan kaum Muslim Uighur, yaitu masuknya Turki ke dalam proyek Inisiatif Satu Sabuk dan Satu Jalan (OBOR) Cina, di mana dengannya Cina menghasilkan keuntungan besar.
  1. Pernyataannya: “Kami tidak akan mengizinkan “Trading Forex” dalam hubungan bilateral kami.”
Dalam pernyataannya ini ada indikasi yang menunjukkan tidak bolehnya “Trading Forex” antara kedua negara dalam hubungan bilateral. Hal ini berarti kepatuhan yang kuat dari Turki pada hubungan-hubungan tersebut, dan tidak mengabaikannya meski ada masalah yang menimpa kaum Muslim Uighur.
  1. Terakhir, pernyataannya: “Harus memperkuat kepercayaan politik timbal balik antara kedua negara melalui kerja sama keamanan untuk melawan ekstremisme.”
Dalam pernyataan ini ada indikasi sangat kuat tentang keberpihakan Erdogan dalam sikapnya terhadap Cina melawan kaum Muslim Uighur, pengkhianatannya kepada mereka, dan kerja sama keamanannya dengan Cina melawan mereka, di mana mereka itu disebut para ekstremis dari Cina.
Dengan demikian, kami telah menyingkap sikap Erdogan yang sebenarnya terhadap kaum Muslim Uighur yang tertindas, di mana ia mengabaikan keadaan mereka dan berkonspirasi dengan Cina melawannya; dan kami telah mengerti bahwa pernyataan pertamanya yang simpatik kepada etnis Uighur empat bulan lalu hanyalah pernyataan verbal yang ia lontarkan untuk konsumsi domestik agar memuaskan perasaan kaum Muslim, bukan yang lain.
Sikap Erdogan yang sejalan dengan Cina melawan kaum Muslim Uighur adalah memalukan dan mencoreng mukanya. Mengingat sudah terang benerang bahwa Cina menahan satu juta dari mereka di pusat-pusat penahanan besar dengan dalih rehabilitasi kejuruan, mencegah mereka dari mempraktikkan ajaran Islam, mencegah wanita mereka dari mengenakan jilbab, memisahkan anak-anak dari kedua orang tuanya, memaksakan budaya ateisme pada mereka, menyiksa mereka, memata-matai mereka, berusaha melenyapkan identitas Islam mereka, dan menghancurkan tatanan sosial mereka yang khas selama berabad-abad mewarnai hidup mereka.
Sungguh sangat disesalkan bahwa negara-negara kafir seperti Amerika dan Jerman, bersama dengan organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional, di mana mereka menuntut agar Cina menghentikan praktik-praktik kriminalnya terhadap kaum Muslim Uighur di Cina. Sementara Erdogan dan para pemimpin Muslim secara terbuka condong dan berpihak kepada Cina, serta berkolusi dengan mereka untuk mengaburkan fakta-fakta demi beberapa kepentingan perdagangan dan ekonomi murahan.
Erdogan dan para penguasa Muslim yang menggabungkan kebijakan pernyataan kontradiktif, mereka hanyalah perwakilan bayaran yang tidak mewakili rakyat mereka. Mereka tidak boleh dipercaya oleh kaum Muslim mana pun. Mereka adalah para pembohong munafik. Mereka menipu rakyat mereka, mengadopsi kebijakan penipuan dan kelicikan, serta berusaha menggabungkan dua pernyataan politik kontradiktif untuk membungkam rakyatnya. Namun Allah SWT terus mengawasi mereka, sekandal dan pengkhianatan mereka pasti terbongkar, juga sikap mereka yang begitu memalukan yang begitu loyalnya kepada musuh pasti terungkap, serta sikap mereka yang merendahkan kaum Muslim tidak berdaya pasti terbalaskan.
Untuk itu, kaum Muslim harus mewaspadai mereka. Jangan sampai dibodohi dan diperdaya oleh manisnya beberapa pernyataan palsunya. Dan hendaklah kaum Muslim mengambil sikap tegas dan keras terhadap mereka. Kaum Muslim harus terus melanjutkan perjuangan dan perlawanannya. Kaum Muslim harus terus-menerus berjuang untuk menggoyahkan kekuasaan mereka, dan menggulingkan mereka. Kemudian melenyapkan seluruh tahta mereka, selanjutnya pemerintahan Islam ditegakkan di atas puing-puing reruntuhannya. [Abu Hamzah al-Khutwani]
Sumber: alraiah.net, 10/07/2019.


Padahal Terorisme Amerika-lah Yang Telah Menjadikan Afghanistan Sebagai Laboratorium Para Teroris!
Donald Trump mengatakan dalam sebuah wawancara yang disiarkan di Fox News Channel, pada hari Senin (1/7), tentang kekhawatirannya terkait penarikan pasukan AS dari Afghanistan, bahwa negara itu akan berubah menjadi laboratorium para teroris. Bahkan di sela-sela wawancaranya itu, Trump menyebut Afghanistan sebagai “Harvard-nya para teroris”.
Trump menambahkan bahwa “sekalipun AS menghapus pasukannya, namun AS akan tetap meninggalkan kehadiran intelijen yang sangat kuat di Afghanistan.” Dia juga mengatakan, di mana para pejabat tinggi militer AS mengatakan kepada dirinya bahwa “akan lebih baik untuk memerangi para teroris di Afghanistan, daripada di dalam negeri mereka sendiri”.
*** *** ***
Saat ini, dunia telah membuktikan dengan pasti bahwa “terorisme dan terorisme terencana” secara naluriah berasal dari DNA Amerika. Sementara mereka yang masih tidak percaya pada fakta yang jelas ini, saya menyeru mereka untuk menyelidiki lagi sejarah Amerika, sebab dari sinilah mereka akan mengerti dengan jelas, bagaimana orang-orang Amerika memusnahkan lebih dari 100 juta orang Indian sebagai warga Amerika asli; juga bagaimana mereka mengubah Hiroshima dan Nagasaki menjadi abu dalam Perang Dunia II dengan menggunakan bom atom, di samping membunuh lebih dari 220.000 orang, serta menyebabkan ratusan ribu penyakit akut.
Selama Perang Dunia II, Angkatan Udara AS meluncurkan 3.900 ton bom tembak di kota Dresden, Jerman, juga bom Napalm dijatuhkan dalam empat serangan dahsyat yang menghancurkan 34 kilometer persegi Dresden dalam waktu kurang dari 15 jam. Erhard Mondra, anggota Komisi Butzan (Asosiasi Mantan Tahanan Politik Republik Demokratik Jerman) menulis, seperti yang dikemukakan oleh Letkol Mattis, mantan perwira pada Staf Umum Angkatan Darat Jerman di provinsi Dresden, bahwa “Ada 35.000 korban yang sudah sepenuhnya diidentifikasi, 50.000 lainnya masih sebagian, sementara yang 168.000 lainnya belum diidentifikasi sama sekali.”
Kita juga tidak bisa melupakan keterlibatan Amerika dalam pembantaian 3 juta orang Vietnam selama periode 1955-1975, yang menjatuhkan 500.000 bom per tahun di Viet Cong, serta membakar hutan, tanah pertanian, dan manusia melalui penggunaan senjata kimia dan bom Napalm. Pada 1950-an, Amerika membunuh ratusan warga sipil Korea. Bahkan selama dua dekade terakhir, lebih dari 2 juta Muslim telah terbunuh di negara-negara Islam. Tahukah Anda bahwa Amerika yang memanipulasi krisis, dan yang merencanakan terorisme hingga sekarang di Amerika Latin untuk membuka jalan bagi intervensi politiknya di negara-negara itu?
Langkah-langkah terorisme yang digunakan oleh Amerika dan NATO telah mengubah Afghanistan menjadi teater terorisme bagi seluruh dunia. Trump pastinya lupa untuk menggunakan pernyataan “Afghanistan, Harvard para teroris Amerika” selama pidatonya, sebab perang Afghanistan sangat membantu memperluas kemampuan para jenderal Amerika sampai batas tertentu dimana beberapa dari mereka telah memperoleh posisi tinggi di Pentagon, CIA , dan kantor pemerintah tingkat tinggi lainnya, setelah mereka ikut terlibat dalam mengobarkan perang dan menumpahkan darah kaum Muslim Afghanistan.
Sama halnya dengan Dajjal yang terus berusaha untuk memutarbalikkan kebenaran, maka Trump salah satu “dajjalisme” yang paling menonjol saat ini, juga melakukannya. Pidatonya yang tidak bertanggung jawab baru-baru ini, yang mengatakan bahwa Afghanistan akan berubah menjadi “laboratorium para teroris” setelah penarikan pasukan AS, adalah penipuan dan pendistorsian. Sebab Afghanistan telah berubah menjadi laboratorium strategi militer dan politik Amerika yang gagal, serta penggunaan senjata yang mematikan, khususnya bom dari para teroris Amerika dan Barat, seperti dalam 18 tahun terakhir, di mana pasukan AS telah memanipulasi kekejaman seperti itu di Afghanistan hingga menewaskan dan melukai lebih dari setengah juta orang, juga menyebabkan kematian ratusan ribu warga Afghanistan yang meninggalkan negara itu dan tenggelam di laut untuk mencari suaka di kamp-kamp Eropa. Selama kehadirannya di Afghanistan, Amerika telah mencoba berbagai jenis senjata ringan dan berat, serta taktik militer pada rakyat Afghanistan yang tak berdaya.
Pidato Trump baru-baru ini di tengah-tengah pembicaraan damai yang sedang berlangsung antara Amerika dan Taliban menyampaikan pesan yang jelas, tetapi sepenuhnya ilusi, bahwa Amerika, dua dekade setelah membantai dan menghancurkan kota-kota dan desa-desa Afghanistan, tangah berusaha sekali lagi untuk mengamankan perannya yang begitu telanjang dan pengaruhnya untuk memperkuat jaringan intelijen dan tentara bayaran di masa depan politik Afghanistan.
Tetapi para penjahat Amerika dan Barat, termasuk di antaranya Trump, pembesarnya para teroris, tengah membuka mata mereka dan menyadari bahwa umat Islam sedang mendekati fajar yang cemerlang. Sungguh, masalah Afghanistan, sama seperti masalah lainnya di negara-negara Muslim yang diduduki, di mana masalah itu tidak bisa diselesaikan melalui rekonsiliasi dan dialog dengan penjajah, namun solusinya hanya ada jika semua negara Islam kembali bersatu lagi di bawah naungan Khilafah Rasyidah, yang in syaa Allah segera tegak kembali.  “Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” (TQS Hud [11] : 81). [Saifullah Mustanir – Ketua Kantor Media Hizbut Tahrir Afghanistan]
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 10/07/2019.
loading...
Powered by Blogger.