TK di xinjiang diawasi kamera cctv dan kawat berduri

Bukti-bukti baru muncul bahwa kampanye yang dilakukan China untuk memusnahkan budaya dan tradisi kaum Muslim Turki, terutama Uighur, di wilayah Xinjiang juga menyasar generasi anak-anak dan remaja.
Saat orang tua mereka dibawa ke kamp-kamp konsentrasi – yang secara halus disebut sebagai “pendidikan kejuruan” oleh otoritas Cina – anak-anak mereka digiring ke sekolah-sekolah asrama dan panti-panti asuhan khusus.
Di sekolah-sekolah tersebut, anak-anak itu dapat masuk tetapi tidak dapat keluar dari tempat itu. Upaya komprehensif untuk menciptakan sistem cuci otak dan pemenjaraan yang terpisah untuk anak-anak memperdalam bukti-bukti bahwa China sedang melakukan genosida budaya.
Hingga 1.5 juta orang dewasa di Xinjiang telah dipaksa masuk ke kamp-kamp konsentrasi, di mana China berusaha untuk mendidik mereka kembali sebagai bagian dari mayoritas Han China, dengan menghapus bahasa, tradisi, dan budaya mereka, yang pada dasarnya membunuh identitas mereka.
China pada awalnya menyangkal hal ini sedang dilakukan, tetapi dalam setahun terakhir ini, bukti-bukti tak terbantahkan yang menumpuk menunjukkan bahwa negara komunis itu sedang mencoba menghapus pola pikir seluruh rakyatnya.
Bukti-bukti itu termasuk para saksi mata dan foto-foto satelit yang mengidentifikasi kamp-kamp baru tersebut.
Pada paruh terakhir tahun 2018, bukti-bukti baru mulai muncul bahwa anak-anak Uighur juga diikutsertakan ke dalam mesin cuci otak.
Pada bulan Juli, Financial Times mengidentifikasi panti-panti asuhan baru, dan pada bulan September, Associated Press berbicara dengan 15 Muslim yang menggambarkan bagaimana China memisahkan anak-anak kecil.
Human Rights Watch meminta perhatian atas praktik-praktik tersebut pada bulan Oktober.
Sekarang BBC dan seorang peneliti Jerman telah menerbitkan rincian baru dari operasi yang mengerikan untuk “mendidik kembali” anak-anak itu.
Adrian Zenz dari Sekolah Kebudayaan dan Teologi Eropa di Korntal, Jerman, menulis dalam Journal of Political Risk bahwa China telah membangun sebuah sistem untuk anak-anak terebut yang “mengambil tempat di fasilitas asrama yang sangat aman dan terpusat” dan “didukung oleh berbagai anggaran bernilai miliaran dolar, dengan tenggat waktu yang ketat, dan sistem berbasis data digital yang canggih.”
Dia menambahkan bahwa kampanye yang belum pernah terjadi ini telah memungkinkan pemerintah Xinjiang untuk mengasimilasi dan mengindoktrinasi anak-anak di lingkungan tertutup dengan memisahkan mereka dari orang tua mereka. “China, kata  Zenz, sedang melakukan “kampanye sistematis rekayasa ulang sosial dan genosida budaya di Xinjiang.”
Sementara durasi dan intensitasnya berbeda di setiap tempat, dia menemukan bahwa, “Dalam beberapa kasus, pengaruh orangtua sangat mungkin hampir sepenuhnya dihilangkan.” Zenz melaporkan bahwa di beberapa wilayah mayoritas Uighur di Xinjiang selatan, pendaftaran prasekolah lebih dari empat kali lipat dalam beberapa tahun terakhir, melebihi tingkat pertumbuhan pendaftaran sekolah nasional rata-rata lebih dari 12 kali.
Mengapa ini terjadi? Karena orang tua, dan dalam beberapa kasus kedua orang tua anak-anak tersebut, telah menghilang ke dalam kamp. Zenz menemukan bahwa pemerintah tingkat bawah telah menyimpan catatan tentang “daftar situasi penahanan yang tepat dari anak-anak dengan satu atau kedua orang tua dalam penahanan atau pekerjaan eksternal, yang dikelompokkan berdasarkan usia, yang ‘membutuhkan perawatan.'” Dia juga mencatat pidato yang disampaikan oleh Partai Komunis China untuk menutupi genosida budaya itu, yang ditutupi dengan kata-kata emosional seperti “peduli,” “cinta” dan “pengasuhan” untuk menggambarkan fasilitas negara untuk mencuci otak anak-anak tersebut.
Berapa lama lagi dunia akan terus tidak peduli atas hal ini?[]
Sumber: www.washingtonpost.com

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.