Oleh Ashaima Va
Tak sulit mencari generasi prestatif di negeri ini. Dari yang unggul dalam science dan teknologi sampai yang berkiprah dalam bidang seni dan hiburan. Sayangnya ternyata di antara mereka tak mudah mencari generasi prestatif yang berkarakter. Berprestasi tapi kokoh kepribadiannya. Kepribadian yang dibangun atas dasar akidah Islam akan menjadikan mereka memiliki ketakwaan dan akhlak.
Generasi unggul atau dalam Islam masyhur dengan sebutan generasi Rabbani tak muncul dari anak-anak yang pandai secara keilmuan dan hanya dibekali nilai-nilai moral semata. Generasi Rabbani hanya bisa terwujud dengan menanamkan akidah yang kuat disertai tuntunan untuk mengikatkan diri dengan aturan Allah. Darinya akan lahir generasi yang menjaga Al-Qur'an dan terjaga akhlaknya. Memiliki visi ke depan dengan ilmu yang dimiliki. Tangguh menghadapi berbagai rintangan kehidupan. Bukan generasi pintar secara akademik tapi miskin akhlak. Berani melabrak aturan Allah hanya demi kesenangan duniawi. Kelak di masa depan akan terbayang akan jadi pemimpin seperti apa mereka jika diberi amanah jabatan.
Maka tidak bisa tidak, keberadaan pengajaran beradasarkan Islam adalah suatu keharusan. Akidah dan syari'at diajarkan bukan semata hapalan namun harus berupa pemahaman utuh yang akan mengisi pola berpikir dan berpengaruh pada tingkah laku.
Tidaklah berlebihan jika kita menyatakan pelajaran agama tidak bisa diajarkan hanya dua jam pelajaran. Islam sepatutnya harus mewarnai kurikulum setiap mata pelajaran siswa muslim. Maka cukup menyedihkan jika ada pernyataan dari praktisi pendidikan bahwa pelajaran agama tidak perlu diajarkan pada siswa. Klaim bahwa agama hanya memecah belah dan mendikotomi sehingga berujung pada merebaknya intoleransi adalah tidak berdasar. Justru agama akan memberikan pemahaman bahwa mengahargai dan menghormati pemeluk agama lain adalah kewajiban. Dalam Islam sendiri toleransi sudah dijelaskan dengan batasan yang tegas.
Allah berfirman:
لَكُمْ دِيْنُكُمْ و لِيَ دِيْنِ
"Untukmu agamamu dan untukku agamaku" (TQS. Al-Kafiruun 6)
Dengan agama pula segala nilai-nilai kebaikan bisa diajarkan dengan dorongan ruhiyah. Dalam Islam tidak ada lagi dorongan yang mampu membawa seseorang bahkan generasi pada kebangkitan selain dorongan taqwallah. Maka meninggalkan pelajaran agama dalam pendidikan hanya akan membawa negeri ini pada kehidupan sekuler. Agama hanya boleh mengatur masalah individu, sedang dalam kehidupan bermasyarakat aturan agama harus disingkirkan jauh-jauh. Islam ibarat prasmanan, diambil hanya yang disukai dan yang tidak disukai ditinggalkan. Padahal Allah mencela kaum yang hanya mengambil aturan Allah sebagian-sebagian.
Firman Allah SWT.
ثُمَّ أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسَارَىٰ تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu), dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Dan jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan kamu terus mereka padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab (taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain) maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (TQS. Al-Baqarah 85)
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat ini mengandung celaan terhadap orang-orang yahudi yang tidak beriman kepada apa yang terkandung di dalam kitab taurat, tidak pula terhadap penukilannya, serta tidak percaya dengan apa yang mereka sembunyikan mengenai sifat Rasulullah saw, ciri khasnya, tempat diutusnya, saat munculnya, dan tempat hijrahnya serta lain-lain yang diberitakan oleh para nabi sebelum nabi muncul. Inilah yang disembunyikan dengan rapi di antara sesama mereka. Sehubungan dengan hal ini Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
"Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia" (TQS. Al Baqarah 85)
Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kaum terdahulu. Perbuatan memilih-milih apa yang ada pada kitabullah sudah Allah kisahkan jauh-jauh hari, maka sepatutnya kita tidak berlaku serupa dengan mereka. Janganlah menunggu balasan Allah berupa kenistaan di dunia. Jangan alergi pada ajaran islam karena hanya islamlah yang terbukti mampu mencetak generasi pemimpin peradaban.
Siapa yang tak kenal Sultan Mehmed II. Pemimpin yang lebih dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih ini adalah jawaban dari bisyarah Rasulullah dalam hadistnya.
Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan. (HR Ahmad bin Hambal Al Musnad)
Dan siapa pula yang tak kenal Thariq bin Ziyad. Dalam sejarah Spanyol, Thariq adalah legenda yang dikenal dengan sebutan Taric el Tuerto. Sang jendral dari dinasti Umayyah tersebut berhasil memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus pada tahun 711 M.
Muhammad Al-Fatih dan Thariq bin Ziyad adalah fakta historis dari produk pendidikan Islam. Jiwa kepemimpinan yang ditempa sedari kecil hingga di masa muda mereka berhasil menorehkan sejarah kegemilangan Islam yang mengagumkan. Sudah saatnya kita kembali pada Diin Islam yang mulia. Menerapkannya secara kaffah dan mengajarkannya pada anak cucu kita. Agama semestinya direngkuh bukan dibuang jauh-jauh.

Post a Comment

Powered by Blogger.