Dakwah Jateng-, Gombong, Ahad 30 juli 2019 dilaksanakan Liqa Syawal Ulama dan Ummat Islam di PP Al Daldiri Kebumen. Demi mengingat dan meneruskan cita-cita perjuangan tegaknya syariah Islam oleh Pangeran Diponegoro, dipanggung terpasang nama wilayah Dipanegaran Kulon. Sebagaimana ulama dan hadirin memang berasal dari bentangan kabupaten Magelang, Purworejo & Kebumen.

Meski dikemas dalam Liqa Syawal para ulama tentu memberikan pencerhanan kepada umat sekaligus nasehat pada penguasa. Dalam hal ini hadir Ky Abdul Birr (Pengasuh MT Miftahul Jannah – Gombong), Ky Mustaqim (Pengasuh MT Darul Hikmah – Kutowinangun), Ust Chaeroni (Pengasuh Majlis taqarub Ilallah – Magelang), Ust H Jumadi (Pengasuh MT Ulil Albab – Gombong), Ky Ibnu Syaerozi (Pengasuh MT Baitu an Naim – Purworejo), KH Rohani (Pengasuh MT al Barokah – Purworejo) & Ust Abdul Aziz (Pengasuh MT Baitut Taqwa – Gombong).

Acara yang dipandu oleh Ust Yahya Husein dibuka dengan pembacaan ayat suci al Quran oleh KH Zaenal Arifin dari Kebumen. Dilanjutkan kalimah pembuka oleh Shohibul Fadhilah KH Saefudin al Daldiri, selaku tuan rumah beliau mengucapkan selamat datang sekaligus memberikan “hentakan” dengan pidato pengantarnya yang menggelegar & mempertanyakan apa gunanya ulama berkumpul jika kita masih terjajah. “Kita harus membebaskan negeri ini dari segala bentuk penjajahan melalui OBOR! Dulu Belanda sekarang Cina, kita harus merdekakan!”. Seketika hadirin menyambut dengan takbir.



Ky Abdul Birr sebagai ulama asli Gombong menyampaikan label Dipanegaran Kulon bukan hanya klaim. Karena Pangeran Diponegoro memang pernah berguru di sebuah pesantren di sebelah utara Gombong, beliau sebut daerah Brangkal di pegunungan utara Gombong. “Kita masih keturunan pejuang yang memperjuangkan Islam kaffah, melawan penjajah dan londo ireng.”

Pada kesempatan selanjutnya Ust Abdul Aziz menyampaikan bisa jadi penjajah itu berkolaborasi dengan para pengusa akhir jaman yang disebutkan oleh baginda Nabi saw, dengan karakter binatang. Raja seperti singa diktator, menterinya seperti serigala yang culas & hakimnya seperti anjing (yang hanya memberikan keadilan pada tuannya). Sembari berdoa agar kita dihindarkan dari penguasa model ini. Na’udzubillah.

Ust H Jumadi memberikan tafsiran hakekat kekuasan Allah di Arsy & Kursi, hal ini adalah amanah yang harus ditunaikan manusia untuk memberikan kemakmuran di bumi. “Manusia sebagai khalifah harus total melaksanakan hukum-hukum Allah dan institusinya ya Khilafah itu. Ini usaha berat karena kita sekarang diserang ideologi kufur dan turunannya yang macam-macam itu.”

Ky Mustaqim & Ust Choeroni meski berbeda gaya bahasa menyampaikan agar ulama turut menyampaikan dan bersama-sama umat kewajiban penerapan syariat Islam kaffah dalam naungan Khilafah.

KH Rohani sebagai saksi sejarah memberikan kesaksian bagaimana bahaya penerapan ideologi komunis yang sekarang mulai dipaksakan di Indonesia. Kalau dulu diemban oleh PKI saja sudah sangat banyak jatuh korban dan yang utamanya adalah pemuda gerakan Islam dan Ulama yang gigih melawan mereka. Namun sekarang justru mulai dilegalkan melalui kerjasama dengen Cina Kumunis melalui OBOR.



Di akhir sesi Kalimah Minal Ulama Ky Ibnu Syaerozi memaparkan masalah penjajahan gaya baru yang mulai meyerang Indonesia melalui OBOR termasuk apa akibatnya jika kita menerima  hal tersebut. Tidak hanya membahas masalah, namun juga beliau memberikan solusi tuntas atas masalah ini yaitu dengan penerapan syariah Islam kaffah dalam naungan Khilafah. Inilah kewajiban yang ada di pundak para alim dan umat yang tersadarkan.

Pembacaan Pernyataan Sikap Penolakan OBOR dibacakan oleh Ky Mustaqim mewaliki Ulama & Ummat  Islam Dipanegaran Kulon yang hadir. Tidak kurang dua ratus lima puluhan ulama & ummat Islam hadir dalam acara tersebut. Semoga akan dicatat oleh Allah Ta’ala sebagai amal shaleh & menjadi atsar kelak saat di Pengadilan yang Maha Adil. [YeHo]

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.