Oleh Deu Ghoida

Menistakan tempat ibadah umat Islam yang merupakan tempat syiar, dimana di dalamnya digaungkan dakwah,pusat kajian Islam dan ibadah umat Islam merupakan perkara yang tidak dibenarkan. Hal ini karena bukan sekedar najis saja yang mengotori akan tetapi segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya untuk melemahkan posisi Syiar Islam maka harus dihindarkan.
Umat muslim pun tidak perlu melakukan beragam macam argumentasi untuk membenarkan segala bentuk penistaan terhadap agama yang dilakukan oleh orang-orang kafir baik secara sengaja ataupun tidak. Meski memang pada masa Rasulullah pernah ada orang badui yang kencing di masjid tapi realitasnya berbeda. Karena berkaitan dengan kondisi masyarakat kita hari ini yang didominasi oleh peradaban Barat kasus penistaan terhadap agama bukan kali ini saja terjadi.
Perasaan umat Islam sering tersayat tidak hanya dari sisi penistaan terhadap simbol agama mulai dari kasus terorisme yang memojokkan simbol-simbol agama Islam dan menjadi opini umum yang menjurus pada stigma negatif, kasus penyobekan kitab suci, penangkapan ulama dan perusakan masjid juga kerap terjadi. Umat Islam harus memiliki rasa toleransi memang benar akan tetapi toleransi tidak bisa kita samakan dasarnya jika satu berpijak kepada sistem hidup Islam dan toleransi yang berpijak kepada sistem hidup liberal.
Toleransi dalam kehidupan liberal justru hanya akan menjadikan Islam menjadi minoritas sementara keadaannya justru sebaliknya. Beragam argumentasi pemikiran pluralisme, sinkretisme akhirnya meracuni definisi toleransi yang dalam Islam pun sebenarnya ada, karena sudab sarat dengan kepentingan liberalisme sekulerisme pemaknaan toleransi akhirnya berujung kepada upaya melemahkan Islam. Mengakui toleransi saat ini memaksa kita untuk mau mengakui kebenaran akidah lainnya hingga membenarkan sikap-sikap yang justru sebenarnya bertentangan dengan syariat
Ragam penyikapan terhadap upaya penistaan agama saat ini juga makin menguatkan opini lemahnya eksistensi penegakan hukum yang dinilai berat sebelah dan lebih banyak menyakiti perasaan umat Islam. Hal ini wajar terjadi karena ketika kita memaknai toleransi pada dasar liberalisme kita akan temui bukan standar kebenaran yang akan ditegakkan akan tetapi toleransi justru akan menjadikan minoritas sebagai pemenangnya. Alih-alih untuk mencegah konflik horisontal di tengah masyarakat, hal ini justru semakin menghilangkan kepercayaan mayoritas masyarakat kepada penguasa.
Ketidaktegasan penguasa terhadap upaya penista agama akan menimbulkan konflik vertikal dan horizontal. Di sisi lain menyelesaikan permasalahan menggunakan hukum sekuler tidak akan pernah meraih titik temu dalam penyelesaiannya.
Bagaimanapun masyarakat ideal harus tetap diupayakan dan diperjuangkan. Membentuk masyarakat yang ideal harus memiliki dasar acuan yang benar. Mencirikan satu ajaran aqidah sesuai dengan yang diwahyukan Pencipta akan mewujudkan cita-cita luhur manusia. Membentuk negeri yang diberkahi dari langit dan bumi.
Sekedar menegakkan hukum, meskipun itu hukum sekuler hal itu tidak akan pernah mampu membentuk masyarakat yang baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghofur. Negeri yang diberkahi akan bisa terbentuk jika aturan yang digunakan adalah aturan yang datang dari sang pencipta.
Fakta toleransi di dunia telah diajarkan oleh Islam dalam kurun waktu yang sangat lama hingga lebih dari 1000 tahun. Sementara toleransi dalam sistem hidup liberal belum bisa dijadikan sebagai sebuah icon masyarakat ideal dalam memahami toleransi. Justru jika aturan Islam diterapkan dan ditegakkan dalam bentuk negara, toleransi di tengah masyarakat akan mudah dijalankan dengan apik dan penuh keberkahan.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.