Oleh Yogie W. Abarri


Ibarat gelindingan bola salju yang sudah tak mungkin lagi dihentikan dan bahkan akan menggilas apapun or siapapun yg nekat menghadang lajunya... seperti itulah pula perkembangan opini Khilafah saat ini.
Telah melewati titik yang disebut... point of no return.

Tak bosan rasanya mengatakan... Sungguh beruntunglah negeri yang dikuasai oleh rezim "juaranya ruwaibidhah".

Juaranya ruwaibidhah?
Juara dalam hal apanya?

Sebelumnya, mari kita cermati kembali penjelasan yang keluar dari lisan RasuluLLah SAW sendiri, ketika Beliau ditanya oleh para sahabat tentang apa itu ruwaibidhah.

Yaitu, ruwaibidhah itu adalah "ar-rajul at-täfih fï amril-'ämmah".

Ar-rajul at-täfih itu artinya orang bodoh/pandir/tolol.
Fï amril-'ämmah itu gambarannya berarti orang itu terlibat dalam (pengurusan) urusan publik (amrul-'ämmah).

Jadi, ruwaibidhah itu punya dua faktor.
1. Dia bodoh/pandir/tolol.
2. Dia terlibat dalam (pengurusan) urusan publik.

Nah, sekarang barulah kita kembali ke pertanyaan di atas.

Juara dalam hal apanya?
Faktor apanya kah yang membuat rezim menjadi juaranya ruwaibidhah?

Apakah juara dalam pengurusan urusan publik?
Sepertinya tidak.
Karena dalam banyak kasus, rezim malah seolah seperti tak terlihat keberadaannya.
Tak terlihat kepeduliannya.

Bahkan kalimat "Itu bukan urusan saya" or yg senada dengan itu, sering terdengar dari mulut pejabat² rezim.

Kalau bukan faktor itu, lalu faktor apa yang membuat rezim menjadi juaranya ruwaibidhah?

Faktor apalagi kalau bukan karena faktor kebodohannya? Kebodohan yang sungguh luar biasa.
Kalau kata Rocky Gerung... dungu yang tiada bertepi.

Tapi uniknya, IQ-nya justru malah bertepi. Yaitu IQ penghuni seisi kolam, bila dijumlah, totalnya selalu 200.
Bahkan meski beberapa profesor sudah ikut nyemplung ke kolam sekalipun, jumlah IQ totalnya tetap tak beranjak dari angka 200.

Kedunguan yang tiada bertepi itu, membuat rezim menjadi sering mengambil kebijakan² yang berujung blunder.


Bendera HTI

Akan menjadi semakin panjang coretan ini bila kita membahas blunder² rezim yang sangat banyak itu.
So, kita fokus aja pada salah satunya, yaitu penyebutan Bendera Tauhid sebagai Bendera HTI.

Semakin kesini semakin terlihat bahwa narasi Bendera Tauhid sebagai Bendera HTI itu adalah blunder yang luar biasa fatal yang dilakukan oleh rezim.

Kita tahu, para penguasa di negeri² kaum muslim saat ini adalah boneka.
Mereka dengan sukarela menjadi kaki tangan para imperialis/penjajah kafir, baik Barat maupun Timur.

Jelas mereka sangat membenci Islam. Karena, Islam yang notabene adalah juga sebuah ideologi, adalah musuh bagi ideologi yang tengah mereka terapkan dan mereka jaga mati²an, yaitu ideologi Kapitalisme/Liberalisme/Sekularisme.

Mereka berusaha membonsai Islam agar hanya tinggal ibadah ritualnya saja yang dipahami oleh Ummat.
Dan juga hanya sebatas simbol² saja.
Agar Ummat tidak paham, bahwa ideologi yang mereka punya (ideologi Islam) tidak diterapkan, dan yang diterapkan adalah ideologi yang lain (ideologi Kapitalisme).

Mereka semua seperti itu.
Perbedaan antara antek di negeri satu dengan antek di negeri lainnya, hanyalah soal ke-käffah-annya saja dalam menerapkan ideologi Kapitalisme nya.

Kerinduan Ummat Islam terhadap Islam, mereka belokkan ke arah yang hanya simbol saja.
Sehingga, kebangkitan Islam di negeri mereka berhasil dibuat hanya bangkit dalam simbol²nya saja. Kosong dari ideologi.

Dakwah Islam yang berusaha menyadarkan Ummat agar kembali pada ideologi Islam, di banyak negara menjadi seolah seperti jalan di tempat.
Jalan sih, tapi karena kemajuannya pelan sehingga seolah seperti jalan di tempat.

Kesulitannya adalah karena berhadapan dengan Ummat yang menyangka Islam sudah diterapkan. Karena penguasanya berbusana muslim, tampak relijius, dll.

Di Arab Saudi, tak tanggung² bahkan simbol Islam berupa Bendera Tauhid pun bahkan dijadikan bendera negara. Hanya dimodif warnanya, dan ditambahi gambar pedang.

Termasuk di Indonesia, Ummat dikelabui dengan hanya sebatas simbol. Bukan hanya yang awam, bahkan sebagian pemuka agamanya pun sampai terkelabui juga dan jadi malah ikut meyakinkan Ummat bahwa Indonesia ini sudah Islami, jadi gak usah neko² (banyak tingkah).

Tapi semua itu berubah sejak rezim juaranya ruwaibidhah berkuasa.
Hal yang itu dianggap tabu oleh rezim ruwaibidhah di negeri lain, oleh rezim juaranya ruwaibidhah justru dilanggar.

Blunder tingkat dewa YANG PERTAMA adalah, rezim malah memusuhi simbol Islam, SECARA TERANG²AN.
Secara telanjang mata, rezim memusuhi simbol Islam yang berupa Bendera Tauhid.

Merampas Bendera Tauhid, menurunkannya ketika sedang dikibarkan, membakarnya, dll dll.
Baik yang dilakukan oleh aparat, maupun yang dilakukan oleh keparat (pihak ketiga yang dimanfaatkan oleh aparat, dan bertingkah lagaknya aparat).

Akibatnya apa?

Mudah ditebak. Tentu saja Ummat Islam menjadi bangkit.
Bukannya dibuat agar tetap tidur, malah dibangunkan.

Memang sih, awalnya tak banyak Ummat yang tahu bahwa yang rezim kriminalisasi itu adalah Bendera Tauhid yang bernama ar-Rayah dan al-Liwa.
Tapi itu hanya soal waktu. Dan di era medsos seperti ini, waktu yang dibutuhkan bisa menjadi sangat singkat.

Pendek kata, pemahaman Ummat Islam bahwa itu adalah Bendera Tauhid pun akhirnya menggelinding dan membesar dengan cepat, bagaikan gelinding bola salju.

Dan gelindingan bola salju itu kini telah melewati point of no return.
Sudah tak mungkin lagi dicegah.
Secara opini umum, Ummat sudah terlanjur paham bahwa yang dikriminalisasi rezim itu adalah ar-Rayah dan al-Liwa.

Blunder tingkat dewa YANG KEDUA adalah, rezim malah mengeluarkan narasi yang membranding Bendera Tauhid tersebut sebagai Bendera HTI.

Berhasilkah?

Tentu saja tidak. Karena Ummat akhirnya paham bahwa HTI tak punya bendera, dan bendera yang rezim kriminalisasi itu sah adalah Bendera Tauhid.

Tapi meski begitu, gara² narasi gegabah itu, Ummat jadi bertanya² dong... Mengapa kok Bendera Tauhid ini disebut² sebagai Bendera HTI?
HTI itu apaan sih?

Well well well... tanpa disadari, rezim ruwaibidhah telah mengantarkan Ummat menjadi kenal dengan HTI.
Video² lama acara² HTI yang bertebaran di youtube, menjadi diakses Ummat.

Oh, ternyata karena dahulu pada awalnya HTI-lah ormas yang hobi bawa² ar-Rayah dan al-Liwa ini.
Kurang lebih seperti itulah mungkin apa yang Ummat simpulkan.

Bahkan hingga saat ini pun Ummat masih bisa melihat dan menilai...
Ketika ormas lain ada yang kini juga turut membawa ar-Rayah dan al-Liwa, mereka masih membawa juga bendera yang lain.
Dan hanya HTI sajalah yang ketika membawa ar-Rayah dan al-Liwa, mereka tak membawa bendera yang lain.

Bendera yang selalu dibawa HTI adalah hanya ar-Rayah dan al-Liwa saja.

Lalu dimana letak salahnya rezim?


Terpapar Paham Radikal

Secara bendera, HTI memang hanya membawa ar-Rayah dan al-Liwa saja (sehingga wajar bila dulu jadi sempat identik dengan HTI).

Tapi bukan cuma itu. Ada hal lain yang mungkin alpa diperhitungkan oleh rezim.
Yaitu, HTI juga identik dengan... Khilafah.

Khilafah,
Khilafah lagi,
dan selalu Khilafah.

Bahkan banyak tokoh yang sampai protes (dengan maksud yang baik) sambil pasang tampang jengkel...
Diskusi sama orang HTI itu payah.
Mbahas apapun selalu UUK.
Ujung-ujungnya Khilafah.

Bukankah begitu?
Adakah ormas lain yang segila itu (gila dalam arti yang positif) bicaranya tentang Khilafah?
Terapkan syariah dan tegakkan Khilafah.
Ujung²nya selalu seperti itu.

Anda (yang belum paham dengan HTI) mungkin awalnya akan stress, karena bahkan bicara soal bumbu dapur pun, bila berbicaranya itu dengan orang HTI, dijamin Anda akan terkejut karena pembicaraan tersebut entah kapan berpindahnya tiba² sudah beralih jadi bicara tentang Khilafah.

Hahaha... ada di antara pembaca yang tertawa ya?
Kenapa? Pengalaman pribadi?
Apa? Pernah diskusi tentang poligami pun lalu tiba² terdampar ke mbahas Khilafah?
Ampun dah.
Itu pasti diskusinya dengan saya ya?
Hehehe...

Sssttt... kembali ke laptop.

Nah, sekarang coba bayangkan.
Pemahaman Ummat terhadap ar-Rayah dan al-Liwa bahwa itu adalah Bendera Tauhid, bendera milik Ummat Islam... kini telah kembali, tanpa bisa dihentikan lagi.

Kecintaan Ummat pada ar-Rayah dan al-Liwa telah tumbuh menjadi pohon yang rindang dan kokoh.

Sementara sampai detik ini, pasukan nasi bungkus peliharaan rezim, di medsos masih terus saja non-stop berusaha mengatakan bendera tersebut sebagai Bendera HTI.
Yang aktif memantau medsos pasti tahu itu.

Lihatlah. Betapa bodohnya mereka.
Bukan rajanya ruwaibidhah namanya bila rezim mampu menyadari kesalahannya.
Dan faktanya memang tak mampu.
Karena sampai detik ini, narasi Bendera HTI itu nyatanya masih terus berusaha mereka paksakan.

Efeknya, Ummat yang makin mencintai ar-Rayah dan al-Liwa pun otomatis jadi makin terpapar dengan HTI. Makin mengenal HTI.
Dan otomatis juga jadi makin terpapar pula dengan ide besar yang dibawa oleh HTI.
Yaitu... KHILAFAH.

Jadi jangan heran, bila tiba² kini kita saksikan semua orang jadi bicara Khilafah, Khilafah, dan Khilafah.
Kata Ust. Budi Ashari, Lc... wis wayahe. Memang sudah jamannya.


Bila Pertolongan Allah Tiba

Tiba² semua orang kini bicara Khilafah. Terpapar opini Khilafah.
Dan yang unik, rezim juga punya andil besar dalam membuat Ummat menjadi terpapar pada isu Khilafah tersebut.
Juara banget dah pokoknya, ruwaibidhahnya.

Tegaknya Khilafah murni adalah semata² pertolongan Allah SWT.
Tugas kita hanyalah menjalankan apa yang Allah wajibkan dan telah RasuluLLah contohkan.
Yaitu mendidik Ummat agar rindu kepada syariah käffah, dan agar sadar bahwa tegaknya Khilafah adalah satu²nya cara untuk menerapkan syariah tersebut secara käffah.

Al-Hamdu liLLah, perbincangan tentang Khilafah, kini telah melampaui point of no return.
Gelindingan bola saljunya sudah tak mungkin dihentikan lagi.

Maka bersyukurlah kita semua Ummat Islam yang ada di negeri ini.
Mengapa?

Tegaknya Khilafah itu adalah pasti. Sebab itu adalah janji Allah SWT.
Yang belum pasti adalah titik awal dimanakah ia akan tegak untuk pertama kalinya.

Dan bila kecepatan gelindingan bola salju itu adalah secepat sekarang ini, sangat besar kemungkinannya tegaknya itu justru adalah di negeri yang kita cintai ini.

Tapi Ummat Islam di negeri yang lain tentu tak akan mau kalah.
Fastabiqul-khairat.
Menjadi negeri dimana awal mula Khilafah akan (kembali) tegak, itu adalah kemuliaan yang sangat besar.

Dan selama perlombaan belum selesai, potensi munculnya kuda hitam yang akan menyalip secara tiba² adalah tetap ada.

Oleh sebab itu, jangan terlena.
Jangan angkat kaki Anda dari pedal gasnya.
Injak terus. Gaspol. Jangan kasih kendor

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.