Oleh Wahyudi al maroky
(Dir. Pamong Institute)

Rencana Kemenristekdikti akan impor rektor asing untuk memimpin perguruan tinggi negeri (PTN), menuai pro kontra. Alasan Menristekdikti M. Nasir, agar PTN RI bisa menembus 100 besar peringkat dunia. Ini alasan dan logika yang berbahaya jika diterus-teruskan.

Misalnya rektor gagal menembus peringkat 100 besar lalu impor rektor. Bagaimana jika menteri yang gagal memimpin para rektor, apakah harus impor menteri juga? Atau lebih jauh lagi presiden yang gagal menunjuk menterinya, apakah harus impor juga? Ini tentu logika yang berbahaya.

Impor rektor akan menambah rekor baru soal impor. Setidaknya memperbaharui rekor pribadi soal impor. Apalagi rezim ini dikenal gemar impor di berbagai sektor. Meski pernah janji tidak akan impor namun faktanya impor jalan terus, mulai dari impor buah sampai impor beras. Impor garam sampai impor ikan asin, bahkan jagung dan singkong pun impor.

Seorang Menteri tentu tak berani Impor Rektor tanpa sepengetahuan Presiden. Hal ini pun diakui oleh Menteri Nasir. "Saya sudah laporkan kepada Bapak Presiden dalam hal ini wacana untuk merekrut rektor asing ini, yang punya reputasi…," ungkap Menteri Nasir. (www.detikNews.com).

Impor Rektor ini sekaligus menunjukkan komitmen rezim Jokowi untuk menjaga ideologi Pancasila patut dipertanyakan. Bagaimana mungkin bisa teriak “Saya Pancasila” jika rektor saja Impor? Apakah rektor impor itu lebih paham pancasila sehingga kita harus belajar dari dia? Apakah memang diantara lebih 200juta penduduk negeri ini tak ada satu pun manusia yang bisa jadi rektor?

Jika kita telaah, setidaknya ada tiga bahaya yang mesti diwaspadai dengan masuknya Rektor Impor.

Pertama, masuknya ideologi asing dan paham berbahaya. Dengan masuknya rektor impor, tentu sekaligus impor ideologiny, impor paham-paham berbahaynya. Karena rektor impor itu akan membawa ideologinya. Baik itu ideologi komunis maupun kapitalis, yang keduanya sangat berbahaya dan mengancam negeri ini.

Dari kedua ideologi itulah melahirkan berbagai paham berbahaya seperti atheise, liberal radikal, hedonisme, permisifisme dan isme-isme lainnya.

Boleh saja rezim ini berdalih akan mencari rektor asing yang tidak membawa pengaruh paham ideologinya ke kampus. Namun ini tentu bertentangan dengan akal sehat. Disatu sisi rezim ini sedang membangun citra dan gencar menjaga Pancasila dengan membersihkan kampus yang terpapar radikalisme. Disisi lain ingin impor rektor yang sangat mungkin membawa paham liberal radikal.

Kedua, masuknya tenaga asing ke dalam negeri, padahal banyak anak negeri yang masih menganggur. Apalagi sebagai rektor ia punya banyak kewenangan. Bisa saja dengan dalih agar suskes ia akan memasukkan orang-orangnya. Mungkin awalnya hanya beberapa orang dekatnya lalu melebar ke staf kampus lainnya, selanjutnya ke para dosen dan seterusnya.

Ini tentu makin mempersempit peluang lapangan kerja disaat anak negeri ini banyak yang nganggur.

Ketiga, pintu masuknya ketergantungan bahkan penjajahan melalui para intelektual asing. Poin ini yang sangat berbahaya.
Dengan posisi rektor dan para intelektual asing, dapat saja mereka mendisain berbagai rancangan kebijakan bahkan merancang undang-undang yang bisa mengokohkan dominasi negara asing atas negeri ini. Terutama dalam menguasai sumber kekayaan alam dan kebijakan politik negeri ini.

Alasan menteri Impor rektor agar PTN bisa masuk 100 besar peringkat dunia itu seolah menganggap masalah pendidikan hanya pada rektornya. Padahal banyak fakor lain yang mesti diperbaiki.

Ibarat sepakbola, kita mau impor Pelatih sekelas dunia seperti Zinedine Zidane atau Pep Guadiola sekali pun kalau melatih tim Nasional kita, apa langsung bisa jadi juara? Mestinya yang disiapkan ya sistem dan kadernya. Baik kader pemain maupun kader pelatihnya.

Kalau di Perguruan Tinggi yang disiapkan tentu kader dari anak bangsa yang siap jadi rektor kelas dunia. Lalu kader itu dikirim belajar serius ke berbagai dunia jika sudah hebat barulah dijadikan rektor. Jadi bisa menghindari impor rektor yang berpotensi membawa ideologi asing dan paham berbahaya bagi negeri ini.

Dengan minimal tiga bahaya yang mengintai negeri ini, mestinya rencana impor Rektor dibatalkan. Belum lagi dengan bahaya lainnya, misalanya masalah budaya, ekonomi, politik dan hankam.

Saatnya membangun kemandirian dengan serius. Jangan korbankan negeri dan generasi mendatang dalam cengkeraman negara asing.[]

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.