Oleh: Titok Priastomo
.
Era modern, kata Kohn, adalah era negara bangsa. Tidak ada negara kota maupun imperium raksasa, hanya ada negara-negara yang dianggap menghimpun satu kebangsaan di tanah yang dianggap tanah-air mereka. Ini didasarkan pada prinsip hak tiap bangsa untuk menentukan nasib sendiri.
.
Semangat tiap bangsa untuk meraih/mempertahankan negaranya, bebas dari kekuasaan bangsa lain, disebut nasionalisme. Tepatlah ungkapan Gellner bahwa nasionalisme adalah paham yang menyatakan: unit politik harus konruen dengan unit kebangsaan. Namun, beberapa orang seperti Renan, Anderson, Antony Smith, Habsbown, dll diusik oleh pertanyaan “bagaimana suatu komunitas bisa dianggap sebagai bangsa tersendiri, bukan bagian bangsa lain?”
.
Saya tidak mau mengurai teka-teki yang sudah melahirkan banyak teori itu. Tapi kebanyakan sepakat bahwa suatu komunitas harus menunjukkan keunikan untuk mengklaim sebagai sebuah bangsa, meski ada perbedaan pendapat soal keunikan macam apa yang harus ditunjukkan itu.
.
Terkait Papua, sejak 60-an, OPM sudah berusaha menunjukkan bahwa penduduk Papua merupakan bangsa tersendiri, karena ras, kebudayaan dan geografinya tampak beda dengan Indonesia. Maka mereka merasa berhak menyelenggarakan pemerintahan sendiri. Bagi mereka, itu bukan separatisme, tapi nasionalisme; bukan kejahatan, tapi perjuangan. Seandainya mereka muslim, mereka mungkin akan teriak ‘hubbul wathan minal iman.’
.
Sebaliknya, kaum nasionalis di Indonesia melihat Papua sebagai bagian dari Indonesia; mempertahankan keutuhannya merupakan nasionalisme; mencegah pemisahannya merupakan bentuk ‘hubbul wathan.’ .
Lantas nasionalisme siapa yang benar? Indonesia dengan hak untuk mempertahankan keutuhan ‘bangsanya’? Ataukah sebagian orang dengan klaim hak ‘Bangsa Papua’ untuk menentukan nasib sendiri? Jika ukuran benarnya adalah nasionalisme, bukankah keduanya benar menurut nasionalisme masing-masing?
.
Nah, sementara nasionalisme membuat kita bingung, pandangan Islam tentang ini jelas: haram membiarkan suatu wilayah lepas dari kesatuan, karena negeri-negeri Islam sudah banyak terpecah, maka tidak boleh memecahnya lebih banyak lagi.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.