Oleh: Deu Ghoida
Seperti kita ketahui akhir-akhir ini isu radikalisme menjadi hangat dibicarakan. Bahkan beragam forum dibuat sebagai bentuk upaya preventif agar radikalisme bisa dicegah di berbagai kalangan. Mulai dari instansi pemerintah, sekolah, universitas, hingga komponen masyarakat lainnya. Bersih-bersih ala BNPT dilakukan ulah di berbagai instansi dan berhasil menciduk dan meramaikan pemberitaan akhir-akhir ini.
Meski kemudian definisi radikal pun menjadi pertanyaan banyak pihak. Karena yang disebut radikal yang merupakan turunan terorisme justru faktanya jauh menyimpang dari definisi sebelumnya.
Definisi radikal terorisme yang BNPT maksud adalah paham yang sudah mengarah kepada intoleransi, anti Negara Kesatuan Republik Indonesia, anti Pancasila dan paham yang mengandung takfiri (mengkafirkan orang). Akhirnya dari definisi inilah siapapun bisa menyebut pihak lain radikal hanya dengan melihat kekritisan pada realita bernegara negeri ini yang dinilai masih labil.
Dalam menindaklanjuti kampanye anti radikalisme terorisme BNPT menekankan pentingnya melibatkan pemuda dan pemudi dalam upaya pencegahan terorisme, termasuk upaya kontra radikalisme. Suhardi selaku ketua BNPT melihat, penting untuk memiliki strategi komunikasi dalam menangani penyalahgunaan Internet, termasuk media sosial, yang marak menyebarkan radikalisme dan terorisme.
Isu radikalisme terorisme terus-menerus digoreng di dalam beragam pemberitaan dan forum-forum sosialisasi. Tuduhan radikal kepada pihak yang dianggap memenuhi kriteria langsung ditudingkan kepada kelompok atau bagian dari masyarakat tanpa melakukan mediasi dan diskusi.
Negara memainkan opini membentuk suatu citra negatif terhadap pihak-pihak yang sekiranya dianggap radikal dan menjadikannya sebagai musuh bersama di tengah masyarakat. Tanpa menindak secara tegas bahkan melakukan pembuktian secara langsung terhadap aksi radikal yang mereka tuduhkan. Opini terus digelar tanpa kejelasan sikap.
Jika strategi memainkan peran kontra terorisme hanya dilakukan dengan opini maka bisa dipastikan bahwa negara memiliki tujuan jangka panjang. Serta menunjukkan adanya sikap keragu-raguan terhadap realita radikalisme dan terorisme di Indonesia. Karena jika negara yakin ada pelaku teror dan radikal di dalam negerinya seharusnya negara segera bertindak dengan menangkap dan menghentikan seluruh aktivitas mereka bukan beropini dan melebarkan pembahasan sehingga menjadi pro dan kontra di masyarakat.
Memainkan opini tersebut justru semakin membuat banyak pihak bertanya-tanya 'Apakah isu radikalisme terorisme hanya dijadikan isu untuk mengalihkan penjajahan yang sesungguhnya'. Karena berbarengan dengan opini tersebut negeri ini makin kencang melaju untuk dijual kepada asing. Hutang makin menggunung, alasan memajukan infrastruktur menjadi pintu masuk asing untuk mencengkram kan dominasi mereka di negeri ini, kemiskinan masyarakat semakin bertambah dan problem sosial pun setiap hari semakin beragam.
Kita bisa melihat bagaimana hutang Indonesia makin bertambah setiap waktunya. Lima negara kreditur terbesar Indonesia per semester I/2018 adalah Singapura, Jepang, China, AS, dan Hong Kong. Singapura memberi pinjaman sebesar US$55,67 miliar, Jepang US$28,66 miliar, China US$16,32 miliar, AS US$15,43 miliar, dan Hong Kong US$13,26 miliar.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang menyebutkan bahwa utang luar negeri Indonesia mencapai Rp3.942 triliun per 2017, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp3.467 triliun. Bahkan yang lebih mengagetkan Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia hingga Mei 2019 mencapai US$368,1 miliar atau sekitar Rp5.153 triliun (Kurs Jisdor akhir Mei Rp14.313 ribu per dolar AS). Posisi utang tersebut tumbuh 7,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kepemilikan Surat Utang Negara (SUN) yang 60% di antaranya dimiliki oleh investor asing juga menjadi perhatian. Kondisi ini juga disebut diperparah dengan bunga utang Indonesia yang mencapai 20%. Jadi negara seharusnya memusingkan banyaknya hutang Luar negeri bukan menghebohkan radikalisme anak negeri.
Negara Pincang
Itulah kenapa apa opini radikalisme menjadi opini yang cukup deras dan dilakukan beragam macam benteng pertahanan di seluruh kalangan. Dan tuduhan radikalisme ini tadi sangat spesifik mengarah kepada ada kelompok umat Islam yang menginginkan adanya perubahan dengan melakukan sikap kritis pengaturan negeri ini yang jauh dari syariat Islam.
Beragam opini dibangun seolah umat muslim di negeri ini harus memiliki konsep keagamaan tersendiri. Islam yang ramah yang sinkretis dan mengakui kebenaran dari agama lainnya yang jauh dari sikap memaksa untuk menerapkan syariat dalam semua level kehidupan. Negara seakan membentuk agama baru dengan tetap tidak meninggalkan Islam sebagai label karena tahu bahwa mayoritas negeri ini adalah muslim.
Agama baru ini kemudian dikenalkan kepada masyarakat jauh dari gambaran syariat yang sesungguhnya. Karena agama baru ini justru berani melawan isi dari ajaran Islam sendiri. Mengatasnamakan kerukunan menjadikan kesyirikan dan budaya sebagai wasilah mereka menggambarkan citra Islam yang ramah.
Padahal syariat Islam sendiri dalam masalah kepemimpinan memiliki satu konsep baku kekhalifahan sebagai institusi penerapan hukum Islam secara Kaffah. Dan Rasulullah pernah menggambarkan kondisi umat Islam dalam beberapa periodisasi.
Rasulullah bersabda:
تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ
“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih)
Para pembenci tegaknya Khilafah tidak akan pernah mampu menghalangi tegaknya janji Allah.
Negara hari ini pincang karena tidak menerapkan Islam secara Kaffah. Memimpin dengan hawa nafsu dan menegakkan aturan liberal-kapitalis. Hingga pada akhirnya kegagalan dalam mengatur negara justru diarahkan kepada Islam. Dijadikanlah Islam sebagai musuh bersama atas nama kampanye anti terorisme radikalisme.
Perusakan generasi, seks bebas, HIV /AIDS, narkoba, tidak pernah negara menyalahkan liberalisme. Meningkatnya kriminalitas, pencurian, pembunuhan, negara pun tidak pernah menyalahkan kapitalisme sebagai biang keladi karena masyarakat mengalami kegagalan dalam masalah ekonomi. Munculnya separatis negara pun tidak pernah menyalahkan nasionalisme. Negara seolah suka-suka memunculkan siapa musuh bersama yang harus diperangi tapi tanpa mereka sadari mereka justru sedang memeluk para pembunuh anak cucu mereka.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.