.
Oleh : Zainab Ghazali
.
Gegap gempita menyambut hari kemerdekaan suatu negeri. Katanya pesta rakyat diselenggarakan atas iuran bersama demi meriahkan kemerdekaan. Tak lazim katanya jika hari kemerdekaan tak dirayakan dengan penuh gembira. Meski rakyat masih berpeluh karena susahnya hidup di Indonesia.
.
Tak mengapa, menahan derita hidup dengan menunjukkan senyuman demi meraih hadiah dalam lomba di hari merdeka.
Pernah merasakan dalam kegelapan akibat blackout, tapi mungkin esok rakyat bisa hidup dalam penerangan.
.
Karena pemerintah akan bangun PLTA penghasil listrik terbesar dengan menggandeng China. PLTA yang mampu menghasilkan listrik 9.000MW siap mengaliri listrik untuk wilayah Tanjung Palas Timur, Kalimantan Utara.
.
Meski China yang digandeng, tak mengapa asal pasokan listrik aman terpenuhi. Ini demi bangsa dan katanya telah merdeka. Apa iya? Pilih kerjasama dan buka kran impor atau siap dengan ketertinggalan dari negara lain. Maka tak ada pilihan lain, selain ikuti kemauan sang tuan pemilik modal. Begitu kebijakan yang diambil oleh penguasa negeri.
.
Apalagi Pak Luhut bilang “Saya pengen, PLN lebih efisien lah. Terus kemudian kalian (PLN) jangan terlalu banyak dulu lah terlibat dalam pembangunan listrik, biarin aja private sector yang lebih masuk. Seperti 51% harus untuk Indonesia power untuk waste to energy. Jadi konsolidasi aja dulu, biarkan private sector main," ujar dia, Rabu (14/8/2019).
.
Tuh kan, sudah terbuka lebar jalan negara lain yang urusi listrik di negeri ini. Siapa yang berani untuk menghalangi? Sudahlah, katanya sudah merdeka. Terima saja segala kebijakan mereka tanpa boleh bertanya mengapa.
.
Katanya sudah merdeka, faktanya lebih dari seperempat (28,49%) produk nonmigas impor yang datang ke Indonesia di tahun 2018 berasal dari China, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Setiap satu dari empat barang impor non migas di Indonesia, dikirim dari Negeri Tirai Bambu.
.
Tiga negara pemasok barang impor non migas terbesar selama Januari-Maret 2019 diisi oleh China dengan nilai US$ 10,42 miliar, Jepang US$ 3,97 miliar dan Thailand US$ 2,42 miliar. Dengan demikian China menjadi negara asal impor terbesar dengan peran 29,01%.
.
Katanya telah merdeka, faktanya Pak Mendag pasrah soal impor daging ayam dari Brasil. “Sekarang kalau tidak (impor) bagaimana? Ya kita sudah kalah di pengadilan, di WTO. Kita kalah itulah namanya dispute settlement, DS48 itu," ujar Enggartiasto usai meresmikan Indonesia Great Sale.
.
Sudah sangat jelas, bagaimana kinerja menteri di negeri yang katanya merdeka mengurusi rakyatnya. Bisanya pasrah, tak ada pilihan lain alias malas mikir berat meski mengancam peternakan unggas rakyat. Menyesakkan dada hingga rakyat susah bernafas lega. Merdeka untuk siapa?
Tidak sampai disitu saja, Pak Mendag bilang bagus saat ini impor produk Cina melonjak Rp 21 triliun. Wah..wah.. sebenarnya Pak Mendag bekerja untuk rakyat Indonesia atau untuk pemerintah China? China yang untung, dia yang senang. Lalu bagaimana dengan kondisi rakyat? Ah…tak perlu dipertanyakan lagi. Cukup beri statement bahwa kita harus sabar menghadapi segala cobaan ini.
Katanya merdeka, faktanya pasokan pangan masyarakat di tanah air masih dipenuhi dengan mengimpor dari negara lain. Impor pangan terus melambung. Tidak hanya beras, beberapa komoditas pangan seperti daging sapi, gula, garam, mentega, bahkan tepung terigu juga mengalami kenaikan. Namun anehnya, Pak Menteri Perekonomian katakan ketahanan pangan Indonesia cukup meningkat signifikan.
Lalu, jadi persoalan,apakah peningkatan impor merupakan tren positif?Bukankah meningkatnya impor pangan menunjukkan ketergantungan Indonesia pada hasil pangan negara lain? Meski dikenal sebagai negara agraris dengan lahannya yang subur, Indonesia ternyata masih belum sanggup memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Apa makna sebenarnya “kita telah merdeka” ?
Sebenarnya yang terjadi, simbolisasi balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, dan lomba lainnya. Rakyat hanya kebagian susahnya tapi ironinya mereka bahagia.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.