Oleh : Yogie W. Abarri


Brainstorming.
Pemindahan ibukota ke Kaltim, tampaknya bisa ada manfaatnya juga lho bagi dakwah syariah dan khilafah.

Sebelumnya, saya termasuk yang kurang antusias ketika membahas isu rencana pemindahan ibukota dari Jakarta ke Katim.

Bukan karena itu adalah isu yang tak penting. Melainkan karena sudah banyak yang membahas.

Dan saya juga termasuk yang heran dan tak habis pikir dengan urgensi pemindahan tersebut.

Terkadang saya berpikir, apakah itu karena ada cukong yang sudah memborong tanah disana dan sudah ngebet ingin agar sebagian tanahnya itu dibeli dengan harga berlipat (baca: dapat untung bejibun) oleh negara untuk proyek pembangunan ibukota?

Lalu sebagiannya lagi bisa dia kembangkan untuk dibangun perumahan dan situs komersial yang akan menjajakan "dekat dengan istana negara" sebagai selling point nya?

Atau ini adalah plan B setelah pembangunan pulau reklamasi di Teluk Jakarta gagal, yang bila kemarin sukses jangan² ada hidden agenda untuk memindahkan ibukota kesana?

Atau apakah ini adalah proyek yang dari situ bisa diharap memperoleh hasil guna memulihkan modal yang kemarin sudah dikeluarkan untuk mendukung salah satu calon di pilpres?

Atau...

Atau...

Masih banyak lagi pikiran² lain yang bersliweran dalam benak.
Yang entah kenapa... semuanya bernuansa rada negatif.

Tapi beberapa hari lalu saat sedang nongkrong di atas kloset... tiba² muncul pikiran yang berbeda di dalam benak. Dan kali ini nuansanya malah positif.


Aman Karena Adil

Fase kepemimpinan yang telah, sedang, dan akan dialami oleh Ummat Islam hingga kiamat nanti... setidaknya ada lima fase.
Bisa saja lebih dari lima. Kita tidak tahu, karena pasca menyebutkan fase yang kelima, RasuluLLah SAW kemudian diam (tak melanjutkan ucapannya).

Di fase yang kedua (fase khilafah 'ala minhajin-nubuwwah) (yang akan kembali hadir pasca fase yang sekarang ini), khalifah yang paling sering dibicarakan adalah Ummar bin al-Khaththab RA.

Ia adalah pemimpin yang cerdas dan dikenal tak berjarak dengan rakyatnya.
Di tengah rakyatnya, tak pernah ia merisaukan tentang keamanan dirinya.
Karena keamanan itu otomatis didapatkannya, buah dari keadilan yang ia tegakkan.

Ini berbeda dengan rezim pendusta yang zhalim terhadap rakyatnya.
Sudahlah istananya memiliki halaman luas dan berpagar tinggi yang dapat menjaga rakyat agar tetap jauh darinya, masih dilengkapi pula dengan barikade kawat berduri dan sejumlah besar pasukan pengawal yang bersenjata lengkap.

Hanya berani bertemu dengan rakyat yang sudah di-setting. Sementara terhadap rakyat yang datang tanpa settingan, misalnya para guru honorer yang datang karena ingin mengadu, ngacir menghindar dia.

Di saat rakyatnya rela berjibaku dengan udara yang berpolusi, jalan yang macet, banjir yang rutin datang, dan tingkat kriminalitas yang tinggi... demi untuk sekedar dapat bertahan hidup... eh penguasa zhalim itu malah berpikir untuk memindah istananya ke tempat yang lebih jauh lagi dan lebih sepi lagi.

Dengan dalih mau memindah ibukota, pendusta tersebut jadi (merasa) punya legitimasi untuk membangun infrastruktur super yang menyerupai kota baru di zona penyangganya.

Akan dihuni oleh siapakah "kota baru" tersebut?
Siapakah dari rakyatnya yang akan berminat (baca: mampu) pindah kesana?

Ya, betul. Berminat dan mampu. Itu kata kuncinya.
Yang jelas BERMINAT pindah kesana adalah mereka² yang MAMPU. Alias kaum berduit.

Iming² "dekat dengan pusat ibukota" pasti akan menjadi selling point semua real estate yang bakal dibangun disana.
Itu jelas akan membuat properti disana akan sangat mudah terjual dengan harga yang sangat tinggi.

Segmen masyarakat yang manakah yang bakal mampu membeli properti di level harga yang seperti itu?
Dan kaum dengan model income seperti apakah mereka itu?

Bisa dibayangkan, penguasa zhalim itu mungkinkah memang bermaksud menjauh dari rakyatnya yang isunya (menurut standar Bank Dunia) 50% nya adalah miskin, dan lalu ia ingin dapat berkumpul dengan kaum sejenisnya yaitu sesama para kapitalis perampok harta rakyat dan penjarah kekayaan alam milik rakyat?


Sumber Daya yang Paling Penting

InsyaaLLah mudah untuk dipahami, bahwa sumber daya bagi suatu perusahaan itu ada yang internal dan ada yang eksternal.

Yang eksternal, contohnya adalah pelanggan.
Itu adalah sumber daya yang penting.
Akan tetapi, sumber daya internal yang puuualing penting adalah... manusianya (karyawan).

Situs produksi or delivery tak ada, bisa sewa. Mudah.
Uang tak punya, bisa pinjam. Agak mudah.
Yang paling tak mudah, dan tak murah pula investasinya, adalah SDM.
Sumber Daya Manusia.
Human Resource(s).

Hal yang sama juga berlaku dalam sebuah entitas negara.
Rakyat... itu adalah sumber daya paling pentingnya.
Bahkan tak berlebihan bila dikatakan... itu adalah pondasinya.
Tak ada rakyat, tak ada negara.

Bila bisa mengelolanya dengan (misalnya) agak benar saja, negara dengan jumlah rakyat yang sangat besar seperti China, akan sangat mudah untuk bisa mendominasi dunia.

Apalagi bila mengelolanya benar² benar sebagaimana yang akan mampu Khilafah lakukan kelak, maka SDM yang berlimpah tentu akan menjadi kekuatan yang sangat dahsyat.


Dharbul-'Alaqat

Ideologi komprehensif alias ideologi total alias ideologi murni... di dunia ini... hanya ada tiga.
Kapitalisme/Sekularisme and the gank,
Sosialisme/Komunisme and the gank,
dan Islam.

Ketiganya memiliki caranya masing² untuk merebut kekuasaan di suatu negeri.

Komunisme, cenderung menggunakan kekuatan militer.
Itulah cara yang sudah beberapa kali dicoba dilakukan di negeri ini oleh PKI, dan al-Hamdu liLLah sampai saat ini selalu gagal.
Revolusinya pasti berdarah².

Kapitalisme, bertumpu pada proses penjajahan alias imperialisasi yang bisa menggunakan kekuatan militer dan bisa pula tidak.
Dengan menggunakan penjajahan ekonomi, atau dengan utang, misalnya.

Adapun Islam, sebagaimana yang telah RasuluLLah SAW contohkan, fokus pada pembentukan ra`yul-'am (opini umum).

Gerakan yang Beliau SAW pimpin bukan gerakan militer. Bukan pula gerakan ekonomi. Dll.
Melainkan gerakan pemikiran (fikriyah).

Selama 13 tahun Beliau hanya fokus pada upaya membina aspek fikriyah para sahabat (plus otomatis nafsiyah nya juga).

Itu sebabnya ketika Beliau ditawari kekuasaan oleh para petinggi Quraisy, dengan syarat Beliau harus tinggalkan dakwahnya, Beliau SAW menolaknya.
Beliau istiqamah membina pengikutnya, dan selalu berusaha terus menambah jumlahnya.

Pembinaan aspek fikriyah tersebut, membuat ketika para pemimpin suku besar di Madinah menyerahkan kekuasaan tertingginya kepada Beliau SAW, itu adalah karena mereka paham benar... apa yang akan Beliau terapkan... Beliau tegakkan... serta apa pula resiko dan balasannya bagi mereka.

Dan terbentuknya opini umum tersebut jelas membawa konsekuensi, yaitu terjadinya dharbul-'alaqat. Yaitu terputusnya ikatan rakyat kepada penguasanya. Rakyat tak lagi merasa terikat pada penguasanya.

Di saat yang sama, rakyat mulai belajar percaya, belajar peduli, belajar semakin mendekat, dan ujungnya akan mulai belajar merasa terikat pada pihak lain.

Secara de jure, penguasa yang lama memang masih eksis.
Tapi secara de facto, ketaatan Ummat telah mulai beralih ke pihak lain.

Itulah situasi yang terjadi di Madinah, setahun pasca Mush'ab bin Umair RA diutus oleh RasuluLLah SAW.
Yaitu dimana tak ada satu rumahpun melainkan Islam masuk dan menjadi sentra pembahasan di dalamnya.

Tinggal menunggu gongnya saja.

Dan gong itu pun akhirnya "berbunyi" ketika para pemimpin militer dari dua suku besar di Madinah berbai'at kepada RasululuLLah SAW.

Itu membuat penguasa² lain di Madinah yang masih ada dan tak ikut berbai'at, menjadi tenggelam secara opini, dan menjadi ikut tunduk pada kekuasaan RasuluLLah SAW yang pasca dibuatnya Piagam Madinah menjadi komplit de facto dan de jure.

Penguasa suku Qainuqa, suku Nadhir, dan suku Quraizhah (yang ketiganya adalah suku² Yahudi), dan beberapa suku lainnya yang tokoh²nya masih tetap musyrik... semuanya tunduk pada Piagam Madinah.
Tunduk pada kekuasaan RasuluLLah SAW.


Pulau Sponge Bob

Di Madinah, dharbul-'alaqat (putusnya keterikatan rakyat pada penguasanya) akhirnya terjadi, tak dapat dihindari. Padahal secara fisik tokoh² mereka tersebut tinggal bersama dan di tengah² kaumnya.
Padahal dekat di mata. Tapi ternyata bisa jauh di hati.

Lalu bagaimana pula yang bakal bisa terjadi nanti bila ibukota akhirnya jadi dipindah ke tengah hutan Kalimantan?
Sementara mayoritas SDM (rakyat) adalah berada di Pulau Jawa.
Wow, bakal jauh di mata itu.

Bagaikan suami-istri yang menjalin hubungan LDR (long distance relationship / jauh di mata), usaha untuk menjaga keutuhan rumah tangga tentu akan lebih berat daripada yang dekat di mata.

Itu baru soal jauh or dekat di matanya.
Apalagi kalau soal biaya pembangunan ibukota sudah ikut dibahas... yang mana sekalipun pakai dana swasta, dampaknya pasti akan dirasakan oleh rakyat juga.

Kalau dana itu akan pemerintah kembalikan dalam bentuk uang, berarti pajak berpeluang bakal makin mencekik.
Bila dikembalikan dalam bentuk kompensasi berupa peluang², berarti itu akan berdampak pada semakin sempitnya peluang bagi rakyat kecil.

So, dipindahnya ibukota ke Kaltim, dapat berpotensi mempercepat proses dharbul-'alaqat.
Saat ini secara de jure yang diterapkan memang masih Kapitalisme-Demokrasi.
Namun secara de facto, Ummat sekarang ini sudah mulai menimbang² opsi lain.
Yaitu Khilafah.

Hari ini, di media tiada henti Ummat berbicara soal Khilafah, HTI, dan FPI. Plus soal hasil Ijtima' Ulama IV yang lalu.
Serta soal² lain yang mengitari isu utama tersebut. Termasuk soal UAS.

Situasinya sepertinya sudah kayak tinggal nunggu ada yang  mukul gongnya saja.

Maka adakah pemindahan ibukota tersebut malah akan semakin mempermudah jalan bagi tegaknya Khilafah di Indonesia? WaLLahu a'lam. Allah-lah yang lebih tahu.

Oya, di Kaltim sana, tak jauh dari Pulau Derawan, ada sebuah pulau yang bernama Pulau Manimbora.
Pulau indah yang juga dijuluki Pulau Sponge Bob tersebut kabarnya benar² tak berpenghuni. Eh barangkali aja mau sekalian dijadikan bahan pertimbangan.

Menikmati seluruh fasilitas kenegaraan, sambil bersantai di Pulau Sponge Bob, tanpa direcoki oleh urusan rakyat, tidakkah itu cukup menarik? []

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.