Image result for karakter lucu abunawas

Oleh : Yogie W. Abarri


Alkisah ada dua orang dokter yang terlibat perdebatan sengit dalam menentukan jenis kelamin Si Takdirsah Kusen.

Takdirsah ini sejatinya laki² atau perempuan?

Dokter A yakin bahwa Takdirsah adalah laki². Sementara Dokter B yakin Takdirsah adalah perempuan.

Pada awalnya, kedua dokter ini mencukupkan diri dengan hanya sekedar menjelaskan apa yang menjadi keyakinannya masing².
Selesai.
Tak ada perdebatan.

Namun urusan menjadi lebih serius ketika Sang Ayah melihat Si Takdirsah memiliki ketertarikan seksual pada kawannya yang laki².

Resahlah Sang Ayah.
Pasalnya ia tahu persis bahwa Si Takdirsah jelas punya titid yang berfungsi, sejak bayi.
Setidaknya bisa buat kencing. Soal kelak bisa berdiri atau tidak untuk menunaikan tugasnya, ia tidak tahu.

Sebelum nasi berubah menjadi bubur dan Si Takdirsah berubah menjadi bot (homo), Sang Ayah berikhtiyar mengenalkan Takdirsah dengan seorang gadis yang sangat cantik.

Tapi apa lacur.
Ternyata terlanjur sudah si otong cinta metong sama lekong.

Sepertinya sekedar nasihat saja gak bakalan mempan. Dibutuhkan tindakan yang lebih nyata.

Maka sebelum melakukan upaya pamungkas untuk mengembalikan Takdirsah ke jalurnya yang benar, Sang Ayah merasa perlu memperoleh kepastian sekali lagi dari dokter, apakah Takdirsah ini sejatinya laki² atau perempuan.

Bolak-balik dia menemui Dokter A dan Dokter B.
Apa yang ia dengar dari Dokter A, ia konfrontir kepada Dokter B.
Dan demikian pula sebaliknya.

Karena saking pedulinya, Dokter A serius berusaha meyakinkan Sang Ayah bahwa Takdirsah adalah laki² tulen.
Dokter A pun sampai mengeluarkan argumen² yang dapat membantah pendapat Dokter B yang mengatakan bahwa Takdirsah adalah perempuan.

Tak disangka, hal itu rupanya membuat jengkel Dokter B.
Di depan Sang Ayah, Dokter B menelpon Dokter A dan berkata...
"Bisa gak sih kamu menjelaskan kebenaran pendapatmu tanpa menyalahkan pendapatku?"

"Bagaimana caranya?" sahut Dokter A bingung.

"Yah, seperti kita mengagumi istri kita, tanpa perlu mengatakan istri orang lain jelek. Seperti itulah kira²."

Dan... Dokter A pun menjadi bengong dibuatnya.


Kebenaran vs Selera

Pada dialog imajiner di atas, wajar bila lalu Dokter A pun menjadi bengong. Terheran-heran dan gak habis pikir.

Karena dia pasti tak akan menyangka bahwa sejawat dokter yang sedang dihadapinya itu ternyata tak bisa membedakan... apakah yang sedang dibahas itu adalah soal kebenaran, atau soal selera.

Takdirsah Kusen itu laki² atau perempuan?
Lalu yang benar itu dia menikah dengan laki² atau menikah dengan perempuan?
Itu adalah soal kebenaran.

Perempuan mana yang akhirnya menjadi tambatan hati Si Takdirsah?
Itu adalah soal selera.

Dalam perdebatan yang membahas soal kebenaran, adalah wajar dan bahkan perlu, kesalahan pendapat lawan memang harus turut diungkap.
Sekedar menjelaskan benarnya pendapat kita saja, itu tak cukup.
Karena ini adalah soal benar-salah.

Misalnya, (4 x 4) itu sama dengan berapa?
Yang benar jawabannya adalah 16.
Semua jawaban selain 16, berapapun itu, adalah salah.

Maka ketika ada yang menjawab 8, wajar dan bahkan perlu kita tunjukkan letak kesalahan jawaban itu (misalnya) dengan mengatakan... yang jawabannya 8 itu adalah (4 + 4) bukan (4 x 4).

Jadi, (4 x 4) itu sama dengan berapa, jawabannya adalah bukan soal selera, melainkan soal kebenaran.


Menyingkap Jati Dirinya Sendiri

Dialog imajiner di atas sebenarnya terinspirasi oleh cuitan seorang penganut agama liberal yang kebetulan profesor, di akun Twitter nya.

Penganut agama liberal tersebut seolah sedang bertingkah sok bijak dan berlagak mau ngasih nasihat ke UAS.

UAS sedang diperkarakan oleh orang kafir yang (katanya) tersinggung dengan video ceramah UAS yang membahas tentang salib.
Padahal itu adalah video 3 tahun yang lalu dan UAS ceramahnya pun di masjid serta di hadapan Ummat Islam.

Eh mungkin dalam rangka mendompleng ketenaran, tiba² muncullah seorang profesor yang menganut agama liberal itu dan berlagak menasihati UAS lewat cuitannya di akun Twitter nya.

Maka seketika ramailah jagad medsos mengolok² cuitan tak bermutunya itu.
Ada yang menggoblok²kan. Ada yang mempertanyakan keprofesorannya. Dll, dll.

Namun bukan itu yang ingin saya tampakkan kepada para pembaca, via coretan saya ini.
Bukan tentang kepekokan si profesor yang beragama liberal itu.

Melainkan... lihatlah kelakuan orang² liberal itu.
Cuitan itu seolah telah menjadi konfirmasi akan apa yang selama ini hanya bisa kita raba.

Yaitu... bagi mereka... agama itu tampaknya memang bukanlah soal kebenaran... melainkan hanyalah soal selera belaka.

Jadi bukan mereka yang mengikuti agama sebagai suatu standar kebenaran, melainkan agama lah yang mengikuti selera mereka. []

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.