Image result for asap karhutla

Oleh: Eti Fairuzita

Kebakaran hutan dan lahan di Riau, belum padam, bahkan asap makin pekat dan kualitas udara tak sehat bahkan menyentuh level berbahaya.
Ratusan ribu warga menderita ISPA. Penderita ISPA sepanjang 2019 sebanyak 281.626 orang terdampak. Angka ISPA dalam empat tahun berturut-turut (2014-2018, 639.548, 720.844, 565.711, dan 529.232 orang terdampak.
Gubernur Riau, sudah perintahkan sekolah libur. Sebagian sekolah meliburkan siswa, tetapi sebagian lagi tidak.
Setelah lebih dari 100 hari masa pemadaman api, beberapa anggota mulai mengalami penurunan kesehatan. Tim Manggala Agni cukup banyak, tetapi peralatan minim. Mereka minta bantuan peralatan dan posko. Posko ini untuk petugas pemadam kala perlu layanan kesehatan dan makanan.
Meskipun sempat hujan, pekan ini kabut asap pekat kembali mendatangi Riau. Kebakaran hutan dan lahan, kembali membara. Pada Kamis (12/9/19), kualitas udara sampai level berbahaya. Tak pelak, banyak warga menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Rizka, tenaga pengajar di Sekolah Islam Abdurrab, harus masuk instalasi gawat darurat Eka Hospital, Jalan Soekarno-Hatta, Pekanbaru, Riau pukul 11.45, Selasa (10/9/19). Dia sesak napas dan batuk kering. Setelah diperiksa dokter, tak ada tanda-tanda asma dan gangguan vital, baik tensi, nadi maupun demam.
Rizka didiagnosa terkena ISPA dan langsung diberi oksigen dan nebulizer. Setelah tenang, pukul 13.20, Rizka boleh pulang.
Hari sama, empat siswi SMAN 1 Dumai juga dibawa ke Klinik Chevron dalam kondisi pusing, lemah dan sesak napas. Mereka langsung diberi tambahan oksigen, sekitar satu jam boleh pulang.
Hafidz Permana, Kabid Pelayanan Kesehatan Dumai, mengatakan, selain asap pekat pada pagi hari di Dumai, dua dari empat siswi itu juga belum sarapan ketika berangkat ke sekolah. Pihak sekolah langsung memulangkan seluruh siswa setelah kejadian itu.
Kualitas udara di Pekanbaru dan Dumai, dalam kondisi tidak sehat bahkan berbahaya. Di Pekanbaru, berdasarkan pantauan indeks kualitas udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, udara wilayah Rumbai—satu dari empat titik pantau— terus memburuk sejak awal September.
Berdasarkan parameter kiritikal indeks standar pencemaran udara PM10, mulai 1-3 September, kualitas udara di Rumbai, tidak sehat. Sehari kemudian sempat normal, tetapi kembali sangat tak sehat pada 7 September hingga level berbahaya pada 10-11 September. Selain Rumbai, kualitas udara di Tenayan Raya dan Libo juga tidak sehat.
Di Dumai, kualitas udara dua hari belakangan juga berbahaya atau menunjukkan warna hitam pada alat pengukur indeks pencemaran udara milik Chevron. Situasi itu mulai pukul 6.00 sampai menjelang siang dan bertahan pada kondisi tidak sehat.
Masalah Karhutla bukan sekedar hanya soal teknis saja melainkan paradigma riayah (kepengurusan) sebuah negara. Bagaimana sebuah negara mampu melayani dan menjaga kepentingan rakyatnya termasuk dalam hal kesehatan yang diakibatkan kebakaran hutan dan lahan.
Akar masalah harus menjadi prioritas sehingga solusi yang didapatkan mampu menyelesaikan segala persoalan yang ada. Tentu kita paham betul bahwa akar masalah yang sesungguhnya adalah sistem yang diterapkan negara yakni kapitalisme dengan asas manfaatnya yang menjadikan materi sebagai tujuan utama tanpa memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan khususnya keberlansungan hidup manusia.
Betapa kerugian yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan ini, kesehatan yang terancam bahkan kematian sesuatu hal yang tak terhindarkan.
Bukan hanya nyawa yang menjadi taruhan, kerugian materi pun mereka rasakan akibat kabut asap maka semua aktifitas masyarakat juga mengalami kendala termasuk kegiatan di Sekolah yang dihentikan.
Namun disayangkan, peran negara sampai saat ini belum bisa dibuktikan padahal masalah kebakaran hutan dan lahan bukan kali pertama terjadi namun semuanya itu tidak bisa dihindari dan dicegah sama sekali. Hal ini tentu tidak mengherankan karena negara sudah didikte oleh pihak korporasi yang terus menjadikan hutan sebagai lahan bangunan perusahaan. Sehingga mereka bebas dalam melakukan pembakaran hutan dan lahan karena itulah cara termudah dan murah.
Padahal di dalam Islam hutan tidak boleh dikuasai dan dikelola oleh pihak swasta demi kepentingan ekonomi mereka, karena hutan masuk kedalam kepemilikan umum yang wajib dikelola oleh negara.
Rasul saw bersabda: " Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Hadist ini menunjukan bahwa kaum muslim memiliki hak yang sama dalam ketiga perkara tadi dalam hal ini adalah hutan.
Segala musibah yang ditimpakan oleh Allah SWT terhadap manusia adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri termasuk kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sekarang ini.
Allah Berfirman: " Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)
(TQS. ar-Rum:41)
Sudah sepantasnya kini umat mencampakan sistem kapitalisme yang sudah terbukti menjadi penyebab banyak kerusakan dan menggantinya dengan sistem Islam dimana tiga pilar penting yakni ketakwaan individu akan terbentuk, kontrol masyarakat selalu terjaga, dan peran negara juga terbukti nyata dalam penegakan hukum dan sistem peraturan yang tegas, sehingga masala kebakaran hutan dan lahan ini bisa segera diakhiri. Dengan memberikan sanksi tegas kepada pelaku perusahaan liar dan menjadikan hutan sebagai harta milik umum yang mampu memberikan maslahat kepada seluruh rakyat.
Wallahu alam bish-sawab
.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.