Image result for bpjs naik

Oleh: Lina Revolt

Lagi-lagi rakyat diberi kado pahit dengan kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Pemerintah beralasan BPJS Kesehatan mengalami defisit. Tak tanggung-tanggung, kenaikan iuran mencapai 100% untuk kelas I dan II. Yaitu Rp.160.000 untuk kelas I dan Rp.110.000 untuk kelas II, sedangkan kelas III mengalami kenaikan 65% yaitu menjadi Rp. 42000/ bulan.
Tentu saja kenaikan ini semakin membebani rakyat, ditengah beratnya beban ekonomi dengan kenaikan berbagai kebutuhan pokok, listrik , LPG dan berbagai pajak yang memberatkan.
Parahnya, seluruh rakyat kini dipaksa mendaftar BPJS Kesehatan. Jika tidak, rakyat akan dipersulit mengurus kebutuhan publik lainnya. Seperti KTP, SIM, hingga mendaftar sekolah dan CPNS. Parahnya lagi, masyarakat tidak bisa mengundurkan diri. Keanggotaan BPJS Kesehatan bisa dinonaktifkan, jika meninggalkan dunia ini. Artinya, rakyat tidak diberi pilihan selain membayar premi sepanjang hidupnya, meski ia belum tentu membutuhkannya. Bahkan, bagi yang menunggak akan diutus ketua RT dan RW untuk menagihnya. Negara berubah menjadi rentenir dan aparatur negara menjadi debkeletornya.
Itulah buah penerapan sistem kapitalisme. Penguasa hanyalah regulator, sementara rakyat menjadi pembeli pelayanan yang disediakan pemerintah. BPJS Kesehatan sedari awal telah mengamputasi peran negara dalam mengurus rakyatnya.
Berbeda dengan sistem Islam. Islam memandang, bahwa kesehatan adalah kebutuhan dasar setiap individu. Maka, negara bertanggungjawab memenuhinya, karena pemimpin adalah pelayan rakyat. Rasulullah Saw bersabda :
" Imam(Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya. (HR. Al- Bukhari).
Oleh sebab itu, haram hukumnya pemimpin menjadi regulator atau fasilitator dan menjual pelayanan publik kepada rakyatnya.
Dalam Islam, negara wajib mengelola sumber pendapatan negara dengan baik. Sehingga negara memiliki kekuatan finansial yang memadai untuk mengurus segala kebutuhan rakyatnya, termasuk kesehatan. Fakta historis, kebijakan di bidang kesehatan yang pernah dijalankan oleh pemerintahan Islam sejak masa Rasul Saw hingga penerus beliau adalah pelayanan kesehatan gratis yang diberikan oleh negara (Khilafah) yang dibiayai dari kas Baitul Mal.
Raja Mesir, Muqauqis, pernah menghadiahkan seorang dokter kepada Nabi saw. Beliau menjadikan dokter itu untuk melayani seluruh kaum muslim secara gratis. Khalifah Umar bin al-Khaththab, menetapkan pembiayaan bagi para penderita lepra di Syam dari Baitul Mal. Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah membangun rumah sakit bagi pengobatan para penderita leprosia dan lepra serta kebutaan. Para dokter dan perawat yang merawat mereka digaji dari Baitul Mal.
Semua rakyat dilayani dengan sepenuh hati, bahkan yang berpura-pura sakit sekalipun. Begitulah sejarah mencatat begaimana Islam mampu mewujudkan kesehatan yang gratis dan berkualitas. Wallahu 'alam Bisshawab.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.