Oleh. Amila Shaliha

Radikal. Radikalisme. Kata satu ini beberapa waktu terakhir sering sekali kita dengar. Dimaknakan negatif sebagai bentuk pemahaman yang akan mengantarkan pada tindakan terorisme, pemecah belah antar ummat beragama, sampai mengancam stabilitas negara. Dilekatkan pada kelompok tertentu, ajaran tertentu, tujuannya agar masyarakat waspada hingga menjauhi pihak-pihak yang disematkan predikat radikal ini. Banyak cara dilakukan oleh pemerintah sebagai bentuk deradikalisasi. Saat ini pemerintah mencanangkan untuk menghapus materi tentang perang dalam pelajaran agama.
.
Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menyatakan, tidak ada lagi materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah. Hal itu diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2020. "Kita akan hapuskan materi tentang perang-perang di pelajaran SKI tahun depan. Berlaku untuk semua jenjang, mulai dari MI (madrasah ibtidaiyah) sampai MA (madrasah aliyah)," kata Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Ahmad Umar, di Jakarta, Jumat, (13/9). https://m.republika.co.id/…/kemenag-akan-hapus-materi-peran…
.
Alasan pemerintah melakukan hal ini, katanya, agar Islam tidak terus menerus dikaitkan dengan perang. Supaya terasa damai dan tumbuh toleransi antar umat agama lain. Mengapa pemerintah berpikir demikian, sementara dalam Islam sudah jelas syariatnya?
.
Perang yang juga masuk ke dalam pembahasan jihad, menjadi satu dari sekian banyak syariat yang sudah ditetapkan oleh Allah. Termaktub jelas dalam Al Qur'an dan dicontohkan pula oleh Rasulullah serta para sahabat.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah suatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al Baqarah: 216)
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ * الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلاَّ أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللهُ
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah" (QS:Al-Hajj: 39-40)
.
Syariat jihad, yang notabene adalah berperang, dalam Islam turun ketika Rasul sudah hijrah ke Madinah dan sudah cukup kekuatan yang terhimpun. Perang dimaksudkan untuk menegakkan Islam, melenyapkan halangan-halangan fisik dalam pengembanan dakwah, dan juga mempertahankan wilayah kaum muslimin. Perang dalam Islam pun tidak serta merta menyerang dan membunuh orang-orang kafir. Tapi perang yang memiliki adab dan ketentuan tertentu dalam pelaksanaannya.
.
Banyak sekali contoh peristiwa di masa lalu mengenai bagaimana Rasulullah dan kaum muslimin saat itu menjalani peperangan. Kita ambil contoh perang Khandaq. Kaum Yahudi Bani Nadhir-Quraisy dan Ghathafan bersekongkol untuk menyerang Madinah dan kaum Muslimin. Rasulullah membangun strategi dengan membuat parit mengelilingi kota Madinah. Di akhir peperangan, kaum muslimin dimenangkan oleh Allah SWT.
.
“Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan dia tidak pernah ikut berperang dan dia juga tidak pernah berniat untuk berperang, maka dia meninggal dunia dalam keadaan jahiliyah” (HR. Bukhori dan Muslim)
.
Terdapat dalam Al-Qur'an secara jelas juga dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat, mengapa harus kita abaikan dengan cara penghapusan materi perang karena dinilai keras? Sementara kita sebagai muslim sudah seharusnya masuk ke dalam Islam secara kaffah dengan tidak mengabaikan syariat berdasarkan hawa nafsu. Tidak bisa kita bersikap seakan tidak ada syariat tertentu hanya karena terasa buruk bagi kita manusia. Kita harus mewaspadai hal ini sebagai bentuk pengaburan syariat Islam dengan dalih menangkal radikalisme. Jangan sampai Allah tidak ridha kepada kita karena kita mengabaikan syariatNya. Na'udzubillahi min dzalik.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.