Oleh. Titin Kartini

Dunia pendidikan digemparkan oleh dua berita yang selama dua pekan terakhir ini menyita publik untuk ikut memberikan pandangan mereka tehadap dua masalah yang dialami dunia pendidikan di negeri ini.
.
Masalah pertama dialami oleh seorang mahasiswa berprestasi bernama Hikma Sanggala sampai banyaknya pembelaan terhadap sang mahasiswa dengan adanya hastag #SaveHikmaSanggala wara wiri di dunia maya.
.
Berawal dari sang mahasiswa yang mendapatkan ketidakadilan dari kampus tempatnya menuntut ilmu seperti diberitakan oleh kiblat.net
Seorang mahasiswa di Kampus IAIN Kendari, Hikma Sanggala dikeluarkan dari Kampus karena tuduhan tidak jelas. Pengacara Hikma dari LBH Pelita Umat, Chandra Purna Irawan mengatakan bahwa Kliennya dikeluarkan karena dituding berafiliasi dengan aliran sesat dan paham radikal.
.
Menurutnya, pada tanggal 27 Agustus 2019 lalu Kliennya menerima 2 surat sekaligus yaitu surat dari Dewan Kehormatan Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa nomor : 003/DK/VIII/2019 tentang Usulan Penjatuhan Terhadap Pelanggaran Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa IAIN Kendari Nomor 0653 Tahun 2019 Tentang Pemberhentian Dengan Tidak Hormat Sebagai Mahasiswa Institut Agama Islam Kendari.
Berita yang kedua adalah adanya seorang yang bergelar Doktor dengan disertasinya yang menghalalkan zina yang bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari para dosennya dengan nilai yang sangat memuaskan seperti diberitakan oleh Tempo.co.
.
Abdul Aziz, Doktor lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjelaskan tentang akad atau perjanjian hubungan intim diluar nikah yang dinilainya tidak melanggar hukum Islam. "Gambarannya persis seperti hidup bersama tanpa ikatan pernikahan (samen leven)", kata Abdul Aziz.
.
Dia menyampaikan disertasi bertema hubungan intim tanpa nikah dengan konsep Milk Al-Yamin dari Muhammad Syahrur. Aziz pun lulus dengan nilai yang memuaskan.
https://nasional.tempo.co/…/disertasi-hubungan-intim-tanpa-…
.
Miris rasanya menatap kondisi dunia pendidikan di negeri ini, yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. Indonesia meski mayoritas penduduknya beragama Islam, karena memiliki sistem negara sekular, jadilah sistem pendidikan dirancang untuk mengokohkan sistem sekularisme. Agama boleh ada tapi harus dipisahkan dari kehidupan.
.
Agama hanya sekadar mengatur moralitas dan ibadah ritual saja. Agama tidak boleh mengatur aspek publik seperti politik, ekonomi, atau pendidikan. Seperti halnya kasus yang dialami oleh Hikma Sanggala, Hikma hanya ingin memberikan solusi hakiki atas permasalahan yang menimpa negeri ini berdasarkan pandangan agama Islam. Tapi apa yang didapat? beliau malah dikeluarkan dari kampusnya atas nama mencegah paham radikal.
.
Musuh-musuh Islam tidak akan tinggal diam, mereka akan berusaha mencegah Islam politik tampil ke permukaan sebagai jati diri Islam yang sebenarnya. Mereka tidak ingin Islam terwujud di Indonesia secara kaffah, dan inilah yang ditakuti oleh mereka sehingga segala cara diupayakan oleh musuh-musuh Islam agar Islam tidak bangkit.
.
Sebaliknya, Doktor UIN Abdul Azis yang jelas-jelas sudah menistakan ajaran Islam yaitu menghalalkan zina malah diapresiasi. Kaum muslim harus menyadari ini adalah upaya barat untuk menyebarkan nilai-nilai liberal di negeri yang mayoritas muslim ini melalui kaki tangannya. berbagai upaya dilakukan agar Islam bisa menerima penafsiran baru yang datang dari luar Islam. Mereka menggiring umat Islam agar tercerabut dari akar pemahaman Islam yang sebenarnya. Dan inilah yang di inginkan oleh musuh-musuh Islam.
.
Segudang masalah di dunia pendidikan hakikatnya berakar pada sistem pendidikan sekular-liberal yang diterapkan di negeri ini. Sistem ini telah menjauhkan kaum muslim dari predikatnya sebagai umat terbaik. Sudah saatnya umat mencampakan sistem pendidikan sekular dan menegakkan sistem Islam. Agar lahir generasi yang berkualitas tinggi, yang mampu mengembalikan kemuliaan Islam dan kemuliaan kaum muslim.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.