Image result for perang dihapus dari kurikulum
Oleh : Zahrana Amatullah Khayr (Member Akademi Menulis Kreatif)

Geliat kebangkitan umat memang kian nampak. Kesadaran akan fakta bahwa umat tengah berada dalam cengkeraman musuh-musuh Islam pun kian nyata. Umat kini nyaris terbangun dari tidur panjangnya. Satu hentakan, dan raksasa yang tengah tidur pun dapat terbangun kapan saja.
Melihat ini, mereka para penentang Islam pun kian menyadari akan datangnya ancaman besar. Para penguasa tiran pun kian gusar. Mereka begitu takut dengan ancaman yang akan mengguncangkan kekuasaan mereka. Hingga berbagai daya upaya pun dilakukan demi menghadang umat dari kebangkitannya.
Di seluruh dunia, kita bisa melihat bagaimana Islam senantiasa ditekan. Negeri-negeri kaum muslim pun diporak-porandakan. Afghanistan, Irak, Mesir, Suriah hingga Yaman, menjadi beberapa di antara yang luluh lantak akibat skenario jahat yang menjauhkan umat dari kebangkitan. Palestina pun menjadi saksi sejarah betapa umat muslim tengah tertindas. Umat yang teraniaya seakan tak tak tau hendak kemana mencari suaka. Kaum kafir barat telah sukses 'menanamkan' penguasa-penguasa boneka di negeri-negeri mereka. Yang begitu kentara ke arah mana keberpihakkannya.
Indonesia sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia pun menjadi salah satu target bidikannya. Meski negeri ini memang tidak terjajah secara fisik, tak dapat dipungkiri bahwa negeri ini tengah berada dalam cengkeraman penjajah melalui berbagai aspek kehidupannya. Ekonomi dan politik menjadi dua di antara yang paling dominan peran asing di dalamnya. Tidak hanya itu, serangan pemikiran dan propaganda barat pun terus dilancarkan. Demi terus melemahkan umat dan menjauhkannya dari kebangkitan.
Meski dengan mem-babi-buta-nya hadangan dari rezim boneka yang ada, nyatanya fajar kebangkitan umat kian tak terelakkan. Hingga menimbulkan kepanikan dan penentangan yang kian keras dari rezim tiran. Rezim pun melancarkan berbagai siasat untuk menjegal umat Islam. Mulai dari kriminalisasi pada para ulama, pencabutan izin ormas yang menyeru penerapan Islam kaffah, monsterisasi ajaran khilafah, pelabelan bendera teroris pada bendera tauhid, hingga menggelontorkan isu tentang radikalisme dan intoleransi.
Propaganda rezim ini kini telah meluas dan menyasar semua kalangan. Mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN), masyarakat awam hingga kini menargetkan kaum milenial. Anak muda sebagai generasi penerus bangsa dianggap sebagai target potensial dalam menanamkan bibit anti radikalisme dan anti intoleransi.
Lihat saja bagaimana rezim mulai banyak turut campur dalam penentuan materi dalam kurikulum yang diajarkan pada siswa. Setelah sebelumnya pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) telah memutuskan untuk menghilangkan pembahasan tentang khilafah dalam materi pelajaran siswa-siswa Madrasah, kini Kemenag kembali membuat kebijakan yang sarat muatan de-Islamisasi. Meski diklaim sebagai upaya menjauhkan generasi Islam dari radikalisme (deradikalisasi) tetapi lebih tepat jika disebut de-Islamisasi. Sebab menjauhkan satu ajaran Islam sama saja menjauhkan Islam secara keseluruhan.
Diungkapkan oleh Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Ahmad Uma, bahwa pada tahun ajaran baru 2020, tidak akan ada lagi materi tentang perang di mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Baik untuk Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS) atau pun di Madrasah Aliyah (MA). Hal ini menurut Umar dilakukan agar Islam tidak lagi dianggap sebagai agama yang radikal, atau agama yang selalu saja dikaitkan dengan perang oleh masyarakat Indonesia. Sebagai gantinya akan dimasukkan materi tentang masa-masa kejayaan Islam. Baik itu kejayaan Islam di Indonesia atau Islam di dunia. Ini bertujuan untuk mengajarkan pada para siswa, bahwa Islam pernah sangat berjaya di masa lalu. Selain itu, dengan dihilangkannya materi tentang perang, diharapkan para siswa akan menjadi orang-orang yang punya toleransi tinggi kepada penganut agama-agama lainnya. (republika.co.id, 13/9/2019)
Apa yang dilakukan pemerintah melalui Kemenag ini tentu perlu dipertanyakan. Bagaimana tidak. Perang adalah salah satu bentuk upaya mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.Hal ini pun disebutkan dalam Al Qur'an yang merupakan kitab suci yang menjadi pedoman hidup setiap muslim di dunia. Dalam surat Al Baqarah ayat 216 Allah SWT berfirman yang artinya, "Diwajibkan atas kamu berperang padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui".
Maka, sudah jelas bahwa perang adalah bagian dari perintah Allah kepada kaum muslim. Meski pada fitrahnya manusia bisa jadi tidak menyukai peperangan. Namun, sejatinya perang dalam Islam adalah demi menyelamatkan umat manusia dari kekufuran. Sebab, jika seseorang dibiarkan dalam kekufuran tanpa ada yang menyerunya pada keimanan, niscaya ia pasti akan menemui kebinasan yang kekal di akhirat kelak. Perang dalam Islam hanya bertujuan untuk mengajak setiap umat manusia kepada Islam. Hal ini tentu amat jauh dari upaya-upaya perang yang dilakukan Barat yang hanya bertujuan dunia, kekuasaan dan tahta belaka.
Perang adalah bagian dari syariat Allah yang tidak mungkin dihilangkan. Ia tertera dengan begitu gamblang di dalam Al Qur'an. Dan kejayaan Islam di masa lalu pun diperoleh salah satunya berkat perang. Di mana pasukan kaum muslim datang ke sebuah negeri untuk menaklukkan. Dan menyinari negeri itu dengan cahaya keimanan.
Dan saat ini ketika syariat perang justru dipertanyakan dan hendak dihilangkan dari khazanah ajaran Islam, tentu memang ada tujuan besar di baliknya. Jika ajaran Allah saja diselisihi, bisa dipastikan ada barisan kaum munafik yang menunggangi. Maka, sejatinya upaya menghilangkan materi perang dari kurikulum yang ada hanyalah reaksi Islamophobia rezim pada kebangkitan umat Islam. Ini merupakan bagian dari proyek deradikalisasi rezim. Yang sejatinya hanyalah proyek untuk kian menjauhkan umat dari pemahaman yang benar atas agamanya.
Ini juga kian menunjukkan Islamophobia yang kian akut pada penguasa. Hingga dengan sadar meragukan legitimasi perang dalam Islam. Padahal tidak ada keraguan bahwa ia adalah bagian dari ajaran Islam. Tidak hanya dalam Al Qur'an, hadits-hadits nabi pun mengabarkan bahwa Rasul dan para sahabatnya pun dulu berperang. Tercatat tidak kurang 27 peperangan yang terjadi semasa Rasulullah hidup.
Meskipun demikian, bukan berarti Rasulullah SAW adalah seseorang yang menyukai perang dan tidak toleran terhadap penganut agama lain. Sebab, peperangan dalam Islam pun memiliki adab-adab yang tidak boleh dilanggar. Islam dalam peperangannya melarang untuk membunuh anak-anak, perempuan, orang tua dan orang yang sedang sakit. Dilarang pula melakukan pengkhianatan atau mutilasi. Tidak boleh mencabut atau membakar telapak tangan atau menebang pohon-pohon berbuah. Tidak boleh menyembelih domba, sapi atau unta, kecuali untuk makanan. Dilarang pula membunuh para biarawan di biara-biara, dan tidak membunuh mereka yang tengah beribadah. Serta dilarang menghancurkan desa dan kota juga tidak merusak ladang dan kebun.
Tawanan perang yang ada pun diperlakukan dengan penuh adab. Mereka diberikan makanan dan diberikan perawatan bagi yang terluka. Dan sejarah pun mencatat bahwa pada perang Badar yang terjadi tahun 624 M sebanyak 70 orang tawanan Makkah yang ditangkap dalam perang itu dibebaskan dengan atau tanpa tebusan. Mereka yang kalah perang pun tak pernah dipaksa untuk masuk Islam. Mereka diberikan pilihan akan tetap pada agama mereka atau beralih ke Islam. Jika mereka bersikukuh dengan agamanya, mereka akan dibiarkan dan diharuskan membayar jizyah saja.
Jadi, sungguh mengherankan jika Islam dikatakan sebagai agama yang intoleran sebab ada perintah perang di dalam syariatnya. Sebab, dalam prakteknya di sanalah aksi-aksi toleransi sejati terjadi. Dan sungguh amat berbeda dari peperangan yang dilakukan musuh-musuh Islam dalam memerangi orang Muslim. Yang sungguh jauh dari adab bahkan tidak berperikemanusiaan.
Maka, jelas sudah bahwasannya perang merupakan bagian dari syariat yang tidak dapat dihilangkan. Mengingkarinya tentu dapat berakibat lunturnya keimanan. Sebab, mengingkari satu ayat dalam Kitabullah sama saja mengingkari ayat Allah secara keseluruhan.
"Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (TQS. Al Baqarah: 85)
Wallahu a'lam bishshawab.

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.