Dakwah Jateng-, Gombong – Jawa Tengah. Tahun Baru Islam adalah momen yang senantiasa diperingati oleh umat Islam, dengan segala harapan dan semangat baru menjadi dorongan diadakannya pagelaran itu. Tidak terkecuali umat Islam yang ada di sekitar Kebumen, Purworejo, Magelang, Temanggung & Wonosobo.

Bertempat di Markaz Front Thoriqul Jihad (FTJ) Pesantren Al Daldiri - Kebumen menggelar acara Tabligh Akbar Menyambut Tahun Baru 1441 H Dipanegaran Kulon, pada Sabtu (31/09). Tema yang diangkat adalah: “Hijrah Menuju Islam Kaffah”

Acara dipandu Ust. Yahya Husein dari Gombong, dibuka dengan pengantar mengapa momen hijrah ini penting untuk diperingati. Karena Hijrah inilah umat Islam mendeklarasikan kemenangan sejati, menandingi peradaban yang sudah mapan saat itu. Namun penuh dengan penghambaan serta penyembahan kepada manusia. Sedangkan Islam dengan peradaban khas mampu menghadapi peradaban Romawi Barat dan Persia Timur, inilah tonggak kebangkitan.



Pada sambutan selamat datangnya Shahibul Fadhilah KH Saefuddin Khozaki Daldiri memanaskan suasana dengan mengingatkan, bahwa kewajiban umat ini sebagaimana tercantum dalam Surah Yasin adalah membumikan al Quran sepenuhnya sesuai dengan manhaj Rasulullah SAW. “Demi al Quran yang mejadi hakim, sungguh engkau Muhammad dari utusan Kami. Maka menjadikan al Quran sebagia hakim yang adil adalah dengan mengikuti Rasulullah SAW. Karenanya manusia harus Hijrah! Sistem khilafah ditegakkan negara makmur, kriminalitas diberantas!"

Sambutan kedua diberikan oleh Ustadz Ibnu Zaeroji, beliau menekankan pentingnya momentum tahun baru Hijriyah. “Hijrah Rasulullah & Ummat Islam menandai perubahan baru. Perubahan sistem kehidupan baru, dari yang jahiliyah menuju pada kegemilangan peradaban Islam. Inilah momentumpenting itu”

Kalimah minal ulama pertama disampaikan oleh KH Mukhlas Pengasuh Majlis Taqarrub Purwarejo. Sembari mengibarkan Liwa kecil beliau berpesan agar umat Islam senantiasa menjunjung tinggi dan memperjuangkan kalimat Tauhid. “Jangan sampai kita membaca doa kamilin tapi tidak diakui oleh Baginda Nabi Saw saat menuju Khaudz Beliau pada hari kiamat, kenapa? Karena kita benci Kalimat Tauhid, karena kita tidak berjuang menegakkan kalimat Tauhid ini, dengan tegaknya Syariah & Khilafah!”



KH Ibnu Mundzir, Pengasuh Majlis Ikhwanul Mukminin – Wonosobo. Beliau menyitir Surat Ibrahim Ayat 28. “Mereka para pemimpin telah menukar nikmat & hukum Allah, mereka telah menjerumuskan umatnya pada jurang kehancuran” Pesan beliau pada kondisi kekinian hendaknya membuat kita sadar pada arah perjuangan yang hakiki, pada hijrah yang sebenarnya.

KH. Rofiq Nur Hidayat Pengasuh Madrasah Daurut Tauhid Grabag - Purworejo, “Harapan di penghujung tahun, senantiasa bahagia dunia akhirat. Umat Islam akan menjumpai kebahagiaan hanya pada saat melaksanakan semua aturan-aturan Islam. Kita harus perjuangkan agar syariah dilaksanakan secara kaffah!”

Kalimah minal ulama selanjutnya dalam Tabigh Akbar ini disampaikan oleh Ustadz Munarsis, Pengasuh Majlis Tafsir Ibnu Katsir Gombong. Tidak kalah dengan pemaparan sebelumnya beliau menyampaikan bahwa pilar demokrasi di Indonesia sudah menuju keruntuhan. “Saat ini para ulama sudah mulai ‘turun gunung’ untuk mengawal pemahaman umat Islam menuju kebangkitan. Demikian juga emak-emak ideologis sudah mulai menyuarkan kebangkita Islam kaffah. Justru di saat mahasiswa telah loyo, mereka (Ulama & Emak-emak) menjadi pejuang yang sesungguhnya”

Dengan intonasi yang tenang dan bersahaja, KH Nashiruddin Pengasuh Majlis Bait al Quran Magelang menyampaikan makna yang terkandung dalam Surat al Isra 80. “Kenapa Rasulullah meminta Sulthonan nashiro? Karena sesungguhnya Allah SWT akan mencabut sesuatu yang tidak bisa dicabut (dihilangkan) kecuali dengan kekuasaan” Beliau berdoa semoga kita bisa hijrah menuju kebaikan dengan mendapatkan shultonan nashira.

Di tengah acara tampil aksi tiga orang pemuda dengan Liwa dan Raya, di antara mereka membacakan sebuah puisi yang bercerita tentang hijrah dan ukhuwah. Pembacaan  dengan penuh penjiwaan, diiringi suara latar yang menyentuh berhasil memukau hadirin. Di akhir pembacaan puisi serentak hadirin menyambut dengan kibaran Liwa & Raya serta lengkingan takbir susul menyusul.

Pada akhir acara Kyai Mustaqim dari Kebumen kembali menghanyutkan suasana hati hadirin dengan pembacaan doa dan permohonan yang khusyuk. Bermohon agar momentum hijrah kali ini menjadi sejarah tegaknya Islam kaffah, tegaknya khilafah dan yang hadir dicatat sebagai pejuang yang dengan tangan mereka khilafah diperjuangkan. Amin.. amin.. ya Rabbal ‘alamin

Acara yang dimulai sejak pukul 09:15 WIB berakhir pada 11:45  WIB ditutup dengan sesi foto bersama, tampak tokoh yang hadir antusias foto bersama ulama di atas panggung. Tidak kurang 450 peserta hadir dalam acara ini. Semoga nama Dipanegaran Kulon tercatat dalam lembaran sejarah sebagai basis perjuangan Islam Kaffah. Allahu akbar! [jim]

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.