demo GAN
Dokumen-dokumen rahasia mengungkapkan bahwa Inggris mengeksploitasi popularitas dan pengaruh Ikhwanul Muslimin untuk mengobarkan perang psikologis dan propaganda rahasia pada musuh-musuhnya, seperti terhadap mendiang pemimpin Mesir Gamal Abdel Nasser dan Sukarno, selama dekade ketujuh abad lalu. Menurut dokumen-dokumen itu, Inggris telah mempublikasikan pamflet yang berisi kebohongan atas nama Jamaah Ikhwanul Muslimin, yang isinya menyerang dengan keras perilaku tentara Mesir selama berada di Yaman (BBC Arab, 06/10/2019).
**** **** ****
Allah subhānahu wwa ta’āla berfirman: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (TQS. Al-Anfāl [8] : 30).
Pergolakan antara kebenaran dan kebatilan bukanlah hal baru, tetapi sudah lama sejak Allah subhānahu wa ta’āla menciptakan ciptaan-Nya. Namun tipu daya, kelicikan dan penipuan yang menyertai pergolakan ini adalah karakter yang melekat pada kaum kafir penjahat di setiap waktu dan tempat. Dalam hal ini, makar yang dilakukan oleh iblis terkutuk kepada Nabi Adam ‘alaihi as-salam tidak lain adalah di antara bukti-bukti atas kelicikan dan penipuan. Allah subhānahu wa ta’āla telah memberi tahu kita pada banyak ayat dalam Al-Qur’an tentang makar dan kelicikan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman untuk mencegah mereka dan menjadikan mereka kembali kafir setelah mereka masuk Islam, atau untuk memecah-belah mereka dan merobek-robek negaranya hingga menjadi negeri-negeri kecil yang saling bermusuhan, seperti yang dilakukan Inggris sebelum dan sesudah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.
Dokumen-dokumen rahasia ini, mengungkapkan tentang kejahatan Inggris dan kelicikannya dalam mempermainkan emosi kaum Muslim. Sungguh, semua ini tidak lain adalah bukti kebencian kaum Salibis penjahat, dan ketamakan mereka untuk melakukan apa pun demi mencapai kepentingan mereka, serta menancapkan pengaruhnya dan dominasinya atas negeri-negeri kaum Muslim dan kekayaannya. Ini juga merupakan tamparan bagi para pengikut kaum kafir penjajah dan mereka yang telah tercuci otaknya, yaitu mereka yang selama ini mengkampanyekan tentang “integritas” kaum kafir Barat, dan “ketulusan” niatnya.
Dokumen-dokumen ini harus menjadi alasan bagi kaum Muslim pada umumnya, dan gerakan-gerakan Islam khususnya agar mereka mempersenjatai dirinya dengan kesadaran atas berbagai konspirasi yang terjadi di sekitarnya, serta berhati-hati bahwa negara-negara kafir tengah menggunakannya sebagai alat untuk melayani setiap agenda mereka, serta mengetahui intrik dan trik yang dijalankan oleh kaum kafir Barat dan antek-anteknya, terutama pada masa sekarang di mana umat tengah bangkit melakukan perlawanan dan revolusinya terhadap boneka-boneka kaum kafir Barat dan para tokohnya. Ingat! Bahwasannya, “orang beriman itu adalah orang yang cerdas, pintar dan berhati-hati,” begitulah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama. [Walid Blaibel]
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 11/10/2019.

terorisme
Narasi terorisme dibangun pasca insiden penusukan Menko Polhukam Wiranto. Direktur Perlindungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Herwan Chaidir, sebagaimana dikutip dari detik.com, Senin (14/10/2019)
“Untuk melihat yang bersangkutan itu terafiliasi kelompok teror atau tidak, bukan dari tampilan fisik, berjanggut, celana cingkrang, keningnya hitam,” kata Chaidir.
Menanggapi ujaran Chaidir, Direktur el Harokah Research Center, Ahmad Fathoni memberi tanggapan jika framing yang dibangun seperti itu, kepercayaan masyarakat kepada aparat akan makin tergerus.
“Disamping itu, dengan ucapan yang provokatif seperti itu justru bisa menyemai benih kebencian dari masyarakat.” Ujar Fathoni.
Fathoni juga menanggapu, operasi penyergapan sebagian terduga teroris itu menampilkan metode operasi aparat Densus 88 yang provokatif. Betapa tidak, aparat Densus mengeksekusi orang yang baru terduga teroris.
“Terhadap aparat dan bisa melahirkan aksi pembalasan. Maka wajar jika ada anggapan bahwa operasi kontraterorisme seperti itu bukannya untuk mengakhiri aksi teror, tetapi justru melanggengkan terorisme demi berbagai kepentingan dan tujuan.” Imbuh Fathoni.
“Ada beberapa kebijakan pemerintah yang dianggap sebagian pihak makin menegaskan bahwa program kontraterorisme memang menyasar Islam dan para aktifisnya.” Paparnya.
“Betapa tidak, sekedar berjanggut, celana cingkrang, keningnya hitam sudah digambarkan ciri-ciri teroris, ironis!” Pungkasnya. []

radikalisme

Menyikapi isu terorisme yang menyeruak kembali pasca penusukan Menko Polhukam Wiranto yang dilakukan oleh oknum tertentu, Analis Senior PKAD Fajar Kurniawan berpendapat bahwa ada sejumlah fakta begitu mudahnya melabeli sebagai terorisme jika yang melakukan adalah muslim.
“Namun kenapa perusuh dan pelaku makar yang diduga dilakukan oleh OPM tidak dilabeli sebagai terorisme. Padahal jelas dilakukan oleh OPM secara terorganisir, sistematis dan dilatarbelakangi tujuan politik separatisme untuk memisahkan diri dari negara RI.” Ujar Fajar , Selasa (15/10/2019).
Ia menjelaskan semua itu menegaskan bahwa program kontraterorisme di negeri ini sepenuhnya tetap mengadopsi dan mengekor pada war on terrorisme yang dipimpin oleh AS.
“Selama tetap seperti itu maka Islam dan umat Islam akan terus menjadi sasaran. Hanya ironisnya itu terjadi di negeri ini yang mayoritas penduduknya adalah muslim.” Tegas Fajar.
Ia menghimbau umat Islam tidak boleh diam. Umat Islam harus bersuara mengkritik dan menolak program kontraterorisme ala barat (AS) itu.
“Sebab hal itu hanya akan memperdalam cengkeraman barat (AS) terhadap negeri ini dan nasib umat Islam. Lebih dari itu, semua itu jelas merupakan kezaliman terhadap umat Islam.” Pungkasnya.
Sebelumnya Fajar mengkritisi stereotip bahwa radikalis yang dicirikan mendirikan khilafah sebagaimana yang diungkap Direktur Perlindungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Herwan Chaidir.
Fajar menanggapi, justru fengan menerapkan Islam secara kaffah dalam institusi negara, kebaikan Islam baru akan dapat dirasakan oleh seluruh manusia di dunia.
“Jangan pobhia dengan Islam. Islam tidak memerlukan label-label Barat yang keji dan menyesatkan. Islam ya Islam. Islam moderat yang diinginkan oleh Barat adalah Islam yang menafikan penerapan syariah Islam secara kaffah oleh negara. Sebabnya, tegaknya Daulah Islam adalah ancaman terbesar bagi ideologi Kapitalisme di seluruh dunia.” Pungkas Fajar. []
sumber : mediaumat.news

MBS pamer senjata AS
Situs aljazeera.net (11/10/2019) – Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Arab Saudi telah sepakat untuk membayar kepada Amerika Serikat sebagai kompensasi atas pengiriman pasukan Amerika ke kawasan itu, menyusul serangan terhadap fasilitas minyak milik perusahaan Aramco. Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa pengiriman pasukan ke Timur Tengah harus bergantung pada dapat tidaknya pembiayaan.
Trump berkata: “Kami mengirim tentara dan hal-hal lain ke Timur Tengah untuk membantu Arab Saudi, tetapi apakah Anda siap? Permintaan saya kepada Arab Saudi untuk sepakat membayar kami sebagai kompensasi atas semua yang kami lakukan. Ini pertama yang kami minta …  Arab Saudi dan negara-negara lain … Sekarang, Arab Saudi telah sepakat untuk membayar kami, dan kami menilai ini baik.”
Menteri Pertahanan AS Mark Thomas Esper telah mengindikasikan niat negaranya untuk mengirim tiga ribu tentara tambahan ke Arab Saudi atas permintaan Putra Mahkota, Muhammad bin Salman.
Mereka yang berpikir bahwa Amerika Serikat sedang melaksanakan kontrak keamanan untuk Arab Saudi adalah salah besar. Sebab Amerika yang mendorong Iran untuk meningkatkan ancamannya ke Arab Saudi, seperti serangan Aramco, di mana dengan cepat Amerika Serikat menuduh Iran sebagai pelakunya. Kemudian Amerika meminta Arab Saudi membalas ancaman-ancaman Iran, juga Amerika meminta Arab Saudi untuk memelas bantuan tentara Amerika dan membayar kompensasinya harta yang banyak  dan mencukupi, dengan mengosongkan kantong-kantong minyak Saudi dalam permainan terbuka. 
Sungguh, perang ancaman ini dapat berkembang menjadi perang nyata. Amerika Serikat sedang menekan semua pihak, Iran dan sekte-sektenya, serta Arab Saudi dan aliansinya. Ini dilakukan oleh Amerika Serikat dengan harapan dapat menyelesaikan situasi ekonomi yang memburuk di negerinya, serta bertujuan meningkatkan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah dan dunia (kantor berita HT, 13/10/2019).

syirkah
Syuf’ah, secara harfiah, adalah menggabungkan, seperti “Syafa’tu ar-rak’ata” [Aku menggabungkan rakaat, dari ganjil menjadi genap]. Dalam Q.s. al-Fajr: 3, “Demi shalat yang genap dan ganjil.” Shalat Syaf’i [genap], lawannya Shalat Watr [ganjil].
Dalam konteks Fiqih Mu’amalah, istilah syuf’ah digunakan untuk sesuatu yang dijual, yang diperoleh oleh mitra kerja sama [syarik], atau tetangga, dengan paksa, dengan harga yang telah digunakan untuk membeli/menjualnya [al-‘Allamah Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah, Juz II/1166].
Syuf’ah ini disyariatkan berdasarkan hadits Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama“Rasulullah Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama telah memutuskan terjadinya syuf’ah terhadap apa saja yang belum dibagi. Jika batasan sudah terjadi, dan jalan telah alihkan, maka tak ada syuf’ah.” [HR Bukhari]
Syuf’ah terjadi, karena dua sebab. Pertama, kepemilikan bersama, karena adanya syarikah, baik karena syarikah amlak maupun ‘uqud, atau kepemilikan bersama atas kepemilikan umum, atau hak menahan agunan. Kedua, hubungan pertetanggaan berdasarkan hadits di atas. Karena memang syuf’ah disyariatkan untuk menghindari terjadinya mudharat, baik dari maupun terhadap tetangga.
Karena itu, syuf’ah ini bisa berlaku untuk tanah, rumah, sumur, penggilingan, hewan, dan lain-lain selama belum dibagi. Syuf’ah juga bisa berlaku untuk jalan, saluran air, tempat minum bersama, begitu juga tempat-tempat umum, seperti hutan, padang gembalaan, dan lain-lain.
Dalam syuf’ah ini ada empat hal yang harus diperhatikan: pertamamasyfu’ fih, yaitu properti yang ingin dimiliki oleh syafi’Keduamasyfu’ bih, yaitu properti yang dengannya, syafi’ berhak meminta hak syuf’ah-nya. Ketigamasyfu’ ‘alaih, yaitu orang yang kepemilikannya atas masyfu’ fihi, berpindah darinya, melalui pembelian dan sejenisnya. Keempatsyafi’, pihak yang meminta haknya, atas masyfu’ fih sebagai bentuk pengembalian haknya.
Orang yang mempunyai hak syuf’ah, berhak menuntut haknya, jika mitranya menjual barang yang di situ ada haknya. Dengan syarat, tuntutan tersebut harus segera dilakukan, begitu mengetahui penjualan barang tersebut. Tetapi, jika mitranya tersebut berada di wilayah lain yang jauh, maka wajib memberikan kesaksian bahwa dia menuntut haknya atas kepemilikan tersebut, setelah itu dia bisa memberitahukan kepada penjualnya, bahwa dia menuntut hak Syuf’ah-nya dengan segera, tanpa ditunda lagi.
Orang yang berhak menuntut hak syuf’ah adalah orang yang mempunyai hak kepemilikan atas barang yang dijual mitranya. Barang yang dijual, sebagai milik bersama, itu bisa berupa barang bergerak [manqulat] dan tidak bergerak [ghair manqulat]. Hanya saja, untuk barang yang bergerak, disyaratkan kepemilikannya berdasarkan syarikah, bukan karena pertetanggaan.
Syarat-Syarat Mengambil Syuf’ah
Dalam syuf’ah ini ada empat hal yang harus diperhatikan: Pertamamasyfu’ fih, yaitu properti yang ingin dimiliki oleh syafi’Keduamasyfu’ bih, yaitu properti yang dengannya, syafi’ berhak meminta hak syuf’ah-nya. Ketigamasyfu’ ‘alaih, yaitu orang yang kepemilikannya atas masyfu’ fihi, berpindah darinya, melalui pembelian dan sejenisnya. Keempatsyafi’, pihak yang meminta haknya, atas masyfu’ fih sebagai bentuk pengembalian haknya.

Syarat dalam mengambil syuf’ah itu:
  1. Masyfu’ fih (properti yang ingin dimiliki oleh syafi’) berupa kepemilikan, atau bergerak.
  2. Masyfu’ fih (properti yang ingin dimiliki oleh syafi’) lepas dari kepemilikan pemiliknya dengan disertai kompensasi (mu’awadhah), tidak gratis. Adanya kompensasi dalam perukaran ini mengeluarkan hak pada warisan, wasiat, hibah, wakaf, atau mahar, pengganti khulu’, atau diyat.
  3. Lepasnya kepemilikan penjual atas barang yang dijual, atau hilangnya hak dirinya atas barang itu. Jika khiyar (pilihan antara membatalkan dan melanjutkan akad) berlaku bagi kedua pihak, atau salah satunya, maka tidak ada syuf’ah, hingga khiyar tersebut berakhir. Karena, akad yang disertai khiyar tidak bersifat lazim (mengikat), dan ada kemungkinan masih bisa dibatalkan. Maka, dia harus memberitahukan keinginannya dalam syuf’ah. Begitu juga, jika akad tersebut rusak.
  4. Hendaknya syafi’ (pemilik masyfu’ bih) pada waktu jual-beli, untuk tujuan pemutusan, mempunyai hak atas syuf’ah-nya.
  5. Hendaknya syafi’ (pemilik masyfu’ bih) pada waktu jual-beli menunjukkan ketidakrelaan terhadap jual-beli tersebut. Karena itu, dia berhak mendapatkan hak atas syuf’ah-nya. Jika dia rela, maka tidak berhak menuntut hak atas syuf’ah-nya.
  6. Memang ada beberapa kondisi:
    1. Ketika syafi’ (pemilik masyfu’ bih) merelakan hak atas syuf’ah-nya, karena berharap yang membeli adalah orang yang baik, dan sebagaimana yang dimaksud. Tetapi, di kemudian hari akhirnya terbukti bukan, atau orang lain, maka saat itu, syafi’ (pemilik masyfu’ bih) berhak atas hak syuf’ah-nya, dan boleh menuntut haknya, dan tuntutan tersebut harus dipenuhi.
    2. Ketika syafi’ (pemilik masyfu’ bih) telah membayarkan harga atas hak atas syuf’ah temannya, dengan harga yang tingga. Di kemudian hari akhirnya terbukti, harganya lebih rendah, maka saat itu, syafi’ (pemilik masyfu’ bih) berhak atas hak syuf’ah-nya, dan boleh menuntut haknya, dan tuntutan tersebut harus dipenuhi.
    3. Ketika ada syafi’ (pemilik masyfu’ bih) mendaptakn informasi, bahwa yang dijual itu adalah separuh rumahnya, sehingga dia menerika hak atas syuf’ah-nya, ternyata kemudian dia tahu, yang dijual itu seluruh rumah, maka saat itu, syafi’ (pemilik masyfu’ bih) berhak atas hak syuf’ah-nya, dan boleh menuntut haknya, dan tuntutan tersebut harus dipenuhi.
  7. Syafi’ (pemilik masyfu’ bih) harus menuntut harga atas hak syuf’ah-nya sesegera mungkin, tidak ditunda-tunda, sebagaimana dinyatakan dalam hadits, Syuf’ah itu milik orang yang segera menyambarnya.” Artinya, begitu dia tahu, harus segera menuntut hak syuf’ah-nya, dan tuntutan tersebut harus dipenuhi.
  8. Syafi’ (pemilik masyfu’ bih) harus menyatakan di hadapan saksi, mengenai keinginannya menuntut harga atas hak syuf’ah-nya di hadapan penjualnya, jika masih di tangan dia. atau kemungkinan kedua, dinyatakan di hadapan pembelinya, jika barang itu sudah di tangan pembeli. jika, dia posisinya jauh, atau tidak berada di TKP, maka dia bisa menyatakan di hadapan saksi sendiri, dan mengirimkan surat kesaksian, atau utusan, kepada syafi’ yang lain. jika tidak, maka dia tidak berhak atas hak syuf’ah-
  9. Dia juga harus menyatakan tuntutannya di hadapan pengadilan, untuk diputuskan berhak atas hak syuf’ah-nya, jika memang diperlukan.
Inilah ketentuan umum tentang syuf’ah, dan bagaimana klaim atasnya bisa ditunaikan. Dengan begitu, diharapkan tidak ada lagi konflik di antara para syafi’, atas hak syuf’ah-nya. Karena tujuan asal muamalah adalah menghilangkan perselisihan. Wallahu a’lam. [] HAR
Sumber: Tabloid Mediaumat Edisi 250

penusukan wiranto
Perbincangan tentang penusukan Wiranto masih terus bergulir di media sosial. Warganet terpolarisasi menjadi dua kelompok, yang pertama tidak percaya terhadap kejadian itu alias menyebut itu rekayasa, yang kedua percaya dengan peristiwa tersebut.
Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVOne mengangkat tema itu dalam tayangannya Selasa ( 15/10).  Analis Media Rustika Herlambang yang menjadi narasumber acara itu mengungkapkan, alasan ketidakpercayaan masyarakat terhadap apa yang terjadi pada diri Wiranto masih besar.
Ia menjelaskan, awalnya Wiranto mendapat empati cukup besar di awal kejadian, lalu berubah. Masyarakat tidak empati. “Karena salah satunya adalah, mohon maaf, beberapa informasi yang disampaikan ke masyarakat itu tidak masuk di akal mereka,” kata Rustika.
Ia mencontohkan, muncul pernyataan bahwa darah yang keluar dari Pak Wiranto itu sebanyak 3,5 liter. Isu ini akhirnya besar.
“Kedua adalah, kenapa informasi yang muncul dari politisi, bukan dari dokter, jadi itu sih yang jadi pertanyaan.”
Menurutnya, kesimpangsiuran informasi terkait Wiranto membuat publik tidak percaya dan ragu-ragu.
Karni Ilyas sendiri menyayangkan pihak rumah sakit yang tidak cepat memberikan informasi, sehingga muncul dugaan rekayasa. “Dan kalau tidak ada masa dirawat sekian lama, lagipula kalau itu rekayasa, sudah berapa orang yang melihat Pak Wiranto ke rumah sakit, pastilah ketahuan bahwa rekayasa.”
Yang lebih disayangkan lagi, pihak RSPAD Gatot Subroto pun tidak bersedia hadir di acara ILC. “Kita malam ini kami mencoba mengundang dari RSPAD, tapi tidak ada yang bersedia datang,” kata Karni. []

Image result for wamena rusuh
Oleh : Maryati Al Fikru

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof M. Din Syamsuddin menyampaikan keprihatiannya atas jatuhnya korban jiwa dan luka-luka di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua.
“Kita semua yang memiliki hati nurani sangat sedih mengetahui terjadinya tindak kekerasan di Wamena yang menimbulkan puluhan korban tewas mengenaskan dan ratusan lain mengalami luka-luka berat dan ringan,” ungkap Din, seperti disampaikan pada PWMU.CO, Sabtu (28/9/19) siang.
Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2005-2015 itu, kejadian tersebut tidak terlepas dari peristiwa di Papua sejak beberapa waktu lalu berupa aksi unjuk rasa di Sorong, Manokwari, Jayapura, dan tempat-tempat lain seperti di Ibu Kota Jakarta yang memprotes ketidakadilan dan bahkan menuntut kemerdekaan.
“Seyogyanya gerakan protes itu sudah bisa diatasi dan diantisipasi, dan terutama faktor pemicunya di Surabaya berupa penghinaan terhadap orang Papua sudah harus cepat ditindak tegas. Tapi, kita menyesalkan respon aparat keamanan dan penegakan hukum sangat lamban dan tidak adil,” kata Din.
Kalau hal demikian berlanjut, sambungnya, maka akan dapat disimpulkan bahwa negara tidak hadir membela rakyatnya. “Negara gagal menjalankan amanat konstitusi yakni melindungi rakyat dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Di berbagai tempat lain aparat keamanan dan penegak hukum terkesan dan patut diduga berperilaku tidak adil dalam menghadapi aksi unjuk rasa yang sebenarnya absah di alam demokrasi.
Menurut dia, pemerintah terjebak ke dalam sikap otoriter dan represif yang hanya akan mengundang perlawanan rakyat yang tidak semestinya. Oleh karena itu Din berpesan kepada semua pihak, khususnya pemangku amanat baik pemerintah maupun wakil rakyat, agar segera menanggulangi keadaan dengan penuh kesadaran akan kewajiban dan tanggung jawab.
“Hindari perasaan benar sendiri bahwa negara boleh dan bisa berbuat apa saja, baik ‘membunuh rakyatnya’ atau membiarkan rakyatnya dibunuh oleh sesama dan negara tidak bisa berbuat apa-apa,” pesan Din.
Mengutip kompas.com pada kerusuhan yang terjadi di Kota Wamena, Senin (23/9/19), massa membakar 5 perkantoran, 80 mobil, 30 motor dan 150 ruko. Hingga Selasa (24/9/19) malam, total 28 jenazah telah ditemukan 70 orang luka-luka. Selain itu, sekitar 5.000 warga mengungsi di 4 titik pengungsian. (*)
Apa yang terjadi di Wamena dan kota-kota lain di Papua menunjukkan kegagalan pemerintah di dalam melindungi harta dan jiwa masyarakat.
Ketika harta dan jiwa masyarakat tidak terlindungi maka pantaslah masyarakat merasa tidak aman.
Padahal ini adalah hak yang paling dasar yang menjadi kewajiban negara untuk melindunginya.
Karena itu pentingnya umat untuk menyeru agar pemerintah meningkatkan kemampuan didalam melindungi warga yang berada di wilayah-wilayah rawan konflik sosial dan politik sebagai mana yang terjadi saat ini.
Jika menilik dari keterangan di atas bahwasannya kerusuhan yang terjadi di Wamena adalah buntut dari terjadinya aksi-aksi sebelumnya yakni unjuk rasa di Sorong, Manokwari, Jayapura dan tempat-tempat lain seperti di ibukota Jakarta yang memprotes ketidakadilan dan hingga menuntut kemerdekaan.
Juga didapati di Surabaya adanya penghinaan terhadap orang Papua.
Namun sangat disayangkan dari pihak penguasa seolah menutup mata dan tak peduli. Seandainya penguasa responsif dan menindak tegas sejak awal maka kejadian yang dialami Wamena saat ini tak kan terjadi.
Benarlah apa yang di sampaikan beliau diatasi dalam kesimpulannya bahwa negara tidak hadir membela rakyat nya.
Negara gagal dalam menjalankan amanat konstitusi yakni melindungi rakyat dan tumpah darah Indonesia.
Bahkan yang terjadi saat ini aparat keamanan dan penegak hukum dijadikan alat gebuk oleh penguasa.
Sehingga wajar ketika umat menganggap pemerintahan saat ini otoriter dan represif yang hanya akan menimbulkan perlawanan rakyat.
Betapa tidak. Yang terindra oleh rakyat seolah penguasa merasa benar sendiri sehingga negara berhak melakukan apa saja baik membunuh rakyatnya ataupun membiarkan rakyatnya dibunuh oleh sesamanya.
Hal ini dapat disaksikan kondisi sedang kacau-balau penguasa justru bersikap masa bodoh ketika Papua semakin bergejolak dan menelan banyak korban.
Dan yang paling menyakitkan penguasa yang di harapkan untuk menolong dan membantu mereka, justru tengah asyik berfoto ria dengan keluarganya bahkan menyelenggarakan konser dan joget-joget bersama.
na'udzubillah.
Untuk itu dengan keadaan demikian mustahil rakyat berharap keadilan kepada penguasa, aparat keamanan dan penegak hukum.
Contohnya ketika aparat menghadapi Para mahasiswa yang berusaha menyampaikan aspirasinya. Mereka (aparat) begitu brutal,sadis juga bengis.
Namun disisi lain aparat melempem ketika menghadapi OPM yang jelas-jelas makar dan membahayakan NKRI hingga banyak menelan korban jiwa dari rakyatnya sendiri.
Tindakan aparat ini sungguh tidak adil.
Dari contoh tersebut begitu nyata bahwa penguasa hanya akan menindak keras terhadap mereka yang mengusik kebijakan-kebijakan dalam kekuasaan mereka sekalipun itu rakyatnya sendiri.
Itu semua tak lepas dari sistem demokrasi yang bercokol di negeri ini.
Menjadikan penguasa tunduk dan menjadi antek asing. Akibatnya semua kebijakan-kebijakannya sesuai pesanan asing tanpa lagi mengindahkan kepentingan rakyatnya.
Sehingga penguasa hari ini tak berdaya melawan makar asing tersebut.
Karenanya ketika ada yang berupaya mengusik kebijakan mereka,apapun caranya akan mereka tempuh walaupun harus menjadikan rakyat sendiri sebagai tumbalnya.
Inilah saatnya umat Islam untuk memilih pemimpin yang siap menerapkan aturan Islam secara kaffah.
Karena umat tak mungkin lagi berharap pada Demokrasi yang jelas-jelas sistem kufur buatan manusia yang penuh dengan kelemahan yang hanya bisa mengakibatkan kesengsaraan dan kebinasaan.
Hanya Kepemimpinan Islam yang mampu menyatukan Papua termasuk menghadapi makar asing.
Seorang pemimpin/kepala negara dalam Islam akan melindungi kesucian serta menjaga kehormatan, agar rakyat dapat beraktifitas dalam kehidupan mereka, dan bepergian kemanapun secara aman dari tindakan penipuan terhadap jiwa atau hartanya. Sebagaimana
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ
“Sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah perisai, rakyat akan berperang di belakangnya serta berlindung dengannya. Apabila ia memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta bertindak adil, maka ia akan mendapat pahala. Tetapi jika ia memerintahkan dengan selain itu, maka ia akan mendapat akibat buruk hasil perbuatannya.” [Hadis Riwayat Muslim, 9/376, no. 3428]
Itulah pentingnya kepemimpinan dalam Islam. Seorang pemimpin (kholifah) bertanggungjawab sebagai pelindung sekaligus periayah umat. Pelindung bagi jiwa dan harta nya.

Dalam konteks media sosial, arti buzzer adalah orang yang mempromosikan, mengampanyekan, atau mendengungkan sesuatu, baik itu produk atau isu tertentu melalui postingan di akun media sosialnya. (Lihat www[dot]maxmanroe[dot]com)
Pada zaman Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, media penyampaian informasi, penggiringan opini (framing), bahkan penyebaran berita bohong (hoax) adalah melalui syair. Para penyair handal dan terkenal adalah yang bisa mengendalikan opini.
Kala itu, belum zamannya media sosial, di mana para pendengung adalah mereka yang follower-nya banyak. Di antara tujuan penyampaian opini adalah meyakinkan publik terhadap topik, produk, dan tokoh yang dikampanyekan.
Penyair besar dan handal yang dimiliki orang Quraisy adalah al-Walid al-Mughirah. Ia adalah buzzer kekuasaan yang “bekerja” untuk menyenangkan kaumnya. Ia buzzer istana yang sangat mahir dalam kendalikan opini publik. Pada akhirnya ia mati, sementara kebencian sudah teramat dalam merasuk dalam jiwanya.
Al-Walid dipilih karena kedudukan dan kecerdasannya. Sebagai tokoh, ia turun langsung. Bukan dengan menyewa para buzzer kelas teri yang baru belajar sastra. Tugas kaumnya adalah meng-amplifying opini yang dibangun.
Pada zaman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pendengung yang tampil bukan hanya yang memiliki pengaruh semisal pengaruh di media sosial seperti sekarang ini. Tetapi benar-benar yang memiliki kualitas dalam karya sastra (penyair kawakan), kedudukan yang tinggi di kaumnya dan memiliki kecerdasan yang melebihi orang kebanyakan. Ia bukan pencari nasi bungkus atau sebagai buzzer bayaran, karena ia memiliki kekayaan yang berlimpah. Salah satunya adalah al-Walid bin al-Mughirah.
Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan terkait al-Walid dalam QS. al-Mudatsir [74] : 11-26,
“Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang Aku sendiri telah menciptakannya.[11] Dan Aku berikan baginya kekayaan yang melimpah.[12] Dan anak-anak yang selalu bersamanya.[13] Dan Aku berikan kepadanya kelapangan (hidup) yang seluas-luasnya.[14] Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya.[15] Tidak bisa! Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami (Alquran).[16] Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan.[17] Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan.[18] Maka celakalah dia, bagaimana dia menetapkan?[19] Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? [20] Kemudian dia memikirkan.[21] Lalu berwajah masam dan cemberut.[22] Kemudian berpaling dan menyombongkan diri.[23] Lalu dia berkata, “(Alquran) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu).[24] Inilah hanyalah perkataan manusia.[25] ”Kelak Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Saqar.[26]” (QS. Al-Mudatsir [74] : 11-26).
Imam al-Suyuthi, al-Qurthubi, al-Thabari, Ibnu Katsir, dan lain-lain sepakat bahwa yang dimaksud surat al-Mudatsir ayat 11-26 adalah al-Walid bin al-Mughirah. Al-Walid mendapatkan limpahan kebaikan, namun ia menentang Alquran.
Bukan hanya itu, ia membuat narasi bohong (hoax) bahwa Alquran adalah sihir yang dipelajari. Berarti Muhammad bin Abdullah juga adalah tukang sihir. Narasi itu diopinikan kepada kaumnya, dengan tujuan untuk meyakinkan dan menyenangkan kaumnya.
Untuk mengetahui cara kerja al-Walid dalam menggiring opini, mari kita simak riwayat dalam al-Mustadrak al-Hakim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu (di mana Imam al-Hakim menilai riwayat ini sahih sesuai dengan syarat Imam al-Bukhari) sebagai berikut:
Dari Ibnu Abbas bahwa al-Walid bin al-Mughirah menemui Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah membacakan Alquran kepadanya. Sepertinya Alquran itu melembutkan kekufuran al-Walid. Kabar ini sampai ke telinga Abu Jahal. Ia pun datang menemui al-Walid.
Abu Jahal mengatakan, “Wahai Paman, sesungguhnya kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.” “Untuk apa?” tanya al-Walid. “Untukmu. Karena engkau datang menemui Muhammad untuk menentang ajaran sebelumnya (ajaran nenek moyang).”
Al-Walid bin al-Mughirah menanggapi, “Orang-orang Quraisy tahu, kalau aku termasuk yang paling kaya di antara mereka.”
“Ucapkanlah suatu perkataan yang menunjukkan kalau engkau mengingkari Alquran atau engkau membencinya.”, kata Abu Jahal. Al-Walid mengatakan,
وماذا أقول؟ فوالله! ما فيكم رجل أعلم بالأشعار مني، ولا أعلم برجز ولا بقصيدة مني، ولا بأشعار الجن، والله! ما يشبه الذي يقول شيئا من هذا، ووالله! إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله، وإنه ليعلو وما يعلى، وإنه ليحطم ما تحته
“Apa menurutmu yang harus kukatakan pada mereka? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yang lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidah-nya yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu tidak serupa dengan ini semua. Juga bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada di bawahnya.”
Abu Jahal bersikukuh agar al-Walid mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang-orang Quraisy ridha. Ia berkata, “Kaummu tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mengatakan sesuatu yang buruk tentang Alquran itu.”
“Jika demikian, tinggalkanlah aku biar aku berpikir dulu,” kata al-Walid.
Setelah berpikir, al-Walid mengatakan, “Alquran ini adalah sihir yang dipelajari. Muhammad mempelajarinya dari orang lain.”
Kemudian Allah menurunkan firman-Nya surat al-Mudatsir ayat 11. Dari ayat 11 dan beberapa ayat seterusnya bercerita tentang al-Walid bin al-Mughirah yang divonis akan mendapatkan azab yang pedih di neraka.
Kisah tersebut, selain dalam al-Mustadrak, juga bisa dijumpai dalam Sunan Kubra Imam al-Baihaqi dan al-Bidayah wa al-Nihayah Imam Ibnu Katsir.
Sebelumnya, al-Walid berdialog dengan kaumnya tentang apa yang pas untuk julukan kepada Nabi Muhammad. Koleganya menjuluki Muhammad sebagai penyair, tukang sihir, dukun, dan ada yang menjulukinya dengan orang gila. Namun, akhirnya opini yang digunakan adalah tukang sihir.
Itulah al-Walid, berusaha keras, berpikir, dan merenung menyiapkan narasi yang bisa memuaskan kaumnya dan menyenangkan tirani kekuasaan kala itu. Setelah itu ia sampaikan kepada kaumnya sebagai bentuk penggiringan opini.
Orang-orang Quraisy itu kebingungan dengan narasi yang dibuatnya sendiri. Karena mereka harus membangun kebohongan lanjutan di atas kebohongan sebelumnya. Mereka tidak mengetahui apa yang seharusnya mereka katakan tentangnya. Semua perkataan mereka batil.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا
“Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).” (QS. Al-Isra`: 17:48).
Akhirnya, aib al-Mughirah dibongkar. Ibn Abbas berkata, “Tidak ada yang disifati dengan aib-aib seperti ini kecuali al-Walid bin al-Mugirah. Aib yang menjangkitinya sepanjang hayat.” (Tafsir al-Jalalain, vol. 1, hlm. 758).
Semua sifat buruk al-Walid diabadikan dalam ayat berikut ini, QS. al-Qalam [68] : 10-15:
وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ (١٠) هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (١١) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (١٢) عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ (١٣) أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ (١٤)إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (١٥)
“Dan janganlah kamu ikuti orang-orang yang banyak bersumpah lagi hina.[10] Yang banyak mencela yang kian kemari menyebar fitnah.[11] Yang sangat mencegah dari berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa[12] yang kaku lagi kasar. Selain dari itu, yang terkenal kejahatannya (nasabnya tidak jelas)[13], karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak.[14] Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, ‘(Ini adalah) dongengan orang-orang dahulu kala.’[15]” (QS. al-Qalam [68] : 10-15).
Mendengar ayat ini, al-Walid naik pitam. Dengan menghunus pedangnya, dia mendatangi ibunya,
“Muhammad menyifatiku dengan sepuluh sifat. Hanya sembilan sifat yang saya temukan dalam diriku. Adapun yang satunya “zanim, زَنِيمٍ”, tidak aku ketahui artinya. Mohon jelaskan maknanya, atau pedang ini terpaksa menebas lehermu.” Ancamnya ingin tahu. “Bapakmu kaya raya, namun lemah syahwat (impoten). Takut hartanya tidak ada yang warisi, saya pun terpaksa minta digauli oleh seorang pengembala. Engkau anak si pengembala itu.” Jelasnya dengan jujur.
Dengan menelaah QS. Al-Qalam ayat 10-15 di atas, ada kesamaan model para buzzer durjana yang mengabdi kepada kekuasaan dari masa ke masa, yaitu 10 sifat sebagai berikut:
  1. Suka bersumpah demi menutupi kebenaran;
  2. Hina, karena tidak ada orang yang seperti itu kecuali ia sebagai pendusta, dan tidak ada yang seperti itu kecuali orang yang keadaannya hina;
  3. Suka mencela, yakni banyak mencela manusia baik dengan menggunjing, menghina, maupun dengan lainnya;
  4. Penyulut fitnah, yakni mengadu domba;
  5. Pencegah kebaikan;
  6. Penganiaya yang melampaui batas, yakni terhadap manusia dengan menzhalimi harta, darah, dan kehormatan mereka;
  7. Banyak dosa;
  8. Berperilaku kasar, yakni kasar (caci maki), keras, berakhlak buruk dan tidak mau tunduk kepada kebenaran;
  9. Nasabnya tidak jelas, yakni diragukan keturunannya, tidak ada asalnya yang menghasilkan kebaikan, bahkan akhlaknya adalah seburuk-buruk akhlak, tidak diharapkan kebaikannya, bahkan terkenal kejahatannya;
  10. Memiliki daya dukung finansial yang melimpah, baik karena kekayaannya maupun karena di backup kekuasaan. Orang yang mempunyai banyak harta lebih mudah mendapat pengikut.
Semoga Allah menenggelamkan para buzzer kekuasaan yang menyesatkan kebenaran informasi dan memecah-belah persatuan dan kesatuan umat. Hadanallahu wa iyyakum
Catatan: Judul asli tulisan adalah “Kisah Seorang Buzzer Kekuasaan dan Aibnya yang Terbongkar”
loading...
Powered by Blogger.