Image result for deradikalisasi

Oleh: Aridha Nur Salim, S.E.I

Indonesia adalah negeri yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Bahkan populasinya menjadi nomor satu di dunia. Namun, fakta yang terjadi, ajaran Islam di negeri ini semakin hari semakin di stigma. Ironisnya dilakukan oleh mereka yang juga merupakan Muslim. Stigma tersebut muncul akibat banyaknya peristiwa (aksi teror) yang melibatkan aktivis-aktivis Muslim. Mulai dari bom bunuh diri, peledakan tempat ibadah agama lain, hingga terakhir peristiwa terbaru penikaman yang dialami Menkopolhukam.
Terhadap aksi-aksi teror tentu kita mengecamnya. Hanya saja peristiwa-peristiwa ini akhirnya menjadi legitimasi tuduhan bahwa pelaku-pelakunya adalah dari kelompok radikal. Padahal terminilogi radikal itu sendiri yang membentuk istilah radikalisme awalnya berasal dari bahasa latin, radix, radices yang artinya akar (roots).
Istilah radikal dalam konteks perubahan kemudian digunakan untuk menggambarkan perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Berfikir secara radikal artinya berfikir hingga ke akar-akarnya.
===
Dalam KBBI tahun 1990 radikal diartikan sebagai secara menyeluruh, habis-habisan, amat keras menuntut perubahan, dan maju dalam berfikir dan bertindak. Dalam pengertian lebih luas, radikal mengacu pada hal-hal mendasar, pokok dan esensial. Berdasarkan konotasinya yang luas, kata tersebut mendapat makna teknis dalam berbagai ranah ilmu politik, ilmu sosial. Bahkan dalam ilmu kimia kita kenal ada istilah radikal bebas.
Dari sini maka bisa disimpulkan bahwa istilah radikal dan radikalisme merupakan istilah netral. Sayangnya justru istilah tersebut diartikan negatif. Disetarakan dengan istilah terorisme.
===
Munculnya istilah radikal, radikalisme, dan terorisme menjadi pemantik kehadiran proyek deradikalisasi. Dalam laman Wikipedia disebutkan bahwa deradikalisasi mengacu pada tindakan preventif kontra terorisme atau strategi untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan. Tujuan dari deradikalisasi ini adalah untuk mengembalikan para aktor terlibat yang memiliki pemahaman radikal untuk ke jalan pemikiran yag lebih moderat (Pusbangdatin, Kemenkumham 2017).
Pasca slogan War on Terorisme oleh George Bush, Amerika serikat di bawah pimpinan Donald Trump mengubah slogan tersebut mejadi War on Radicalisme. Slogan ini menggambarkan upaya keras AS untuk menghilangkan tidak saja kelompok-kelompok tertentu yang dianggap sebagai teroris tetapi juga nilai-nilai ajaran Islam dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dari slogan ini muncullah program deradikalisasi yang merambah ke seluruh negara. Paradigma yang dikeluarkan sama, yaitu memberantas kelompok dan ajaran-ajaran Islam yang ingin berjuang merebut kekuasaan dan menyebarluaskan ajaran Islam.
Dibuatlah upaya untuk menghalau pergerakan dakwah Islam politik. Istilah intoleran disematkan bagi mereka yang ingin memperjuangkan Islam ke seluruh sendi kehidupan. Kelompok yang dituduh radikal adalah orang-orang Islam yang nyaring bersuara mengkritik kebijakan pemerintah yang pada faktanya semakin menyengsarakan rakyat.
Perang melawan radikalisme menjalar ke seluruh institusi baik skala nasional hingga ke daerah-daerah. Setiap pertemuan-pertemuan penting, bahasan deradikalisasi seakan menjadi wajib adanya.
===
Islam sangat mengecam tindakan terorisme. Aktivitas dakwah yang dilakukan dengan cara kekerasan berupa bom bunuh diri, penikaman, pembunuhan dan semacamnya tidak dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Jika kita menelusuri jejak sirah dakwah Rasulullah ﷺ akan ditemukan perbedaan mendasar fase dakwah beliau antara Mekah dan Madinah.
Fase dakwah Rasulullah ﷺ di Mekah adalah fase dakwah tanpa kekerasan.
Bagaimanapun perlakuan kafir Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ tidak pernah sekalipun beliau membalas secara fisik. Beliau hanya terus menyeru dengan lisan secara hikmah.
Mengapa? Karena belum saatnya perlawanan fisik dimulai. Beda halnya ketika dakwah beliau sudah di Madinah dan telah berdiri Daulah Islam, maka perlawanan fisik pun dimulai. Bahkan dalam kisah pengusiran Bani Qainuqa, hanya karena seorang perempuan dilecehkan oleh orang Yahudi menyebabkan Rasulullah ﷺ sebagai kepala negara memerintahkan untuk mengepung Bani Qainuqa selama 15 hari berturut-turut di tempat mereka sendiri.
===
Melihat kondisi sekarang dengan ketiadaan Daulah Khilafah maka perlawanan fisik tersebut tidak dibenarkan. Aktifis Islam yang kemudian melakukan tindakan bunuh diri dan sejenisnya sebagai bentuk jihad tidak dibenarkan dalam syariat. Kecuali jihad yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di Timur Tengah yang secara langsung memang sudah diserang secara brutal. Maka wajib bagi mereka melakukan pertahanan dan perlawanan untuk menyelamatkan jiwa mereka.
Sehingga yang harus dikritisi dari program deradikalisasi adalah pencitraburukan terhadap Islam. Semakin hari perang melawan terorisme dan radikalimse justru mengarah kepada pembungkaman terhadap dakwah Islam dan pengerdilan syariat-syariatnya.
===
Istilah radikal seperti yang sudah disebutkan di awal jika disematkan pada peerjuangan dan penerapan Islam tentu tidak salah. Karena penerapan Islam memang harus totalitas dan mengakar. Allah subhanahu wa ta'ala sendiri telah memerintahkan di dalam Qs. al Baqarah ayat 208 yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
"Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya Syaitan itu musuh yang nyata bagimu"
Dalam tafsir Ibnu Kasir disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada hamba-hamba Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya, agar berpegang kepada seluruh tali Islam dan syari’atnya, mengerjakan perintah-Nya, serta menjauhi semua larangan-Nya sekuat tenaga.
Dalam ayat tersebut, kata kaaffatan menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Abu al-Aliyah, Ikrimah, Rabi’ bin Anas, as-Suddi, Muqatil bin Hayyan, Qatadah, dan adh-Dhahhak mengatakan: “kaaffatan” berarti jami’an (keseluruhan).” Mujahid menuturkan: “Artinya, kerjakanlah semua amal shalih dan segala macam kebajikan.”
===
Tampaklah bahwa deradikalisasi justru mengajak umat phobia dengan ajaran Islam. Umat digiring mengaminkan wacana yang dikembangkan. Islam radikal diversuskan dengan Islam wasathan (Islam moderat). Padahal Islam moderat ini adalah produk dari barat yang memang membenci Islam. Indonesia dengan pluralitasnya dianggap tidak layak jika diatur dengan kehdiupan Islam. Hal ini akan mengintimadiasi agama lain.
Diangkatlah wacana bahwa semua agama sama. Muslim boleh mengunjuungi tempat ibadah agama lain, demikian sebaliknya. Jihad diisukan sebagai tindakan kejahatan. Materi perang akan dihilangkan dalam materi pelajaran agama. Padahal kemenangan umat Islam, perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ justru ditopang dengan kekuatan perang yang dimiliki. 2/3 belahan dunia pernah dikuasai Islam pada masa Utsmaniah. Islam menjadi mercusuar peradaban dengan kegemilangannya pada masa Abbasiah salah satu kunci kesuksesannya adalah pada kekuatan militer dan perang yang dimiliki Daulah Islam pada masa tersebut.
Maka, wajar jika kemudian memunculkan kecurigaan bahwa deradikalisasi hanyalah program bayangan untuk menghapuskan Islam sejengkal demi sejengkal. Wallahu a'lam

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.