Fachrul-Razi
Usai dilantik Presiden Joko Widodo meminta Jenderal (Purn) Fachrul Razi yang menjadi Menteri Agama (Menag) untuk berfokus diantaranya berkaitan dengan radikalisme.
Menanggapi pernyataan tersebut, Direktur Indonesia Change Mahfud Abdullah mengingatkan pemerintah bahwa sejatinya perang melawan radikalisme adalah proyek Barat untuk menjaga kepentingannya.
“Yakni untuk menguasai dunia dengan sistem kapitalisme – sekularnya. Proyek radikalisme ini akan menguntungkan Barat.” Ujar Mahfud (24/10/19)
“Siapa yang dirugikan dengan proyek radikalisme ini? Jelas umat Islam secara keseluruhan. Bukan hanya kelompok – kelompok Islam yang selama ini aktif dalam perjuangan penegakan syariah Islam secara kaffah melalui institusi khilafah.” Imbuh Mahfud.
Sejauh ini, lanjut dia, pemerintah Indonesia dengan kacamata subyektifnya, beranggapan radikalisme secara dominan dipandang sebagai gejala yang lahir dari tafsiran teologi yang menyimpang.
“Tetapi abai terhadap realitas sebagai sebuah gejala sosial dari meluasnya sikap apatisme dan frustasi sosial akibat kemiskinan, ketidakadilan, ketidakpastian masa depan, dan tekanan hidup yang berat.” Tegas Mahfud.
“Dan situasi itu korelatif dengan peran imperialisme global yang dikomandani Amerika Serikat. Maka berapapun anak-anak negeri ini yang ditembak mati karena alasan terorisme sesungguhnya tidak akan bisa memadamkan potensi lahirnya “teroris-teroris” baru, jika faktor komplek termasuk di dalamnya kedzaliman global oleh dunia Barat terhadap dunia Islam tetap ada dan diabaikan.” Terang Mahfud
Oleh karena itu, Ia mengingatkan bahwa umat Islam lebih kritis terhadap upaya stigmatisasi negatif terhadap istilah radikalisme. []
Sumber : mediaumat.news 

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.