Hasil gambar untuk bagi bagi wamen

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si. (Koordinator LENTERA)

Di awal periode keduanya, Presiden Jokowi langsung membuat gebrakan. Di antaranya tentang pemangkasan ASN. Presiden berjanji akan memangkas jabatan eselon III dan IV di struktur pegawai negeri.
Karo Humas BKN Mohammad Ridwan menuturkan, berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara (BKN) per 30 Juni 2019, jumlah ASN yang sedang menduduki jabatan eselon I ada 575 orang atau 0,12 persen dari total 4,28 juta pegawai. Eselon II 4,23 persen atau 19.463 orang. Total eselon I dan II 20.038 atau 4,35 persen. Eselon III 21,44 persen, eselon IV 71,09 persen, eselon V 4,2 persen. Artinya, total eselon I sampai V ada 460 ribu orang. Jika pengurangan eselon III sampai V dilakukan, maka diperkirakan ada 430 ribu ASN yang akan kehilangan pekerjaannya.
Namun, kebijakan ini segera saja bagai buah simalakama. Tatkala presiden “memperbolehkan” sejumlah menteri barunya memiliki wakil menteri (wamen).
.
Keberadaan wamen mau tidak mau bertentangan dengan gagasan presiden untuk melakukan reformasi birokrasi. Kontraefektivitas sejati.
.
Pasalnya, hampir setiap kementerian sudah memiliki dirjen dan deputi. Tentu publik patut mempertanyakan pembagian tugas antara wamen dan dirjen serta deputi nantinya. Apakah wamen ini hanya akan dipakai untuk tugas-tugas seremonial saja, misalnya membuka pelatihan, membuka rapat, atau mungkin bisa juga mengeksekusi program? Entahlah.
.
Di samping itu juga perlu diperhatikan, bahwa tidak ada nomenklatur anggaran untuk wamen dalam APBN 2020. Lalu dari mana anggaran untuk wamen Kabinet Indonesia Maju ini? Lagi-lagi, entahlah. Berasa gaib.
.
Logika sehatnya, jika benar presiden ingin ada reformasi birokrasi yang lebih efektif, semestinya sekalian saja tak usah membuka pos jabatan wamen.
.
Cobalah kita cermati komposisi wamen yang ternyata didominasi oleh politisi parpol, bukan profesional. Ini semakin menjawab tanda tanya, bahwa ternyata jabatan wamen terduga kuat untuk mengakomodir parpol koalisi yang belum memperoleh jatah menteri. Sungguh ironis. Benar-benar bagi-bagi kursi.
.
Jadi, jangan heran jika publik akhirnya mendadak paham dengan maksud di balik gencarnya isu radikalisme yang telah dikesankan oleh pemerintah cukup marak di kalangan ASN.
.
Rupanya radikalisme hanya dalih, di mana terduga kuat ada “kue kekuasaan” lain yang masih harus dibagi di kalangan parpol koalisi maupun pendukung, hingga mengakibatkan jumlah ASN dari kalangan rakyat terancam dipangkas.
.
Malang nian nasib ASN. Mengkritik adalah wujud adanya aktivitas berpikir. Berpikir tentang kelurusan maupun ketimpangan. Tapi ketika aktivitas ini menyinggung penguasa, maka ASN yang bersangkutan rawan dipecat.
.
Kambing hitamnya adalah dalih radikalisme alias ASN radikal. Sanksinya adalah pelanggaran UU ITE. Sedangkan secara struktural, cepat atau lambat mereka juga akan dipangkas dengan alasan reformasi birokrasi. Kejamnya buah simalakama, korban kepentingan ala demokrasi.
.
Pada akhirnya ini semakin menegaskan, betapa sangat nyata wujud politik oligarki antara penguasa, politisi parpol, dan pengusaha di negeri kita.
.
Carut marut Pilpres 2019 lalu telah begitu diremehkan karena berujung dengan bagi-bagi jabatan kekuasaan semata. Idealisme sudah terlanjur digadaikan; alih-alih kepentingan rakyat, justru sudah otomatis terlupakan.
.
Inilah yang kemudian harus membuat umat sangat-sangat mawas diri. Pahami politik dengan kacamata ideologi Islam. Jangan antipolitik, apalagi sampai buta politik. Tapi juga jangan sekali-kali bermain api dengan demokrasi.
.
Demokrasi selalu ingkar janji. Tak layak sama sekali bagi kita untuk berpihak padanya. Kehidupan adil, makmur, sejahtera, dan sentosa, nyatanya hanya bisa terwujud jika segala pengaturan itu dikembalikan kepada Sang Pemilik kehidupan, Allah SWT.
Firman Allah SWT,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]: 96).

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.