Hasil gambar untuk api membakar kayu"

Ada yg bertanya seperti ini :
1. Shohihkah hadits yang menyatakan : “Hati-hatilah kalian dari perbuatan hasad, karena hasad itu bisa memakan (menghapus) kebaikan-kebaikan, sebagaimana api bisa memakan kayu bakar.” ?
.
2. Lalu, apa hukumnya hasad tersebut ?
Jawaban yg bisa kami sampaikan adalah sbb :
Hadits yang dimaksud, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud rohimahulloh dalam Sunan-nya (no. 4903), dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ’anhu, dia berkata : “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إياكم والحسد فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب
“Hati-hatilah kalian dari sifat HASAD, karena sesungguhnya hasad itu bisa memakan (yakni menghapus/menghilangkan) amal-amal kebaikan, sebagaimana api bisa memakan kayu bakar.”
.
Hadits ini adalah DHO’IF (lemah).
Dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4903), dari jalan Ibrohim bin Abi Usaid, dari kakeknya, dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu. Dan Ibrohim ini adalah rowi yang “Layyin” (lembek/lunak), dan dia sendiri juga “Majhul” (tidak dikenal).
.
Hadits ini telah didho’ifkan As-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani rohimahulloh dalam Silsilah Ahaadits Ad-Dho’ifah wal Maudhu’ah (no. 1902).
.
Seperti hadits tersebut di atas, juga dikeluarkan oleh Al-Imam Ibnu Majah rohimahulloh dalam Sunan-nya (no. 4210), dari Anas bin Malik rodhiyalloh ‘anhu.
.
Tetapi hadits ini DHO’IFUN JIDDAN (sangat lemah), di dalam sanadnya ada Isa bin Abi Isa Al-Hannath, dan dia itu Matrukul Hadist (ditingalkan riwayat hadits darinya).
.
Lihatlah masalah ini dalam Silsilah Ahaadits Ad-Dho’ifah wal Maudhu’ah (no. 1901).
Walhasil, hadits tersebut di atas adalah Dho’if (lemah), sehingga tidak bisa dijadikan hujjah (dalil) untuk menetalkan hukum dengannya.
.
Tetapi intinya, menjelaskan dan menunjukkan, bahwa hasad itu adalah perbuatan yang diharamkan.
.
Tetapi, kita tidak berdalil dengan hadits tersebut di atas karena kedho’ifannya, tetapi disana ada dalil-dalil lainnya yang juga menegaskan haramnya hasad tersebut, yakni dalil dari Al-Qur’an maupun dari As-Sunnah yang shohih.
.
Di dalam Al-Qur’an, Alloh Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang Yahudi, yang mereka itu berbuat hasad, sebagaimana dalam firman-Nya :
أَمۡ يَحۡسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۖ فَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ ءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَءَاتَيۡنَٰهُم مُّلۡكًا عَظِيمٗا ٥٤
.
“Ataukah mereka (orang-orang Yahudi itu) hasad/dengki kepada manusia (yakni Nabi Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (QS An-Niosa’ : 54)
.
Alloh Ta’ala juga berfirman :
وَدَّ كَثِيرٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَوۡ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعۡدِ إِيمَٰنِكُمۡ كُفَّارًا حَسَدٗا مِّنۡ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡحَقُّ فَٱعۡفُواْ وَٱصۡفَحُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ١٠٩
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqoroh : 109)
.
Alloh Ta’ala juga mencela perbuatan orang-orang Munafiq yang berbuat hasad kepada kaum muslimin, sebagaimana dalam firman Alloh Ta’ala :
وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءٗۖ فَلَا تَتَّخِذُواْ مِنۡهُمۡ أَوۡلِيَآءَ حَتَّىٰ يُهَاجِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَخُذُوهُمۡ وَٱقۡتُلُوهُمۡ حَيۡثُ وَجَدتُّمُوهُمۡۖ وَلَا تَتَّخِذُواْ مِنۡهُمۡ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرًا ٨٩
“Mereka (orang-orang munafiq itu) ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)…….” (QS An-Nisa” : 89)
Adapun dalil dari As-Sunnah, adalah hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu dalam riwayat Imam Muslim, dan hadits Anas rodhiyallohu ‘anhu dalam As-Shohihain secara marfu’, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berabda :
لا تحاسدوا ولا تباغضوا .......
“Janganlah kalian saling berbuat hasad (dengki), dan jangan pula kalian saling marah (membenci) .. …”
Inilah diantara dalil-dalil, yg menunjukkan haromnya Hasad itu !
Lalu, apa sih sesungguhnya makna HASAD itu ?
Ketahuilah, makna HASAD itu adalah :
“Berangan-angan atau sangat menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain (yakni, sangat ingin agar kenikmatan yang ada pada orang lain yang dia benci, apakah itu berupa harta, kedudukan, jabatan, ilmu dan lain-lain, hilang atau lenyap darinya).”
.
Adapun apabila dia berangan-angan atau sangat menginginkan kalau dia diberi nikmat sama dengan nikmat yang ada pada orang lain, tanpa menginginkan hilangnya nikmat tersebut dari orang lain itu, maka hal ini disebut GHIBTHOH.
.
Ghibthoh ini, sebenarnya masuk dalam pengertain hasad, tetapi hasad yang terpuji, bukan yang tercela.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :
لا حسد إلا في اثنتين : رجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به آناء الليل وآناء النهار، ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار
“Tidak ada (yakni tidak boleh, edt.) hasad, kecuali pada dua perkara : Seseorang yang diberi oleh Alloh (ilmu tentang) Al-Qur’an, kemudian dia selalu membacanya di waktu malam dan waktu siang, dan seseorang yang diberi oleh Alloh berupa harta (kekayaan), kemudian dia menginfakkannya, baik di waktu malam ataupun di waktu siang.”
(HR Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim, dari Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma)
.
Demikianlah jawaban dan uraian yg bisa disampaikan, semoga mudah dipahami dan bermanfaat bagi kita semuanya.
.
Dan semoga pula Alloh Subhanahu wa Ta’ala selalu memberikan taufiq-Nya kepada kita, untuk bisa istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya, dan istiqomah dalam menjauhi semua hal yang dilarang-Nya, termasuk dlm half ini, menjauhi dari perbuatan Hasad

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.