Related image

Oleh: Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Teguran berakhir tragis. Seorang guru di Manado ditikam muridnya lantaran si murid tak terima ditegur merokok oleh sang guru. Alexander Warupangkey (54), guru SMK Ichtus tersebut, akhirnya tewas di tangan murid sendiri. Peristiwa yang kembali mencoreng wajah pendidikan.
.
Di tahun 2018, kejadian serupa juga terjadi pada seorang guru SMA Sampang. Ahmad Budi Cahyono meninggal setelah dianiaya muridnya. Berawal dari teguran sang guru karena si murid tak menghiraukan pelajaran sepanjang kelas berlangsung. Terjadilah perdebatan antarkeduanya, hingga sang guru mengalami penganiayaan dan berujung pada kematian.
.
Kasus semacam ini bukanlah hal baru. Potret buram pendidikan dengan berbagai macam kasusnya menoreh duka panjang dunia pendidikan. Generasi tak lagi berkarakter mulia. Moralnya rusak dan bejat.
.
Bagaimana nasib bangsa bila generasi masa depan sudah luluh lantak diterjang pola pikir dan pola sikap yang jauh dari agama?
Revolusi mental yang digagas pemerintah faktanya tak mampu membendung kerusakan yang sudah mengakar. Inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi seorang Nadiem Makarim selaku Mendikbud.
Dalam menjawab tantangan itu, ia mengungkap program-program prioritas miliknya selama menjabat sebagai menteri. Pertama, melakukan penyisiran anggaran dan aktivitas mulai dari sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi (PT). Kedua, memeriksa struktur kelembagaan untuk mendukung pembelajaran siswa. Ketiga, menggerakkan program revolusi mental milik Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui suatu konten pembelajaran. Keempat, pengembangan teknologi.
Mengenai anggaran pendidikan, meski terbesar di APBN 2019 yakni 20% dari belanja APBN, pendidikan layak belum merata ke semua rakyat. Masih saja ada kondisi miris terkait bangunan sekolah rusak, gaji guru honorer yang minim, serta fasilitas pendidikan yang sangat terbatas.
Dari sisi sarana dan prasarana, pemerintah belum menyamaratakan pemberian itu ke semua sekolah. Tak heran bila sistem zonasi yang diterapkan menuai banyak polemik di masyarakat.
Adapun tentang revolusi mental, efektivitasnya dalam membangun generasi berkarakter dan berakhlak mulia masih diragukan. Revolusi mental yang digagas Jokowi belum mampu menyelamatkan generasi dari seks bebas, narkoba, kekerasan, tawuran, aborsi, perundungan, hingga nilai kejujuran. Revolusi mental tak ubahnya jargon kosong yang tak bermakna.
.
Jika memang mau merevolusi mental generasi, harusnya diketahui sumber masalah kerusakan generasi. Setelah mengkaji dan mengetahui sumber masalahnya, barulah memberi solusi yang mampu mengobati dan menyelamatkan mereka dari virus yang merusak akal dan jiwanya.
.
Terkait pengembangan teknologi, tak dipungkiri generasi hari ini sedang tumbuh di masa teknologi canggih. “Ajarilah anakmu sesuai dengan zamannya,” begitu sabda Nabi.
Mengenalkan dan mengajarkan anak-anak tentang sains dan teknologi itu penting. Agar mereka semakin bertambah wawasan dan ilmunya. Sehingga mereka bisa berlaku bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.
Diharapkan teknologi yang ada tepat sasaran dan penggunaannya. Yaitu bermanfaat demi kemaslahatan manusia. Bukan malah sebaliknya di mana tak jarang kita jumpai teknologi banyak disalahgunakan. Bahkan, menimbulkan kecanduan semisal game online, konten YouTube unfaedah, hingga akses video porno.
// Pendidikan Sekuler Mengancam Generasi //
Harus diakui bahwa problem pendidikan yang terus saja bermunculan tak lepas dari akar masalah yang melingkupinya. Masalah karakter dan moral masih menjadi PR besar. Sistem sekuler menafikan peran Tuhan dalam kehidupan. Generasi semakin jauh dari nilai Islam.
Mereka justru lebih dekat dengan nilai liberal dan kental dengan nilai-nilai Barat. Buah dari kehidupan sekuler liberal yang dijalankan. Generasi kehilangan jati diri hakikinya sebagai hamba. Mereka tak lagi memiliki visi misi mulia di dunia. Kesenangan dunia seolah menjadi prioritas kehidupan.
Sistem pendidikan berbasis sekularisme hanya memproduksi manusia-manusia bebas nilai dan manusia sekuler tanpa fondasi. Sistem ini juga hanya mengajarkan arti kebahagiaan sebatas nilai materi. Alhasil, lahirlah generasi tanpa iman dan krisis moral.
Sekolah hanya untuk mengejar ijazah, kedudukan, dan materi berlimpah. Generasi dididik hanya untuk mengejar target pasar. Hal ini sesuai titah Jokowi kepada Mendikbud, yakni menyiapkan SDM siap kerja tanpa berfokus pada perbaikan karakter generasi.
// Pendidikan Mau Dibawa ke Mana? //
Meluruskan mindset pendidikan sangatlah penting, sebab dari sanalah kerangka berpikir itu lahir. Ketika mindset ini salah, maka berakibat pada kesalahan merencanakan program pendidikan. Begitu pula dengan tujuan pendidikan. Merumuskan tujuan pendidikan akan menjadi peta jalan apa dan mau dibawa ke mana pendidikan kita.
Tatkala mindset pendidikan kita berpijak pada kapitalisme, maka kerangka yang lahir dari mindset ini adalah bagaimana menjadikan pendidikan sebagai komoditas yang menguntungkan dan memiliki nilai manfaat lebih.
Saat rumusan tujuan pendidikan menyandarkannya pada basis sekularisme, maka kurikulum yang dibuat juga akan mengacu pada akidah sekuler. Dalam sekularisme, agama tak diberi ruang untuk terlibat jauh dalam kehidupan manusia, tak terkecuali bidang pendidikan.
Kalaupun ruang itu diberi, hanya sebagai pelengkap saja. Agama hanya diajarkan sebatas ibadah mahdhoh saja. Tidak lebih dari itu. Itu pun juga tidak banyak berpengaruh pada revolusi mental yang dibangga-banggakan rezim Jokowi.
Oleh karena itu, bila ingin memermak total wajah pendidikan hari ini, maka itu bergantung pada perubahan mindset dan tujuan pendidikan itu sendiri.
Jika mindset pendidikan dilandasi pemikiran kapitalis, maka pendidikan tak ubahnya ladang bisnis untuk mengejar profit. Jika tujuan pendidikan hanya berkutat pada mencetak SDM siap kerja, maka kita tidak sedang menyiapkan generasi pembangun peradaban, tapi hanya generasi ‘buruh’ yang siap bekerja memenuhi pasar industri ala kapitalis.
Maka dari itu, perlu ada revolusi pendidikan secara sistemis. Bukan sekadar permak atau perbaikan masalah yang sifatnya cabang.
// Revolusi Pendidikan dengan Islam //
M. Ismail Yusanto dalam bukunya berjudul Menggagas Sistem Pendidikan Islam menuliskan bahwa pendidikan Islam terlahir dari sebuah paradigma Islam berupa pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan dunia; sebelum dunia dan kehidupan setelahnya; serta kaitan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya. Paradigma pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari paradigma Islam.
Pendidikan dalam Islam merupakan upaya sadar dan terstruktur serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullahdan khalifah Allah di muka bumi. Itulah tujuan pendidikan Islam. Asasnya akidah Islam.
Asas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan, dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan.
Menjamurnya lembaga pendidikan Islam di tengah arus sekuler liberal, mengindikasikan bahwa pendidikan berasas sekuler tak mampu memberi penyelesaian atas persoalan pendidikan. Generasi makin merosot moralnya dan makin terkikis karakternya, bahkan hilang jati dirinya sebagai hamba.
Di masa Khilafah Islam telah banyak lahir generasi cemerlang yang unggul. Tak hanya unggul dalam ilmu saintek, mereka pun sukses menjadi ulama yang faqih fiddin. Keseimbangan ilmu ini terjadi karena Islam dijadikan asas dan sistem yang mengatur dunia pendidikan.
Dalam lintas sejarah Islam, pendidikan Islam mengalami kejayaan dan kegemilangan yang diakui dunia internasional. Lembaga pendidikan tumbuh subur, majelis-majelis ilmu di selasar masjid yang membahas berbagai ilmu pengetahuan pun bertaburan.
Masjid saat itu menjadi pusat keilmuan dan kegiatan belajar mengajar. Bermunculan para ulama sekaligus ilmuwan yang terintegrasi ilmu eksak dan agama.
.
Sebutlah Imam Syafi’i. Tak hanya ahli ushul fikih, beliau juga fakih dalam ilmu astronomi. Ada pula Ibnu Khaldun, bapak pendiri historiografi, sosiologi, dan ekonomi. Beliau pun hafal Alquran sejak usia dini. Tak hanya ekonomi, beliau juga ahli dalam ilmu politik. Lalu ada Ibnu Sina, sang bapak kedokteran sekaligus ahli filsafat, Jabir Ibnu Hayyan ahli kimia, Ibnu al-Nafis bapak fisiologi peredaran darah, dan masih banyak lainnya.
Ilmuwan-ilmuwan itu tak hanya cakap dalam sains namun juga berperan sebagai ulama besar. Ilmu dunia dan akhirat berpadu demi kemaslahatan hidup manusia. Begitulah kecemerlangan Islam saat diterapkan.
Maka dari itu, bila ingin mengembalikan generasi emas kejayaan Islam di masa lalu, maka mau tidak mau harus mengadopsi sistem yang diterapkan kala itu. Sistem pendidikan Islam telah membuktikan generasi unggul tidak lahir dari sekularisme. Generasi unggul hanya lahir dari sistem yang berlandaskan akidah Islam.
Fakta membuktikan bahwa pendidikan di bawah asuhan kapitalisme dan sekularisme hanya memproduksi manusia-manusia minus nurani. Revolusi mental hanya akan terwujud nyata tatkala Islam menjadi aturan berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Paket lengkap itu hanya bisa diterapkan dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam. []

Post a Comment

loading...
Powered by Blogger.