*Oleh wahyudi almaroky*
_Dir. PAMONG institute_
Dalam sistem demokrasi yang super mahal, nyaris tak ada pejabat publik (rezim) yang terbebas dari Utang. Jika tak Utang dalam bentuk uang, minimal utang dalam bentuk Janji Politik. Para politisi yang ingin menduduki Kursi kekuasaan melalui pesta demokrasi harus menyiapkan banyak uang untuk biaya politik.
Siapa pun politisi yang duduk menjadi penguasa dalam sistem demokrasi saat ini akan sangat sulit menghindari dari lilitan Utang. Setidaknya punya tiga utang politik yang harus dilunasi. Utang kepada para investor politik, kepada partai politik pengusung, kepada rakyat pemilih.
PERTAMA, utang kepada para investor Politik (para pengusaha pemilik modal). Biaya pesta demokrasi yang begitu mahal hanya bisa diikuti oleh calon pemimpin yang memiliki “isi tas” (modal) besar. Jika tak punya modal cukup maka ia perlu didukung oleh para investor politik.
Di satu sisi, kebanyakan politisi kita tak cukup punya modal untuk menopang biaya pesta demokrasi yang super mahal. Di sisi lain, banyak pengusaha sebagai investor politik tak punya popularitas untuk manju dalam kompetisi pesta demokrasi. Sementara meraka tetap memerlukan dukungan kekuasaan untuk melancarkan bisnis mereka.
Pada titik inilah bertemunya dua kepentingan. Kepentingan bisnis para investor politik dan politisi calon penjabat publik yang perlu dukungan dana untuk bertarung dalam sistem demokrasi yang mahal. Akibatnya para penguasa dalam sistem demokrasi berhutang pada investor politik.
Cara mudah melunasi utang politik kepada para investor politik ini adalah dengan menyetujui proyek-proyek bagi mereka. Tak heran jika sebuah negara yang selesai melaksanakan pesta demokrasi akan membangun banyak proyek besar.
Strategi lain adalah pemberian ijin usaha (baik perkebunan, pertambahan, kehutanan, kelautan, dll) kepada para investor politik. Ini sebagai kompensasi partisipasi investasi dalam membiayai pesta demokrasi yang supermahal.
KEDUA, Utang kepada partai pengusung. Umumnya partai pengusung tak ada yang mendaftarkan calon pejabat itu dengan gratis. Kalau pun tak di bayar tunai, minimal dengan janji yang lain.
Begitu partai pengusung berhasil memenangkan pertarungan pesta demokrasi maka sejak itulah Pejabat publik itu punya utang politik. Utang kepada partai politik dan para politisi pengusungnya harus segera dilunasi jika tak ingin ada kegaduhan politik.
Cara melunasi utang politik kepada partai politik dan politisinya ini bisa dilunasi dengan pengisian jabatan publik. Diantara cara mudah melunasi utang politik kepada para politisi pendukung adalah memberikannya jabatan politik. Baik jabatan di lembaga eksekutif maupun legislatif termasuk dalam lembaga yudikatif.
Pada lembaga legislatif terdapat banyak pos jabatan, baik pimpinan, ketua komisi, dll. Jika belum cukup maka nomenklatur jabatan itu bisa ditambah, misalnya dalam jabatan pimpinan legislatif dapat ditambah pos wakil yang lebih dari satu jabatan wakil. Bisa dua, tiga, empat, lima dan seterusnya sebagai jabatan wakil pimpinan. Demikan juga pada jabatan pimpinan komisi dan wakilnya.
Pada lembaga yudikatif juga terdapat banyak jabatan publik yang seksi. Mulai dari jabatan Hakim Agung, Jaksa Agung, dll. Tentu komposisi dan pengisian jabatan publik tersebut akan sulit menghindari image publik tak terpapar kepentingan politik.
Pada lembaga eksekutif tentu lebih banyak pos jabatan yang bisa dibentuk. Jabatan menteri tentu sangat seksi bagi para politisi. Jumlah jabatan menteri yang mestinya cukup 20 atau 25 menteri akan membengkak lebih 30 karena sejumlah politisi yang belum kebagian jabatan menteri. Bahkan dibuat pos 50 jabatan menteri pun belum tentu cukup. Solusi berikutnya adalah menambah jabatan wakil menteri.
Jika pun jabatan menteri dan wakil menteri belum cukup menampung maka solusi berikutnya dapat membentuk lembaga baru setingkat kementerian atau dibawah itu. Jika pun belum cukup maka dapat disalurkan dalam jabatan komisari dan direksi dalam Perusahaan-perusahaan plat merah. Dan seterusnya.
KETIGA, Utang janji Politik kepada Pemilih. Pejabat publik yang dipilih dalam pesta demokrasi biasanya memberikan janji-janji politik agar masyarakat memilihnya. Siapa yang memberikan janji paling baik demi kesejahteraan dan kepentingan-kepentingan pemilihnya maka peluang untuk dipilih dan menang menjadi besar.
Biasa janji yang diobral adalah akan mensejahterakan, akan menggratiskan pendidikan, akan mengratiskan kesehatan, akan membagun jembatan, gedung sekolah, dll. Ada juga yang janji akan memberikan kartu sehat, kartu pengangguran, kartu pintar, dll.
Untuk melunasi janji-janji politik itu tak mudah karena kebijakan dalam sistem demokrasi sangat dipengaruhi oleh kepentingan para investor politik. Jika kultur masyarakat itu kritis akan menambah tekanan politik sehingga perlu cepat untuk dipenuhi janji-janji poliitik saat kampanye dulu.
Namun jika kultur masyarakatnya tak begitu kritis, apalagi apatis dan mudah melupakan janji para politisi maka ini membuat pejabat bisa duduk manis. Jika pun ada suara yang menagih janji itu maka cukup diberikan janji yang baru.
Biasanya masyarakat yang kurang kritis akan mudah melupakan janji politik para politisi. Bahkan mereka cukup puas jika sudah diberikan janji yang baru. Padahal yang namanya janji itu dibawa mati.
Bisa saja para penguasa itu terbebas dari tagihan janji-janjinya di dunia. Namun apakah ia bisa menghindari tagihan janji-janjinya diakhirat kelak? Jika para politisi kini masih percaya akhirat dan masih takut kepada Tuhan maka mereka akan takut mengobral janji. Apalagi akan menambah Utang Baru.
Kalaupun terlanjur janji, maka mereka akan berusaha keras menunaikan janjinya. Jika penguasa masih ada rasa takut kepada Tuhan maka damai sejahtera negeri ini. Semoga.
NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.


Oleh : Titin Kartini

Beberapa hari ini berseliweran berita bahwasanya seorang muslimah tidak wajib memakai jilbab yang dilontarkan oleh seorang wanita yang dikenal sebagai istri kyai, seperti yang dilansir oleh tempo.co berikut ini.
.
Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Ia pun menyadari bahwa masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab.
Menurut dia, hijab tidak sama pengertiannya dengan jilbab. "Hijab itu pembatas dari bahan-bahan yang keras seperti kayu, kalau jilbab bahan-bahan yang tipis seperti kain untuk menutup," kata Sinta di YouTube channel Deddy Corbuzier pada Rabu, 15 Januari 2020.
.
Ia mengakui bahwa setiap muslimah tidak wajib untuk mengenakan jilbab karena memang begitu di Al Quran jika memaknainya dengan tepat. "Engga juga (semua muslimah harus memakai jilbab), kalau kita mengartikan ayat dalam Al Quran itu secara benar," kata Sinta.
https://seleb.tempo.co/…/sinta-nuriyah-jilbab-tak-wajib-bag…
.
Entah apa yang merasuki sang nenek ketika ia dengan sadarnya memberikan pernyataan seperti itu. Ditengah maraknya gelombang hijrah di masyarakat baik dari kalangan masyarakat biasa hingga para selebritis yang saat ini begitu banyak yang sudah menutup aurat.
.
Perintah menutup aurat bagi perempuan adalah suatu kewajiban yang tak bisa ditolak lagi, karena sudah jelas perintahnya dalam Al Quran maupun As Sunnah tanpa harus ditafsirkan lagi.
Namun, inilah kenyataan ketika sistem yang dianut adalah sistem yang memberikan kebebasan dalam segala hal termasuk berpendapat, walaupun pendapat tersebut salah kaprah dan sangat membahayakan aqidah umat Islam namun tak ada pelarangan atau tindakan yang dilakukan pemerintah.
.
Padahal pendapat tersebut bisa memecah belah umat dan menyesatkan, akan timbul perbedaan di masyarakat yang seharusnya hal tersebut bukan sesuatu yang harus diperdebatkan.
.
Telah jelas dan nyata Allah SWT berfirman : " Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al- Ahzab : 59).
.
Firman Allah SWT : " Dan katakanlah kepada para perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur : 31).
Rasulullah ﷺ bersabda : "Aurat wanita seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan" (HR. Abu Dawud, no. 3580).
.
Dua firman Allah SWT dan Hadist Rasulullah ﷺ di atas tentunya sudah sangat cukup untuk menjelaskan bahwasanya menutup aurat itu kewajiban setiap muslimah yang sudah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan jelas pula batasan-batasan aurat bagi setiap perempuan muslim dan ini sudah dilaksanakan sejak zaman Rasulullah ﷺ
.
Negara dengan sistem demokrasi kapitalis sekuler memanfaatkan orang-orang muslim yang liberal untuk mempengaruhi umat agar tidak memahami islam yang menyeluruh. Tentu ini upaya-upaya kaum kafir agar umat tidak memahami islam yang sesungguhnya, dengan begitu mereka tak akan tergerak untuk menerapkan islam kaffah.
.
Selama kaum muslim tak memiliki junah atau perisai, selama itupula umat akan dengan mudahnya terpengaruhi oleh pemikiran- pemikiran kaum sekuler liberal yang menyesatkan. Maka disinilah urgensinya umat islam mempunyai satu kepemimpinan yang akan melindungi aqidah umat dari pemahaman-pemahaman kaum kafir yang ingin mencegah umat dari penerapan Islam kaffah.
.
Alhasil, hanya dengan tegaknya Daulah Khilafah semua itu akan terwujud dimana hukum-hukum Allah SWT tak akan dengan mudahnya ditafsirkan tanpa pemahaman yang kuat akan ilmu-ilmu Islam.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.



Oleh: M. Taufik N.T

Pada Tahun 630 M bertepatan tahun 9 H, ketika musim panas dengan suhu yang sampai pada titik yang sangat tinggi, Rasulullah saw. mewajbkan kaum muslimin yang tidak ada udzur syar’i untuk berangkat ke perbatasan Syam dalam rangka menghadapi pasukan Romawi (Bizantium). Perjalanan dari Medinah ke Syam, selain perjalanan yang panjang juga sangat sukar ditempuh. Perlu ada keuletan, persediaan bahan makanan dan air. Bagaimana sikap kaum Muslimin menyambut seruan ini?.
Ada tiga golongan yang sikapnya berbeda dalam menghadapi seruan ini.
.
Golongan pertama, mereka segera berbondong-bondong menyambut seruan Rasulullah. Diantara mereka ada orang miskin yang tidak punya bekal, ada yang kaya yang mendermakan banyak kekayaannya, juga ada orang miskin yang mendermakan hartanya walaupun hanya segantang (satu sha’) kurma.
.
Golongan Kedua, umat Islam yang ragu-ragu antara berangkat dalam suasana yg sangat sulit, atau tetap tinggal. Sebagian mereka akhirnya berangkat juga menyusul Rasulullah saw setelah melihat semangat puluhan ribu umat Islam bergerak meninggalkan Madinah. Abu Khaithama, yang awalnya tidak mau berangkat, setelah melihat suasana itu, ia menemui istrinya sambil berkata: “Rasulullah dalam terik matahari, angin dan udara panas, sedang Abu Khaithama di tempat yang teduh, sejuk dengan makanan dan wanita cantik diam di rumah. Sediakan perbekalanku, aku akan menyusul.”
.
Ada juga diantara mereka yang tetap tidak ikut, namun setelah itu mereka menyesal dan bertaubat, mereka adalah Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ dan Hilal bin Umayyah.
.
Golongan ketiga adalah orang-orang munafiq, mereka mencari-cari alasan untuk tidak ikut memenuhi seruan Rasulullah. Mereka bahkan mengejek umat Islam yang berusaha menta’ati seruan Rasul, juga menghalang-halangi dan melemahkan semangat umat Islam agar tidak berangkat. Ada yg beralasan panas, ada yang beralasan takut terangsang kalau melihat wanita Romawi dll.
.
Diriwayatkan oleh Hafiz Al-Bazar dari Abu Hurairah, katanya: Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Bersedekahlah kamu, sesungguhnya aku akan mengirimkan satu pasukan untuk pergi berperang (Perang Tabuk), maka datanglah Abdurrahman bin Auf menghadap Rasulullah saw. lalu berkata: "Ya, Rasulullah, saya ada mempunyai 4 ribu dinar, yang dua ribu dinar (setara emas 8,5 kg) aku sedekahkan dan dua ribu dinar lagi untuk belanja rumah tanggaku." Rasulullah saw. menjawab: "Semoga Allah memberimu berkat atas pemberianmu itu, dan memberi berkat pula terhadap yang engkau tinggalkan." Kemudian datang lagi seorang dari kaum Ansar yang mempunyai dua sha’ kurma seraya berkata: "Ya Rasulullah, saya ada mempunyai dua sha’ kurma, yang satu sha’ aku sedekahkan dan satu sha’ lagi untuk keluargaku."Menyaksikan kejadian itu orang-orang munafiq mengejek seraya katanya: "Abdurrahman bin Auf hanya mau memberikan sedekahnya karena riya’ (pamer) saja." Sedang kepada yang memberikan satu sha’ kurma, mereka mengejek dengan kata: "Allah dan Rasul tidak memerlukan yang satu sha’ ini."
.
Sekelompok orang-orang munafik ada yg berkata satu sama lain: “Jangan kalian berangkat perang dalam udara panas”. Maka Allah berfirman:
وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ – فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“…. dan mereka berkata: “Jangan kamu berangkat perang dalam udara panas begini.’ Katakanlah: ‘Api neraka lebih panas lagi, kalau kamu mengerti! Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang mereka kerjaka.” (QS. At Taubah: 81-82)
.
Al – Jadd bin Qais – salah seorang Banu Salimah membuat alasan untuk tidak ikut berangkat, ia berkata kepada Rasulullah: “Ijinkanlah saya untuk tidak dibawa ke dalam ujian (fitnah) serupa ini. Masyarakat saya sudah cukup mengenal, bahwa tak ada orang yang lebih berahi terhadap wanita seperti saya ini. Saya kuatir, bahwa kalau saya melihat wanita-wanita Banu’l-Ashfar (Bangsa Romawi), saya takkan dapat menahan diri.”
.
Allah menurunkan ayat: Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah". Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. (QS. At Taubah : 49).
.
Apapun perintah Allah, apalagi yang perlu pengorbanan lebih, akan senantiasa kita dapati ketiga sikap tersebut. Saat ini, saat syari’ah Islam diabaikan, saat hukum-hukum Allah SWT dianggap kriminal, kuno dan kampungan, saat umat Islam terpuruk dalam kehinaan dan kenistaan akibat mereka dijauhkan dari kehidupan alaminya, yakni kehidupan yang diatur oleh hukum-hukum Allah dalam naungan khilafah, maka perjuangan kearah ini sekarang senantiasa memanggil kita.



[Muhasabah Imunitas dan Wibawa Advokat]
Oleh : Ahmad Khozinudin, SH
Ketua LBH Pelita Umat
Penulis teringat di medio era tahun 2012 ketika Kapolri dijabat oleh Jenderal Timur Pradopo. Saat itu, Kapolri menandatangani Nota Kesepahaman dengan organisasi advokat dalam konteks penyidikan perkara pidana terhadap advokat.
Berdasarkan nota kesepahaman itu, pemanggilan polisi terhadap advokat harus dilakukan melalui Dewan Pimpinan Nasional (DPN) atau Dewan Pimpinan Cabang organisasi Advokat terdekat. Polisi berkewajiban melampirkan surat panggilan resmi dan resume perkara.
Selanjutnya, Organisasi Advokat akan melakukan investigasi permasalahan. Dalam waktu paling lambat 14 hari, organisasi advokat menyampaikan hasilnya kepada penyidik, termasuk menghadirkan advokat yang dipanggil.
Namun diera now, diera Jokowi, menjadi advokat yang juga berkedudukan sebagai penegak hukum bukan berarti aman dari tindakan represif penguasa. Penangkapan yang dilakukan penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Mabes Polri terhadap diri penulis menjadi bukti kongkritnya.
Penangkapan dilakukan tanpa melakukan koordinasi dengan organisasi advokat, dilakukan dengan langsung berstatus tersangka (padahal belum pernah dipanggil atau diperiksa), dilakukan pada dini hari dan bahkan keluar umpatan 'bajingan' dari oknum penyidik kepada penulis.
Padahal penulis adalah advokat yang menurut undang undang advokat juga berkedudukan sebagai penegak hukum. Didalam ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-undang no. 18 tahun 2003 tentang Advokat disebutkan:
“Advokat berstatus sebagai penegak hukum, bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan peraturan Perundang-undangan”,
Karenanya dapat dipahami bahwa kedudukan adavokat adalah setara atau sederajat dengan aparat penegak hukum lainnya (Polisi, Jaksa, Hakim). Disamping itu advokat juga memiliki hak imunitas, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 16 Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat.
"Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan Klien dalam sidang pengadilan".
Memang benar penangkapan terhadap diri penulis bukan karena perkara hukum klien yang sedang penulis tangani. Namun penangkapan secara tidak manusiawi, dilakukan pada dini hari, langsung dengan status tersangka terus terang mengganggu kinerja profesi advokat yang penulis tekuni.
Ada kewajiban-kewajiban penulis terhadap klien menjadi terbengkalai. Terlebih lagi wibawa penulis dihadapan klien dan masyarakat umum menjadi jatuh.
Bagaimana mungkin seorang advokat diperlakukan layaknya pencuri ? Perampok ? Apa yang penulis rugikan dari negara akibat aktifitas penulis ?
Pasal 207 KUHP dan pasal 14 ayat (2) dan pasal 15 UU no. 1 tahun 1946 adalah pasal karet. Pasal ini tidak pernah diaktifkan oleh rezim sebelumnya kecuali di era Jokowi.
Perlakuan penyidik terhadap advokat era Jokowi ini jauh berbeda dengan era tahun 2012 an. Misalnya saja, penulis ketika menjadi pengurus organisasi advokat tingkat cabang, pernah ikut mengadvokasi seorang advokat yang dipanggil polisi.
Polisi ketika itu meminta izin organisasi advokat sebelum melakukan pemanggilan terhadap advokat. Polisi sangat menghargai peran dan kedudukan advokat sebagai sesama penegak hukum.
Jadi jika kita telaah lebih dalam, represifme aparat termasuk tidak dihormatinya profesi advokat bukan semata karena cidera wibawa polisi. Tetapi juga lebih terpengaruh oleh kebijakan politik hukum rezim Jokowi yang anti kritik, baik kritik oleh masyarakat umum maupun oleh advokat. [].



Penulis : Amila Shaliha

Bak penyakit, korupsi di negeri ini sudah mencapai tingkat kronis. Setali tiga uang dengan suap menyuap, seperti sudah tercitra sebagai aktivitas yang tidak akan pernah bisa lepas dari pihak-pihak yang memiliki jabatan baik tinggi maupun rendah. Politisi, pejabat daerah, pusat, manapun bisa tersangkut kasus semacam ini.
.
Ramai diberitakan di berbagai media cetak maupun daring, perihal komisioner KPU yang terjaring OTT. "Komisioner KPU Wahyu Setiawan terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh tim KPK di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang pada 8 Januari lalu. Wahyu ditangkap terkait dugaan suap upaya pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI dari PDIP dapil Sumsel I Riezky Apriliani oleh Harun Masiku, kursi panas alm. Nazarudin Kiemas." https://politik.rmol.id/…/johan-budi-kasus-wahyu-setiawan-m…
.
Belum lama ini juga diberitakan bahwa salah seorang mantan anggota Bawaslu terkena kasus yang serupa. "Mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelia memakai rompi oranye usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (10/1). KPK menahan Agustiani Tio Fridelia setelah terjaring operasi tangkap tangan terkait kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji pada penetapan anggota DPR terpilih 2019-2024." https://m.republika.co.id/…/mantan-anggota-bawaslu-agustian…
.
Miris. Lembaga-lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pemilu, diisi oleh orang-orang yang tidak bisa dipercaya, merusak keyakinan masyarakat akan bersihnya lembaga-lembaga tersebut. Melihat fakta yang demikian, menjadi tidak mungkin jika masyarakat akhirnya meragukan hasil pemilu yang telah berlangsung. Apakah hasilnya valid? Apakah tidak ada permainan licik di dalamnya? Sementara sebelumnya sudah banyak pula yang terkena kasus korupsi, semisal pimpinan parpol dan kawanannya. Pada 16 Agustus 2018 yang lalu, KPK merilis data, bahwa sepanjang 2004 – Agustus 2018 saja, sudah terdapat 867 pejabat negara/pegawai swasta yang diketahui melakukan tindak pidana korupsi.
Alam demokrasi membentuk sistem politik yang ongkosnya tidaklah murah. Saat proses pemilihan kepala daerah misalnya, kampanye berminggu-minggu, iklan di sana-sini, yang kesemuanya menghabiskan dana tidak sedikit. Belum lagi jika ada transaksi politik di sana. Akhirnya semua hal harus dihitung. Semua hal harus diuangkan. Ada yang dikeluarkan, maka harus ada yang kembali. Mencapai kekuasaan pun jika terasa kecil kemungkinannya, uang menjadi jalan keluarnya. Layaknya fenomena gunung es, kasus korupsi bisa saja di masa depan akan semakin banyak terungkap. Rusak bukan?
Sudah banyak kasus korupsi dan suap terungkap, banyak pula pelakunya yang dijatuhi hukuman. Mengapa masih saja kerap terjadi?
Pertama, biaya politik yang sangat tinggi. Akibatnya, parpol dan individu yang maju turut serta ke dalam kontes politik, harus bekerja keras mencari dan membalikkan modal melalui banyak cara. Kedua, sistem hukum dan kontrol yang lemah. Tindak kecurangan lambat laun dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan biasa. Faktanya, masih saja ditemukan kasus pelaku pidana korupsi yang bisa bebas keluar masuk tahanan. Ada saja yang terpergok sedang plesiran.
Bicara mengenai rusaknya sistem, mari kita tilik solusinya yaitu perbaikan sistem juga. Islam menawarkan penyelesaian persoalan kehidupan bukan hanya soal pakaian dan makanan. tapi juga sampai persoalan politik. Islam melandaskan segala aturan pada kesadaran akan adanya Pencipta, akan adanya hari akhir, sehingga semuanya harus sesuai dengan apa yang sudah Allah tetapkan bagi kita manusia. Bukan berdasarkan akal manusia semata. Bukankah manusia itu tempatny khilaf dan salah? Aturan yang terlahir pun akan melahirkan banyak kecacatan dan ketidak berkahan.
Sistem politik yang lahir dari aturan Islam, akan melahirkan pula negara yang berfungsi penuh atas kepengurusan kebutuhan rakyatnya. Tidak hanya itu, tapi juga penjagaan atas kerusakan dan kezhaliman. Berkaitan dengan pemenuhan hajat hidup aparat pemerintah, Rasul dalam hadis riwayat Abu Dawud berkata
, “Barang siapa yang diserahi pekerjaan dalam keadaan tidak mempunyai rumah, akan disediakan rumah, jika belum beristri hendaknya menikah, jika tidak mempunyai pembantu hendaknya ia mengambil pelayan, jika tidak mempunyai hewan tunggangan (kendaraan) hendaknya diberi. Dan barang siapa mengambil selainnya, itulah kecurangan (ghalin).” Pejabat pemerintahan tidak akan merasa kekurangan sehingga merasa harus mencari sumber penghidupan dengan cara yang tidak diperbolehkan.
Kemudian ditegakkan secara tegas larangan menerima suap. Tentang suap Rasulullah berkata, “Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud). Kemudian tentang pemberian hadiah kepada aparat pemerintah, Rasul berkata, “Hadiah yang diberikan kepada para penguasa adalah suht (haram) dan suap yang diterima hakim adalah kufur.” (HR. Imam Ahmad).
Diperkuat juga dengan penerapan sistem sanksi yang mampu memberikan efek jera dan juga mampu menebus dosa yang dilakukan. Dalam Islam, koruptor dikenai hukuman ta’zir berupa tasyhir atau pewartaan (dulu dengan diarak keliling kota, sekarang mungkin bisa ditayangkan di televisi seperti yang pernah dilakukan), penyitaan harta dan hukuman kurungan, bahkan sampai hukuman mati.
Semua hal di atas diperkuat dengan lahirnya individu yang kokoh imannya, sadar akan adanya penghisaban atas setiap tindak tanduknya di dunia. Sadar bahwa jabatan yang dimilikinya adalah amanah besar bukan hanya kepada sesama manusia pertanggungjawabannya diberikan, tapi juga kepada Allah SWT. Sehingga kemudian bukan kerusakan yang akan diterima oleh manusia di muka bumi. Melainkan keberkahan dunia dan akhirat. Seperti yang Allah firmankan:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96) wallahua'lam.




Dakwah Jateng-, Magelang, 15/01/2020. Ratusan kaum muslimin dari Magelang dan sekitarnya hadir memadati tempat diselenggarakannya peringatan Pembebasan Konstantinopel. Hadir sebagai orator pertama adalah beliau Ustadz Nashirudin Sukur, pengasuh majelis taklim Taqorrub Ilallah Magelang. Dalam orasinya, beliau menyampaikan bahwa bisyarah ditaklukannya Konstantinopel mengajarkan kepada kita bahwa bisyarah tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diusahakan. Jadi tidak cukup hanya dengan yakin bahwa bisyarah tersebut akan terwujud. 

Cara mewujudkannya dengan hukum sababiyah (hukum sebab akibat. Namun, semua itu benar-benar akan terwujud hanya karena izin dan pertolongan Allah SWT. Dan pertolongan Allah ini hanya akan diberikan kepada orang yang paling baik iman dan amalnya yang senantiasa dipenuhi ketaatan, serta jauh dari maksiat, pungkas beliau.

Orasi pun dilanjutkan dengan pemaparan sejarah penaklukan konstantinopel oleh Ust. H. Yogie W. Abarri. Layaknya sebuah sayembara, bisyarah Rasulullah tentang penaklukan konstantinopel, memotivasi kaum muslimin untuk merealisasikannya. Di mulai masa Khalifah Usman bin Affan, Muawiyah bin Abu Sofyan, Sulaiman bin Abdul Malik, Harun Ar-Rasyid, Sultan Bayazid I, dan Sultan Murad II, hingga akhirnya bisyarah Rasulullah SAW terealisasi lebih dari 800 tahun oleh pemuda 24 tahun bernama Muhammad Al Fatih.

Penggunaan meriam raksasa hingga strategi-strategi kejutan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya yakni memindahkan 72 kapal dari selat Bosporus ke Teluk Golden Horn hanya dalam waktu 1 malam menjadikan Konstantinopel dikepung dari tiga penjuru. Akhirnya tepat pada 20 Jumadil Ula 857 H atau 29 Mei 1453 M, penantian panjang kaum muslimin berakhir dengan dibebaskannya kota Konstantinopel yang kemudian namanya diganti menjadi Islambul atau lebih dikenal dengan Istanbul.



Kemeriahan acara semakin bertambah dengan adanya pemutaran video perjuangan dan Digital Movement, serta orasi penuh semangat yang disampaikan oleh Ustadz Yahya Hosein. Dalam orasinya, Ustadz Yahya Hosein menyampaikan bahwa perjuangan mewujudkan bisyarah Rasulullah yang pertama bukanlah perkara yang mudah, tercatat lebih dari 800 tahun sejak Rasulullah menyampaikan hal itu. Puluhan bahkan ratusan ribu pasukan muslim syahid untuk mewujudkan bisyarah ini. “Siapkah Anda berjihad? Siapkan Anda berjihad untuk mewujudkan bisyarah Rasul berikutnya yaitu penaklukan kota Roma?, tanya Ustadz Yahya yang dijawab siap dengan penuh semangat oleh seluruh peserta.” Bila saja kota Roma tidak ditakdirkan untuk kita, mari kita siapkan anak-anak kita untuk menjadi generasi penerus perjuangan ini, tegas Ustadz Yahya.

Akhirnya, acara pun ditutup dengan pembacaan pidato menggugah Syaikh Atho bin Khalil Abu Rashtah.[] Abu Fatih






Dakwah Jateng-, Semarang, Rabu 15/01/2020 Masyarakat Semarang yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Umat Islam (FSUI) mengadakan Tabligh Akbar Peringatan penaklukan konstantinopel.

Dalam Sambutannya shohibul hajat Ust. Brojo P Laksono menyampaikan bahwa pentingnya acara Peringatan penaklukan konstantinopel ini digelar untuk mengingat lagi bisyarah yang disampaikan Rasulullah dengan ditaklukannya Konstantinopel dan mengambil ibrah perjuangan dalam mewujudkan bisyarah Rasulullah yang berikutnya yakni tegaknya institusi islam khilafah, serta kabar gembira penaklukan roma.



Hadir Pemateri yang luar biasa yaitu Ustadz Husein Matla dan Ustadz Habib Rasyid.

Dalam Paparan materi yang disampaikan  Ustadz Habib Rasyid menyingguh masalah dalil dalil tentang  bisyarah Rasulullah penaklukan konstantinopel, penaklukan Roma, Tegaknya kembali khilafah, dan kapan munculnya Imam mahdi. Serta paparan dari Ustadz Husein Matla menyampaikan bagaimana menyiapkan generasi seperti layaknya Muhammad Al fatih.



acara ini di moderatori oleh Hendro Dahsyat yang dalam beberapa kesempatan menanyakan kepada Jamaah "apakah bapak ibu sekalian siap melanjutkan estafet untuk menjemput bisyarah Rasul yaitu menyongsong tegaknya Khilafah dan penaklukan Roma?"

kemudian jamaah menjawab dengan semangat "Siap"

akhirnya acara ditutup dengan doa oleh Ustadz Wasroi.[]aa


Segala puji hanya milik Allah atas nikmat-nikmat Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahlimpahkan kepada Rasulullah saw beserta para keluarga, sahabat dan orang yang loyal kepada Beliau, wa ba’du.
Kepada Ummat Islam, sebaik-baik umat yang telah dikeluarkan untuk umat manusia … Kepada para pengemban dakwah, orang-orang pilihan lagi baik … Kepada para tamu laman yang dimuliakan.
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.
Sungguh di dalam sejarah umat-umat ada hari-hari yang bersinar. Itu merupakan kebanggaan untuk umat-umat itu. Lalu bagaimana jika hari-hari itu adalah hari terealisasinya kabar gembira Rasulullah saw? Sungguh tidak diragukan lagi, hari itu merupakan bintang yang bersinar terang di langit bahkan laksana matahari yang menyinari dunia dan mengangkat umat ke ufuk langit …  Dan di antara hari-hari itu adalah hari-hari kita yang memikat ini, hari peringatan penaklukan Konstantinopel…  Al-Fatih mulai menyerang dan mengepung Konstantinopel mulai 26 Rabiul Awal sampai bisa ditaklukkan pada fajar hari Selasa 20 Jumadul Ula 857 H seperti bulan ini. Artinya, pengepungan berlangsung selama sekira dua bulan. Ketika memasuki kota sebagai pemenang, al-Fatih turun dari kudanya, berjalan kaki dan bersujud kepada Allah SWT sebagai ungkapan syukur atas kemenangan dan keberhasilan ini. Kemudian al-Fatih menuju gereja Aya Shofia. Di situ rakyat Bizantiy dan para rahibnya berkumpul. Al-Fatih memberikan jaminan keamanan kepada mereka. Al-Fatih memerintahkan untuk mengubah gereja Aya Shofia menjadi masjid. Ia memerintahkan agar didirikan masjid di tempat makam shahabiy yang agung Abu Ayyub al-Anshari yang termasuk dalam barisan gelombang pertama untuk menyerang Konstantinopel dan wafat di sana rahimahullahu wa radhiya ‘anhu … Al-Fatih yang digelari dengan gelar tersebut setelah penaklukan itu, memutuskan menjadikan Konstantinopel sebagai ibukota negaranya menggantikan Edirne. Ia memberikan sebutan kepada Konstantinopel setelah penaklukannya dengan Islam Bul yakni kota Islam “Dâr al-Islâm” dan kemudian terkenal dengan Istanbul. Kemudian al-Fatih memasuki kota dan menuju Aya Shofia dan melaksanakan shalat di situ dan menjadi masjid berkat karunia, nikmat dan anugerah Allah … Dan Aya Shofia terus begitu sebagai masjid yang suci dan bersinar, dimakmurkan oleh orang-orang mukmin sampai penjahat abad tersebut Mushthafa Kamal melarang shalat di situ, mengotorinya dengan menjadikannya sebagai museum untuk dikunjungi oleh para pelancong!
Begitulah, terealisir kabar gembira Rasulullah saw yang ada di dalam hadits beliau dari Abdullah bin Amru bin al-‘Ash, ia berkata: “sementara kami ada di sekitar Rasulullah saw, kami sedang menulis, ketika Rasulullah saw ditanya, “kota manakah dari dua kota yang ditaklukkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” Maka Rasulullah saw bersabda:
«مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً، يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ»
Kotanya Heraklius ditaklukkan lebih dahulu, yakni Konstantinopel”.
Diriwayatkan oleh imam Ahmad di Musnad-nya dan al-Hakim di al-Mustadrak ‘alâ Shahîhayn dan ia berkata, “ini hadits shahih menurut syarat syaikhayn meski keduanya tidak mengeluarkannya”. Adz-Dzahabi mengomentari di at-Talkhish, “menurut syarat al-Bukhari dan Muslim”. Demikian juga di dalam hadits yang mulia dari Abdullah bin Bisyri al-Khats’amiy dari bapaknya bahwa dia mendengar Nabi saw bersabda:
«لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ»
“Sungguh Konstantinopel pasti ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin penaklukkan itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu”.
Abullah bin Bisyri berkata, “Maslamah bin Abdul Malik memanggilku dan bertanya kepadaku lalu aku sampaikan hadits itu kepadanya lalu dia menyerang Konstantinopel”. Diriwayatkan oleh imam Ahmad. Dinyatakan di Majma’ az-Zawâid komentar terhadapnya, “diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazar dan ath-Thabarani dan para perawinya tsiqah”… Lalu kabar gembira itu terealisir di tangan pemuda ini Muhammad al-Fatih yang usianya belum genap 21 tahun, tetapi dia telah dipersiapkan dengan baik untuk itu sejak masa kanak-kanaknya. Bapaknya, Sulthan Murad Kedua menaruh perhatian besar kepadanya. Ia menjadikan Muhammad al-Fatih belajar kepada para ustadz terbaik di masanya, termasuk Ahmad bin Ismail al-Kawrani yang disebutkan oleh as-Suyuthi sebagai pengajar pertama al-Fatih. As-Suyuthi berkata tentangnya, bahwa ia “seorang ’alim faqih. Para ulama masanya mengakuinya lebih unggul dan sempurna. Bahkan para ulama masanya menyebutnya Abu Hanifah zamannya”. Demikian juga syaikh ‘Aq Syamsuddin Sanqar yang menjadi orang pertama yang menanamkan di benak Muhammad al-Fatih sejak kecil hadits Rasulullah saw tentang “penaklukan Konstantinopel”. Pemuda itu pun tumbuh besar memusatkan perhatian agar penaklukan itu terealisir melalui tangannya … Syaikh ‘Aq Syamsuddin mengajarkan kepada Muhammad al-Fatih ilmu-ilmu mendasar berupa al-Quran, hadits, sunnah nabawiyah dan fikih. Demikian juga Bahasa Arab, Persia dan Turki. Sebagaimana juga mengajarkan sebagian ilmu kehidupan seperti matematika, al-falak (astronomi), sejarah … ini ditambah lagi keberaniannya dalam berburu dan seni berperang … Allah memuliakannya dengan anugerah dan karunia-Nya. Teralisir untuknya pujian Rasulullah saw. Al-Fatih adalah sebaik-baik panglima dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. Di mana hati mereka dipenuhi oleh iman. Tubuh mereka bertolak melakukan persiapan dan jihad yang benar. Mereka menolong Allah maka Allah menolong mereka dengan penaklukan agung ini, maka segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam.
Al-Fatih tajam pandangannya dan tepat penglihatannya. Setiap kali ia melihat adanya celah maka ia selesaikan dengan benar dengan izin Allah. Setiap kali tampak ada halangan, ia hilangkan dengan pertolongan Allah. Ada tiga rintangan yang ia selesaikan dengan sangat cerdas dan pandai:
1- Prajurit-prajuritnya mengeluhkan dinginnya cuaca sedangkan mereka di tempat terbuka di sekitar tembok Konstantinopel, maka al-Fatih membangun benteng untuk mereka berlindung setiap kali diperlukan. Al-Fatih tidak ingin prajurit mengendurkan pengepungan jika berkepanjangan dan mereka kembali seperti yang dilakukan oleh pasukan kaum Muslim sebelum-sebelumnya yang menyerang Konstantinopel. Sebaliknya, al-Fatih ingin agar pasukan tidak kembali kecuali Konstantinopel ditaklukkan dengan izin Allah …
2- Juga, dinding Konstantinopel memiliki tiga lapisan dan antara masing-masing lapisan dan yang lainnya berjarak beberapa meter. Oleh karena itu, Al-Fatih bingung tentang masalah ini. Di zaman mereka tidak ada senjata yang memiliki kekuatan penghancur sebesar itu. Sebaliknya, senjata terkuat mereka adalah manjaniq (ketapel), yang melemparkan batu meski tidak berukuran kecil tetapi tidak cukup untuk membuka lubang di dinding dengan ukuran seperti itu. Dan karena Muhammad al-Fatih mengikuti kemampuan militer di dunia, telah sampai informasi kepadanya bahwa salah seorang insinyur Hungaria (yaitu Urban) telah menyiapkan gagasan membuat meriam dengan kekuatan khusus yang dapat membongkar tembok. Urban telah menawarkan jasanya kepada Kaisar Konstantinopel, tetapi Kaisar tidak mempedulikannya. Maka al-Fatih pun menyambutnya dengan baik. Urban diberi dana dan semua fasilitas yang memungkinkannya untuk menyelesaikan penemuannya itu. Urban pun mulai membuat meriam itu dengan dibantu oleh para insinyur Utsmani.  Dan al-Fatih mengawasi sendiri kerja mereka. Tidak sampai tiga bulan Urban telah membuat tiga meriam dengan ukuran besar. Berat peluru meriam itu sekitar satu setengah ton. Al-Fatih tidak suka uji coba meriam itu di dinding Konstantinopel karena takut hasilnya tidak seperti yang diharapkan dan orang-orang Romawi melihatnya dari balik dinding, sehingga bisa mempengaruhi kekuatan kaum muslim. Maka dia melakukan uji coba di Edirne dan berhasil maka dia pun memuji Allah. Al-Fatih memindahkan tiga meriam dari Edirne ke dekat dinding Konstantinopel untuk menghancurkan dinding dan orang-orang Romawi pun menyerah …
3- Kemudian ada hal lain yang menyibukkannya. Al-Fatih tahu bahwa dinding Konstantinopel lemah di wilayah teluk di sekitar Konstantinopel. Dan meskipun orang-orang Romawi memahami kelemahan dinding di sisi teluk, tetapi mereka yakin bahwa kapal-kapal kaum Muslim tidak akan dapat menjangkau mereka dikarenakan penutupan pintu masuk ke teluk dengan rantai logam. Tetapi al-Fatih rahimahullah sampai kepada keputusan untuk meluncurkan kapal melewati bukit Galata yang berseberangan dengan dinding dari sisi teluk (Tanduk Emas –Golden Horn-). Dia memasang kayu di permukaan bukit dan menuangkan sejumlah besar minyak dan pelumas di atasnya, kemudian menggelincirkan kapal di atasnya. Dan dalam satu malam, mampu diturunkan ke teluk sebanyak 70 kapal. Dan hal itu luar biasa bagi orang-orang Romawi. Ketika pagi menjelang dan mereka melihat kapal-kapal kaum Muslim berada di teluk, hati mereka pun penuh dengan rasa ngeri dan terjadilah kemenangan dan penaklukan dan segala pujian hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
Wahai saudara-saudara, saya ingin mengembalikan kepada Anda sesuatu dari penaklukan Konstantinopel dikarenakan tiga sebab:
Pertama, mengembalikan ingatan agar setiap orang yang punya dua mata melihat keagungan Islam dan kaum Muslim ketika Islam mereka diterapkan. Ketika itu kekufuran tidak bisa berdiri. Bahkan kebenaran menjulang tinggi dan meninggi layaknya kumandang Adzan, Allâh akbaru. Dahulu Persia dan Bizantium telah menyaksiaknnya. Dan dalam waktu dekat insya’a Allah akan diikuti oleh saudara Bizantium, yakni Roma, sebagai pembenaran untuk bagian akhir dari kabar gembira Rasululah saw berupa penaklukan Roma ….
Kedua, agar hati Anda tenteram (yakin) dengan teralisasinya tiga kabar gembira Rasulullah saw lainnya sebagaimana telah terealisasinya kabar gembira pertama. Rasulullah saw telah memberikan kabar gembira dengan penaklukan Konstantinopel, penaklukan Roma, kembalinya al-Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah, perang terhadap Yahudi dan kekalahan mereka secara telak … Rasul saw tidak berbicara dari hawa nafsunya, melainkan hanyalah wahyu yang diwahyukan kepada beliau. Tiga kabar gembira Rasul saw yang tersisa akan terealisasi dengan izin Allah SWT. Tetapi, hal itu tidak terealisasi dengan turunnya malaikat dari langit dan menghadiahkannya kepada kita. Tetapi sunatullahnya adalah kita menolong agama Allah maka Allah menolong kita, kita tegakkan syariahnya, kita tinggikan pekikan negaranya, kita siapkan kekuatan yang kita mampu siapkan, dan kita berjihad di jalan-Nya. Ketika itu, bumi akan disinari dengan tiga kabar gembira yang masih tersisa dan bumi disinari dengan al-Khilafah kembali …
Ketiga, Barat kafir, bersama dengan para pengkhianat arab dan Turki telah berhasil menghancurkan al-Khilafah pada tahun 1342 H-1924 M. Penghancuran itu dianggap setara dengan penaklukan Konstantinopel. Dan berikutnya hal itu mengembalikan untuk Barat kekuatannya yang hilang. Perhatian Barat menjadi mengerahkan segenap daya agar al-Khilafah tidak kembali lagi sehingga kekuatan yang telah disiapkan tidak terlantar, khususnya Barat telah menjadi penjajah negeri-negeri kaum Muslim. Barat memonitor dari dekat gerakan-gerakan di negeri kaum Muslim. Ketika diumumkan berdirinya Hizbut Tahrir 1372 H-1953 M dan menjadi jelas bagi Barat bahwa pilar aktifitas Hizb dan agenda vitalnya adalah mengembalikan al-Khilafah kembali dan bahwa Hizb serius dan penuh kesungguhan dalam perjuangannya, Barat menyuruh agen-agennya para penguasa untuk melarang Hizb dan dilanjutkan dengan penangkapan dan penyiksaan hingga mati syahid di berbagai wilayah. Kemudian dengan vonis panjang hingga selamanya di wilayah-wilayah lainnya … Kemudian mereka menambah dengan uslub-uslub kedustaan, pemalsuan, dan manipulasi fakta tanpa rasa malu sedikitpun … Dan supaya kebohongan-kebohongan yang dibuat-buat itu berpengaruh seperti anggapan mereka, mereka membuat orang-orang yang melakukannya menggunakan nama-nama kaum Muslim dan berpenampilan layaknya kaum Muslim. Kemudian berjalan bersama mereka dalam kebohongan yang dibuat-buat ini, sebagian tarikin, an-nakitsin (orang-orang yang melanggar sumpahnya) dan orang-orang yang dikenai sanksi di antara mereka yang dahulu ada di dalam Hizb … Begitulah, semua golongan itu bersekutu dalam kebohongan yang dibuat-buat, pemalsuaan fakta, dan manipulasi fakta.  Setiap dari mereka memiliki peran: kaum kafir, orang-orang munafik, orang-orang yang gemetar (al-murjifûn), kemudian sejumlah kecil dari orang yang meninggalkan dakwah (at-târikîn), orang yang dijatuhi sanksi (al-mu’âqabîn), orang yang melanggar sumpah (an-nâkitsîn) dan orang-orang yang ada penyakit di hatinya, mereka berserikat dalam tipudaya terhadap Hizb dan membuat-buat fitnah kebohongan terhadapnya. Dalam yang demikian itu mereka menyusuri jalan beracun yang mereka lingkupi dengan kebohongan pada setiap tahapan mereka. Setiap kali satu kebohongan gagal, mereka datangkan kebohongan yang lain. Orang-orang yang berbajukan kebohongan itu lupa atau pura-pura lupa bahwa syabab Hizb memiliki pikiran yang jernih, kecepatan berpikir dan kecerdasan yang dalam yang membuat mereka bisa membedakan yang buruk dari yang baik sehingga mereka tidak membiarkan kebohongan memasuki kemah besar mereka … Begitulah, bagaimanapun alat rias yang mereka gunakan mendandani berbagai kebohongan, dan bagaimanapun industri dekorasi untuk memalsukan fakta yang mereka ikuti dalam merekayasanya, maka tidak ada telinga pada syabab Hizb dan tidak pula pada orang yang berakal dari kaum Muslim yang mau mendengarkannya. Tetapi yang terjadi:
﴿كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً
laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. (TQS an-Nur [24]: 39).
Meski semua makar yang mereka buat, kejahatan yang mereka datangkan dan keburukan yang mereka perbuat terhadap Hizb dan qiyadahnya dengan dugaan mereka akan berpengaruh di dalam Hizb, dugaan mereka justru berbalik kepada mereka dan berikutnya dengan izin Allah mereka berbalik arah mundur ke belakang gagal total tidak meraih kebaikan bagaimana pun lancangnya kebohongan, tipudaya dan makar mereka.
﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ
Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (TQS Fathir [35]: 43).
Kesudahan semua itu akan mereka dapati di sisi Allah kelak bagaimana pun masifnya kedustaan dan makar mereka.
﴿وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ
Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. (TQS Ibrahim [14]: 46).
Dalam penutup, sungguh sikap kuat Anda, wahai saudara-saudara, yang kokoh di atas kebenaran, kuat dan jelas di depan kampanye berturut-turut terhadap dakwah kebenaran sungguh mengingatkan kita kepada sikap para sahabat ridhwanullah ‘alayhim meneladani sikap Rasulullah saw, kebijaksanaan yang agung dalam menghadapi berbagai kesulitan … Begitu pulalah sikap Anda. Sikap tegar lagi kukuh, tidak melemah meski terjadi berbagai cobaan dan tidak gentar selama fitnah, tetapi tekad Anda makin kuat dan tenggorokan Anda melantangkan kebenaran. Anda memandang dunia sekali dan sebaiknya memandang akhirat berkali-kali. Maka Hizb merasa tenang dengan Anda dan Anda tenang dengan Hizb.
﴿رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ*لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (TQS an-Nur [24]37-38).
Terakhir, saya memohon kepada Allah SWT agar menangani perealisasian kabar gembira-kabar gembira Rasululalh saw sehingga al-Khilafah kembali kepada umat ini dan berikutnya membebaskan al-Quds, dan menaklukkan Roma sebagaimana telah didahului oleh penaklukan saudarinya Roma (Konstantinopel)… sebagai pembenaran terhadap hadits-hadits Rasulullah saw … Sebagaimana kita memohon kepada Allah SWT agar memberi kita pertolongan dari sisi-Nya sehingga kita bisa memperbagus amal dan menyempurnakannya sehingga kita layak untuk mendapat pertolongan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
“Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (TQS ar-Rum [30]4-5).
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

Kamis, 7 Jumadul Ula 1441 H
2 Januari 2020 M

Saudaramu Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah
Amir Hizbut Tahrir



Oleh : Ahmad Sastra

Segala bentuk kerusakan dan keburukan yang terjadi sepanjang sejarah kehidupan manusia adalah disaat hegemoni hawa nafsu mengalahkan hegemoni wahyu. Disebut zaman jahiliyah adalah disaat manusia menuhankan hawa nafsu dan mengabaikan wahyu. Dalam kondisi krisis sosiologis seperti  itulah, Allah lantas mengutus RasulNya untuk meluruskan pola fikir dan pola sikap manusia. 

Nabi Musa diutus Allah pada saat hegemoni nafsu menghinggapi kekuasaan fir’aun. Dengan segala kediktatoran dan kecongkakan, firaun mengaku sebagai tuhan, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Rasulullah Muhammad SAW diutus Allah disaat hegemoni nafsu menguasai abu jahal dan abu lahab berserta para pemujanya. Para Nabi dan Rasul diutus Allah untuk meneguhkan ulang eksistensi kedaulatan hukum Allah dan meleyapkan segala bentuk pemujaan atas hawa nafsu. 

Sayyid Qutb mengatakan bahwa eksistensi agama ini merupakan eksistensi kedaulatan hukum Allah. Ketika kondisi asal ini ternafikan, niscaya eksistensi agama ini juga ternafikan. Yang menjadi problem utama di muka bumi sekarang bagi agama ini adalah berdirinya para taghut yang selalu melakukan perlawanan terhadap ketuhanan Allah dan merampas kekuasaanNya, kemudian dirinya diberikan otoritas untuk menetapkan peraturan perundang-undangan  untuk membenarkan dan melarang jiwa, harta dan anak.

Hakekat demokrasi yang bersifat antroposentrisme memiliki prinsip utama pemujaan terhadap hawa nafsu. Kebenaran demokrasi diukur oleh konsensus kepentingan manusia atas sesuatu. Demokrasi meyakini adanya kebebasan atas nama HAM.  Akibatnya dalam demokrasi terdapat konsensus permanen atas kebebasan kepemilikan, kebebasan berekspresi dan kebebasan berfikir. 

Kebebasan kepemilikan dalam demokrasi lantas melahirkan sistem ekonomi kapitalisme dimana seluruh kekayaan suatu negara bebas dimiliki oleh individu. Kapitalisme melahirkan kemiskinan dan kemelaratan di seantero dunia, karena hanya segelintir kapitalis yang memiliki kekayaan tak terbatas. Sementara rakyat banyak hanya menjadi budak mereka. 

Kapitalisme tidak mengenal hukum halal dan haram sebagaimana dalam Islam. Kapitalisme melihat setiap segala sesuatu yang memiliki aspek ekonomi, maka akan dibisniskan, meskipun dampaknya negatif bagi kehidupan manusia. Bisnis prostitusi, narkoba, senjata, organ manusia dan masih banyak lagi adalah bisnis ala kapitalisme. 

Kebebasan berekspresi melahirkan liberalisasi perilaku manusia. Demokrasi mengizinkan manusia untuk berbuat apa saja karena dilindungi oleh hak asasi manusia. Perilaku manusia seperti LGBT, seks bebas, pelacuran, mabok-mabokan dan perjudian bahkan oleh negara demokrasi seperti amerika disahkan dan dilindungi undang-undang. 

Perilaku abnormal yang bahkan binatangpun tidak melakukan seperti LGBT mendapat legitimasi hukum dalam demokrasi. Meskipun dalam Islam perilaku LGBT adalah terlarang dan bahkan pelakunya dihukum mati, namun demokrasi justru membolehkan dan melindungi. Padahal dalam sejarah perilaku kaum penentang Nabi Luth terbukti sebagai kemaksiatan yang mendatangkan azab pedih dari Allah. 

Sementara demokrasi dengan prinsip kebebasan berfikir telah melahirkan diabolisme intelektual. Istilah diabolisme intelektual merujuk kepada watak manusia yang kerasukan iblis dalam pemikiran. Seperti diketahui bahwa iblis adalah pembangkang ayat-ayat Allah. Demokrasi sekuler liberal sebagaimana terjadi hari ini telah melahirkan manusia-manusia yang berfikir seperti iblis. Karakter utama iblis adalah menolak ayat-ayat Allah dikarenakan hawa nafsunya telah menguasai dirinya. 

Kesalahan utama iblis adalah sombong dan membangkang perintah Allah, bukan karena tidak tahu kebenaran. Iblis tahu akan ketuhanan Allah, namun dia disebut oleh Allah sebagai kafir karena mengingkari dan menolak kebenaran. Iblis bahkan malah mengoreksi ayat Allah tentang keutamaan Nabi Adam. Orang yang dengan nafsunya mengoreksi, merevisi dan meralat ayat-ayat Allah adalah anak cucu keturunan iblis. 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al Baqarah : 34). Kecuali iblis. ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu. (QS Al Hijr : 31). Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", Maka mereka sujud kecuali iblis. ia membangkang. (QS Thaahaa : 116). 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu ?. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS Al Kahfi : 50).

Sampai kapanpun iblis akan terus berusaha mencari teman dan pasukan dari kalangan manusia. Sementara manusia adalah makhluk Allah yang lemah jika tidak terikat kepada wahyu Allah. Hanya keimanan dan ketaqwaan yang kokoh yang akan mampu bertahan dari hasutan iblis. Manusia yang menghamba kepada nafsu, dunia dan tahta akan mudah dihasut oleh iblis.  

Allah memberi kesempatan kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya. Tetapi segala tipu daya syaitan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang benar-benar beriman. Perhatikan firman Allah berikut : 

Dan hasutlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS Al Israa : 64). 

Sayangnya negeri ini justru menerapkan sistem demokrasi, maka tidak heran jika akan muncul manusia-manusia berwatak iblis dalam penguasaan ekonomi, kebebasan perilaku dan bahkan kebebasan berfikir. Jangan heran jika ada manusia dengan sombongnya melawan ayat-ayat Allah, seolah wahyu Allah tak lagi relevan dengan kehidupan zaman sekarang. Manusia berwatak iblis pemuja demokrasi itu menyalahkan al Qur’an dan al Hadist berdasarkan hawa nafsunya. 

Sebagai akhir dari tulisan ini, mari kita renungkan pesan Sayyid Qutb bahwa Usaha bijak dan pengorbanan yang cerdas, pertama kali harus diorientasikan untuk membangun masyarakat yang baik. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang dibangun berdasarkan manhaj Allah. Ketika masyarakat telah mengalami kerusakan total, ketika jahiliyah telah merajalela, ketika masyarakat dibangun dengan selain manhaj Allah dan ketika bukan syariat Allah yang dijadikan asas kehidupan, maka usaha-usaha yang bersifat parsial tidak akan ada artinya. Ketika itu usaha harus dimulai dari asas dan tumbuh dari akar, dimana seluruh energi dan jihad dikerahkan untuk mengukuhkan kekuasaan Allah di muka bumi. Jika kekuasaan ini telah tegak dan kuat, maka amar ma’ruf dan nahi munkar akan tertanam sampai ke akar-akarnya.


Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.

Ketua LBH Pelita Umat 

Sehubungan dengan beredarnya kabar simpang siur dan bahkan cenderung menjadi fitnah terkait proses hukum yang saya alami, saya perlu menyampaikan klarifikasi atas hal-hal sebagai berikut :

1. Bahwa benar saya ditangkap pada Jum'at dini hari (10/01) sekira pukul 02.30 oleh Tim Penyidik dari Direktorat Cyber Crime Mabes Polri, dengan status Tersangka atas tudingan menebar hoax dan melawan penguasa, berdasarkan ketentuan pasal 14 ayat (2) dan 15, UU No 1 tahun 1946 tentang peraturan pidana dan/atau pasal 207 KUHP. 

2. Bahwa saya ditangkap dalam keadaan telah berstatus Tersangka tanpa proses pemeriksaan awal dan baru diperiksa dan diambil keterangan setelah dibawa ke Mabes Polri. Hal mana telah saya sampaikan komplain kepada penyidik namun tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan.

3. Bahwa ihwal yang menjadi dalih penangkapan saya adalah karena unggahan 5 (lima)  buah artikel dari penulis Nasrudin Joha dilaman facebook milik saya. Artikel itu adalah kritik terhadap sejumlah kebijakan rezim Jokowi terkait isu Jiwasraya, Pancasila dan Khilafah. 

4. Bahwa saya telah diambil keterangan dan menegaskan pada dokumen Berita Acara Pemeriksaan, bahwa saya bukan,  tidak kenal,  tidak tahu,  dan tidak pernah berjumpa dengan sosok Penulis Nasrudin Joha. Saya suka mengcopy dan memposting ulang tulisan Nasrudin Joha yang terkenal viral disosial media karena kritis,  mencerahkan, memberi alternatif perspektif, ide,  wacana baik terkait isu hukum,  politik,  ekonomi, sosial, agama bahkan tema-tema seputar cinta. 

5. Bahwa saya bertanggung jawab penuh atas semua postingan yang saya copy dari artikel Nasrudin Joha.  Meski tidak mengenal dan tidak pernah bertemu dengan Nasrudin Joha tapi penulis yakin sosok Nasrudin Joha adalah seorang intelektual produktif yang menghasilkan banyak karya tulisan berbobot. 

7. Bahwa saya sangat keberatan sekaligus menyayangkan narasi baik tulisan maupun meme di sosial media yang mengait-ngaitkan saya dengan sosok Nasrudin Joha.  Tindakan demikian adalah tidak sesuai dengan hukum dan tidak sejalan dengan proses hukum yang saya alami.  

8. Bahwa saya menduga proses hukum yang dipaksakan kepada saya adalah karena sikap dan posisi saya yang kritis terhadap rezim Jokowi.  Selain aktif melakukan pendampingan pada sejumlah aktivis dan ulama akibat korban kriminalisasi rezim,  saya juga konsens mengkritik kebijakan zalim rezim Jokowi.  Terakhir,  saya juga mengkritik melalui artikel atas sikap dan kebijakan Jokowi pada kasus Jiwasraya dan isu Natuna. 

9. Bahwa saya dalam kesempatan ini juga mengkritik cara dan pola penegakan hukum yang diadopsi Mabes Polri yang main tangkap saat dini hari, membuat heboh keluarga dan lingkungan rumah saya, penyematan status tersangka tanpa pemeriksaan pendahuluan hingga umpatan salah satu anggota tim penyidik yang menghardik saya dengan kata 'Bajingan'. Padahal saya adalah seorang advokat yang juga memiliki kedudukan sebagai penegak hukum berdasarkan undang undang. 

10. Bahwa pasca pemeriksaan saya tidak ditahan karena ancaman pidana dibawah lima tahun dan saya langsung terbang ke Yogyakarta untuk menghadiri agenda Islamic Lawyers Forum. Sehingga saya baru bisa memberikan klarifikasi melalui tulisan ini. 

11. Bahwa saya menghimbau seluruh anggota LBH Pelita Umat baik di Korwil maupun Cabang di seluruh Indonesia untuk tetap tenang dan menunggu instruksi lanjut dari DPP LBH Pelita Umat terkait hal ini. Kepada Rekan sejawat advokat,  para ulama,  para ustadz,  dan segenap kaum muslimin mohon doa dan dukungannya agar saya tetap sabar dan istiqomah menyuarakan kebenaran,  tetap teguh dalam aktivitas dakwah amar ma'ruf nahi munkar. 

Terakhir saya kabarkan kondisi saya hingga saat ini Alhamdulillah dalam keadaan sehat wal afiat dan dapat menjalankan aktivitas seperti biasanya.  Demikian penjelasan dan klarifikasi disampaikan,  terima kasih. 

Yogyakarta,  12 Januari 2020.


Powered by Blogger.