Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 yang mengatur sistem keuangan negara untuk mengatasi pandemi virus corona dinilai wartawan senior Edy Mulyadi sebagai payung hukum untuk menyelamatkan perampokan bareng-bareng.
“Ini gila, gila banget. Perampokan akan terjadi besar-besaran. Luar biasa! Jadi wabah corona ini dijadikan sarana untuk merampok bareng-bareng dan itu dilindungi UU dan bahkan oleh Perpu. Gila!” ujarnya Kamis (2/4/2020).
Menurutnya, Pasal 27 ayat 1,2 dan 3 dalam Perppu tersebut itu gila banget. Pasal 1 itu mengatakan semua biaya anggaran macam-macam itu adalah biaya ekonomi. Jadi tidak bisa dianggap kerugian negara. Itu uang hilang. “Oke kita setujulah,” ungkapnya.
Tapi ayat ke-2-nya dikatakan bahwa para pejabat BI, Menteri Keuangan, OJK, LPS dan yang terkait itu tidak bisa dipidana baik perdata maupun pidana karena melaksanakan program keuangan macam tadi. Dan ayat tiganya mengatakan bahwa semuanya itu bukan menjadi delik untuk dibawa ke ranah hukum PTUN.
“Jadi bukan cuma potensi, tetapi disediakan jalurnya, ‘Ayo kalian merampok rame-rame!’ Kenapa? ‘Jangan khawatir, kalian itu tidak akan dipidanakan kok, enggak akan dituntut’, ‘Jangan khawatir, ini akan dianggap sebagai biaya negara kok bukan untuk kerugian negara,’” prediksi Edy.
Edy bicara seperti itu karena berkaca pada Krisis Moneter 1998 dan Skandal Century 2008. Pada krismon ’98, BLBI dikucurkan 400 sekian triliun. Amblas tidak karuan. Bahkan audit BPK itu hanya 6 persen yang efektif. “Itu enggak ada pasal-pasal yang kayak tadi tuh. Itu saja sampai sekarang enggak karuan,” ungkapnya.
Tahun 2008, skandal Bank Century 6,7 triliun, enggak ada pasal-pasal kayak gitu, tapi sampai sekarang hancur-hancuran juga.
“Waktu Century itu kalau enggak salah Robert Tantular di dalam persidangan merasa heran mengapa bank miliknya mendapat kucuran sampai 6,7 triliun. Menurut perhitungan dia, dana yang harus dibayarkan ke nasabah itu 600-800 miliar saja. Tapi ini ugal-ugalan semua. Dan itu maling! Tanpa pasal-pasal itu tadi,” pungkasnya.[]
mediaumat.news


Oleh: Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)
Kegagalan sistem kapitalisme yang dianut banyak negara dalam bergerak dengan cepat dan pas dalam jaminan kesehatan, jaminan rasa aman, dan jaminan pangan menunjukkan kegagalan serius sistem ini. Lalu apakah setelah semua ini, manusia masih membutuhkan bukti lagi untuk meyakini bahwa kapitalisme, sebagai sebuah sistem yang mengatur hubungan manusia, adalah sistem yang rusak dan gagal. Sungguh, sistem kapitalisme ini tidak membawa manusia kecuali pada penderitaan dan kesengsaraan?
Meskipun secara umum kita bisa memahami bahwa alasan banyak orang masih percaya pada sistem yang rusak ini, sehingga mereka mengira bahwa dengan mempertahankan sistem ini, mereka akan lepas dari masalah mereka. Namun kita tidak bisa menerima bahwa fenomena seperti ini juga terjadi di negeri-negeri kaum Muslim. Sebab dalam Islam perbuatan maksiat itu diharamkan.
Islam juga menjelaskan bahwa Allah SWT terkadang menguji seorang Muslim di dunia, seperti dengan hadirnya wabah, menyempitkan rizki, dan kesehatannya, serta mengujinya terkait keluarganya, anak-anaknya, harta bendanya, dan yang lainnya. Allah SWT berfirman:
“Sungguh Kami akan menguji kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 155).
Namun seorang Mukmin akan menerima semua ini dengan lapang dada. Bahkan ia senang dengan ujian yang Allah berikan pada dirinya, sebab ia melihatnya sebagai kesempatan untuk menebus dosa-dosanya. Rasulullah saw bersabda:
“Apapun yang menimpa seorang Muslim, seperti kelelahan, sakit, kegelisahan, kesedihan, derita dan duka, hingga tertusuk duri, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari).
Dari Mush’ab bin Sa’ad, dari ayahnya yang berkata: “Ya Rasulullah, siapa manusia yang berat ujiannya?” Rasulullah saw bersabda:
“Mereka adalah para Nabi, lalu yang sederajat dan yang sederajat. Seorang hamba akan diuji sesuai kadar agamanya. Ujian akan terus diberikan kepada seorang hamba, hingga ia dibiarkan berjalan di atas bumi, sedang ia tidak memiliki kesalahan.” (Shahih Ibnu Hibban).
Apa yang terjadi, hingga penyakit orang-orang Barat yang mendukung sistem kapitalisme ini menular kepada negeri kami, yang membuat generasi umat Islam menjadikan kapitalisme sebagai solusi untuk lepas dari masalah?
Untuk mengetahui penyebab semua itu, tidak perlu banyak pengetahuan: Sungguh, sistem kapitalisme benar-benar telah gagal dalam memberikan kebutuhan dasar masyarakat, sehingga meningkatkan angka pengangguran, kemiskinan dan ketidakmampuan masyarakat untuk meraih hidup layak bagi dirinya dan keluarganya. Semua ini membuat tekanan terhadap masyarakat yang setiap harinya terus bertambah.
Sedang sistem kapitalusme ini tidak cukup dengan menciptakan semua tekanan, namun ia juga berusaha memalingkan masyarakat dari agamanya, dengan menyebarkan kebebasan berpikir dan bertingkah laku; serta memerangi sikap konsisten dengan agama, dan menganggapnya sebagai jenis ekstremisme. Sehingga tidak diragukan lagi, bahwa resep yang sempurna untuk mengakhiri meningkatnya angka bunuh diri, adalah menghilangkan tekanan di satu sisi, dan memperkuat akidah masyarakat serta membekalinya kemampuan untuk memikulnya, di sisi yang lain.
Kaum Muslim selama berabad-abad tidak mengenal fenomena ini, meskipun mereka ditimpa berbagai krisis, politik, ekonomi dan militer, namun mereka tetap terikat dengan hukum-hukum Allah, sehingga mereka dengan segera mampu memulihkan kembali keadaan. Dengan demikian, kekuatan akidah dan kejernihannya akan membuat mereka mampu memikul kesulitan dunia, bahkan menganggapnya kecil dibanding pahala di sisi Allah. Sehingga yang terlintas dalam pikirannya adalah ketakutan mengakhiri hidupnya dengan cara yang dimurkai Allah.
Sementara hari ini, dalam naungan sistem kapitalisme yang rusak, yang mengabaikan pemeliharaan terhadap masyarakat, merusak pikirannya, dan membuatnya hidup dalam sebuah masyarakat rimba, dimana dengan legal yang kuat memakan yang lemah. Dengan ini, wajar akan terjadi penyebaran fenomena ini. Kita melihat bagaimana seorang melakukan bunuh diri karena tidak lagi mampu melaksanakan tanggung jawabnya, kehilangan bisnisnya, rahasianya terbongkar, kekasihnya pergi, dan banyak lagi. Semua alasan ini sangatlah mudah jika diselesaikan dengan sudut pandang syariah Islam.
Solusi dari Allah SWT adalah obat mujarab untuk semua masalah kemanusiaan. Bagaimana tidak, solusi itu dikeluarkan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui kondisi manusia, karakternya, dan apa yang baik untuknya. Allah SWT berfirman:
“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (TQS. Al-Mulk [67] : 14). []
x




oleh Ainul Mizan (Pemerhati Sosial Politik)

Pandemi Covid-19 telah terjadi di lebih dari 170 negara di dunia. Covid-19 
ini telah memakan korban dalam jumlah yang besar.  Di Indonesia per 30 
Maret 2020, yang positif Covid-19 ada 1.414 kasus dan 122 orang yang 
meninggal.

Pandemi Covid-19 ini tentunya tidak bisa dianggap remeh. Termasuk tidak 
boleh panik berlebihan.

Sebagai contoh, komentar Menkes Terawan yang menyatakan bahwa berkat 
kekuatan doa, Indonesia bebas corona (
www.cnbcindonesia.com, 17 Februari 
2020). Tidak salah dengan doa, hanya saja berakibat kurang antisipasi 
terhadap Covid-19 tentunya termasuk menggampangkan.

Begitu pula, berita kematian Menkeu Jerman yang bunuh diri. Disinyalir 
karena sangat panik terhadap Covid-19. Langkah seperti ini justeru 
kontraproduktif dalam menyikapi pandemi Covid-19.

Yang patut jadi bahan perenungan bersama, lantas mengapa Indonesia masih 
juga terpapar pandemi Covid-19? Sementara doa di satu sisi sudah 
dipanjatkan. Pastinya ada yang salah dengan negeri ini sehingga doa tidak 
dikabulkan Allah SWT.

Covid-19 telah mengkonfirmasi mengenai kepemimpinan nasional di negeri ini. 
Pemerintah pusat tidak mengambil langkah lockdown.

Padahal IDI meminta agar presiden melakukan langkah lockdown (gridhealth, 
25 Maret 2020). Adapun tanggapannya bahwa setiap negara berbeda - beda 
kebijakannya.

Sesungguhnya dalam perkara nyawa rakyat tidak bisa dinegosiasi. Artinya 
berapapun besarnya biaya yang ditanggung demi melindungi rakyat.

Anomali yang muncul, justru proyek ibukota baru terus berjalan. Pembangunan 
tahap awal ibukota baru telah menggunakan APBN sebesar Rp 500 milyar. 
Padahal kondisi pandemi Covid-19 ini membutuhkan kehadiran negara dalam 
melindungi rakyatnya.

Perenungan kita agak ke belakang lagi. Kabinet ke-2 Presiden Jokowi dalam 
gebrakan - gebrakan programnya adalah memberantas radikalisme. Hingga Menag 
Fahrurrozi pun disebut sebagai Menteri anti radikalisme. Dari urusan cadar 
hingga revisi buku - buku pelajaran Agama Islam dari muatan Khilafah, yang 
dipandang sebagai paham radikal.

Begitu pula, Menkopolhukam Mahfudz MD yang berstatemen tidak wajib 
mengikuti sistem pemerintahan Nabi Saw. Pendek kata, Khilafah itu seolah 
tertolak di Indonesia.

Sekarang keadaan telah berubah. Covid-19 telah membuat kepongahan tersebut 
jadi tidak berdaya. Masihkah bisa berteriak radikalisme? Sebelumnya 
pengajian dibubarkan dengan alasan radikalisme. Sekarang kerumunan massa 
termasuk pengajian dibubarkan dengan alasan Covid-19.

Begitu pula dalam perekonomian. Ekonomi yang berbasis sektor non riil telah 
memukul nilai kurs rupiah dan ekonomi nasional. 300 trilyun digelontorkan 
guna menyelamatkan rupiah yang hanya mentok di angka Rp 15.700 per US 
dollar. Ditambah pula beban utang negara berbasis ribawi. Hasilnya tidak 
tersedianya dana yang mencukupi untuk mengambil kebijakan lockdown. Rakyat 
pun diminta untuk melakukan karantina mandiri. Tagar di rumah aja menjadi 
trending. Itu pun lagi - lagi terganjal kebutuhan pokok yang baru bisa 
dipenuhi dengan bekerja. Jadinya tidak mengherankan kasus positif Covid-19 
semakin hari cenderung meningkat.

Jangankan Indonesia, negara adidaya seperti AS saja tidak berdaya 
menghadapi pandemi Covid-19. Bahkan kasus positif di AS terbesar dunia 
yakni per 30 Maret 2020 ada 123 ribu, dengan 2.229 orang meninggal.

AS yang selama ini dengan garang menyatakan War on Terorisme yang sejatinya 
memerangi Islam. Mengajak dunia ikut bersamanya dalam perang global 
tersebut. Sekarang diam oleh Covid-19.

Semestinya hal demikian menyadarkan kita sebagai bangsa yang mayoritasnya 
muslim, agar melakukan introspeksi diri. Bahwa kehidupan sekuler selama ini 
menjadikan para petinggi negara lupa posisinya sebagai hamba Allah yang 
lemah. Seruan - seruan ketaqwaan harusnya terdengar, di samping seruan 
social maupun physical distancing.

Pandemi Covid-19 harusnya menyadarkan kaum muslimin. Sekulerisme tidak 
berdaya menghadapi Covid-19. Berdoa kepada Alloh SWT tentunya harus 
dibarengi dengan taubat nashuha (taubat yang sesungguhnya). Membuang semua 
bentuk kesombongan manusia yang menyebabkannya menjauh dari Syariat Islam. 
Pandemi Covid-19 ini menjadi teguran dari Allah Swt agar bangsa ini 
meninggalkan sekulerisme dan kembali kepada penerapan Islam secara 
paripurna.




Buletin Kaffah 135 (9 Sya’ban 1441 H-03 April 2020 M)

Corona Virus Disease 19 (Covid-19) terus menyebar ke berbagai arah. Semua disasar. Tak peduli agama, suku, ras, tempat tinggal maupun status sosial.  Per 1 April 2020 sudah mencapai 1677 kasus positif, 157 meninggal dunia dan 103 sembuh. Artinya, rata-rata tingkat kematiannya (case fatality rate) mencapai 9,36%. Angka ini paling tinggi di Asia dan urutan kedua di dunia setelah Italia.

Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. dr. Zubairi Djoerban Sp.PD memprediksi penyebaran Covid-19 ini seperti gunung es. Artinya, jumlah kasus yang terlihat tampak sedikit, padahal banyak yang tidak terungkap.

Menurut prediksi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), yg merupakan bagian draft “Covid-19 Modelling Scenarios, Indonesia”, tanpa intervensi Negara, lebih kurang 2.500.000 org berpotensi terjangkit Covid-19.  Bila intervensinya rendah, kurang lebih 1.750.000 org berpotensi terjangkiti Covid-19. 

Menurut prediksi beberapa kalangan, akan terjadi super spreading (penyebaran tak terkendali) wabah ini pada Ramadhan & Lebaran tahun ini.

Abainya Negara

Data-data penyebaran & korban kasus Covid-19 bukan sekadar data statistik. Di dalamnya ada kepiluan, kelelahan dan tangisan. Sebabnya, negara tak hadir mengurusi kesehatan rakyatnya.

Saat ini paramedis yang berada di garda terdepan penanganan Covid-19 sudah mengalami kelelahan. Pasalnya, jumlah pasien lebih banyak dari kapasitas rumah sakit. Kesediaan alat pelindung diri (APD) bagi paramedis sangat minim. Mereka harus bertarung di garda terdepan tanpa perlindungan yg memadai. 

Karena itu mereka juga rawan terpapar oleh Covid-19. Beberapa dokter dan tenaga kesehatan tlh menjadi korban keganasan Covid-19. Saat yang sama, kapasitas rumah sakit rujukan terbatas. Tak bisa melayani semua pasien. Rumah sakit terpaksa harus membuat prioritas.

Yang paling rentan adalah orang-orang yang memiliki imunitas rendah. orang tua, anak-anak balita dan orang yang memiliki riwayat sakit yg berat sangat rawan menjadi korban meninggal ketika terpapar Covid-19.

Arus perpindahan manusia, barang & angkutan dari & ke zona merah (misalnya Jakarta) terus berlangsung.  Bahkan saat ini terjadi fenomena mudik skala besar dari Jakarta ke daerah asal karena ekonomi sedang lesu di Jakarta.  Hal ini tentu akan menyebabkan penyebaran Covid-19 semakin tak terkendali. 

Sayang, penguasa negeri ini sejak awal menganggap remeh Covid-19. Mereka mengabaikan pandangan para pakar kesehatan tentang bahaya penyebaran Covid-19. Akhirnya, rezim penguasa cenderung santai.  Mereka malah membuat pernyataan & kebijakan yg kontraproduktif.

Misalnya, ingin  Corona bisa dimanfaatkan dalam bidang ekonomi dan pariwisata. Di tengah Corona, rezim negeri ini mau  agar Indonesia bisa mengambil pasar produk yang sebelumnya impor dari Tiongkok & membuka lebar pintu Indonesia untuk wisata bagi turis yang batal ke Tiongkok. Bahkan rezim ini mengeluarkan 72 miliar untuk membiayai buzzer pariwisata. 

Di tengah semua pihak sedang bertarung melawan Covid-19, rezim ini pun terus membiarkan masuknya ratusan TKA Cina ke negeri ini. Jelas, ini bukan sekadar pengabaian terhadap kesehatan rakyat, tetapi sudah termasuk kejahatan kpd rakyat.

Seiring waktu, kasus terkait Covid-19 di Indonesia semakin meningkat. Beberapa kepala daerah berusaha membuat kebijakan masing-masing untuk menangani Covid-19. Hampir tak ada kepemimpinan dari pusat dalam penanganan Covid-19.  Desakan untuk lockdown atau karantina wilayah pun disampaikan oleh banyak kalangan.

Namun, rezim bergeming. Rezim cenderung tak mau menanggung konsekuensi pelaksanaan Pasal 55 ayat 1 UU No. 6 tahun 2018, yaitu Pemerintah Pusat harus menjamin kebutuhan dasar org dan makanan hewan ternak bila karantina wilayah atau lockdown diberlakukan. Pemerintah sangat jelas ingin  menghindar dari tanggung jawab ini.

Ironisnya, rezim negeri ini mengumumkan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang rencananya akan dibarengi dengan penetapan UU Darurat Sipil. Jika Darurat Sipil diberlakukan, Pemerintah sama sekali tdk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Saat yang sama, Pemerintah bisa leluasa bertindak otoriter terhadap rakyatnya. Ini akan semakin merusak tatanan kehidupan bangsa ini.

Memang, Pemerintah tlh mengumumkan akan menambah anggaran untuk penanganan Covid-19 sebesar 405,1 triliun rupiah. Namun, ternyata ini akan diperoleh dengan meningkatkan hutang Indonesia. Rezim enggan menghentikan ambisi pembangunan infrastruktur yang akan menelan anggaran 1600 triliun rupiah. 

Rezim pun enggan menunda atau menghentikan proyek infrastruktur ibukota baru. Rezim tidak mau mengalihkan anggarannya untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya yg terdampak wabah Covid-19. 

Bahkan rezim menyiapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No 1 Tahun 2020 untuk dijadikan payung hukum agar tidak dipermasalahkan jika terjadi defisit anggaran lebih dari 3% Pendapatan Domestik Bruto (PDB).  Diperkirakan negara akan mengalami defisit anggaran 5,7% terkait penanganan Covid-19. Solusinya dg menambah hutang, bukan merelokasikan anggaran-anggaran lain yg kurang penting.

Di sisi lain, proses pengundangan Omnibus Law yang penuh pasal-pasal zalim pun terus melaju. Tak peduli Indonesia sedang terkena wabah Covid-19.

Fakta-fakta di atas membuktikan bahwa rezim negeri ini benar-benar tak peduli rakyatnya.  Paradigma kapitalisme tlh merasuki sendi-sendi kekuasaan mereka. Mereka lebih mementingkan kekuasaan & material ekonomi daripada kesehatan & nyawa rakyatnya.

Butuh Pemimpin Bertakwa

Wabah Covid-19 ini makin menyadarkan kita bahwa kita butuh pemimpin Muslim yg bertakwa. Tentu yg menerapkan syariah Islam. Pemimpin Muslim yang bertakwa akan senantiasa memperhatikan urusan & kemaslahatan rakyatnya.

Sebab, dia takut kelak pada Hari Kiamat rakyatnya menuntut dirinya di hadapan Allah SWT atas kemaslahatan rakyat yang terabaikan. Dia pun sadar harus bertanggung jawab atas semua urusan rakyatnya di hadapan Allah SWT kelak, termasuk urusan menjaga kesehatan masyarakat. Rasul saw. bersabda:

فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Pemimpin masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya (HR al-Bukhari & Muslim).

Karena itu, dalam Negara Islam, Pemerintah akan selalu terikat dengan tuntunan syariah, termasuk dalam mengatasi wabah. Pemerintah akan bekerja keras & serius untuk membatasi wabah penyakit di tempat kemunculannya sejak awal. Salah satunya dengan proses karantina wilayah terdampak. Dalam hal ini Nabi saw. bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika wabah terjadi di tempat kalian berada, jangan kalian tinggalkan tempat itu (HR al-Bukhari).

Rasul saw. pun bersabda:

الطَّاعُونُ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ

Tha’un itu azab yang dikirimkan Allah kepada Bani Israel atau orang sebelum kalian. Jika kalian mendengar Tha’un menimpa suatu negeri, janganlah kalian mendatanginya. Jika Tha’un itu terjadi di negeri & kalian ada di situ, janganlah kalian keluar lari darinya (HR al-Bukhari).

Metode karantina di dalam Negara Islam ini tlh mendahului semua negara. Ini pula yang dilakukan oleh Khilafah Umar ra. saat terjadi wabah Tha’un pada era kepemimpinannya. Inilah yang seharusnya diteladani oleh para pemimpin Muslim saat menghadapi wabah.

Ketika wabah telah menyebar dalam suatu wilayah, Negara wajib menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan secara free untuk seluruh rakyat di wilayah wabah tersebut.  Negara harus mendirikan rumah sakit, laboratorium pengobatan & fasilitas lainnya untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat agar wabah segera berakhir. Negara pun wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, khususnya kebutuhan pangan rakyat di wilayah wabah tersebut.

Adapun orang-orang sehat di luar wilayah yang dikarantina tetap melanjutkan kerja mereka sehingga kehidupan sosial & ekonomi tetap berjalan.

Inilah langkah-langkah sahih yg akan dilakukan oleh negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah.

Khatimah

Saat ini kita hidup dalam sistem kapitalisme dan di bawah penguasa yg sangat abai terhadap rakyatnya. Sistem kapitalisme dan penguasanya lebih mementingkan material ekonomi daripada nyawa rakyatnya.

Ingatlah, wabah ini tak hanya mengenai orang-orang zalim di antara kita, tetapi juga mengenai orang-orang yg beriman.  Inilah fitnah wabah penyakit yg sedang terjadi. Semoga kita semua dapat saling tolong-menolong di tengah rezim negeri ini yg tampak sangat abai.

Lebih dari itu, inilah saatnya kita dan seluruh rakyat menyadari kebobrokan sistem kapitalisme dan para penguasanya yg zalim.  Inilah saatnya kita dan seluruh rakyat kembali ke sistem Islam yang berasal dari Zat yang Mahakuasa, Allah SWT, yakni dg menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah. []

 —*—

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Takutlah kalian terhadap bencana yang tdk khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah, sungguh Allah Mahakeras siksa-Nya. (TQS al-Anfal [8]: 25). []

 —*—

Download File PDF:
http://bit.ly/kaffah135

Nasehat Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani bagi Pengemban Dakwah



1. Ketahuilah, kaum muslim tidak pernah mundur dari posisinya sebagai pemimpin dunia selama berpegang teguh kepada agamanya.

2. Patut diperhatikan dengan seksama bahwa usaha mengemban qiyadah fikriyah Islam adalah dalam rangka membangkitkan kaum muslim.

3. Dalam mengembangkan dakwah Islam hendaknya kita berpegang kepada satu prinsip, yaitu menyebarluaskannya sebagai qiyadah fikriyah bagi seluruh dunia.  


4. Mengemban dakwah saat ini hendaknya dikembangkan dengan metode yang sama dengan masa sebelumnya, yakni dengan menjadikan metode dakwah rasul sebagai suri teladan.

5. Mengemban dakwah membutuhkan sikap terus terang dan keberanian, kekuatan dan pemikiran.










Oleh : Nasrudin Joha

Ada yang sok ilmiah membela kebijakan rezim yang tidak segera memberlakukan kebijakan Lockdown dengan alasan ada dugaan Pemerintah mengadopsi kebijakan Herd Imunity.
.
Kemudian membuat ilustrasi, mengambil contoh negara Inggris, lantas berusaha melegitimasi tindakan abai rezim terhadap sebaran virus Corona yang sudah sangat mengkhawatirkan.
.
Perlu saya tegaskan, methode herd Imunity itu methode bertahan hidup hewan, atau kehidupan manusia purba yang tidak memiliki pemimpin dan Pemerintahan. Apa gunanya, rakyat memiliki pemimpin jika pemimpin membiarkan rakyat melawan virus Corona dengan daya imun masing-masing yang dimiliki rakyat ?
.
Lantas, bagaimana jika imunitas diri rakyat lemah dan kalah perang melawan virus Corona, apakah kemudian Pemerintah menyalahkan rakyat karena memiliki imunitas lemah ?
.
Apakah lantas, hanya manusia dengan daya imun kuat, yang secara self defense bisa bertahan dari serangan virus Corona yang berhak hidup ? Bukankah ini kehidupan bar-bar ? Bukankah ini kehidupan hewan dihutan ?
.
Justru karena negara telah mengambil pajak dari rakyat, maka negara berkewajiban melindungi keselamatan dan nyawa rakyat. Justru Negara, wajib menjamin hajat pokok rakyat, saat rakyat bertarung melawan virus Corona.
.
Untuk menstabilkan rupiah dan IHSG saja, negara telah menggelontorkan sekitar 300 T. Berapa yang sudah dikeluarkan Negara untuk membela rakyat dalam perang melawan virus Corona ?
.
Belum lagi memberi makan rakyat pada masa Lockdown, sebab itu kewajiban negara yang diatur UU. Memastikan dokter dan perawat mendapat APD memadai saja negara tidak becus.
.
Kalau sudah begini, apa gunanya ada negara ? Apakah Negara hanya hadir saat memungut pajak rakyat ? Lantas, negara cuci tangan ketika rakyat diserang wabah Corona ?
.
Jangan sok ilmiah membela ketidakbecusan rezim mengurusi rakyat dengan istilah yang sok ilmiah tapi menyesatkan. Herd Imunity itu maknanya MATI URIP SAK KAREPMU.
.
Negara macam apa yang membiarkan rakyatnya mati perlahan, bertempur melawan virus Corona ? Negara macam apa, ragu memberlakukan Lockdown hanya karena khawatir tidak mampu, atau tidak mau memberi makan rakyatnya ?
.
Saat ini, negara semestinya hadir membela rakyat. Melindungi rakyat dengan memberlakukan kebijakan Lockdown dengan segala konsekuensi nya []


Oleh: Deu Ghoida
Corona masih menjadi pembicaraan penting dalam beberapa waktu ini. Update pemberitaan masih menduduki rating tertinggi, negeri ini dan dunia dirundung duka karena jumlah pasien meninggal dunia terus bertambah. Bahkan pada bulan Maret ino, Indonesia menduduki peringkat 2 negara dengan peningkatan pesat jumlah penderita dan jumlah korban meninggalnya.
Dengan menghentikan beragam aktivitas di masyarakat, dianggap tak biasa di masyarakat kita menjadikan kekhawatiran dan ketakutan pada sebagian besar masyarakat. Tapi tak sedikit juga yang masih menghadapi dengan santai dengan tetap beraktivitas bebas seperti biasa di luar rumah. Banyak beredar beragam dalil, hujjah dan beragam fatwa terkait larangan sholat Jumat, bahkan sholat jamaah pun dibuat dirumah saja. Tak sedikit yang berbeda pendapat, karena fungsi penguasa hari ini bukanlah ahli dalam urusan agama, jadi masyarakat dibiarkan berada dalam kebimbangan masalah bagaimana mereka menjaga syariat.
Seperti pemerintah Indonesia menyikapi cukup dengan social distance, tidak sampai kebijakan lockdown, untuk menstop masuknya orang asing atau siapapun masuk ke negeri ini. Bisa jadi karena beragam kebijakan ekonomi sebelumnya yang Indonesia memberlakukan investasi besar-besaran, sehingga sulit menutup diri dari masuknya asing ke negeri ini.
Padahal kita tau, bahwa akibat virus ini, telah tersebar di 28 negara menginfeksi Saat ini virus corona telah menginfeksi 272.167 orang di dunia dan 369 orang di Indonesia dan menimbulkan korban meninggal dunia terus bertambah. Corona telah menjadi virus yang menakutkan di dunià saat ini. Ditambah dengan opini yang terus digulirkan oleh media makin menambah ketakutan dan perubahan sikap muslim dalam menghadapi qodho dan menyikapinya dengan ikhtiar.
Hakikat wabah dalam Islam
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS At Taubah 51)
Artinya jika kita belajar dari ayat tersebut, perkara darangnya musibah Corona merupakan sesuatu yang telah ditetapkan Allah. Dari situlah kewajiban seorang muslim bertawakkal kepada Allah. Menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Allah semata.
Berlepas dari adanya konspirasi yang membuka peluang terciptanya virus atau penyebarannya, tugas kita sebagai muslim dengan adanya musibah adalah kembalikan segala sesuatunya kepada Allah. Akan tetapi keyakinan terhadap ketetapan Allah azza wa jall tentang wabah ini tidak berarti mengindikasikan kepada manusia (terutama kaum mukmin) untuk bersikap fatalistik (pasrah terhadap nasib). Karena jelas sikap kita hari ini akan menentukan hisab kita kelak, dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Menghadapi wabah
Ada beberapa hadist tentang wabah berkaitan dengan tuntunan bagaimana seharusnya muslim berperilaku.
Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ
“Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit”.
Pemisahan unta adalah upaya manusia, yang merupakan pilihan aktifitasnya, untuk menghindari meluasnya penyakit. Hal ini mengindikasikan adanya karantina terhadap penderita atau tempat terjadinya wabah. Dengan adanya teknologi hari ini sebenarnya memudahkan mendeteksi persebaran virus Corona di dunia. Jadi sikap lambat melakukan upaya prefentif menunjukkan kelemahan berpikir dengan lemah berikhtiyar.
Sudah sepatutnya manusia memahami bahwa hidup di dunia merupakan ladang uji, dan Allah akan menguji manusia dengan berbagai macam cara sebagai ujian atas kesabarannya.
وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۙ
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)
Tapi ingat, ada ayat lain yang menjadikan manusia sebagai subjek atas beragam ujian yang allah berikan.
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.(QS.Arra'du (13):11)
Artinya dalam masalah wabah ini, ada peran manusia untuk bisa meneliti, memaksimalkan usaha untuk mengobati dan mencegahnya karena di wilayah itulah manusia akan dihisab. Menempatkan Corona sebagai qodho bukan berarti melepas usaha kita untuk memaksimalkan upaya pencegahan, pengobatan dan pendalaman atas apa yang menimpa manusia.
Sebagaimana dahulu Khalifah Umar bin Khathab pernah menyikapi wabah yang terjadi pada masanya.
Abu Ubaidah bin Jarrah RA sebagai komandan pasukan Jihad di Syam bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab RA di Sargh. Khalifah berniat untuk membawa kembali Abu Ubaida ke Madinah mengingat adanya wabah yang sedang melanda wilayah Syam. Abu Ubaidah menolak dan mengingatkan apakah Sang Khalifah ‘lari dari taqdir Allah’?
Hal ini dijawab oleh Khalifah Umar bahwa ‘kita lari dari taqdir Allah ke taqdir Allah yang lain’ seraya menjelaskan pilihan seorang penggembala yang membawa kambingnya ke lembah yang hijau ketimbang lembah yang tandus. Pilihan Khalifah Umar RA untuk memutuskan meninggalkan Syam, dan pilihan Abu Ubaidah untuk tetap berada di Syam ternyata mendapatkan legitimasi dari hadist yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf
Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ
“Jika kalian mendengar suatu negeri dilanda wabah, maka jangan kalian memasukinya. Jika wabah itu terjadi di negeri yang kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Hal inilah merupakan sikap bijak dan tepat ketika seorang pemimpin memutuskan sebuah kebijakan. Apa yang dilakukan pemerintah hari ini sangat jauh dari apa yang dilakukan oleh Khalifah dalam Islam. Kecenderungan pemerintah mengikuti agenda global kapitalisme dengan skenario Corona Loan, pinjaman IMF untuk mengatasi Corona di negara penghutang, justru hari ini menjadi wacana. Tidak menutup akses masuknya asing, justru memasukkan hutang baru atas nama rakyat. Tindakan ini merupakan bentuk pelalaian, kelemahan riayah negara kepada warganya.
Seharusnya menempatkan posisi para ilmuwan untuk menganalisa, mendalami dan melakukan rekomendasi atas penanganan Corona, mendapatkan prioritas untuk kemaslahatan. Karena demikianlah peran ilmu dalam Islam. Untuk mengukur kadar yang Allah tetapkan dalam ciptaanNya.
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (Al Furqan 25:3).
Disinilah kemaksimalan ikhtiar manusia dengan adanya para ahli untuk segera menemukan analisa dan obat yang tepat mencegah penularan wabah tersebut. Bukan justru menarik keuntungan bahkan merugikan rakyat dengan menambah hutang dan ketergantungannya kepada pihak yang jelas memanfaatkan atas nama kapitalisme. Penyepelean terhadap hal ini akan menyebabkan dosa akibat berlepasnya tanggung jawab penguasa dalam urusan rakyatnya.
Penyikapan Atas Wabah
Lemahnya penguasa dalan nengatur masalah wabah ini tetap harus disikapi dengan ikhtiar individual yang maksimal bisa dilakukan.
1. Lakukan ikhtiar yang maksimal; Stop berkunjung ke daerah atau negara dan menerima kunjungan dari asal munculnya wabah. Lakukan karantina, isolasi pada setiap orang tersuspect. Sering cuci tangan, makan yang sehat, jaga jarak kontak dengan sesama disebut Sosial Distance, tidak keluar kecuali penting. Jika perlu segera Lock Down, tutup aktivitas kota atau negara secara masal. Hal demikian pernah dilakukan saat terjadi wabah dalam sejarah Islam. Karena pada yang demikian ada hisab.
2. Sabar dalam ujian dan tawakal penuh kepada Allah Swt. Mestinya Peristiwa ini menjadikan semakin taqarub kepada Allah, beristighfar dan berzikir serta memohon ampun kepada-Nya, meminta agar segera wabah ini dicabut dan diganti dengan berkah.
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (QS.Al-Anfal (8): 33)
Ali Bin Abi Thalib Ra berkata.
مَا نَزَلَ البَلَاءُ إلٌَا بِذَنْبٍ وَمَا رَفَعَ إلَّا بِتوبَةّ
“Setiap musibah yang turun disebabkan oleh dosa, dan tidak akan terangkat kecuali dengan taubat”
3. Ridla terhadap yang sudah menjadi qadlanya dan tak putus asa. Terlebih jika wafat karena terserang wabah akan mendapat derajat syahid akhirat.
الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena tho’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Tetap ada amar ma'ruf nahy munkar kepada pihak penguasa karena pada merekalah segala kebijakan dihandle. Pengaturan negara yang sesuai dengan Islam akan memberikan maslahat yang besar jika olmuwàn mendapatkan perhatian khusus untuk semata kemaslahatan umat bukan mindset untung rugi ala kapitalisme. Teruslah mendorong penguasa untuk menerapkan solusi Islam dan meminta semua masyarakat dan penguasa bertaubat atas kelalaiannya menerapkan hukum Allah dalam kehidupan. Karena kemaksiatan kita hari ini memang menjadi syarat didatangkannya adzab Allah di muka bumi.
Wallahu a'lam.
Powered by Blogger.