Oleh: K.H Hafidz Abdurrahman

Seorang Kyai, Syaikh atau guru, tidak boleh menjaga jarak dengan santri. Karena dengannya, apa yang menjadi rahasia tersembunyi, potensi yang terpendam, dan kemampuan yang ada bisa dikeluarkan dan dikembangkan

Jika santri banyak bertanya, itu pertanda ada perhatian dan kesungguhan, maka layanilah dengan sepenuh hati. Karena di sana ada mutiara kebaikan. Kyai, Syaikh dan guru menjadi jembatan yang bisa mengantarkan mereka

Dengan ketawadhu'an Kyai, Syaikh dan guru kepada santri, dan respek serta hormat santri kepada Kyai, Syaikh dan guru, transformasi adab, akhlak dan perilaku terpuji itu akan mudah diwujudkan Karena dari Kyai, Syaikh dan guru mereka belajar ilmu, adab dan kehidupan

Syaikh Islam, Ibn Taimiyyah, adalah murid Syaikh Abdul Qadir Jilani. Kelak dikenal sebagai pembaru, pendobrak pintu ijtihad, sekaligus pejuang yang melawan Tatar di era Khilafah Abbasiyah

Syaikh Abdul Qadir sendiri selama ini banyak difitnah, menyimpang, dan syirik. Padahal beliau adalah ahli fiqih, mazhab Hanbali, ulama Sufi yang murni, hanya banyak difitnah dengan dinisbatkan kepadanya berbagai praktik menyimpang yang bukan darinya

Bahkan, Shalahuddin al-Ayyubi, yang kelak membebaskan al-Quds, adalah jebolan Madrasah Syaikh Abdul Qadir Jilani

Padahal, darinya Ibn Taimiyyah, maupun Shalahuddin al-Ayyubi mewarisi kekuatan akidah, hujah, ilmu ushul, fiqih, hadits dan tasawuf, bahkan spirit perjuangan yang luar biasa

Pendek kata, banyak ilmu dengan berjumpa orang alim diperoleh. Mencari faidah ilmu yang hilang

Post a Comment

Powered by Blogger.