Oleh : Nasrudin Joha 

Saya ingin tegaskan bahwa belum akan ada perang dunia ke-3, sebagaimana dikhawatirkan SBY. Ketegangan politik antara Iran dan Amerika, hanyalah 'cara bernegosiasi' kedua negara untuk merealisir misi politik masing-masing negara.

Saya juga ingin tegaskan, Iran tidak merepresentasikan Islam dan serangan Iran ke pangkalan militer AS di Irak bukan karena semangat membela Islam. Iran hanya ingin membela Qaseem Soleimani dan ekspektasi rakyat Iran yang marah terhadap AS atas terbunuhnya Jenderal Iran beberapa waktu yang lalu.

Iran juga membutuhkan isu perang untuk mengelabui kegagalan pemerintahan Iran menyejahterakan rakyatnya. Pasca 2018 ketika Amerika menarik diri dari kesepakatan 'membuka embargo atas iran' yang berlaku sejak 2016, ekonomi Iran payah. 

Iran butuh isu bersama yang mengancam keselamatan rakyat agar rakyat tak mengalihkan perhatian dan tuntutan atas kegagalan pemerintahan Iran dari semangat bela negara menuju tuntutan kesejahteraan hidup. Iran wajib menjaga psikologi rakyat agar 'tetap taat pada Pemerintah' atas dasar ketakutan dan ancaman musuh dari luar.

Biarpun rakyat kelaparan, mereka tetap akan bergelora membela negara yang terancam musuh. Nah, jika kegagalan di Indonesia terkait pemenuhan hajat, kemerosotan ekonomi ditutupi dengan isu radikal radikul, Iran menutupinya dengan isu perang.

Perlu untuk diketahui oleh segenap kaum muslimin bahwa Iran bukan representasi Islam, tidak bertindak atas kepentingan Islam dan kaum muslimin, tetapi justru lebih bangga pada sentimen ke-Persia-an dan mahzab ke Syiah-an. Iran pernah membiarkan Amerika secara leluasa untuk membombardir Irak, membunuh jutaan kaum muslimin di Irak tanpa melakukan tindakan apapun untuk membela kaum Muslimin.

Iran hanya mengultimatum Amerika agar tidak menodai batu-batu di kabala. Iran tak peduli atas tertumpahnya darah dan tercederainya kemuliaan kaum muslimin di Irak.

Iran juga tak pernah mengambil tindakan penting untuk menghentikan kebiadaban zionis Yahudi Israel terhadap kaum muslimin di Palestina. Padahal, rudal jelajah Iran mampu menjangkau jantung kota Tel Aviv di Israel.

Iran lebih ridlo melihat bangkai kaum muslimin di Palestina bergelimpangan ketimbang merugi karena kehilangan rudal-rudal yang mereka banggakan. Iran tak memiliki ikatan persaudaraan atas Islam, Iran hanya mengikat persaudaraan berdasarkan sentimen ke-Syia'h-an.

Sentimen itulah yang membuat Iran terus menopang kebengisan rezim tiran Bashar Assad untuk membantai rakyatnya sendiri, kaum muslimin di Suriah. Selain mensupervisi rezim Syiah Bashar Assad, Iran juga terus memelihara anjing Hezbulloh di libanon, yang setiap saat bisa digerakan untuk membela persaudaraan atas dasar ikatan ke-Syiah-an.

Itu sebabnya, dalam isu Suriah Iran satu paket dengan Rusia, China dan Amerika. Iran turut memberi andil membendung gerakan kebangkitan Islam politik di Suriah, gerakan penegakan daulah Islam yang akan membela kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Serangan Iran ke pangkalan Amerika di Irak hanya permainan citra politik

Iran dikabarkan mengklaim sudah menewaskan 80 tentara Amerika Serikat (AS) dalam serangan balasannya, Rabu (8/1/2020). Bukan hanya itu, sumber media iran juga mengatakan sejumlah alat militer yang dimiliki AS, seperti helikopter juga rusak parah.

Dikabarkan juga, Garda Revolusi Iran masih akan menargetkan 140 wilayah lagi, yang terkait dengan AS ataupun koalisi AS. Ini adalah rencana tindak lanjut setelah pangkalan udara AS-Irak di Ayin Al-Assad digempur puluhan roket. Iran pun menyebut ini bentuk balas dendam atas kematian Jenderal Qasem Soleimani. Sebelumnya, Jumat lalu (3/1), Soleimani tewas saat Irak menembak rudal di Bandara Internasional Baghdad.

Terpisah, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memastikan semua tentaranya selamat dari serangan itu. Pernyataan itu disampaikan Trump saat berpidato di Gedung Putih. Dia juga menyebut Iran sudah mengambil sikap mundur yang menurutnya akan memberi dampak baik pada keadaan dunia.

"Iran tampaknya mundur, yang merupakan hal yang baik untuk semua pihak yang berkepentingan dan hal yang sangat baik bagi dunia. Tidak ada nyawa Amerika atau Irak yang hilang," ucapnya. (09/1/2020).

Trump mengatakan AS akan segera memberlakukan 'sanksi hukuman tambahan' terhadap Iran. Meski begitu dia tidak menyebut sanksi itu sebagai balasan militer atas serangan rudal Iran.

Pada kesempatan terpisah Trump juga membuka peluang bagi Iran untuk berunding kembali. Masalah klasik perundingan ini akan kembali pada dua muara utama pembicaraan. Trump akan menggunakan isu 'sanksi ekonomi' untuk menekan Iran saat bernegosiasi. Sementara Iran akan memanfaatkan isu nuklir Iran untuk bernegosiasi.

Serangan Iran ke pangkalan Amerika di Irak tanpa korban tentara Amerika tak mungkin terjadi kecuali serangan itu adalah bentuk serangan 'terkoordinasi'. Iran hanya butuh legitimasi rakyat karena telah menyalurkan kemarahan atas kematian Soleimani setelah sebelumnya mengumbar sayembara untuk kepala Donald Trump.

Sementara Trump atau Amerika tidak akan berkeberatan dengan sejumlah kerusakan tak penting, sepanjang tidak mengorbankan nyawa tentara Amerika. Amerika juga paham doktrin pertahanan nasionalnya, sementara pangkalan militer Irak bukan masuk kategori wilayah yang masuk doktrin keamanan nasional Amerika (doktrin Moonroe).

Jika Irak hancur lebur dibombardir Iran, Amerika tidak merugi. Sebagaimana Amerika juga telah melakukan hal itu terhadap Irak. Jaminan kepastian Amerika adalah rudal Iran itu tdk akan mungkin menjangkau New York.

Sementara kabar sepihak Iran yang mengabarkan tewasnya tentara Amerika akibat serangan rudal Iran, sepanjang klaim sepihak hal ini tidak akan merugikan Amerika. Yang paling penting, bagi Amerika saat ini adalah menyiapkan draft kesepakatan yang menyeluruh untuk menjamin keamanan dan kepentingan nasional Amerika saat berunding dengan Iran.

Amerika paham, tujuan serangan Iran adalah negosiasi di meja perundingan. Amerika tahu Iran tak akan sungguh-sungguh berperang melawan Amerika, disebabkan karena ekonomi Iran yang payah dan keterbatasan kekuatan militer Iran dibanding Amerika.

Kondisi Ekonomi Iran

Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pernah merilis Indikator ekonomi Iran yang menunjukkan dampak sanksi terhadap negara yang ekonominya banyak digerakkan oleh bahan bakar minyak ini. Dalam laporan Outlook Ekonomi Dunia yang diterbitkan pada Oktober 2019, IMF mengatakan ekonomi Iran akan terkontraksi sebesar 9,5 persen tahun ini.

Angka tersebut menjadikan 2019 sebagai salah satu tahun terburuk bagi perekonomian Iran sejak 1984. Hanya ekonomi Libya (19 persen kontraksi dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB)) dan Venezuela (35 persen kontraksi PDB) yang diperkirakan berkinerja lebih buruk pada 2019.

Dalam laporan ekonomi terbaru tentang Iran yang diterbitkan pada 9 Oktober ini, Bank Dunia juga memprediksi hal serupa yaitu yaitu 8,7 persen kontraksi untuk ekonomi Iran pada 2019 karena "anjloknya" ekspor minyak dan gas, bersamaan dengan sanksi baru yang dikenakan pada sektor logam, pertambangan dan maritim Iran.

Bank Dunia mengatakan prediksi penurunan pertumbuhan ini berarti bahwa pada akhir 2019, ekonomi Iran akan menyusut sebesar 10 persen dibandingkan dua tahun lalu. Ini adalah penyusutan ekonomi dalam kategori sangat parah.

IMF dan Bank Dunia hanya memperkirakan akan ada pertumbuhan antara 0 dan 0,5 persen pada 2020. Namun pertumbuhan ini dimulai dari basis yang jauh lebih kecil, dan bergantung kepada faktor apakah Iran akan mampu mengekspor 500.000 barel minyak setiap hari.

Setelah dicabutnya sanksi internasional pada tahun 2016 di bawah kesepakatan nuklir yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), ekonomi Iran bertumbuh lebih dari 13 persen, dengan pendapatan dari minyak pada tahun 2017 sebesar 57,4 miliar dolar AS (lebih dari Rp 800 triliun) akibat meningkatnya volume ekspor, demikian menurut IMF.

Namun pada Mei 2018, AS di bawah Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan itu, dan pada November 2018 sepenuhnya memberlakukan kembali sanksi unilateral yang menargetkan hampir setiap sektor ekonomi Iran.

Laporan IMF pada Oktober 2019 menunjukkan meroketnya inflasi di Iran hingga sebesar 35,7 persen. Ini berarti harga rata-rata barang-barang konsumsi selama setahun terakhir telah meningkat sebesar persentase tersebut. Bank Dunia mengatakan bahwa kenaikan ini "secara tidak proporsional mempengaruhi penduduk pedesaan" dan khususnya untuk bahan makanan.

Pusat Statistik Iran (SCI) mengeluarkan penilaian yang lebih pesimistis lagi dengan tingkat inflasi secara umum mencapai 47,2 persen dan inflasi bahan makanan dan bahan bakar sebesar 63,5 persen.

Para ahli tentang Iran mengatakan bahwa orang-orang paling terpengaruh dengan inflasi harga barang-barang kebutuhan pokok. Keadaan ini jika tidak disikapi serius, akan membawa Iran terdampak 'musim semi arab'.

Keadaan ekonomi yang payah ini mewajibkan Iran harus menyumbat saluran protes rakyat akan kegagalan pemerintahan Iran mengelola perekonomian. Iran membaca peluang 'memainkan isu perang' untuk mengalihkan perhatian rakyat terhadap persoalan ekonomi yang mendera Iran. 

Disisi yang lain Iran paham, minyak adalah satu-satunya andalan Iran untuk menggerakan roda perekonomian. Sanksi yang diterapkan AS terbukti efektif menekan Iran.

Karena itu isu perang bukan target utama, target Iran adalah membuka peluang perundingan dengan Amerika untuk menegosiasikan ulang sejumlah sanksi termasuk sanksi embargo ekonomi Amerika yang kembali diterapkan Donald Trump sejak 2018.

Disisi yang lain Amerika juga perlu menundukan Iran untuk mengisolasi pengaruh Rusia di kawasan, juga untuk menjamin bisnis senjata Amerika tetap gurih di timur tengah. Amerika paham, perebutan pengaruh di kawasan saat ini terjadi antara Iran dan Saudi Arabia.

Jika Amerika dapat mengalungkan rantai secara penuh ke leher Iran sebagaimana Amerika telah menjadikan Saudi Arabia anjing piaraannya, maka seluruh 'ketegangan kawasan' di timur tengah akan mutlak berada dibawah kendali Amerika. Amerika dapat menentukan produksi senjatan dan jumlah ekspor senjata, berdasarkan ketegangan wilayah yang diciptakan Amerika di kawasan melalui anjing-anjing piaraannya.

Iran sebagaimana negara-negara Arab lainnya juga akan digunakan Amerika berada di garda terdepan untuk membendung kembalinya kekuatan Islam global melalui berdirinya Daulah  khilafah. 

Begitulah dunia tanpa khilafah, kaum muslimin benar-benar berada pada titik nadir. Umat ini tak akan pernah menjadi 'Khairu Ummah' hingga Allah SWT menurunkan pertolongan, melalui tegaknya institusi khilafah Islamiyah sebagaima telah dijanjikan.

Kelak, khilafah-lah yang benar-benar akan melakukan jihad global, memerangi negara kafir imperialisme Amerika dan menjaga perdamaian dunia. Khilafah akan melindungi setiap jiwa, setiap darah dan kesucian kaum muslimin, tanpa memandang latar belakang dan mahzabnya. 

Sungguh, Allah SWT maha kuasa atas segala sesuatu :

إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,

وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا

dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,

فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا

maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. [].

Post a Comment

Powered by Blogger.