Image result for Sekularisasi Pendidikan


Oleh : Nisreen Buzhafri

Pengantar

Reformasi pendidikan adalah kedok untuk sekulerisasi di negeri negeri Muslim (Arab), untuk mengubah pemikiran dan pemahaman Islam pada kaum muslimin.  Sebagai upaya melanggengkan penjajahan barat.

Alhasil, setiap orang yang mencermati perubahan yang terjadi secara bersamaan di negara-negara Arab, akan dapat melihat bahwa tujuan dari proses "reformasi pendidikan" tidak seperti yang mereka klaim demi mengembangkan kurikulum dan meningkatkan tingkat intelektual dan pengetahuan mereka pada diri siswa.

Sebaliknya, hal tersebut justru menunjukkan proses perubahan secara fundamental terhadap konsep kurikulum yang didasarkan dan dibangun di atas yang memerintahkan untuk menargetkan agama, nilai-nilai, sejarah dan hukum syara’. Hal inilah yang dimaksudkan dengan melenyapkan identitas Islam. Masalahnya bukan terletak pada penggantian beberapa istilah yang menghasut sensitivitas atau memprovokasi dari hukum-hukum syariah.

Sebaliknya, itu adalah sekularisasi secara menyeluruh terhadap program pendidikan sehingga generasi kita dihancurkan, secara intelektual dan dalam hal peradaban dan pengetahuan, di mana mereka tidak lagi memberi manfaat apapun sehubungan dengan agamanya atau dalam hal pengetahuan.

Cara kita menggambarkan perubahan kurikulum tidak berarti bahwa mereka (Barat) berada pada kondisi yang baik dan bebas dari korupsi. Hal itu dikarenakan masalah sekulerisasi kurikulum sudah termasuk dalam rencana kolonial Barat saat runtuhnya negara Khilafah Utsmaniyah dan pendudukan Perancis dan Inggris di wilayah Afrika utara seperti Maroko, Aljazair dan Tunisia hingga ke Mesir.

Hal tersebut kemudian diikuti oleh penjajahan Amerika dalam bidang militer dan budaya, seperti yang telah disadari direktur pendidikan George Hardy di Maroko selama periode kolonial ketika ia berkata: "Kemenangan militer tidak berarti kemenangan sempurna. Pasukan dapat membangun kerajaan, tetapi hal itu tidak menjamin kelangsungan dan keabadiannya. Mereka tunduk di hadapan meriam sementara hati mereka terus dipenuhi kebencian dan keinginan untuk membalas dendam. Sehingga perlu untuk menundukkan jiwa mereka setelah kita menundukkan raga mereka. meskipun tugas ini tidak seriuh tugas yang lain, hal itu tetap sulit dicapai dan dalam sebagian besar keadaan, itu membutuhkan waktu yang lama (untuk tercapai)".

Sejak saat itu telah ada kampanye sekulerisasi yang simultan terhadap negeri-negeri muslim dan mereka menggunakan pendidikan sebagai senjata budaya untuk menghancurkan benteng ummat dari dalam. Seruan orientalisme, misionaris dan westernisasi mendominasi atas kurikulum pendidikan dan mulai disertai dengan promosi aqidah (keyakinan) pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme).

Mereka mengikat istilah sekularisasi ('ilmaaniyah' dalam bahasa Arab) dengan kata 'ilm' (pengetahuan) dalam bahasa arab sebagai terjemahan untuk kata 'sekularisme' dalam bahasa Inggris yang tidak terhubung ke kata 'pengetahuan' dalam kamus mereka. Padahal istilah itu adalah perwujudan dari ide yang komprehensif tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan yang diadopsi oleh barat.

Pada saat itu pendudukan Eropa berusaha untuk menunjuk direksi pendidikan asing dari Perancis dan Inggris di sekolah-sekolah Mesir, Aljazair dan Maroko, untuk mengawasi dan mengelola proses pendidikan secara langsung dan untuk mempersiapkan kemampuan lokal dalam program mahasiswa asing yang nantinya akan menghasilkan orang-orang yang dianggap sebagai pelopor reformasi pendidikan.

Seperti halnya reformasi yang dilakukan Muhammad Ali Pasha di Mesir dan mahasiswa asing yang ia kirim, di mana jumlah siswa yang dikirim ke Eropa mencapai 319 orang. Teladan dan blueprint mereka yaitu Rifaah at-Tahthawi, seorang penulis buku: "The Extraction of Gold or an Overview of Paris". Setelah kembali dari Perancis, ia menulis dan memuji kehidupan Perancis di semua elemen, termasuk cara berpikir mereka, pendidikan dan cara individu berinteraksi dengan satu sama lain.

Dan seperti yang Lord Cromer ilustrasikan dalam kaitannya dengan infiltrasi intelektual terhadap pemikiran melalui program-program mahasiswa asing yang tidak signifikan ketika ia berkata: "Para pemuda yang menerima pendidikan mereka di Inggris dan Eropa kehilangan keterikatan mereka pada budaya dan spiritual tanah air mereka, sementara pada saat yang sama mereka tidak akan mampu memberikan loyalitasnya kepada negara (barat) yang memberikan ilmunya, sehingga demikian, mereka terbelah di tengah. Terkoyak (identitasnya)".

Muhammad Ali dan keluarganya bekerja untuk menguasai pendidikan sipil dan mengesampingkan pendidikan Azhar serta menghapusnya. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk membuat Mesir menjadi bagian dari Eropa seperti yang anaknya, Ismail, biasa katakan dan ia yakin bahwa perubahan tidak akan terjadi kecuali pendidikan yang dijadikan kebarat-baratan.

Sumber : t.me/GuruMuslimahInspiratif

Post a Comment

Powered by Blogger.