Nasehat Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani bagi Pengemban Dakwah



1. Ketahuilah, kaum muslim tidak pernah mundur dari posisinya sebagai pemimpin dunia selama berpegang teguh kepada agamanya.

2. Patut diperhatikan dengan seksama bahwa usaha mengemban qiyadah fikriyah Islam adalah dalam rangka membangkitkan kaum muslim.

3. Dalam mengembangkan dakwah Islam hendaknya kita berpegang kepada satu prinsip, yaitu menyebarluaskannya sebagai qiyadah fikriyah bagi seluruh dunia.  


4. Mengemban dakwah saat ini hendaknya dikembangkan dengan metode yang sama dengan masa sebelumnya, yakni dengan menjadikan metode dakwah rasul sebagai suri teladan.

5. Mengemban dakwah membutuhkan sikap terus terang dan keberanian, kekuatan dan pemikiran.










Oleh : Nasrudin Joha

Ada yang sok ilmiah membela kebijakan rezim yang tidak segera memberlakukan kebijakan Lockdown dengan alasan ada dugaan Pemerintah mengadopsi kebijakan Herd Imunity.
.
Kemudian membuat ilustrasi, mengambil contoh negara Inggris, lantas berusaha melegitimasi tindakan abai rezim terhadap sebaran virus Corona yang sudah sangat mengkhawatirkan.
.
Perlu saya tegaskan, methode herd Imunity itu methode bertahan hidup hewan, atau kehidupan manusia purba yang tidak memiliki pemimpin dan Pemerintahan. Apa gunanya, rakyat memiliki pemimpin jika pemimpin membiarkan rakyat melawan virus Corona dengan daya imun masing-masing yang dimiliki rakyat ?
.
Lantas, bagaimana jika imunitas diri rakyat lemah dan kalah perang melawan virus Corona, apakah kemudian Pemerintah menyalahkan rakyat karena memiliki imunitas lemah ?
.
Apakah lantas, hanya manusia dengan daya imun kuat, yang secara self defense bisa bertahan dari serangan virus Corona yang berhak hidup ? Bukankah ini kehidupan bar-bar ? Bukankah ini kehidupan hewan dihutan ?
.
Justru karena negara telah mengambil pajak dari rakyat, maka negara berkewajiban melindungi keselamatan dan nyawa rakyat. Justru Negara, wajib menjamin hajat pokok rakyat, saat rakyat bertarung melawan virus Corona.
.
Untuk menstabilkan rupiah dan IHSG saja, negara telah menggelontorkan sekitar 300 T. Berapa yang sudah dikeluarkan Negara untuk membela rakyat dalam perang melawan virus Corona ?
.
Belum lagi memberi makan rakyat pada masa Lockdown, sebab itu kewajiban negara yang diatur UU. Memastikan dokter dan perawat mendapat APD memadai saja negara tidak becus.
.
Kalau sudah begini, apa gunanya ada negara ? Apakah Negara hanya hadir saat memungut pajak rakyat ? Lantas, negara cuci tangan ketika rakyat diserang wabah Corona ?
.
Jangan sok ilmiah membela ketidakbecusan rezim mengurusi rakyat dengan istilah yang sok ilmiah tapi menyesatkan. Herd Imunity itu maknanya MATI URIP SAK KAREPMU.
.
Negara macam apa yang membiarkan rakyatnya mati perlahan, bertempur melawan virus Corona ? Negara macam apa, ragu memberlakukan Lockdown hanya karena khawatir tidak mampu, atau tidak mau memberi makan rakyatnya ?
.
Saat ini, negara semestinya hadir membela rakyat. Melindungi rakyat dengan memberlakukan kebijakan Lockdown dengan segala konsekuensi nya []


Oleh: Deu Ghoida
Corona masih menjadi pembicaraan penting dalam beberapa waktu ini. Update pemberitaan masih menduduki rating tertinggi, negeri ini dan dunia dirundung duka karena jumlah pasien meninggal dunia terus bertambah. Bahkan pada bulan Maret ino, Indonesia menduduki peringkat 2 negara dengan peningkatan pesat jumlah penderita dan jumlah korban meninggalnya.
Dengan menghentikan beragam aktivitas di masyarakat, dianggap tak biasa di masyarakat kita menjadikan kekhawatiran dan ketakutan pada sebagian besar masyarakat. Tapi tak sedikit juga yang masih menghadapi dengan santai dengan tetap beraktivitas bebas seperti biasa di luar rumah. Banyak beredar beragam dalil, hujjah dan beragam fatwa terkait larangan sholat Jumat, bahkan sholat jamaah pun dibuat dirumah saja. Tak sedikit yang berbeda pendapat, karena fungsi penguasa hari ini bukanlah ahli dalam urusan agama, jadi masyarakat dibiarkan berada dalam kebimbangan masalah bagaimana mereka menjaga syariat.
Seperti pemerintah Indonesia menyikapi cukup dengan social distance, tidak sampai kebijakan lockdown, untuk menstop masuknya orang asing atau siapapun masuk ke negeri ini. Bisa jadi karena beragam kebijakan ekonomi sebelumnya yang Indonesia memberlakukan investasi besar-besaran, sehingga sulit menutup diri dari masuknya asing ke negeri ini.
Padahal kita tau, bahwa akibat virus ini, telah tersebar di 28 negara menginfeksi Saat ini virus corona telah menginfeksi 272.167 orang di dunia dan 369 orang di Indonesia dan menimbulkan korban meninggal dunia terus bertambah. Corona telah menjadi virus yang menakutkan di dunià saat ini. Ditambah dengan opini yang terus digulirkan oleh media makin menambah ketakutan dan perubahan sikap muslim dalam menghadapi qodho dan menyikapinya dengan ikhtiar.
Hakikat wabah dalam Islam
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS At Taubah 51)
Artinya jika kita belajar dari ayat tersebut, perkara darangnya musibah Corona merupakan sesuatu yang telah ditetapkan Allah. Dari situlah kewajiban seorang muslim bertawakkal kepada Allah. Menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Allah semata.
Berlepas dari adanya konspirasi yang membuka peluang terciptanya virus atau penyebarannya, tugas kita sebagai muslim dengan adanya musibah adalah kembalikan segala sesuatunya kepada Allah. Akan tetapi keyakinan terhadap ketetapan Allah azza wa jall tentang wabah ini tidak berarti mengindikasikan kepada manusia (terutama kaum mukmin) untuk bersikap fatalistik (pasrah terhadap nasib). Karena jelas sikap kita hari ini akan menentukan hisab kita kelak, dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Menghadapi wabah
Ada beberapa hadist tentang wabah berkaitan dengan tuntunan bagaimana seharusnya muslim berperilaku.
Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ
“Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit”.
Pemisahan unta adalah upaya manusia, yang merupakan pilihan aktifitasnya, untuk menghindari meluasnya penyakit. Hal ini mengindikasikan adanya karantina terhadap penderita atau tempat terjadinya wabah. Dengan adanya teknologi hari ini sebenarnya memudahkan mendeteksi persebaran virus Corona di dunia. Jadi sikap lambat melakukan upaya prefentif menunjukkan kelemahan berpikir dengan lemah berikhtiyar.
Sudah sepatutnya manusia memahami bahwa hidup di dunia merupakan ladang uji, dan Allah akan menguji manusia dengan berbagai macam cara sebagai ujian atas kesabarannya.
وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۙ
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)
Tapi ingat, ada ayat lain yang menjadikan manusia sebagai subjek atas beragam ujian yang allah berikan.
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.(QS.Arra'du (13):11)
Artinya dalam masalah wabah ini, ada peran manusia untuk bisa meneliti, memaksimalkan usaha untuk mengobati dan mencegahnya karena di wilayah itulah manusia akan dihisab. Menempatkan Corona sebagai qodho bukan berarti melepas usaha kita untuk memaksimalkan upaya pencegahan, pengobatan dan pendalaman atas apa yang menimpa manusia.
Sebagaimana dahulu Khalifah Umar bin Khathab pernah menyikapi wabah yang terjadi pada masanya.
Abu Ubaidah bin Jarrah RA sebagai komandan pasukan Jihad di Syam bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab RA di Sargh. Khalifah berniat untuk membawa kembali Abu Ubaida ke Madinah mengingat adanya wabah yang sedang melanda wilayah Syam. Abu Ubaidah menolak dan mengingatkan apakah Sang Khalifah ‘lari dari taqdir Allah’?
Hal ini dijawab oleh Khalifah Umar bahwa ‘kita lari dari taqdir Allah ke taqdir Allah yang lain’ seraya menjelaskan pilihan seorang penggembala yang membawa kambingnya ke lembah yang hijau ketimbang lembah yang tandus. Pilihan Khalifah Umar RA untuk memutuskan meninggalkan Syam, dan pilihan Abu Ubaidah untuk tetap berada di Syam ternyata mendapatkan legitimasi dari hadist yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf
Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ
“Jika kalian mendengar suatu negeri dilanda wabah, maka jangan kalian memasukinya. Jika wabah itu terjadi di negeri yang kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Hal inilah merupakan sikap bijak dan tepat ketika seorang pemimpin memutuskan sebuah kebijakan. Apa yang dilakukan pemerintah hari ini sangat jauh dari apa yang dilakukan oleh Khalifah dalam Islam. Kecenderungan pemerintah mengikuti agenda global kapitalisme dengan skenario Corona Loan, pinjaman IMF untuk mengatasi Corona di negara penghutang, justru hari ini menjadi wacana. Tidak menutup akses masuknya asing, justru memasukkan hutang baru atas nama rakyat. Tindakan ini merupakan bentuk pelalaian, kelemahan riayah negara kepada warganya.
Seharusnya menempatkan posisi para ilmuwan untuk menganalisa, mendalami dan melakukan rekomendasi atas penanganan Corona, mendapatkan prioritas untuk kemaslahatan. Karena demikianlah peran ilmu dalam Islam. Untuk mengukur kadar yang Allah tetapkan dalam ciptaanNya.
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (Al Furqan 25:3).
Disinilah kemaksimalan ikhtiar manusia dengan adanya para ahli untuk segera menemukan analisa dan obat yang tepat mencegah penularan wabah tersebut. Bukan justru menarik keuntungan bahkan merugikan rakyat dengan menambah hutang dan ketergantungannya kepada pihak yang jelas memanfaatkan atas nama kapitalisme. Penyepelean terhadap hal ini akan menyebabkan dosa akibat berlepasnya tanggung jawab penguasa dalam urusan rakyatnya.
Penyikapan Atas Wabah
Lemahnya penguasa dalan nengatur masalah wabah ini tetap harus disikapi dengan ikhtiar individual yang maksimal bisa dilakukan.
1. Lakukan ikhtiar yang maksimal; Stop berkunjung ke daerah atau negara dan menerima kunjungan dari asal munculnya wabah. Lakukan karantina, isolasi pada setiap orang tersuspect. Sering cuci tangan, makan yang sehat, jaga jarak kontak dengan sesama disebut Sosial Distance, tidak keluar kecuali penting. Jika perlu segera Lock Down, tutup aktivitas kota atau negara secara masal. Hal demikian pernah dilakukan saat terjadi wabah dalam sejarah Islam. Karena pada yang demikian ada hisab.
2. Sabar dalam ujian dan tawakal penuh kepada Allah Swt. Mestinya Peristiwa ini menjadikan semakin taqarub kepada Allah, beristighfar dan berzikir serta memohon ampun kepada-Nya, meminta agar segera wabah ini dicabut dan diganti dengan berkah.
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (QS.Al-Anfal (8): 33)
Ali Bin Abi Thalib Ra berkata.
مَا نَزَلَ البَلَاءُ إلٌَا بِذَنْبٍ وَمَا رَفَعَ إلَّا بِتوبَةّ
“Setiap musibah yang turun disebabkan oleh dosa, dan tidak akan terangkat kecuali dengan taubat”
3. Ridla terhadap yang sudah menjadi qadlanya dan tak putus asa. Terlebih jika wafat karena terserang wabah akan mendapat derajat syahid akhirat.
الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena tho’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Tetap ada amar ma'ruf nahy munkar kepada pihak penguasa karena pada merekalah segala kebijakan dihandle. Pengaturan negara yang sesuai dengan Islam akan memberikan maslahat yang besar jika olmuwàn mendapatkan perhatian khusus untuk semata kemaslahatan umat bukan mindset untung rugi ala kapitalisme. Teruslah mendorong penguasa untuk menerapkan solusi Islam dan meminta semua masyarakat dan penguasa bertaubat atas kelalaiannya menerapkan hukum Allah dalam kehidupan. Karena kemaksiatan kita hari ini memang menjadi syarat didatangkannya adzab Allah di muka bumi.
Wallahu a'lam.


Oleh: Wahyudi al Maroky
(Dir. PAMONG Institute)

Dengan setumpuk kecerdasannya dan segenggam kekuasaanya serta sejuta kewenangannya tentu tak sulit membantu warganya jika harus lockdown._*
Banyak negara Maju yang menerapkan kebijakan Lockdown dalam menangani Wabah corona. Sangat berbeda dengan negeri ber”flower” yang sering di sebut kalangan melenial sebagai negeri +62. Sampai hari Senin, 23/03/20, sudah banyak negara yang lekukan lockdown seperti, Malaysia, italia, Korea, dll. Namun penguasa negeri +62 itu belum juga memutuskan untuk Lockdown.
Seiring berjalannya waktu, jumlah yang terpapar terus meningkat. Bahkan korban nyawa terus berjatuhan. Sampai Senin, 23/03/20 tercatat ada 579 kasus dan 49 meninggal dunia (CNNIndonesia.com). sementara jika kita bandingkan negara tetangga Malaysia yang melakukan lockdown, tercatat 1070 kasus dan yang meninggal 11 orang. (detik.com).
Sebagai manusia waras, tentu kita tak ingin wabah ini meluas dan banyak menimbulkan korban. Para Ahli sudah memberikan pandangannya, setidaknya sudah ada IDI dan beberapa ahIi yang menyampaikan agar segera lockdown.
Semestinya penguasa negeri segera mengikuti pendapat ahli. Bahkan dalam islam pun diajarkan bahwa untuk memutuskan suatu kebijakan yang terkait KEAHLIAN tertentu maka harus mengambil pendapat ahli. (Apabila suatu urusan tidak diserahkan kepada ahlinya maka tunggu kehancurannya). Hal ini tentu berbeda dengan mengambil keputusan yang terkait hukum, maka harus dikebalikan kepada Quran dan Sunnah.
Memang ada beberapa usulan terkait lockdown. Ada yang berpendapat tidak perlu. Ada yang berpendapat Cukup dilakukan oleh kepala keluarga saja agar ekonomi negara tak terganggu. Ada yg berpendapat harus oleh Kepala negara karena kalau oleh Kepala keluarga saja kurang efektif.
Lalu bagaimana dengan penduduk miskin yang harus tinggal dirumah ketika lockdown? Kepala keluarga itu tidak bisa bekerja untuk nafkah dan makan keluarganya? Belum lagi para pengusaha besar akan merugi jika perputaran ekonomi lesu.
Dari berbagai masalah yang timbul jika lockdown dapat kita pahami sbb :
PERTAMA: Lockdown akan optimal jika dilakukan oleh PEMIMPIN sesuai LEVELNYA. Jika saat ini sudah menyebar dimasyarakat maka tak akan optimal jika yang melakukan hanya level KEPALA KELUARGA. Karena Corona kini tidak menyebar di KELUARAGA tertentu sehingga cukup di lockdown oleh level kepala Keluaraga.
Corona juga bukan hanya menyerang kampung tertentu sehingga cukup lockdown oleh KEPALA KAMPUNG. Corona juga bukan hanya menyerang DAERAH tertentu sehingga cukup lockdown oleh KEPALA DAERAH. Tapi Corona kini sudah menyerang di NEGARA kita sehingga mesti lockdown oleh KEPALA NEGARA juga.
KEDUA: Penguasa mestinya Mendengarkan pendapat AHLI. Karena Corona menyangkut keahlian tertentu maka mestinya pemimpin mengambil keputusan dari pendapat ahli. Yang paham corona adalah para dokter ahli dan para ilmuwan. Dalam hal ini Khalifah umar yang begitu hebat pun mendengarkan pendapat ahli dari sahabat Amru bin Ash. Selanjutnya beliau pun mengikuti saran dari Ahli. Sebagaimana dikisahkan, segera melakukan ISOLASI daerah agar wabah tidak menyebar (lockdown).
KETIGA: Melindungi rakyat dengan segala konsekuensinya. Salah satu tugas negara sesuai UU No 6 tahun 2018 tentang KEKARANTINAAN KESEHATAN. Memang jika karantina atau Lockdown dilakukan akan ada sebagian KEPALA KELUARGA yang tak mampu memberikan makan anggota keluarganya.
Ketika sebagian Kepala keluarga tak sanggup memberi makan keluarganya akibat kebijakan Lockdown, maka KEPALA NEGARA harus hadir membantu Kepala keluarga tersebut.
Memang ada beberapa pertanyaan, dari mana negara dapat uang untuk membantu warganya? Sesungguhnya ini pertanyaan yang merendahkan kapasitas kepala Negara. Dengan setumpuk kecerdasannya dan segenggam kekuasaanya serta sejuta kewenangannya tentu tak sulit membantu warganya ketika harus lockdown.
Bukankah kita bisa membayar BUNGA UTANG yang ratusan trilyun? Bukankan kita bisa hemat perjalanan dinas yang Puluhan Trilyun? Bukankah kita bisa tunda pembangunan infrastruktur yang ratusan trilyun? Bukankah kita bisa tunda pembangunan Ibukota yang ratusan trilyun demi selamatkan nyawa rakyat yang tercinta? Asal ada niat baik tentu tak susah bukan?
KEEMPAT: Melibatkan PARTISIPASI MASYARAKAT dan semua pihak jika dana masih kurang. Jika Bayar bunga utang sudah dihemat ratusan trilyun, perjalanan dinas dihemat puuhan trilyun, pembangunan infrastruktur ratusan trilyun, pindah ibukota ratusan trilyun, dll. itu masih kurang juga untuk bantu rakyat akibat lockdown, maka bisa dilibatkan partisipasi masyarakat yang kaya raya untuk bisa diminta pinjamannya dan membantu saudaranya.
KELIMA: Meraih Berkah dengan taat pada aturan Ilahi. Tak ada yang layak dibanggakan apalagi disombongkan kehebatan manusia dalam membangun. Hasil pembangunan infrastruktur yang megah dan kecanggihan teknologi yang hebat akan tiada artinya jika tak berkah. Cukup Allah berikan bencana sekejab semua bisa sirna.
Kebijakan lockdown bukan sekedar pendapat ahli tapi juga perintah baginda Nabi SAW. Selayaknya kita segera mohon ampun atas segala kesalahan dan kesombongan selama ini. segara patuhi dan keluarkan kebijakan sesuai level kepemimpinan kita.
Semoga Allah melindungi kita dan negeri ini dari segala bentuk musibah dan bahaya. Semoga pula Allah limpahkan barokah atas negeri ini. aamiin.
NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.


Penulis : Yudia Falentina (Pemerhati Lingkungan dari Komunitas Revowriter)

Indonesia kini darurat virus Corona (Covid 19). Bahkan salah satu menteri kabinet Joko Widodo yakni Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dikabarkan positif terjangkit virus ini.

Jumlah pasien kian hari terus bertambah. Juru Bicara Pemerintah khusus penanganan virus corona, Achmad Yurianto mengatakan angka sebelumnya hanya 69 meningkat menjadi 96 kasus. Satu hari kemudian, korban bertambah menjadi 117 orang. Mirisnya, 5 orang pasien dinyatakan meninggal dunia. Kini, penyebaran virus ini tidak hanya di Jadebotabek, juga sampai ke Jabar, Jateng, Yogyakarta, Bali, Manado, Pontianak dan daerah lainnya (cnnindonesia.com,15/3/2020).
Bahkan, sejak mewabah Januari lalu, Covid-19 ini sudah menjangkiti 117 negara. Di negara asalnyal virus ini telah berhasil diredam, kini malah menyebar ke berbagai belahan dunia. Italia termasuk negara kedua terbanyak penderita Corona setelah Cina. Sebagai antisipasi penyebaran virus tersebut, pemerintah Italia menerapkan lockdown (mengunci daerah), tindakan ini juga telah dilakukan oleh Manila, Irlandia dan Denmark.
/Apa itu Lockdown?/
Dikutip dari liputan6. com, 14/3/2020, lockdown merupakan situasi dimana seseorang tidak diizinkan masuk atau keluar gedung, area secara bebas karena keadaan darurat. Tindakan ini bertujuan mengunci akses masuk dan keluar sebuah daerah atau negara untuk mencegah penyebaran COVID-19. Lockdown mengharuskan sekolah, tempat umum, transportasi umum, bahkan industri ditangguhkan sementara.
Lebih lanjut, aturan lockdown juga meminta masyarakat untuk tetap berada di rumah dan membatasi segala aktivitas di ruang publik. Upaya lockdown akibat COVID-19 pertama dilakukan oleh pemerintahan China, khususnya di Provinsi Hubei selanjutnya juga dilakukan di Korea Selatan tepatnya di Daegu.
/Lalu apakah pemerintah Indonesia akan melakukan langkah serupa?/
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan bahwa pemerintah saat ini tidak akan melakukan upaya lockdown. Terawan menilai bahwa tindakan preventif atau pencegahan dengan membersihkan lingkungan dan menjaga imunitas anggota masyarakat lebih efektif untuk dilakukan (Kata data.co.id, 13/3/2020).
Selain itu, Jubir penanganan virus corona menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia belum mengambil opsi lockdown. Hal tersebut karena Indonesia belum siap dengan konsekuensi dari opsi ini. Jika diterapkan nantinya akan berpengaruh pada berbagai aspek, sebut saja sektor ekonomi dan sektor pariwisata tentu akan kena imbasnya.
Lalu apakah nyawa 271 juta rakyat Indonesia akan dikorbankan begitu saja demi meraih pemasukan negara? Pasalnya, jika virus ini menyebar luas di Indonesia tentu akan berdampak cukup dahsyat nantinya. Hal ini dikarenakan, bidang kesehatan negara +62 ini belum secanggih Cina dan Italia. Wong mereka aja yang labih maju dalam bidang kesehatan telah mengambil opsi lockdown, sementara kita yang jauh tertinggal justru membuka pintu dan diskon besar-besaran buat turis asing dan mancanegara. Sebuah kebijakan yang amat disayangkan!
/Panduan Islam Atasi Wabah Penyakit/
Islam selaku agama sempurna telah punya segudang aturan dalam kehidupan. Begitu pula dalam penanggulangan wabah penyakit tak luput dari aturan Islam. Sebelum Cina dan Italia melakukan lockdown terhadap negaranya, tindakan serupa telah dahulu dilakukan oleh Rasulullah pada zamannya.
Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:
‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ
Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR al-Bukhari).
Lebih lanjut, Rasulullah membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah SAW.
Pada hadist yang lain Abu Hurairah ra menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, "Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa" (HR al-Bukhari).
Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Sebagaimana beliau bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu (HR al-Bukhari).
Dari apa yang telah diuraikan diatas, jelas sekali bahwa Islam punya solusi jitu dalam mengatasi wabah, termasuk Covid 19. Apa yang telah dilakukan Rasulullah dulunya kini dikenal dengan istilah Lockdown. Memang Islam adalah agama am yang sempurna mengatur kehidupan, saat ilmu dan teknologi belum semaju sekarang, Islam telah lebih dulu menerapkan konsep penguncian daerah dari suatu wabah penyakit. Wallahualam bisshowab.



Oleh: Rindyanti Septiana, S.Hi.
Virus corona (Covid-19) semakin meluas, sayangnya tidak dibarengi dengan antisipasi yang baik oleh pemerintah. Bahkan edukasi dan informasi yang diberikan pemerintah hanya sebatas mengumumkan bertambahnya jumlah pasien positif corona saja, selebihnya ‘dirahasiakan’. Tranparansi dari pemerintah betul-betul dipertanyakan.
Hingga pada 16/3/2020 lalu, digelar konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta. Ketua Gugus Percepatan Penanganan Virus Corona, Doni Monardo, mengatakan telah berkomunikasi dengan negara sahabat yang ingin membantu penanganan virus corona di Indonesia. Pemerintah terbuka bila ada bantuan dari negara lain katanya.
Salah satu negara yang sudah menyatakan akan membantu Indonesia yaitu Singapura. Joko Widodo menyampaikannya di Istana Kepresidenan Bogor, (16/3/2020) namun tidak merinci bantuan yang akan diberikan Singapura. (voaindonesia.com,17/3/2020)
Sementara itu, beberapa kalangan juga mengkhawatirkan pemerintah Indonesia akan menerima tawaran “Corona Loan” dari IMF. Mengingat Indonesia masih tergabung sebagai salah satu anggota IMF.
Awal bulan Maret (4/3/2020), IMF mengumumkan telah menyiapkan dana pinjaman sebesar 50 miliar dolar AS khusus untuk membantu negara-negara berkembang dan berpendapatan kecil dalam menghadapi penyebaran virus corona. Inilah yang disebut “Corona Loan”.
IMF mengistilahkan sebagai Rapid Credit Facility (RCF) dengan bunga 1,5 persen dalam jangka waktu pengembalian 3-5 tahun. Dana yang digelontorkan sebesar 40 miliar dolar AS dialokasikan untuk negara-negara berkembang.
Lalu, 10 miliar dolar AS dialokasikan khusus bagi negara berpendapatan rendah, diistilahkan Rapid Financing Instrument (RFI) dengan bunga nol persen dalam jangka waktu pengembalian 10 tahun (grace periode hingga tahun ke-5)
Sekilas tawaran pinjaman tersebut begitu menggiurkan namun publik tidak boleh terkecoh. Karena dibalik pinjaman terdapat rentetan syarat yang justru membahayakan perekonomian bangsa hingga berpuluh tahun setelahnya.
Dampaknya bukan sekarang, namun akan menjadi duri yang menusuk di sepanjang perjalanan perekonomian bangsa. Dalam sistem kapitalis, tak ada makan siang gratis.
Dari informasi yang disampaikan IMF, setidaknya 20 negara telah mengantre –selain Iran yang pertama melakukan permohonan “Corona Loan” sebesar 5 miliar dolar AS. Namun, apakah Indonesia masuk dalam 20 negara tersebut atau tidak, hal itu belum dibuka oleh pihak IMF.
Inilah gambaran nyata para pejabatnya: sedikit berpikir, tak mau repot, dan mudah mengulurkan tangan kepada negara lain yang siap membantu (dalam hal utangan, ed.). Tidak berpikir mandiri, berupaya sendiri menyelesaikan masalah negeri. Walhasil, negara lain akan begitu mudah meminta imbalan dari segala bantuan yang diberikan.
Kapitalis Mengais Untung di tengah Kesulitan
Bukan hal yang baru dalam sistem kapitalis, bahwa setiap waktu bernilai uang. Setiap kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meraup pundi-pundi uang. Apalagi mencari cara memuluskan agenda baru lewat pinjaman utang guna menjerat ‘kaki’ setiap negara agar tunduk pada aturan sang peminjam.
Ini merupakan cara lama yang telah dimainkan oleh beberapa negara peminjam utang serta lembaga keuangan dunia untuk memperoleh keuntungan. Baik ekonomi dan politik. Itu menjadi sasaran mereka untuk ‘menyetir’ semua negara yang berada dalam jeratan utang yang diberikan.
IMF lewat ‘Corona Loan’ mencoba peruntungan dengan menyiapkan dana segar bagi negara-negara yang terdampak virus pandemik tersebut. Meski IMF pernah dikritik keras oleh para peneliti Inggris, karena semakin memperburuk kondisi negara-negara yang mendapatkan pinjamannya, ttak membuat lembaga keuangan ini berhenti dalam menjalankan agenda kepentingannya.
Departemen Sosiologi Universitas Cambridge dan Universitas Oxford, lembaga European Center on Health of Societies in Transition (ECOHOST), London School of Hygiene and Tropical Medicine, mengungkapkan peranan IMF pada saat pecahnya wabah Ebola di Afrika Barat: Sierra Lione, Liberia dan Guinea pada 2014.
Program IMF di Afrika Barat mensyaratkan pemotongan pengeluaran pemerintah, pinjaman akan diprioritaskan untuk pembayaran kewajiban utang pemerintah dan peningkatan cadangan devisa.
Akibatnya terjadi kekurangan pembiayaan untuk sektor kesehatan, kekurangan staf kesehatan, dan buruknya persiapan sistem kesehatan. Justru hal tersebut berkontribusi semakin mempercepat penyebaran Ebola di tiga negara Afrika Barat.
Dapat dipastikan ekonomi ketiga negara pun ikut anjlok. Sierra Lione yang terparah karena 2015 PDB-nya kontraksi hingga minus 20 persen (lebih parah dari Indonesia tahun 1988). Sementara PDB Liberia kontraksi hingga nol persen tahun 2015 dan minus 1,6 persen tahun 2016. Sedangkan Guinea PDB-nya hanya tumbuh 0,1 persen pada 2015. Hal ini terjadi baru 5-6 tahun yang lalu. (rmol.id, 17/3/2020)
Sebaiknya Indonesia berpikir ribuan kali untuk meminjam utang kembali pada IMF. Pengalaman Indonesia dengan IMF mencatat sejarah buruk bagi Indonesia.
Saat IMF memaksa Soeharto menandatangani ratusan syarat dan prasyarat pada tahun 1997 mengakibatkan pencabutan subsidi BBM dan hancurnya ekonomi Indonesia. Karena naiknya suku bunga perbankan secara drastis, perbankan kolaps, dan GDB anjlok hingga minus 13 persen. Membiayai bankir-bankir pesakitan yang sudah kaya raya melalui kebijakan BLBI dari APBN hingga puluhan tahun setelah reformasi.
Tidakkah ini menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk Indonesia? Pinjaman utang guna pembangunan infrastruktur dengan Tiongkok saja meninggalkan berbagai ‘dikte’ politik dan ekonomi yang hari ini harus dipenuhi Indonesia. Apalagi jika akhirnya Indonesia menerima kembali uluran tangan IMF lewat ‘Corona Loan’. Sudah bisa kita bayangkan, kondisi Indonesia akan semakin parah dijerat berbagai utang dari segala arah.
Virus corona belum berhasil ditangani pemerintah, justru menambah masalah baru lewat pinjam utang yang tak kalah membahayakan dari virus corona. Semoga itu tidak terjadi.
Konsekuensi Politis Mengancam Kedaulatan Negeri Lewat Utang
Walaupun belum lama ini Indonesia diakui sebagai negara maju oleh kamar dagang AS, tetapi masih terbuka peluang bagi Indonesia untuk melakukan pinjaman utang pada negara lain atau lembaga keuangan dunia.
Hal itu disebabkan sudah semakin sulitnya pemerintah memenuhi kebutuhan rakyatnya. Bahkan BPJS yang digadang-gadang oleh pemerintah sebagai jaminan untuk memberikan kesehatan gratis tak akan membiayai pasien positif corona.
Berdasar Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK. 01/07/MENKES/104/2020. BPJS Kesehatan tidak menanggung pasien yang positif terkena Covid-19. Penyakit corona tidak di-cover BPJS Kesehatan karena masuk ke penyakit yang menimbulkan wabah.
Lalu siapa yang akan menanggung biaya pengobatan pasien positif virus corona?
BPJS Kesehatan menyatakan sebagai bentuk pembiayaan, maka akan ditanggulangi oleh Kemenkes, Pemda, dan/atau sumber dana lain yang sah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Kita garis bawahi kalimat “sumber dana lain yang sah”, yang tentu membuka peluang bagi negara lain atau lembaga keuangan dunia menjadi sumber dana tersebut. Lantas, apakah Indonesia masih mau menerima pinjaman utang dari mereka yang terbukti semakin menghancurkan kondisi negeri ini?
Tak ada yang gratis dalam paradigma kapitalis. Utang yang mengandung riba tersebut memiliki potensi bahaya politis atas negeri karena menjadi alat campur tangan dan kontrol pihak asing terhadap kebijakan pemerintah. Utang semacam ini jelas hukumnya haram. Karena diperoleh dengan syarat yang melanggar hukum syara’.
Konsekuensi politis utang ini pun kentara dalam banyak kebijakan dan produk perundang-undangan. Selain itu, terus menerus menumpuk utang dengan beban bunga yang tinggi akan menjerumuskan negeri dalam jebakan utang riba (debt trap). Kedaulatan negara pun terancam.
Hal ini diharamkan karena Islam mengharamkan segala jalan yang mengakibatkan kaum kafir mendominasi kaum Muslim .
Firman Allah SWT,
“…dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa: 141)
Semestinya para petinggi negeri memahami peringatan Allah SWT tersebut. Tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. Karena berbagai jeratan siap mengintai negeri ini lewat utang luar negeri.
Bahaya ideologis dan politis di balik jeratan utang luar negeri yang ditumbuhsuburkan kapitalisme harus dihindari. Ini menjadi bukti pada kita betapa buruknya kapitalisme yang terus mengambil keuntungan di tengah penderitaan umat manusia.
Maka sudah seharusnya kita campakkan kapitalisme dari kehidupan umat, digantikan dengan Islam lewat tegaknya institusi politik Islam yaitu Khilafah.



Untuk sampai pada kesimpulan hukum untuk Herd Immunity, berikut saya copas beberapa bagian dari dua tulisan; yang pertama pro dengan kebijakan Herd Immunity, dan kedua kontra dengannya.
Tulisan pertama oleh Rendy Saputra, dan tulisan kedua oleh Mila Anasanti.
Rendy Saputra:
Virus yang menjangkiti tubuh akan diserang oleh antibodi ini. Inilah tafakur mendalam kita hari ini, antibodi kita menyusun bahan baku serangan untuk virus covid-19. Khusus untuk si dia saja.
Maka muncul angka 14 harian, atau kurang, dimana antibodi kita menyusun serangan ke covid. Hingga antibodi yang khusus dibentuk untuk covid terbentuk.
Maka setelah terbentuk antibodi alami covid, tubuh kita kebal covid. Secara teori, tidak lagi bisa dijangkiti covid-19. Mudah-mudahan teorinya bener.
Nah, Ketika sudah cukup banyak masyarakat yang terjangkiti covid-19, akan terbentuk "sekawanan" manusia yang sudah kebal covid-19. Dan disaat itulah terbentuk namanya Kekebalan Kawanan : Herd Immunity.
++++
Teori Herd Community ini berat untuk disampaikan. Secara ilmiah, 60%-70% masyarakat akan terjangkit. Dan kemudian mayoritas yang bertahan akan membentuk antibodi alami.
Di Wuhan, mungkin gak butuh sampai 60-70 persen. Karena mereka total lockdown. Mereka sampai semprot kota pake disinfektan 2 hari sekali. memang targetnya bunuh virus. Bisa jadi juga mereka sudah nemu vaksin. Sudah di shot ke sebagian besar populasi. Itu juga bikin Herd Immunity.
Italia juga nampak cara memeranginya sama. Total Lockdown.
Namun lihatlah Iran, mereka nampaknya pake teori ini, biarkan semua terpapar pada akhirnya. Mereka gak punya kapasitas untuk lockdown. Yang ada tinggal gali kuburan massal di Qom. Ini fakta.
Nampak Iran sudah memahami tracknya. Berharap Herd Immunity.
+++++++
Qultu:
Herd Immunity inilah mungkin --- mudah²an tidak jadi --- yg akan diambil oleh pemerintah Indonesia secara resmi sebagai alternatif untuk menghadapi virus corona.
*****
Kita lanjut ke tulisan kedua, kontra Herd Immunity
++++++
Mila Ansanti Menulis:
Sebelum ide berbahaya ini menyebar di media massa Indonesia, ide ini sempat santer akan diterapkan oleh pemerintahan Inggris:
Tapi ide berbahaya ini nampaknya sudah diam-diam diterapkan di Indonesia, sejak awal virus corona masuk ke negara kita. Menkes saat itu mengatakan virus ini 'hanya' self limiting disease seolah seperti common cold yang banyak menjangkiti kita sepanjang tahun tapi tidak membahayakan.
Lalu muncullah dokter hewan mengaku virolog atau pakar virus yang diwawancarai media massa dan artis yang kemudian viral, menganjurkan agar virus corona ini tidak perlu ditakuti dan dibiarkan saja menyebar menginfeksi masyarakat luas. Alasannya agar terbentuk herd immunity alami (kekebalan kelompok), dengan asumsi data global fatality rate virus ini rendah 'hanya' 3%.
Mohon maaf, ini pernyataan yang sangat berbahaya, seolah tidak paham statistik paling dasar sekalipun.
Beberapa fakta yang harus diperhatikan untuk menyanggah pernyataan ini:
1. Herd immunity butuh mayoritas masyarakat terinfeksi
Untuk measles saja, WHO mengestimasi butuh 93-95% untuk imun [5]. T
Sedangkan para ahli memprediksi untuk corona virus yang persebarannya tidak secepat measles butuh 70% imun:
Taruh kata, untuk corona virus di negara kita butuh terbentuk minimal 60% dari populasi masyarakat yang imun.
Artinya, jika ada 270 juta masyarakat Indonesia, untuk terbentuk herd immunity butuh 60% x 270 juta = 162 juta jiwa minimal harus terinveksi virus ini. Dari 162 juta jiwa, berarti ada 3% yang meninggal, yaitu sekitar 3% x 162 juta = 4.860.000 orang alias hampir 5 juta orang 'harus dikorbankan' untuk meninggal!
Jadi jangan cuma lihat angka 3% saja!
2. Perhitungan fatality rate sebenarnya bisa berubah tergantung sikon, bisa lebih besar di beberapa daerah
Apalagi di Wuhan dan Italy yang ketika awal wabah fatality ratenya lebih dari 8% (sama dengan kondisi di Indonesia saat ini). Bahkan Wuhan saja di bulan February fatality ratenya mencapai 12,2% [1] !
Jadi jangan hanya melihat fatality rate yang dipandang hanya 3% saja, tapi lihat kecepatan persebarannya yang jika dibiarkan bisa menginfeksi hampir seluruh populasi. Maka angka 3% dari jumlah yang banyak tetaplah banyak.
Bandingkan dengan MERS dan SARS yang fatality ratenya lebih tinggi 34% dan 10%, tapi 'hanya' mengakibatkan 858 dan 774 orang saja yang meninggal dunia, karena persebaran virusnya yang tidak secepat SARS-cov2 ini. Korban meninggal virus corona kali ini jauh lebih tinggi dari gabungan korban MERS dan SARS [3].
3. Lemungkinan virus corona punya kemungkinan bermutasi menjadi lebih ganas
4. Prosentase yang parah hingga komplikasi mencapai 20%
Dan dokter hewan tersebut melupakan fakta lain yang tidak kalah penting yang tidak pernah dia sebut, meski fatality rate kisaran 3% tapi prosentase komplikasi hingga kerusakan organ yang butuh dirawat intensif dengan bantuan alat modern sekitar 20% [4].
Artinya 20% x 162juta jiwa = 32,4 ratus ribu orang perlu dirawat di RS. Jumlah ini tidak akan sanggub dipenuhi oleh fasilitas medis di Indo. Apalagi dengan beban hutang BPJS yang membengkak!
Tentu saran ini sangat tidak masuk akal, bahkan di Inggris sendiri saat bahasan social distancing hingga lockdown ditunda, beberapa professor dan akademi dari universitas di Inggris melakukan petisi online menolak kebijakan ini dan menekan pemerintah untuk segera bertindak [4].
Bahkan 501 saintis menandatangi petisi untuk mendesak pemerintah melakukan social distancing di Inggris ketika isu pembiaran wabah demi herd immunity alami bergulir [5].
Salah satu kampus terkemuka di Inggrispun membuat simulasi beban RS dalam menampung pasien virus corona jika persebaran virus dibiarkan begitu saja, hasilnya RS akan kewalahan menampung pasien (Lihat gambar grafik perbandingan antara beban RS ketika lockdown dan dibiarkan begitu saja) [2].
Bayangkan, ini negara dengan salah satu fasilitas kesehatan di dunia! Pada akhirnya Inggrispun mempertimbangkan masukan dari para ilmuwan di negerinya. Sehingga pada hari ini saya tidak hanya harus menikmati 'social distancing' tapi lockdown di London, kota dengan pusat perputaran ekonomi paling cepat di Inggris Pemerintah Inggris dengan berat hati memberlakukan lockdown dengan kalkulasi kerugian ekonomi yang sebegitu besar masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kerugian pemerintah jika harus overload pasien apabila wabah covid19 dibiarkan.
5. Sampai sekarang belum bisa dipastikan apakah seseorang bisa terinfeksi virus corona lebih dari sekali.
Sejumlah laporan kasus di Wuhan, beberapa pasien yang pernah terinfeksi corona dan dinyatakan sembuh, beberapa waktu kemudian tetap bisa terinfeksi.
Bahkan sejumlah laporan di Italy, dan USA menyatakan pasien yang terinfeksi virus corona dan butuh perawatan intensif di RS tidak hanya yang tua, tapi 20% justru mereka di rentang usia produkstif 20 - 44 tahun.
++++++++
Dari dua tulisan dinatas, saya dapat menyimpulkan:
1. Dalam kasus kekinian, Covid 19, menurut saya herd immunity tidak dapat dibenarkan dalam pandangan fiqh Islam. Oleh sebab itu, tidak boleh diambil oleh pemerintah. Krn itu sama saja membahayakan ribuan bahkan jutaan nyawa. Jangankan jutaan nyawa, membahayakan satu nyawa saja tidak boleh dalam Islam!!
2. Herd immunity, menurut saya bisa terjadi apabila memang terjadi dalam kondisi manusia sudah tidak dapat lagi berusaha; sehingga sudah terkategorikan terpaksa (mukrah), sehingga tidak terbebani taklif lagi, spt masa lalu, yakni saat manusia memamg belum menemukan cara menangkal/mencegahnya setelah berusaha keras.
3. Apalagi, ini masih dalam tataran teori; apakah herd immunity berhasil apa tdk pada kasus Corona.
4. Jika pada kasus campak saja sebelum tahun 60an masih sangat bahaya, padahal sdh terjadi herd immunity pada sebagian masyarakat, lalu bgmn dg kasus corona ini?!!
5. Apalagi ada kasus di Wuhan, pasien sumbuh tertular lagi dan lebih parah, sehingga mati.
6. Setiap negara, dalam mengambil kebijakan, tentu sangat tergantung pada ideologinya. Kebijakan mengambil Herd Immunity sebagai solusi atasi wabah Corona ini adalah cerminan asli dari Ideologi Kapitalisme, di mana negara tidak mau menanggung beban rakyatnya!
Wallah a'lam.
اللهم اكشف عنا هذا البلاء والوباء. اللهم اكشف عنا هذه البلية وادفعها بيدك القوية إنك على كل شيء قدير.




oleh Ainul Mizan (Pemerhati Sosial Politik)

Menyikapi pandemi global Virus Corona, pada tanggal 10 Maret 2020, WHO 
melayangkan surat kepada Presiden Jokowi. WHO meminta agar Jokowi 
memberlakukan darurat nasional Corona di Indonesia. Menanggapi hal 
tersebut, PDIP menyatakan bahwa Indonesia itu negara yang berdaulat. 
Indonesia tidak bisa disetir begitu saja.

Akhirnya Jokowi menyerahkan kebijakan tanggap darurat Corona ke setiap 
daerah. Tentunya menggunakan kas daerah masing - masing. Secara resmi 
tanggal 16 Maret 2020, mengenai kebijakan lockdown juga diserahkan ke 
masing - masing daerah.

Menarik alasan kedaulatan negara yang dijadikan alibi untuk menyerahkan 
kebijakan tanggap corona ke setiap pemerintah daerah. Berbicara tentang 
kedaulatan, yang perlu dipahami pengertian kedaulatan bagi sebuah negara.

Di dalam kitab Qowaid Nidhomul Hukmi, dijelaskan pengertian kedaulatan (as 
siyadah) sebagai berikut.

السيادة هي سلطة عليا حق اصدار الحكم على الاشياء والافعال
artinya:
Kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi yang berhak menetapkan hukum atas 
segala sesuatu dan perbuatan.

Kedaulatan adalah ruh bagi sebuah institusi negara. Dari sana akan 
ditetapkan berbagai aturan hukum dan perundangan guna penyelenggaraan 
negara dan pemerintahan.

Negara yang mengambil demokrasi telah menetapkan kedaulatannya di tangan 
rakyat. Mekanismenya adalah suara terbanyak. Sedangkan realitas rakyat itu 
beragam agama dan kepercayaannya. Tentunya sekulerisme digunakan sebagai 
asas dalam menjalankan kedaulatan rakyat.

Suara terbanyak tentunya akan bisa diraih dengan kekuatan modal dan 
hegemoni. Maka tidaklah mengherankan bila negara yang kuat menjadikan 
demokrasi sebagai alat untuk menjajah negeri - negeri yang lain, termasuk 
Indonesia.

Utang luar negeri yang menumpuk dengan mekanisme bunga telah menjerat 
Indonesia. Mau tidak mau Indonesia harus tunduk pada arahan IMF. 
Privatisasi BUMN dan SDA Indonesia, termasuk pencabutan subsidi sektor 
pelayanan rakyat. Salah satunya mencabut subsidi BBM. Ini semua harus 
dilakukan Indonesia bila ingin mendapatkan utang yang baru untuk 
pembangunan, di samping untuk melunasi utang yang lama.

Pertanyaannya, apakah dalam hal ini, Indonesia bisa disebut berdaulat? 
Bukankah mekanisme utang tersebut merupakan penjajahan ekonomi terhadap 
Indonesia?

Begitu pula, mengenai kasus kepulauan Natuna. Dimanakah kedaulatan 
Indonesia ketika dengan seenaknya kapal perang coast guard china menyatroni 
Natuna? Bahkan lucunya, Indonesia harus impor ikan laut segar dari China 
yang hasil tangkapan dari Natuna. Bukankah Natuna merupakan wilayah 
Indonesia?

Sedangkan berkaitan dengan wabah Corona ini yang mestinya langkah strategis 
yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah penetapan darurat nasional dan 
lockdown Indonesia. Dalam hal ini adalah murni terkait masalah medis. Tidak 
ada kaitannya dengan politik dan kedaulatan negara. Surat WHO itu guna 
mendorong Indonesia segera cepat bertindak terhadap pandemi corona.

Sementara itu di sisi yang lain, TKA dari China masih terus masuk 
Indonesia. Yang terbaru sekitar 49 TKA China masuk Sulawesi Tenggara 
sebagai pekerja baru bukan memperpanjang kontrak. Akhirnya Kapolda Sultra 
mengakui kekeliruannya dalam memberikan info yang salah. Stafsus milenial 
pun mengikuti minta maaf setelah memposting berita hoaks seputar corona.

Lantas, apakah ini merupakan sebuah kedaulatan dengan tetap menerima TKA 
China di Indonesia di tengah wabah Corona? Bukankah pemerintah malah 
bermain - main dengan nyawa rakyatnya?

Sesungguhnya kedaulatan itu akan menentukan kemandirian negara dalam 
seluruh aspek kehidupan masyarakatnya. Selama masih berada dalam hegemoni 
kekuatan negara lain, maka negara tersebut belum berdaulat.

Agar Indonesia menjadi negara yang berdaulat hanya dengan mengambilnya dari 
keyakinan mayoritas penduduknya. Aqidah Islam dengan segenap sistem 
kehidupan yang terpancar darinya akan menjadikan Indonesia berdaulat. Tidak 
perlu lagi ada peraturan menjaga nama baik kepala negara dan pejabatnya. 
Alasannya, dengan berkedaulatan Islam, rakyat akan dengan ikhlash dalam 
membela negaranya. Bagi mereka, menjaga negara berarti menjaga 
keberlangsungan penerapan Islam.

Di samping itu, dengan kedaulatan Islam, Indonesia akan menjadi negara 
terdepan dalam menangani wabah penyakit. Tidak perlu menunggu arahan dari 
WHO dan yang semacamnya.

Dengan kedaulatan Islam, akan mampu membebaskan Indonesia dari segenap 
bentuk penjajahan. Nilai - nilai luhur bangsa yang tertuang dalam pancasila 
akan terwujud baik hanya dengan menjadikan Islam sebagai super ordinatnya. 
Bukankah kemerdekaan Indonesia berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa? Lantas 
kalau bukan dengan Islam, dengan apa mewujudkan Indonesia berdaulat? 
Demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya telah menjadikan Indonesia sebagai 
negeri jajahan negara - negara imperialis.

Powered by Blogger.