Oleh: Zawanah Filzatun Nafisah (Leader of Muslimah Ideologis Khatulistiwa I)
Pasca Badan Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan status virus corona sebagai pandemik, warga nampak kian panik. Apalagi virus ini terbukti memenuhi tiga kriteria pandemik yaitu kematian, penularan berkelanjutan dan merata di seluruh dunia. Ramai-ramai menyiapkan stok masker, stok hand sanitizer, stok makanan dan lain-lain. Warga pun beramai-ramai mencoba segala jenis tips sehat baik dari tenaga medis sampai dari herbalis. Sehingga yang dicari warga mulai langka dan ‘dimainkan’ para kapitalis untuk meraup untung.
Sayangnya, segala ikhtiar warga tidak dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang tegas. Padahal angka penderita convid-19 kian bertambah. Warganet banyak yang menceritakan ketika mulai merasakan gejala sakit seperti corona, mereka mendatangi fasilitas kesehatan. Namun ada yang mendapatkan pelayanan tidak maksimal bahkan ditolak petugas, cenderung tidak ketat mengawali pasien hingga bisa dipastikan kesehatannya.
Lalu bagaimana kondisi di negara yang pertama kali mengalami wabah virus corona ini? Masih tidak lebih baik dari sebelumnya. Bahkan saat ini China mengalami dampak sosial yang juga mengkhawatirkan yakni meningkatnya perceraian. Walau pada desember 2019 globaltimes.cn telah menuliskan melonjaknya pengajuan perceraian di China, namun diberitakan kembali oleh businessinsider.sg (6/03/2020) paska merebaknya virus corona, pengajuan perceraian di Kantor Pemerintah China makin bertambah banyak lagi.
Otoritas mensinyalir waktu kebersamaan yang cukup lama dirumah, ditahan dalam jarak dekat, tanpa akses ke dunia luar, membuat pasangan mengalami stress, kebosanan dan rentan berselisih pendapat. Fenomena ini menarik bagi peneliti di dunia psikologi. Psikolog Rob Pascale dan Lou Primavera PhD pernah menulis bahwa keseimbangan adalah kunci. Bagi psikolog tersebut demi kualitas perkawinan, amat penting perpaduan waktu dengan teman dan keluarga, waktu bersama sebagai pasangan dan waktu terpisah untuk masing-masing pasangan. Namun dalam situasi terisolasi, kunci tersebut nampaknya memerlukan modifikasi.
Dalam Islam, kehidupan pernikahan wajib dipertahankan, baik dalam keadaan normal maupun saat pandemik. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan“ (Terjemahan Surah At-Tahrim: 6).
Maka tiap anggota keluarga harus mampu menahan diri supaya tidak menjadi bahan bakar api neraka. Mengisi waktu pandemik tetap dengan aktivitas yang dirihoi Allah SWT. Jika anak-anak harus homeschooling, ayah work from home, ibu pun serba online shopping, dijalani dengan sebaik-baik aktivitas. Karena belajar, bekerja, berbelanja, bahkan berdakwah dan berkreatifitas sudah mulai difasilitasi teknologi yang kian berkembang. Bahkan social distancing measures dengan #dirumahaja memberikan kita kesempatan untuk lebih banyak beribadah dan membaca, yang telah lama digantikan kesibukan kita diluar sana. Harapannya dari selepas masa pandemik, keluarga bisa tetap sehat tidak hanya jasmani tapi juga rohani bahkan ada tambahan pengetahuan atau keterampilan yang dikuasai.
Walau di rumah, kita bisa mengambil hikmah dari memantau bagaimana kondisi umat Islam saat ini. Khususnya lagi jika wabah convid-19 menimpa di negeri-negeri kaum muslimin. Memang menjadi tantangan karena kehidupan makin kian sempit dengan pemimpin yang bukan negarawan sejati. Lebih memikirkan dampak wabah terhadap pariwisata dan perekonomiannya daripada mengatasi penyebaran dan optimalisasi pelayanan kesehatan. Tidak serius memberi jaminan keselamatan dan kesehatan rakyat. Jika diabaikan, akan banyak dampak yang lebih besar termasuk dampak sosial, yang mana ketahanan keluarga pun terancam.
Ketahanan keluarga dalam Islam merupakan problem sistemik. Bukan hanya bicara bahwa sistem membutuhkan keluarga sebagai aset pembangunan sebagaimana pandangan demokrasi. Islam memandang bahwa Sistem Politik dan Pemerintahan yang dijalankan para negarawan lah yang menentukan ketahanan keluarga. Jika sistem politik dan pemerintahan baik dan benar, maka ketahanan keluarga akan baik. Lamban dan parsialnya solusi penanganan virus corona oleh pemerintah, tidak hanya memenjarakan namun juga mengisolasi rutinitas pemenuhan kebutuhan keluarga.
Ketahanan keluarga idealnya sebagai outcome dari segala upaya penjagaan kehidupan rumah tangga agar terpenuhi hak-hak dasarnya sekaligus tidak mengabaikan buruknya dampak paham sekulerisme yang terbukti mengancam eksistensi keluarga tersebut dalam mengamalkan ketaatan pada ajaran agamanya. Keberadaan virus ini telah membuka mata kita semua bagaimana dampak kerusakan dari era globalisasi dengan sistem kehidupan yang kapitalistik, materialis, merebaknya nilai-nilai kebebasan ala barat, rapuhnya ketahanan keluarga dan hilangnya komitmen berpegang teguh pada syariat Islam.
Maka, jika ada hipotesa bahwa makin merebaknya wabah covid-19 maka akan bertambah rentan ketahanan keluarga, bisa saja mengemuka. Karena super sistem kapitalisme dan sekulerisme yang menopangnya, kian terbukti kebingungan dan tak mampu membendung turbulensi sosial. Akhirnya, institusi keluarga itu sendiri yang harus membersiapkan diri menghadapi resiko atau tantangan yang mungkin akan terjadi dan mungkin negara pun sudah tak dapat lagi menolong. Demikianlah tanda bahwa hanya dengan sistem yang Allah SWT tentukan saja, problem umat manusia dapat teratasi. Cukup pada Allah kita bergantung, cukup dengan aturan Allah kita diatur.

Post a Comment

Powered by Blogger.