Oleh: Wahyudi al Maroky
(Dir. PAMONG Institute)

Dengan setumpuk kecerdasannya dan segenggam kekuasaanya serta sejuta kewenangannya tentu tak sulit membantu warganya jika harus lockdown._*
Banyak negara Maju yang menerapkan kebijakan Lockdown dalam menangani Wabah corona. Sangat berbeda dengan negeri ber”flower” yang sering di sebut kalangan melenial sebagai negeri +62. Sampai hari Senin, 23/03/20, sudah banyak negara yang lekukan lockdown seperti, Malaysia, italia, Korea, dll. Namun penguasa negeri +62 itu belum juga memutuskan untuk Lockdown.
Seiring berjalannya waktu, jumlah yang terpapar terus meningkat. Bahkan korban nyawa terus berjatuhan. Sampai Senin, 23/03/20 tercatat ada 579 kasus dan 49 meninggal dunia (CNNIndonesia.com). sementara jika kita bandingkan negara tetangga Malaysia yang melakukan lockdown, tercatat 1070 kasus dan yang meninggal 11 orang. (detik.com).
Sebagai manusia waras, tentu kita tak ingin wabah ini meluas dan banyak menimbulkan korban. Para Ahli sudah memberikan pandangannya, setidaknya sudah ada IDI dan beberapa ahIi yang menyampaikan agar segera lockdown.
Semestinya penguasa negeri segera mengikuti pendapat ahli. Bahkan dalam islam pun diajarkan bahwa untuk memutuskan suatu kebijakan yang terkait KEAHLIAN tertentu maka harus mengambil pendapat ahli. (Apabila suatu urusan tidak diserahkan kepada ahlinya maka tunggu kehancurannya). Hal ini tentu berbeda dengan mengambil keputusan yang terkait hukum, maka harus dikebalikan kepada Quran dan Sunnah.
Memang ada beberapa usulan terkait lockdown. Ada yang berpendapat tidak perlu. Ada yang berpendapat Cukup dilakukan oleh kepala keluarga saja agar ekonomi negara tak terganggu. Ada yg berpendapat harus oleh Kepala negara karena kalau oleh Kepala keluarga saja kurang efektif.
Lalu bagaimana dengan penduduk miskin yang harus tinggal dirumah ketika lockdown? Kepala keluarga itu tidak bisa bekerja untuk nafkah dan makan keluarganya? Belum lagi para pengusaha besar akan merugi jika perputaran ekonomi lesu.
Dari berbagai masalah yang timbul jika lockdown dapat kita pahami sbb :
PERTAMA: Lockdown akan optimal jika dilakukan oleh PEMIMPIN sesuai LEVELNYA. Jika saat ini sudah menyebar dimasyarakat maka tak akan optimal jika yang melakukan hanya level KEPALA KELUARGA. Karena Corona kini tidak menyebar di KELUARAGA tertentu sehingga cukup di lockdown oleh level kepala Keluaraga.
Corona juga bukan hanya menyerang kampung tertentu sehingga cukup lockdown oleh KEPALA KAMPUNG. Corona juga bukan hanya menyerang DAERAH tertentu sehingga cukup lockdown oleh KEPALA DAERAH. Tapi Corona kini sudah menyerang di NEGARA kita sehingga mesti lockdown oleh KEPALA NEGARA juga.
KEDUA: Penguasa mestinya Mendengarkan pendapat AHLI. Karena Corona menyangkut keahlian tertentu maka mestinya pemimpin mengambil keputusan dari pendapat ahli. Yang paham corona adalah para dokter ahli dan para ilmuwan. Dalam hal ini Khalifah umar yang begitu hebat pun mendengarkan pendapat ahli dari sahabat Amru bin Ash. Selanjutnya beliau pun mengikuti saran dari Ahli. Sebagaimana dikisahkan, segera melakukan ISOLASI daerah agar wabah tidak menyebar (lockdown).
KETIGA: Melindungi rakyat dengan segala konsekuensinya. Salah satu tugas negara sesuai UU No 6 tahun 2018 tentang KEKARANTINAAN KESEHATAN. Memang jika karantina atau Lockdown dilakukan akan ada sebagian KEPALA KELUARGA yang tak mampu memberikan makan anggota keluarganya.
Ketika sebagian Kepala keluarga tak sanggup memberi makan keluarganya akibat kebijakan Lockdown, maka KEPALA NEGARA harus hadir membantu Kepala keluarga tersebut.
Memang ada beberapa pertanyaan, dari mana negara dapat uang untuk membantu warganya? Sesungguhnya ini pertanyaan yang merendahkan kapasitas kepala Negara. Dengan setumpuk kecerdasannya dan segenggam kekuasaanya serta sejuta kewenangannya tentu tak sulit membantu warganya ketika harus lockdown.
Bukankah kita bisa membayar BUNGA UTANG yang ratusan trilyun? Bukankan kita bisa hemat perjalanan dinas yang Puluhan Trilyun? Bukankah kita bisa tunda pembangunan infrastruktur yang ratusan trilyun? Bukankah kita bisa tunda pembangunan Ibukota yang ratusan trilyun demi selamatkan nyawa rakyat yang tercinta? Asal ada niat baik tentu tak susah bukan?
KEEMPAT: Melibatkan PARTISIPASI MASYARAKAT dan semua pihak jika dana masih kurang. Jika Bayar bunga utang sudah dihemat ratusan trilyun, perjalanan dinas dihemat puuhan trilyun, pembangunan infrastruktur ratusan trilyun, pindah ibukota ratusan trilyun, dll. itu masih kurang juga untuk bantu rakyat akibat lockdown, maka bisa dilibatkan partisipasi masyarakat yang kaya raya untuk bisa diminta pinjamannya dan membantu saudaranya.
KELIMA: Meraih Berkah dengan taat pada aturan Ilahi. Tak ada yang layak dibanggakan apalagi disombongkan kehebatan manusia dalam membangun. Hasil pembangunan infrastruktur yang megah dan kecanggihan teknologi yang hebat akan tiada artinya jika tak berkah. Cukup Allah berikan bencana sekejab semua bisa sirna.
Kebijakan lockdown bukan sekedar pendapat ahli tapi juga perintah baginda Nabi SAW. Selayaknya kita segera mohon ampun atas segala kesalahan dan kesombongan selama ini. segara patuhi dan keluarkan kebijakan sesuai level kepemimpinan kita.
Semoga Allah melindungi kita dan negeri ini dari segala bentuk musibah dan bahaya. Semoga pula Allah limpahkan barokah atas negeri ini. aamiin.
NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Post a Comment

Powered by Blogger.