Oleh: Wahyudi al Maroky
_(Dir. PAMONG Institute)_
Wabah corona bermula muncul pada 31 Desember 2019 di Wuhan Cina. Wabah itu begitu cepat menyebar ke berbagai penjuru dunia. Ada negara yang begitu cepat merespon dan mengantisipasi wabah ini, namun ada juga yang begitu lamban melakukan antisipasi.
Penyebaran wabah ini begitu cepat meski banyak negara hebat yang telah melakukan antisipasi. Sampai rabu (18/3/2020) telah tersebar di 152 negara. Jumlah kasus corona di seluruh dunia telah mencapai 197.168 kasus. Bahkan sudah ribuan nyawa melayang. Sedikitnya tercatat korban meninggal sebanyak 7.905 orang. (Kompas.com)
Lalu mengapa negara-negara hebat tak mampu membendung Wabah Corona? Bagaimanakah cara khalifah umar mencegah dan mengantisipasi penyebaran wabah menular dimasa lalu?
Mari kita coba memahami bagaimana Khalifahan Umar bin al-Khaththab membuat kebijakan dalam menangani wabah penyakit menular yang terjadi di zamannya.
Dalam seuatu riwayat dikisahkan, Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu." (HR al-Bukhari).
Kala itu Khalifah Umar mendengarkan Hadits nabi SAW dari sahabat Abdurahman bin Auf. Selanjutnya khalifah Umar segera meminta masukan Amru bin Ash. Saran yang diberikan adalah memisahkan interaksi masyarakat agar wabah tak meluas ke masyarakat masih yang sehat.
Khalifah Umar dengan cepat mengambil keputusan untuk tidak memasuki syam. Juga melarang masyarakat untuk memasuki daerah yang sedang terkena wabah penyakit menular. Khalifah Umar mengambil kebijakan LOCKDOWN dengan cepat. Segera mengisolasi daerah sehingga wabah tidak menyebar. Khalifah Umar juga membangun dengan cepat PUSAT PENGOBATAN di luar daerah itu. Ini tentu dimaksudkan sebagai ihtiar untuk melayani rakyat yang sakit.
Dari kebijakan khalifah Umar itu, setidaknya ada 5(lima) pelajaran penting yang bisa kita ambil :
PERTAMA: Harus ada DASAR HUKUM (dalil syara). Dalam menyelesaikan persoalan, Khalifah Umar selalu mengutamakan adanya dalil atau dasar hukum untuk bertindak. Dalam hal itu, Beliau mendengarkan Hadits Nabi SAW yang disampaikan Sahabat Abdurrahman bin Auf. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu." (HR al-Bukhari).
KEDUA: Mendengarkan pendapat AHLI. Dalam hal ini Khalifah umar mendengarkan sahabat Amru bin Ash. Selanjutnya mengikuti saran dari Ahli. Sebagaimana dikisahkan harus dilakukan ISOLASI daerah agar wabah tidak menyebar.
Bahkan pada zaman Rasulullah saw, jika ada suatu daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha'un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.
KETIGA: Mengambil Keputusan dengan CEPAT dan TEPAT. Khalifah Umar segera mengambil keputusan untuk tidak masuk wilayah Syam dan melakukan Lockdown atas daerah yang terindikasi wabah. Jika Pemimpin negeri ini mencontoh Khalifah Umar maka akan mengambil keputusan yang cepat untuk LOCKDOWN. Diharapkan wabah corona tidak menyebar luas ke berbagai daerah.
KEEMPAT: Membangun PUSAT PENGOBATAN dengan cepat. Wabah tak mungkin ditangani secara konvensional menggunakan sarana biasa yang ada atau seadanya. Demikian juga tenaga medis dan alat-alat pendukungnya harus disiapkan secara khusus.
Negara harus segera hadir membangun pusat pengobatan dengan cepat sehingga tidak mengganggu pelayanan kesehatan yang normal. Pertanyaannya, apakah Rezim Jokowi sudah membangun Pusat pengobatan yang khusus menangani kasus wabah corona? Atau hanya mengandalkan sarana rutin yang ada?
KELIMA: Melibatkan PARTISIPASI MASYARAKAT dan semua pihak. Sebagai Pemimpin yang memiliki kapasitas pemimpin, Khalifah Umar menggerakkan semua potensi masyarakatnya untuk menjalankan kebijakannya. Tak ada masyarakat yang membangkang karena transpran dan jelas perintahnya untuk menyelamatkan rakyatnya.
Dengan belajar dari kebijakan khalifah Umar dalam menangani wabah maka kita berharap negeri ini dapat lebih antisipatif dan menjada warganya dari wabah yang berbahaya. Wabah corona yang muncul, bukanlah tiba-tiba ada dengan sendirinya tanpa disain dan izin Allah SWT. Oleh karenanya Manusia tak layak sombong. Ini bagian dari teguran Allah atas kesombongan dan dosa-dosa akibat tak mau patuh dengan aturan Allah (syariah).
Pemerintah tak boleh lambat dalam mengambil keputusan. Tak boleh membuka peluang masuknya wabah dari daerah satu ke daerah lain. Tak boleh lagi ada warga asing dari daerah wabah yang leluasa masuk negeri ini seperti kejadian hebohnya 49 TKA asal Cina yang masuk ke Kendari.
Jangan ada lagi komentar pejabat publik yang aneh dan bikin resah. Menyebut Virus Corona bersifat swasirna. Atau pasien bisa sembuh sendiri bila kondisi tubuhnya cukup baik, ini pernyataan yang tak layak bagi pejabat.
Setelah melakukan berbagai ihtiar dengan sungguh-sungguh, maka selayaknya kita semua berdoa. Semoga Allah melindungi kita dan negeri ini dari bahaya wabah corona yang berbahaya. Dan semoga Allah mengangkat segala bentuk bahaya dan limpahkan barokah atas negeri ini. aamiin.
NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Post a Comment

Powered by Blogger.