Hasil gambar untuk Definisi Khilafah

(Serial-1 Memahami Khilafah tanpa Benci & Marah)_
*Oleh: Wahyudi al Maroky*
_(Dir. PAMONG Institute)_
Tulisan ini kami dedikasikan bagi para sahabat medsos yang sudah berfikir keras menggunakan akal sehatnya dan berdiskusi dengan tetap menjaga adab. Memang ada sedikit diselingi beberapa sindiran yang begitu “nyelekit” namun masih dalam koridor yang wajar dalam diskusi. Bahkan itu menambah bumbu “empon-empon” diskusi yang hangat dan lezat.
Dalam serial-1 tulisan ini, sengaja penulis sajikan pembahasan mulai dari sisi definisi. Karena dengan definisi yang jelas, diharapkan diskusi bisa lebih fokus dan produktif.
Dengan definisi ini pula kita bisa lebih mengenal khilafah tanpa kebencian dan kemarahan. Jika selama ini kita memandang dan diskusi biasa saja tentang sistem pemerintahan seperti sistem demokrasi, otokrasi/kerajaan, teokrasi, dll, lalu kenapa ketika membahas sistem khilafah jadi banyak yang benci dan marah?
Dengan mengenal definisi ini pula kita bisa menambah wawasan kebinekaan dan keragaman pendapat tanpa memaksakan pendapat dan kehendak. Kita jadi terbiasa mengahadapi perbedaan sebagaimana kita memandang biasa saja terhadap sistem pemerintahan otokrasi (kerajaan) dan sistem pemerintahan teokrasi-vatikan. Bahkan kita bisa mengenal sisi potitif dari khilafah setelah mengenal definisinya dengan baik.
Secara bahasa, kata khilafah berasal dari kata khalafa, yang bermakna menggantikan atau mewakili orang sebelumnya. Kata “al-khilafah” asalnya dari mashdar “khalafa” (mengganti). [Imam al-Qalqasyandiy, Ma`aatsir al-Inaafah fi Ma’aalim al-Khilaafah, juz 1/9]
Menurut vesi lain, ”Al-Khilafah adalah al-imaarah (kepemimpinan) atau al-imaamah (kepemimpinan). Al-Khilafah juga bermakna al-niyaabah ’an al-ghair (perwakilan dari yang lain)...”. [Al-Qamuus al-Fiqhiy, juz 1/120]
Dari sisi maknanya, para ulama memberikan definisi tentang khilafah sebagaimana realitasnya. Dalam hal ini, para ulama sepakat bahwa Khilafah adalah kepemimpinan agung bagi kaum Muslim di seluruh dunia untuk menerapkan Islam secara menyeluruh. Mereka juga sepakat bahwa al-Khilafah dan al-Imamah memiliki pengertian sama (sinonim).
Mari kita coba menelaah beberapa pendapat ulama terkait khilafah. Syeikh Muhammad Abu Zahrah menyatakan:
“Madzhab-madzhab politik, seluruhnya mendefinisikan khilafah di seputar imamah al-kubra (kepemimpinan agung). Disebut khilafah karena pihak yang memegang jabatan khilafah dan yang menjadi penguasa agung atas kaum Muslim menggantikan Nabi SAW dalam mengatur urusan mereka. Disebut imamah karena, khalifah disebut Imam, dan karena taat kepadanya adalah wajib, dan karena manusia berjalan di belakang imam tersebut layaknya mereka shalat di belakang orang yang mengimami mereka dalam shalat”. [ Syeikh Muhammad Abu Zahrah, Tarikh Al-Madzahib al-Islamiyyah, juz 1/21]
Selanjutnya, Imam Al Ramli menyatakan:
“Khalifah itu adalah imam agung yang menduduki jabatan khilafah nubuwwah dalam melindungi agama serta pengaturan urusan dunia.”[Imam Al Ramli Muhammad bin Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaj fil Fiqhi ‘ala Madzhab Al Imam Al Syafi’i, juz 7/289]
Kita bisa menelaah pula pendapat imam al mawardi. Di dalam Kitab al-Ahkaam al-Sulthaniyyah yang sangat terkenal itu, Imam Al Mawardi Asy-Syafi’i menyatakan:
“Imamah itu menduduki posisi untuk khilafah nubuwwah dalam menjaga agama dan pengaturan urusan dunia.” [Imam Al Mawardi, Ali bin Muhammad, Al-Ahkaam Al Sulthaniyyah, hal 5]
Dari beberapa pendapat ulama itu, ternyata mereka memiiki kesamaan pendapat. Pertama, bahwa Khilafah itu sama dengan imamah. Kedua, Khilafah itu imam atau pemimpin yang agung (bukan imam biasa). Ketiga, Khilafah bertugas melindungi agama dan mengatur urusan dunia.
Mari kita coba telaah lebih jauh, terkait tugas khilafah dalam melindungi agama. Dalam hal ini terutama bagaimana aturan agama yang merupakan perintah Allah itu dapat dijamin terlaksana dengan baik dan dilindungi kesuciannya oleh keberadaan khilafah itu.
Dari sinilah, kita dapat merumuskan definisi yang tepat untuk kata khalifah atau imamah. Definisi tersebut harus mampu menggambarkan realitas khilafah, kedudukan, serta fungsi khilafah atas tugasnya melindungi agama menurut nash-nash syariat.
Berdasarkan realitas tersebut, maka khilafah dapat kita definiskan sebagai kepemimpinan umum kaum Muslim seluruh dunia untuk menegakkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia.
Definisi ini sejalan dengan pendapat Dr. Mahmud al-Khalidiy yang menyatakan bahwa kedudukan khilafah harus ditetapkan sesuai dengan tujuan disyariatkannya.
“… kedudukan (munashib) Khilafah atau khalifah harus didefinisikan sejalan dengan tujuan disyari’atkannya kewajiban menegakkan Daulah Islamiyyah atas kaum Muslim.” Bila kita kaji lebih mendalam mengenai fakta Daulah Islamiyyah, maka kita akan mendapati dua perkara penting berikut ini; 1) Daulah Islamiyyah bertugas menegakkan hukum...” 2) Daulah Islamiyyah bertugas mengemban dakwah Islam, di luar batas wilayah Daulah Islamiyyah…”
Definisi ini juga dipilih oleh Imam Taqiyyuddin An Nabhani. Termaktub di dalam Kitab al-Khilafah, menyatakan:
“Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam dan mengemban dakwah Islamiyyah ke seluruh penjuru alam. Al-Khilafah substansinya sama dengan al-Imamah. Imamah dan Khilafah memiliki makna yang sama. Tersebut di dalam hadits-hadits shahih dua kata ini dengan makna yang sama. Tidak ada satu pun nash syariat yang menyebutkan kata ini dengan makna saling bertentangan satu dengan yang lain, yakni, baik di al-Quran maupun di dalam sunnah. Sebab, nash-nash syariat itu hanyalah keduanya (al-Quran dan Sunnah). Tidak ada keharusan untuk terikat dengan salah satu lafadz tersebut, apakah harus imamah atau khilafah; yang wajib adalah terikat dengan maknanya”. [Imam Taqiyyuddin An Nabhaniy, Al-Khilafah, hal. 1]
Dengan demikian, dapatlah kita pahami bahwa definisi Khilafah adalah, ”Kepemimpinan Umum bagi seluruh kaum Muslim di kehidupan dunia, untuk menegakkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islamiyyah ke seluruh penjuru alam.”
Berdasarkan definisi ini, seseorang baru absah disebut sebagai khalifah, jika ia mampu menjalankan tugas utamanya, yaitu; menegakkan aturan-aturan Allah swt di dalam wilayah Daulah Islamiyyah atas seluruh warga negara, dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru alam. Kalau ada yang bilang Donald trump sebagai khalifah karena memimpin negara adidaya, maka itu tidaklah tepat sebab Trump tidak menegakkan aturan Allah dan mengemban dakwah islam.
Seorang khalifah harus mandiri dan tidak terikat dengan sistem-sistem lain yang bisa memberangus independensinya. Ia juga harus memiliki kekuatan untuk melaksanakan tugas-tugasnya, terutama tugas untuk menegakkan syari’at Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru alam.
Khalifah juga harus memiliki teritorial atau wilayah kekuasaan tertentu. Dalam wilayah itulah ia melakukan ri’ayah su’unil ummah (melayani kepentingan umat) secara mandiri. Seorang Khalifah tidak boleh dikendalikan oleh kekuatan lain, atau berada di dalam kungkungan kekuasaan pihak lain. Ia harus memiliki independensi dalam mengatur urusan umat. Ia mandiri dalam menegakkan hukum, mengatur ekonomi, pendidikan, kesehatan, membangun industri, dl.
Jika ada Seseorang yang mengklaim sebagai Khalifah tapi tidak memenuhi syarat-syarat di atas maka tidak layak dan tidak absah disebut sebagai Khalifah. Itu hanya hanyalah klaim kosong dan dusta. Sebab, Khalifah adalah kepala negara (pemimpin negara) yang memimpin Daulah Islamiyyah, bukan pemimpin jama’ah, kelompok, atau ormas.
Khalifah dan Khilafah Islamiyyah tidak bisa dipisahkan dari konsepsi Daulah Islamiyyah. Khilafah adalah sistem pemerintahan sedangkan Khalifah adalah orang yang memimpin sistem itu. Keduanya adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Artinya, tidak mungkin seorang presiden memimpin sistem khilafah. Demikian juga sebaliknya seorang khalifah tidak mungkin memimpin sistem pemerintahan Demokrasi atau otokrasi atau teokrasi.
Semoga dengan definisi ini, dapat memberikan gambaran tentang khilafah. Dan semakin banyak pihak yang tidak membenci khilafah apalagi marah-marah ketika mendengar kata khilafah. Semoga pula semakin banyak pihak yang bisa berfikir jernih dan bisa meraih hikmah, kebaikan dari khilafah untuk solusi bagi berbagai masalah negeri ini.
NB; Disarikan dari buku Panduan Lurus memahami Khilafah menurut Kitab kuning, terbitan WadiPress, jakarta, 2013).

Post a Comment

Powered by Blogger.