Mempelajari sejarah Da’wah Rasulullah ﷺ berarti mempelajari seluruh prilaku beliau. Kehidupan Rasulullah ﷺ adalah kehidupan da’wah, kehidupan penuh perjuangan menghadapi berbagai pemikiran kufur yang hancur, segala bentuk kepercayaan dan tradisi nenek moyang yang jahiliyah. disebut da’wah siyasiyah karena da’wah ini mengarahkan ummat pada suatu kekuatan sebagai pelindung da’wah agar bisa menyebar luas ke seluruh pelosok sudut-sudut dunia. Disebut da’wah askariyah karena da’wah ini membutuhkan taktik dan strategi dalam jihad fisabilillah.
.
Beliau begitu sukses dalam mengembangkan da’wah ini, membina masyarakat, hingga mampu mendirikan daulah (negara). Beliaupun berhasil menghimpun ummat yang terpecah belah, berqabilah-qabilah menjadi ummat yang satu di bawah panji-panji Islam.
.
Sukses yang beliau raih bukan melalui perubahan sosial terlebih dahulu atau perubahan moral, walaupun hal tersebut sangat diperlukan., juga tidak melalui slogan slogan sukuisme, qoumiyah, ashobiyah (fanatisme golongan) dan lain-lain. Akan tetapi beliau memulainya dengan konsep aqidah “Laa ilaaha ilAllah ” . Aqidah inilah yang merubah pemikiran, pemahaman, perasaan dan pandangan serta prilaku hidup masyarakatnya sehingga terwujud generasi sahabat yang mampu meneruskan risalah da’wah ini tersebar luas keseluruh pelosok dunia.
.
Pada dasarnya kesempurnaan da’wah Islamiyah itu telah terhenti sejak terhentinya penaklukan Islam. Dan ummat Islam sebagai ummat wahidah sesudah itu terkoyak-koyak menjadi berbagai suku bangsa yang lemah dan berdiri sendiri. Padahal pada mulanya merupakan satu kekuatan yang disegani oleh musuh-musuhnya. Kini ummat sangat membutuhan orang yang mau mengemban dan melanjutkan risalah da’wah Islamiyah untuk membangkitkan kembali kekuatan itu, melalui suatu kebangkitan yang benar yang berdasarkan Islam. Ummat saat ini sangat membutuhkan orang yang mau kembali menghimpun barisan yang tercecer, shaf-shaf yang terbengkalai dan menyatukan seluruh kekuatan yang ada agar tegak dan terbina masyarakat yang Islami serta untuk memulai kembali misi da’wah ini keseluruh dunia untuk kedua kalinya.
.
Terwujudnya cita-cita ini hanya tercapai dengan jalan da’wah, sebab hanya jalan inilah yang ditempuh oleh Rasulullah ﷺ sehingga meraih kesuksesan yang luar biasa. Jejak langkah tersebut kemudian diikuti oleh generasi sahabat, jalan yang ditempuh adalah jalan yang lurus, sedangkan metode yang dipakai adalah metode yang benar sehingga membuahkan hasil yang luar biasa. Metode yang beliau lakukan adalah metode yang wajib diteladani dan jalan ini wajib ditempuh oleh Ummat Islam dewasa ini dengan cermat dan teliti agar kita tidak terperosok di jalan yang salah. Kesalahan sedikit saja dalam menganalogikan da’wah Rasulullah ﷺ atau menyimpang dari jalan yang telah digariskan oleh beliau dapat mengakibatkan kita tersesat di tengah jalan dan sekaligus awal kegagalan dalam meraih cita-cita.
.
Agar tidak menemui kesulitan dalam meniru gerak langkah da’wah Rasulullah ﷺ maka kita harus kembali kepada Al-Quran dan sunah Rasulullah ﷺ, khususnya kembali kepada siroh Nabi ﷺ. Kita mesti berhenti lama untuk memandang dan merenung dihadapan siroh Rasulullah ﷺ. Untuk mengetahui apa yang beliau katakan dan yang beliau perbuat, dan untuk mengetahui jalan yang pernah beliau tempuh ketika mengemban risalah da’wah ini sesuai dengan yang telah digariskan oleh Allah SWT kepadanya. Kemudian kita harus berjalan bersamanya meneguhkan niat untuk mengikuti tuntunannya, tetap berada pada jejak langkahnya sehingga kita bersama seluruh Ummat Islam senantiasa berada dipihak yang mengikuti jejak langkahnya.
.
Bila kita telah mengambil risalah da’wah ini dan telah berbuat sesuai denagn garis perjuangan beliau, berjalan di jalan yang telah beliau lalu,pasti kemenangan akan datang. Saat itu pertolongan Allah SWT akan tiba sesuai dengan cita-cita dan harapan. Cita-cita tersebut tiada lain adalah memulai kembali kehidupan Islam secara keseluruhan dengan mewujudkan aturan Allah di muka bumi ini, serta mengemban da’wah Islamiyah ke seluruh bangsa.
.
Oleh karena itu pemahaman tentang sejarah da’wah Rasulullah ﷺ atau sirah Rasulullah ﷺ secara keseluruhan mutlak diperlukan oleh seluruh ummat Islam pemegang amanah Allah dan penerus Risalah da’wah. Dengan demikian kejayaan Islam dapat direbut kembali dan Islam dapat tegak di muka bumi ini. Pada akhirnya ummat dapat bergerak bebas dan merdeka dalam menyampaikan da’wah Islamiyah di bawah naungan Khilafah Ar-Rosyidah.
.
Allah SWT telah menurunkan agama ini bagi seluruh ummat manusia. Dialah yang menjadikan Islam sebagai Agama Fithrah. Dia lah yang mengokohkannya dan dialah yang pasti akan menolongnya serta memenangkannya terhadap agama atau ideologi lain walaupun orang-orang kafir membencinya.
.
/ Periode Da’wah di Makah /
.
Dengan pengamatan yang jernih, akan didapatkan bahwa Rasulullah ﷺ telah menjalankan da’wah di kota Makkah melalui dua tahapan berturut-turut. Tahapan pertama, adalah tahap pembinaan dan pengkaderan, yakni pembinaan pemikiran dan ruh. Dan tahap kedua , adalah tahap penyebaran da’wah ke masyarakat secara Zhahir dan melakukan upaya perjuangan membentuk sistem masyarakat.
.
Pada tahap pertama dibutuhkan adanya pemahaman dan penghayatan mendalam terhadap ilmu-ilmu yang diberikan oleh Rasulullah ﷺ, untuk kemudian berlanjut kepada pembentukan jama’ah yang terdiri dari kader-kader inti. Pada tahapan kedua, pemahaman dan penghayatan terhadap ilmu-ilmu tersebut berproses menjadi suatu kekuatan pendorong dalam diri yang terwujud lewat sikap dan prilaku yang menghasilkan da’wah terbuka dan perjuangan. Perubahan dari pemahaman menuju tingkah laku ini sangat penting, agar pengetahuan yang diperoleh tidak hanya tersimpan dalam benak sebagai pengetahuan teoretis yang menjemukan, bagaikan buku-buku yang tertumpuk di dalam almari buku. Pada akhirnya nilai dan manfaatnya tidak terasa disebabkan tidak segera diwujudkan dalam kehidupan yang nyata.
.
Karena itulah, diperlukan suatu proses perubahan dari satu konsep pemikiran kepada satu kekuatan pendorong dalam diri. Perubahan tersebut terwujud dalam bentuk tingkah laku da’wah yang membangkitkan pemahaman masyarakat awam serta mendorong mereka untuk dapat mengamalkan dan memperjuangkannya. Dengan demikian tujuan dapat tercapai, yaitu terwujudnya ajaran-ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
.
Di sini kita melihat bahwa seandainya pemikiran-pemikiran Islam yang telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ tidak dipahami dan dihayati secara mendalam serta tidak berubah menjadi suatu kekuatan pendorong dalam diri, atau sering tidak diamalkan dan diteruskan kepada masyarakat yang belum menerima da’wah, niscaya pemikiran-pemikiran tersebut tidak akan terwujud menjadi suatu kekuatan yang dapat diamalkan dan disebarkan ke seluruh pelosok dunia.
.
Jadi, pengamalan para sahabat terhadap ajaran yang telah mereka terima merupakan perwujudan iman, hasil pemahaman dan penghayatan melalui perjuangan yang berat yang penuh resiko dan ujian. Dengan demikian da’wah Rasulullah di kota Makkah melalui dua tahap: tahap pembinaan dan pengkaderan, serta tahap interaksi kepada masyarakat dan perjuangan.
.
/ 1. Tahap Pembinaan dan Pengkaderan (Marhalah Tastqiif) /
.
Da’wah Rasulullah pada tahap ini dilakukan secara sirriyah (rahasia) dalam waktu tiga tahun. Saat itu da’wah belum dilakukan secara terbuka di depan umum, melainkan melalui individu-individu dari rumah ke rumah. Mereka yang menerima da’wah Islam segera dikumpulkan di rumah seorang sahabat bernama Arqom, sehingga rumah tersebut dikenal sebagai Darul Arqom (rumah Arqom). Disanalah mereka dibina dan dikader dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus. Beberapa dari mereka diutus untuk mengajarkan Islam kepada yang lain, diantaranya Khabbab bin Arts yang mengajarkan Al-Quran kepada Fatimah binti Khaththab bersama suaminya. Semakin hari semakin bertambah jumlah mereka hingga mencapai empat puluh orang dalam waktu tiga tahun. Selama itu, Darul Arqom senantiasa menjadi pusat pembinaan dan pengkaderan para sahabat pengemban da’wah, dimana mereka berkumpul untuk mendengarkan dan menghayati ayat-ayat Al-Quran beserta penjelasan dari Rasulullah ﷺ.
.
Memang menyampaikan sesuatu yang masih asing dan belum terfikirkan oleh masyarakat hendaknya terlebih dahulu dilaksanakan secara diam-diam, dengan lebih banyak bertatap muka hingga mendapat dukungan dan kerelaan berkorban untuk meraih cita-cita yang diharapkan. Dengan demikian apabila Rasulullah ﷺ menyampaikan da’wah pada tahap ini secara diam-diam, hal tersebut bukan berarti beliau takut melaksanakan secara terang-terangan, melainkan itulah yang dituntut untuk dilaksanakan. Ketika turun ayat 1 dan 2 surat Al-Mudatsir:
“Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan”
Beliau makin bertambah yakin bahwa tugas risalah dan perintah yang dibebankan padanya untuk dilaksanakan akan mendapat perlindungan dari Allah SWT, dan bisa dilaksanakan secara terang-terangan karena Allah pasti akan menolongnya. Setidaknya dari contoh ini dapat diambil hikmah bagi para pengemban da’wah pelanjut risalah, bahwa segala sesuatu senantiasa terikat dengan sebab dan musababnya. Da’wah senantiasa memerlukan usaha dan ikhtiar, pemikiran dan program yang baik, tidak semata-mata menyerahkan kepada nasib sepenuhnya (taqdir Allah).
.
Oleh karena itu, jumhur (mayoritas) ahli fiqh berpendapat jika kaum muslimin berada dalam posisi yanag lemah, kekuatan yang rapuh dan dikhawatirkan mereka akan binasa oleh kekuatan musuh, maka mereka harus memelihara diri dan agama dengan cara da’wah sirriyah. Sebaliknya apabila terdapat kemungkinan untuk berda’wah secara zhahriyyah (terang-terangan), maka hal ini lebih utama karena seorang Muslim tidak boleh menyerah kepada kaum kuffar atau zhalim dan, dari berdiam dari jihad melawan orang-orang kafir.
.
Hal ini terbukti, pernah beliau lakukan pada permulaan da’wah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya Tartib lil Musnad, bahwa Rasulullah ﷺbersama istrinya Siti Khadijah pernah diancam oleh Abu Jahal tatkala shalat di depan Ka’bah dan dengan terang-terangan mencela patung-patung berhala yang disembah oleh orang-orang Arab. Dan ketika di Mina Rasul bersama Ali bin Abi Thalib menyampaikan kepada orang banyak bahwa suatu saat Romawi dan Persia akan ditaklukkan oleh Islam.
.
Menurut pensyarah hadits ini, apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya masih berjumlah tiga orang itu adalah untuk menarik perhatian kaum Quraisy agar berfikir tentang hakekat berhala yang dijadikan sebagai tuhan, sebagaimana da’wah Nabi Ibrahim AS. Dari hal tersebut dapat pula diketahui bahwa sejak awal da’wah Rasulullah ﷺ bukanlah da’wah ruhiyah (kerohanian) semata, melainkan da’wah siasiyah, karena tidak mungkin kerajaan Romawi dan Persia akan dapat ditaklukkan tanpa niat dan usaha kaum muslimin untuk memperoleh kekuasaan yang berdaulat, kekuasaan yang mampu menggerakkan bala tentara untuk menghancurkan kedua kerajaan itu.

Post a Comment

Powered by Blogger.