Image result for hukum allah

Penulis : Ustadz M Taufik NT

Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maidah: 44).
.
Imam Al Baghawi (w. 510 H) dalam tafsirnya, Ma’âlim al-Tanzîl, menyatakan bahwa Ikrimah menjelaskan maksud ayat tersebut:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ جَاحِدًا بِهِ فَقَدْ كَفَرَ، وَمَنْ أَقَرَّ بِهِ وَلَمْ يَحْكُمْ بِهِ فَهُوَ ظَالِمٌ فَاسِقٌ
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah karena mengingkarinya maka dia sungguh telah kafir, barang siapa yang mengakui hukum Allah namun tidak menjalankannya maka dia zalim fasik.”
.
Ibnu Abbas r.a juga menyatakan:
مَنْ جَحَدَ حُكْمَ اللَّهِ كَفَرَ، وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِهِ وَهُوَ مُقِرٌّ بِهِ ظَالِمٌ فَاسِقٌ
“Barang siapa yang mengingkari hukum Allah maka dia kafir (dengan sebenar-benar kekafiran), sedangkan siapa-siapa yang tidak berhukum dengannya (hukum Allah) akan tapi tetap menyakininya (tidak mengingkarinya) maka dia zalim fasiq.”
.
Senada pula dengan apa yang dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani:
فإن اعتقد بالحكم الذي تبناه فقد كفر وارتد عن الإسلام، وإن لم يعتقد به ولكن أخذه على اعتبار أنه لا يخالف الإسلام كما كان يفعل خلفاء بني عثمان في أواخر أيامهم فإنه يحرم عليه ذلك ولا يكفر
“Jika dia meyakini terhadap hukum (selain hukum Allah) yang diadopsinya itu maka dia kafir dan murtad dari Islam, jika tidak disertai keyakinan terhadapnya (selain hukum Allah) melainkan ia mengambil hukum tersebut dengan anggapan tidak menyalahi Islam sebagaimana dilakukan para Khalifah Bani Utsman (Khilafah Utsmaniyah) di akhir-akhir kekuasaannya maka itu haram atasnya dan tidak sampai dikafirkan.”
.
Sementara Departemen Agama RI menyatakan: “Orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah ada tiga macam: a. karena benci dan ingkarnya kepada hukum Allah, orang yang semacam ini kafir (ayat 44 surah Al Maa-idah). b. Karena menurut hawa nafsu dan merugikan orang lain dinamakan zalim (ayat 45 surah Al Maa-idah). c. Karena fasik sebagaimana ditunjuk oleh ayat 47 surah ini.”[4]
.
// Batasannya //
.
Semua ketentuan tersebut berlaku untuk hukum Allah yang jelas, dalilnya sumber dan penunjukan maknanya qath’i sehingga tidak ada ikhtilaf dalam hukum tersebut. Imam Al Baghawi (w. 510 H) menyatakan
فَأَمَّا مَنْ خَفِيَ عَلَيْهِ أَوْ أخطأ في تأويل فلا
“Adapun orang yang tersamar baginya hukum tersebut, atau salah dalam menakwilkan, maka tidak dihukumi demikian.”
.
Lebih jelas lagi Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan:
وأما إن كانت له شبهة الدليل كمن يشرّع حكماً ليس له دليل لمصلحة رآها هو، واستند إلى قاعدة المصالح المرسلة أو قاعدة سد الذرائع أو مآلات الأفعال أو ما شاكل ذلك فإنه إن كان يرى أن هذه قواعد شرعية وأدلة شرعية فلا يحرم عليه ولا يكفر ولكنه مخطئ ويُعتبر ما استنبطه حكماً شرعياً في نظر جميع المسلمين، وتجب طاعته إن تبناه الخليفة لأنه حكم شرعي وله شبهة الدليل وإن كان مخطئاً في الدليل
“Adapun jika ia memiliki syubhatud dalîl, seperti seseorang yang membuat peraturan dia tidak punya dalilnya untuk suatu hal yang dipandangnya mashlahat, lalu ia beralasan dengan kaidah al-mashalih al-mursalah, atau kaidah saddu adz-dzarô’i atau kaidah maâlât al-af’âl, atau kaidah lain yang semisal, jika ia melihat bahwa ini adalah kaidah-kaidah syar’iyyah dan dalil-dalil syar’iyyah, maka tidak diharamkan atasnya, dan dia tidak dikafirkan, tetapi dia dianggap salah. Namun apa yang dia simpulkan dianggap sebagai hukum syara’ dalam pandangan seluruh muslim, dan jika itu diadopsi oleh Khalifah maka tetaplah wajib taat karena itu adalah hukum syara’ yang memiliki syubhat dalil, walaupun itu adalah kekeliruan dalam berdalil.”
.
// Label Khawarij //
.
Anehnya, di zaman sekarang, da’i yang menyampaikan al-Maidah ayat 44 dan seterusnya seraya menyerukan agar hukum Allah ditegakkan di tengah-tengah kehidupan, kadang dilabeli khawarij, lalu diperkuat dengan kisah saat Imam Ali r.a berkhutbah, beberapa orang khawarij di pojok masjid berkata:
لَا حُكْمَ إلَّا لِلَّهِ
“Tidak ada hukum kecuali milik Allah”
.
Lalu Imam Ali berkata:
كَلِمَةُ حَقٍّ يُرَادُ بِهَا بَاطِلٌ
“Itu kalimat yang benar, namun dimaksudkan untuk yang bathil.”
.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam kisah ini:
.
Pertama, Imam Ali r.a tidak mengingkari tentang kewajiban berhukum dengan hukum Allah, sebaliknya beliau justru menegaskan bahwa itu adalah kebenaran. Bandingkan dengan sebagian kalangan yang nyinyir tersebut justru karena ‘alergi’ dengan hukum Allah Ta’ala, menganggap bahwa sistem sekuler yang ada sebagai harga mati.
.
Kedua, kalangan khawarij tidak faham dengan batasan yang sudah saya kemukakan di atas, mereka menganggap pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib telah keluar dari hukum Allah, padahal faktanya pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib menegakkan hudud, jinayat dan menjunjung tinggi hukum Allah dalam setiap sisi kehidupan. Itulah kenapa Imam Ali r.a menyatakan: ‘…dimaksudkan untuk yang bathil’. Tentu hal tersebut tidak bisa disamakan dengan pemerintahan yang membolehkan khamr, riba, LGBT dan melakukan kampanye negatif terhadap sebagian hukum-hukum syari’ah.
.
Ketiga, terhadap orang-orang khawarij tersebut Imam Ali tetap berlaku adil, tidak mempersekusi dan mengkafirkan mereka, beliau mengatakan:
إِنَّ لَكُمْ عِنْدَنَا ثَلاثًا: لا نَمْنَعُكُمْ صَلاةً فِي هَذَا الْمَسْجِدِ، وَلا نَمْنَعُكُمْ نَصِيبَكُمْ مِنْ هَذَا الْفَيْءِ مَا كَانَتْ أَيْدِيكُمْ مَعَ أَيْدِينَا، وَلا نُقَاتِلُكُمْ حَتَّى تُقَاتِلُونَا
“Sesungguhnya kalian memiliki 3 hak di sisi kami: kami tidak akan melarang kalian untuk shalat di masjid ini, kami tidak menghalangi kalian untuk mengambil harta rampasan perang selama kalian ikut berjihad bersama kami, kami tidak akan memerangi kalian, hingga kalian memerangi kami.”
.
Bandingkan dengan sikap sebagian orang, semisal RB, yang menyerukan untuk membunuh masyarakat yang hanya sekedar protes atas kebijakan yang dianggap mendzalimi mereka.

Post a Comment

Powered by Blogger.